Saturday, February 14, 2009

Arke-Signs: Membangun Perubahan



Catatan di bawah ini merupakan kuratorial dari pameran Arke-Sign yang berlangsung 14 Februari - 9 Maret 2009 dengan seniman Herman Lekstiawan, Katirin, dan Ridi Winarno. Gambar di atas karya Herman, Construction of Unity 1, 2008, yang juga dipajang dalam pameran)

Oleh Kuss Indarto


/1/


Ya, perubahan. Selalu saja pergeseran atau perubahan visual dalam praktik kreatif para perupa akan terus terjadi. Demi dalih dan kepentingan apapun, di manapun dan dalam level apapun. Seorang Vincent van Gogh, misalnya, begitu kentara perubahan ekspresi karya di kanvasnya seusai dia menangguk pengalaman di Jepang. Maka karyanya pun, yang antara lain berpuncak pada lukisan "The Starry Night" (dibuat di kota Arles, tahun 1889) begitu membekas keterpengaruhannya terhadap karya-karya seni grafis (printmaking, ukiyo-e) ala Jepang. Begitupun dengan karya-karya "raksasa" dari Malaga, Spanyol, Pablo Piccasso yang sudah jamak diketahui publik bahwa medan ekspresi di kanvasnya banyak berubah dengan menimba spirit dan lekuk-liku topeng-topeng primitif Afrika. Karya-karyanya yang dibuat pada kurun tahun 1907-1909, memang banyak berbeda dari kurun sebelumnya. Pada rentang masa itu, lahirlah lukisan Les Demoiselles D'Avignon, salah satu karya puncaknya selain Guernica dan beberapa lainnya.


Dengan dalih yang berbeda pula, publik dapat menengarai perubahan yang besar pada karya-karya lukis salah satu master seni rupa Indonesia, Fadjar Sidik, tatkala seniman tersebut berpaling ke pulau Dewata. Setelah beberapa lama menetap di Bali, tokoh seni lukis abstrak ini merasakan bahwa laju pesatnya pembangunan turisme sudah mengubah wajah Bali. Dia risau karena dengan gegas, gedung, listrik, mobil, jalan aspal, radio tape, alat-alat plastik dan semacamnya telah menggeser Bali yang natural menjadi artifisial. Perubahan itu bahkan tidak hanaya dalam dataran fisik saja, melainkan juga telah berpengaruh pada perilaku manusianya. Fadjar Sidik kala itu merasakan kegelisahan karena kehilangan "obyek-obyeknya". Ia merasa ditantang dan dan disaingi oleh derap laju masuknya perangkat teknologi baru.


Situasi ini membuat dia bagai terapung dalam dikotomi estetik yang saling bertumbuk satu sama lain: perasaannya yang romantik ingin mempertahankan alam yang ideal yang kenyataannya kian gencar "terkotori" oleh teknologi. Pada belahan sisi yang lain, ia merasa tak mampu melukis benda-benda teknologi itu, walaupun sebagai seorang realis yang telah dibentuk di Yogya, seharusnya dapat mengatasinya.


"Mobil, kulkas, televisi, pesawat terbang itu tidak artistik kalau dilukis. Kecuali mobil-mobil rongsok, itu baru artistik untuk dilukis", ungkap Fadjar Sidik seperti yang dituturkan kembali oleh Agus Burhan dalam Fadjar Sidik: Dinamika Bentuk dan Ruang (2002: 66). Dia menambahkan bahwa: "Saya kehilangan obyek-obyek yang artistik dan puitis. Sekali waktu saya ingin memasukkan obyek-obyek teknologis yang baru itu namun tidak sampai hati. Di lain pihak sebagai seorang realis saya juga tidak bisa menghilangkan kenyataan benda-benda itu", tuturnya lebih lanjut.


Maka, perubahanpun terjadi pada praktik kreatif seniman yang telah berpulang pada tahun 2004 lalu itu. Publik mengenangnya lewat karya-karya yang teridentifikasi lewat konsep "Dinamika Bentuk dan Ruang". Keberangkatannya didahului oleh kejujurannya sebagai seniman yang mengatakan bahwa: "Daripada meniru hasil-hasil para disainer industri itu, mengapa saya tidak membuat sendiri untuk keperluan ekspresi murni yang bisa memenuhi tuntutan batin yang terdalam? Saya mengambil sikap menyejajarkan diri. Lukisan saya menjadi disain ekspresif".


