Wednesday, February 17, 2021

Anak Muda yang Datang Saat Senja

 


Selepas Maghrib, pada sebuah senja di tahun 2005, mendadak sesosok anak muda datang ke rumah kontrakan saya di kampung Nitiprayan, Bantul. Sepeda motor lawasnya tampak penat membawa tubuh kurusnya. Lajunya pelahan, tak seimbang dengan suara knalpot yang meraung-raung memekakkan telinga. 

Saya membukakan pintu sebelum dia mengetuk. Benar saja, dia memang akan bertamu kepadaku. "Kulanuwun, mas," sapanya sembari pringas-pringis. Senyam-senyum. "Monggo. Silakan masuk," sambutku. 

Dia tak bergegas masuk. Ternyata tengah repot melepas tali di jok sepeda motor. Selepas beberapa menit, dia masuk dengan menenteng barang di tangan kanan-kirinya. 

Kami berbasa-basi. Lalu berlanjut dengan perbincangan cukup panjang lebar. Saya membuatkan dia teh panas. Ya, saya buatkan sendiri karena waktu itu saya masih melajang. 

Perbincangan pun akhirnya masuk pada salah satu tujuan dia bertamu di tempatku. "Mas, saya harus menyelesaikan kuliah saya semester ini. Kalau tidak, akan di-D.O. Tapi ya itu, banyak kebutuhan yang harus saya penuhi," tutur anak muda gondrong tersebut. Saya menduga-duga. 

"Lha orang tuamu bagaimana? Sudah matur (bilang) ke orang tuamu?" tanya saya. 

"Mmmm, anu, mas. Sudah. Tapi..." Dia tak melanjutkan kata-katanya. Tapi menyambungnya dengan kalimat lain: "Ini saya bawa 2 lukisan. Silakan pilih yang mas suka ya. Siapa tahu bisa membantu saya." 

Dua barang yang ditentengnya tadi dibuka. Dua lukisan. Saya tidak butuh waktu lama untuk kemudian memilih salah satu di antara karyanya. 

"Tapi aku melarat lho ya. Tak bisa mengoleksi dengan harga tinggi. Tapi juga tidak asal ambil karena karyamu ini cukup bagus," kataku padanya. Dengan waktu singkat akhirnya kami deal soal angka-angka atas karya lukisnya itu. Dia pun pamit setelah itu. 

Pada sebuah petang (lagi), beberapa bulan seusai peristiwa itu, anak muda kurus dan gondrong itu datang lagi. Sepeda motornya masih sama: tampak penat dengan knalpot yang meraung keras. Masih sama juga, dia agak repot melepas tali di jok motornya untuk menurunkan sesuatu barang. 

Masih saja dia pringas-pringis ketika masuk rumah. Senyam-senyum. Tapi terlihat agak terburu-buru. "Ini untuk mas ya," katanya sembari mengasongkan buah-buahan untukku. 

"Terima kasih ya, mas. Saya sudah lulus kuliah," katanya penuh antusiasme. 

Dia tak lama berkunjung ke tempatku. Dia juga tak sempat mengobrol agak lama seperti sebelumnya. Lalu pamit. 

Beberapa waktu setelah itu saya membuat sebuah pameran dan ingin melibatkan anak muda itu untuk ikut di dalamnya. Sayang nada panggilanku tidak direspons. SMS (waktu itu belum familiar dengan WA) juga tak dijawab olehnya. Mungkin nomernya sudah hangus dan ganti nomer baru. Saya tidak tahu. 

Lukisan anak muda itu sampai hari ini masih saya rawat dengan baik. Dia terpajang di kamar tempat saya tidur. Istri dan anak saya pernah beberapa kali bertanya tentang pelukis dari lukisan itu, dan saya jawab selengkap mungkin. 

Hampir 16 tahun saya punya kisah manis tentang lukisan ini. Sayang (untuk sementara) saya kehilangan jejak sang pelukis itu--yang adik kelas jauh, satu almamater dengan saya. Semoga dia dan keluarganya baik, sehat, dan bisa terus menghela kreativitas bagi dirinya. ***

Friday, January 22, 2021

Seabad Rustamadji







Persis seratus tahun lalu, 19 Januari 1921, Rustamadji lahir di Klaseman, Klaten, Jawa Tengah. Ayahnya, Soegiman Sastroredjo atau Reso Dipo III dan ibunya berasal dari keluarga sederhana. Rustamadji tak sempat mengenyam pendidikan tinggi karena berbagai alasan. Kegigihannyalah yang mampu mewujudkan mimpi masa kecilnya untuk menjadi seniman. 

Dia dididik di Sekolah Rakyat (SR) di Ceper, Klaten. Lalu di Tamansiswa di kota yang sama. Sempat juga di Sekolah Persambungan Muhammadiyah di Temanggung, Jawa Tengah. Tapi tidak lulus. Ia ingin mencari sekolah "tanpa ruang kelas" yang lebih membebaskan diri dan akal pikirannya. 

Antara tahun 1942-1947 Rustamadji tinggal di Malang, Jawa Timur. Di sana dia memulai membuat gambar dari pensil konte dan krayon untuk memenuhi pesanan orang yang menginginkannya. Imbalannya pun tak mesti berupa uang. Kadang beras, singkong, pisang bahkan ayam. Dia ingin membuktikan bahwa dengan menggambar bisa membuatnya bahagia dan ini bukanlah pekerjaan yang sia-sia. 

Tahun 1947 dia masuk GPII (Gerakan Pemuda Islam Indonesia). Ini merupakan aktivitas yang berbau politik yang diikutinya setelah sebelumnya pernah ikut Pemuda Muhammadiyah dan pasukan HW (Hizbul Wathan). Pada kurun waktu itulah dia banyak membuat karya potret wajah tokoh-tokoh perjuangan. Tapi dia masih mencoba membuat tarik ulur dengan dunia politik. 

