Posts

Komik lokal lekat di hati

Image
Th. D. Wulandari & Herry Suhendra (Tulisan ini telah dimuat di harian Bisnis Indonesia, Minggu, 24 Januari 2010) Perkembangan komik pada beberapa tahun terakhir ini banyak menemukan muara aktualisasi dan aksentuasinya. Karya itu bergerak tidak saja di ruang media cetak yang relatif terbatas lahannya, tetapi juga lewat artikulasi lain. Mereka hadir di buku-buku komik yang disokong dan selaras dengan kebutuhan LSM tertentu yang ingin memediasikan programnya lewat komik. Demikian juga lembaga pemerintahan yang ingin programnya gampang dikomunikasikan ke masyarakat. Komik juga bergerak di ruang virtual yang kini telah menjadi media pilihan paling popular bagi generasi muda. Terakhir, komik kian popelar di kalangan tertentu dengan maraknya lukisan anak muda yang berkecenderungan komikal ( comical ). Apa pun bentuknya, gejala popularisasi komik ini memberi tanda penting bagi gerakan komik di Indonesia. Komik tidak lagi diberi perspektif yang stereotip, yakni sebagai bacaan anak-anak dan...

Kompetisi Indonesia Art Award 2010

Image
INDONESIA ART AWARD (IAA) 2010 Contemporaneity adalah tanda-tanda seni rupa kontemporer yang terlihat pada karya. Pewacanaan paling umum yang seringkali diyakini mendasari contemporaneity adalah perubahan dari seni rupa modern ke seni rupa kontemporer. Pada karya-karya terlihat sebagai: Pembebasan media ungkapan yang tadinya terbatas pada seni lukis dan seni patung; Pembebasan narasi dan theatricality yang tadinya “di-tabu-kan”. Pembebasan bahasa visual (khususnya bahasa seni lukis dan bahasa seni patung) dari ikatan sejarah seni rupa linier di mana sesuatu bahasa (tercermin pada isme) dianggap mati, setelah kemunculan sesuatu bahasa baru (isme baru). Akan tetapi sampai sekarang contemporaneity tidak pernah bisa dipastikan karena tidak satu pun dari pemikiran pada perkembangan seni rupa kontemporer yang (bisa) muncul menjadi paradigma. Maka pewacanaan tanda-tanda seni rupa kontemporer masih “terbuka” hingga kini untuk kemunculan tanda-tanda baru. Penambahan tanda-tanda seni rupa konte...

www.indonesiaartnews.or.id

Image
Indonesia Art News merupakan media tentang dinamika seni yang berkait dengan aspek keindonesiaan. Media ini berusaha untuk mengedepankan segi informasi ihwal seni yang dikemas dengan cara pandang kritis dan muatan yang investigative. Indonesia Art News berkedudukan di Yogyakarta, Indonesia

Agar yang Dipingit Terapresiasi

Image
Tiga karya di atas masing-masing (dari atas): La Cena karya Belkis Ayon (Kuba), (tanpa judul) karya Anna-Eva Bergman (Perancis), dan Couple karya patung Reddy G. Ravinder (India). Oleh Sjifa Amori Catatan atas pameran koleksi Commemoration ini telah dimuat di Harian Jurnal Nasional (JURNAS), Minggu, 03 Jan 2010 Tahun 1999, pelukis dan seniman litografi Belkis Ayon memutuskan untuk mengakhiri hidupnya. Ketika itu, usianya masih 32 tahun, namun sudah tergolong sebagai salah satu artis visual paling berbakat dan ternama di negaranya, Kuba. Kematian Belkis menggugah rasa penasaran banyak kalangan, baik dari kritikus seni, sesama pelukis, teman dan keluarganya, juga penggemar karya-karyanya. Pertanyaannya kemudian, adakah kegalauan dalam jiwa sang seniman yang begitu membebani dan tak bisa terbebaskan. Misteri ini masih menggantung di banyak benak sampai dengan saat ini, bahkan juga mengemuka di alam pikir banyak orang yang menyaksikan karya Belkis, meski tak kenal senimannya. Karya Belkis ...

