Friday, December 18, 2009

COMMEMORATION




Keterangan foto: (dari atas) karya Heri Dono, Wassily Kandinsky, dan Hans Hartung.


* Pameran Koleksi Galeri Nasional Indonesia
17 Des 2009 s/d 10 Jan 2010
Catatan oleh Kuss Indarto
Perhelatan pameran ini sepenuhnya merupakan eksposisi atas karya koleksi Galeri Nasional Indonesia (GNI). Hanya sekitar 2,5 persen karya diketengahkan dari sekitar 1.770 karya yang kini dimiliki oleh GNI. Berangkat dari aspek kuantitas tersebut, pameran ini mencoba merepresentasikan bagian kecil dari potongan penampang sejarah pengoleksian karya di dalam GNI.

Publik barangkali bisa bersepaham bahwa pameran ini, kiranya, merupakan sebuah “tanda peringatan” atau “kenangan” untuk membaca kembali rentetan karya koleksi yang dimiliki Galeri Nasional Indonesia. Ada karya-karya penting perupa dunia yang layak untuk diapresiasi kembali, berikut dugaan publik atas pengaruh karya-karya tersebut dalam khasanah seni rupa di dunia, termasuk Indonesia. Ada pula rentetan karya yang menjadi penanda penting atas bangkitnya upaya (semacam) “gerakan internasionalisme” tatkala negara-negara di kawasan Asia-Afrika (luar Amerika Serikat dan Eropa) mencoba merebut peran-peran dan posisi yang potensial dimiliki, yang selama ini didominasi oleh Barat. Dan kemudian, banyak karya yang mengetengahkan gairah perupa Indonesia dengan segala dinamika kreatifnya. Penampang kecil dari kecenderungan tersebut sedikit banyak terbaca dalam pameran “Commemoration” ini.

Pameran ini direncanakan akan mengeksposisikan sekitar 41 karya yang terdiri dari lukisan, print making, tapestry, dan patung. Koleksi karya itu berasal dari beberapa kesempatan, yakni hibah karya seniman Perancis kepada Indonesia tahun 1959. Kala itu, para seniman Perancis, melalui pemerintahnya, menyerahkan karya-karya lukisan dan litografi (print-making) kepada Kementrian Penerangan Indonesia.

Dan dari sana kemudian dilimpahkan kepada Museum Nasional. Ada 163 karya seni rupa yang dihibahkan waktu itu. Di antaranya terdapat karya Wassily Kandinsky, Victor Vassarely, Hans Hartung, Hans Arp, Sonia Delaunay, hingga seniman China yang sempat bermukim di Perancis, yakni Zao Wou Ki, dan masih banyak lagi. Hibah tersebut atas prakarsa Ilen Surianegara, pejabat Atase Pers dan Urusan Kebudayaan Republik Indonesia di Perancis waktu itu.

Kemudian juga ada hibah 29 karya pasca-pameran Contemporary Art of the Non-Aligned Countries tahun 1995 yang berlangsung di GNI (waktu itu bernama Gedung Pameran Seni Rupa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan/Depdikbud). Perhelatan tersebut merupakan tonggak penting dalam orbit seni rupa Indonesia di kecamuk kompetisi seni rupa di dunia internasional. Inilah pencapaian yang fenomenal bagi public seni rupa dalam menyelenggaraka pameran seni rupa internasional terbesar pertama yang terjadi di Indonesia

Tak semua karya hasil hibah yang sebegitu banyak itu digelar secara keseluruhan. Kami memilihnya menurut kerangka pandang kami atas reputasi, pembacaan atas pencapaian estetik dan nilai historik masing-masing karya tersebut. Maka, karya-karya yang akan dipamerkan merupakan karya seniman yang telah karib dalam ingatan atas sejarah seni rupa modern dunia, seperti karya Wassily Kandinsky, Hans Hartung, Hans Arp, Sonia Delaunay, Victor Vassarely hingga Zao Wou Ki. Juga karya seniman dari negara-negara “dunia ketiga” seperti Evrain Vidal (Peru), Radiane Alioune (Senegal), Belkis Ayon (Kuba), dan Reddy G. Ravinder (India).

