Posts

Showing posts from August, 2018

emiria soenassa

Image
Tak banyak diketahui bahwa dalam sejarah seni rupa modern Indonesia kurun 1930-an hingga 1960-an ada sosok perempuan yang namanya agak tercecer dalam perbincangan. Emiria Sunassa namanya. Dia lahir di Sulawesi Utara tahun 1895 dan meninggal tahun 1964 di Lampung. Darah ningrat mengalir dalam tubuhnya karena ayahnya adalah Sultan Tidore (Maluku Utara) pada masanya. Emiria seorang bohemian. Dia melanglang kemana-mana hingga pada satu kurun waktu menetap dan belajar di Eropa, ya kni di Belgia. Dia juga pernah aktif di Persagi (Persatoean Achlie Gambar Indonesia) bersama S. Sudjojono dan para seniman senior lainnya. Foto ini adalah salah satu karya Emiria Sunassa. Dibuat tahun 1951 dan bertajuk "Pemanah Papua/Papuan Archer". Kini menjadi salah satu koleksi perupa Nasirun, dan sedang dipamerkan di Pameran Koleksi Seni Perjuangan "Jasmerah" di Indieart House , Jl. As Samawaat no. 99, Bekelan, Tirtonirmolo, Kasihan, Bantul, Yogya, antara tanggal 17 hin

mural

Image
Upaya estetisasi ruang publik tidak selamanya berhasil. Dan keberhasilannya pun bisa memiliki tingkat yang berbeda-beda. Mural karya Bambang Nurdiansyah di dusun Jeblog, Tirtonirmolo, Bantul, Yogyakarta ini menurut saya merupakan salah satu karya yang berhasil. Dia membeberkan citra visual yang sederhana namun mengena. Juga menawarkan narasi yang cukup enigmatik (mengusung teka-teki), bukan membopong keasingan yang kurang relevan dengan lingkungannya (misalnya citra sosok Che Guevara yang dipaksa masuk kampung). Public art semacam mural memang idealnya mampu memeluk dan menggugah publik di sekitarnya.

Piring Asian Games

Image
56 tahun lalu, ya, lebih dari setengah abad lalu, Indonesia menjadi tuan rumah perhelatan besar olahraga berlevel Asia: "Asian Games" ke-9. Presiden Soekarno memerintahkan membangun sarana pendukung untuk itu, seperti stadion olahraga yang megah. Arsitek Uni Sovyet (sekarang Rusia) merancang stadion tersebut. Stasiun televisi pun dibuat dengan begitu ambisius di tengah kondisi perekonomian yang masih belum stabil. Asian Games pun akhirnya berlangsung tahun 1962 itu. Indonesia meraih posisi 2 dalam klasemen perolehan medali. Ini pencapaian sekaligus beban sejarah yang berat dan sulit diraih kembali saat ini. Plate atau piring bewarna dasar pink ini menjadi artifak unik untuk menengok kembali pencapaian yang pernah diraih oleh Soekarno dan bangsa Indonesia saat itu. Piring ini menjadi salah satu bagian dalam etalase dokumentasi yang ada di pameran seni rupa koleksi istana kepresidenan bertajuk kuratorial "Semangat Dunia" di Galeri Nasional Indon

Bonjol

Image
Lukisan "Imam Bonjol" ini dilukis oleh seniman Yogyakarta asal Kutoarjo, Jateng, Harijadi Sumadidjaja (1919-1997). Diduga karya ini dibuat "by order" atau atas pesanan presiden Soekarno yang ingin menghimpun lukisan sosok-sosok pahlawan nasional. Sosok Imam Bonjol atau Muhammad Syahab ini dilukis oleh Harijadi tahun 1951, dengan ukuran kanvas 120 x 90,5 cm. Ulama besar dari daerah Bonjol, Sumatera Barat ini bergelar Peto Syarief Ibnu Pandito Buyanudin. Karena Imam Bonjol hidu p di Sumatera Barat antara tahun 1772-1864 dan belum ada teknologi fotografi, Harijadi mengandalkan proses visualisasi sosok kiai kharismatik tersebut lewat sebuat sketsa. Sketsa itu dibuat oleh residen atau semacam walikota Padang waktu itu, Hubert de Steurs. Tahun pembuatan sketsa itu tertera: 1826, atau ketika Imam Bonjol berusia 54 tahun. Di balik menariknya karya ini sebetulnya ada hal yang mengkhawatirkan. Kondisi lukisan sudah penuh retak dan bercak jamur ada di

