Posts

Showing posts with the label indonesia art news

Taman Budaya Bukan Taman Makam Budaya

Image
Perhelatan ArtJog di halaman Taman Budaya Yogyakarta. Lembaga kesenian seperti Taman Budaya Yogyakarta ini, sesungguhnya, banyak dibantu oleh sumber daya seniman yang luar biasa di lingkungannya. (foto: kuss indarto)   oleh Kuss Indarto   BELAKANGAN ini, menilik beberapa Taman Budaya secara fisik tampak makin memprihatinkan. Taman Budaya Sumatera Utara di Medan—kota terbesar ketiga di Indonesia—tampak tak terawat dan terkepung sekian banyak bangunan megah. Rencana tukar guling belum kunjung tuntas. Di Pontianak, banyak bangunan di dalamnya kurang representatif. Bahkan untuk menggelar pameran seni rupa berlevel propinsi pun tak ada ruangan yang memadai. Demikian pula dengan di Makassar—sebagai kota terbesar di Indonesia Timur. Taman Budaya di kota itu nyaris tersembunyi dan tenggelam dalam keriuhan perkembangan kota yang begitu dinamis. Keadaan yang ironis juga terlihat kalau kita mengunjungi Taman Budaya Sulawesi Tenggara di Kendari yang hingga tahun 2013 memiliki sekitar ...

Bayangan Layer Pertama

Image
  Iqro Ahmad Ibrahim, Lahan Baru , 2014, marker on acrilyc, 27 x 21 cm   Oleh Kuss Indarto   DI pekarangan yang tak begitu luas itu, beberapa penari melakonkan sebuah theatrical dance yang berkisah tentang bayangan. Halaman rumah yang berhimpitan dengan kandang sapi tersebut, Sabtu malam itu, 29 Maret 2014, diriuhi oleh hampir seratusan orang yang menonton theatrical dance garapan Ari Ersandi dan disutradarai oleh Iqro Ahmad Ibrahim. Ada panggung segitiga kecil tempat empat perempuan penari meliuk-liukkan tubuh. Ada pula sebuah palang yang dikaitkan pada dua pohon melinjo tempat seorang penari laki-laki mengeksplorasi gerak tubuh dengan bertelanjang dada. Di kampung itu, Tempuran, DK VII, Brajan, Tamantirto, Kasihan, Bantul, Yogyakarta, persisnya di venue seni rupa bernama Perahu Art Connection, tengah berlangsung hajatan seni rupa. Dan theatrical dance itu adalah satu bagian dari rangkaian perhelatan pembukaan pameran tunggal seni rupa “Shadow” yang m...

Masdibyo, Facebook, dan Lone Ranger

Image
Oleh Kuss Indarto   Sosok pelukis Masdibyo bersama karya-karyanya. (foto: koleksi seniman) Pada akhirnya, hidup itu ditentukan bukan oleh pengetahuan, tapi oleh tindakan. (Thomas Huxley) MEMAHAMI dinamika pemikiran dan gejolak batin Masdibyo antara lain bisa disimak dari dunia visual kreasinya, karya-karya lukisannya. Ini salah satu representasi yang sangat populer dan lazim tatkala hendak “membedah” seorang perupa atau dalam hal ini pelukis. Dalam karya visual tersebut terdapat dunia gagasan dan dunia bentuk. Dunia gagasan lebih bertumpu pada aspek rasionalitas dan imajinasi yang memuarakan substansi karya sebagai pokok soal (subject matter) yang ada dalam karya. Dalam rentetan sejarah seni rupa yang telah berlangsung berabad-abad bisa dibaca bahwa dunia gagasan dalam karya seni rupa dapat dimungkinkan sebagai alternatif untuk membaca spirit zaman (zeitgeist) , problem dan realitas sosial, sekaligus ...

I Made Toris Mahendra: "Hidden Passion"

Image
Role Play, salah satu karya I Made Toris Mahendra yang dipamerkan dalam pameran tunggal "Hidden Passion".   Oleh Kuss Indarto (Catatan ini termuat dalam katalog pameran tunggal I Made Toris Mahendra, "Hidden Passion". Pameran ini berlangsung selama sebulan mulai tanggal 19 Februari 2012, di Galeri Apik, Jakarta) I Made Toris Mahendra, saya kira, belum atau tidak pernah menabalkan diri sebagai seorang laki-laki (aktivis) feminis atau male feminist . Dia, barangkali, juga tak mengenal, atau bahkan tak tahu, nama-nama besar nan “seram” semacam Mary Woolstonecraft, Betty Friedan, Dorothy Dinnerstein, Simone de Beauvoir, Iris Young, Helene Cixous, Luce Irigaray, Julia Kristeva, Vandana Shiva, Maria Mies, dan berderet-deret lagi para pemikir feminisme dunia, entah itu feminisme liberal, feminisme radikal, feminisme Marxis-Sosialis, feminisme eksistensialis, feminisme posmodern, ekofeminisme, dan lainnya. Dia, ...