Friday, September 25, 2015

Karya Seni Rupa (di Ruang) Publik



Oleh Kuss Indarto

MALAM itu, 9 Juli 2015, sekitar pukul 21.31 wib, saya mem-posting sebuah status di dinding akun Facebook saya, yang isinya sebagai berikut:

MASUKAN UNTUK MASBRO Timbul Raharjo:

Tanpa mengurangi rasa banggamu ya, bung Timbul, ada yg ingin kutanyakan. Ini sebenarnya karya indoor yang dipaksa untuk di-outdoor-kan, atau memang karya outdoor yang sudah dipersiapkan sebagai karya di ruang publik terbuka? Kalau menyimak karya patung kudamu yang pakai egrang, tampaknya itu memang karya yg biasa di ruang galeri yang manis-manis lalu "diperkosa" untuk diseret di ruang publik.

Apa itu salah? Kalau menilik panjenengan yang seorang akademisi seni rupa, dan sering pergi keluar negeri, ya, itu salah. Tidak menarik. Dan maaf: norak! Sebagai akademisi idealnya sih anda bisa memberi contoh yang ciamik tentang presentasi sebuah karya di ruang publik.

Kalau sebuah karya disiapkan sebagai karya di ruang publik, ya buatlah dari material yang memang kuat, konstruksi dasarnya pengkuh/kuat, ketebalan logamnya meyakinkan, bukan perca-perca logam yang "thik-pril" (dipegang langsung patah/hancur).

Dan karya anda di depan setapsiung Tugu ini terlihat banget kalau menyembunyikan kelemahan materialnya dengan diberi egrang. Patung kuda ber-egrang. Itu kurang indah, dan sebagai seniman, tampaknya anda kurang menguji kekuatan karya sendiri. Dari situ juga kelihatan bahwa karya anda seperti "dijauhkan dalam kedekatannya dengan publik". Ketoke cedhak ning adoh.

Cobalah, siapkan karya yang betul-betul inklusif dan bisa dipeluk hangat oleh publik. Bukan karya yang seolah-olah inklusif tapi sebenarnya tidak bisa dipegang dengan erat, tak bisa "digajul" dengan mesra dan diberi banyak larangan untuk mengakrabinya.

Jadi, bung Timbul, maaf yo, karya patung kudamu kok gagah kalau dipasang di ruang tamu, bukan di ruang publik seperti di setapsiung Tugu yg gagah itu. Rasah nesu yo. Nesu mulih! Hahaha.

Posting-an provokatif itu, tak pelak, langsung direspons dengan cukup gegap-gempita. Hingga sebulan kemudian, tercatat ada data like lebih dari 450 dan komentar lebih dari 500 buah. Di luar dugaan, dalam beberapa perbincangan banyak seniman di Yogyakarta—yang saya temui pada banyak pembukaan pameran seni rupa—problem tersebut menjadi tema perbincangan yang cukup hangat, bahkan panas.

Tanpa berupaya untuk lebih jauh mendramatisasi persoalan, saya ingin mengemukakan bahwa kemunculan status seperti itu tidak hanya berasal dari saya, namun juga dari perupa Agung Kurniawan, dan beberapa seniman lain namun dengan kemasan dan pembahasaan yang lebih eufemistik sehingga tidak banyak direspons. Problem utamanya setara, bahwa kehadiran banyak karya seni rupa di ruang publik di Yogyakarta—terutama yang ditempatkan di kawasan jalan Malioboro dan jalan A. Yani yang strategis, memuat banyak masalah. Memang tidak semuanya. Di samping masalah artistik yang secara “naïf” saya sampaikan dalam status di atas, juga ada problem lain. Untuk karya patung Timbul Raharjo yang ditempatkan persis di atas trotoar di depan halaman stasiun Tugu Yogyakarta itu, misalnya, ada masalah hukum yang dilanggar. Ini kalau mengacu pada Perda No. 5 Tahun 2004, yang secara tegas disebut pada pasal 17 ayat 1 yang berbunyi: “Setiap orang dilarang menggunakan trotoar selain untuk kepentingan pejalan kaki dan kepentingan darurat”. Hal yang melekat dengan pasal itu juga dikaitkan sebagai pola “sebab-akibat” pada pasal 2 yang ditulis bahwa: “Setiap pejalan kaki wajib berjalan pada tempat yang telah disediakan yaitu trotoar atau bahu jalan sisi kiri jika tidak terdapat trotoar”. Artinya, setiap pejalan kaki wajib berjalan di trotoar, dan dengan demikian trotoar tidak boleh dimanfaatkan untuk keperluan yang mengganggu kepentingan pejalan kaki. Maka, pada titik inilah karya seni seperti yang dipasang oleh Timbul Raharjo sudah salah tempat secara hukum. 