Pengakuan ini, tentu, sebuah keinginan untuk bersiasat secara kreatif menghadapi sang waktu yang pasti hendak menggilas andai tak bersikap pada situasi. Sikapnya ini membawa dan mengarus pada hasrat yang kuat terhadap perubahan.


/2/


Katirin, Ridi Winarno, juga Herman Lekstiawan, tentu bukanlah (= belumlah) nama-nama besar yang telah masuk peta penting dan memberi warna dalam percaturan seni rupa di Yogyakarta, apalagi di Indonesia. Mereka mencoba konsisten merunuti jalan berkesenian masing-masing yang telah berlangsung dalam hitungan bertahun-tahun. Bahkan hingga masuk dalam bilangan dua puluhan tahun seperti Katirin dan Ridi. Tapi, memang, mereka belumlah menjadi penggenggam penting dalam kecamuk pergerakan seni rupa yang diperhitungkan reputasi dan geliatnya di pelataran "silat" (seni rupa) yang penuh dinamika. Mungkin juga penuh intrik dan main telikung yang tersamar atau benderang.


Pada kecenderungan karya Katirin, publik telah punya secercah referensi visual atas karya-karyanya selama ini. Seniman yang masuk kuliah di Fakultas Seni Rupa ISI Yogyakarta tahun 1989 ini telah sekian lama banyak menggali ihwal tubuh. Sebelum pameran ini, di atas kanvasnya nyaris selalu akan terlihat tubuh-tubuh manusia yang bergelimpangan dengan segala ekspresi dan posisi. Kalau diamati secara lebih detail, ada muatan substansial yang secara berangsur ditanamkan di dalamnya. Dan ini berbeda dengan imaji tentang gelimang tubuh-tubuh dalam kanvasnya 5 atau 10 tahun lalu. Maka, kini (setidaknya setahun lalu), tubuh dikelola begitu rupa dalam kerangka estetik untuk melihat tubuh dalam kerangka sosial-antropologis yang melingkupinya. Ini senyampang dengan apa yang pernah dikatakan oleh, antara lain, pengkaji budaya Mike Featherstone bahwa tubuh fisik adalah tubuh sosial. Artinya, (per)laku(an) sesosok tubuh fisik bisa menjadi perpanjangan tangan sekaligus representasi bagi (per)laku(an) sosial tertentu, begitu juga sebaliknya. Tubuh-tubuh dalam imajinasi estetik Katirin, sebenarnya, telah menjadi meta-tubuh yang melampaui problem ketubuhan itu sendiri.


Dan di kesempatan pameran ini, tubuh-tubuh Katirin telah lenyap sama sekali. Tak ada lagi ekspose tubuh-tubuh manusia tersebut di atas kanvas. Subyek utama yang hadir adalah rangkaian dua benda yang berpasangan untuk saling berlawanan. Ya, imagi dua subyek benda yang saling terintegrasi untuk membentuk oposisi satu sama lain.


Publik akan segera mengenali karya Katirin menggambarkan imagi tentang satwa tikus yang berpadu dengan citra harimau lewat cara ungkap yang tidak rasional. Sosok tikus itu seolah menelan mentah-mentah sang harimau hingga bayangan tentang harimau tersebut begitu membekas dengan kentara di lambung si tikus.


Seri karya ketidaknalaran gagasan Katirin berlanjut dalam kanvas-kanvas yang lain. Ada seekor ular yang menelan kuda Nil hingga teryanag begitu raksasanya tembolok sang ular. Pun demikian dengan siput yang terintegrasi dengan bayangan citra rumah (manusia) yang seolah menggelayut di pundaknya. Lalu ada musang menelan sapi, tikus menyantap gajah, atau tikus menyantap bangunan gedung DPR Pusat. Juga ada citra seekor cicak yang dengan "heroik" menelan tiang atau pilar yang begitu meraksasa ketimbang tubuh normalnya. Semuanya menggambarkan "dwi-tunggal" yang irasional.


Pada karya yang disebut terakhir itulah yang menjadi titik keberangkatan karya-karya Katirin: cicak menelan tiang. Dalam khasanah kultur Jawa ada ungkapan peribahasa yang berbau filosofis: cecak nguntal cagak. Ini serupa dengan "pungguk merindukan rembulan" dalam peribahasa Melayu yang telah menasional. Ungkapan cecak nguntal cagak memberi gambaran sebuah aksi yang penuh ketidakmungkinan. Sekilas memang ini ungkapan yang seolah biasa, namun kalau dikontekstualisasikan pada kasus atau fenomena tertentu, akan menjemput tata makna yang lebih mendalam.


