Posts

Peluncuran Situs yang Mengintegralkan Seni dan Hidup

Image
Sun 21 Mar 2010 by: Sjifa Amori MEMBANJIRNYA media informasi alternatif kini semakin diminati masyarakat. Terutama media yang relatif mudah dan murah diakses, misalnya melalui internet. Menyadari pentingnya mengisi peran informasi dalam hal sosialisasi aktivitas kesenian, kini telah lahir dan diluncurkan situs www.indonesiaartnews.or.id. Situs www.indonesiaartnews.or.id berdiri sejak 4 November 2009, namun secara intensif online dan diakses publik pada 2 Januari 2010. Pengelolaannya dilakukan “bergerilya” oleh pengelola profesional seperti Kuss Indarto (kurator seni rupa), Satmoko Budi Santoso (sastrawan dan penulis seni), Andika Indrayana (desainer grafis), dan Anshor Purnomo ( web developer ). Situs ini menyajikan aneka ragam berita seni yang berkaitan dengan seni rupa, seni pertunjukan, seni foto, seni video, film, maupun varian seni lainnya yang memiliki aspek dan “sifat” keindonesiaan. Disajikan dengan cukup kritis melalui upaya investigasi yang memadai, www.indonesiaartne...

Melacak Pergeseran Tiga Perupa

Image
Tarian Anak Bangsa, lukisan karya Priyaris Munandar. (Catatan di bawah ini untuk menyertai pameran Energi 3: Priyaris Munandar, Agus YK Priyono, dan Dedeo Wahyu Widayat a.k.a. Yoan di Balai Budaya Jakarta yang dibuka 27 Maret 2010) Oleh Kuss Indarto TIGA perupa yang tengah berpameran ini berkolaborasi dengan modal perbedaan. Bukan disatukan oleh banyak persamaan. Setidaknya, gejala tersebut kentara dari segenap visualitas pada tiap kanvas trio ini. Agus YK. Priyono, Priyaris Munandar, dan Dedeo Wahyu Widayat, masing-masing mengemukakan minat, karakter, dan kecenderungan visual yang berbeda. Semuanya punya bekal dan “tradisi” kreatif yang relatif berlainan satu sama lain dengan membopong keyakinan sendiri-sendiri. Dalam sebuah perhelatan pameran seni rupa seperti yang tengah berkembang dewasa ini, “agenda keseragaman dan penyeragaman” seolah justru menjadi titik tumpu untuk mempertautkan sebuah pameran kolektif. Apalagi dalam perkembangan paling mutakhir ketika tema kuratorial menjadi ...

Adopt! Adapt!

Image
Oleh Kuss Indarto ADA saatnya tatkala jagad seni rupa diasumsikan bagai hendak “berhenti” justru oleh pesatnya perkembangan dunia teknologi. Kala itu, 1839, L.J. Mande Daguerre berhasil melakukan eksperimen karya fotografinya dengan teknik “daguerreotype” yang menghasilkan karya fotografi dengan capaian image yang teramat realistik. Dunia seni lukis terguncang. Ini sempat dikhawatirkan oleh para seniman lukis, terutama pelukis potret pada jaman itu yang menganggap penemuan Daguerre segera akan membangkrutkan eksistensi mereka. Getar-getar kecemasan itu terekspresikan oleh pernyataan salah seorang pelukis Perancis, Paul Delaroche (1797-1856) yang mencium gelagat tak mengenakkan atas kenyataan tersebut sembari mengatakannya dengan cukup sarkastik namun galau: “from today painting is dead!” Kekhawatiran itu bisa jadi dimafhumi. Tapi mungkin juga dianggap berlebihan karena pada kenyataannya justru dengan munculnya medium baru tersebut telah memberikan alternatif kemungkinan (antara la...

Sidji Mencari Taji

Image
Oleh Kuss Indarto (english scroll down) ADA banyak komunitas seni rupa, art group, sanggar, paguyuban, dan semacamnya, di Yogyakarta. Mereka bertumbuh, berkembang, dan mendinaminasi diri untuk berkompetisi dengan lingkungannya. Ada kalanya mereka mati karena tak banyak dihidupi oleh anggotanya sendiri. Ada kalanya juga mereka tetap bertahan namun tetap dengan kebersahajaan capaian atau prestasi, dan tenggelam di antara reriuhan dinamika seni rupa itu sendiri. Namun juga, di sela-sela itu, muncul satu dua kelompok seni yang begitu kuat, berkarakter, dinamis, hingga menjadi trend setter bagi lingkungannya. Paguyuban seni Sidji merupakan satu di antara sekian banyak komunitas seni itu. Usianya kini sudah masuk tahun ke 10. Tentu bukan sebuah penanda waktu yang pendek, namun juga belum sangat panjang. Ada takaran relativitas untuk menyebut rentang usia tersebut sebagai panjang atau pendek yang bertumbuh pada tilikan sejarah komunitas seni di Yogyakarta. Artinya, usia komunitas yang ...