Seni Rupa Publik, Seni Rupa di Ruang Publik 

Dari kasus itu juga kita kemudian bisa kembali menyoal problem yang mendasar tentang definisi public art. Ada banyak pandangan tentang definisi public art, namun pada prinsipnya tidak semua karya seni yang ditemukan atau ditempatkan di ruang publik dapat disebut sebagai public art. Public art dapat didefinisikan sebagai seni yang secara khusus diciptakan untuk dapat dirasakan dan memberikan pengalaman dalam ranah publik, di luar galeri, museum atau venue seni indoor. Seperti halnya seni yang dapat ditemukan di dalam galeri dan museum, public art menawarkan respon terhadap masalah fisik, budaya, sosial, dan masalah lingkungan. Public Art juga harus cukup kuat untuk menahan lingkungan fisik dimana public art tersebut ditempatkan.

Dalam buku Public Art in Philadelphia, Penny Balkin Bach (1992) mencatat bahwa public art bukanlah seni “bentuk”. Public Art dapat berukuran besar atau kecil, dapat berupa menara atau dapat berupa hal-hal menarik  perhatian yang ada pada paving tempat oang-orang berjalan. Public art dapat berwujud apapun: abstrak, realistis, maupun keduanya, yang dibuat dari material apapun—terutama logam yang kuat—yang dieksekusi dengan cara dicor, diukir, dibangun, dirakit, ataupun dicat. Public art dapat berupa bentuk-bentuk yang sesuai dengan konteks lingkungan maupun kontras dengan lingkungan sekitarnya. Yang membedakannya yaitu adanya penggabungan yang unik dari cara membuat, lokasi, dan makna dari public art itu sendiri. Public art dimungkinkan mampu mengekspresikan nilai-nilai dalam masyarakat (community values), menambah kualitas lingkungan, mengubah lanskap, meningkatkan kesadaran kita, maupun memberi pertanyaan atas asumsi kita. Karya seni rupa publik diidealkan bisa diletakkan di ruang publik yang dapat diakses oleh semua orang dan merupakan bentuk dari gabungan ekspresi masyarakat. Karya public art juga diimajinasikan sebagai refleksi dari cara kita memandang dunia, cara seniman menanggapi sebuah zaman, dan suatu tempat yang bergabung dengan pemahaman kita terhadap diri sendiri.

Lalu, siapakah masyarakat yang bisa menikmati public art? Inilah problem mendasar lain karena dalam masyarakat pasti memiliki interpretasi yang beragam, sehingga tidak semua karya seni dapat memberi daya tarik bagi semua orang. Seni dapat menarik perhatian, itulah yang mesti diagendakan—terutama oleh kalangan seniman. Dulu, public art menyebabkan kontroversi. Pendapat umum yang bervariasi tidak dapat dihindari dan itu menjadi tanda yang baik bahwa sebuah karya seni, dalam hal ini public art, diidealkan mempertimbangkan konteks lingkungan tempat dimana karya tersebut hendak diposisikan. Maka, kehadiran karya public art sebaiknya tidak dihadirkan secara sewenang-wenang oleh seniman tanpa memperhatikan konteks ruang dan waktu yang ada. Apakah karya itu punya konteks dengan ruang dimana karya itu dihadirkan, baik dalam konteks kesejarahan terhadap ruang, konteks sosial, politik atau yang lainnya? 