Tahun 1948 Rustamadji pulang ke Klaten beberapa waktu, untuk kemudian pindah ke Yogyakarta. Pesona tentang sanggar Pelukis Rakyat yang bergaung hingga ke telinganya membuat Rustamadji muda ingin bergabung. Segeralah dia menggabungkan diri dengan para seniman progresif seperti Hendra Gunawan, Trubus  Affandi, Kusnadi, untuk berproses kreatif di jagat seni rupa. 

Tahun 1949, setelah penyerahan kedaulatan Indonesia oleh Belanda, para pelukis sanggar Pelukis Rakyar diminta oleh Kementerian Penerangan agar membuat karya bertema tentang perjuangan. Rustamadji ikut, dan di tahun itu juga karya-karya banyak seniman Pelukis Rakyat dipamerkan di gedung museum Sono Budoyo, Yogyakarta. Presiden Sukarno yang membuka pameran tersebut. Waktu itu karya Rustamadji dibuat di atas kain kasur lusuh dengan pewarna cat bubuk. 

Masa-masa di Yogyakarta menjadi masa orientasi dan penggalian kemampuan artistik yang kuat bagi seniman Klaten ini. Dengan bakat dan ketrampilan tangannya, Rustamadji sempat membuat patung para tokoh perjuangan nasional, seperti Sri Sultan Hamengkubuwono IX, Haji Samanhudi dan Buya Hamka. Bahkan kemudian Rustamadji masuk dalam rombongan di bawah pimpinan Edhie Soenarso untuk membuat monumen Tugu Muda di Semarang. 

Proses penguatan dan penggemblengan kreativitasnya makin kuat seiring dengan beragamnya aktivitas sanggar Pelukis Rakyat. Tahun 1952 mereka berombongan menuju Sumatera untuk keliling dan berkarya. Kota penting yang dikunjungi antara lain Bukittinggi di Sumatera Barat dan Medan di Sumatera Utara. Ingatan tentang eksotisme alam di Sumatera membekas dan mewarnai karya-karya naturalisme Rustamadji.

Namun entah mengapa, tahun 1955 Rustamadji mengundurkan diri dari sanggar Pelukis Rakyat. Alasan diplomatisnya, dia merasa perlu untuk menyembunyikan diri  merenung demi mencari hakikat dan makna hidup. Tapi anehnya, dia tidak mencari tempat yang lebih tenang ketimbang Yogyakarta, tapi justru pindah ke Jakarta. 

Di kawasan Cipete dia menetap, malah hingga tahun 1968. Ada dugaan bahwa Rustamadji kemungkinan kurang cocok dengan pilihan politik yang dibawa dalam tubuh sanggar Pelukis Rakyat. Para tokoh sanggar yang kekiri-kirian itu barangkali cukup berseberangan dengan kehendak hati Rustamadji yang di waktu sebelumnya aktif di Muhammadiyah. 

Pilihan untuk tinggal di Jakarta turut mendinamisasi kehidupannya. Di kota itu hatinya tertambat pada gadis bernama Ratna Suri binti Abdul Adjis yang 12 tahun lebih muda. Menikahlah mereka persis pada hari ulang tahun Rustamadji ke-40, pada 19 Januari 1961. Perkawinan itu membuahkan 2 anak lelaki: Bodas Erlangga (lahir tahun 1961) dan Karang Sasangka (1963). Sementara kelahiran anak perempuan mereka, Mahendra Ikhlas Sari, menyusul tahun-tahun berikutnya. Sayang meninggal ketika masih usia dini. 

Pascatragedi G30S pasangan Rustamadji-Ratna Suri memilih untuk menetap ke Klaten. Kegiatan melukis terus ditekuni oleh Rustamadji. Luar biasa bahwa pilihan menjadi pelukis ditekuninya di kota kecil semacam Klaten yang relatif apresiasi warganya (waktu itu) relatif masih kecil. Tapi ketekunan itu bisa terjadi karena Rustamadji memberlakukan kerja keseniannya seperti laku spiritual. 

Karya-karya lukis pemandangannya dianggap kurang mengikuti selera zaman. Namun pilihan kreatif itu tetap dikukuhinya hingga akhir hayat. Momentum booming seni rupa awal 1990an ikut berimbas pada dirinya. Karya-karya lukisnya ikut terciprat oleh gejala pasar tersebut meski mungkin tidak seheboh seniman lain yang seusia dan lebih reputable serta tinggal di kota-kota penting seni rupa seperti Jakarta, Yogyakarta, Bandung atau di Bali. 

Pameran tunggal banyak dilakukan, mulai dari pameran di Taman Ismail Marzuki tahun 1981, di Museum Jawa Barat (1982), Bentara Budaya Jakarta (1992), juga di Galeri Depdikbud (sekarang Galeri Nasional Indonesia) tahun 1993. Terakhir Rustamadji berpameran tunggal di kediamannya sendiri di Klaten pada 4-19 Januari 2001. Dua bulan kemudian, 17 Maret 2001, Rustamadji wafat karena diabetes dan ginjal. 

Di hari lahir Rustamadji ini kita mengenang kembali sosok seniman yang berani berbelok arah ketika citra dan nama besar hendak menghampirinya. Ya, seandainya Rustamadji tetap memilih sanggar Pelukis Rakyat dan tidak pulang kampung atau pindah ke Jakarta pada tahun 1955, mungkin situasinya akan berbeda. Bisa saja dia akan mengambil jalan sebagai seniman kiri, dan mungkin hanyut dalam ritme politik seniornya seperti Hendra Gunawan, Trubus dan lainnya hingga kemudian masuk penjara. Bisa juga dia mampu bersiasat secara politis seperti halnya S.Sudjojono dan Affandi yang mampu mengarungi gelombang kemwlut politik, dan aman--bahkan menuai diri sebagai seniman besar. 

Tapi itulah Rustamadji. Dia memilih untuk menarik diri dari kelompok seniman yang sedikit banyak bermain politik, dan kemudian hidup bersahaja, tenang--setenang gubahan karya-karyanya--hingga menutup usia. 

