Posts

Lanyah

Image
LANYAH. Orang Jawa punya istilah “lanyah” yang kurang lebih berarti terbiasa, “fasih”, atau “luwes” dalam melakukan sebuah aktivitas. Istilah tersebut mengindikasikan pelakunya telah mempraktikkannya dengan rutin, lama, dan terus-menerus. Misalnya, “Bayine wis lanyah le mlaku” (Si bayi sudah lancar berjalan), “Mbak Ponirah lanyah tangane olehe mbathik” (Mbak Ponirah sudah terampil tangannya dalam membuat batik), dan seterusnya. Dua kalimat contoh itu mengindikasikan bahwa si bayi telah lebih dulu jatuh bangun berlatih berjalan dan diduga baru di bulan kesebelas lancar berjalan. Demikian pula, Mbak Ponirah mungkin telah berlatih membatik sejak usia dini dan baru dikatakan fasih atau terampil setelah masuk di tahun ketiga, bahkan lebih. Pendeknya, semua aktivitas butuh upaya, latihan, mempraktikkan langsung secara kontinyu, berkesinambungan, dan terus-menerus sehingga bisa mengalami "trial and error" untuk kemudian mencoba menghindari atau meminimalisasi tit...

Potret Sang Kekasih dari Lensa Nabila

Image
Oleh Kuss Indarto PULUHAN lukisan potret diri para tokoh ulama Nusantara ini, khususnya ulama (kyai) dari Nahdlatul Ulama (NU), kiranya tidak bisa dipandang secara sederhana sebagai rentetan wajah-wajah manusia semata. Di balik kesederhanaan visual yang dikerjakan sekian lama oleh Nabila Dewi Gayatri ini, memuat sekian banyak pesan yang bisa dieksplorasi. Pertama , secara personal, pameran tunggal ini merupakan “proyek” pelunasan janji sang seniman terhadap dirinya sendiri, juga terhadap mendiang ayahnya, yang pernah dilontarkan bertahun-tahun lalu sebelum sang ayah meninggal dunia. Kedua , pameran ini seperti menjadi medan pengingat atas kekayaan “sumber daya ulama atau kyai” Nusantara yang pernah ada dan terus bersambung garis kesejarahannya hingga kini. Para kyai yang menjadi subyek model karya Nabila ini berasal dari berbagai kawasan, dan merupakan sosok yang banyak ditokohkan oleh waktu, tempat, massa serta momentum dimana mereka berada. Ini merupakan hal pent...

Ironi Patung Yesus?

Image
Oleh Kuss Indarto   Sekitar 10 hari lalu, seorang teman seniman berbincang padaku tentang sebuah rencana proyek besar yang ditawarkan kepadanya. Dia mengaku pusing, tak bisa memikirkan rencana yang jauh di luar kemampuannya itu. Dan dia merasa itu bukan kapasitasnya. Pagi ini, rencana proyek besar itu ternyata mulai berseliweran di beberapa situs berita: Pemerintah Provinsi Papua berencana membangun patung Yesus dengan alokasi dana Rp 300 miliar sampai Rp 500 miliar !   Patung Yesus itu dirancang dibangun di Puncak Gunung Swajah, Kampung Kayu Batu, Distrik Jayapura Utara, Kota Jayapura. Kalau jadi, patung tersebut tingginya sekitar 50-67 meter dan landasannya sekitar 100 meter. Jadi, total 150-167 meter. Sebagai perbandingan, tinggi patung Yesus di Brasil hanya 30 meter, dan landasannya 8 meter, total 38 meter. Sementara patung di Tana Toraja tingginya 23 meter dan landasannya 17 meter, keseluruhan 40 meter. Di Dili, Timor Leste, ada patung Kristus Raja atau Cris...

Seratan Luru Raos

Image
Lukisan "Bring the Spirit" karya Astuti Kusumo, 200 x 300 cm2016 "Seri Merapi IV", 50 x 60 cm, ail on canvas, 2017   [perca-perca pembacaan atas gagasan dan karya Astuti Kusumo]   Oleh Kuss Indarto   MENYIMAK pameran tunggal pertama Astuti Kusumo ini adalah menyimak, setidaknya, tiga hal penting. Pertama , perihal posisinya sebagai seniman yang menghadirkan diri mencari eksistensi dalam pusaran dinamika seni rupa Yogyakarta dari jalur otodidak. Kedua , problem perempuan yang dibawa oleh seniman ini, dari perkara personal yang melekat dalam dirinya dan perkara substansial yang menempel pada sebagian karya-karya yang dipresentasikannya kali ini. Ketiga , ihwal “perburuan rasa” yang telah dan terus dilakukannya sebagai seorang seniman—sebagaimana tema pameran ini, “Seratan Luru Raos”, catatan perihal perburuan rasa. Mengenai hal pertama, yakni kenyataan bahwa Astuti berangkat sebagai seniman dari jalur otodidak, saya tidak akan memberi teka...

CARA

Di Indonesia, dalam kurun 3-4 tahun terakhir, mencintai atau membenci Jokowi sepertinya sudah satu paket dengan mencintai atau membenci Ahok. Artinya, mereka yang mencintai Jokowi seperti sebangun dan sejajar dengan mencintai Ahok. Sebaliknya, mereka yang membenci Jokowi sepertinya juga membenci Ahok. (Maaf kalau oposisi biner “mencintai-membenci” mungkin kurang tepat). Tentu ini bisa jadi sekadar praduga karena tanpa dukungan data statistik yang memadai. Tapi “fenomena” ini cukup terasa, setidaknya yang berkembang pelataran medsos—yang saya amati dalam 3 tahun terakhir ini. Drama pertarungan kedua belah pihak ini begitu dahsyat melebihi “el clasico” antara Real Madrid dan Barcelona, antara Spanyol dan Catalan (sebutan “rasis” para pendukung Real bahwa Barcelona bukanlah bagian dari Spanyol, tapi ya kawasan bernama Catalan). Realitas yang terjadi memang begitu menarik. Tahun 2014, ketika Jokowi memenangi pertarungan Pilpres melawan Prabowo, kata-kata yang berkembang dan...