Posts

Showing posts with the label 2015

Bookstore

Image
Galeri Nasional Slovakia, Bratislava   /late post/ Di bookstore yang menjadi bagian dari Galeri Nasional Slovakia di kota Bratislava ini buku-buku seni rupa terpacak cukup padat. Ruangan itu tak terlalu besar sehingga buku-buku jadi tampak kekurangan tempat. Pemandangan ini saya duga bisa memberi secuil realitas bahwa perkembangan seni rupa juga diiringi oleh dunia penalaran. Tradisi membaca dan menulis turut mengiringi dengan baik pra ktik seni. Slovakia bisa terbilang negeri yang cukup "miskin" bila dibandingkan dengan tetangganya: Ceko (di utara), Polandia (timur), Hungaria (selatan), dan terlebih bila disetarakan dengan Austria (di sebelah barat) yang sangat maju. Stasiun kereta api Bratislava (ibukota Slovakia) pun tampak begitu sederhana ketimbang stasiun Tugu, Yogyakarta atau stasiun Gubeng Surabaya. Apalagi bila disejajarkan dengan stasiun Wina, Austria yang sangat megah dan modern. Tapi melihat bookstore ini saya menduga ada tradisi penalara...

Patung József di Ruang Publik

Image
Aku dan Moosa Omar, seniman asal Oman, di Kaposvar, Hongaria, Juni 2015. Di kota kecil Kaposvar, sekitar 187 km ke arah barat daya ibukota Hongaria, Budapest, saya menghirup suasana kota lama Eropa Timur yang khas: bangunan kuno, beberapa moda transportasi tinggalan zaman komunis, dan penduduk yang tak banyak. Kota yang tertib, bersih, namun sepi karena sedikit penduduk. Di salah satu plaza kota kujumpai sebuah patung sosok laki-laki mengendarai kereta mungil yang ditarik oleh keledai. Kenapa sih bentuk patungnya seperti ini? Mengapa memfigurkan b apak tua ini? Aku cek di sekujur tubuh karya patung berbahan perunggu ini. Ah, kutemui secuil keterangan yang membantu. Ternyata sosok ini adalah: József Rippl-Rónai (23 May 1861-25 November 1927). József adalah seniman besar Hungaria di abad 19 yang asli kelahiran Kaposvar. Rumah dan studionya yang asri di pinggiran kota Kaposvar bahkan masih ada, dirawat, dan kini dijadikan museum. Sedang sebagian besar karya-karya seni József disi...

Buku "Melacak Jejak Rupa"

Image
Tanpa terasa, tulisan saya--anak pikiran saya itu--tidak sedikit jumlahnya. Setelah bertahun-tahun, dari sekian banyak yang tercecer dan terberai dimana-mana, saya kumpulkan menjadi sebuah buku. Taman Budaya Yogyakarta bersedia menerbitkan kumpulan tulisan itu, yang kemudian saya beri tajuk: "Melacak Jejak Rupa" . Ukuran buku itu 18 x 25 cm dengan tebal 330 halaman. Dari sekian banyak tulisanku, ada 44 judul tulisan yang masuk dalam buku ini. Terima kasih, Taman Budaya Yogyakarta. Saya akan tetap mengritikmu kalau ada yang kurang, hehe. Terima kasih mas Suwarno Wisetrotomo untuk catatan pengantarnya yang bernas. Alhamdulillah.

Potongan Kecil Dunia Seni Rupa Indonesia

Image
Oleh Kuss Indarto Seni lukis yang menggambarkan pemandangan alam memiliki sejarah yang cukup panjang di Indonesia. Raden Saleh Sjarief Boestaman (1811-1880) merupakan pelukis modern pertama Indonesia yang telah membuat cukup banyak lukisan pemandangan alam. Karya-karyanya yang dibuat di Indonesia maupun ketika dia menetap puluhan tahun di daratan Eropa tampak jelas kecenderungan naturalismenya. Ada pemandangan yang menggambarkan keindahan alam di Jawa Barat seperti di kawasan Buitenzorg (sekarang menjadi kota Bogor), lalu di Puncak Pass Megamendung, sekitar gunung Gede Pangrango, dan lainnya. Juga tentang pemandangan kawasan Jawa Tengah seperti sekitar dataran tinggi (plateau) Dieng, gunung Merapi yang tengah tenang dan saat meletus, serta masih banyak lagi. Tentu itu tidak termasuk karya-karya pemandangan yang di dalamnya terdapat, misalnya, aksi pertarungan antara banteng dan harimau, singa dan kuda, atau aksi pemburu yang sedang berburu singa, harimau, dan lainnya. ...

Kota, Ruang, dan Landasannya

Image
Potongan pemandangan kota Dubai. Oleh Kuss Indarto PADA bulan Juli 2008 lalu, dalam kongres IUA (International Union of Architects) yang berlangsung di kota Torino, Italia, seorang arsitek berkelas internasional, Peter Eisenman memberikan sebuah ceramah yang mengesankan. Dari pemaparan panjang itu—seperti yang bisa dikutip dari buku “Mengubah Dunia Bareng-bareng” (2015) yang ditulis oleh Ridwan Kamil (walikota Bandung) dan Irfan Amalee—ada setidaknya 6 (enam) poin penting yang berkaitan dengan problem arsitektur kontemporer.   Pertama , kita diingatkan bahwa dunia sedang dalam krisis diskursus arsitektur. Eisenman menyebut bahwa “saat ini kita berada dalam dasawarsa yang tidak menawarkan nilai baru”. Yang ada hanyalah lateness atau kebaruan demi kebaruan geometri arsitektur yang berubah secara periodik, baik tahunan, bulanan, atau mingguan. Tak ada kegairahan pada perdebatan arsitektur dunia, seperti halnya ketika arsitektur modern bergeser ke post-modern , a...