Komik lokal lekat di hati

Image
Th. D. Wulandari & Herry Suhendra (Tulisan ini telah dimuat di harian Bisnis Indonesia, Minggu, 24 Januari 2010) Perkembangan komik pada beberapa tahun terakhir ini banyak menemukan muara aktualisasi dan aksentuasinya. Karya itu bergerak tidak saja di ruang media cetak yang relatif terbatas lahannya, tetapi juga lewat artikulasi lain. Mereka hadir di buku-buku komik yang disokong dan selaras dengan kebutuhan LSM tertentu yang ingin memediasikan programnya lewat komik. Demikian juga lembaga pemerintahan yang ingin programnya gampang dikomunikasikan ke masyarakat. Komik juga bergerak di ruang virtual yang kini telah menjadi media pilihan paling popular bagi generasi muda. Terakhir, komik kian popelar di kalangan tertentu dengan maraknya lukisan anak muda yang berkecenderungan komikal ( comical ). Apa pun bentuknya, gejala popularisasi komik ini memberi tanda penting bagi gerakan komik di Indonesia. Komik tidak lagi diberi perspektif yang stereotip, yakni sebagai bacaan anak-anak dan...

Kompetisi Indonesia Art Award 2010

Image
INDONESIA ART AWARD (IAA) 2010 Contemporaneity adalah tanda-tanda seni rupa kontemporer yang terlihat pada karya. Pewacanaan paling umum yang seringkali diyakini mendasari contemporaneity adalah perubahan dari seni rupa modern ke seni rupa kontemporer. Pada karya-karya terlihat sebagai: Pembebasan media ungkapan yang tadinya terbatas pada seni lukis dan seni patung; Pembebasan narasi dan theatricality yang tadinya “di-tabu-kan”. Pembebasan bahasa visual (khususnya bahasa seni lukis dan bahasa seni patung) dari ikatan sejarah seni rupa linier di mana sesuatu bahasa (tercermin pada isme) dianggap mati, setelah kemunculan sesuatu bahasa baru (isme baru). Akan tetapi sampai sekarang contemporaneity tidak pernah bisa dipastikan karena tidak satu pun dari pemikiran pada perkembangan seni rupa kontemporer yang (bisa) muncul menjadi paradigma. Maka pewacanaan tanda-tanda seni rupa kontemporer masih “terbuka” hingga kini untuk kemunculan tanda-tanda baru. Penambahan tanda-tanda seni rupa konte...

www.indonesiaartnews.or.id

Image
Indonesia Art News merupakan media tentang dinamika seni yang berkait dengan aspek keindonesiaan. Media ini berusaha untuk mengedepankan segi informasi ihwal seni yang dikemas dengan cara pandang kritis dan muatan yang investigative. Indonesia Art News berkedudukan di Yogyakarta, Indonesia

Agar yang Dipingit Terapresiasi

Image
Tiga karya di atas masing-masing (dari atas): La Cena karya Belkis Ayon (Kuba), (tanpa judul) karya Anna-Eva Bergman (Perancis), dan Couple karya patung Reddy G. Ravinder (India). Oleh Sjifa Amori Catatan atas pameran koleksi Commemoration ini telah dimuat di Harian Jurnal Nasional (JURNAS), Minggu, 03 Jan 2010 Tahun 1999, pelukis dan seniman litografi Belkis Ayon memutuskan untuk mengakhiri hidupnya. Ketika itu, usianya masih 32 tahun, namun sudah tergolong sebagai salah satu artis visual paling berbakat dan ternama di negaranya, Kuba. Kematian Belkis menggugah rasa penasaran banyak kalangan, baik dari kritikus seni, sesama pelukis, teman dan keluarganya, juga penggemar karya-karyanya. Pertanyaannya kemudian, adakah kegalauan dalam jiwa sang seniman yang begitu membebani dan tak bisa terbebaskan. Misteri ini masih menggantung di banyak benak sampai dengan saat ini, bahkan juga mengemuka di alam pikir banyak orang yang menyaksikan karya Belkis, meski tak kenal senimannya. Karya Belkis ...