Tentu publik bisa mafhum kalau ini dikaitkan dengan ragam budaya Jawa yang dapat didefinisikan melalui pendektan holistik yang lebih luas daripada pendekatan kognitif. Sementara pendekatan kognitif mempunyai arti yang lebih luas dari sekadar pendekatan perilaku. Lewat pendekatan kognitif, kita dapat memaknai budaya Jawa sebagai nilai-nilai luhur (values), keyakinan-keyakinan (beliefs), dan atau anggapan-anggapan (assumptions) yang digunakan sebagai rencana atau pedoman perilaku atau adat, dan digunakan untuk memecahkan masalah yang berlaku dari generasi ke generasi di kalangan masyarakat (komunitas) orang Jawa. (Soehardi Sigit dalam Yuwono Sri Suwito, Menggali Filosofi Kultur Jawa-Yogyakarta, 2007).


Lebih lanjut dapat dijelaskan bahwa nilai (values), merupakan ukuran yang harus ditegakkan untuk melestarikan irama kehidupan yang sesuai dengan kodrat alam dan cita-cita luhur suatu komunitas, masyarakat maupun bangsa; atau sesuatu yang dipandang penting, berharga, yang diprioritaskan atau diutamakan. Lalu keyakinan (beliefs) merupakan nilai-nilai yang diterima sebagai hal yang benar atau salah (right or wrong) dan tidak peprlu diperdebatkan. Dan asumsi (assumption) merupakan sesuatu yang diterima sebagaimana adanya tanpa disadari (taken for granted) dan tidak perlu dibuktikan.


Karya Katirin yang bertolak dari ungkapan cecak nguntal cagak, saya kira, adalah cermin kecil bagi perupanya (yang hendak didistribusikan pada publik) bahwa ada nilai-nilai filsafati yang terkandung di dalamnya yang mampu diterapkan sebagai pedoman hidup (sekecil apapun maknanya) dalam melakoni hidup keseharian. Maka, tak sekadar kebaruan tema visual yang terkandung dalam karya-karya yang ditawarkan Katirin kali ini, namun juga kedalaman makna yang disarikan dari khasanah di lingkungannya, Jawa.


/3/


Demikian pula dengan rentetan karya lukis dua perupa lainnya, Ridi Winarno dan Herman Lekstiawan. Masing-masing membawa perubahan (atau minimal) pergeseran hasil corak kreatif yang seolah memberi tanda bahwa sang seniman masih berkeinginan kuat untuk bergerak meninggalkan tipa karyanya yang kemarin sebagai "masa lalu" yang mesti ditinggalkan sejauh mungkin untuk mencari "masa baru" yang lebih imajinatif dan inspiratif.


Karya-karya Ridi, sejauh yang saya tahu, selama ini banyak bergerak pada tema-tema yang soliter dan personal. Seolah nikmat dengan kesepian dan kesendirian. Dengan gaya ungkap yang abstraktif dalam karya-karya pada periode sebelumnya tersebut, Ridi pada hemat saya telah menemukan kebuntuan kreatif yang barangkali tanpa disadarinya. Banyak kanvas yang telah diisi dengan kejumudannya sebagai perupa yang terlalu asyik dengan dunianya sendiri tanpa tahu pergerakan yang begitu cepat yang terjadi pada banyak rekan-rekan sejawatnya, seangkatannya.


Belasan karyanya yang terpampang kali ini kiranya bisa ditengarai sebagai bagian penting dari titik balik proses kreatifnya yang telah sekian tahun tersembunyi di balik berkibarnya nama-nama teman dekatnya yang rajin mengasah kepekaan kreatif. Memang belum semua karya yang dipresentasikan Ridi menunjukkan seluruh kekuatan dan kepekaan artistiknya. Namun secara umum bisa terlacak kesungguhannya untuk memberi daya hidup bagi proses berkeseniannnya yang telah berjalan berarak puluhan tahun.


