Thursday, May 28, 2015

Politisi Digantung


KALAU sempat mengunjungi Rijkmuseum, Amsterdam, Belanda, Anda/kita bisa menyimak salah satu lukisan yang vulgar, sadis, dan mengerikan, yakni karya seniman Jan de Baen (1633-1702). Lukisan itu menggambarkan dua tubuh manusia yang tergantung pada sebuah tiang pancang berbentuk tangga, dengan kaki terikat di atas, kepala di bawah, dengan kondisi perut yang telah terkoyak hingga bolong.

Dua sosok itu dikisahkan sebagai kakak beradik, Johann dan Cornelis de Witt bersaudara. Keduanya adalah politisi yang berpengaruh di Belanda pada abad 16. Tahun 1672, masa ketika mereka masuk pada puncak kekuasaan, terjadi banyak kasus yang memaksa de Witt bersaudara harus bertanggung jawab. Setelah mengalami berbagai pergolakan dan tekanan, akhirnya, oleh para lawan politiknya kakak beradik itu dihabisi di tiang gantungan, di kawasan Groene Zoodje, The Hague, dan disaksikan oleh khalayak sebagai layaknya sebuah tontonan.

Lukisan ini nyaris tanpa eufemisme visual. Penggambarannya apa adanya hingga memberikan teror dan kesan sadisme yang sangat kental. Untuk konteks waktu itu, mungkin karya semacam ini bisa mengabarkan sebuah pesan penting bagi para politisi yang sembrono ketika mengemban amanat rakyat. Karya ini bisa menjadi artefak dokumentasi (visual) penting tentang dinamika sosial politik yang pernah terjadi 3,5 abad lalu. ada hukum yang telah dibuat di Belanda, namun tampaknya juga ada "hukum rimba" yang dipraktikkan oleh sekelompok kalangan di tanah yang sama. ***

Saturday, May 16, 2015

Nyali


ANAK muda yang masih terlihat culun itu--mungkin sekitar 17-19 tahun--tampak menghampiriku untuk meminta bantuan. Hanya satu kata yang kupahami darinya: "Guangzhou". Ya, itu nama kota di daratan China. Selebihnya, dia mencoba berkomunikasi dengan bahasa Mandarin, Hoakiau, atau apalah aku tak tahu. Kutanya dalam bahasa Inggris, namun dia tak paham sama sekali. Tak secuil pun.

Secarik kertas disodorkannya, berupa tanda booking tiket pesawat yang harus ditukarkannya di loket. Dan untuk urusan itu pun dia tak tahu harus bagaimana. Di Kuala Lumpur International Airport (KLIA) yang luas dan megah itu, anak muda tersebut kubimbing ke loket untuk menukarkan tiket. Tentu dengan bahasa tarzan. Akhirnya kami berpisah ketika dia mendapatkan tiket dan dibimbing oleh petugas yang sebahasa dengannya.
Bagiku, ada yang "ajaib" dengan anak muda itu: (1) dia berani bepergian ribuan kilometer dari daerahnya tanpa kemampuan bahasa internasional sedikit pun, dan (2) dia terlihat disiplin karena--setelah aku cek di tiketnya--dia telah tiba sekitar 3 jam sebelum jadwal terbang.

Selalu ada jalan lempang untuk niat yang lapang. Anak muda "bingung" itu telah memberiku pelajaran penting tentang nyali. ***

Friday, May 01, 2015

Narkoba dan Bapak Tua



"Kok sekarang banyak orang pinter, tapi lupa pakai 'roso' (rasa, perasaan) ya, mas?" ungkap seorang bapak yang tampak mulai rapuh tubuhnya. Kami tak sengaja bertemu di sebuah warung angkringan di pinggir jalan.

"Lha kenapa to, pak?"tanyaku balik, sembari nyeruput teh manis.

"Mosok menghukum mati dianggap bodoh, salah total, dan ketinggalan jaman!" seru si bapak sembari makan nasi kucing dengan lahap.

"Lha kenapa to, pak?" tanyaku hati-hati.

"Belum pernah sih orang-orang pinter itu merasakan seperti saya. Saya sudah hampir 60 tahun, seharusnya sudah banyak santai di rumah, melihat anak-anak hidup nyaman, momong cucu, atau reunian dengan teman lama. Tapi malah sebaliknya," si bapak mulai curhat.

"Memangnya ada apa to, pak?" lagi-lagi, aku harus hati-hati.

"Ya, anak saya tiga, hancur semua hidupnya karena narkoba! Anak pertama yang memulai sebagai pemakai lalu pengedar. Adiknya lalu ketularan. Seluruh kebaikan yang saya tanamkan dan ajarkan sejak kecil, hilang dipengaruhi orang luar yang mengiming-imingi narkoba dan uang..."

Aku mulai paham duduk perkaranya.

"Anak ketiga, perempuan, kawin dengan bandar narkoba kecil-kecilan yang adalah juga teman kakak-kakaknya. Tapi mereka cerai setelah suaminya ditangkap dan dipenjara. Anak pertama saya juga sempat ditangkap dan dipenjara beberapa bulan. Anak nomer dua lolos, tapi hidupnya seperti tidak aman dan nyaman."

"Terus, perkembangannya sekarang gimana, pak?" tanyaku.

"Hidup kami seperti mandeg. Saya dan istri sudah menua, tapi harus tetap bekerja keras hanya untuk makan. Masih untung kami masih punya rumah. Tapi, anak-anak kami seperti seperti tak berkembang. Bahkan makan pun sering menumpang kami yang sudah tua bangka. Mereka hidup, tapi tidak memberi kehidupan bagi kami, lahir dan batin. Mereka terlihat sehat, tapi kurang menyehatkan jiwa dan raga kami sebagai orang tua yang punya harapan besar akan kehidupan mereka yang lebih baik. Mereka sekilas terlihat baik, tapi kurang bisa membawa nama baik keluarga, lahir dan batin," tutur si bapak sembari menyeka air mata.

Teh manis coba kuteguk, tapi seperti tercekat di tenggorokan.

"Coba, mas, sampeyan apa tidak panas hati ketika anak-anak kami sudah tak banyak memiliki masa depannya sendiri, tapi orang-orang yang menjerumuskannya masih bisa bebas. Tertawa. Mungkin mereka pernah ketangkap, tapi dengan mudah sudah bisa keluar bebas dan mencari anak-anak muda lain untuk bekerja padanya jadi kurir atau apalah namanya."

Saya kesulitan untuk berkomentar.

"Maaf ya, mas, saya pamit. Mau kerja serabutan lagi, biar besok saya dan istri bisa makan. Saya orang bodoh yang tak bisa bicara seperti orang-orang itu. Tapi saya hanya punya "roso", perasaan. Saya masih gagal untuk bisa menobatkan anak-anak saya. Apa para orang tua bandar narkoba itu juga gagal menobatkan anaknya ya? Apa orang-orang pinter itu bisa menobatkan juga?"

Si bapak berlalu bersama sepeda motor tua dan bututnya. Aku hanya bisa diam. Semoga masih ada harapan untuk kebaikan keluarga panjenengan, nggih pak!

(Maaf, kali ini aku tidak akan komen balik. Prei)