Saturday, August 29, 2015

Kota, Ruang, dan Landasannya

Potongan pemandangan kota Dubai.

Oleh Kuss Indarto

PADA bulan Juli 2008 lalu, dalam kongres IUA (International Union of Architects) yang berlangsung di kota Torino, Italia, seorang arsitek berkelas internasional, Peter Eisenman memberikan sebuah ceramah yang mengesankan. Dari pemaparan panjang itu—seperti yang bisa dikutip dari buku “Mengubah Dunia Bareng-bareng” (2015) yang ditulis oleh Ridwan Kamil (walikota Bandung) dan Irfan Amalee—ada setidaknya 6 (enam) poin penting yang berkaitan dengan problem arsitektur kontemporer. 

Pertama, kita diingatkan bahwa dunia sedang dalam krisis diskursus arsitektur. Eisenman menyebut bahwa “saat ini kita berada dalam dasawarsa yang tidak menawarkan nilai baru”. Yang ada hanyalah lateness atau kebaruan demi kebaruan geometri arsitektur yang berubah secara periodik, baik tahunan, bulanan, atau mingguan. Tak ada kegairahan pada perdebatan arsitektur dunia, seperti halnya ketika arsitektur modern bergeser ke post-modern, atau kegairahan ketika kerumitan dan kegeniusan diskursus dekonstruksi Derrida dipinjam oleh arsitek dunia dan menjadi wacana yang hangat pada zamannya.
 
Kedua, Eisenman melihat banyaknya karya arsitektur kontemporer yang sibuk dengan geometri yang semakin rumit, tetapi sering tidak memiliki kualitas yang mampu menghadirkan makna mendalam. “Just a piece of meaningless form,” tandasnya. Selain itu, banyak pula arsitektur yang tidak mampu memperkuat konteks kota dan budaya tempat ia berdiri. Oleh karenanya, tokoh arsitek dunia ini membenci Dubai. Baginya, Dubai adalah sirkus arsitektur. Segala bentuk bisa hadir tanpa korelasi, tanpa preferensi, dan tanpa didahului oleh esensi livability atau ruh berkehidupan dari sebuah kota. Kota untuk manusia. Dan Dubai dianggapnya tidak memiliki hal itu. 

Ketiga, Esienman merenungi bahwa karya arsitektur seharusnya bisa dirasakan sampai ke relung hati terdalam. Arsitektur tidak hanya cukup menjadi sebuah entitas dan objek visual semata. Arsitektur yang baik adalah arsitektur yang mampu menyentuh sisi psikologis manusia secara emosional. “Let the heart be your judge,” ujarnya. Arsitektur harus mampu mengalirkan makna di ruang tiga dimensional tersebut. Renungannya ini sejalan dengan konsep tactility yang pernah didengungkan oleh sosiolog Kenichi Sasaki yang memuji arsitektur yang dapat merangsang (stimulate) seluruh indera manusia. Arsitektur yang tidak sekadar memanjakan indera visual semata. 

Keempat, kepada pada arsitek—terutama para mahasiswa arsitektur—diingatkan oleh Eisenman agar tidak terlalu mendewakan komputer. Dia mengkhawatirkan generasi masa kini yang mengantungkan 100% proses desain dengan komputer. Perilaku ini dianggap telah menjual keindahan pada (program) Photoshop. Dengan imaji-imaji yang secara visual spektakuler seolah urusan teknis arsitektural sudah selesai. Baginya, proses desain harus dimulai dari kerja keras kontemplasi berpikir. Konsep desain harus mampu dirasakan dengan hati. Kemudian mengalir deras ke saraf-saraf di sepanjang jari-jari tangan. Oleh karena itu, sensitivitas inderawi masih dianggap yang terbaik dalam melatih konsep berarsitektur. 

Pada poin kelima Eisenman menebarkan pesan bahwa para arsitek di negara-negara berkembang agar tetap optimis dan selalu merasa beruntung. Ya, beruntung karena pada umumnya negara berkembang, seperti kebanyakan negara di Asia, masih memiliki referensi dari eksotisme budaya. Budaya yang masih memiliki tradisi kultural sebagai sumber konsep, legenda yang emosional sebagai sumber makna, dan ritual referensional sebagai sumber cerita. Kekayaan-kekayaan kultural inilah yang tidak dimiliki negara Barat seperti halnya Amerika Serikat—tempat arsitek kawakan ini bermukim dan banyak berpraktik. 

Dan keenam, Eisenman mengungkapkan bahwa tidak ada hal yang lebih bermakna dalam profesi sebagai arsitek selain sebuah ketulusan pertemanan dan kesetiakawanan sesama arsitek. Ia kemudian bercerita tentang struktur vertikal pada proyek Galia Cultural di Spanyol yang ia bangun sebagai perwujudan wasiat terakhir mendiang John Hejduk—kolega yang menjadi teman minum kopi, sahabat berdiskusi, dan kritikus atas karya-karyanya selama mereka berdua berpraktik di New York. 