Happy New Year 2010

Image
Tahun 2010, Tahun Macan, semoga jadi tahun penuh perubahan, pencapaian dan keberuntungan yang jauh lebih baik untuk semua lini. Semoga! :-)

COMMEMORATION

Image
Keterangan foto: (dari atas) karya Heri Dono, Wassily Kandinsky, dan Hans Hartung. * Pameran Koleksi Galeri Nasional Indonesia 17 Des 2009 s/d 10 Jan 2010 Catatan oleh Kuss Indarto Perhelatan pameran ini sepenuhnya merupakan eksposisi atas karya koleksi Galeri Nasional Indonesia (GNI). Hanya sekitar 2,5 persen karya diketengahkan dari sekitar 1.770 karya yang kini dimiliki oleh GNI. Berangkat dari aspek kuantitas tersebut, pameran ini mencoba merepresentasikan bagian kecil dari potongan penampang sejarah pengoleksian karya di dalam GNI. Publik barangkali bisa bersepaham bahwa pameran ini, kiranya, merupakan sebuah “tanda peringatan” atau “kenangan” untuk membaca kembali rentetan karya koleksi yang dimiliki Galeri Nasional Indonesia. Ada karya-karya penting perupa dunia yang layak untuk diapresiasi kembali, berikut dugaan publik atas pengaruh karya-karya tersebut dalam khasanah seni rupa di dunia, termasuk Indonesia. Ada pula rentetan karya yang menjadi penanda penting atas ban...

Pameran Pathway di Bangkok, Thailand

Image
25 November 2009, duta besar RI untuk Thailand, Mohammad Hatta, membuka pameran Pathway, di Galeri Nasional Bangkok. Ini adalah program pameran karya koleksi Galeri Nasional Indonesia di Thailand. Ada 18 karya lukis dan grafis yang dibawa dari Indonesia dan digabung dengan 4 karya perupa (koleksi Galeri Nasional) Thailand. Dari Indonesia ada karya S. Soedjojono, Affandi, Mochtar Apin, Soeromo, dan sebaginya. Setelah melihat keadaan Galeri Nasional Thailand, sebenanya Indonesia bisa sedikit berbangga. Fasilitas gedung Galeri Nasional Indonesia jauh lebih megah, besar dan lengkap ketimbang Thailand. Karya koleksipun juga lebih kaya Indonesia. Namun, soal kebersihan dan perawatanlah yang barangkali Negeri Gajah Putih itu lebih unggul. Ya, ini baru kesan sekilas. Karya seniman Indonesiapun relatif lebih jauh berkembang dibanding seniman Thailand. Setidaknya penilaian ini terlihat dari karya yang terpampang dalam ruang pameran kemarin. Dan memang dari kecenderungan yang berkembang dewasa i...

Pameran EXPOSIGNS

Image
Hari ini, Senin, 30 November 2009, aku menyaksikan pameran EXPOSIGNS di gedung Jogja Expo Center (JEC), di Yogyakarta bagian timur. Sebagai salah satu anggota tim kurator dari pameran tersebut, tentu “keterlaluan” sekali aku baru menyaksikan pameran yang aku kuratori. Ya, apa boleh buat? Aku memang tak bisa maksimal terlibat dalam pameran ini. Sehari menjelang pembukaan pameran, aku harus bertolak ke Bangkok, Thailand, untuk ikut terlibat dalam pameran koleksi Galeri Nasional Indonesia (GNI) di Galeri Nasional Bangkok. Aku berangkat 24 November pagi bersama pak Tubagus “Andre“ Suksmana (Kepala GNI) dan pak Sulistyo Tirtokusumo, Direktur Kesenian, Direktorat Kesenian Departemen Pendidikan Nasional. Di sana sudah menunggu mas Rizki Zaelani, salah satu kurator GNI dan mas Eddy Susilo, Kepala Seksi Pameran GNI. Kapasitasku tentu sebagai salah satu kurator GNI juga. Pameran itu sendiri dibuka oleh duta besar RI untuk Thailand, Mohammad Hatta, mantan politisi Golkar yang sebelumnya lama dud...

Pencarian Identitas Visual Julnaidi

Image
(Wawancara oleh Kuss Indarto , dan disarikan oleh Kuss Indarto dan Satmoko Budi Santoso . Naskah ini telah dimuat di katalog pameran tunggal Junaidi Ms, [C]ARTOGRAPHY, Emmitan Contemporary Art Gallery, Surabaya, 11-31 Oktober 2009) ADA kurun waktu yang cukup panjang dan masuk dalam kesadaran yang laten ketika melihat seni rupa Minangkabau adalah seni rupa “mooi Indie”. Ini tak lepas dari peran seniman Semarang yang pada paruh pertama abad 20 lalu hijrah di Sumatra Barat, yakni Wakidi. Selanjutnya, hampir selalu melekat dalam identitas estetik perupa Minangkabau, idiom-idiom visual dalam kanvas yang menunjukkan keminangan. Misalnya, bentuk rumah. Salah seorang perupa yang berasal dari Minang ini, yakni Julnaidi Mustar, dengan segera menyergap perhatian karena upayanya melepaskan diri dari identitas estetika yang khas Minang. Pertanyaan yang segera mengemuka: ada apakah dengan Julnaidi Musyar? Apakah ia sengaja melakukan pengingkaran terhadap spirit tradisi estetik? Apa yang kemudian di...

