Posts

Showing posts with the label pameran seni rupa

Press Release – Pameran Seni Rupa “Titik Balik”

Image
  Putri Pertiwi, seorang anak down syndrome, akan menggelar karya-karya seninya mulai hari Sabtu, 5 Januari 2019 mendatang di gedung Bentara Budaya Yogyakarta (BBY), Jl. Suroto 2, Kotabaru, Yogyakarta. Karya-karya seni rupa yang dipamerkan itu terdiri dari lukisan di atas kanvas dan kertas, serta sketsa-sketsa di atas kertas. Ada sekitar 85 karya yang siap dipertontonkan ke hadapan publik. Sebagian besar karya itu dibuat dalam rentang waktu 2 tahun terakhir. Rencananya, pameran dengan tajuk “Titik Balik” ini dibuka oleh Rektor Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, Prof. Ir. Panut Mulyono, M.Eng., D.Eng. dan dilengkapi dengan orasi seni bersama dr. Oei Hong Djien—seorang kolektor seni rupa kenamaan dari Magelang, Jawa Tengah. Juga penampilan vokalis muda, cantik penuh talenta, Vari, yang diiringi Bagus Mazasupa. Berbeda dengan kebiasaan perhelatan pameran seni rupa di Yogyakarta, kali ini pameran akan dibuka pada siang hari pukul 12.00 WIB. Pameran sen...

Piring Asian Games

Image
56 tahun lalu, ya, lebih dari setengah abad lalu, Indonesia menjadi tuan rumah perhelatan besar olahraga berlevel Asia: "Asian Games" ke-9. Presiden Soekarno memerintahkan membangun sarana pendukung untuk itu, seperti stadion olahraga yang megah. Arsitek Uni Sovyet (sekarang Rusia) merancang stadion tersebut. Stasiun televisi pun dibuat dengan begitu ambisius di tengah kondisi perekonomian yang masih belum stabil. Asian Games pun akhirnya berlangsung tahun 1962 itu. Indonesia meraih posisi 2 dalam klasemen perolehan medali. Ini pencapaian sekaligus beban sejarah yang berat dan sulit diraih kembali saat ini. Plate atau piring bewarna dasar pink ini menjadi artifak unik untuk menengok kembali pencapaian yang pernah diraih oleh Soekarno dan bangsa Indonesia saat itu. Piring ini menjadi salah satu bagian dalam etalase dokumentasi yang ada di pameran seni rupa koleksi istana kepresidenan bertajuk kuratorial "Semangat Dunia" di Galeri Nasional Indon...

Pameran Koleksi Tanda Mata

Image
Dua tahun terakhir, di Galeri Nasional Indonesia (GNI) Jakarta, digelar pameran karya seni koleksi Istana Kepresidenan. Itu menarik, dan perlu diteruskan.  Tahun 2016 lalu, saya punya pengalaman menarik saat berkunjung ke Beijing, China. Di Museum Nasional China yang hanya sekitar 150 meter jaraknya dari lapangan Tiananmen, digelar pameran koleksi tanda mata (gift) dari para pemimpin dunia. Tajuk pameran itu, "The Friendly Exchanges Between The Witness of History". Isinya ratu san benda-benda bernilai seni budaya yang diberikan oleh para pemimpin dari berbagai negara di dunia yang pernah melakukan kunjungan kenegaraan ke China. Dengan ruangan yang sangat luas, melebihi Gedung A GNI, pameran tanda mata tersebut menyita perhatian publik yang berkunjung ke museum. Meski pendisplaian karya-karya tersebut kurang menarik karena terlalu berhimpitan satu sama lain (mungkin karena saking banyaknya karya/benda yang ingin dipamerkan), namun menarik untuk disimak de...

Cuilan Cahaya

Image
Bisa jadi ini sekadar info lebay dan ecek-ecek namun tak ada salahnya untuk tetap disebarkan. Dalam sebuah pameran seni rupa, unsur tata (pen)cahaya(an) atau "lighting" punya peran sangat penting. Itu punya pengaruh untuk lebih "menghidupkan" sebuah karya--bahkan dalam kasus tertentu bisa memberi aspek dramatik pada karya. Teknologi tata cahaya juga ikut terus mengiringi perkembangan jagad seni r upa. Ini yang perlu dicermati oleh banyak kalangan yang bergelut dalam dunia seni rupa. Salah satu contoh kecil dari perkembangan tata pencahayaan adalah seperti dalam foto ini. Tampak ada serentetan teks yang memberi penjelasan atas data seniman dan karyanya. Teks tersebut berupa "cutting sticker" yang harus ditempatkan dalam ruangan bersama karya. Namun ruangan itu diinginkan oleh senimannya dalam keadaan minim cahaya atau sangat temaram. Maka, cahaya lampu yang ada semestinya memang minimal. Di sinilah teknologi mencoba memfasilitasi. Pada karya, ada s...

Tiada Lagi SMS dari Gandung

Image
Oleh Kuss Indarto   Di pemakaman kampung Gampingan, Wirobrajan, di tepi sungai Oya, di bawah rindangnya pohon “asem Jepang”, akhirnya, tubuh Wahyudiono atau yang karib dipanggil Gandung direbahkan. Tubuhnya yang bertahun-tahun lalu terbilang tambun, di bulan-bulan terakhir tampak menyusut karena digerogoti penyakit gula darah (diabetes melitus), juga ditambah penyakit lain. Belum lagi sebuah kecelakaan kendaraan bermotor sempat mengempaskan tubuhnya hingga mencederai bagian tulang lengan kirinya. Tubuhnya hanya bertahan menyangga penyakit-penyakit itu hingga di usia 44 tahun. Jumat Kliwon, 7 November 2014, sekitar pukul 07.00-an WIB, Gandung meninggal di salah satu sal di RS Pemda Wirosaban, Yogyakarta. Tak hanya keluarga dan kampungnya, dunia seni rupa Yogyakarta pun kehilangan sosok ini—terutama bagi para seniman, pekerja seni, atau mereka yang pernah mengenyam bangku kuliah di Fakultas Seni Rupa, Institut Seni Indonesia (FSR ISI), Yogyakarta, khususnya saat berkampus di ...