Posts

Sepatu

Image
Ada beragam ide penciptaan karya seni, khususnya seni patung, yang telah berderet dalam sejarah. Salah satunya ide tentang "comemmoration", yakni menampilkan ingatan atas sesuatu yang dihasratkan untuk memberi penghormatan terhadap peristiwa atau sosok tertentu dari masa lalu. Ide ini telah banyak diwujudkan oleh banyak seniman di berbagai negara. Risiko yang kemudian muncul dari penghormatan atas sosok tertentu tersebut adalah heroisasi berlebihan yang kadang seperti memalaikatkan seseorang. Tentu tidak semuanya karena masih banyak berserak karya dengan ide "comemmoration" yang menarik. "Shoes on the Danube Bank", bagi saya, adalah salah satu karya patung menarik karena begitu menyentuh emosi penontonnya. Minimal saya. Idenya dari sutradara film Can Togay dan dieksekusi dengan ciamik oleh pematung Hungaria, Gyula Pauer. Karya ini berujud 60 pasang sepatu yang berjajar sekitar 40 meter di gigir sungai Danube di sisi timur. Tak jauh jadi jembatan Szécheny

Anak Muda yang Datang Saat Senja

Image
  Selepas Maghrib, pada sebuah senja di tahun 2005, mendadak sesosok anak muda datang ke rumah kontrakan saya di kampung Nitiprayan, Bantul. Sepeda motor lawasnya tampak penat membawa tubuh kurusnya. Lajunya pelahan, tak seimbang dengan suara knalpot yang meraung-raung memekakkan telinga.  Saya membukakan pintu sebelum dia mengetuk. Benar saja, dia memang akan bertamu kepadaku. "Kulanuwun, mas," sapanya sembari pringas-pringis. Senyam-senyum. "Monggo. Silakan masuk," sambutku.  Dia tak bergegas masuk. Ternyata tengah repot melepas tali di jok sepeda motor. Selepas beberapa menit, dia masuk dengan menenteng barang di tangan kanan-kirinya.  Kami berbasa-basi. Lalu berlanjut dengan perbincangan cukup panjang lebar. Saya membuatkan dia teh panas. Ya, saya buatkan sendiri karena waktu itu saya masih melajang.  Perbincangan pun akhirnya masuk pada salah satu tujuan dia bertamu di tempatku. "Mas, saya harus menyelesaikan kuliah saya semester ini. Kalau tidak, akan di-

Seabad Rustamadji

Image
Persis seratus tahun lalu, 19 Januari 1921, Rustamadji lahir di Klaseman, Klaten, Jawa Tengah. Ayahnya, Soegiman Sastroredjo atau Reso Dipo III dan ibunya berasal dari keluarga sederhana. Rustamadji tak sempat mengenyam pendidikan tinggi karena berbagai alasan. Kegigihannyalah yang mampu mewujudkan mimpi masa kecilnya untuk menjadi seniman.  Dia dididik di Sekolah Rakyat (SR) di Ceper, Klaten. Lalu di Tamansiswa di kota yang sama. Sempat juga di Sekolah Persambungan Muhammadiyah di Temanggung, Jawa Tengah. Tapi tidak lulus. Ia ingin mencari sekolah "tanpa ruang kelas" yang lebih membebaskan diri dan akal pikirannya.  Antara tahun 1942-1947 Rustamadji tinggal di Malang, Jawa Timur. Di sana dia memulai membuat gambar dari pensil konte dan krayon untuk memenuhi pesanan orang yang menginginkannya. Imbalannya pun tak mesti berupa uang. Kadang beras, singkong, pisang bahkan ayam. Dia ingin membuktikan bahwa dengan menggambar bisa membuatnya bahagia dan ini bukanlah pekerjaan yang s

Mural Rivera untuk Menebus Utang

Image
Pandemi Covid-19 telah merundung dunia dalam setahun terakhir. Semua sisi kehidupan terdampak dan terempas tanpa terkecuali, termasuk perguruan tinggi seni tersohor di Amerika Serikat, SFAI (San Francisco Art Institute). Kampus yang berdiri tahun 1871 ini sedang terkepung kemelut utang hingga senilai 19 juta dolar Amerika atau kira-kira setara dengan Rp 266 miliar. (US$ 1 = Rp 14.000). Sebetulnya kampus telah mempunyai beban utang cukup banyak sebelum pandemi. Mereka menggali utang untuk mendanai pembangunan kampus baru di Fort Mason dengan menempatkan kampus lama di Chestnut Street berikut 19 karya seni sebagai jaminan. Namun badai covid-19 kian memperparah keadaan. Di tengah-tengah pandemi, pihak kampus tidak saja menyelenggarakan kegiatan belajar-mengajar di rumah secara online atau daring, namun terpaksa juga memberhentikan 70 staf pengajarnya untuk mengurangi beban keuangan yang mendera. Berbagai upaya tengah dilakukan sebagai solusi atas kemelut. Salah satu alternatif solusi yan