Damailah di sana, Eyang Rustamadji.

Monday, January 18, 2021

Mural Rivera untuk Menebus Utang

Pandemi Covid-19 telah merundung dunia dalam setahun terakhir. Semua sisi kehidupan terdampak dan terempas tanpa terkecuali, termasuk perguruan tinggi seni tersohor di Amerika Serikat, SFAI (San Francisco Art Institute). Kampus yang berdiri tahun 1871 ini sedang terkepung kemelut utang hingga senilai 19 juta dolar Amerika atau kira-kira setara dengan Rp 266 miliar. (US$ 1 = Rp 14.000). Sebetulnya kampus telah mempunyai beban utang cukup banyak sebelum pandemi. Mereka menggali utang untuk mendanai pembangunan kampus baru di Fort Mason dengan menempatkan kampus lama di Chestnut Street berikut 19 karya seni sebagai jaminan. Namun badai covid-19 kian memperparah keadaan. Di tengah-tengah pandemi, pihak kampus tidak saja menyelenggarakan kegiatan belajar-mengajar di rumah secara online atau daring, namun terpaksa juga memberhentikan 70 staf pengajarnya untuk mengurangi beban keuangan yang mendera.


Berbagai upaya tengah dilakukan sebagai solusi atas kemelut. Salah satu alternatif solusi yang membuat heboh adalah rencana SFAI untuk menjual sebuah mural yang ikonik bagi kampus tersebut, yakni karya muralis besar dunia asal Meksiko, Diego Rivera (1886-1957). Mural dibuat langsung oleh Diego Rivera tahun 1931, atau 90 tahun lalu. Judul mural itu, ”The Making of a Fresco Showing the Building of a City”. Dia berada pada salah sebuah gedung yang dinamai Galeri Diego Rivera. Karya dibuat berbentuk segilima, menjulang, mengikuti bentuk atap di atasnya. Tak diketahui persis ukuran karya Rivera itu. Tapi kalau dilacak dari keberadaan pintu di bawah karya mural yang diduga setinggi 2 meter, maka karya suami perupa Frida Kahlo ini kira-kira setinggi 5 meter (titik tertingginya), dan panjang kanan-kiri sekitar 6,5 meter. Ketinggian 5 meter itu dihitung dari atas pintu (di kanan bawah mural, lihat foto), bukan dari dasar lantai. Jadi kira-kira 32,5 m2.

 

Situs Artforum memberitakan bahwa karya Diego Rivera itu diduga seharga US$ 10 juta. Dikabarkan di awal tahun 2021 ini bahwa George Lucas, seorang sutradara dan produser film—yang antara lain menggarap film “Star Wars” dan “Indiana Jones”—telah berminat atas karya tersebut. Dia bahkan berani mengapresiasinya seharga 50 juta US dolar, dan akan menempatkan karya itu dalam Lucas Museum of Narrative Art yang sedang dibangunnya di Los Angeles. Tidak dijelaskan secara teknis seandainya Lucas betul-betul membeli karya tersebut, apakah tembok besar yang memuat karya mural Rivera itu akan diboyong utuh, atau dipotong-potong dalam beberapa bagian. Atau tetap di tempat sebagai aset.

 

Isu hendak dijualnya mural itu membuat heboh banyak pihak. Banyak alumni kampus tersebut yang sangat menyayangkan rencana itu. Kate Laster, salah seorang alumnus SFAI menyatakan bahwa “ini menghina dan memilukan”. Kate yang baru lulus tahun 2019 menambahkan, “menjual mural adalah pilihan yang kurang praktis ketika mempertimbangkan kenyataan bahwa tugas institut adalah juga ikut melindungi warisan sejarahnya sendiri.” Tak kurang dari Aaron Peskin, seorang pejabat setempat juga menyayangkan rencana tersebut. Kepada situs kepada situs berita Mission Local, Peskin menyatakan, “rencana ini merupakan kejahatan terhadap karya seni dan warisan kota. Institusi pendidikan semacam SFAI seharusnya mengajarkan dan mengapresiasi karya seni, bukan justru menjualnya."

 

Menimbang Sejarah

 

Keberatan atas rencana penjualan karya mural Rivera memang masuk akal bila melandaskan diri pada aspek sejarah kelahiran karya tersebut. Situs resmi SFAI mengisahkan secara kronologis proses pembuatan mural karya Diego Rivera yang cukup panjang dan penuh kelokan. Pembuatan itu dilakukan persis selama satu bulan, 1-31 Mei 1931. Namun proses lobi awal untuk mendatangkan Rivera itu telah dimulai sejak 5 tahun sebelumnya ketika salah satu pengajar SFAI, Roy Boynton belajar dan mengoleksi karya Rivera tahun 1926.

 

Setahun berikutnya, 1927, salah seorang petinggi SFAI, Alber Bender, datang mengunjungi Rivera sekaligus mengundang untuk berkarya di kampus SFAI. Undangan ditolak karena pada waktu yang bersamaan sang seniman tersebut harus memenuhi undangan Peringantan 10 Tahun Revolusi Bolshevik di Moskow. Tahun berikutnya, 1928, kembali undangan dikirim





lewat seorang dosen SFAI, Ralph Stackpole tapi belum berhasil.

 

Juni 1929, Albert Bender lagi-lagi mengundang seniman legendaris Meksiko itu. Upayanya belum berhasil karena Rivera tidak mendapatkan visa untuk masuk ke Amerika Serikat. Setahun berikutnya, pihak SFAI menggandeng duta besar Amerika Serikat untuk Meksiko waktu itu, Dwight Morrow, untuk bisa melicinkan niat tersebut. Setelah melalui lobi dan proses yang panjang dan rumit akhirnya pada 10 November 1930, Diego Rivera dan istri ketiganya, Frida Kahlo datang di San Francisco. Selama di San Francisco, suami-istri tu tinggal di studio Stackpole milik rektor/presiden SFAI, William Gerstle.