Ada banyak hal yang bisa diserap dari 6 poin di atas. Antara lain, kita jadi tahu betapa sebuah arsitektur atau kota yang dianggap baik adalah kota yang mampu memberikan pengalaman ruang nan kaya. Pengalaman tersebut memberikan stimulasi kepada seluruh pancaindera manusia. Perjalanan ke kampungdi Kotagede, Yogyakarta, misalnya, akan membawa kita pada pengalaman melihat, mencium bau, mendengar, dan merasakan tekstur sebuah ruang arsitektur atau yang disebut oleh sosiolog Kenichi Sasaki sebagai tactility experience. Hal ini bisa terjadi karena faktor skala ruang yang baik, intim, emosional, dan antropometris. 

Tentu ini berbeda dengan kota-kota besar. Pengalaman ruang banyak direduksi menjadi pengalaman visual semata. Garis sempadan bangunan yang jauh, yang terkadang tidak jelas alasan ilmiahnya, telah menjauhkan hubungan emosional manusia dengan arsitektur. Akibat hilangnya aspek tactility, arsitektur pun menjadi asing dari konteksnya. Ia menjauh dari hakikatnya sebagai elemen urban. Ia mematikan lahirnya interaksi sosial warga kota di koridor jalan tempat arsitektur itu berdiri. Tidak ada aktivitas duduk-duduk rileks, ataupun interaksi spasial antara arsitektur dan warga kota sebagai pilihan berkegiatan santai pada konteks urban. 

Itulah sedikit lintasan persoalan di dunia arsitektur dewasa ini. Yogyakarta juga tak lepas dari keterikatan persoalan wacana dan problem tersebut. Demikian juga dengan kota dan kawasan lain yang sebelumnya telah memiliki preferensi dan landasan historis dan kultural sebagai modalnya. Kini semua menghadapi problem yang serupa. Dalam konteks inilah, maka Mata Jendela edisi kali ini mencoba menggagas dan sedikit mengupas masalah tersebut. Ada beberapa catatan yang menggali persoalan itu perspektifnya masing-masing. Selamat menyimak! ***
           
Kuss Indarto, redaksi Mata Jendela.

(Tulisan ini dimuat di majalah "Mata Jendela" terbitan Taman Budaya Yogyakarta (TBY), edisi No. 2 tahun 2015)

Friday, August 28, 2015

Antara Pemenang dan Pecundang


Oleh Kuss IndartoMENYIMAK karya-karya lukis Afriani dalam tiga kali pameran tunggalnya seperti menatap irisan kecil panorama Indonesia yang penuh keburaman—meski ada cercah harapan. Menonton bentang-bentang kanvas Afriani dalam sewindu terakhir seperti merunuti pergeseran visual juga perkembangan substansi karya yang cukup tertata dan lumayan terkonsep. Dari pameran tunggal pertamanya tahun 2010 yang bertajuk “Vox Populi” lalu berlanjut pada “Prahara Sunyi” (tahun 2013), hingga “Be The Winner” yang dipresentasikan kali ini, apresian—setidaknya saya—bisa melihat dan merasakan gerak evolutif dari perjalanan kreatif seorang perupa yang berhasrat kuat membuat titik-titik pencapaian dari waktu ke waktu. Perkembangan dan gerak yang evolutif tampaknya menjadi modus dan pilihannya. Bukan bergerak secara revolutif/revolusioner atau terlalu kontras dan bergegas sehingga sangat mungkin melenyapkan jejak langkah kreatif yang ditorehkan sebelumnya. Karya yang dikerjakannya untuk pameran kali ini masih menemukan titik sambung dengan hasil kreasinya sekitar 5-8 tahun lalu

Pada pameran tunggal “Vox Populi” Afriani banyak menampilkan citra visual tentang kontras-kontras sosial yang terjadi dalam masyarakat. Kontras-kontras itu disodorkan dalam kanvas seperti sebuah opini personal atas kondisi masyarakat yang ditemui di sekitarnya. Di sini, perupa ini seperti menempatkan dirinya dalam potret penuh kekontrasan tersebut karena, bisa jadi, dia juga bagian dari masyarakat yang tiap hari hidup dalam tempaan kerasnya megapolitan Jakarta yang penuh dengan kekontrasan sosial. Sang seniman ini menampilkan dirinya sebagai homo astheticus (makhluk seni) sekaligus sebagai homo socius (makhlus sosial). Pada titik ini, maka kefasihan untuk menampilkan kontradiksi atau kontras sosial terasa pada karya-karya Afriani. Ada, misalnya, lukisan yang menggambarkan sesosok anak kecil yang terempas menjadi anak jalanan dan mengamen untuk menghidupi dirinya (pada lukisan “Pewaris Semangat”, 2009). Sosok tersebut menghadap patung Ki Hadjar Dewantara, tokoh pendidikan yang juga menjadi Menteri Pendidikan dan Pengajaran pada awal-awal kemerdekaan RI. Saya kira sang seniman sengaja “membenturkan” gambaran yang kontras tersebut sekaligus beropini bahwa dunia pendidikan di Indoneia masih saja menghadapi problem yang paling elementer, yakni kemiskinan yang mengempaskan anak-anak dari keluarga tak mampu yang tak terserap ke dunia pendidikan karena problem ekonomi.