Publik dapat menyimak, dalam pameran ini, karya Ridi yang ekspresif untuk mencitrakan subyek-subyek benda yang tertangkap mata dan memori terdalamnya. Ada dipan atau tempat tidur sederhana warna biru muda yang dikepung penuh warna merah. Juga beberapa torehan grafiti yang seolah tertata. Karya ini cukup mengesankan karena kecekatan Ridi untuk tetap mempertimbangkan aspek kelapangan ruang kosong demi berbagi dengan undur visual yang lain, seperti subyek benda utama dan juga benda sekunder sebagai pendamping. Kesadaran ini juga muncul pada karya-karya yang lain, yang juga cukup kaya dengan imajinasi. Ada sumur di atas pohon, ada sosok serupa lakon Batman yang di ujung telinga berasap, ada sebilah gergaji yang melentuk hingga membentuk citra mulut mengaga dengan gerigi yang tajam mengancam, sosok malaikat bersayap gelap, dan seabagainya. Cara ungkap pada karya Ridi yang naif memang bukan hal yang baru sama sekali. Banyak seniman yang telah melakukannya. Namun bagi Ridi, ini sebuah pencapaian kebaruan yang pantas untuk diapresiasi lebih lanjut.


Sementara pada karya Herman Lekstiawan, dorongan untuk melakukan pergeseran dan perkembangan kreatifnya terasa berlangsung lebih evolutif. Tidak terlalu "mengagetkan" ketimbang dua seniman yang lain. Namun justru pergerakan kreatifnya yang evolutif inilah—baik secara tematik yang kian dalam dan secara teknis yang makin kuat—akan membuat proses pematangan kreatif yang lebih menukik. Artinya, dengan kesadaran untuk memberangkatkan ingatan atas karya pada kanvas sebelumnya sebagai modal bagi karya baru di atas kanvas berikutnya, akan bisa diharapkan karya-karya yang baru lebih "terukur" progresnya. Saya ingat betul dengan karya Herman yang lolos seleksi untuk diikutkan dalam pameran seni rupa Festival Kesenian Yogyakarta 2005/Kotakatikotakita: Yang Muda Melihat Kota yang bertema sekitar konstruksi benda dan tubuh. Lalu pada Biennale Jogja IX-2007/NeoNation dia menampilkan karya bertajuk Impian pada Satu Tubuh yang mengapropriasi sebuah karya arsitek Barat yang kurang lebih berbicara tentang keseimbangan konstruksi tubuh.


Dan pada pameran kali ini, dia menegaskan dengan konsep keseluruhan karyanya sebagai bagian dari moving spirit untuk memaknai pergerakan kreatifnya dalam berbicara tentang hukum keseimbangan dalam banyak hal. Misalnya, keseimbangan manusia sebagai personal dan bagian penting dari (kepentingan) komunal, dan sebagainya.


/4/


Dalam kesadaran untuk menimbang nilai-nilai kebaruan yang relatif tercakup pada karya ketiga perupa di ataslah (Katirin, Ridi Winarno, dan Herman Lekstiawan), maka peta kuratorial ini diberangkatkan. Sesuatu yang baru, yang berbeda dari yang biasa mereka geluti selama inilah yang menjadi titik utama pengamatan.


Pada hemat saya, inilah arke, yang berarti sebuah "permulaan, titik mulai, asal-muasal suatu hal" bila merujuk pada istilah Yunani yang diintroduksikan oleh Lorens Bagus (Kamus Filsafat, Gramedia Pustaka Utama, 2002, hal 83). Lebih lanjut dijelaskan bahwa istilah arke memuat pemahaman sebagai (1) substansi atau prinsip dasar yang mendasari semua hal yang ada, (2) titik pertama dan permulaan suatu hal terjadi apa adanya sekarang ini, dan (3) di kalangan filsuf-filsuf dari Ionia, berarti substansi pertama atau unsur pertama.


Oleh karenanya, tema Arke-Signs, sesungguhnya dihasratkan sebagai sebuah pemetaan awal bagi ketiga perupa yang secara drastis dan evolutif, telah melakukan upaya pembenahan diri secara kreatif untuk melakukan perubahan demi pencapaian kemajuan. Kerangka tema Arke-Signs kiranya juga sebagai sebuah dukungan "moral" bagi ketiga perupa ini yang telah dengan sadar membangun nilai kreativitasnya dengan sejumput nyali untuk berubah. Mungkin tak semua karyanya berhasil memberi keyakinan sebagai hasil pergeseran atau perubahan, namun upaya telah dimulai. Titik permulaan sudah dicanangkan oleh ketiganya. Dan ini pantas untuk diapresiasi!