Bertalian dengan pertanyaan di atas, yakni karena menyangkut perihal konteks dan kelak menjadi konsumsi publik, maka setiap proyek public art diharapkan menjadi sebuah proses interaktif yang melibatkan sebanyak mungkin pihak yang bersinggungan dengan hal itu, yakni (tentu saja) seniman, kurator seni rupa, arsitek, desainer, planolog, tidak menutup kemungkinan sejarawan dan antropolog, warga masyarakat, tokoh masyarakat, politisi, lembaga pendanaan, dan tim konstruksi serta pihak pengelola kota/daerah yang antara lain memiliki otoritas sebagai lembaga perijinan. 

Public art merupakan bagian dari sejarah, bagian dari budaya yang berkembang, dan bagian dari memori kolektif kita. Public art mencerminkan dan memperlihatkan kondisi masyarakat dan menambah nilai dari suatu kota. Seni ini merupakan bagian tak terpisahkan dari sejarah masyarakat dan evolusi budaya yang terjadi di dalamnya. Keberadaan public art dapat memanusiakan lingkungan yang ada dan menyegarkan ruang publik. Karya public art yang dibuat secara apik akan mampu menjadi cermin dan semangat perkembangan masyarakat dari masa ke masa. Hasil karya dari para seniman public art akan menjadi cermin kronologi pengalaman yang dialami masyarakat.

Dari factor-faktor yang menjadi pertimbangan tadi, lalu, apakah secara kebentukan sebuah karya public art itu berupa patung? Tentu tidak, karena karya seni rupa publik itu eksekusi kebentukanannya bisa beragam. Dia bisa berupa karya patung—baik yang gigantik ataupun berukuran standar, bisa pula mural, hingga benda-benda yang sangat fungsional semacam street furniture, dan sebagainya. Karya-karya tersebut, setidaknya bisa ditengarai atau diduga dalam lima tipe public art, yakni: (a) Integrated Public Art, yakni karya yang memanfaatkan nilai historis dari suatu lokasi, serta memanfaatkan budaya dan keadaan sosial yang membuat karya public art menjadi bagian dari masyarakat; (b) Semi Integrated Public Art, karya yang memanfaatkan lokasi peletakan public art sebagai kumpulan inspirasi, namun hubungan antara public art dengan lokasi tersebut tidak eksklusif, sehingga bagian-bagian lain dari public art tersebut dapat berada di lokasi yang berbeda serta tetap berkorelasi secara fisik dan konseptual; (c) Discrete Public Art, karya yang tidak terintegrasi dengan lokasi tertentu dan tidak memiliki ketergantungan secara fisik dan konseptual pada lokasi tertentu; (d) Community art, karya  fokus pada sistem kepercayaan masyarakat, dan ini biasanya memiliki komunitas berbasis desain yang memungkinkan masyarakat untuk mengekspresikan tujuan atau masalahnya; serta (e) Ephemeral public art, yakni karya temporer yang didesain secara khusus untuk perhelatan tertentu, dan peletakannya hanya bersifat sementara. 

Pemahaman-pemahaman itu tentu saja masih mendasar, dan sangat mungkin berkembang mengikuti konteks-konteks yang bersinggungan dengannya. Paling tidak, karya public art yang ditempatkan di ruang publik sudah pasti akan berbeda konteks, perlakuan dan sistem penempatannya dibanding dengan karya yang sekadar dirancang sebagai karya dalam ruang (indoor). Pada titik inilah seorang seniman sebaiknya memiliki sistem pengetahuan yang bisa membaca ulang karyanya. Bukan sekadar melontarkan kenaifan semisal “karya itu adalah anak kandung saya”, namun sesungguhnya malah seperti melempar “anak kandung” ke kebun binatang. Tentu itu aksi ceroboh dan membahayakan. *** 

Kuss Indarto, kurator seni rupa. 

