Posts

Dyan, the Search for Self

    By Kuss Indarto Dyan Anggraini went to “ASRI” Yogyakarta Art Institute in an advantageous time in terms of creativity. She began her study in the 1976 academic year. Among her peers were artists Haris Purnama, and the late Hardjiman. It was the time that became an important episode in the history of Indonesian art, one year following the “Black December Affair”. “Black December Manifesto” was signed on the 31 st of December 1974 by a group of young artists that include FX Harsono, Hardi, Bonyong Munni Ardhi, M. Sulebar, Siti Adiyati, D.A. Peransi, Muryotohartoyo, Juzwar, Baharudin Marasutan, Ikranegara, and Abdul Hadi WM, two years prior to Dyan Anggraini’s enrollment in the Art Institute. It was a culture affair around the subject of art that resonated for many years and even still does till now. The emergence of Gerakan Seni Rupa Baru (GSRB, ‘New Art Movement’) that follows boosted the affair. As part of the Black December Manifesto, point five or...

Visual Brand Biskuit Khong Guan

Image
SETIAP kali menyimak kaleng biskuit Khong Guan (Assorted Biscuit Red), serasa melihat lunturnya budaya patriarkhi. Selama hampir 63 tahun (menurut beberapa sumber), visual dalam kaleng itu tak berubah alias konsisten: citra seorang ibu deng an dua anak laki-laki dan perempuan, tanpa kehadiran seorang bapak. Sepertinya mereka sedang menikmati sarapan pagi bersama kopi dan biskuit. Apakah si ibu itu seorang janda? Apakah si bapak selepas subuh sudah berangkat keluar kota dengan flight pertama yang isuk-isuk uput-uput? Ataukah si bapak justru tukang begadang yang baru berangkat tidur ketika anak-anaknya bersiap-siap ke sekolah? Fakta visual di kaleng Khong Guan ini berseberangan dengan opini seorang feminis, Sylvia Walby, (sorry, lupa judul bukunya, hehe) yang membuat teori menarik tentang patriarki, yakni membedakannya menjadi dua: patriarki privat dan patriarki publik. Inti dari teori ini adalah telah terjadi ekspansi wujud patriarki, dari ruang-ruang pribadi atau pri...

Pengingkaran Hendra pada Identitas Kreatif

Image
Seorang pengunjung tengah menyimak 2 lukisan karya Hendra Buana di Jogja Gallery, Jl. Pekapalan, Alun-alun Utara, Yogyakarta. Pameran tunggal Hendra Buana bertajuk "Peaceful in F aith II" berlangsung 20 Des 2012 s/d 8 Jan 2013 . (Catatan ini dimuat dalam katalog pameran "Peaceful in Faith II") Oleh Kuss Indarto   PILIHAN dan konsistensi dalam proses kreatif perupa bisa membuahkan pisau bermata dua. Pada satu sisi, publik bisa menduga bahwa konsistensi akan membawa perupa pada gejala pembentukan identitas kreatifnya. Setidaknya publik memiliki rujukan visual dan konseptual yang jernih untuk mengidentifikasi karya seseorang seniman dari rentetan karya-karya yang dibuat sebelumnya dengan pilihan kreatif yang jelas dengan tingkat konsistensi yang terjaga. Sementara pada sisi lain, pilihan kreatif berikut kecenderungan visual yang serupa dengan konsistensi namun tanpa dinamisasi, berpeluang besar untuk masuk dalam perangkap stagnasi, kemandegan. Ini dua hal ya...

SUMATERA BIENNALE 2012

Image
AKHIRNYA, perhelatan Sumatera Biennale 2012 segera digelar di Galeri Taman Budaya Sumatera Barat, tanggal 5 hingga 15 Desember 2012. Ini merupakan perhelatan seni rupa yang dirancang berlangsung secara rutin dua tahun sekali, dan berlangsung secara berpindah-pindah di kota-kota yang berada dalam kawasan (pulau) Sumatera. Untuk kesempatan pertama, Sumatera Biennale #1-2012 berlangsung di kota Padang, Sumatera Barat, dan selanjutnya berputar di kota lain sesuai kesepakatan bersama. Gagasan untuk membuat perhelatan semacam ini sudah dirancang cukup lama, dan menjadi bagian penting dari upaya untuk menciptakan forum seni rupa yang penting dan kompetitif dengan subyek utama Sumatera. Selain Sumatera Biennale ini, sebelumnya, selama bertahun-tahun sudah ada perhelatan bernama PLDPS atau Pameran Lukisan dan Dialog Perupa se-Sumatera. Namun kalau ditilik karakternya, PLDPS cenderung lebih bersifat partisipatif dengan mengedepankan aspek representativeness atau keterwakilan pada tiap p...