Ada pula lukisan “Kuli Malam” (2010) yang menggambarkan betapa kerasnya para pejuang keluarga itu bergelut mencari sesuap makanan dengan mengorbankan waktunya berpisah dengan anak-istri ketika malam tiba. Di latar belakang mereka, ada konstruksi jalan tol yang tengah mereka kerjakan demi mobil-mobil gilap yang butuh medan perlintasan menembus kemacetan Jakarta. Para buruh itu mungkin tak akan menikmati hasil pekerjaannya tersebut, namun keringatnya ikut memuluskan jalan yang dilewati para pemilik mobil mewah. Tema pameran kali itu, “Vox Populi”, sengaja tidak dilengkapi seperti ungkapan asli bahasa Latin “vox populi vox dei” (suara rakyat, suara Tuhan). Dari penjudulan itu terlihat bahwa Afriani tidak sedang bergegabah bahwa rakyat bukanlah kumpulan sosok suci yang “disetarakan” dengan Tuhan. Rakyat ya rakyat dengan segala kemanusiawiannya, namun dalam konteks tertentu bisa menginspirasi sesamanya dengan nilai-nilai tentang ketuhanan—lewat aksi kepedulian antar-mereka, solidaritasnya, dan lain-lain.

Berikutnya, pada pameran “Prahara Sunyi”, citra visual tentang kontradiksi dalam sosial kemasyarakatan makin dikuatkan pada karya-karya Afriani. Lebih dari itu, anak-anak sebagai subyek utama atas tema sosial itu seperti secara sadar menjadi bagian penting dalam karya-karya tersebut. Ada kisah tentang anak-anak yang harus mencari uang dengan menjual jasa ojek payung dalam lukisan “Behind the Rain” (2011), anak-anak yang tidak terjagai oleh orang tuanya di rumah sehingga lebih banyak bergaul dengan televisi (“Terbuai”, 2010), atau narasi tentang anak-anak yang kehilangan waktu untuk belajar karena mesti menjadi nomaden mengikuti orang tuanya yang tuna wisma dan terus-menerus tergusur oleh angkuhnya gurita pembangunan megapolitan Jakarta (“Nomaden”, 2011).

Seperti yang saya katakan di bagian awal, ada pergeseran yang gradual dan evolutif pada pilihan tema perbincangan dalam karya Afriani. Dugaan saya, sebagai kreator perupa ini melakukannya secara sadar sebagai bagian dari kerangka estetika yang coba dibangunnya secara bertahap. Apalagi ketika karya-karya tersebut dikumpulkan dan dipresentasikannya dalam sebuah perhelatan, maka kesadaran untuk memuat benang merah dan titip sambung antarkarya—baik secara visual maupun substansial—tampak menjadi perhatian utamanya.

***

LALU, kali ini pameran tunggal ketiganya, “Be the Winner”, dihelat setelah melalui proses yang tidak singkat dan sederhana. Hal khusus apa yang ditawarkan dalam pameran? Adakah perubahan atau pergeseran yang signifikan di dalamnya? Apa tema besar yang igin dikomunikasikannya?

Saya mencoba sedikit menguliti garis pemikiran tentang tema “Be the Winner” ini dari catatan yang dituliskan sendiri oleh Afriani. Katanya: “…Dalam usaha manusia untuk menjadi lebih baik ini saya menyebutnya sebagai sebuah “pertarungan”. Pergulatan manusia akan terus berlangsung seolah seperti tak pernah akan selesai, hingga batas waktu yang diberikan Sang Khalik, baik itu pergulatan (pertarungan) lahir maupun batin untuk menyempurnakan takdir kehidupannya menjadi pemenang…”

Pernyataan tersebut seperti mengisyaratkan sebuah kehendak yang kuat untuk menjadikan jagat seni rupa sebagai pilihan profesinya ini sekaligus sebagai medan “pertarungan” dalam bersiasat dengan hidup. Situasi psikologis ini dikuatkan oleh fakta-fakta obyektif yang saya duga menuntutnya lebih serius masuk dalam medan pertarungan. Pertama, Afriani bukanlah seniman yang berasal dari jalur akademis, namun merangkak dari dunia otodidak, dan datang dari kawasan Selayo, Sumatera Barat, lalu besar di Batam, yang tidak dikenal sebagai kawasan penting seni rupa di tanah air. Fakta ini memberi dorongan dari dalam diri Afriani untuk bergerak dengan lebih terukur dan sistematis untuk mengejar banyak ketertinggalan—baik dari segi teknis maupun penalaran. Seperti kita pahami bersama, dewasa ini dunia seni rupa Indonesia (seperti halnya kawasan lain di dunia) banyak didominasi dan didinamisasi oleh para perupa dari jalur akademik. Maka, kesadaran perupa perempuan ini untuk melakukan “pertarungan” demi upaya menyejajarkan diri dengan seniman akademik bukanlah perkara mudah, namun jelas bukan tidak mungkin.