Sumur

Image
Ketika memutuskan untuk segera membangun rumah, ayah memprioritaskan membuat sumur terlebih dahulu. Tukang yang akan membantu rumah kami diminta oleh ayah untuk membuat sumur yang airnya jernih, melimpah, dan kelak berada di dalam rumah. Saya masih duduk di kelas 4 SD waktu itu. Ayah segera memutuskan untuk pulang kampung di Banyumas segera setelah pensiun dari kedinasannya di kepolisian di Yogyakarta. Banyak perubahan drastis saya/kami alami, dari keseharian hidup di kota untuk kemudian tiba-tiba tinggal di desa yang sepi dan listrik sangat terbatas. Tapi saya mendapat banyak hal dan pelajaran yang tak tergantikan. Setelah mendengar permintaan ayah untuk membuat sumur, tukang-tukang yang bekerja untuk ayah saya itu minta waktu untuk memutuskan letak terbaik dari keberadaan sumur nantinya. Paling tidak 3 hari setelah hari ini, kira-kira begitu permintaannya. Kenapa lama? Bukankah tinggal menggali tanah 2-3 meter, di bagian manapun di tanah pekarangan kami yang dekat dengan persawahan s

Mengapa Fiksi Mengalahkan Kebenaran

Image
Oleh Yuval Noah Harari Banyak orang percaya bahwa kebenaran mengantarkan pada kekuasaan. Jika beberapa pemimpin, agama, atau ideologi salah menggambarkan realitas, mereka pada akhirnya akan kalah dari pesaing-pesaing yang lebih berpikiran jernih. Karenanya, berpegang teguh pada kebenaran adalah strategi terbaik untuk mendapat kekuasaan. Sayangnya, anggapan itu hanyalah mitos yang menghibur. Faktanya, kebenaran dan kekuasaan memiliki hubungan yang jauh lebih rumit, karena dalam kehidupan sosial umat manusia, kekuasaan memiliki dua makna yang bertolak belakang. Di satu sisi, kekuasaan berarti memiliki kemampuan untuk memanipulasi realitas objektif: berburu binatang, membangun jembatan, menyembuhkan penyakit, merancang bom atom. Kekuasaan semacam ini terkait erat dengan kebenaran. Jika Anda percaya sebuah teori fisika palsu, Anda tidak akan bisa membuat bom atom. Di sisi lain, kekuasaan juga berarti memiliki kemampuan untuk memanipulasi kepercayaan manusia, sehingga membuat banyak orang

Tes-Three-Mony

Image
Ya, Tes-Three-Mony. Ini sebuah plesetan. Ini sekadar permainan bahasa, mempertautkan dua kata menjadi satu: kata “three” yang ‘menyelinap’ dalam kata “testimony”. Maksudnya kurang lebih tiga kesaksian. Ya, di balik judul plesetan pada pameran ini, tiga seniman masing-masing menghadirkan kesaksian dalam karya-karyanya. Rangga Jalu Pamungkas, perupa asal Sragen Jawa Tengah dan baru lulus dari Fakultas Seni Rupa, ISI Yogyakarta tahun 2019 ini mengaku membincangkan soal hiperrealitas. Ada gagasan atas realitas lain yang melampaui dari realitas yang tergambarkan, atau yang senyatanya ada. Pada dasarnya Rangga memberangkatkan diri dari penggambaran atas lanskap yang biasa ditemuinya dalam keseharian, di lingkungan sekitarnya, dari masa kecilnya hingga dewasa seperti sekarang. Itu semua adalah fakta sosial yang telah diketahui. Dalam karya kreatifnya, realitas atau fakta tersebut kemudian dibumbuinya dengan pembayangan atau imajinasi yang mengerumuni benaknya. Ada imajinasi tentang realitas