 

Di kota itu setidaknya Diego Rivera membuat dua karya mural besar. Pertama di gedung Stock Exchange (semacam bursa efek, sekarang menjadi The City Club of San Francisco), dan kedua di kampus SFAI. Judul untuk karya di Stock Exchange adalah “Allegory of California”. Dalam buku “Diego Rivera: A Biography” (2011), Manuel Aguilar-Moreno dan Erika Cabrera mencatat bahwa untuk membuat mural di Stock Exchange Diego dibayar US$ 2,500 dan untuk menyelesaikan karya di SFAI bayarannya US$ 1,500. Angka US$ 1,500 itu, menurut situs New Tork Times, ekuivalen dengan US4 25,500 atau sekitar Rp 357.000.000,-. Sebagai perbandingan perihal angka-angka ini: pada tahun 1929, mobil baru dan mewah keluaran Ford seri Tudor A harganya US$ 500.

 

Mural di Stock Exchange dikerjakan selama 2 bulan, Januari-Februari 1931. Lalu dilanjutkan membuat mural di SFAI. Awalnya Pihak SFAI menyediakan tembok seluas 120 square feet atau sekitar 11 m2. Rivera menolak karena kapling tersebut terlalu kecil dan tidak sesuai dengan disain yang telah dia rancang. Dia ingin tiap karyanya monumental. Mungkin inilah yang membuat proses pembuatan mural di SFAI jadi molor waktunya karena pihak tuan rumah diduga harus mencari tembok dan mempersiapkannya sebagai “kanvas” yang sesuai dengan keinginan Rivera. Akhirnya baru dimuali pada bulan Mei 1931, selama 1 bulan penuh. Uniknya, meski kapling tembok menjadi lebih besar (dari 11 m2 menjadi sekitar 32,5 m2), seniman ini tidak menuntut perubahan kompensasi finansialnya. Tetap US$ 1,500.

 

Mendatangkan seniman Diego Rivera ke San Francisco pada satu sisi tidaklah mudah karena alasan poltis. Di sisi lain, ketika dia betul-betul hadir dan berkarya di kota itu, banyak kritik dan tentangan keras dari banyak pihak, termasuk dari kalangan seniman lokal. Ini masalah pilihan artistik. Seperti kita tahu, pada tahun 1922 Rivera resmi masuk ke Partai Komunis Meksiko. Sebelumnya dia juga turut terlibat membantu kelahiran sebuah organisasi bernama “the Sindicato Revolucionario de Obreros TĂ©cnicos y Plásticos” atau serikat revolusioner bagi para pekerja teknis, pelukis, pematung, dan sekutu dagang. Tujuannya untuk mengabadikan gagasan sosialisme yang diwujudkan lewat karya seni. Aspek kekirian inilah yang membuat Rivera sulit masuk ke Amerika Serikat—negara yang pada dasawarsa itu mulai menempatkan diri secara diametral untuk bermusuhan dengan sosialisme/Kiri.
 
Kedatangan Rivera dikritik keras, mulai karena pilihan politiknya, kecenderungan politik seninya, hingga menjurus ke serangan pribadi yang keras bahkan sarkastik. Dia dianggap hanya sekadar propagandis politik, bukan seniman, dan karya-karya yang dibuatnya hanyalah gambaran palsu Meksiko sebagai tanah ideal pra-Columbus. Rivera hanyalah pemikir Kiri yang melukis mural dengan citra kelas rendah yang karyanya tidak selaras untuk ditempatkan di Amerika Serikat. Kontroversi terus berlanjut di media masa lokal dan menjadikan para pengundang Rivera, yakni Timothy Pflueger (Stock Exchange) dan Ralph Stackpole (SFAI) digambarkan dalam karikatur sebagai "Jenderal Komunis" dan "Komisaris Pertanian Soviet" yang tiran dan eksploitatif terhadap tentara dan buruhnya. William R. Hearst, seorang taipan surat kabar di kota itu ikut memanaskan situasi—seperti ditulis dalam “Diego Rivera: A Biography” bahwa “Rivera tidak memenuhi syarat (untuk berkarya di Amerika Serikat) karena kecenderungan komunisnya itu.”
 
Menarik bahwa kritik dan kecaman keras terhadap Diego Rivera dan karyanya 90 tahun lalu
telah berbalik situasinya. Kini, institusi tempat karya mural Rivera itu menempel tengah
terbelit soal keuangan, dan karya tersebut menjadi salah satu aset utama yang berpotensi
menyelamatkan krisis keuangan SFAI. Diego Rivera telah berpulang tahun 1957 lalu,
namun karyanya kini masih menjulangkan namanya, masih mampu memperjuangkan nasib
lembaga tempat dia pernah berkarya. ***

Tuesday, October 20, 2020

Sumur





Ketika memutuskan untuk segera membangun rumah, ayah memprioritaskan membuat sumur terlebih dahulu. Tukang yang akan membantu rumah kami diminta oleh ayah untuk membuat sumur yang airnya jernih, melimpah, dan kelak berada di dalam rumah.

Saya masih duduk di kelas 4 SD waktu itu. Ayah segera memutuskan untuk pulang kampung di Banyumas segera setelah pensiun dari kedinasannya di kepolisian di Yogyakarta. Banyak perubahan drastis saya/kami alami, dari keseharian hidup di kota untuk kemudian tiba-tiba tinggal di desa yang sepi dan listrik sangat terbatas. Tapi saya mendapat banyak hal dan pelajaran yang tak tergantikan.

Setelah mendengar permintaan ayah untuk membuat sumur, tukang-tukang yang bekerja untuk ayah saya itu minta waktu untuk memutuskan letak terbaik dari keberadaan sumur nantinya. Paling tidak 3 hari setelah hari ini, kira-kira begitu permintaannya.

Kenapa lama? Bukankah tinggal menggali tanah 2-3 meter, di bagian manapun di tanah pekarangan kami yang dekat dengan persawahan subur, air langsung mengucur di dalamnya? Itu tentu dugaan saya sebagai anak kecil.

