Sunday, December 22, 2013

Menanti Taksu pada karya Leksono


Bebotoh Bali II, oil on canvas, 70 x 93 cm, 2012

EKSOTISME budaya Bali telah menjadi pokok bahasan utama bagi sekian banyak seniman, terutama seni rupa, entah yang datang dari mancanegara maupun Indonesia sendiri. Publik bisa menyimak deretan para perupa mancanegara yang karya-karyanya kita mengisi celah sejarah seni rupa Indonesia, seperti Arie Smit, Theo Meier, Willem Gerard Hofker, Paul Nagano, Rudolf Bonnet, Rearngsak, dan sekian banyak nama lain. Pun dengan para perupa Indonesia (selain dari Bali sendiri) yang karya-karyanya banyak atau sempat bertema utama tentang Bali, semisal Dullah, Fadjar Sidik, Affandi, dan masih segudang nama besar lain, baik yang kemudian membubung tinggi namanya sebagai seniman besar dan masuk dalam konstelasi wacana seni rupa Indonesia, maupun lepas dari perbincangan sejarah karena pencapaian karyanya dianggap kurang memadai untuk mengisi kepentingan tersebut.

Leksono—sosok asal Cilacap yang sejak kecil terobsesi menjadi seniman—adalah salah satu dari sekian banyak seniman yang pada tahun 1987 mencoba merangsek masuk ke Bali, belajar melukis, dan menjadikan perikehidupan pulau Dewata tersebut mengemuka dalam sebagian karya-karyanya. Pada pameran tunggalnya ini, Leksono menempatkan banyak hal yang pernah dialaminya ketika tinggal di Bali sebagai materi imitasi dan sumber inspirasi dalam karya. Saya katakan imitasi karena dalam praktik kreatif seni begitu dominannya upaya seniman untuk “memindahkan” alam ke dalam kanvas, atau dalam falsafah Yunani Kuno dikatakan sebagai “ars imitatur naturam”, seni sebagai upaya peniruan alam.

Upaya peniruan alam ini tentu beragam bentuk ungkapnya, tergantung masing-masing seniman dengan kecenderungan artistiknya. Ada seniman yang mencoba untuk menyerap segala yang dilihat, didengar, dirasakan dan dialaminya, lalu dimuntahkan begitu saja (secara pictorial atau visual) ke dalam kanvas. Ini yang kiranya bisa diasumsikan akan memunculkan karya-karya yang realistik. Karya-karya Leksono, saya kira masuk dalam kemungkinan pilahan dan kecenderungan artistik seperti ini. Benda atau aktivitas yang dilihatnya secara fisik, kemudian dipindahkan dalam “format” yang sama ke dalam bentangan kanvasnya. Inilah yang terjadi, dan dapat disimak dalam pameran tunggalnya ini. Leksono berupaya keras untuk menampilkan subyek-subyek karyanya mengemuka secara fotografis. Dalam tinjauan komposisi tampak diatur sesempurna mungkin seperti halnya yang bisa kita simak pada foto-foto salon atau kartu pos, misalnya.

Meski demikian, pada aspek teknis, memang, seniman kelahiran Cilacap 2 Oktober 1969 ini mesti lebih gigih belajar untuk mendapatkan pencapaian yang jauh melompat dari yang sekarang. Dasar-dasar teknis melukis anatomi tubuh, idealnya, bisa dikembangkan lagi lewat sketsa-sketsa dasar atau perancangan awal yang lebih kuat terlebih dahulu sebelum masuk ke tahap teknis berikutnya seperti pewarnaan, chiaroscuro (teknik gelap-terang), dan seterusnya. Secara umum, karya-karya Leksono mengarah pada kecenderungan realisme(-fotografis) yang memiliki “risiko” tinggi pada tuntutan teknis. Meskipun sebenarnya tehnik realism banyak ragamnya, dan realism-fotografis ataupun hiper-realisme bukanlah satu-satunya puncak pencapaian karya seni lukis yang bermahzab realisme.

Kalau menyimak karya-karya yang terpampang dalam pameran ini, apresian relatif bisa segera tahu tentang potongan seni budaya Bali yang dibidik oleh Leksono. Ada pura, sesaji, penari, barong, sosok lelaki pembawa ayam jago petarung, dan sebagainya. Nyaris semua karyanya menampilkan sisi indah, manis, dan fakta-fakta sosial yang diestetisasi menjadi potret cantik tentang budaya Bali. Ini semacam potret salon yang ada dalam kartu pos atau buku panduan wisata, dan semacamnya. Pilihan kreatif ini sudah barang pasti menjadi titik menarik Leksono untuk terus digeluti. Tinggal beberapa dimensi mendasar seperti yang saya singgung di atas bisa lebih jauh dieksplorasi. Misalnya, tentang detail. Kita bisa menyimak detail pada kostum khas Bali yang luar biasa kaya dan tiap corak juga memiliki ciri khas visual, dasar falsafah, dan sebagainya. Belum lagi tentang mimik atau ekspresi wajah dari figur-figur yang tergambar di atas kanvas. Misalnya gerak mata dan pertautan antar-jari tangan, pasti memiliki muatan tendensi khusus yang bermuara pada sisi historis dan filosofis. Poin ini yang perlu untuk dicermati pada karya-karya selanjutnya, agar karya-karya lebih memiliki “taksu”, atau aura yang kuat hingga “menghipnotis” penonton.

Sebagai seniman otodidak yang kini “melihat Bali dari Jawa”, karya-karya Leksono ini pantas untuk diapresiasi dan dijadikan sebagai media pembelajaran kecil tentang seni budaya Bali yang terus bergeliat. Kekuatan budaya Bali tampaknya menggoda bagi spirit kreatif Leksono. Tetaplah menjadi pembelajar yang gigih, mas Leksono. Selamat berpameran.

Kuss Indarto, anggota dewan kurator Galeri Nasional Indonesia, tinggal di Yogyakarta.

Sunday, December 08, 2013

Colour(s) of Klowor: Dunia Warna Dunia

Oleh Kuss Indarto

INI bukanlah pameran restrospektif dari perupa Klowor Waldiyono. Pameran retrospektif adalah perhelatan yang mencoba mengumpulkan artifak karya (seorang) seniman yang bertitimangsa paling tua hingga yang mutakhir, atau bermaterikan rentetan karya berdasarkan tata urut waktu (kronologis), mulai dari karya yang dibuat saat awal berproses kreatif hingga masuk pada semua pencapaian kreatifnya yang telah dilaluinya. Sekali lagi, pameran ini tidak mengarah ke tendensi itu, meski dalam perhelatan ini ada sekian banyak karya Klowor yang dibuat pada masa-masa awal debutnya sebagai perupa.


Pameran ini justru memberi pengingat bagi publik—terkhusus bagi mereka yang mengetahui perjalanan kreatif Klowor—bahwa seniman ini terus berupaya melakukan pergeseran artistik secara dinamis pada karya-karyanya, sekecil apapun pergeseran itu dilakukan. Pergeseran cukup besar tersebut tampak nyata ketika publik membandingkan dua momentum yang berjarak sekitar limabelas setengah (15,5) tahun, yakni antara pameran tunggalnya yang berlangsung di Bentara Budaya Yogyakarta, 11-18 Desember 1995 (bertajuk pameran “Hitam Putih”) dan pameran “Siklus dan Sirkus Klowor” yang berlangsung 21-31 Mei 2011 di Taman Budaya Yogyakarta.



Dalam pandangan saya, pameran “Putih-Hitam” (1995) itu seperti “deklarasi estetik” bagi Klowor kepada publik bangunan citra estetik dan artistiknya terbangun dari subyek kucing. Citra kucing begitu integral dalam diri dan karya Klowor, seperti telah baku dan “beku” sebagai identitas estetik. Pada berbagai kesempatan pameran kolektif seusai pameran tunggal itu citra perihal kucing hitam-putih banyak bertebar. Banyak pameran diikutinya, seperti di antaranya partisipasinya sebagai peserta dan finalis dalam pameran (hasil kompetisi) Philip Morris - Indonesia Art Award tahun 1998 dan 2000, Indofood Art Award 2003, dan beberapa lainnya.



Identitas tersebut, lambat-laun, seperti menjadi kurungan yang memberi batasan cukup ketat bagi bagi dirinya yang terus berhasrat membebaskan pengembaraan artistik dan estetiknya sebagai seniman. Bisa diduga, repetisi telah sering terjadi. Inilah “penjara kreatif”. Inilah titik penting ketika seorang perupa menemu satu persoalan “klasik”: tetap bersikukuh pada pilihan untuk bergulat dengan tema dan konsep lama (berupa estetika citra kucing dalam balutan visualitas hitam-putih) yang berarti masuk dalam perangkat stagnasi atau kemandegan; ataukah menggeser dengan cukup tajam atas kecenderungan karya-karya yang selama ini telah menjadi ingatan publik ketika melihat karya Klowor.



***



“KONSISTEN” dengan konsep lama mendorong Klowor hanya untuk menjalani proses involusi, bergerak berputar-putar di tempat dalam pencapaian yang tiada beda. Sementara keberanian untuk lepas dari identitas yang telah melekat memungkinkan dia mempraktikkan penjelajahan serta eksperimentasi visual dan konseptual. Ini tidak saja penting bagi perjalanan sejarah kreatif dirinya, namun juga bagi publik seni rupa secara umum yang membutuhkan berbagai penyegaran estetik. Dua tahun lalu, “deklarasi estetik” kembali dilakukan oleh Klowor Waldiyono lewat pameran tunggalnya, “Siklus dan Sirkus Klowor”.





Kala itu, tahun 2011, Klowor menampilkan gubahan visual atas karya-karyanya yang secara umum dapat dipetakan dalam beberapa hal penting. Pertama, Klowor menempatkan karya-karyanya menjadi begitu penuh warna, colourful. Tentu, warna dalam pemahaman denotative, bukan lukisan-lukisan hitam-putih (monochrome) seperti saat pameran tunggalnya yang pertama tahun 1995. Dalam tinjauan teknis, lapis-lapis warna yang tertoreh diandaikan menguatkan kemungkinan imajinasi bagi apresiannya. Gubahan citra sesosok manusia, sebagai misal, dikreasinya dari lapis-lapis warna yang bertumpuk dengan bayangan gesture yang berbeda. Perbedaan gesture pada bayangan dan subyek di depannya itulah yang dimungkinkan membangun lapis imajinasi.



