Posts

Bikin Kartun

Image
Ah, ngartun lagi nih! Kemarin-kemarin aku menggambar beberapa lembar kartun lagi. Sebetulnya malas sih. Sudah jadi pensiunan kartunis. Tapi karena aku sangat tertarik dengan naskah yang akan kulengkapi dengan kartun(ku), maka ya aku langsung iyakan aja tawaran itu. Ada tiga tulisan panjang berisi transkrip diskusi, dan artikel utuh yang semuanya bertema tentang kemiskinan. (Transkrip) diskusi tersebut cukup menggugah kesadaran dan penalaranku karena ternyata berisi silang pendapat ilmiah yang cerdas dari beberapa intelektual yang telah kukenal, antara lain Rizal Ramli dari Indonesia Bangkit, dan Faisal Basri dari FE-UI, juga Ivan A. Hadar (Ide Indonesia), Amir Effendi Siregar (akademisi dan praktisi media), Bini Buchori (Prakarsa), Bambang Warih Kusumo (Uni Sosdem), Nur Iman Subono (Demos). Ada pula teman aktivis dulu, Arie Sudjito (FISIPOL-UGM). Akhirnya beberapa gambar manual aku bikin, dengan menyisakan gerak instingtif dari tanganku yang telah lama tak lagi terlatih. Lumayanlah, ka...

A Soul ever in Motion

Image
Tommy Tanggara's work, Aesthetic, 130X140 CM, 2006. Tulisan singkat di bawah ini dimuat dalam katalog untuk mengiringi pameran tunggal Tommy "Tatto" Tanggara di sebuah galeri di Kuala Lumpur, Malaysia, awal Mei 2008. Pameran ini bertajuk Rapture in the Soul ) By Kuss Indarto A sort of adage tells us that viewing a work of art may mean perceiving two integrated worlds of basics, namely the world of forms and that of ideas. The first deals more with visual and technical phenomena that are superficial and elementary, including, among others, color, line, field, and composition. Here we may meet with hat we categorize as scribbling, the iconic, the symbolic, the realistic and the abstract. They are the expressions, and could be reflections as well, of artists regarding realities or, quite the reverse, realized imaginations. They are things immediately visible when we appreciate works of art. The second, namely the ideational world, concerns with the aspect of “substances” th...

Survey: Melacak Peta Baru

Image
(Tulisan ini telah dimuat di katalog pameran Survey di Edwin Gallery, yang berlangsung mulai 15 Maret hingga 6 April 2008. Pameran ini dikuratori 2 orang, aku dan Rifky "Goro" Effendi. Foto di atas adalah karya Kusmanto, bertajuk Kate (140x140 cm) yang juga dipajang dalam pameran Survey ) Oleh Kuss Indarto /Satu/ Ada kecenderungan menarik dalam praktik kreatif para perupa muda di Indonesia kurun waktu terakhir ini. Mereka nyaris selalu menjadi agen penting yang terus bergerak mendinaminasi jagat seni rupa. Kecenderungan tersebut – kalau boleh saya disederhanakan – tampak menggejala dalam beberapa dugaan. Pertama, merebaknya upaya pencarian parameter atau alat ukur estetik baru oleh para seniman muda, sekaligus sebagai pengingkaran terhadap “mitos-mitos estetik” yang telah melekat sebelum ini di lingkungan terdekatnya. Dugaan ini dapat ditengarai dengan bergeraknya para seniman muda ini untuk tidak lagi memitoskan atau setidaknya mengacu secara artistik dan estetik – dengan se...

Adam Air Kuwalat...

Image
Senin pagi, 3 Maret lalu, aku punya masalah di bandara Adisucipto, Yogya. Aku geram, dan kucari warnet, langsung kukirim email yang kutujukan ke 2 media massa. Imelku kemudian dimuat di rubrik surat pembaca harian Kompas (edisi Yogyakarta) tanggal 5 Maret, dan di Kedaulatan Rakyat (sekitar 10 Maret). Bunyi suratku itu sebagai berikut: Adam Air Diskriminatif Senin pagi, 3 Maret 2008, saya meluncur ke bandara Adisutjipto untuk terbang ke Jakarta dengan naik pesawat Adam Air, flight pukul 07.55 WIB. Tiket pesawat sudah di tangan yang saya booking pada tanggal 1 Maret dengan booking code AKQEEY dan tour code H3D, serta serial number 591583. Ketika sampai depan loket check in, ada 4 orang yang tengah mengantri. Ah, berarti saya belum terlambat karena waktu jam sudah menunjukkan waktu 07.40 WIB. Namun saya terkejut waktu tiba giliran untuk check in , tiba-tiba saya dibilang telat dan tak ada lagi seat . Kenapa pihak Adam Air tidak konsisten dengan menerima check in 4 orang di depan saya tap...

Tak Ada Lagikah yang Sakral?