Di samping karya-karya tersebut, juga ada sekumpulan karya koleksi yang berasal dari seniman dalam negeri. Ini merupakan perkembangan lebih lanjut dari kebijakan Galeri Nasional Indonesia yang mencoba untuk mengakomodasi kebutuhan publik untuk mengumpulkan para seniman Indonesia yang telah bergerak menginternasional.

Publik tentu telah paham bahwa tidak sedikit seniman atau perupa Indonesia yang menancapkan reputasinya di fora internasional. Sebut misalnya Heri Dono, Dadang Christanto, Entang Wiharso, Nasirun, Eddie Hara, dan segudang nama lain yang terus mengorbit di lingkar luar tanah air. Karya-karya dari para seniman inilah yang tengah menjadi hasrat Galeri Nasional Indonesia untuk dikoleksi. Sehingga, kelak, publik bisa menikmatinya kembali karya-karya tersebut karena lembaga ini memiliki ruang publik yang menyediakan diri untuk diakses dan dinikmati.

Gelaran puluhan karya koleksi ini, sudah barang pasti, belum bisa merepresentasikan secara utuh penampang kepemilikan GNI dalam mengoleksi karya seni rupa. Juga belum bisa ditandai lebih jauh sebagai bagian penting dari representasi perjalanan proses pengoleksian karya seni rupa oleh GNI.

Publik bisa membuat legitimasi sosial bahwa masih ada lembaga lain yang ternyata telah berperan sebagai “kompetitor” sekaligus “partner” dalam kemampuannya yang lebih kuat dalam kepemilikan kapital untuk melakukan praktik pengoleksian karya secara lebih komprehensif. Ini tak bisa dihindari. Dan di sinilah sebenarnya titik penting perbincangan, yang bisa diletupkan lewat pameran ini, bahwa publik (termasuk seniman) bisa mengedepankan peran dan posisi yang lebih besar lagi bagi terdorongnya GNI untuk menjalankan fungsi-fungsi sosialnya, yakni (antara lain) melakukan proses pengolkesian karya. Memang, ini merupakan tanggung jawab negara. Namun, partisipasi publik teramat besar pengaruhnya untuk bisa dioptimalkan lebih lanjut.

Pameran Commemoration, siapa tahu, bisa memberi penyadaran bersama untuk memfungsikan GNI secara lebih lengkap. Semoga! []

Thursday, December 03, 2009

Pameran Pathway di Bangkok, Thailand






25 November 2009, duta besar RI untuk Thailand, Mohammad Hatta, membuka pameran Pathway, di Galeri Nasional Bangkok. Ini adalah program pameran karya koleksi Galeri Nasional Indonesia di Thailand. Ada 18 karya lukis dan grafis yang dibawa dari Indonesia dan digabung dengan 4 karya perupa (koleksi Galeri Nasional) Thailand. Dari Indonesia ada karya S. Soedjojono, Affandi, Mochtar Apin, Soeromo, dan sebaginya.

Setelah melihat keadaan Galeri Nasional Thailand, sebenanya Indonesia bisa sedikit berbangga. Fasilitas gedung Galeri Nasional Indonesia jauh lebih megah, besar dan lengkap ketimbang Thailand. Karya koleksipun juga lebih kaya Indonesia. Namun, soal kebersihan dan perawatanlah yang barangkali Negeri Gajah Putih itu lebih unggul. Ya, ini baru kesan sekilas.

Karya seniman Indonesiapun relatif lebih jauh berkembang dibanding seniman Thailand. Setidaknya penilaian ini terlihat dari karya yang terpampang dalam ruang pameran kemarin. Dan memang dari kecenderungan yang berkembang dewasa ini, nama-nama perupa Indonesia lebih cukup terbilang mengemuka di fora internasional, meski tentu dengan banyak keterbatasan dan beberapa pengecualian. Misalnya, ada nama Rirkrit T, seniman asal Thailand yang banyak muncul di event bergengsi di Barat. Kitapun punya Heri Dono yang telah menjadi seniman kosmopolitan yang hinggap di berbagai event internasional.

Semoga saja pamerna antar-galeri nasional ini mampu punya manfaat yang banyak ke depan. Semoga!