Beberapa waktu kemudian saya mendapat cerita dari ayah dan ibu bahwa proses penentuan lokasi pembuatan sumur pun perlu teknik dan naluri tertentu. Para petang hari setelah permintaan ayah tentang sumur, para tukang itu datang kembali ke pekarangan kami yang sudah dibabat rerumputan liarnya. Mereka membawa sekeranjang daun sirih, lalu dengan hati-hati menempatkan daun-daun tersebut pada banyak bagian di pekarangan. Daun sirih itu ditelungkupkan.

Esok harinya, pagi-pagi sekali, para tukang itu datang kembali ke pekarangan kami. Mereka menengok daun-daun sirih yang ditelungkupkan di atas tanah. Setelah berbincang sebentar, si kepala tukang bergerak ke bagian tertentu untuk menancapkan bilah kayu di atas salah satu bagian tanah yang tadi diletakkan daun sirih.

Begitulah. Petang hari berikutnya kegiatan itu berlanjut. Ketika petang datang, para tukang itu datang lagi membawa sekeranjang daun sirih. Menempatkan lagi pada bagian pekarangan yang hari sebelumnya belum "tersentuh". Esok harinya pun mereka kembali datang. Lalu menancapkan bilah kayu pada bagian tertentu di atas pekarangan kami.

Sesuai kesepakatan, di hari ketiga setelah permintaan ayah tentang pembuatan sumur, tukang itu datang di siang hari menemui ayah. Di atas pekarangan kami itu, ayah menerima kepala tukang yang akan membuat sumur dan rumah.

"Begini, pak," kata kepala tukang itu. "Setelah kami tebarkan daun sirih di senja hari selama 2 hari, dan menilik banyaknya embun yang menempel pada daun-daun sirih di pagi hari, kami berpendapat bahwa calon sumur yang terbaik ada di tempat itu," kata kepala tukang sembari menuding ke satu titik. "Sebetulnya masih ada 2 lokasi yang lebih bagus. Tapi terlalu jauh dari calon lokasi rumah." Begitulah tutur pak tukang.

Saya baru "ngeh", baru sadar, bahwa ternyata ada metode "lokal dan alamiah" yang unik dalam menentukan sebuah calon lokasi sumur. Lokasi dimana embun banyak menempel di daun sirih itu dipercaya menjadi tempat terbaik untuk dijadikan sumur. Metode unik dan menarik.

Saya tidak tahu persis apakah metode tersebut bisa terverifikasi kebenarannya secara ilmiah atau tidak. Tapi pengalaman saya mendiami rumah orang tua saya selama bertahun-tahun kemudian menunjukkan titik-titik kebenaran dari metode para tukang tadi.

Beberapa kali daerah kami terlanda kemarau panjang. Namun sumur di rumah kami mampu bertahan dengan tetap mengucurkan air jernih meski debitnya berkurang. Sementara sumur tetangga terdekat kami, yang jaraknya hanya sekitar 7 meter lebih dulu kerontang--yang memaksa tetangga kami itu menumpang menimba air aumur kami. Saya tahu persis bahwa tetangga kami itu dulu tampaknya tergesa membuat sumur, dan lupa dengan metode tukang kami dalam menentukan calon lokasi sumur.

Ah, status tidak penting ini sepertinya terlalu panjang. Pasti tidak penting banget bagi orang lain. Ya, saya hanya ingin mengenang bahwa rumah masa kecil kami itu kini tidak lagi berpenghuni setelah ibu tercinta berpulang 8 tahun lalu, dan air sumur itu--kata tetangga--masih berpancar dan menggenang dengan jernih. Sumur tua itu telah menemani hidup kami bertahun-tahun, dengan kesetiaan dan cinta...

Sunday, October 18, 2020

Mengapa Fiksi Mengalahkan Kebenaran



Oleh Yuval Noah Harari

Banyak orang percaya bahwa kebenaran mengantarkan pada kekuasaan. Jika beberapa pemimpin, agama, atau ideologi salah menggambarkan realitas, mereka pada akhirnya akan kalah dari pesaing-pesaing yang lebih berpikiran jernih. Karenanya, berpegang teguh pada kebenaran adalah strategi terbaik untuk mendapat kekuasaan. Sayangnya, anggapan itu hanyalah mitos yang menghibur. Faktanya, kebenaran dan kekuasaan memiliki hubungan yang jauh lebih rumit, karena dalam kehidupan sosial umat manusia, kekuasaan memiliki dua makna yang bertolak belakang.

Di satu sisi, kekuasaan berarti memiliki kemampuan untuk memanipulasi realitas objektif: berburu binatang, membangun jembatan, menyembuhkan penyakit, merancang bom atom. Kekuasaan semacam ini terkait erat dengan kebenaran. Jika Anda percaya sebuah teori fisika palsu, Anda tidak akan bisa membuat bom atom.

Di sisi lain, kekuasaan juga berarti memiliki kemampuan untuk memanipulasi kepercayaan manusia, sehingga membuat banyak orang bekerja sama secara efektif. Membuat bom atom tidak hanya membutuhkan pemahaman yang baik tentang fisika, tetapi juga tenaga kerja terkoordinasi dari jutaan manusia. Planet Bumi ditaklukkan oleh homo sapiens bukan oleh simpanse atau gajah, karena kita adalah satu-satunya mamalia yang dapat bekerja sama dalam jumlah yang sangat besar. Dan kerja sama skala besar bergantung pada mempercayai cerita-cerita umum. Tetapi cerita-cerita ini tidak harus benar. Anda dapat menyatukan jutaan orang dengan membuat mereka percaya pada cerita sepenuhnya fiksi tentang Tuhan, tentang ras, atau tentang ekonomi.