Pada poin kedua, citra kucing relatif masih bertebaran pada kanvas Klowor, namun telah “melompat” dalam asosiasi dan konotasi yang berbeda. Kalau sebelumnya banyak menangkap dinamika gerak kucing dengan segala improvisasi visualnya, maka yang tampil pada pameran tungal 2011 karya-karya Klowor mencoba mempersonifikasi kucing dalam banyak ragam persoalan. Para “manusia kucing” banyak bergerak masuk dalam berbagai tema: sebagai subyek pelaku, berperan komentator atas berbagai kasus, berposisi penonton yang cerewet dan tetap berjaga jarak dengan persoalan, dan lain sebagainya. Klowor seperti ingin mempresentasikan karya-karyanya sebagai dongeng fabel yang menempatkan kucing sebagai pelakon utama.



Berkutnya, poin ketiga, karya-karya Klowor bergeser dari upaya untuk mengeksplorasi aspek improvisasi kebentukan atas satwa kucing, bergeser menjadi penggalian aspek penceritaan dengan tetap menyandarkan kucing sebagai subyek. Karya-karya Klowor kemudian digiring untuk memberikan narasi lebih luas. Citra “manusia kucing” atau hal yang berkait tentang kucing yang dikemukakannya sekarang telah melampaui “nilai-nilai” tentang kucing itu sendiri. Sosok kucing telah “dimanusiakan” sebagai sang pengisah, sang pencerita. Tentu poin ini bergeser dengan kondisi sebelumnya ketika karyanya berkutat untuk mengeksplorasi kucing secara fisik dan gerak dengan berbagai dinamikanya.



Gejala pergeseran tersebut dapat ditengarai, sebagai amsal, dari aspek pemberian judul atas  karya-karyanya. Ini hal sederhana, tetapi dengan jelas memberi kekuatan tanda kuat atas keberbedaan antara yang dulu dan yang kini. Karya-karya dalam pameran tunggal “Putih-Hitam” antara lain diberi judul yang relatif bersahaja: Kucing-kucing Liar, Kucing Tengah Malam, Kucing Hitam Berkaki Delapan, Kotak-kotak Kucingku, Nuansa Garis dan Kucing, Fantasi Garis dan Kucing Hitam, Kucing Putih Terbang, dan semacamnya. Dari aspek pem-bahasa-an dan pem-bahasan-nya relatif masih terkurung, fokus dan berpijak kuat dari subyek satwa kucing.



Sementara pada pameran “Siklus dan Sirkus Klowor”, banyak judul karya telah bergerak terbuka melampaui aspek “peri-kekucingan”. Misalnya: Adam dan Eva, Anak Perkasa, Anugerah, Serial Angel, Badut Sirkus, Barongsai dan Kelenteng, Berebut Air Susu Ibu, Bertahan Hidup, Bertinju, Seri Merapi, dan lainnya. Pergeseran sekaligus perluasan cakupan dari cara pandang Klowor atas “kucing sebagai dunia kebentukan” menjadi “kucing sebagai perangkat narasi” bisa diduga sebagai perkembangan sistem pengetahuan seniman ini dalam memandang persoalan di lingkungan sekitarnya. Memang tidak semua karya memuat kandungan pesan yang kritis, namun inilah kesaksian visual dan komentar dalam merespons dunia di luar dirinya. Dan hal ini memberlakukan seni tidak sekadar ekspresi personal namun juga meluaskannya sebagai penanda zaman sekaligus secuil simbol kepekaan sosial seorang seniman.



Dengan demikian, pergeseran kreatif Klowor antara 1995 dan 2011 bisa ditandai dengan berkembangnya sandaran nilai artistiknya yang dulu “sekadar” mengelola dunia bentuk, lalu meluas menjadi dunia gagasan—sekecil apapun dunia gagasan tersebut termunculkan dalam karya-karyanya. Memang belum sangat tajam titik beda secara visual antara dua kurun waktu tersebut, terutama dalam pemunculan ikon visualnya. Namun inilah nilai penting sebuah konsistensi, yang kemudian dirawat hanya dengan menggeser beberapa unsur-unsur penting di dalamnya secara evolutif, bukan mengubah secara revolutif atas hal yang ada sebelumnya, yang terkadang dicurigai tanpa landasan dan akar estetik di dalamnya.



***



LALU, setelah pameran tunggalnya yang kedua, “Siklus dan Sirkus Klowor”, apa pencapaian dan pergeseran kreatifnya yang menonjol?



Klowor, seniman kelahiran Yogyakarta, 31 Januari 1968 ini, seperti bergerak mengalir pelahan namun berupaya mengendalikan alir gerak tersebut. Mungkin setara dengan falsafah orang Jawa yang membilang bahwa “ngeli ananging ora keli”, mengikuti arus (sungai) namun tidak terhanyut di dalamnya. Cercah aliran atau “ngeli” tersebut antara lain tampak ketika semangat kreatifnya bangkit seiring dengan situasi pasar yang melambung pada kisaran tahun 2008-2009 lalu. Sebelumnya, Klowor cukup sibuk di luar dunia seni rupa, meski tidak meninggalkan sama sekali. Sesekali dia tetap berkarya namun tidak sangat produktif. Booming seni rupa 2008-2009 yang lalu, diakui atau tidak, banyak melecut laju kreatif(itas) banyak perupa di tanah air, termasuk Klowor. Pada kurun inilah, seperti saya singgung di atas, muncul banyak pergeseran kreatif pada karya-karyanya. Dan di ujung booming tersebut, perupa yang masuk di Program Studi Seni Lukis, Fakultas Seni Rupa ISI Yogyakarta tahun 1989 ini mampu merayakan dengan pameran tunggal yang dipresentasikan dengan cukup elegan. Kiranya itu sebuah “kemewahan” bagi seorang Klowor yang telah absen cukup lama dari peredaran dan hiruk-pikuk seni rupa Yogyakarta/Indonesia.



Pada tahun yang sama, 2011, pencapaian kreatif Klowor bertambah lagi. Lewat karyanya yang berjudul “Untuk Jogja”, namanya masuk jajaran teratas dalam Kompetisi Seni Lukis Nasional UOB BUANA PAINTING OF THE YEAR 2011. Pemenang utamanya (grand prize) adalah Gatot Indrajati, lewat karya bertajuk "Repacking". Sementara Tiga Terbaik di bawah Gatot ada: Angga Sukma Permana (lewat karya "Sign N. 1"), Klowor Waldiyono ("Untuk Jogja") dan Wahyu Gunawan ("Spirit Para Pejuang"), semuanya dari Yogyakarta.



Klowor menjadi perupa paling senior di antara keempat seniman pemenang tersebut. Pencapaian itu juga memberi penegasan bahwa upaya come back dari Klowor seperti disemangati oleh garis perubahan yang relatif signifikan secara kreatif sehingga memberi efek penting bagi dewan juri kompetisi itu untuk memenangkan karya Klowor di posisi yang terhormat. Lama tak muncul, langsung tampil di permukaan, dan masuk dalam level terpenting sebuah kompetisi nasional—apapun respon dan pro-kontra publik atas kompetisi seni rupa semacam itu.



Pertautan antara karyanya dalam kompetisi tersebut dengan beberapa karyanya pada pameran tunggal kali ini, sedikit banyak memiliki relasi yang cukup erat. Dari segi teknik, karya-karya terbaru Klowor memiliki tingkat craftsmanship sedikit lebih njelimet ketimbang karya-karya pada pameran tunggal sebelumnya. Ke-njelimet-an itu tampak pada garis-garis arsir warna yang banyak bertebar di sekitar subyek-subyek utama lukisan. Arsiran garis warna itu sekilas mengingatkan pada karya-karya Vincent van Gogh yang dibuat setelah pulang dari kunjungannya di Jepang. Ada keterpengaruhan dari seni grafis ala Jepang (ukiyo-e). Klowor sendiri mengaku bahwa ke-njelimet-annya itu sangat disadari akan memberi pengaruh artistik pada karyanya.



Ini bisa disimak, misalnya, pada karya “Festival Seni Borobudur”, 2013, (150 x 250 cm, akrilik di atas kanvas). Tergambarkan di situ sebuah citra kepala barongsai yang berarak pada sebuah karnaval. Di latar belakang nampak stupa Borobudur berdiri di titik sentral. Ada kecamuk berbagai visualitas seperti pepohonan, penjor, cecitraan manusia terbang, dan sebagainya. Kalau dicermati, nyaris semua subyek-obyek gambar tersebut “dikerubuti” oleh arsiran yang renik, rumit, dan kompleks. Kiranya, inilah titik beda yang hendak ditawarkan oleh klowor.



Di samping segi teknik, pada segi tema, anak almarhum Gatot Cokrowihardjo atau Joko Lelono ini juga menjanjikan pergeseran. Tak sangat kontras dengan karya-karya sebelumnya, memang, terutama yang terpajang dalam pameran tunggal “Siklus dan Sirkus Klowor”. Namun kali ini Klowor semakin membebaskan posisi sosok kucing. Kucing tidak lagi diberlakukan sebagai hewan apa adanya, atau manusia-manusia kucing yang berkeliaran dalam dunia fable, namun kanvasnya telah “miskin” dari sosok kucing atau manusia kucing. Ada namun tidak mengambil posisi yang signifikan, apalagi dominan. Kucing secara pelahan telah dikurangi terus porsinya dalam kanvas.



Maka, pameran ini menjadi menarik karena Klowor juga mengetengahkan sekian banyak lukisan lama berukuran kecil yang didominasi oleh sosok kucing yang tampil murni sebagai satwa. Ini seperti tarik-menarik antara sebuah pameran retrospektif kecil-kecilan, namun sekaligus seperti sebuah “perpisahan” Klowor dengan sosok kucing yang telah bertahun-tahun mengisi areal kanvasnya. Apakah ini kembali menjadi momentum bagi Klowor untuk melakukan “deklarasi estetik” yang dengan pelahan meninggalkan kucing dengan segala penggalian kreatifnya selama ini? Apakah Klowor ingin membebaskan proses kreatifnya dengan merambah sekian banyak tema dan teknik yang berkemungkinan mengayakan warna keseniannya? Tampaknya, Klowor meyakini bahwa masih banyak warna dunia yang bisa dieksplorasi dan kemudian digiring menuju bentangan kanvasnya. Klowor seperti berhasrat makin kuat masuk pada warna dunia yang penuh warna. Teruslah mengkilap warnamu, Klowor! ***



Kuss Indarto, penulis seni rupa, tinggal di Yogyakarta.