Image
(Di bawah ini tulisan bagus dari Salman Rusdhie tentang aktivitas membaca dan kompleksitasnya. Sastrawan asal India yang menetap di Inggris ini sempat menggegerkan dunia sastra sejagad karena karyanya, Satanic Verses (Ayat2 Setan), dianggap merendahkan Islam. Tulisan di bawah ini diterjemahkan dengan bagus oleh seorang sahabat, Ari Wijaya. Foto di atas adalah momen-momen terakhir kebersamaan Salman dan istri ketiganya, Padma Lhaksmi, yang akhirnya juga bercerai) Oleh Salman Rusdhie SAYA diasuh dibesarkan dengan menciumi buku dan roti. Di rumah keluarga kami, barang siapa menjatuhkan buku atau roti chapati alias “irisan” – ini istilah kami untuk menyebut sepotong segitiga roti yang telah diolesi mentega – bukan cuma wajib mengambil kembali apa yang jatuh tadi melainkan juga harus mencium, sebagai tanda permintaan maaf telah berlaku ceroboh dan tidak menghargai kedua obyek itu. Saya sama ceroboh dan doyan mencolek mentega seperti anak-anak lain, sebab itu, di masa kanak-kanak saya, bukan...

Barak yang Menolak Buruk

Image
(Ini adalah teks untuk katalog pameran Kelompok Barak: The Beginning, yang berlangsung di Taman Budaya Yogyakarta, 10-19 Maret 2008. Sedang foto di atasadalah karya Denny 'Snod' Susanto. Maaf, Denny, juga teman2 Kelompok Barak. Visual dan teks di bawah ini tidak ada relevansinya hehe...) Oleh Kuss Indarto TUJUH perupa asal Bali “bersekongkol”. Dalam penanda waktu yang cool, setidaknya gampang diingat — yakni tanggal 7 bulan 7 tahun 2007 — “persekongkolan” ini bermula. Mereka yang berproses dan sebagian telah memutuskan menetap di Yogyakarta itu melanggengkan “persekongkolan” dengan menggenggam sebuah tengara baru: Kelompok Barak. Ya, sebuah art group . Di dalamnya berderet nama-nama yang telah tergenang dalam pasang-surut di permukaan peta seni rupa (di) Indonesia kini: Gusti Alit Cakra, Made “Dalbo” Suarimbawa, Made Sukadana, Made Toris Mahendra, Nyoman Darya, Nyoman Sukari, Nyoman “Jangkrik” Triarta A.P. Mereka nyaris tidak dipertautkan oleh sentimen angkatan dalam administra...

Barak that Resists Poor Quality

Image
(Agapetus Kristiandana's work) By Kuss Indarto SEVEN Balinese artists make a “conspiracy”. On a ‘cool’ or at least easy to memorize date – the 7th of the 7th month of 2007 - their “conspiracy” began. They, who have gone through their processes in Yogyakarta and some of them decided to reside in the city, maintain the “conspiracy” and make it bear a new tag: Kelompok Barak – Barak Group. Yes, it is an art group. Listed as the members of the group are the names of artists already discernible on the map of current Indonesian art (or: art in Indonesia): Gusti Alit Cakra, Made “Dalbo” Suarimbawa, Made Sukadana, Made Toris Mahendra, Nyoman Darya, Nyoman Sukari, and Nyoman “Jangkrik” Triarta A.P. There is hardly any “academic generation” sentiment of fellow ex-students of the Indonesian Institute of the Arts to make them join together; rather, they do it more in the intention and spirit of communality based on ethnicity. Such presumption is not without risks as there could be still other ...

Entang Wiharso's Exhibition in USA

Image
(Pictures: Entang Wiharso – Melt: Cooked, Eaten and Imagined, 2007, dimension variable, multimedia installation) Mead Art Museum, Amherst, USA Upcoming Exhibitions The Third Space: Cultural Identity Today February 28 – June 8, 2008 This exhibition considers cultural identity in a global society. It explores the effects of displacement, alienation, exile, diaspora, transnationalism, hybridity, and cosmopolitanism. The title The Third Space is taken from the work of the influential cultural and post-colonial theorist Homi Bhabha; it refers to the interstices between colliding cultures, a liminal space “which gives rise to something different, something new and unrecognizable, a new area of negotiation of meaning and representation.” In this “in-between” space, new cultural identities are formed, reformed, and constantly in a state of becoming. Artists at work in “the third space” speak of a creative edge that derives from the condition of being in a place that simultaneously is and is no...

Mencatat yang (Acap) tak Tercatat

Image
(Tulisan ini dimuat dalam katalog pameran seni rupa "MEMO" di Galeri Mondecor, 21 Februari - 2 Maret 2008. Gambar di atas berturut-turut (dari atas) karya Agus Triyanto B.R., Robi Fathoni, Riduan, dan Slamet "Suneo" Santoso) Oleh Kuss Indarto Setiap orang pasti memiliki “harta” bernama ingatan. Begitupun, sebuah masyarakat nyaris senantiasa memiliki “warisan” berupa ingatan kolektif. Ingatan, menurut Haryatmoko (2004), bukan keseluruhan dari masa lampau, melainkan keping-keping masa lampau yang terus hidup dalam diri orang atau kelompok masyarakat dan tunduk kepada representasi serta kerangka pandang masa kini. Maka, praktik mengingat pada lazimnya melibatkan upaya untuk memberi makna, upaya memberi verifikasi atas beragam hipotesa pengingat untuk membangun kembali makna. Pandangan retrospektif atas masa lalu tak hanya merupakan pengalaman yang memberi makna, tetapi juga hasrat untuk mengupayakan proyek yang bermakna. Ini teramat penting karena – dalam bahasa yang l...