Happy New Year 2010

Image
Tahun 2010, Tahun Macan, semoga jadi tahun penuh perubahan, pencapaian dan keberuntungan yang jauh lebih baik untuk semua lini. Semoga! :-)

COMMEMORATION

Image
Keterangan foto: (dari atas) karya Heri Dono, Wassily Kandinsky, dan Hans Hartung. * Pameran Koleksi Galeri Nasional Indonesia 17 Des 2009 s/d 10 Jan 2010 Catatan oleh Kuss Indarto Perhelatan pameran ini sepenuhnya merupakan eksposisi atas karya koleksi Galeri Nasional Indonesia (GNI). Hanya sekitar 2,5 persen karya diketengahkan dari sekitar 1.770 karya yang kini dimiliki oleh GNI. Berangkat dari aspek kuantitas tersebut, pameran ini mencoba merepresentasikan bagian kecil dari potongan penampang sejarah pengoleksian karya di dalam GNI. Publik barangkali bisa bersepaham bahwa pameran ini, kiranya, merupakan sebuah “tanda peringatan” atau “kenangan” untuk membaca kembali rentetan karya koleksi yang dimiliki Galeri Nasional Indonesia. Ada karya-karya penting perupa dunia yang layak untuk diapresiasi kembali, berikut dugaan publik atas pengaruh karya-karya tersebut dalam khasanah seni rupa di dunia, termasuk Indonesia. Ada pula rentetan karya yang menjadi penanda penting atas ban...

Pameran Pathway di Bangkok, Thailand

Image
25 November 2009, duta besar RI untuk Thailand, Mohammad Hatta, membuka pameran Pathway, di Galeri Nasional Bangkok. Ini adalah program pameran karya koleksi Galeri Nasional Indonesia di Thailand. Ada 18 karya lukis dan grafis yang dibawa dari Indonesia dan digabung dengan 4 karya perupa (koleksi Galeri Nasional) Thailand. Dari Indonesia ada karya S. Soedjojono, Affandi, Mochtar Apin, Soeromo, dan sebaginya. Setelah melihat keadaan Galeri Nasional Thailand, sebenanya Indonesia bisa sedikit berbangga. Fasilitas gedung Galeri Nasional Indonesia jauh lebih megah, besar dan lengkap ketimbang Thailand. Karya koleksipun juga lebih kaya Indonesia. Namun, soal kebersihan dan perawatanlah yang barangkali Negeri Gajah Putih itu lebih unggul. Ya, ini baru kesan sekilas. Karya seniman Indonesiapun relatif lebih jauh berkembang dibanding seniman Thailand. Setidaknya penilaian ini terlihat dari karya yang terpampang dalam ruang pameran kemarin. Dan memang dari kecenderungan yang berkembang dewasa i...

Pameran EXPOSIGNS

Image
Hari ini, Senin, 30 November 2009, aku menyaksikan pameran EXPOSIGNS di gedung Jogja Expo Center (JEC), di Yogyakarta bagian timur. Sebagai salah satu anggota tim kurator dari pameran tersebut, tentu “keterlaluan” sekali aku baru menyaksikan pameran yang aku kuratori. Ya, apa boleh buat? Aku memang tak bisa maksimal terlibat dalam pameran ini. Sehari menjelang pembukaan pameran, aku harus bertolak ke Bangkok, Thailand, untuk ikut terlibat dalam pameran koleksi Galeri Nasional Indonesia (GNI) di Galeri Nasional Bangkok. Aku berangkat 24 November pagi bersama pak Tubagus “Andre“ Suksmana (Kepala GNI) dan pak Sulistyo Tirtokusumo, Direktur Kesenian, Direktorat Kesenian Departemen Pendidikan Nasional. Di sana sudah menunggu mas Rizki Zaelani, salah satu kurator GNI dan mas Eddy Susilo, Kepala Seksi Pameran GNI. Kapasitasku tentu sebagai salah satu kurator GNI juga. Pameran itu sendiri dibuka oleh duta besar RI untuk Thailand, Mohammad Hatta, mantan politisi Golkar yang sebelumnya lama dud...