Kedua, dugaan bahwa fighting spirit untuk bertarung ini mengemuka dari faktor “historis-genealogis” dirinya sebagai urang awak Minangkabau. Boleh saja ini dianggap mengada-ada, namun dalam catatan sejarah ranah Minang adalah kawasan dengan kultur dan adat istiadat matriarkal yang relatif masih terawat dimana posisi perempuan sangat berperan kuat dalam perikehidupan sehari-hari, bahkan hingga secara politis. Bahkan dalam konteks tertentu—seperti yang dicatat oleh Jeffrey Hadler dalam “Sengketa Tiada Putus: Matriarkat, Reformisme Islam, dan Kolonialisme di Minangkabau” (2010), bahwa perempuan (MInangkabau) lebih baik dalam hal “menanamkan benih, menyusun mehatap mehatoen, menyusun makanan di atas piring, karang mengarang bunga, menjahit menakat, melukis, menulis, menggambar, menerawang, merenda, menenun, menganyam dinding bambu, dan tikar dan lainnya. Maka, “pertarungan” Afriani dalam konteks ini adalah upayanya untuk merunuti semangat juangnya yang memang berkait secara genealogis. Kutipan catatan itu menjadi pengingat bahwa perempuan Minangkabau diasumsikan sebagai sosok yang siap bertarung dan penuh kemandirian.

Sementara dalam tinjauan visual dan substansinya, saya melihat ada pergeseran yang cukup kentara ketimbang dua pameran tunggal sebelumnya—yang sedikit banyak menyoal perkara sosial lewat sosok anak-anak. Kali ini, Afriani tidak sedikit menghadirkan diri sebagai subyek bagi karyanya untuk kemudian menerawang membincangkan beragam perkara yang melingkupi diri. Pola dan modus seperti ini memang bukanlah perkara baru. Dalam 15 tahun terakhir, di Indonesia, beberapa perupa juga telah melakukan hal serupa. Sebut dan ingatlah karya-karya Agus Suwage, Entang Wiharso, Jumaldi Alfi, Budi Kustarto, Edo Pilu, Asmudjo J. Irianto dan sekian banyak nama lain. Kecenderungan itu juga mengglobal dan lama karena telah dilakukan oleh para seniman besar di belahan dunia lain dan telah terjadi dalam rentang waktu jauh sebelum ini. Mereka menempatkan sosok dirinya dalam kanvas/karya sebagai representasi, jembatan persoalan atau titik berangkat bagi persoalan besar di luar dirinya.

Siasat kreatif semacam ini juga terjadi pada Afriani. Sebut misalnya pada karya-karya bertajuk “Perjalanan”, “Metamorfosa”, “Takdir Pemenang”, dan “Introspeksi”. Penghadiran diri itu seperti menegaskan bahwa tubuh diri (Afriani) adalah juga tubuh sosial. Wajah diri (Afriani) adalah wajah sosial. Potret diri adalah representasi atas segala problem sosial kemasyarakatan yang bersinggungan bahkan melekat satu sama lain. Potret diri juga seperti sebuah hasrat dari sang seniman yang menjatuhkan dirinya dalam sebuah persoalan, sembari memungkinkan diri untuk menawarkan cercah solusi.

Namun ada titik beda menarik pada karya-karya Afriani, termasuk yang menghadirkan dirinya dalam kanvas. Seniman kelahiran 5 April 1974 ini saya kira tidak begitu “keras” membincangkan problem sosial kemasyarakatan, namun menyeretnya dalam lingkup pembahasan yang bernuansa spiritual(itas) dan filosofis. Perkara “pertarungan” dan “pergulatan” hidup itu seperti dirunutnya kembali secara kronologis mulai dari proses muasalnya manusia, yakni sperma, lalu proses embrio manusia, jabang bayi, hingga seterusnya ketika sosok-sosok manusia menjalani proses alamiah menjadi besar, remaja, dewasa, dan seterusnya. Kronologi ini bagaikan cermin dan medan pengingat bagi apresian yang disodorkan oleh si seniman agar manusia kembali menyadari bahwa tiap tahap perjalanan manusia itu adalah proses pertarungan dengan level-level yang selaras dengan kurun usia berikut segala kesulitas dan kemudahannya, kestabilan dan dinamikanya.

Proses perjalanan manusia yang kronologis itu, bagi masyarakat dengan latar belakang budaya Jawa, tentu akan mengingatkan pada deretan tembang macapat yang juga berbincang tentang tahap-tahap (waktu) hidup bagi manusia tersebut. Macapat atau maca papat (membaca tiap empat suku kata) adalah salah satu jenis puisi yang dikenal dalam tradisi sastra Jawa, selain kakawin, kidung, wangsalan, parikan, dan geguritan. Bentuk macapat mempunyai aturan yang sangat memikat yang disebut dengan guru lagu, wilangan, dan guru gatra.

