Apa itu "maestro"? Kata ini kemungkinan besar diserap dari bahasa Italia yang arti sederhananya adalah "guru". Dalam bahasa Inggris berarti "master". Saya kurang tahu persis sejak kapan persisnya kata/lema maestro ini diserap ke dalam bahasa Indonesia. Secara historis bangsa kita tidak banyak berhubungan erat dengan bangsa Italia yang memungkinkan pertukaran atau penyerapan bahasa itu terjadi, kecuali kisah besar tentang kedatangan pelaut Italia, Marco Polo tahun 1292 ke Perlak, Aceh. Beda dengan bangsa lain seperti Belanda, Portugis, Per ancis, India, Arab dan lainnya yang lebih lama bersentuhan sehingga berdampak pada masuknya bahasa bangsa tersebut ke dalam bahasa Indonesia. Dugaan saya, kata maestro mulai diserap dan populer pada paruh kedua dasawarsa 1970-an. Momentum pemicunya adalah ketika seniman Indonesia, Affandi Koesoemah menerima dua penghargaan di Italia pada 19 Maret 1977. Ketika itu, dalam satu kesempatan upacara penuh hikmat di Cast...
“Javanese Temple in Ruins” (Reruntuhan Candi Jawa) yang dilukis oleh Raden Saleh Syarief Boestaman tahun 1860. Saya terpaku cukup lama di depan lukisan ini: “Javanese Temple in Ruins” (Reruntuhan Candi Jawa). Lukisan karya Raden Saleh Syarief Boestaman ini berukuran 105,4 x 187 cm, dibuat tahun 1860. Banyak hal yang membuat saya terpaku di situ, di National Gallery Singapore, akhir Januari lalu. Pertama, lukisan ini eksotik. Dilukis saat Raden Saleh berusia 49 tahun, memperlihatkan kematangannya sebagai pelukis, apalagi setelah bertahun-tahun berproses di Eropa. Karya ini tergarap detil, terlihat pengaruh guru lukis lanskapnya, Andreas Schelfhout—begitu kuat. Pun dengan pencahayaannya yang seolah dibuat dengan kesadaran ketika hidup di Eropa: langit dan tanah yang temaram meski bayang-bayang benda menunjukkan suasana tengah hari. Ini tak lepas dari pengaruh para seniman Perancis yang dikaguminya, Horace Vernet dan Eugene Delacroix. Kedua, lukisan ini nyaris tidak bany...
Koran Jakarta, Minggu, 16 Januari 2011 Foto: Dian Muljadi (tengah) salah satu kolektor karya seni rupa Indonesia. Sebuah karya yang sebenarnya hanya berharga 15 juta rupiah, tiba-tiba bisa bertengger di harga ratusan juta. Pada akhir 1980-an, lukisan karya pelukis asal Bandung, Jeihan, dibeli oleh Bank Central Asia (BCA) sekitar 100 juta rupiah. Peristiwa itu kemudian menandai munculnya boom pasar seni rupa Indonesia, sekaligus para pemain baru di pasar seni rupa Indonesia yang disebut sebagai Kolekdol. “Kolekdol, mengkolek lalu ngedol atau menjual, orang yang membeli lukisan untuk dijual kembali dalam waktu cepat. Mereka hanya cari untung cepat dari bisnis lukisan ini,” terang Kuss Indarto, kurator lukisan di Galeri Nasional. Terjualnya lukisan Jeihan dengan harga seratusan juta ketika itu membuat para pemilik dana yang sama sekali tidak punya dasar pengetahuan seni lukis, tertarik untuk menjadi spekulan yang menjadikan lukisan tak ubahnya lembaran saham. Ramainya jual beli lukisan, ...
Comments