Posts

Persiapan Biennale Jogja 2007

Hhrrrggggggkk! Setelah ngurusi pameran Boeng Ajo Boeng beberapa waktu lalu, sekarang aku bergeser menyuntuki rencana perhelatan Biennale Jogja 2007. Persiapan sudah berlangsung beberapa bulan ini. Salah satu momen paling menyita waktu dan perhatian ya saat proses seleksi proposal karya. Ada 400-an proposal karya yang harus kami berempat, sebagai Tim Kurator, seleksi. Yah, aku sendiri, mas Suwarno Wisetrotomo, Mas Eko Prawoto, dan Sudjud Dartanto, hari-hari ini tengah berjibaku mempersiapkan perhelatan besar ini. Tanggal 28, 29, dan 30 September lalu, masa seleski proposal yang mengharuskan kami bekerja ekstra keras. Dari siang atau sore, hingga berakhir dinihari, bahkan pagi hari. Capek deeeehh! Tapi banyak kegairahan yang aku rasakan setelah beberapa proses ini belangsung dari tahap ke tahap berikutnya. Event ini pasti menjadi salah satu perhatian publik seni di Indonesia, dan kukira, kami sebagai kurator yang mendisain biennale akan dihitung keberhasilan sekaligus kegagalannya dari e...

Minggu Tegang...

Image
(Harusnya ini tertulis pada 28 Agustus lalu, tapi salah kamar ngirimnya...) Ini pekan yang menegangkan bagiku. Perhelatan pameran Boeng Ajo Boeng: Tafsir Ulang Nilai-nilai Manusia Affandi yang aku kuratori bersama mas Hari Budiono (Bentara Budaya Yogyakarta) dan Sujud Dartanto, masuk dalam tahap akhir persiapan. Displai akan segera dilakukan. Ini yang merepotkan. Seharusnya, sesuai jadwal, para seniman peserta sudah menyerahkan karya paling akhir pada 20 Agustus kemarin. Nyatanya, setelah lewat seminggu, baru ada sekitar 35 persen karya yang masuk ke panitia. Jelas memusingkan karena kami harus mendisplai di tiga tempat sekaligus, yakni di Bentara Budaya, Museum Affandi, dan Taman Budaya Yogyakarta. Kalau hanya lukisan saja sih sebenarnya tak terlalu masalah, lha ini kan banyak yang rencananya mau bikin karya instalasi. Tentu repot. Karya lukisan pun juga tak mudah mesti ukurannya sudah ketahuan lewat data. Kalau belum tau secara fisik, aku gak bisa gegabah karya si A dipasang bersebel...

Oom Pasikom, Sang Perekam Zaman

Image
Oleh Kuss Indarto Menyimak karya-karya GM Sudarta serasa menyimak orang Jawa (atau Timur?) menuturkan kritik. Karya-karya kartun editorialnya (atau yang secara salah kaprah lebih diakrabi sebagai karikatur), dengan Oom Pasikom sebagai maskotnya, seperti memberi representasi yang melekat atas modus orang Jawa dalam menyampaikan kritik. Pada sebagian besar karyanya, terasa kuat gejala eufemisme atau kramanisasi yang bertolak dari ungkapan dalam bahasa Jawa sebagai titik pijak ketika berolah kritik: Ngono ya ngono, ning aja ngono . Begitu ya begitu, tapi jangan begitu. Ungkapan ini, yang telah mengental sebagai ideologi, memberi semacam garis demarkasi bagi hadirnya sebuah kritik. Dua kata ngono pada bagian awal mengindikasikan kemungkinan dan peluang akan hadirnya sebuah kritik dalam pergaulan sosial kemasyarakatan. Di sini tersirat kemampuan manusia dan atau kultur Jawa untuk mengakomodasi datangnya kritik. Sedangkan kata ngono yang ketiga seolah menjadi kunci pokok yang menyiratkan p...

Cermin Affandi

Image
Oleh Kuss Indarto LIMA puluh tiga tahun lalu, dalam majalah Budaya edisi ke 6 bulan Juni 1954, Kusnadi, staf pengajar Akademi Seni Rupa Indonesia (sekarang Fakultas Seni Rupa ISI) Yogyakarta yang juga anggota redaksi majalah terbitan Djawatan Kebudajaan Kementerian P.P.K tersebut, menorehkan laporan khusus seputar Bienal Seni Rupa ke-2 di Sao Paulo, Brasil. Laporan yang menyita 48 halaman edisi khusus tersebut memaparkan perhelatan seni rupa tingkat dunia yang berlangsung 12 Desember 1953 hingga 12 Maret 1954. Kusnadi mencatat ada 33 negara peserta yang secara keseluruhan mempertontonkan 4.500 hasil karya seni rupa dalam berbagai ragam ekspresi. Negara-negara yang kuat dan berpengaruh dalam jagad seni rupa hadir dengan karya (dan) para seniman bintangnya. Ada Spanyol yang menghadirkan karya-karya megabintangnya yang paling kemilau waktu itu, Pablo Picasso. Ada pematung Inggris yang jadi trendsetter dunia, Henry Moore. Hadir pula Ben Shahn dari Amerika Serikat. Tampak George Braque, R....