Kita tahu kalau, misalnya, ketika masih dalam wujud sperma lalu berkembang menjadi janin, maka tembang yang tepat untuk mengiringi kurun tersebut adalah tembang macapat Maskumambang. Janin pun tengah berjuang dalam perut untuk bisa bertahan hidup, dan dipertahankan untuk bisa lahir dengan selamat. Penamaan “maskumambang” kiranya sebuah penghormatan bahwa janin adalah emas (mas) yang kemambang (terapung) di dalam kandungan sang ibu. Nada macapat pada tembang Maskumambang biasanya sudah distandarkan sebagai “nelangsa kelara-lara”, penuh kenelangsaan dan tangis karena masuk dalam masa keprihatinan.

Demikian pula ketika kemudian masuk dalam tahap berikutnya, yakni sang janin lahir sebagai bayi. Maka tembang macapat yang tepat untuk mengiringi masa ini adalah tembang Mijil. Ritme dan isinya penuh dengan nuansa cinta kasih dan sayang. Selanjutnya memakai Sinom ketika masuk masa remaja, Kinanthi (saat pencarian jati diri), Asmaradhana (saat jatuh cinta), Gambuh (saat berkomitmen untuk berumah tangga), Dhangdhanggula (sukses bertumah tangga), Durma (masa untuk berderma), Pangkur (mungkur, mengurangi hal duniawi), Megatruh (masa cerai dengan ruh, kematian), dan Pucung (saat dipocong menuju liang lahat).

Saya lihat, Afriani dengan sadar memberi tahapan-tahapan yang kronologis tentang pertarungan dan perjuangan manusia—bahkan mulai ketika bakal manusia masih berupa sperma. Kita bersama-sama mengetahui bahwa untuk berproses menjadi embrio dan janin pun, jutaan sperma yang berhambur ketika orgasme (setelah melewati proses intercourse) harus bersaing dan “bertarung” mendapatkan sel telur untuk dibuahi (simak karya bertajuk “Petarung Sejati”).

Demikian pula tatkala ketika pertarungan itu berlangsung secara simbolik. Afriani mengemukakan simbol visual kepompong hingga dibuat dalam beberapa bentang kanvas—di antaranya menampilkan potret diri sang seniman. Pada hewan tertentu seperti ulat, kita tahu, dalam siklus hidupnya mengalami proses metamorfosa fisik yang berujung menjadi kupu-kupu yang wujudnya relatif paling indah ketimbang proses sebelumnya. Proses menjadi kepompong itulah tahapan yang dianggap paling krusial ketika dia harus mengering, tergantung, hingga lalu secara pelahan terlepas dari cangkang kepompong dan menjelma menjadi kupu-kupu. Pada “tabung” kepompong itulah proses kawah candradimuka berlangsung. Dalam tinjauan spiritualitas, proses tersebut bisa dimaknai sebagai sebuah proses asketik, yakni ketika sang ulat melepaskan problem fisikalitas sebelumnya, menyepi, menyembunyikan diri dari dunia luar, masuk dalam kesunyian, mengurangi makan, bertapa, hingga kemudian hadir dalam kerangka “eksistensi” yang berbeda: menjadi kupu-kupu.

Ini tidak bisa dibaca secara sederhana sebagai perubahan fisik belaka, namun ada problem spiritualitas yang mendalam yang menyertai perubahan tersebut. Ada banyak “pertarungan” yang menyertai di dalamnya. Saya kira ini juga menjadi bagian dari kesadaran spiritual(itas) Afriani sehinga perlu membuat karya dengan simbol visual kepompong hingga beberapa buah.

***

Deretan karya perupa perempuan ini terasa melewati proses perwujudan karya yang lambat-laun mulai menyublim. Pemunculan beragam dunia simbolnya pun terasa relatif halus (eufemistik). Bukan sekadar menampilkan jagat simbol tersebut secara mentah, lugas, dan apa adanya. Ada “pertarungan” dalam proses perwujudannya. Pergeseran seperti ini tentu tidak mudah karena seorang seniman, bisa jadi, membutuhkan proses waktu yang relatif lama, melewati perenungan yang tak sedikit, pembacaan tanda-tanda atas semua gejala yang tumbuh di sekitar diri dan imajinasinya, dan lain-lain.