Sifat ganda dari kekuasaan dan kebenaran menghasilkan fakta aneh bahwa kita manusia mengetahui lebih banyak kebenaran daripada hewan lainnya, tetapi kita juga percaya pada lebih banyak omong kosong. Kita adalah penghuni planet Bumi yang paling cerdas dan sekaligus paling mudah tertipu. Kelinci tidak mengetahui bahwa E = MC², bahwa alam semesta berusia sekitar 13,8 miliar tahun dan bahwa DNA terbuat dari sitosin, guanin, adenin, dan timin. Di sisi lain, kelinci tidak percaya pada fantasi mitologis dan absurditas ideologis yang telah memikat banyak sekali manusia selama ribuan tahun. Tidak ada kelinci yang mau menabrakkan pesawat ke World Trade Center dengan harapan mendapat hadiah 72 kelinci perawan di akhirat.

Ketika fiksi hadir untuk menyatukan orang-orang dalam cerita umum, ia sebenarnya menikmati tiga keunggulan inheren daripada kebenaran. Pertama, meskipun kebenaran bersifat universal, fiksi cenderung bersifat lokal. Alhasil, jika kita ingin membedakan suku kita dengan orang-orang di luar suku kita, cerita fiksi akan menjadi penanda identitas yang jauh lebih baik daripada kisah nyata. Misalkan kita mengajari anggota suku kita untuk percaya bahwa "matahari terbit di timur dan terbenam di barat." Itu membuat mitos kesukuan sangat kering. Karena jika saya bertemu seseorang di hutan dan orang itu memberi tahu saya bahwa matahari terbit di timur, itu mungkin membuktikan bahwa dia adalah anggota setia suku kita, tetapi juga bisa saja menunjukkan bahwa dia adalah orang asing cerdas yang memiliki pemahaman yang sama dan tak ada sangkut pautnya dengan suku kita. Oleh karena itu, lebih baik untuk mengajari anggota suku bahwa "matahari adalah mata katak raksasa yang setiap hari melompat melintasi langit", karena hanya sedikit orang asing--secerdas apapun--yang cenderung memahami gagasan khusus ini secara mandiri.

Keunggulan besar kedua dari fiksi lampaui kebenaran berkaitan dengan prinsip rintangan (handicap principle), yang mengatakan bahwa sinyal yang dapat diandalkan pasti berisiko bagi pemberi sinyal. Jika tidak demikian, ia dapat dengan mudah dipalsukan oleh para penipu. Misalnya, merak jantan menunjukkan kegagahannya kepada merak betina dengan membentangkan ekor berwarna-warni yang sangat besar. Ini adalah sinyal kegagahan yang andal, tetapi karena ekornya berat, itu tidak praktis dan menarik predator. Hanya burung merak yang benar-benar bugar yang dapat bertahan hidup meskipun dengan rintangan ini. Hal serupa juga terjadi dengan cerita.

Seandainya sinyal loyalitas politik adalah mempercayai sebuah kisah nyata, maka siapa pun dapat menirunya. Tetapi mempercayai cerita konyol dan aneh menuntut risiko yang lebih besar, dan karena itu merupakan sinyal loyalitas yang lebih baik. Jika Anda meyakini pemimpin Anda hanya ketika dia mengatakan yang sebenarnya, apa buktinya? Sebaliknya, jika Anda meyakini pemimpin Anda bahkan ketika dia mengatakan membangun istana di awang-awang, itulah kesetiaan! Pemimpin yang cerdik terkadang mungkin dengan sengaja mengatakan hal-hal yang tidak masuk akal sebagai cara untuk membedakan pengikut yang dapat diandalkan dari para pendukung yang tidak loyal.

Ketiga, dan yang paling penting, kebenaran seringkali menyakitkan dan mengganggu. Karenanya, jika Anda tetap berpegang pada realitas murni, hanya sedikit orang yang akan mengikuti Anda. Seorang calon presiden Amerika yang mengatakan kepada publik Amerika sebuah kebenaran, seluruh kebenaran, dan hanya kebenaran tentang sejarah Amerika; dia dijaminan 100 persen akan kalah dalam pemilihan. Hal yang sama berlaku untuk kandidat di semua negara lain. Berapa banyak orang Israel, Italia, atau India yang dapat menerima kebenaran tanpa cela tentang bangsa mereka? Berpegang teguh tanpa kompromi pada kebenaran adalah praktik spiritual yang mengagumkan, tetapi itu bukanlah sebuah strategi politik pemenang.

Beberapa orang mungkin berpendapat bahwa mempercayai cerita fiksi itu berdampak pada kohesi sosial yang risikonya lebih berjangka panjang daripada keuntungan jangka pendek. Sekali orang terbiasa mempercayai fiksi yang absurd dan kebohongan yang blak-blakan, kebiasaan ini akan menyebar ke lebih banyak sektor, dan akibatnya mereka akan membuat keputusan ekonomi yang buruk, mengadopsi strategi militer yang kontraproduktif, dan gagal mengembangkan teknologi yang efektif. Meskipun hal ini kadang-kadang terjadi, ini masih jauh dari aturan universal. Bahkan para bigot dan fanatik yang paling ekstrem sering kali dapat memilah-milah irasionalitas mereka sehingga mereka percaya omong kosong di beberapa bidang, sementara sangat rasional di bidang lain.

Pikirkan, misalnya, tentang Nazi. Teori rasis Nazi adalah ilmu semu palsu. Meskipun pengikut Nazi mencoba mendukungnya dengan bukti ilmiah, mereka tetap harus menyembunyikan kemampuan rasional mereka untuk mengembangkan keyakinan yang cukup kuat untuk membenarkan pembunuhan jutaan orang. Namun ketika tiba waktunya untuk merancang kamar-kamar gas dan menyiapkan jadwal untuk kereta Auschwitz, rasionalitas Nazi muncul sepenuhnya dari tempat persembunyiannya.

Fakta tentang Nazi juga berlaku untuk banyak kelompok-kelompok fanatik lainnya dalam sejarah. Sungguh mengagetkan untuk menyadari bahwa Revolusi Ilmiah dimulai dari budaya paling fanatik di dunia. Eropa pada masa Columbus, Copernicus, dan Newton memiliki salah satu konsentrasi ekstremis agama tertinggi dalam sejarah, dan tingkat toleransi terendah.