Friday, October 18, 2013

Kese(t)imbangan Manusia Masdibyo

oleh Kuss Indarto

[satu]: Kegaiban Pendapa 
SEMENJAK kecil, seniman Masdibyo sudah punya “kelainan”. Wajar kalau ketika beranjak remaja hingga dewasa, “kelainan-kelainan” yang berbeda pada bermunculan satu persatu, tentu dengan tingkat intensi yang berbeda. “Kelainan” saat kecil dirasakannya, terutama, ketika dia tinggal bersama pakdhe-budhenya yang menetap di Semarang. Masdibyo sendiri lahir di desa Mangunharjo, kecamatan Arjosari, Pacitan, Jawa Timur pada tanggal 7 September 1962. Menginjak usia empat tahun, pakdhe-budhenya menginginkan Dibyo kecil tinggal bersamanya. Di sana, Dibyo tinggal hingga kelas 4 sekolah dasar.

“Kelainan” yang dirasakannya saat masa kecil di Semarang adalah kemampuannya untuk berkomunikasi dengan makhlus halus. Tentu kemampuan itu tak disadarinya, hanya dirasakannya—dan diketahui beberapa orang dewasa di sekitarnya. Tak jarang, Dibyo bermain keluar rumah setelah pulang sekolah. Tujuan utamanya adalah bermain di sebuah pendapa tua yang tak jauh dari rumah saudaranya itu. Di sana, sudah ada dua sahabat yang belum lama di kenalnya namun mereka segera akrab. Namanya Nunuk dan Aput, masing-masing perempuan dan laki-laki. Di bawah teduhnya pendapa itulah mereka bertiga menghabiskan waktu berjam-jam untuk asyik bermain. Setelah puas, Dibyo pulang ke rumah pakdhenya.

Namun setiap kali Dibyo ditanya sepulang bermain, reaksi saudaranya selalu penuh keheranan, juga kecurigaan. Mereka merasa tak kenal anak-anak yang bernama Nunuk dan Aput, juga tak paham tentang pendapa yang dimaksudkannya. Hingga suatu siang ketika Dibyo asyik bermain, pakdhenya mendadak mendatanginya. Dibyo bukan di sebuah pendapa, namun tengah berada di ketinggian cabang sepokok pohon besar di kampung. Sendirian. Namun gelagatnya seperti tengah berkomunikasi dengan orang lain. Pakdhe-budhenya menganggap ada ketidakberesan, ada keanehan pada diri dan perilaku Dibyo. Maka, selanjutnya dia dicegah untuk tak lagi bermain di pohon besar dan wingit itu lagi. Karena pendapa juga sahabat bernama Nunuk dan Aput yang disebut oleh Dibyo sesungguhnya tidak pernah ada di dunia nyata! Mereka semua, dipastikan adalah bagian dari dunia gaib yang ada di kampung tersebut.

Dibyo tak merasakan bahwa dia indigo, atau jenis manusia yang punya kemampuan untuk melihat makhlus halus yang tidak kasat mata. Namun, kala itu, dia mampu merasakan betul getar kesamaan frekuensi psikologis ketika bergaul dengan sosok-sosok bernama Nunuk dan Aput. Bahkan saat sendirian di kamar, dia juga membangun kekariban dengan dua sahabat itu, ditambah sosok lain yang sama-sama tak kasat mata.

Namun pada perkembangan berikutnya, kemampuan tersebut lambat laun meluntur, dan Dibyo memang tak cukup tertarik untuk mengasahnya lebih lanjut. Dia hanya ingin mengalir begitu saja mengikuti “kelainan” itu. Toh, menurut pengakuannya, sesekali kemampuan itu kembali mampir dalam bentuk yang lain, yakni ketajamannya “mencium” gejala-gejala seseorang yang akan meninggal. Lelaki gondrong dan berkumis ini tak ingin secara terbuka dan detil mengisahkannya. Namun salah satu contoh yang dibeberkannya adalah saat menjelang ibundanya wafat tahun 2012 lalu. Setidaknya kurang dua hari, bahkan jauh-jauh hari sebelumnya, dia sudah menangkap sinyal akan peristiwa kehilangan ibundanya. Makanya, meski sang ibu yang tinggal di Pacitan, Jawa Timur harus dirawat jauh hingga di RS Bethesda, Yogyakarta, Dibyo rela menungguinya hingga wafat. Dialah satu-satunya anak dari sang ibu, hajjah Djoeriah Binti Soeratman, yang setia menunggui di hari-hari terakhir kehidupannya, bahkan hingga sebulanan di Yogyakarta. Dan di celah peristiwa itu, dia tak jarang menemui kejadian gaib yang mengiringinya, entah di RS Bethesda, atau di sekitar hotel Novotel tempatnya menginap.

***

[dua]: Keajaiban dari Keikhlasan


MESKI soal kegaiban yang potensial itu tidak “dipelihara” atau “ditajamkan” secara khusus, namun hal yang berkaitan dengan kekuatan-kekuatan di luar logika manusia selalu dipercayainya, yakni soal keajaiban. Dibyo meyakini keajaiban-keajaiban selalu akan datang mengiringi segala perkehidupan, entah dirinya sebagai manusia biasa maupun sebagai seniman dengan pergulatan kesenimanan yang penuh dinamika.

Dalam sebuah perbincangan, Dibyo mengisahkan kekuatan-kekuatan tangan Tuhan yang banyak berperan dalam membangun karier kesenimanannya. Pameran tunggalnya yang pertama di Balai Budaya Jakarta, Maret tahun 1990, (atau pameran tunggal ke-6 dalam biografi kesenimanannya), dikenangnya penuh dengan keajaiban. Kala itu dia sudah menikah dengan Endah, kawan KKN (Kuliah Kerja Nyata)-nya saat kuliah di Jurusan Seni Rupa, IKIP Surabaya. Anak pertama yang disayanginya pun sudah lahir: Putri Sukma Puspaningtyas.

Keberangkatannya menuju Jakarta dari Surabaya dilalui dengan kereta api. Teman duduknya seorang bapak yang mengaku berasal dari Aceh. Sayang Dibyo tak mengingat nama orang itu. Dari perbincangan berjam-jam di atas kereta tersebut, ada dua hal penting yang masih kuat mengerak dalam ingatannya: pertama, orang Aceh itu berpesan bahwa “Kalau engkau sayang pada istrimu, dia juga akan segera membalas kasih sayangmu. Kalau engkau sayang pada anakmu, Tuhanlah yang akan segera membalas kasih sayangmu.” Entahlah, kalimat sederhana itu seperti memiliki daya sihir kuat yang kemudian begitu menyemangati daya hidupnya. Hal kedua, Dibyo diberi secarik kertas oleh teman duduknya: sebuah kartu nama. “Kalau kamu ada masalah di Jakarta, silakan hubungi orang ini,” katanya. Dan kartu nama itu adalah kartu nama Edwin Rahardjo, pendiri dan pemilik Edwin’s Gallery.

Sesampai di Jakarta, dia serasa tengah menghadapi belantara ibukota yang siap “menelan” dan menyesatkannya kalau tak memiliki banyak persiapan dan kekuatan mental. Dibyo merasa beruntung karena sebelum pameran tunggalnya di Balai Budaya itu, beberapa kali kesempatan memnungkinkannya tidak canggung, bahkan cuek, untuk bertemu dengan para petinggi dan pesohor di tanah air. Maka, dengan yakin, sebelum acara pembukaan tiba, didatanginya kantor Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (P dan K) tempat Prof.Dr. Fuad Hasan berkantor. Upayanya langsung gagal karena sudah dicegat oleh seorang pegawai di front office yang tak mengijinkannya menemui sang Menteri yang peduli seni tersebut. Namun dengan berbagai akal, upaya Dibyo diulangi hingga berhasil. Dalam pertemuan tersebut, Fuad Hasan langsung berminat mengoleksi 3 karya lukisnya.

Meski berminat mengoleksi, sayangnya menteri Fuad tak bisa membuka pameran sesuai rencana. Fuad malah merekomendasi Soesilo Soedarman, Menteri Pariwisata, Pos, dan Telekomunikasi (Menparpostel) waktu itu sebagai pembuka pameran. Kehormatan itu akhirnya juga pupus setelah seorang pejabat utusan Soesilo Soedarman menemui Dibyo. Katanya, Pak Menteri tak bisa membuka pameran karena kesibukan dinas, dan diganti oleh pejabat di struktur bawahnya.

Dalam hari-hari menjelang pembukaan pameran tunggalnya itu, sebagai pemula dengan banyak keterbatasan, Dibyo mengaku tergencet oleh kekurangan. Siang itu, bekal uangnya betul-betul tipis. Dari situlah kartu nama yang diberikan oleh orang Aceh, teman duduknya saat di kereta, dimanfaatkannya.

Dengan naik taksi, Dibyo membawa album foto-foto karyanya menuju ke Edwin’s Gallery di Jalan Kemang Raya 25, Jakarta Selatan. Uang di dompetnya nyaris tak cukup untuk membayar taksi. Tapi dia harus nekat. Sesampainya di pintu gerbang halaman Edwin’s Gallery, taksi yang ditumpanginya terhalang oleh sebuah mobil mewah yang juga akan keluar melewati pintu yang sama. Mulut gerbang sempit. Maka Dibyo mengalah untuk turun dari taksi. Tanpa basa-basi, dia menanyakan pada pemilik mobil mewah yang akan keluar itu. “Pak Edwin ada?” tanyanya. “Ya, saya sendiri…” jawab sang pengendara mobil tersebut.

Maka, dengan cekatan perbincangan dimulai oleh Dibyo. Lalu album foto karya-karyanya disodorkannya. Tak lama, dalam hitungan beberapa menit saja, akhirnya Edwin Rahardjo memutuskan untuk minat dan mengoleksi 2 (dua) lukisan karya Masdibyo. “Harganya berapa,” Tanya Edwin. Pertanyaan mendasar itu malah membuat Dibyo gelagapan. Dia tak mampu menyebut angka yang menurutnya tepat. Akhirnya dia menyerahkan sepenuhnya pada Edwin. Pemilik galeri ini pun akhirnya memutuskan untuk memberi harga pada karya lukis Masdibyo yang ditawarkan kepadanya. Angka rupiah dituliskan pada sebalik foto karya, lalu diserahkan kembali pada Dibyo. “Tolong segera bereskan semuanya dengan bagian administrasi saya di kantor, ya. Aku tak bisa lama-lama karena masih ada urusan.”

