Posts

Showing posts from August, 2014

Melihat Ekspresi Watak Bayu

Image
Oleh Kuss Indarto DALAM sebuah kesempatan, Dr. Rodrigo de Andrade, Direktur do Patrimonio e Artisco National, Brazilia, memberikan komentar pendek ketika menyaksikan pelukis Affandi sedang melukis: “… Sesungguhnya, beliau tidak melukis, (tapi) beliau memberikan dirinya sendiri ke dalam kanvas, dengan tube-tube yang berisi cat pada tangannya, jarinya berfungsi sebagai kuas…” Komentar tersebut dituliskan oleh (almarhum) pelukis Nashar dan termuat dalam katalog “Kata Rasa 100 Hari” untuk memperingati 100 hari kepergian Affandi, yang acaranya berlangsung di Bentara Budaya Jakarta, tahun 1990. Saya kira komentar Dr. Rodrigo de Andrade tidaklah berlebihan, bahkan relatif cukup representatif untuk memberi gambaran atas totalitas kesenimanan Affandi ketika berhadapan dengan kanvas. Ketika di depan kanvas, maestro itu benar-benar terlihat tengah menggeluti dunia yang menghidupi diri dan reputasinya, juga harga diri dan cecitraan yang melingkunginya. Realitas ini, bagi saya, seperti seb

Karya Seni dalam/untuk Masyarakat

Image
Oleh Kuss Indarto   Beberapa karya Endeng Mursalin dalam pameran kali ini, terutama lukisan tentang potret dirinya sendiri, memperlihatkan potongan kepeduliannya pada problem sosial politik yang tengah berkembang dalam perbincangan masyarakat. Pada 2 lukisan berwarna di antara karya lainnya terlihat di sana potret diri Endeng yang tengah teriak lantang. Mulutnya terbuka, sebagian giginya tampak, dan di tubuhnya seperti berada dalam kepungan berbagai persoalan seperti masalah impor yang menusuk daya kemandirian bangsa, dan lainnya. Karya seperti ini, bagi saya, seperti mengingatkan pada karya-karya perupa kontemporer China, Yue Minjun. Pada sebuah kurun waktu tertentu karya-karyanya seperti stereotype , seragam, monoton, namun ternyata membawa konsep kreatif yang sangat kritis. Minjun menampilkan potret dirinya yang tertawa dalam gubahan visual yang komikan, seperti komik atau kartun. Gigi-giginya berderet tidak wajar jumlahnya, yakni total hingga 60-an gigi. Lalu di batok kepala

GEGAR BIROKRASI

Image
KASUS pengunduran diri Lasro Marbun sebagai Kepala Dinas Pendidikan DKI Jakarta, tampaknya tak bisa dibaca secara sederhana. Ini sebuah sinyalemen juga simbol penting bahwa ada perlawanan dari dalam tubuh birokrasi untuk menolak banyak perubahan, atau apalagi revolusi. Sinyalemen ini semakin meneguhkan apa yang telah dikatakan oleh Gus Dur sekitar Oktober 2001 lalu saat mengawal i jabatannya sebagai RI-1 dulu bahwa ada 2 tubuh besar yang perlu direformasi besar-besaran: (1) birokrasi pemerintahan yang gemuk, lamban dan penuh belitan, serta (2) militer yang mesti dikembalikan ke barak, bukan banyak bermain di ranah (pemerintahan) sipil. Kesadaran seperti Gus Dur tampaknya juga dipahami betul oleh pasangan Jokowi-Ahok ketika memimpin salah satu propinsi terkaya dan terkompleks permasalahannya di Indonesia ini. Pembenahan dalam birokrasi di DKI Jakarta oleh Jokowi-Ahok terlihat cukup kentara. Dalam 1,5 tahun pemerintahan mereka setidaknya ada 3 kepala dinas (tingkat pro