Posts

Showing posts from February, 2018

Pindah Posisi

Hari itu, pertengahan 1994, saya minta ijin pada teman-teman satu kelompok KKN (Kuliah Kerja Nyata, bukan Kejar-Kejar Nona) untuk balik ke Yogyakarta selama 2 hari. Saya dibonceng naik sepeda motor oleh teman dari desa Dawuhan, kecamatan Banyumas, kabupaten Banyumas, Jawa Tengah lalu naik bus Mandala dari depan pasar Banyumas hingga ke Yogyakarta. Bus padat penumpang. Kulihat nyaris semua tempat duduk telah terisi. Ada beberapa kursi kosong di bagian bagian belakang. Tapi kuputuskan untuk duduk di bangku paling depan, di sebelah kiri sopir, berdampingan dengan seorang bapak setengah umur. Laju bus begitu cepat. Penumpang satu persatu bertambah lagi hingga ada beberapa orang yang berdiri di lorong bus karena bangku kosong tak tersisa lagi. Pada satu tempat, bus kembali berhenti untuk menaikkan serombongan penumpang. Usianya beragam, tua dan muda. Beberapa detik setelah para penumpang baru itu naik dan bus kembali melaju, saya berkeputusan untuk memberikan tempat dudu

Monumen Pro-Kontra

Image
"Monument" (2017), seni instalasi karya Manaf Halbouni. Manaf Halbouni, 34 tahun, menggegerkan kota Dresden setahun lalu. Seniman keturunan Jerman-Suriah ini membuat karya seni instalasi bermaterial ready-made-used object berupa 3 buah bus bekas yang diletakkan persis di Neumarkt Square, atau Nol Kilometer-nya kota Dresden. Tidak jauh dari gereja Frauenkirche atau Church of Our Lady. Karya ini dipasang selama 2 bulan, mulai 7 Februari hingga 3 April 2017. “Monument”, judul karya tersebut. Konsepnya berkisar pada rasa empati sang seniman terhadap negeri kelahirannya, Suriah, yang luluh lantak oleh perang saudara. Instalasi Manaf Halbouni ini menciptakan representasi atas citra yang kuat dari situasi jejalanan di Aleppo, Suriah pada tahun 2015 di mana tiga bus dibalik secara vertikal, diikat bersamaan, dan digunakan sebagai tempat penampungan bagi warga sipil untuk melindungi dari tembakan para sniper (penembak jitu). Karya seni Manaf "Monument"

Lukisan Order Raden Saleh

Image
“Javanese Temple in Ruins” (Reruntuhan Candi Jawa) yang dilukis oleh Raden Saleh Syarief Boestaman tahun 1860.   Saya terpaku cukup lama di depan lukisan ini: “Javanese Temple in Ruins” (Reruntuhan Candi Jawa). Lukisan karya Raden Saleh Syarief Boestaman ini berukuran 105,4 x 187 cm, dibuat tahun 1860. Banyak hal yang membuat saya terpaku di situ, di National Gallery Singapore, akhir Januari lalu. Pertama, lukisan ini eksotik. Dilukis saat Raden Saleh berusia 49 tahun, memperlihatkan kematangannya sebagai pelukis, apalagi setelah bertahun-tahun berproses di Eropa. Karya ini tergarap detil, terlihat pengaruh guru lukis lanskapnya, Andreas Schelfhout—begitu kuat. Pun dengan pencahayaannya yang seolah dibuat dengan kesadaran ketika hidup di Eropa: langit dan tanah yang temaram meski bayang-bayang benda menunjukkan suasana tengah hari. Ini tak lepas dari pengaruh para seniman Perancis yang dikaguminya, Horace Vernet dan Eugene Delacroix. Kedua, lukisan ini nyaris tidak banyak d

Saleh dan Luna

Image
Menengok karya-karya Sang Pemula dari Philipina, Juan Luna de San Pedro y Novicio. Juan hidup hampir satu generasi setelah Sang Pemula dari Indonesia, Raden Saleh Syarief Boestaman. Raden Saleh hidup antara 1811 dan wafat tahun 1880 ketika berusia 69 tahun. Sementara Juan Luna lahir tahun 1857 dan meninggal karena serangan jantung di usia 42 pada tahun 1899. Karya-karya dahsyat keduanya tengah dipamerkan di National Gallery Singapore, 16 Nov 2017 hingga 11 Maret 2018. Ada ban yak hal yang bisa dipelajari dari dua tokoh ini. Misalnya tentang hasrat untuk memajukan diri dengan terus belajar. Raden Saleh studi seni rupa di Belanda dan Jerman. Juan Luna belajar di Spanyol dan Italia. Di sisi lain, Raden Saleh dianggap sebagai priyayi yang akomodatif terhadap kepentingan negeri penjajahnya, Belanda. Tapi anggapan itu bisa luntur ketika dia melukis "Penangkapan Diponegoro" yang secara simbolik memberi perlawanan kultural terhadap Belanda. Sedang Juan Luna y

Kiefer

Image
Karya ini bertajuk "Dein und mein Alter und das Alter der Welt" (Umurmu, Umurku, dan Umur Dunia), dibuat 26 tahun lalu atau tahun 1992. Ditempatkan di ruang khusus di ArtStage Singapura 2018 hanya demi Anselm Kiefer—salah satu perupa kontemporer paling berpengaruh di dunia dewasa ini. Lukisan Kiefer yang cukup besar ini berukuran 281 x 380 cm dengan latar belakang dinding warna legam, agar lebih menguatkan kemunculan karya di depannya. Seperti halnya banyak karya Kiefer lainn ya, karya ini memakai beragam material, misalnya "ready-made used object" seperti pohon bunga matahari, pasir, jerami, pecahan gelas, dan beragam benda lainnya, di samping tentu material standar lainnya seperti cat minyak, vernis, dan sebagainya. Kiefer mengerjakan karya ini saat berusia 47 tahun. Dia tengah membincangkan tentang persoalan mendasar ihwal perjalanan proses waktu dan potongan kehidupan seperti hidup itu sendiri, kematian, juga pembusukan. Meski sudah berus