Posts

Showing posts with the label Bentara Budaya Jakarta

Yustoni Volunteero Berpulang

Bersama teman-teman seniman Yogya, paruh kedua 1998, Yustoni Volunteero mendirikan Taring Padi, sebuah komunitas seni rupa kerakyatan. Garis orientasi estetikanya kurang lebih berupaya menngeluti seni rupa realisme sosial yang kekiri-kirian haluan politiknya. Ya, kira-kira seperti komunitas serupa yang hidup sekitar 1950-1960-an, yakni Bumi Tarung. Komunitas Taring Padi diresmikan pendiriannya pada sebuah sore, di halaman kantor LBH (Lembaga Bantuan Hukum), bilangan Kadipaten, Yogyakarta. Taring Padi menjadi ruang ekspresi penting seorang Yustoni. Aktivitas seninya adalah juga aktivitas politik yang cukup relevan untuk mengisi masa pancaroba setelah jatuhnya rezim Orde Baru untuk memasuki era Reformasi. Itu masa-masa penting ketika masyarakat yang telah 3 dasawarsa dikungkung oleh pemerintahan yang totaliter di bawah Soeharto, tiba-tiba menikmati kebebasan penuh. Toni dan Taring Padi bisa dibilang sebagai "art-tivist" karena beberapa aktivitas seninya dipra...

Mengejar Hasrat, Menghajar yang Membebat

Image
Lukisan karya Prayitno, "Efek Kuasa", 130x140cm, acrylic on canvas, 2014. Oleh Kuss Indarto   (Catatan ini telah dimuat dalam katalog pameran "Hajar Bro" yang dihelat oleh Matahari Art Community dan berlangsung di Bentara Budaya Jakarta, 13 Januari 2016) MATAHARI Art Community ini, bagi saya, memberi tambahan pemahaman tentang beragamnya asal-usul sebuah komunitas seni atau art group . Pertalian antar-anggotanya (yang terdiri dari Argo Nunggal, Iwan Hasto, Prayitno, Ulilgama, Wisnu Baskoro) mungkin dibentuk oleh “kohesi romantisme geografis”. Entahlah, tepat atau tidak istilah saya tersebut, tapi realitasnya terlihat bahwa para anggota komunitas ini terdiri para pekera seni atau seniman yang semuanya berasal atau pernah mengenyam kehidupan dan studi di kawasan yang sama, yakni Yogyakarta. Kini, mereka berlima juga berada atau terdampar dalam kota yang sama: Jakarta. Mereka memiliki kesibukan dan pekerjaan yang kurang lebih sama, dan kemudian menyisakan ...

Menelusuri Jalur Ngalor Ngetan

Oleh Kuss indarto [1/satu]: Dua seniman dengan karakter, corak dan pola visual yang relatif berbeda bergabung dalam pameran “Ngalor-Ngetan”. Rb. Ali dan Khoiri, duo perupa tersebut, menandai pameran ini dengan tajuk yang diambil dari terminologi bahasa Jawa yang artinya harfiahnya “menuju ke utara dan ke timur”, dan diandaikan mengendapkan makna “berjalan beriringan lalu merunuti arah dan keyakinan masing-masing”. Makna ini tentu tak terlalu tepat benar karena pada dasarnya tajuk pameran ini juga merupakan “pelesetan” dari ungkapan “yang lebih asli”, yakni “ngalor-ngidul” . Ngalor-ngidul sejatinya merujuk pada aktivitas perbincangan antara dua orang atau lebih tanpa tema yang fokus dan terarah—sehingga bisa berkisah mulai dari tema politik, perkembangan teknologi gadget , olah raga, klenik , metafisika, hingga seks, atau pun progres pasar seni rupa kontemporer, dan lainnya. Semua bisa masuk dalam “agenda” perbincangan “ngalor-ngidul” —dari utara hingga selatan...