Newton sendiri tampaknya menghabiskan lebih banyak waktu untuk mencari pesan rahasia di dalam Alkitab daripada menguraikan hukum fisika. Tokoh-tokoh Revolusi Ilmiah hidup dalam masyarakat yang mengusir orang-orang Yahudi dan Muslim, membakar para bidat, menganggap setiap wanita tua pencinta kucing adalah penyihir, dan memulai perang agama baru setiap bulan purnama.

Jika Anda bepergian ke Kairo atau Istanbul sekitar 400 tahun yang lalu, Anda akan menemukan kota metropolis multikultural dan toleran di mana Sunni, Syiah, Kristen Ortodoks, Katolik, Armenia, Koptik, Yahudi, dan bahkan kadang-kadang Hindu hidup berdampingan dalam relatif harmoni. Meskipun mereka memiliki perselisihan dan kerusuhan--dan meskipun Kekaisaran Ottoman secara rutin mendiskriminasi orang-orang atas dasar agama--itu adalah surga liberal dibandingkan dengan Eropa Barat. Jika Anda kemudian berlayar ke Paris atau London pada era yang sama, Anda akan menemukan kota-kota yang dipenuhi dengan kefanatikan agama, di mana hanya mereka yang termasuk dalam sekte dominan yang dapat hidup. Di London mereka membunuh orang Katolik; di Paris mereka membunuh orang Protestan; orang-orang Yahudi telah lama diusir; dan bahkan tak seorang pun senang dengan pemikiran untuk membiarkan seorang Muslim masuk. Namun Revolusi Ilmiah dimulai di London dan Paris daripada di Kairo atau Istanbul.

Kemampuan untuk memisahkan rasionalitas mungkin sangat berkaitan dengan struktur otak kita. Bagian otak yang berbeda bertanggung jawab atas cara berpikir yang berbeda. Manusia secara tidak sadar dapat menonaktifkan dan mengaktifkan kembali bagian-bagian otak yang penting untuk pemikiran skeptis. Jadi, Adolf Eichmann bisa saja menutup korteks prefrontal saat mendengarkan Hitler memberikan pidato yang berapi-api, dan kemudian menyalakannya kembali ketika mempelajari jadwal kereta Auschwitz.

Meskipun kita harus menanggung risiko karena menonaktifkan kemampuan rasional kita, kohesi sosial yang meningkat sering kali memiliki manfaat-manfaat begitu besar sehingga cerita fiksi secara rutin mengalahkan kebenaran dalam sejarah manusia. Para sarjana telah mengetahui hal ini selama ribuan tahun, itulah sebabnya para sarjana sering kali harus memutuskan apakah mereka melayani kebenaran atau harmoni sosial. Haruskah mereka bertujuan untuk menyatukan orang dengan memastikan semua orang percaya pada fiksi yang sama, atau haruskah mereka membiarkan orang tahu kebenaran bahkan dengan risiko perpecahan? Socrates memilih kebenaran dan dieksekusi. Pendirian-pendirian ilmiah paling kuat dalam sejarah--apakah itu para pendeta Kristen, orang-orang mandarin pengikut Konfusianisme ataupun para ideolog Komunis--menempatkan persatuan di atas kebenaran. Itulah mengapa mereka sangat kuat. ***

Diterjemahkan oleh Sukron Hadi dari https://www.nytimes.com/.../why-fiction-trumps-truth.html

Monday, October 12, 2020

Tes-Three-Mony






Ya, Tes-Three-Mony. Ini sebuah plesetan. Ini sekadar permainan bahasa, mempertautkan dua kata menjadi satu: kata “three” yang ‘menyelinap’ dalam kata “testimony”. Maksudnya kurang lebih tiga kesaksian. Ya, di balik judul plesetan pada pameran ini, tiga seniman masing-masing menghadirkan kesaksian dalam karya-karyanya.

Rangga Jalu Pamungkas, perupa asal Sragen Jawa Tengah dan baru lulus dari Fakultas Seni Rupa, ISI Yogyakarta tahun 2019 ini mengaku membincangkan soal hiperrealitas. Ada gagasan atas realitas lain yang melampaui dari realitas yang tergambarkan, atau yang senyatanya ada. Pada dasarnya Rangga memberangkatkan diri dari penggambaran atas lanskap yang biasa ditemuinya dalam keseharian, di lingkungan sekitarnya, dari masa kecilnya hingga dewasa seperti sekarang. Itu semua adalah fakta sosial yang telah diketahui.

Dalam karya kreatifnya, realitas atau fakta tersebut kemudian dibumbuinya dengan pembayangan atau imajinasi yang mengerumuni benaknya. Ada imajinasi tentang realitas lanskap jauh di masa depan yang hanya bisa dibayangkannya. Kalau dalam sejarah seni rupa Indonesia, ada semacam genre yang berasal dari olok-olok tentang pelukis yang hanya menggambarkan keindahan alam Indonesia, yakni Mooi Indie (Hindia Molek). Penggambaran tentang Mooi Indie ini sediit banyak diserap dan kemudian digubah oleh Rangga dalam kerangka kerja kreatif yang futuristik. Maka, beginilah karya-karya Rangga yang tersaji dalam pameran ini.

Pada problem yang berdekatan dengan Rangga, S. Soneo Santoso lewat beberapa karyanya juga menggubah tentang lanskap. Problem lanskap dalam kerangka pandang Soneo dibekali oleh pendalaman konsepnya tentang gejala lingkungan hidup yang bermasalah secara global. Dia melihat ada problem besar di dunia dewasa ini tentang rusaknya lingkungan hidup, fenomena pemanasan global, ozon bolong, dan sebagainya. Itu semua akibat dari eksploitasi manusia atas bumi atau lingkungan di sekitarnya. Berangkat dari problem itulah maka karya-karya Soneo seperti mempertontonkan kemurungan dan kegersangan.