Bagi Masdibyo, inilah keajaiban yang tak terpikirkannya. Dia menuju bagian kantor dari Edwin’s Gallery untuk menyampaikan maksudnya sesuai perintah Edwin, sang pemilik galeri. Dan, wah,  uang kontan Rp 4 juta untuk membayar dua lukisannya segera berpindah tangan. Dibyo merinding, lemas, dan tak percaya dengan keajaiban yang datang dinyananya. Urusan argo taksi sudah pasti bisa tertanggulangi. Urusan segala hal yang bertautan dengan persiapan pameran tunggalnya beres. Dan dari situ pula Dibyo bisa belajar, setidaknya tentang standar harga karya lukisannya agar lebih bisa diapresiasi dengan lebih memadai oleh publik. Maklum, sebelum keajaiban itu, harga karyanya baru menyentuh di angka Rp 500 ribu.

Akhirnya, pameran tunggalnya yang pertama di Jakarta itu berjalan sukses dalam pencapaian finansial. Dari 30 karya yang diboyongnya dari Surabaya, habis. Semua ludes “disikat” para kolektor. Mereka, para “penyikat” karyanya itu antara lain para pejabat yang direkomendasi oleh menteri Fuad Hasan, menteri Soesilo Soedarman, juga hasil rekomendas Edwin Rahardjo.

Pengalaman pameran tersebut dituliskannya dalam sebuah status Facebook pada 20 Desember 2011 pukul 08.42 WIB:

Maret 1990 :
Dengan bekal menjual cincin kawin kami berdua , aku pameran Tunggal VI ato Pameran Tunggal Pertama di Balai Budaya Jakarta.
Setelah melalui proses yg cukup nekat, aku mendapat suport dari Bang Edwin Raharjo/Edwin Gallery dan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Bapak Prof. Dr . Fuad Hassan . Lukisanku habis ludes semua laku !!
Dari situlah awal aku punya percaya diri membawa diri jadi pelukis hingga hari ini.


Permulaan dengan pencapaian pada pameran pertama di Jakarta itu menjadi tonggak penting bagi langkah-langkah berikutnya. Sekurang-kurangnya, pada tahun yang sama di bulan November, Masdibyo kembali berpameran tunggal di Balai Budaya. Tahun berikutnya, 1991, Masdibyo berpameran tunggal di Galeri Mon D├ęcor di Jalan Gunung Sahari, Jakarta. Menurutnya, kedua perhelatan tersebut juga sama-sama meraup sukses.

Langkah keberhasilan awalnya itu, menurut pengakuan Masdibyo, tak lepas dari peran sosok ibundanya yang karib disapa sebagai “sibu”. Kala itu, Dibyo memutuskan berhenti sebagai guru, sebagai pegawai negeri sipil (PNS) setelah direngkuhnya selama dua tahun. Langkah tersebut sempat ditentang oleh keluarga besar karena diduga akan berisiko bagi kelangsungan hidupnya di masa depan. Apalagi, “harga” untuk menjadi PNS tidaklah kecil karena harus merampungkan kuliah bertahun-tahun dengan biaya yang tak sedikit. Juga melewati masa pengabdian yang panjang. Masdibyo mengambil langkah besar itu dengan bantuan keyakinan dari sibu.

Dalam sebuah status di Facebook pada 20 Desember 2011 pukul 17.31 WIB Masdibyo menulis:

“Setelah aku Pameran Tunggal 5 X di Surabaya, januari 1989 aku pulang ke Pacitan :

" ibu,,, aku pulang ini mau minta ijin, aku lepas pekerjaanku sebagai guru, aku mau jadi pelukis saja, ibu mengijinkan ga ?? " .
Jawaban ibuku :
... " Kamu itu sarjana, kamu tentu tau mengapa memilih dan bagaimana resikonya,
dengarkan dan dingat-ingat ya,,,, seorang lelaki itu, kalo sudah berani pamit perang ke ibunya, bila terluka pantang menangis, bila kalah malu untuk pulang , berangkatlah kalo memang itu keputusanmu "

Sebelum aku balik ke Surabaya aku disuwuk dan dilangkahi ibu 3 X”

***

[3]: Lobi dan One Man Show


KESUKSESAN, pun cerita tentang kegetiran dalam rentang panjang perjalanan Masdibyo sebagai seniman terus hilir mudik seperti yang juga dialami oleh kebanyakan seniman dimanapun dan dari generasi kapanpun. Dan ukuran atau parameter kesuksesan seorang seniman juga tentu beragam, sesuai ketertarikan atau interest, atau kecenderungan garis “ideologi” kesenimanannya. Dalam perbincangan atau pewacanaan seni rupa di Indonesia, sejujurnya, sosok Masdibyo kurang banyak disebut-sebut namanya. Perhelatan-perhelatan penting seni rupa juga belum diikuti oleh seniman ini. Namun bukan pada titik itulah kemudian kita memberi penilaian sebuah kegagalan pada seorang seniman.

Titik-titik menarik pada masing-masing seniman tentu berbeda. Ini menjadi keunikan tersendiri. Dan sosok Masdibyo memiliki keunikan tersebut. Antara lain pada kemampuannya untuk melakukan komunikasi dan melobi (calon) kolektor karyanya. Banyak siasat komunikasi dilakukannya, termasuk mengeksplorasi kemampuan untuk “bersilat lidah” yang relatif bisa membantu bargaining position-nya sebagai “penjual”.

Misalnya, suatu ketika ada seorang kolektor yang menyaksikan pameran tunggalnya. Setelah berkeliling menyimak lukisan, orang tersebut mendekati Masdibyo dan bertanya sambil menudingkan tangannya di katalog, “lukisan ini, itu, dan ini berapa harganya?” Dengan enteng seniman yang ayah tiga anak ini menjawab dengan menyebut angka rupiah yang besar. Kolektor itu cukup kaget dan dengan sinis membilang, “Ah, angka segitu besar bisa buat beli rumah bagus tuh.” Dibyo pun menjawab dengan tak kalah sinisnya, “Yaahhh, lukisan saya memang untuk mereka yang sudah punya rumah. Kalau belum, ya jangan beli lukisan saya. Beli rumah dululah…” Sudah bisa dibayangkan kalau kolektor tersebut seperti ditampar “mahkota prestisenya”. Setelah itu dilobinya dengan baik-baik hingga sang kolektor merasa terhormat dengan mengoleksi lukisannya.

Di lain waktu, seniman yang kini menetap di Tuban, Jawa Timur ini kedatangan seorang selebritas muda Jakarta—artis sinetron Henky Kurniawan—yang ingin mengoleksi karya lukisnya. Peristiwa kecil ini dinarasikan secara sederhana sebagai status di media sosial Facebook yang diunggah pada 29 Oktober 2011, pukul 04:05 wib. Berikut petikannya:

"mas,, jauh2 dari jakarta cuma untuk lukisannya masdibyo lho,,, ini tadi kupikir dari Bandara ga jauh, ternyata dua jam lebih lho,,, dikasih ya tiga lukisan sekian,,, bajetku cuma ada sekian lho mas,,, plis dong,,,"
"GENGSI AH,, MOSOK SEORANG HENKY KURNIAWAN NAWAR??? GINI AJA DE,,, YANG ADA ITU DITRANSFER SEKARANG,, SISANYA SETELAH LUKISAN KUKIRIM, OK???"
"tega de masdibyo,,, kalo bukan karena istri hamil yg minta aku ga belain lho mas,,,"
"NAAAAAAH,, JUSTRU KARENA Si BABY YG MINTA ITU MESTINYA GENGSI DONG,,, BIAR PUTRANYA KELAK PUNYA GENGSI & SELERA YG BAIK".
"gitu ya???"
"YA IYA LAAAAAAAAAH"
"ya udah,, gini aja besok selasa aku transfer, aku dikasih bonus yg item-putih itu, kubawae sekarang ".

hahahahahahahaha,,,,,, akhirnya,,,,,

Beberapa teman dan kolega memberi sekian banyak contoh percakapan Masdibyo ketika menghadapi sekaligus melobi kolektornya, mulai dari yang unik, lucu, bahkan hingga yang mulai ngehek dan tengil. Apapun, praktik “bersilat lidah” untuk melobi dan meyakinkan (calon) kolektor ini sepertinya memang harus dilakukan dengan mendasarkan pada kondisi dan sikap berkeseniannya selama ini. Maksudnya, dari sekian banyak perhelatan pameran tunggal yang dilakukannya puluhan kali—bahkan ke-40 kali pada tahun 2013 ini—seniman ini banyak melakukannya sendiri dan relatif independen. Dia tak banyak bekerjasama dengan pihak galeri (komersial) yang kian banyak bertebar 15 tahunan terakhir. Dia juga bekerja sendiri tanpa bantuan EO (event organizer) atau art management yang mulai berderak muncul di pelataran dunia seni rupa.

Kondisi semacam inilah yang membuat Masdibyo mesti memutar otak dan bekerja keras (plus bekerja cerdas) untuk mmposisikan dirinya berperan dari hulu hingga hilir pada tiap perhelatan pameran tunggalnya. Misalnya dalam menyiapkan karya. Sebagai seniman, sudah barang pasti karya-karya disiapkan jauh-jauh hari. Figura juga mesti dipesannya di tempat yang paling baik yang sesuai seleranya. Meski tinggal di Tuban, Masdibyo memesan figura di Yogyakarta yang dianggapnya bagus, layak, dan memenuhi standar seleranya. Bahkan, tak jarang, untuk kasus tertentu, dia harus mengerjakan finishing-nya sendiri agar lebih baik.

Kemudian perihal pemilihan tempat berpameran. Pada beberapa kasus, seperti ketika berpameran tunggal di Bakrie Tower di Jakarta, seniman ini dengan sungguh-sungguh melobi dan meyakinkan agar bisa berpameran di tempat itu. Petinggi manajemennya “diberondong” dengan persuasi yang baik terus hingga takluk. Untuk tokoh pembuka pamerannya pun, Sekjen PDIP, Ir. Pramono Anung, dengan tak segan-segan Masdibyo melobi ke sekretarisnya di gedung DPR Senayan, hingga di rumahnya di bilangan Kemang. Dan berhasil. Untuk menyertai pameran, buku atau katalog yang serius disiapkan. Lagi-lagi, dia sendiri yang mengupayakannya sendiri hingga detil. Mulai dari pemilihan penulis hingga proses cetak, tak segan-segannya dia menunggui di percetakan demi kesempurnaannya.