(Tulisan ini telah dimuat di majalah seni rupa Sarasvati, edisi September 2015)


Tuesday, September 15, 2015

Beragam, Finalis Kompetisi Seni Lukis UOB 2015

Agus Dermawan T., salah satu anggota dewan juri kompetisi seni lukis UOB 2015, sedang memeriksa foto-foto karya para seniman peserta kompetisi. (foto: kuss indarto)

SEBANYAK 50 karya seni rupa dua dimensi (lukisan) terpilih masuk finalis dalam kompetisi seni lukis yang diadakan oleh Bank UOB, atau yang lebih dikenal dengan tajuk UOB Painting of the Year 2015. Lima puluh karya itu terpilah dalam dua kategori, yakni 36 karya terpilih sebagai finalis dalam kategori seniman professional, dan 14 lainnya terpilah dalam kategori seniman pendatang baru. Semua itu merupakan hasil seleksi yang dilakukan pada hari Senin, 14 September 2015 di kantor UOB, Jalan Thamrin, Jakarta. Tim dewan juri terdiri dari tiga orang, yakni Agus Dermawan T. (kritikus dan penulis buku seni rupa, Edwin Rahardjo, kolektor seni rupa dan gallerist), serta Kuss Indarto (kurator seni rupa).

Pemilihan finalis itu merupakan hasil penyaringan yang sangat ketat dari ribuan karya yang diajukan oleh sebanyak 650 seniman yang datang dari banyak kawasan di Indonesia. Bahkan beberapa di antaranya dikirim dari Negara lain, yakni dari para seniman dan mahasiswa seni yang tengah menempuh studi seni rupa di manca Negara. Menurut ketua pelaksana, Lanny Andriani, minat para seniman untuk mengikuti kompetisi ini dari tahun ke tahun terus meningkat. “Dan tahun ini merupakan kompetisi dengan jumlah peserta paling banyak dibanding kompetisi serupa sebelumnya”. Bahkan dibandingkan dengan kompetisi seni rupa lainnya yang ada di tahun ini, jumlah peserta untuk kompetisi yang diadakan oleh UOB ini masih paling banyak. Lanny tak menyanggah bila besarnya minat ini tak lepas dari besaran hadiah yang sangat menggiurkan. Seperti diketahui, seniman yang terpilih dalam 4 Besar pada kategori Profesional dalam kompetisi ini akan diganjar dengan hadiah uang masing-masing: Rp 250 juta, Rp 100 juta, 80 juta, dan Rp 50 juta. Sementara untuk kategori Pendatang Baru, 4 Besar-nya akan mendapatkan hadiah masing-masing: Rp 30 juta, 25 juta, Rp 15 juta, dan Rp 10 juta.

Pada sisi lain, Agus Dermawan menyatakan bahwa pada kompetisi kali ini tidak sedikit muncul karya-karya yang cukup mengejutkan, baik dari aspek visual maupun gagasan. “Ada karya yang diciptakan dengan tingkat craftsmanship begitu tinggi, dan teknik yang relatif belum populer dilakukan oleh banyak seniman. Ada pula yang memuat pesan sosial begitu kuat,” tutur kritikus seni rupa yang baru saja meluncurkan buku baru tentang pelukis old master Basuki Abdullah. Agus juga menyadari bahwa dewan juri melakukan kerja yang tak mudah mengingat banyak karya yang bagus masuk dalam kompetisi. Maka, karya yang tak lolos babak final tentu saja tidak dengan sendirinya kurang bagus secara artistik atau pun muatan pesannya. Masih ada pertimbangan lain, seperti misalnya kebaruan dalam memunculkan idiom visual, keluar dari arus utama gaya pengekspresian karya, dan lainnya. Tentu, itu semua tak lepas dari subyektivitas masing-masing anggota juri—yang bukan subyektivitas memandang seniman secara personal, namun pada karya seninya.

Pendapat Agus juga diamini oleh juri yang lain, Edwin Rahardjo. Gallerist ini masih optimis bahwa karya-karya seniman Indonesia mampu bertarung di level regional bahkan internasional. Apalagi dalam konteks perhelatan kompetisi UOB ini. Seperti diketahui, pemenang puncak kompetisi seni lukis yang diselenggarakan oleh Bank UOB ini kemudian dikompetisikan ditingkat regional, yakni bertarung dengan para pemenang puncak dari 4 negara, yakni Indonesia, Thailand, Singapura, dan Malaysia. Sejauh ini, dari 4 perhelatan di level regional, para peraih grand prize-nya masing-masing adalah karya seniman dari Thailand, Singapura, dan Indonesia memenangi 2 kali grand prize.