Afriani, saya duga, berusaha keras untuk mengakrabi gejala-gejala sosial dan simbol-simbol visual yang tumbuh di lingkungan dan batok kepalanya. Semua itu harus digali, ditimba, disaring, untuk kemudian diserapnya sesuai ketepatan gagasan dasarnya. Saya mengenal lebih dekat karyanya pertama kali ketika menguratori Pameran Nusantara 2009 di Galeri Nasional Indonesia dengan tajuk kuratorial “Menilik Akar”. Dalam beberapa kali perbincangan, saya mendapati bahwa sosok seniman perempuan ini berupaya keras untuk mengingkari kemandegan kreatif dengan cara dan subyektivitasnya. Ketika di berada Batam, atau di Ancol, atau di tempat lain yang telah sekian lama disuntuki itu dianggapnya tak lagi menyuburkan kreativitas pada karyanya, maka dia berusaha untuk mengambil “jarak”, mengoreksi, untuk memicu diri menjadi lebih berkembang. Kesadaran dirinya sebagai seniman otodidak yang tak mudah untuk mendapatkan posisi penting dalam peta seni rupa, menjadikannya harus bertarung lebih keras lagi. Pameran tunggalnya kali ini, kiranya, menjadi titik penting untuk melanjutkan perjalanan kreatifnya sebagai seorang petarung. Apakah Afriani akan menjadi “Be the Winner” atau justru sebaliknya sebagai “be the looser”, menjadi pemenang atau pecundang, semuanya bergantung pada seberapa besar spirit bertarungnya saat ini dan ke depan, serta seberapa dalam dia mampu memaknai tiap jejak langkah pertarungan yang telah ditorehkannya.

Bertarung terus-menerus akan memungkinkan dirinya menjadi The Winner. Hidup ini, kata Albert Einstein, seperti orang yang mengendarai sepeda. Kita akan terjatuh kalau berhenti mengayuhnya. Dan semoga Afriani tahu persis bagaimana dan kapan harus mengayuh roda seni dan kreativitasnya. Selamat berpameran. ***

Kuss Indarto, kurator seni rupa, dan editor in chief situs www.indonesiaartnews.or.id

Tuesday, August 11, 2015

Berkubu dengan Buku


Dalam keluarga, perlu membangun atmosfir untuk mencintai buku. (foto: kuss indarto)

oleh Kuss Indarto

SAYA terkejut ketika suatu sore mendapati anak perempuan saya—yang masih duduk di kelas 2 SD—tengah duduk di tempat tidur sembari takzim menyimak sebuah buku di hadapannya: Kumpulan Cerita Pendek karya Dostoyevky. Buku itu tentu hasil terjemahan, dan dipinjamnya dari perpustakaan sekolahan. Saya berusaha menyembunyikan keterkejutan dengan mencium kening anak saya, lalu meninggalkannya sendiri—agar dia khusyuk menuntaskan bacaannya.

Keterkejutan saya, karena, pertama, pada usia yang belum genap 8 tahun, anak pertama saya itu sudah mulai fasih dan doyan membaca—kukira jauh lebih fasih ketimbang saya ketika masuk dalam usia yang sama puluhan tahun lalu. Generasi muda bangsa ini, tampaknya, berkembang kecerdasannya. Kedua, kebutuhan untuk membaca pada generasi sekarang—setidaknya anak saya—relatif bisa terakomodasi oleh banyaknya kehadiran buku fisik, termasuk di sekolahan anak saya yang letaknya relatif berada di desa—kawasan Sedayu, Sleman, Yogyakarta, sekitar 13 kilometer dari Keraton Ngayogyakarta. Belum lagi buku non-fisik (e-book) yang juga membanjir sekarang ini. Ketiga, berdampingan dengan poin kedua, di tengah melimpahnya sumber informasi yang datang bagai air bah—terutama dari internet—generasi muda sekarang ini dihadapkan pada kemungkinan terserapnya informasi tanpa sistem penyaringan atau filtrasi yang memadai. Pada titik inilah peran orang tua menjadi penting dalam sistem dan mekanisme filtrasi tersebut.

***

Potret peristiwa yang terjadi pada diri anak saya mungkin juga dialami oleh sekian banyak orang tua di tanah air Nusantara ini sekarang. Dunia imajinasi anak-anak relatif telah berkembang dengan cepat selaras dengan perkembangan dunia ilmu pengetahuan dan teknologi. Dan tidak sedikit orang tua yang justru terkaget-kaget dengan progresivitas tersebut karena standar fasilitas yang tersedia saat ini ternyata banyak memicu dunia imajinasi anak. Tentu saja kita tak bisa dengan serta-merta membuat perbandingan yang terlalu rigid dan rinci antara masa lalu dan masa sekarang karena sudah barang pasti standar dan semangat zamannya banyak berubah. Dunia permainan tradisional yang dianggap sangat inspiratif bagi jagat imajinasi anak-anak pada masanya (atau yang telah menjadi orang tua sekarang), tentu tak bisa diperbandingkan dengan dunia game yang digilai karena juga inspiratif bagi perikehidupan anak-anak sekarang.