Sunarto untuk Saptoto

Image
Potret diri pendiri Sanggar Bambu, Sunarto PR ini memuat kisah cinta yang patah. Kalau tak salah, ada dua orang seniman muda mencintai satu gadis. Dalam helaan waktu berikutnya, sang gadis memilih satu di antara dua jejaka yang seniman itu. Pilihan jatuh pada jejaka bernama Saptoto. Dan yang tertampik cintanya bernama Sunarto. Saptoto pun menikahi gadis itu. Suatu ketika, saat Saptoto berulang tahun (kemungkinan besar tahun 1956), sahabatnya, Sunarto memberikan kado ultah. An ehnya, kado itu lukisan crayon potret diri Sunarto. Bukan potret yang diberi kado. Tampaknya Saptoto paham maksud kado tersebut. Sunarto masih menyimpan bara cinta dan ingin potret dirinya bisa sering ditatap oleh perempuan yang sudah jadi istri Saptoto. Apa lagi dalam lukisan tertulis teks, antara lain: kerinduan kelahiran ooo... terlalu lengang terlalu lengang kapan... kapan. kapan kan kusambut kata tangan-tangan sayang jangan keburu jangan keburu terbang, njawa seribu blatju akan

“Jasmerah”: Kesaksian dan Interpretasi

Image
Sebuah karya Agoes Djaja, koleksi Nasirun. Oleh Kuss Indarto   PAMERAN seni rupa “Jasmerah” ini memuat banyak makna. Pertama , ditinjau dari materi karya dan substansinya, sedikit banyak memuat potongan peristiwa yang bertalian dengan sejarah tertentu. Entah itu sejarah perjuangan bangsa, sejarah sosial sebuah kawasan, sejarah personal dan komunal, dan lainnya. Pada konteks ini, artifak dan konten karya seni bisa dibaca sebagai perangkat dokumentasi, juga sebagai sebuah kemungkinan alternatif “alat baca sejarah” di luar bentuk artifak sejarah yang lain dan mainstream .   Kedua , pameran ini menyadarkan kembali kepada publik seni rupa akan betapa pentingnya sebuah dokumentasi. Dokumentasi tak bisa dilihat sebagai sekumpulan benda-benda lawas, lama dan mungkin kuno, namun sebagai segepok sejarah yang bisa dihidupkan kembali untuk membaca gerak peradaban dan kebudayaan pada kurun waktu jauh di belakang. Ketiga, pameran “Jasmerah” juga mengingatkan kembali pentingnya budaya peng

Garuda Journey: Menguji Kepekaan, Menakar Kesetiaan

Image
SECARA historis, perjalanan seni rupa Indonesia banyak berhimpitan dengan konteks sosial politik yang tengah terjadi di sekitarnya. Ini dapat dibaca dan disimak dari artifak karya seni yang ada dari waktu ke waktu, dari zaman ke zaman. Kalau kita bersepakat bahwa seni rupa modern Indonesia bertitik pijak dari munculnya seniman Raden Saleh Sjarief Boestaman (1811-1880), dari sanalah kita bisa menemukan sekian banyak karya seniman asal Terboyo, Semarang ini yang menyoal tentang dunia keterkaitan karya seni rupa dan konteksnya dengan kondisi sosial politik yang terjadi (waktu itu). Kita bisa melihat, misalnya, karya puncak Raden Saleh, “Penangkapan Diponegoro” (1857). Karya ini menjadi antitesis terhadap karya Nicolaas Pieneman yang dibuat 22 tahun sebelumnya, bertajuk “Penaklukan Diponegoro” (1835). Karya Raden Saleh tersebut oleh banyak kalangan disebut menjadi masterpiece dari seluruh karya yang pernah diciptakannya karena secara substansial memuat gagasan dan persoalan yan