Merdeka?

Image
Figura "kecil" bernama bernama negara Indonesia hari ini genap 62 tahun. Ah, "figura" itu tak mampu menampung lukisan lanskap indah bertajuk bangsa Nusantara. Selalu saja begitu. Sepekan (lebih) ini aku tak lagi merdeka untuk bisa memencet remote untuk nonton Liga Inggris (Premiere League) yang kembali bergulir. Kurang ajar! Trans 7 tak lagi menayangkan teater impian itu karena tak kuat bayar hak siar. Kini, untuk wilayah imagined Indonesia diambil alih oleh Astro TV yang punya jaringa internasional yang tentu lebih tajir. Huh! Lagi-lagi kapitalisme gombal memakan tengu-tengu miskin... (Sementara ini) gak bisa lihat Christiano Ronaldo menari-nari! Asssuuuu...

Kenapa kita Nge-Shout Out?

Image
(Foto: Aku yang berkaos biru tengah bareng Arie Dyanto menyeleksi karya untuk pameran Shout Out FKY 2007) Oleh Kuss Indarto (Teks ini dimuat dalam katalog pameran Shout Out Festival Kesenian Yogyakarta XIX - 2007) /1/ Yah, FKY lagi, FKY lagi! Ritual tahunan Festival Kesenian Yogyakarta-pun datang lagi untuk kesembilanbelas kalinya. Apa boleh buat, perhelatan pameran bertajuk kuratorial Shout Out! (Berteriaklah!) , yang menjadi bagian penting dari FKY ini, tergelar. Sejumlah 35 nama seniman dan kelompok seniman (15 nama di dalamnya adalah direkrut sebagai undangan, dan lainnya hasil seleksi), “bertarung” beradu perhatian di hadapan publik seni rupa di Yogyakarta. Jelas bukan perkara mudah untuk menentukan dan memilih nama-nama yang akhirnya jadi peserta pameran ini. Sejarah kreatif mereka yang menjadi dasar pertimbangan, dan tentu saja progres kreatif terakhirlah yang kemudian mengerucutkan nama-nama yang ada dalam pameran ini. Sudah barang pasti, relativitas dan dugaan adanya unsur su...

Lukisan Indonechina?

Image
(Foto: lukisan Tue Minjun, Untitled, 2005, oil on canvas, 220.3 x 200 cm) Oleh Kuss Indarto (Tulisan ini telah dimuat di harian Suara Merdeka Semarang, Minggu, 29 Juli 2007) Sekurang-kurangnya dalam 5 tahun terakhir ini, nama-nama perupa China kontemporer seperti Yue Minjun, Fang Lijun, Ju Ming, Wang Guangyi, Xue Jiye, Zhou Chunya, dan sederet nama lain, mulai mengental dalam ingatan kolektif masyarakat seni rupa Indonesia. Beberapa di antara mereka merupakan the best-known top money-maker artists yang mulai "menguasai" pasar balai lelang seni rupa dunia. Berhamburnya karya-karya mereka di sini dalam kurun waktu tersebut terasa memberi banyak pengaruh yang tak bisa dielakkan. Pada satu sisi, kenyataan ini cukup memprihatinkan karena interest pasar di jagad seni rupa Indonesia relatif banyak tersedot karena beralih mengoleksi karya-karya seniman China. Apalagi kedatangan mereka justru langsung diberi kesempatan dan ruang yang sangat optimal oleh galeri-galeri ternama di Indon...

Ketamuan Teman Lama

Image
Selasa malam aku kedatangan tamu, pasangan teman lama. Ya, mas Praba Pangripta dan mbak Yuning, yang sudah kukenal sekitar 16 tahun lalu. Mas Praba dulu kakak kelas (jauh) saat kuliah di seni grafis ISI Yogya. Persisnya, dia kakak kelasnya mas Warno Wisetrotomo, Butet Kertarajasa, dan adik kelasnya mas Ong Hari Wahyu dan Age Hartono. Angkatan 1981 kali ya. Aku hanya tau dia mondar-mandir di kampus saat aku mengawali kuliah. Mungkin dia lagi urusi kelulusannya di bagian administrasi kampus. Istrinya, mbak Yuning, kukenal karena dia adalah kakak kandung adik kelasku, Fajar Sungging. bapaknya, jelas kukenal jauh2jauh hari sebelum aku masuk kembali ke Yogya tahun 1989. Ya, nama bapaknya pak Wid NS, komikus Gundala Putra Petir yang kesohor itu. Aku juga kenal lebih dekat lagi sama mbak Yuning karena dia teman sekantor saat aku kerja sebagai kartunis di harian Bernas dulu, antara 1991-2001. Mereka datang karena mas Probo pengin ngobrol soal kartun. Persisnya museum kartun. Katanya, ada seor...