Dalam konteks dunia perbukuan, progresivitas di dalamnya (termasuk dalam kualitas dan kuantitas) tak terbayangkan pada kurun waktu-waktu sebelumnya. Saya bisa mengambil contoh pengalaman yang terjadi di Yogyakarta. Ketika masa kuliah pada awal-awal dasawarsa 1990-an lalu, pameran buku hanya terjadi setahun sekali, yakni sekitar bulan Oktober—bertepatan dengan Hari Buku Nasional atau Bulan Bahasa Nasional. Perhelatan itu berlangsung di gedung Mandala Wanitatama di Jalan Adisucipto, yang biasanya berlangsung selama sepekan. Kemudian, setelah rejim Orde Baru turun tahun 1998, situasi geopolitik banyak berubah, dan berimbas hingga ke dunia perbukuan. Salah satunya, dari aspek positif, seringnya berlangsung perhelatan pameran buku di kawasan Yogyakarta. Seingat saya, dalam tahun-tahun pertama setelah era reformasi, pameran buku di gedung Mandala Wanitatama bisa berlangsung hingga 3-4 kali dalam setahun, dan dengan kualitas dan kuantitas yang relatif sama—entah dengan label “pesta buku”, “gebyar buku”, “festival buku”, atau apapun namanya. Tahun-tahun setelah itu, kuantitas pameran buku berlangsung jauh lebih sering, karena perhelatan serupa tidak hanya berlangsung di satu venue, yakni gedung Mandala Wanitatama, namun juga di gedung atau tempat yang lain. Misalnya di kampus UGM, di GOR UNY, gedung Pamungkas yang merupakan gedung milik militer, dan lainnya.

Dari sisi kuantitas buku, kini pun telah jauh melampaui angka-angka yang tak terbayangkan sebelumnya. Beberapa sumber pernah merilis bahwa jumlah judul buku yang terbit pada tahun-tahun sebelum pemerintahan Soeharto jatuh paling banyak berkisar antara 2.000 hingga 3.000 judul buku pertahun. Kalau benar angka itu, maka lompatan jauh terjadi pada era reformasi dan tahun-tahun berikutnya. Setidaknya ini bisa dilacak dan diperbandingkan dengan data yang diperoleh dari Gramedia, selusinan tahun setelah titik awal era reformasi. Raksasa penerbit Indonesia itu mencatat bahwa di Indonesia, pada tahun 2013 tercatat ada sebanyak 26.628 judul buku diterbitkan, dan ada sedikit penurunan pada tahun 2014, yakni sebesar 24.204. Sementara tiras atau jumlah satuan buku yang tercetak dan terdistribusi lewat Gramedia pada tahun 2012 sebesar 33.565.472 eksemplar, tahun 2013 turun menjadi sebesar 33.202.154 eksemplar, serta tahun 2014 turun lagi menjadi 29.883.822 eksemplar.

Angka-angka tersebut bahkan dianggap lebih rendah bila dibandingkan dengan parameter yang bisa diacu dari ISBN yang terdaftar pada Perpusnas (Perpustakaan Nasional) yang jumlahnya mencapai angka 36.624 judul pada tahun 2013, dan meningkat tajam pada tahun 2014 menjadi 44.327 judul. Lompatan angka-angka itu tentu saja cukup membanggakan, meski kalau kemudian kita melongok keluar, kebanggaan itu belum bisa membuat kita menepuk dada, karena pada kurun waktu yang kurang lebih sama, India telah mampu menerbitkan sekitar 60.000 judul, dan negeri panda China dengan 140.000 judul buku. Itu baru dengan sesama negara Asia. Kita akan makin malu kalau membandingkan bahwa pencapaian pertahun Indonesia menerbitkan sekitar 30.000-an buku itu telah terjadi pada beberapa negara-negara Eropa 20 tahun lalu! Ya, dua dasawarsa lalu! Angka pencapaian Indonesia itu setara dengan pencapaian Rusia pada tahun 1995 yang telah memproduksi 33.623 judul buku, atau Perancis yang menerbitkan 34.766 judul buku, serta Spanyol dengan 48.467 judul.

Baiklah. Perbandingan tersebut di atas tentu saja sangat menyesakkan, dan bisa saja dibilang “tidak adil”. Kata-kata “tidak adil” bukan sebuah kecengengan untuk membuat permakluman yang berlebih atas kekurangmajuan dunia perbukuan Indonesia. Namun ini lebih sebagai upaya untuk mendudukan persoalan secara lebih proporsional demi upaya untuk langkah maju. Kita paham sekali bahwa dengan perbedaan kultur antara Indonesia dan negara-negara di Eropa yang dijadikan lahan perbandingan tersebut. Eropa telah memiliki tradisi ilmu pengetahuan berikut pengembangan lembaga pendidikan yang lebih lama ketimbang di Indonesia. Setidaknya setelah masuk ke zaman Renaisans, juga penemuan mesin cetak oleh Johannes Gutenberg di abad 15, menjadikan percepatan untuk memproduksi buku sebagai bagian penting dari kebutuhan hidup bangsa-bangsa di Eropa sudah berlangsung berabad-abad lalu.