Maka tak heran kalau menyimak proses yang dilakukannya ini Masdibyo bisa juga dengan ringan dan cekatan bekerja di tahap marketing atas karya lukisnya. Ini semua dikerjakannya nyaris secara “one man show”. Petikan status Facebook dan contoh lain di atas bisa menjadi celah kecil untuk melihat betapa bentuk dan teknik marketing ala Masdibyo selama ini cukup efektif menemui sasaran tembaknya.

***

[4]: Bukan Candradimuka


CARA kerja “one man show” ini seperti mengingatkan pepatah yang membilang bahwa “rajawali selalu terbang sendiri, sementara bebek selalu bergerombol.” Atau seniman legenda Jawa Timur/Surabaya, almarhum Amang Rachman pernah berujar bahwa “sing grudak-gruduk kuwi wedhus, sing ijen kuwi macan”. Pemerhati seni Jawa Timur, Henri Nurcahyo menganggap tak berlebihan juga kalau sosok Masdibyo kurang lebih seperti rajawali atau macan dalam dunia seni rupa di Jawa Timur.

Terminologi “rajawali” dan “macan” ini kiranya bisa bernilai plus dan minus. Sisi plusnya, rajawali atau macan bisa diduga menjadi patron yang layak diikuti jejak keteladanannya. Sisi minusnya, dalam jagat seni rupa yang kini penuh dengan kebutuhan untuk membangun jejaring kerja (networking) di segala lini dan di segala tahap, maka sosok rajawali dan macan sulit untuk diterima karena berisiko ketika melakukan kerja kolektif. Padahal kolektivitas inilah salah satu poin penting untuk merapikan infrastruktur dan suprastruktur seni rupa Indonesia yang masih compang-camping.

Masdibyo saya kira tahu persis risiko dari pilihannya untuk “terbang” sendiri: tak memiliki art group, atau komunitas seni yang dimungkinkan bisa menopang tabungan kreativitasnya, tak memiliki jalinan kerjasama profesional yang ketat dengan galeri atau art management manapun, juga tak memiliki jejaring kerja dengan lembaga berpengaruh apapun di luar dirinya. Fakta akan posisi seperti ini sebenarnya cukup disadarinya. Gelagat akan pentingnya menimba pengetahuan atau pengalaman lebih jauh perlu dilakukannya. Maka, sekitar tahun 2004, Masdibyo mengambil keputusan untuk menetap di Yogyakarta. Di kawasan dengan sekian banyak seniman penting dia mengontrak sebuah rumah. Targetnya jelas: ingin masuk di salah satu “pusat” seni rupa Indonesia sehingga nama dan nasibnya bisa jauh lebih baik.

Bayangan dirinya akan masuk dalam “kawah Candradimuka” yang bisa menggembleng laju kesenimanannya menjadi lebih baik, merupakan pengharapannya yang begitu besar. Suatu saat, ketika Dibyo mencoba meminta evaluasi atas karya-karya baru di rumah kontrakannya waktu itu, “gemblengan” oral telah masuk ke telinganya. Karya(-karya) barunya yang diperlihatkan kepada sahabat-sahabat perupa di Yogyakarta antara lain disebut sebagai “elek we durung” (jelek saja belum). Itulah kalimat ejekan bernuansa candaan yang sering berkelebat di antara para seniman Yogyakarta. Kalimat tersebut bahkan sering diucapkan oleh maestro H. Widayat ketika mengevaluasi karya-karya mahasiswanya di Fakultas Seni Rupa Institut Seni Indonesia (FSR ISI) Yogyakarta. Kejam namun melecut untuk maju bagi yang mendengarnya.

Namun Dibyo hanya bertahan kurang dari setengah tahun di Yogyakarta. Dia memutuskan angkat kaki dari Yogyakarta. Bukan karena ejekan di atas. Namun, pertama, dia “menemukan” seorang kolektor yang disebutnya “gila”, Edi Sugiri dari Bandung. Kolektor ini disebutnya sebagai orang yang memiliki pengaruh besar bagi sebagian proses kesenimanannya hingga sekarang. Di sisi lain, kedua, pengalamannya hidup dan mencoba menimba pengetahuan di Yogyakarta tidak menemukan titik temu yang diinginkannya. Seniman-seniman yang ditemui, menurutnya, kurang memberi inspirasi bagi proses pembelajarannya lebih lanjut. Hanya sosok seniman Sigit Santosa yang disebutnya sangat penting dalam membekali sistem pengetahuannya. Seniman itu, ujarnya, punya pembacaan yang lebih cerdas atas masalah-masalah dalam dunia seni rupa, antara lain karena ditopang oleh bacaannya yang banyak dan bermutu. Toh akhirnya suami Endah yang guru SMA 1 Tuban ini harus pergi dari Yogya. Entahlah, apakah kala itu Masdibyo terlalu sempit memilih komunitas yang dijadikan sebagai “ruang pertapaannya”, atau memang—lagi-lagi—dia betul-betul seorang lone ranger, atau sesosok one man show yang senantiasa asyik dengan kesendiriannya.

***

[5]: Gadget Aktualisasi


KESENDIRIAN—dan bukan kesepian—tampaknya yang membuat sosok Masdibyo menemukan aktualisasi diri dan proses kreatifnya dengan baik. Dalam soal berkesenian, sekian banyak karya lahir dari tangannya dalam keheningan kesendiriannya. Dia bukan tipe pelukis on the spot yang sering mempraktikkan melukis model, misalnya, di luar ruang—apalagi beramai-ramai.

Sementara pada dimensi kemanusiawian, seniman ini seperti ingin tetap menjadi bagian penting dari sebuah kebersamaan berikut percik-percik eksistensi yang terus diuar-uarkannya. Kesendirian ini kemudian menemukan kekentalannya pada diri Masdibyo ketika teknologi informasi makin maju dan merebak kehadirannya di seluruh kisi jagad. Gadget menjadi perangkat penting untuk orang yang sepertinya ingin terus menyendiri namun berhasrat tetap diketahui kehadirannya, dan suara-suara batinnya.

Telepon seluler dengan kemampuannya untuk mengirim pesan pendek telah dimanfaatkan betul oleh Masdibyo untuk mengabarkan ke sebanyak mungkin kenalan, sahabat, dan relasinya atas apa yang terjadi pada dirinya. Pemerhati seni Henri Nurcahyo termasuk salah seorang yang rajin dikirimi SMS “aneh-aneh”. Suatu ketika dia tiba-tiba menerima SMS yang berbunyi: “Hen, rejekiku pancen apik, selama di Bandung aku selalu sempatkan nyeket-nyeket dengan areng, jadi kemana-mana bawa buku sket, setelah penuh, ini tadi sambil ngobrol ama kolektor spontan aku tunjukin sket-sketku, tau ga, sket dalam kondisi masih dibuku, 40 lembar dibeli Rp 100 juta !! Aku seperti mimpi !! Salam, “masdibyo”. (Sayang Henri lupa kapan SMS itu diterimanya).

Saya sendiri juga sesekali menerima SMS yang “mengejutkan” dari Masdibyo. Contohnya SMS yang saya terima tanggal 7 Juni 2013, pukul 12.57 WIB: “Kolektor edan !! Uang 2M diberikan chas !! Hahahahaha,,,, gemeter aku menerimanya mas !! Biasane kan transfer. Untung BNI ga jauh dari kantornya. Hahahaha,,, kampreeeet !! Uji nyali !!” SMS seperti ini, bagi saya, memberikan gambaran bahwa problem eksistensi bagi seseorang, terlebih sebagai seniman, memang diperlukan untuk mengaktualisasikan diri di tengah-tengah pergaulan sosialnya. Bahwa kehadiran fisik untuk konteks waktu sekarang ini tak lagi menjadi mutlak karena pesan/SMS tersebut telah menjadi representasi yang sahih. Beberapa hari berikutnya kebetulan saya juga bertemu langsung dengan Masdibyo dan mencoba mengonfirmasi pesan tersebut. Maka dengan detil diungkapkannya segala hal-ihwal yang berkait dengan uang kontan Rp 2 miliyar tersebut.

Pada perkembangan berikutnya, teknologi informasi, terutama internet, juga menyediakan ruang yang lebih terbuka, luas namun intim untuk ajang sosialisasi—termasuk bagi mereka yang dianggap penyuka kesendirian atau bahkan yang terkategorikan asosial. Media itu bernama Facebook, sebuah jejaring sosial yang sangat popular, apalagi di Indonesia yang sebagian besar penduduknya terbilang cerewet dan suka “ngerumpi”.

Masdibyo seperti menemukan ruang yang paling representatif untuk mempublikasikan setiap “tarikan nafas” yang dilakukannya. Tiap hari, selama berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun, wall dari akun Facebook-nya selalu dipenuhi oleh status atau foto yang diunggahnya. Tak jarang, dalam sehari dia bisa mengunggah 10 status, bahkan lebih. Content-nya bisa tema apapun sesuai dengan hal yang tengah “mengganggu” pikiran dan hatinya. Dan cara penyampainnya cenderung lugas, kadang keras, tanpa tedheng aling-aling. Contoh-contoh di bagian atas dari tulisan ini bisa menjadi cerminan. Atau beberapa ungkapan atau komentarnya yang keras seperti tentang seniman yang melukis dengan cara melakukan retouch atas karya digital print:

11 Juni 2011:
“Pelukis sekarang banyak yang jadi PENINDAS !! maksudnya :
obyek yg mau dilukis di PRINT dikanvas, lalu DITINDAS dengan cat . Panteeeees bocah durung iso sisi lukisan realise kok maut-maut tenan,,,, diamput, ketipu aku. Hehe,,,,,
www.ndomblong.co.id”

Tak kalah kerasnya lagi, pada satu kesempatan lain seniman dengan tiga anak putri yang telah beranjak dewasa ini berujar pada 22 Oktober 2011:

“PAMERAN SENI RUPA SEKARANG INI, TERLALU BOMBASTIS DENGAN TEMA, DI ELIT2KAN BIAR KELIATAN INTELEK, TAPI KENYATAANNYA SENIMANNYA NDESO, NGOMONGNYA NGAWUR, GA JELAS,,, WEH JIAN,,,,
kepada teman2 yg belum telanjur kena sindrom seakan-akan itu, tampilah biasa aja,, wajar wajar aja,, lebih baik setelah liat karya anda apresian terkesan dengan kejujuran anda, dari pada kecewa ato bahkan mencibir karena KECELE.,,,
salam damai.”

