Blangkon Gaul di Biennale Jogja 2007
Penutup kepala tradisional khas Jawa, blangkon, bagi perupa muda Evi Sulistyowati, bukanlah sebentuk benda yang sangat ketat sakralitasnya. Justru karena selama ini dianggap sangat sakral, maka lambat-laun menemukan “kuburannya” dan “dijauhi” oleh masyarakatnya. Karya Evi kali ini, dalam gradasi pemahaman tertentu, berupaya untuk melakukan desakralisasi atas blangkon khas Jawa gaya Ngayogyakarta Hadiningrat. Mondhol yang membulat di bagian belakang tetap ada, lipit dan draperi masih konsisten ada di dalamnya, namun motif kain yang dipakai sama sekali mengalami pembaruan. Yah, Neo-Blangkon , atau Post-Blangkon, barangkali! Bagi Evi, kerja kreatifnya ini menjadi sebentuk cara ungkapnya untuk menyikapi bangsa ini yang tengah mengalami krisis identitas dan krisis kebudayaan. Dia mengangap bahwa: “Kini tengah terjadi pergeseran apresiasi kebudayaan lokal ke budaya asing untuk mengejar pengakuan diri sebagai bagian dari masyarakat modern. Kita melupakan akar budaya sendiri. Kita dijauhkan, s...