[c]artography, solo exhibition of Julnaidi Ms

Image
By Kuss Indarto There will be a time.... when an image with a name that it bears will loose its identity. (Michel Foucault, This is not a Pipe, 1983) [1]: Searching for a Change Julnaidi Mustar’s instinct of creative searching keeps moving. I distinguished his works in detail in 2005, when one of his paintings was chosen to be exhibited in visual art exhibition ““KOTAKATIKOTAKITA: Yang Muda Melihat Kota” in Yogyakarta Art Festival XVII, on July 2005 in Taman Budaya Yogyakarta. His work, entitled Kota Ritual Individualis (Individualist Ritual City) illustrates images of two piles of protuberant and pointed small and big stones. That strange stone looks arrogant. Tens of white boxes similar to crowded buildings grow about the stone. Jul seems like to tell about his strangeness to the (physical) situation of the city which starts to take a distance to its resident. Uniform cities but crowded, it seems that it is not more than a lump of conceited stone and raises a terror. Tha...

Yogyakarta dalam Kerumun Seni Rupa Asia

Image
Oleh Kuss Indarto ( Tulisan ini dimuat di harian Kedaulatan Rakyat, Yogyakarta, Minggu Kliwon, 4 Oktober 2009, halaman 14) Kalau Yogyakarta mengklaim diri sebagai “ibukota seni rupa Indonesia”, publik bisa menemukan banyak rujukannya. Salah satunya dari laporan Artprice, sebuah lembaga data dan riset mengenai pasar seni rupa dunia yang berkedudukan di Paris, yang pada pertengahan tahun ini mengeluarkan sebuah laporan tahunan bertajuk Contemporary Art Market 2007/2008 (Artprice Annual Report). Ada banyak data penting perihal aspek komodifikasi atas karya seni rupa dalam kurun akhir tahun 2007 hingga akhir 2008 di sana. Di antara data laporan itu, bisa diketahui bahwa ada 9 nama seniman seni rupa (perupa) kontemporer Indonesia yang masuk dalam 500 Besar seniman yang karyanya terjual dengan harga tertinggi di bursa lelang di dunia. Dan sembilan perupa itu, semuanya berproses dan tinggal di Yogyakarta. Mereka adalah Nyoman Masriadi (berada di urutan 41), Agus Suwage (122), Rudi Mantovani ...

[c]artography

Image
Oleh Kuss Indarto (Catatan ini dimuat dalam katalog pameran tunggal Julnaidi, [c]artography, di Emmitan Art Contemporary Gallery Surabaya, 11 Oktober 2009. Foto karya bertajuk "Dunia Ide", 2009) Akan datang suatu masa…ketika citra beserta nama yang disandangnya akan kehilangan identitasnya. ( Michel Foucault, This is not a Pipe, 1983) [1]: Mencari Perubahan Naluri pencarian kreatif Julnaidi Ms terus saja bergerak. Saya mengenal karyanya dengan cukup rinci pada tahun 2005, saat salah satu lukisannya terpilih untuk mengikuti pameran seni rupa “KOTAKATIKOTAKITA: Yang Muda Melihat Kota” di Festival Kesenian Yogyakarta (FKY) XVII, Juli 2005 di Taman Budaya Yogyakarta. Karyanya yang bertajuk Kota Ritual Individualis itu menggambarkan sebuah cecitraan dua gunduk batu berukuran besar dan kecil, yang meruncing dan menjulang. Batu aneh itu berkesan angkuh. Di sekujur tubuh batu tersebut bertumbuh puluhan kotak putih serupa citra bangunan gedung-gedung yang riuh. Jul seperti ingi...

Main-main Tommy

Image
oleh Kuss Indarto ( Catatan pendek yang termuat dalam katalog ini untuk menyertai pameran tunggal Tommy Tanggara, Hey God, di Sangkring Artspace, Yogyakarta, 1-14 September 2009) Tommy Tanggara masih saja suka bermain-main. Garis-garisnya yang tertoreh di atas kanvas meliukkan cecitraan yang kartunal: model-model benda, tubuh, atau apapun yang bebas dari terkaman kaidah anatomi real. Tangan dan benaknya bagai bebas bergerak meruntuti imajinasi. Pameran tunggalnya kali ini, cukup beda dengan yang dipresentasikannya dalam “Covenant of Love” di CG Art Space, Jakarta, Desember 2008 lalu. Kala itu, tema yang berkait dengan relijiusitas yang dibopongnya begitu kental, meski penuh tarikan simbol-simbol (baru) yang menggiring persepsi segar. Apresian disuguhi, misalnya, oleh citra tentang “Perjamuan Terakhir” versi “Jawa” ketika dalam kanvas Tommy muncul 13 orang yang duduk lesehan membentuk formasi lingkaran. Bukan lewat pelukisan ala Leonardo da Vinci yang duduk berderet di sebuah meja panj...