Dan di balik “kebrutalan” ungkapannya yang disampaikan secara terbuka ini, sesekali dia kepakkan sayap-sayap kebaikannya. Mungkin bisa dibilang sebagai sebuah kepongahan, mungkin juga sekadar “berita” kecil yang baginya pantas untuk di-share. Siapa tahu ini akan inspiratif bagi orang lain dan berniat untuk menirunya:

28 April 2013:
“PAK SLAMET sopir taksi Blue Bird , karena beliau ingin merasakan pake sepatu Kickers, kebetulan nomor sepatunya sama dengan kakiku, sepatu Kickers yg kupake kulepas kuberikan bersama kaos kakinya • Saking senengnya, ditengah jalan minta tolong seseorang untuk foto bareng aku . Hahhaha,,,,, mohon diterima dengan syukur pak ya ?? Salam damai dan banyak rejeki pak !!”

Apapun, Masdibyo adalah manusia biasa. Kelembutan dan kekerasan, kegalakan dan kesantunan, selalu menyertai dalam satu kesatuan yang saling integral. Selalu ada kese(t)imbangan di alamnya. Termasuk dalam menyikapi dunia seni, agama, politik, cinta, atau apapun. ***

Kuss Indarto, penulis seni rupa.

(Catatan ini dimuat dalam buku yang mengiringi pameran tunggal Masdibyo, Life in Concert, di Wisma Bakrie, Oktober 2013)

Thursday, September 19, 2013

Pemerintah DIY Akan Dirikan Akademi Komunitas


 
Koran Tempo, Rabu, 18 September 2013 | 05:30 WIB
Pemerintah DIY Akan Dirikan Akademi Komunitas
 
TEMPO.CO, Yogyakarta--Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta akan mendirikan Akademi Komunitas, sebuah lembaga pendidikan tingkat Diploma di bidang seni dan budaya. "Sudah dibahas dengan Dirjen Dikti," kata Gubernur DIY Sultan Hamengku Buwono X dalam dialog bersama seniman dan budayawan di kantor Dinas Kebudayaan, Selasa 17 September 2013.
 
Pendirian lembaga pendidikan ini akan dibiayai dengan dana keistimewaan. Sebesar 70-80 persen dari dana keistimewaan memang dialokasikan untuk bidang kebudayaan. Lulusan sekolah, direcanakan setingkat dengan D1. "Syukur-syukur bisa naik D2," kata dia.Nantinya, lanjut dia, mahasiswa akademi adalah lulusan pendidikan setingkat SMA. Lulusan sekolah yang tak mampu kuliah karena keterbatasan biaya juga bisa mendaftar di sekolah ini secara gratis. Asal punya ketrampilan bidang seni-budaya dan kerajinan serta memiiliki minat besar untuk belajar.
 
Selain itu, para perajin -batik dan gamelan misalnya- yang tak lagi usia sekolah juga bisa mendaftar sebagai siswa. Sehingga mereka bisa mendapat sertifikat diploma sebagai pengakuan atas keahliannya. "Kalau punya (sertifikat) D1 semoga honor mereka bisa naik," kata dia.
 
Untuk menyiapkan program kebudayaan, Sultan menunjuk staf ahlinya di bidang seni budaya, Sumandyo Hadi. Dosen ISI Yogyakarta itu sekaligus diperbantukan di Dinas Kebudayaan untuk membantu persiapan mendirikan Akademi Komunitas. Untuk kurikulum pendidikan di Akademi, Sultan berpesan agar lebih mengutamakan praktek dibanding teori.
 
Koordinator Perguruan Tinggi Swasta Wilayah V DIY Bambang Supriyadi mengatakan Akademi Komunitas berstatus lembaga pendidikan swasta. "Bukan negeri," kata dia. Untuk mengelolahnya, pemerintah harus membentuk yayasan. Semula 60 persen dari kurikulumnya akan diisi dengan praktek. Dan sisanya, 40 persen teori. Tapi prosentase itu kemungkinan besar akan diubah menjadi 75 persen praktek dan 25 persen teori.
 
Ada sejumlah program studi yang ditawarkan. Yakni seni tari, kriya, pedalangan, teater, dan karawitan. Di dalam program studi ini bisa dimasukkan minat pada bidang yang lebih khusus. Misalnya konsentrasi tari tradisional klasik dan kerakyatan di program seni tari. Meski demikian, kelima program itu belum final. Akademi bisa memilih beberapa di antaranya saja.
 
Ia mengatakan syarat calon mahasiswa harus lulusan SMA bisa jadi hambatan pendaftaran. Namun, untuk calon mahasiswa yang tak mengantongi ijazah SMA/MA tetap bisa mendaftar dengan sertifikat kelulusan Kejar Paket C.
 
Menurut dia, tahun 2013 ini adalah tahapan persiapan Akademi. Tahun berikutnya, pada 2014 adalah pendirian sekaligus mulai operasional angkatan pertama, 2014/2015. Pendirian akademi akan melibatkan sejumlah kalangan, dari pemerintah, SMKI, pusat kerajinan, hingga sanggar dan padepokan milik seniman. Sehingga di tahap awal pengoperasin, proses belajar-mengajar bisa dilakukan di sanggar dan padepokan tersebut. Adapun kantor rektorat, bisa jadi menggunakan kantor atau bangunan milik pemerintah DIY.
 
Kurator Seni Lukis Kuss Indarto menilai program itu cukup bagus. Namun ia mengingatkan agar pemerintah tak terjebak pada sikap formalis dalam memperlakukan seniman dan budayawan. Untuk seniman tradisional, standarisasi keahlian melalui sertifikat lulusan akademi mungkin diperlukan. Namun untuk seniman profesional, misalnya Butet Kertaredjasa, dinilainya justru tak tepat. "Butet itu lulusan SMA, tapi dia seniman nasional," kata dia.
 
Sejumlah seniman, sambung dia, memang tak lulus kuliah. Namun kini, banyak dari mereka yang menggelar banyak pameran. Dari di dalam hingga luar negeri. Kalau standarisasi akademis itu diberlakukan, ia menilai, "Ini kayak (kebijakan) Dikbud dulu, seniman harus bersertifikat."
 
Ia mengatakan sebaiknya pemerintah juga memperhatikan dan mendukung proses kreatif seniman. Di Yogyakarta, setidaknya ada 150 hingga 200 even pameran yang digelar saban tahun. Baik berskala besar hingga kecil, dari yang digelar di galeri hingga kos-kosan.
 
Banyak di antara pameran itu digelar dengan modal pas-pasan serta cekak dukungan pemerintah. Sebut saja Bienalle Jogja, dengan dana pameran yang dibutuhkan hingga Rp 3,5 milyar, dukungan pemerintah hanya Rp 500 juta saja. Sebaiknya, pemerintah pun mengalokasikan dana lebih besar untuk membantu pameran-pameran seperti itu.
 
ANANG ZAKARIA
 
Diambil dari: http://www.tempo.co/read/news/2013/09/18/079514283/Pemerintah-DIY-Akan-Dirikan-Akademi-Komunitas

Monday, September 16, 2013

Aja Dumeh: Belajar pada Tanda-tanda



Oleh Kuss indarto 

[satu] 

MARSEKAL Muda (Marsda) Sudjadijono, Kol. (purn.) H. Totok Sudarto, dan Ki Djoko Pekik, saya kira, hadir pada pameran ini dalam kapasitas masing-masing, dan tak bisa serta-merta “disatukan” satu sama lain. Artinya, ada sejarah, titik berangkat, dan orientasi yang berbeda satu sama lain dalam memandang dan masuk di dunia seni (rupa).

Dua nama pertama memiliki latar belakang pendidikan militer (angkatan udara), meniti karier militer hingga di level perwira tinggi. Sudjadijono yang hendak memasuki masa pensiun beberapa pekan mendatang, kini menyandang pangkat perwira tinggi dengan bintang dua di pundaknya, dan menjadi salah satu orang penting di Mabes TNI. Sedang Totok Sudarto meminta pensiun dini ketika karier militer merangsek terus hingga berpangkat kolonel untuk kemudian berganti haluan menjadi pejabat politik, yakni wakil bupati, di lingkungan birokrasi kabupaten Bantul. Sementara nama pamungkas, Ki Djoko Pekik—yang pernah mengenyam pengalaman kelam karena militer—menempati level tinggi dalam reputasi kesenimanannya yang telah dibangun sekurang-kurangnya dalam setengah abad. Pendakuan publik atas pencapaian dan prestasinya dalam jagad seni rupa telah melewati jalur akademik dan jalur pengakuan secara sosial.

Dunia seni rupa memang menjadi ruang yang relatif cukup demokratis untuk bisa dimasuki siapa saja, kapan saja, dalam situasi apapun. Dia juga berkemungkinan menjadi ruang bebas untuk mengonstruksi sesuatu bagi siapa saja. Sebagai pilihan profesi, seni rupa telah mampu dijadikan sandaran oleh sekian banyak orang untuk ditapaki dengan segala perolehan dan pencapaian. Tapi justru di sinilah titik menarik dunia seni rupa. Dia bisa dengan relatif mudah dimasuki oleh seseorang yang antusias menggeluti, namun tidak dengan mudah seseorang bisa “menjadi” dan mendapat pengakuan yang “sah” di dalam dunia seni rupa.

Ini berbeda, misalnya, dengan memasuki karier di dunia kedokteran. Seseorang memang wajib melakukan studi penuh di fakultas kedokteran hingga tuntas secara akademis untuk mampu disebut sebagai sarjana kedokteran. Lalu menempuh prasarat berikutnya dengan menjadi co-ast dan seterusnya, maka setelah itu layaklah seseorang menyandang label diri sebagai dokter. Bahkan tak jarang gelar akademik ini menempel terus-menerus meski yang bersangkutan tak lagi melakukan praktik medis seperti yang telah standar dilakukan oleh seorang dokter.

Lain dengan dunia seni rupa. Meski telah “diilmukan” seiring dengan perkembangan Rasionalisme yang awalnya terjadi di Barat beberapa abad lalu, dunia seni rupa banyak menemukan kontradiksi yang menarik. Seni rupa “diilmukan”, “dinalarkan” dan ada sekolahnya. Seseorang bisa menjadi mahasiswa seni rupa hingga ke strata akademik paling tinggi, yakni di level doktor (S-3). Namun selepas itu tidak secara otomatis orang tersebut mampu bekerja di dunia seni rupa (misalnya melukis) dengan label sebagai seniman. Jalur akademis telah berhenti sekadar menjadikan seseorang menjadi sarjana seni (rupa), namun tidak serta-merta memberi label seniman. Seniman lebih sebagai label yang dikonstruksi secara sosial, bukan akademik. Bahkan, dalam dunia seni rupa hari ini, sadar atau tak sadar, diakui atau tidak, ada semacam penjenjangan yang diterapkan dalam penyebutan istilah untuk mengonstruksi sebuah “hierakhi sosial” dalam seni rupa.