Kemudian, kalau kita membandingkan diri dengan India dan China, sebenarnya Indonesia bisa dikatakan sedikit lebih maju bila parameter lain kita jadikan acuan. Misalnya, populasi penduduk India yang mencapai 1,2 miliar dengan jumlah judul buku terbit pertahun 60.000 maka bisa saja dikatakan bahwa tiap “kerumunan” 20.000 orang India bisa menciptakan satu judul buku. Demikian pula dengan China yang penduduknya 1,4 miliar yang memproduksi 140.000 judul buku, maka tiap “kerumunan” 10.000 “baru” bisa melahirkan satu judul buku. Coba lihat Indonesia yang kini berpenduduk 250 juta jiwa dengan (katakanlah) 30.000 judul buku, maka tiap “kerumunan” 8.333 orang Indonesia bisa membuat satu judul buku. Ada sedikit produktivitas di sana, meski tentu logika ini relatif masih debatable.
 

***

Apapun, sisi positif meski dikedepankan. Ada banyak kemajuan yang telah dicapai oleh Indonesia dalam dunia perbukuan, meski itu belum sangat signifikan dalam membentuk perkembangan peradaban bangsa ini. Keprihatinan pun perlu terus diikuti dengan alternatif pemecahan masalah. Kita harus mengakui adanya fakta bahwa buku belumlah menjadi kebutuhan sebagian besar manusia Indonesia. Tahun 2012, sebuah lembaga nirlaba yang bergerak di bidang pendidikan merilis hasil survei tentang mutu pendidikan di 65 negara, dan menempatkan Indonesia di posisi 64 atau nomer 2 dari bawah indeks sebesar 0,01 menurut standar PISA tersebut. Sementara indeks untuk negara-negara di papan atas kisarannya antara 0,45 hingga 0,62. Kita masih tertinggal jauh.

Di sisi lain, kalau menyimak berbagai hal dalam rentang waktu 15 tahun terakhir—atau dalam era reformasi ini—banyak perubahan yang perlu dicermati sebagai bekal untuk mengeksplorasi tindakan solutif. Saya sebagai orang tua dan bukan orang yang membawahi sebuah lembaga dengan sekian banyak orang yang bisa saya pengaruhi, hanya bisa memberi pengaruh positif kepada keluarga. Itulah kemungkinan solusi kecil yang bisa saya ajukan. Anak-anak yang kita bayangkan sebagai pemilik dan pewaris masa depan, menjadi agenda penting untuk dipersuasi agar kultur buku, kultur membaca menjadi bagian penting dari sela tarikan nafas dalam hidupnya. Saya lebih mementingkan langkah persuasi, bukan mendoktrin, karena kata tersebut mengisyaratkan sebuah langkah yang tidak menekan, merepresi anak sebagai obyek, namun lebih memberi peluang baginya untuk membangun minat (membaca) karena bangunan situasi dan kondisi yang diciptakan oleh kita (orang tua). Ada sekian banyak bahan bacaan di sekitar diri anak, ada aktivitas membaca dan menulis atau belajar yang dilakukan oleh orang tua—yang menyergap situasi dan indera sang anak tiap hari. Dari sini, orang tua bisa mengekspektasikan sepenuhnya bahwa ada gerak evolutif dari sang anak untuk melakukan aksi meniru dengan inisiatif sendiri untuk ikut mencintai buku—evolutif sekalipun aksi anak tersebut.

Secara psikologis, anak-anak yang dalam lingkungan terdekatnya dibangunkan atmosfir tentang situasi tertentu, maka bangunan atmosfir tersebut dimungkinkan seperti cahaya yang akan terus berpendar hingga di kedalaman jiwanya untuk diingat dan ditiru. Demikian pula dengan “atmosfir cinta buku” yang dibangun oleh orang tua di dalam rumahnya—ada sekian banyak bahan bacaan, ada aktivitas membaca, menulis dan berdiskusi yang dilakukan terus-menerus—maka anak-anak yang berada dalam radius terdekat dari “atmosfir cinta buku” itu akan terinspirasi untuk melakukan hal serupa. Anak-anak dengan sendirinya, lambat laun, akan memiliki ketertarikan untuk berkubu dengan buku, bersahabat dengan dunia gagasan dan imajinasi yang ditawarkan dalam buku-buku atau dalam diskusi yang berlangsung dalam lingkungan tersebut.

Maka, bukan sebuah kesombongan penuh ke-lebay-an kalau saya bangga bahwa anak saya mengejutkan karena tengah asyik membaca buku Kumpulan Cerita Pendek Dostoyevsky. Saya, barangkali, tak perlu terkejut kalau menyadari sepenuhnya bahwa aktivitas saya dari hari ke hari nyaris selalu bergelut dengan jagat buku, dunia gagasan, dan hal-ihwal yang berkait erat dengan dunia penalaran juga imajinasi. Rasanya, tak perlu ada doktrinasi untuk mendorong anak agar mau membaca. Namun, cukup dengan menciptakan situasi dan atmosfir yang nyaman dan persuasif agar anak secara evolutif berkawan dengan buku. Berkubu dengan buku. ***
 

*) Penulis seni rupa, editor in chief situs www.indonesiaartnews.or.id