Visualitas yang terpajang di dalamnya berupa cita tentang kekelaman dan kekusaman. Kalau kemudian beberapa atau sebagian karyanya lebih banyak mengeksplorasi warna-warna panas seperti merah, jingga, kuning, cokelat kejingga-jinggaan dan serupa itu, begitulah adanya. Soneo seperti memberi warning dan penegasan bahwa jagat kita ini, Sang Bumi, sedang ada problem besar dengan lingkungan hidup yang “hidup dengan sakit-sakitan”. Soneo, perupa asal Sleman, Yogyakarta yang masuk di Fakultas Seni Rupa, ISI Yogyakarta tahun 1996 ini tampaknya cukup konsisten menjumput tema tersebut akhir-akhir ini.

Sementara Bambang “Benk” Pramudiyanto, relatif berbeda dengan Rangga dan Soneo. Benk masih konsisten menggali persoalan dunia pop yang menjadi representasi zaman kekinian, dan mempertemukannya dengan problem kultur lokal. Atau kurang lebih menyatukan secara komplementatif antara yang modern dan yang tradisional. Pertemuan tersebut dimunculkan secara simbolik lewat berbagai idiom visual yang relatif cukup populer bagi banyak kalangan dewasa ini. Misalnya citra potongan mobil Mercedes Benz yang “tiba-tiba” bertemu dengan liukan citra batik motif Parangrusak.

Secara visual, karya Benk ini dianggap mengarus pada kecenderungan besar dunia Pop Art yang dipioniri oleh—antara lain—Andy Warhol di dasawarsa 1960-an. Kecenderungan visual seperti itu terus berlanjut hingga kini ketika kira-kira di dasawarsa 2000-an muncul Neo Pop Art yang dipraktekkan oleh para perupa muda. Benk, perupa asal Klaten dan masuk di FSR ISI Yogyakarta tahun 1984 ini berusaha terus untuk suntuk dengan pilihan kreatifnya ini. Ini memang pilihan tema yang menarik karena senyampang dengan perkembangan zaman kiwari, Benk juga ditanang untuk terus memperbarui kosa visual yang ada dalam karya-karyanya. Idiom-idiom visual yang dibuatnya, tak pelak, harus diaktualisasikan terus mengikuti perkembangan zaman terkini.

Ketiga perupa ini lewat karya-karyanya berupaya memberi kesaksian atau testimoni atas berbagai problem di lingkungannya lewat ketertarikan masing-masing. Proses kreatif seorang seniman memang tak lepas dari ikatan emosi dengan lingkingan dan realitas sosial karena seniman sejatinya tidak mungkin berkarya dari ruang kosong tanpa imajinasi. Pada dasarnya manusia itu adalah homo faber, makhluk yang selalu menziarahi dunianya. Selamat menyaksikan pameran ini. *** (kuss)

Wednesday, September 23, 2020

Pulanglah Bersama Kebaikanmu, Edo!

Foto: Ibunda dan istri (kiri) dan putri tunggal Edo (bertopi) di depan pusara.

Pada sepotong senja, mungkin tahun 2002 lalu, saya membonceng Edo sembari membawa lukisan seorang teman. Lukisan yang cukup besar itu rencananya akan dipamerkan di ruang seni yang kami bangun dan kelola, JFAC (Jogja Fine Art Community) namanya.
Begitu kendaraan sampai di depan pintu gerbang halaman JFAC yang sedikit terbuka, saya langsung melompat dari sepeda motor, dan tergopoh-gopoh membawa lukisan ke dalam ruangan. Lampu saya nyalakan semua. Lukisan yang terkemas rapi kubuka pelan-pelan. Kemudian kusandarkan ke tembok.
Ada persoalan yang harus kudiskusikan dengan Edo soal teknis pemajangannya. Tapi, lho, Edo kemana? Setelah berboncengan, kok dia tidak segera memasukkan sepeda motor ke halaman? Atau cari makanan?
Kutunggu bermenit-menit, tapi belum muncul dia. Saya mandi dan mengerjakan yang lain sambil menggerutu sendirian karena ulah Edo yang tiba-tiba ngilang. Saya telpon tapi tidak diangkat.
Setelah hampir sejam barulah dia datang. Wajahnya agak kusam. "Ah, kamu, Do. Kenapa langsung ngilang?" sergahku.
Dia langsung bercerita cukup runtut. Katanya, beberapa puluh detik setelah saya masuk ke dalam JFAC, ada seorang bapak tua melintas dengan menuntun sepeda onthel. Kakinya agak gontai ketika melangkah. Edo langsung bertanya ke bapak itu, kenapa sepedanya dituntun, tidak dinaiki. Apa gembos bannya?
Bapak itu, cerita Edo, mengeluhkan kakinya yang sakit sekali. Sulit untuk menggenjot sepeda. Dia tak kuat dan takut akan terjatuh lagi seperti sebelumnya.
Dengan sigap Edo mengambil keputusan untuk mengantarkan si bapak pulang ke rumahnya di daerah Jalan Godean. JFAC sendiri berada di daerah Tegalrejo. Beberapa kilometer jaraknya.
Dengan pelahan Edo mengantar. Tangan kanan memegang stang sekaligus gas motor, dan tangan kiri memegang stang sepeda onthel milik bapak. Tentu bukan perkara mudah karena dia harus menjaga keseimbangan sepeda dan sepeda motor. Si bapak diantarnya dengan selamat hingga di rumahnya.
Itu hanya secuil kebaikan Edo di antara kebaikan-kebaikan lain yang pasti pernah lakukan olehnya. Hari ini, kebaikan dan semua amal yang pernah dilakukan Edo niscaya akan menjadi kendaraan yang akan melancarkan perjalanannya menuju ke keabadian di sana. Selamat jalan, Edward a.k.a Away a.k.a Edo Pillu a.k.a Edo Riang. Ikhlaskanlah juga kuatlah, Tini dan Kay.
Al Fatihah.