Misalnya ada istilah tukang gambar, pelukis, dan perupa (yang lazim pada penyebutan bagi mereka yang bekerja dengan praktik berkarya di seni rupa). Di sini, kata “perupa” seolah menjadi agung karena dia diandaikan bekerja di lingkup estetik dan artistik yang mengelola dunia-gagasan jauh melampaui dunia-bentuk. Artinya, tak hanya melukis (misalnya, bila media ungkapnya seni lukis) namun juga mengelola dunia pemikiran demi kelangsungan karyanya yang konseptual. Sementara kata “pelukis” seolah mengacu pada seseorang yang melakukan praktik melukis dengan lebih banyak penekanannya pada dunia-bentuk ketimbang dunia-gagasan. Dan akhirnya, kata-kata “tukang gambar” seperti mengisyaratkan kondisi seseorang yang melakukan praktik di dunia seni rupa karena ada pihak lain yang lebih kuat yang menyubordinasi posisinya kreatifnya.

Ini, bisa jadi, sekadar asumsi, rumour, atau apapun namanya, namun pada sebagian kalangan di dunia seni rupa sangat mungkin terjadi dan teralami. Orang yang telah lulus sebagai sarjana seni (rupa), lalu menggeluti dunia lukis-melukis, dan itu telah menjadi pilihan hidup dan profesinya, belum tentu juga dikatakan sebagai pelukis bila yang dikerjakan sekadar “karya” yang mereproduksi citra rupa tertentu secara terus-menerus. Orang yang bekerja dengan dunia lukis(an) dan mampu menciptakan gagasan dan isu yang kuat pada karyanya tersebut, dan bla-bla-bla, maka dia kemudian disebut oleh publik seni sebagai perupa. Situasi ini bergantung pada hal-hal yang kompleks: dengan siapa, dimana, dan bersama isu apa dia berkarya. Sulit dirumuskan secara matematis dan eksak. Semuanya sangat bergantung pada konstruksi sosial yang melingkupi.

Maka, sebagai pelepasan atas kerumitan itu, catatan yang tidak dihasratkan sebagai sebuah catatan kuratorial ini, mencoba memberi sedikit eksplanasi atas ketiga orang yang tengah memamerkan karya ini dengan lebih menekankan pada aspek histori personal, dan tidak terlalu masuk pada praktik kekaryaannya. Ini penting karena sosok Sudjadijono dan Totok Sudarto saya kira tak akan memusingkan diri dengan situasi yang terjadi berkait dengan peristilahan “tukang gambar”, pelukis” dan “perupa” yang kompleks tersebut. Mereka berdua bukanlah pribadi yang berhasrat kuat masuk dalam lingkaran tertentu di dunia seni rupa. Apalagi menyerobot posisi-posisi, atau agen tertentu. Bukan. Mereka adalah para pehobi seni yang ingin menuntaskan problem dunia-dalamnya (inner-world) dengan mengekspresikan diri lewat lukisan. Tidak lebih. 

[dua] 

DUNIA-DALAM dari sosok Totok Sudarto penuh kompleksitas. Bahkan sejak usia remaja. Setidaknya, dalam pengakuannya, ada masa-masa kritis secara psikologis yang dialami yang kemudian mengantarkan dirinya mengambil keputusan-keputusan besar, penting, dan bahkan kontrovesial. Setidaknya bagi dirinya sendiri. Bahkan mungkin bagi orang di sekitarnya. Misalnya, keputusannya untuk masuk di dunia militer (angkatan udara) hingga lulus pada tahun 1977, merupakan langkah pribadinya yang cukup berseberangan dengan keluarga. Ayah-ibunya sebenarnya menghendaki dirinya untuk meneruskan usaha keluarga di lahan agro-bisnis yang telah dirintis puluan tahun. Bahkan sudah secara turun-termurun. Dalam kalkulasi ekonomi, pilihannya untuk masuk di jalur profesi militer jelas jauh dari kondisi ekonomi keluarganya terdahulu yang begitu baik. Pilihan sudah dijatuhkan, nasib baik harus disusun dan diupayakan. Dengan masuk di Akabri Udara, jenjang nasib baik bisa diharapkan.

Keputusan besar dalam hidupnya pun kembali ditorehkan pada tahun 1999, ketika karir militernya sudah dilakoni hingga tahun ke-22. Saat itu, pangkat kolonel udara sudah singgah dengan anggun di pundaknya. Posisinya masuk pada bagian yang “basah” secara ekonomi, yakni di bagian logistik yang banyak diincar. Peluang kariernya masih berpotensi besar untuk meniti di jenjang yang lebih tinggi lagi. Minimal bintang satu sangat berpotensi hinggap di pundak sebelum mengakhiri kemiliterannya menuju masa pensiun. Totok tak betah di situ. Dia ingin mengabikan kemampuannya di lahan yang berbeda, jalur politik di sipil.

Maka, mengundurkan dirilah dia untuk kemudian “bertarung” di kabupaten Bantul sebagai calon wakil bupati yang kala itu dia berpasangan dengan Idham Samawi. Bahkan menurutnya, peluang untuk dirinya sebagai calon bupati (bukan wakil bupati) juga ada karena partai politik yang mencalonkan sebenarnya juga mengarah ke situ. Namun situasi belum sangat mendukung. Apalagi waktu itu, pascareformasi 1998 semangat anti-militer sangat kuat di seantero negeri ini. Terlebih lagi bagi warga Bantul, yang sebelumnya memiliki bupati militer, Sri Roso Sudarmo (seorang kolonel angkatan darat), yang melakukan blunder dengan membuat kasus besar, yakni kasus pembunuhan Udin (wartawan harian Bernas), yang hingga sekarang menjadi dark number, kasus yang (di)gelap(kan). Singkat cerita, tahun 2000 Totok masuk di dunia politik dan birokrasi sipil sebagai wakil bupati Bantul.

Kontroversi (personal) berlanjut. Masa jabatan pasangan bupati dan wakil bupati yang seharusnya diemban hingga tahun 2005, tak berlangsung mulus. Pasangan itu seperti “pecah kongsi”. Sang kolonel seperti dengan mudah melepaskan diri dari ikatan jabatan itu di tengah jalan pada tahun 2003. Ini sebuah keputusan besar bagi dirinya, juga tentu di mata publik. Pasalnya, sudah menjadi perkara lazim bahwa pasangan pemimpin tidak jarang akan menemu situasi yang konfliktual. Ada kalanya mereka menyembunyikan begitu rapat situasi tersebut. Dan bapak kolonel ini, tampaknya, tak perlu penyimpan situasi psikologis yang menekannya. Maka, mundurlah sebagai pilihan. Dalam konteks ini, kita tak melihat sisi benar dan salahnya. Namun keputusan untuk mundur dengan mudah (dan seperti melepas begitu saja) kursi yang banyak diincar orang, tentu sebuah keputusan yang jarang ditemui. Sebagai contoh gigantik dalam dunia perpolitikan di Indonesia, tentu publik ingat dengan keputusan mundur dari seorang Mochammad Hatta yang lengser dari posisi jabatan Wakil Presiden. Demikian juga dengan Sri Sultan Hamengkubuwono IX sekitar tahun 1977. Sekali lagi, keputusan mundur ini tak bisa hanya dibaca dalam konteks posisi mereka (atau Totok Sudarto) yang benar atau tidak benar. Melainkan bahwa ada kondisi kebesaran dan kelapangan hati yang berani diungkapkan untuk melepaskan jaring-jaring (kursi) kekuasaan yang biasanya sangat menghauskan bagi banyak kalangan.

Tentu, ini perkara mental. Mental untuk tidak selalu menghalalkan segala cara demi kelanggenagn kekuasaannya. Dan yang penting, mental untuk menerima situasi dan keadaan yang berbeda secara drastis. Laki-laki berdarah Madura ini mengalaminya dengan berusaha tetap teguh. Tahun 1999 masih berpangkat kolonel aktif, tahun 2000 menjadi wakil bupati yang seharusnya hingga 2005, bahkan berpeluang meneruskan kekuasaan untuk satu periode berikutnya hingga 2010. Tapi Totok harus menghentikan secara tiba-tiba keadaan itu di tengah jalan. Dan dengan mental yang nampak terlatih, post power syndrome tak begitu hinggap di dirinya. Barangkali ungkapan Napoleon Bonaparte, Bapak Revolusi Perancis itu, bahwa “dari keadaan penuh kemuliaan menuju kehina-dinaan bisa hanya selangkah saja” cukup dipelajarinya. Dan Totok bisa lepas dari “kehina-dinaan” hanya karena berusaha memeluk erat kekuasaan yang mungkin sudah “bukan lagi miliknya”. Situasi ini sudah dengan gampang diterimanya. Bahkan, sebenarnya, saat masih berpangkat mayor pun, Totok sempat berniat mundur dari jalur militer. Namun sang istri masih mampu mencegahnya.

Termasuk mencegah dari minat dan niat Totok dalam melukis. Ini klangenan lama yang telah ada dan berpotensi ada dalam diri Totok. Mungkin tak terlalu menonjol, namun selalu ada dan menggoda Totok untuk mengekspresikannya. Saat masih menjadi wakil bupati, sekitar tahun 2002, bahkan Totok mengundang sekian banyak seniman Bantul untuk mengadakan pameran lukisan di rumah dinasnya. Ala itu, ada Ki Djoko Pekik, Nurkholis, dan sekian banyak seniman lain yang terlibat dalam perhelatan tersebut. Lukisan karya Totok juga ada di dalamnya, sebagai bagian penting dari hasratnya di dunia seni rupa.

Dan jauh sebelum itu, kala masih menjadi karbol atau taruna angkatan udara di Adisucipto, Yogyakarta, Totok Sudarto telah mengakrabi hal-hal yang berbau dengan artistik visual sebagai cakupan hasrat, minat dan keinginannya. Misalnya, dia acap kali menjadi salah satu tim artistik dalam acara-acara internal di akademinya. Bahkan, penerbitan regular yang dimiliki oleh lembaga akademinya, dia selalu terlibat sebagai “penata artistik”, tentu dengan kapasitas yang khas di dunia militer. Bersama Totok, ada teman seangkatannya yang juga karib dan selalu berkutat di wilayah artistik itu, yakni Sudjadijono yang lazim dikaribi rekan-rekannya dengan panggilan “Jack”.