Jeda di Sela Mendisplai Karya

Image
Ini foto-foto in action ketika mendisplay karya sebelum pembukaan pameran seni rupa FKY Shout Out , 22 Juni 2007 lalu. Ada foto saat ngobrol bareng pak Bonyong Munni Ardhi (salah satu eksponen Gerakan Seni Rupa Baru tahun 1974), lalu ketika chit-chat sama Pak Tubagus Svarajati (pemilik dan pengelola Rumah Seni Yaitu Semarang), dan saat in action di depan karya Indieguerillas yang sangat menarik. Wuih!

Pelajaran dari Cina

Image
(Tulisan ini telah dimuat di harian Pikiran Rakyat , Bandung, Sabtu 14 Juli 2007 di rubrik Khazanah ) SENI rupa Indonesia kini telah miskin wacana. Yang menguat hanyalah "wachina" seni rupa Indonesia. Sudah barang pasti, pelesetan dan guyonan itu berpangkal pada kian banyaknya perupa Cina, yang karyanya diimpor di berbagai ruang pajang dan beragam ajang di Indonesia. Mulai di satu galeri yang telah timbul-tenggelam eksistensinya, di Galeri Nasional dan Museum Nasional yang miskin agenda bermutu, hingga ke perhelatan yang dianggap begitu prestisius semacam CP Biennale (yang sekarang sudah almarhum). Kehadiran mereka mendapatkan apresiasi nilai tinggi hingga berlanjut pada transaksi finansial dengan capaian angka yang melangit. (Bahkan, kolektor kawakan sekelas Oei Hong Djien pun terheran-heran waktu mengetahui harga karya salah satu perupa Cina begitu tinggi, saat berpameran di Indonesia ketimbang ketika dia beli karya perupa yang sama saat berpameran Jerman). Kerapnya frekuen...

Karya yang Menarik dalam Shout Out!

Image
INI beberapa karya yang tereksposisi dalam pameran seni visual Shout Out! Berteriaklah! di Festival Kesenian Yogyakarta, 22 Juni s/d 2 Juli 2007. Aku yang kebetulan menguratori pameran ini (bersama Arie Dyanto sebagai co-curator ) sebetulnya belum begitu puas. Tapi apapun, masih banyak karya yang kuat dan menarik perhatian. Di antaranya yang terpajang di sini. Ada mural 'bayangan pohon' karya Aidi Yupri, peti mati karya Wijayanto, bak truk sampah yang dimural karya anak-anak Jogja Mural Forum (JMF), dan Doggie House karya Dona Prawita. Tidak seperti biasa, kali ini hanya 3 seniman yang berkarya derngan medium lukisan di antara 35 seniman/kelompok seniman peserta tersebut. Ini juga kali pertama jumlah peserta pameran FKY sangat sedikit. Hanya 35. Biasanya di atas 70 peserta, atau seringnya di atas 100 seniman. Jelas, ini bagian penting dari kesadaranku untuk memberi bobot prestise FKY di mata publik seni sendiri. Biar tidak dipandang rendah terus-menerus. Moga-moga sih bisa lebi...

Conflicts being Fought, Contradictions Put at Stake

Image
By Kuss Indarto (Dalam versi bahasa Indonesia, teks ini akan dipresentasikan dalam Seminar Nasional "Membangun Dinamika Seni Rupa Indonesia", di Galeri Nasional, Jakarta, 12-13 Juli 2007. Dalam surat edaran yang kuterima ada 13 pemakalah yang terpilih dari 50-an yang mengajukan. Para penanggap seminar ini adalah Bambang Budjono, Suwarno Wisetrotomo, Amna Sardono W. Kusumo, dan Nindityo Adipurnomo) It is perhaps not an exaggeration to say that Entang Wiharso’s visual art is not stable. His frame of mind and "habits" are consistently oriented to instilling a creativity which shakes the stability of his past work and leads to new, more dynamic work that is more progressive and novel. He "shakes" the stability of his work while maintaining a consistency of ideas rather than forms. To some extent, Entang within his work appears to have developed what post-structuralists Deleuze and Guattari (1986) call "schizophrenic signs" of a nomad, i.e. constantly...