Menurut Edwin, setelah menyimak karya-karya yang masuk final, Indonesia masih optimis bias memenangi grand prize. “Tapi kita juga akan menghadapi kemungkinan lain, yakni kebijakan pemerataan. Masak sih Indonesia terus yang menang…” tutur Edwin.

Berikut ini daftar Finalis UOB POY 2015 (urut abjad). Daftar ini memuat nomer, nama seniman (sesuai urut abjad), kota tempat tinggal, dan judul karya yang masuk final. Panitia sendiri mengharapkan agar para finalis UOB POY 2015 segera mengirimkan karya lukis paling lambat sudah sampai di Jakarta pada tanggal 29 September 2015, pukul 16.00 WIB, persisnya di Gedung UOB lt 12, Jln. Thamrin, Jakarta.

FINALIS PROFESIONAL:

1. AGUS PUTU SUDYATNYA – Yogyakarta – “Harapan di Antara Puing-puing”
2. AGUNG SURYANTO – Surabaya – “Portal”
3. ANGGAR PRASETYO – Yogyakarta – “Exploitation of Fish”
4. ANDY FIRMANTO – Yogyakarta – “Menanam Padi di Langit”
5. ANDI HARTANA – Yogyakarta – “Menuju Revolusi Bantal”
6. ARWIN HIDAYAT – Yogyakarta – “Menjilat Juragan”
7. AT SITOMPUL – Yogyakarta – “Gerak Rasa”
8. BAYU YULIANSYAH – Yogyakarta – “Abandoned”
9. DEDY SUFRIADI – Yogyakarta – “Burning Series #4”
10. DIDIK WIDYANTO – Yogyakarta – “Kembali ke Masa Depan”
11. EKO SUPARYANTO – Grobogan – “Sabda Poetical”
12. ERIANTO – Yogyakarta – “Meditate”
13. FAIZIN – Banyuwangi – “Bagong-bagongan Hendra Gunawan”
14. GALUH TAJI MALELA – Depok – “Portrait of Raden Saleh”
15. GARIS KABE MUSLIM – Pasuruan – “Tandur”
16. JANURI – Yogyakarta – “Merdeka Free Independent”
17. HENDRA HARSONO – Yogyakarta – “Silaturahmi Gorillas Glass”
18. IABADIO PIKO – Yogyakarta – “The Morning Lanscape”
19. IQRAR DINATA – Yogyakarta – “Dinamika Asa”
20. INDRA WIDIYANTO – Bandung – “The Same of Olod Fear (Behind the Scene)”
21. IRMAN ARNAS RACHMAN – Purwakarta – “Stonescape Series #1”
22. I WAYAN ARNATA – Gianyar – “Dialog”
23. KADAFI G. KUSUMA – Yogyakarta – “Bung Hatta”
24. M. ASHAR SODIQ (ASHAR HORO) – Yogyakarta – “Hoaxism”
25. MELODIA – Yogyakarta – “Paket dari Desa”
26. OKY ROY MONTHA – Yogyakarta – “The Winner Never Win”
27. PRAYITNO – Jakarta – “Antropomachine”
28. RIESWANDI – Bandung – “Hyper Nature”
29. ROCKA RADIPA – Yogyakarta – “Good Vibration”
30. RONALD APRIYAN – Yogyakarta – “Berkah Garuda”
31. SAPTO SUGIYO UTOMO – Sukoharjo – “CV Rumah Kardus”
32. SIGIT RAHARJO – Yogyakarta – “Konslet Input-Output”
33. SURAJI – Yogyakarta – “Bersatu Padu Melawan Nafsu”
34. SURYA DARMA – Balikpapan – “Awasi dan Lindungi Mereka”
35. TJOKORDA BAGUS WIRATMAJA – Yogyakarta – “Prosferity”
36. WAHYUDDIN NAFSIAH DIAS PRABU – Yogyakarta – “Born Baby Born”

FINALIS PENDATANG BARU:

1. ALVIAN PUTRA - Yogyakarta - “Sang Raja”
2. DIAN PRAMANA PUTRA WIJAYA - Magelang - Place of Farming
3. JABBAR MUHAMAD - Bandung - “Eve of Projecy #1.2”
4. I KETUT GELEDIH – Bali – “Sawah Tetangga”
5. I WAYAN SUDARSANA – Bali – “Terbakar Racun”
6. LAKSAMANA RIO – Yogyakarta - “Journey of Dreamer”
7. MUTIARA RISWARI – Yogyakarta – “Titanium”
8. NOVITA PERMATASARI – Jakarta – “Taotie”
9. REZA PRATISCA HASIBUAN – Yogyakarta – “Lahirnya Keindahan”
10. SOFA BAGUS PANUNTUN – Semarang – “The Chairman”
11. SYAHARUDDIN RAMADHAN – Jakarta – “Supreme Master Leader”
12. SUTOPO – Yogyakarta – “Mother of Earth”
13. TITO TRYAMEL – Yogyakarta – “Berbagi Cerita”
14. TURI RAHARJO – Bandung – “Gajahku Menangis”

Friday, September 11, 2015

Susi Menikmati Seni

Tampak Menteri Susi Pudjiastuti bergoyang bersama Romo Dr. Sindhunata dan penonton lain di halaman Bentara Budaya Yogyakarta, Kotabaru, Yogyakarta, Rabu, 9 September 2015. (foto: PFI Yogyakarta)

Sosok Susi Pudjiastuti tampaknya butuh improvisasi dalam hidup. Apalagi pada 12 bulan terakhir ketika "tiba-tiba" menjadi pejabat tinggi. Jadi menteri lagi! Nyaman sekali tampaknya ketika semalam pengusaha ini menyambangi Bentara Budaya Yogyakarta, di jalan Suroto 2, Kotabaru, Yogyakarta. Hadir bersama rombongan kecil sekitar pukul 19.00 wib, dan baru pulang empat jam berikutnya, pukul 23.00 wib.

Dua mangkok bakso permintaannya tandas disantapnya. Juga teh panas dan air putih. Tapi tampaknya Bu Susi menahan diri untuk tidak merokok, daripada esok harinya para hater punya bahan untuk nyampah dan nyumpah di medsos. Dia maju di depan tetamu, setidaknya 5 kali, untuk menyampaikan sambutan, menerima hadiah lukisan dari perupa Nasirun, mengucapkan tabik hormat untuk para pemain ludruk, memenuhi ajakan untuk berfoto bersama, dan menari. (Tarik, maaanngg...)

Pejabat sekelas menteri "nongkrong" hingga 4 jam di sebuah venue seni, ngapain aja? Wong walikota Yogyakarta saja belum pernah--bahkan undangan untuk membuka pameran pun sering tak dipenuhinya. Ya, menteri Susi sengaja datang Jogja memenuhi undangan PFI (pewarta Foto Indonesia) Yogyakarta untuk menutup secara resmi pameran foto bertema "Nusa Bahari", nonton ludruk berlakon "Susi Duyung", mendengarkan musik rock'n roll, yang sepanjang semua pertunjukan itu berbonus ocehan para penonton. Ini bukan venue seni yang "tertib", sehingga celometan atau olok-olok para penonton (yang sebagian adalah seniman) mewarnai pertunjukan. Susi sesekali tertawa lepas karena keriuhan celometan para penonton yang jauh dari tertib itu. Dia bersama sahabat masa studi di SMA, Prof. Dr. Dwi Korita (Rektor UGM), tergoda menengok ke arah suara celometan yang datang dari seantero arah.

Ketika ada adegan pertarungan dari tokoh antagonis dan protagonis di panggung ludruk, misalnya, penonton berseru: "Dibom saja, bu Susi! Bom aja!" Atau ketika ada pemain perempuan yang cukup bahenol tengah akting dan dengan sigap seniman Djaduk Ferianto mendekati pemain itu untuk memotret dengan kameran hapenya, teriakan pun terlontar: "Wah, Djaduk orgasme!"

Lakon "Susi Duyung" sendiri narasinya dikreasi oleh budayawan Romo Dr. Sindhunata SJ, dan telah dipentaskan sebelumnya. Kala itu Susi sudah berusaha untuk memenuhi undangan pentas tersebut namun gagal karena kesibukannya sebagai menteri. Dan malam tadi adalah upayanya untuk "menebus" janji menyaksikan lakon tersebut.