Jack sendiri, yang berdarah asli Yogyakarta, memiliki darah seni yang mengalir dalam garis keturunannya. Sang ayah sangat fasih menggambar dan melukis wayang kulit purwa. Lingkungan dekatnya sangat kondusif bagi talenta yang terpendam dalam dirinya: menggemari dunia seni (rupa). Maka, tak heran, sempat pula dia mendaftarkan diri dan masuk sebagai siswa SSRI (Sekolah Seni Rupa Indonesia) Yogyakarta sekitar tahun 1972-73. Namun minat dan tuntutan lain yang lebih besar mengalahkan itu. Apalagi waktu itu pilihan untuk menjadi seniman belumlah jadi alternatif yang sangat berprospek baik. Haluan pun segera diubah. Jack segera masuk SMA 3 Yogyakarta, dan kemudian berkarier di dunia militer, persisnya angkatan udara. Kariernya bahkan dimulai dari nol puthul karena waktu itu mendaftar dengan ijazah dari lembaga pendidikan yang lebih rendah. Setelah beberapa tahun, Jack langsung ambil keputusan untuk menjalani jalur akademi militer angkatan udara.

Ada kesetiaan yang kuat baginya untuk melakoni diri sebagai prajurit. Ada tuntutan yang besar baginya untuk membawa dan menjaga citra diri dan keluarganya dengan berdisiplin pada pilihan profesi dan karier militernya. Kalau kemudian Jack dapat melampaui sekian banyak persoalan dan kukuh di jalur militer hingga menempatkan bintang dua di pundaknya, itulah buah kesetiaan dan keseriusannya sebagai prajurit.

Dan beberapa karya yang dibuat dan dipamerkan kali ini seperti menguatkan prinsip dan filosofinya sebagai prajurit yang bersetia dengan lembaga yang dibelanya. Ada sosok-sosok Hanoman pada beberapa karyanya itu. Dalam dunia pewayangan di Jawa, tokoh Hanoman merupakan representasi sosok prajurit yang senantiasa berani tampil pertama dan di depan kala yudha (perang) terjadi. Tokoh Hanoman pulalah yang digambarkan sebagai tokoh paling tua, lahir relatif lebih dulu ketimbang lainnya. Ini mengarahkan pada pemahaman serta pengandaian bahwa dirinya seolah menjadi salah satu “hanoman” yang loyal terhadap komunitas yang membesarkannya, pada korps yang menghidupinya.

Dunia-dalam Jack memang tak jauh dari dunia seni tradisi. Keinginannya untuk masuk sekolah di SSRI dulu tentu juga ingin menjadi bagian dari hasrat untuk merawat talenta personalnya yang ada. Kini, di sela-sela kesibukannya sebagai perwira tinggi di Mabes TNI yang sangat padat, tetap diagendakannya untuk melukis. Wayang menjadi subyek utama pilihan visualnya. Dan menjelang pensiun, bangunan rumah megah telah didirikannya pada sebuah kampong tak jauh dari jalur utama Yogyakarta-Wonosari. Ingatan masa kecilnya tak bisa diceraikan begitu saja: gamelan. Ada seperangkat gamelan lengkap di sana, pun dengan tim nayaga yang siap menabuh kala Jack tengah berkunjung di rumah tersebut. Demikian juga dengan tim musik keroncong yang relatif komplit. Ini menjadi bagian dari memori personal masa lalunya yang kembali dihadirkan untuk menghubungkan dengan masa kini dan masa depannya yang segera mendekat. Masa pensiun yang jauh dari post power syndrome tentu akan membahagiakannya tatkal bergelut dengan akrab bersama jagad seni. 

[tiga] 

Lalu, di tengah sosok Totok Sudarto dan Sudjadijono, Ki Djoko Pekik mendampingi pameran ini. Bukankah seniman Lekra ini mengalami salah satu masa kelam dalam hidupnya ketika berhadapan dengan militer, khususnya angkatan darat?

Inilah salah satu titik penting dari hadirnya pameran ini. Dan inilah buah indah dari sikap legawa, sikap lega lila, kelapangdadaan seorang Djoko Pekik yang mampu mengatasi noktah hitam masa lalunya dengan bergabung pada pameran ini. Juga sebaliknya, bagi Totok Sudarto dan Sudjadijono, mereka tak hendak mewarisi kesumat institusionalnya di masa lalu. Melainkan justru memberi tauladan yang bijak dan dewasa untuk duduk bersanding dalam kebersamaan. Sebagai ritus sosial, inilah contoh konkret—meski kecil—untuk diingatkan kepada publik bahwa bangsa ini bisa didewasakan dengan praktik hidup bersama dalam level psikologis setara. Tak ada mantan wakil bupati, tak ada jenderal, tak ada seniman cemerlang yang mesti mempertontonkan kepongahannya masing-masing dalam satu forum. Tapi mencoba mengurai persoalan dalam spirit kebersamaan akan memberi warna lebih dalam sebuah pameran.

Publik tentu tahu persis bagaimana narasi personal Pekik yang telah acap kali dimediasikan di berbagai forum, media dan kesempatan mengenai masa lalunya. Sebagai seniman aktivis Lekra (Lembaga Kebudayaan Rakyat) yang dianggap sebagai onderbouw PKI (Partai Komunis Indonesia), dirinya termasuk salah satu dari sekian banyak Lekra-is yang diincar oleh militer setelah kejatuhan Soekarno. Dia masuk di benteng Vredeburg yang kala itu diposisikan sebagai panjara bagi para tahana politik. Tak ada proses pengadilan atas dirinya hingga dia dikeluarkan beberapa tahun kemudian. Masa-masa kelam di Vredeburg itu, diakuinya dalam sebuah kesempatan, menempatkan dirinya seperti seekor binatang. Dia dengan sangat gampang dikenai hukuman yang sangat memberatkan tanpa dia tahu persis apa kesalahannya. Sepatu lars yang keras dan beberapa bagiannya runcing, kerap sekali menghunjam kaki, tangan, dada hingga kepalanya. Bogem mentah yang keras acap kali menyodok kesadarannya sebagai orang yang bernalar dan bernurani untuk tidak merawatnya sebagai sebuah kesumat yang dalam. Apalagi ditularkan pada anak-cucunya. Dia berusaha tidak dendam, meski tidak sedikit rekan-rekannya yang terbunuh dengan sia-sia dan lewat modus yang mengenaskan.

Pekik berusaha untuk melapangkan kedewasaannya dengan, salah satunya, menganggap bahwa selamatnya dia dari kematian barangkali juga dari niat (meski sedikit) dari komandan CPM waktu itu, Mus Bagyo. Tentu ada sebabnya. Mus Bagyo adalah salah satu perwira yang hadir dalam pelantikan taruna AMN di Magelang sebelum Soekarno dijatuhkan kekuasaannya oleh Soeharto. Pada kesempatan itu, setelah tahu bahwa kekuasaannya sudah hampir habis, Soekarno sempat berbicara kepada Mus Bagyo. Boeng Besar itu dengan tegas menitipkan nasib para seniman Lekra yang dipenjara untuk jangan dihabisi. “Kalau menciptakan insinyur itu mudah. Tinggal disekolahkan, maka luluslah ia menjadi seorang insinyur. Tapi kalau menciptakan seorang seniman itu jauh lebih sulit. Dia tak hanya sekolah, tapi harus melewati proses yang terlatih dan lama!” begitu kira-kira pesan Boeng Karno kepada Mus Bagyo.

Kita tak bisa memastikan secara persis apakah pesan Boeng Karno itu didengar penuh oleh Mus Bagyo dan diterapkan di lapangan. Namun kalau Pekik mengandaikan bahwa lepasnya dia dari kematian dengan kaitannya pesan Boeng Karno itu, saya kira, itulah sebuah titik kedewasaan seorang Pekik yang sempat “dibinatangkan” untuk mendaku sisi baik manusia lainnya.

Bertahun-tahun nasib hidupnya sulit karena dipenjara secara sosial lantaran menjadi seorang tapol. Ini menguatkan dirinya sebagai seniman dengan pencapaian dan kualitas karyanya yang mumpuni. “Berburu Celeng”, karyanya besarnya yang diciptakan dan dipamerkan secara tunggal tahun 1998 lalu telah menempatkan diri seniman lulusan Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI) Yogyakarta ini sebagai seniman dengan karya yang kuat setidaknya dalam dua dasawarsa ini. Bukan karena harga karya tersebut yang menyentuh angka Rp 1 milyar, namun lebih karena nilai sosial-kulturalnya yang tinggi berkait dengan konteks waktu yang sangat tepat dalam menghadirkan gagasan visual pada kurun tersebut.

Akhirnya, kalau Sudjadijono, Totok Sudarto, dan Ki Djoko Pekik bertemu dalam satu ruang dan forum kali ini, tentu ada banyak nilai ekstra-estetika yang menyembul darinya. Publik tentu bisa membaca lebih cermat dan cerdas atas pameran ini. Lalu di dataran filosofis, kalau kemudian perhelatan ini diikat dalam tajuk “Aja Dumeh”, spirit filsafat Jawa itu terasa kuat dan bisa dibaca lebih dalam secara bersama. “Aja Dumeh” (jangan mentang-mentang) menjadi kontekstual untuk menelusuri situasi sosial mutakhir. Dari perspektif Sudjadijono yang jendral berbintang dua aktif, kita bisa memberi tafsir bahwa “kita jangan mentang-mentang berkuasa lalu tidak mau turun ke bawah dan duduk bersama”. Dari sisi Ki Djoko Pekik, publik bisa mengandaikan tafsir bahwa “kita jangan mentang-mentang dengan kebintangan sebagai seniman yang kemudian serta-merta menciptakan jarak terhadap ruang sosial dan penghuninya yang selama ini turut mendukung proses kebintangannya”. Dan dari sisi Totok Sudarto, publik diandaikan bisa belajar untuk “jangan mentang-mentang (pernah) memiliki pengaruh, kekuasaan, dan pangelaman, maka tidak mau belajar banyak pada sesamanya”.

Memang, pameran ini seperti memberi pelajaran penting sebagai homo politicon (mahluk social) bagi publik yang mau singgah, menyimak, dan membaca tanda-tanda atas perhelatan ini. Selamat membaca tanda! *** 

Kuss Indarto, penulis seni rupa.

(Tulisan ini dimuat dalam katalog pameran "Aja Dumeh", 2010, dengan seniman Totok Sudarto, Sudjadijono, dan Djoko Pekik)