Menteri perempuan yang bertato dan perokok namun menjadi bintang terang dalam Kabinet Kerja Jokowi-JK ini seperti tidak sedang dikejar oleh banyak pekerjaan yang menumpuk di sekitarnya. Santai, seperti apa yang diucapkannya dalam sambutan, Bu Susi tampaknya ingin "menikmati level hidup ketika seni bisa mendamaikan dan membuat adem jiwa". Selamat datang dalam keriuhan dunia seni yang mengaayikan, Bu Susi. Tulari teman-teman di sekitar ibu, ya. ***

Tuesday, September 08, 2015

Turki Menyerbu...


KALAU sekarang opera sabun Turki bertebaran di televisi Indonesia seperti sinetron "Shehrazat", "Elif", dan lainnya, bisa diduga itu bagian dari disain besar Turki untuk meluaskan pasar pariwisatanya yang terus dikebut. Mereka hanya memiliki sedikit energi dalam perut buminya ketimbang Indonesia. Maka kebudayaannya yang tua dan masih terawat dengan relatif baik inilah yang dikedepankan untuk meraup sebanyak mungkin helai-helai euro demi menghidupi negeri Erasia itu.

Semua yang bertalian dengan dunia pariwisata digenjot dengan ritme tinggi. Apalagi ketika mereka melihat bahwa tetangganya, Yunani, yang juga mengandalkan sektor wisata untuk menggerakkan perekonomiannya ternyata sekarang ambruk. Itu yang coba dielakkan oleh Turki. Kini mereka sedang mengebut membangun bandara yang kalau tuntas tahun 2017 akan menjadi bandara terbesar di dunia. Maskapai penerbangan mereka pun, Turkies Airline menjadi salah satu maskapai internasional yang relatif termurah dan banyak terkoneksi ke berbagai kota di banyak negara--dibanding maskapai negara-negara Eropa dan Asia lainnya semisal Lufthansa, KLM, Air France atau Emirates, Etihad, Malaysia Airlines apalagi Garuda.

Di luar itu, para turis kelas backpacker-an bisa menemukan ruang idealnya di Turki. Mereka kini bisa dengan mudah menemukan rumah-rumah penduduk yang bisa ditinggali untuk menginap dengan tarif yang murah. Kesepakatannya saja yang unik. Misalnya, sang turis bisa tinggal saat pemilik rumah juga ada di rumah. Ketika pagi hingga sore mereka berangkat ngantor, si turis backpacker harus juga keluar rumah karena kunci tunggal hanya ada di tangan pemilik rumah. Bagi sebagian turis, ini alternatif liburan yang murah dan bisa lebih "mengalami" Turki.

Ambisi Turki untuk berjaya turismenya sudah mulai terlihat. Tahun 2014 lalu, ada 41,2 juta orang asing berkunjung ke Turki. Dibanding 2 tahun sebelumnya, ini sebuah peningkatan yang tajam karena tahun 2012 baru dikunjungi 31,7 juta turis asing. Penduduk Turki sendiri hanya sekitar 73 juta jiea. Cobalah secara iseng kita bandingkan dengan Indonesia yang tahun 2012 dikunjungi sekitar 8 juta wisatawan asing, dan meningkat tahun 2014 menjadi 9,4 juta. Ya, ngos-ngosan juga sih data dan fakta kita.

Tapi inilah yang bisa dipelajari dari Turki di sektor wisata. Akhir dasawarsa 1990-an hingga awal 2000-an budapa pop Amerika Latin berhambur ke layar kaca Indonesia lewat sinetron. Akhir dekade 2000-an dan masih tersisa kini: membanjirnya budaya pop Korea. Dan kini Turki mulai memeluk pasar mereka. Ada satu nilai lebih yang bisa ditawarkan oleh Turki pada publik Indonesia yakni: kita sama-sama Islam lho. Kita punya sejarah keislaman yang bertautan lho. Ini yang bisa menggeser dominasi pop culture Korea (di Indonesia) karena mereka "kafir". Dari sinetron, sangat mungkin itu mempersuasi publik untuk mengunjungi langaung tanah Turki. Cihhuuuyyy... ayo "Nurki"... ***