Thursday, March 31, 2016

Lesung Gerhana


(Catatan kecil ini kutulis tanggal 5 Maret, beberapa hari sebelum gerhana matahari total pada 9 Maret di beberapa kawasan Indonesia, seperti Belitung, Palu, Ternate, dan lain-lain)

"Gerhana", judul ilustrasi ini, yang digambar oleh W.K. De Bruin, seorang ilustrator berkebangsaan Belanda yang tinggal di Indonesia (Hindia Belanda). Ilustrasi ini diduga ada dalam buku "Voor Jong Indonesia" yang diterbitkan oleh penerbit Uitgeversmaatchappij N.V., Groningen-Batavia, tahun 1948.

Ilusrasi De Bruin ini menerbitkan narasi masa lalu tentang peristiwa alam gerhana yang ditautkan dengan mitos unik. Gerhana matahari terjadi ketika posisi bulan terletak di antara bumi dan matahari sehingga menutup sebagian atau seluruh cahaya matahari. Bagi masyarakat tempo dulu, peristiwa itu dimitoskan bahwa sosok raksasa bernama Bathara Kala (?) hendak memangsa matahari. Maka, agar aksi sang raksasa itu batal, harus digagalkan dengan cara membuat kegaduhan. Nabuh gejug lesung atau membunyikan lumpang penumbuk padi, adalah siasat orang-orang masa lalu yang meyakini mitos tersebut.

Kalau menyimak kostum orang-orang (dan lesung, tentu saja) dalam ilustrasi, sepertinya itu menunjukkan orang-orang Jawa. Dan dalam catatan sejarah, gerhana-matahari-sebagian terjadi di kawasan Indonesia pada 21 September 194. Atau gerhana-matahari-total pada 9 Mei 1929. Narasi-narasi tentang peristiwa tahun 1929 dan 1941 itu kemungkinan masih berpendar dalam ingatan masyarakat yang kemungkinan memberi inspirasi terhadap karya ilustrasi De Bruin tersebut.

Kita bisa saja menyatakan bahwa masyarakat tempo dulu, ya moyang kita sendiri itu, belum memiliki sistem pengetahuan yang terbarukan tentang gerhana. Tapi menarik sekali bahwa mereka memiliki cara dan perangkat sendiri untuk merayakan peristiwa alam tersebut. Dan itu juga peradaban, bahkan kebudayaan tersendiri. Selamat Menggerhana Matahari 9 Maret 2016.

Kalau menyimak kostum orang-orang (dan lesung, tentu saja) dalam ilustrasi, sepertinya itu menunjukkan orang-orang Jawa. Dan dalam catatan sejarah, gerhana-matahari-sebagian terjadi di kawasan Indonesia pada 21 September 194. Atau gerhana-matahari-total pada 9 Mei 1929. Narasi-narasi tentang peristiwa tahun 1929 dan 1941 itu kemungkinan masih berpendar dalam ingatan masyarakat yang kemungkinan memberi inspirasi terhadap karya ilustrasi De Bruin tersebut.

Kita bisa saja menyatakan bahwa masyarakat tempo dulu, ya moyang kita sendiri itu, belum memiliki sistem pengetahuan yang terbarukan tentang gerhana. Tapi menarik sekali bahwa mereka memiliki cara dan perangkat sendiri untuk merayakan peristiwa alam tersebut. Dan itu juga peradaban, bahkan kebudayaan tersendiri. Selamat Menggerhana Matahari 9 Maret 2016. ***

Mooi Indahnya...


Baiklah, kita berkelebat kembali ke karya jadul, lukisan yang ditengarai sebagai karya mooi Indie atau lukisan yang mengeksploitasi keindahan alam di tanah Hindia Belanda --dan dianggap bertendensi turistik. Banyak dicibir karena membawa nilai-nilai estetik yang rendah.

Setelah lebih dari seabad, karya ini bisa saja membopong nilai dokumentasi yang berharga: tentang arsitektur rumah sebuah kawasan di Jawa Tengah, misalnya. Apapun, Anda bisa menjadi hakim atas karya ini, sebuah karya yang dikreasi dengan teknis ketukangan (craftmanship) tingkat tinggi. Tak perlu menganggap rendah hanya karena ada kata-kata "tukang" atau "ketukangan".

Lukisan yang dibuat tahun 1854 ini menggambarkan suasana kampung di desa Pandean, Magelang, Jawa Tengah (tak jelas persisnya di kecamatan apa). Ukuran karya ini relatif termasuk mungil, yakni berukuran 51,5 x 69,5 cm. Pelukisnya adalah Jacob Dirk van Herwerden (1806-1879), seniman Belgia yang pernah berkunjung ke Nusantara tahun 1823. Lukisan mooi indie yang menarik ini merupakan koleksi James Ryadi dan sekarang berada di Museum Universitas Pelita Harapan, Tangerang. Ya, James Ryadi, "orang kita" yang jadi salah satu sponsor Barrack Obama dalam pemilihan presiden periode pertama dulu. Oh! ***

Cuilan Cahaya


Bisa jadi ini sekadar info lebay dan ecek-ecek namun tak ada salahnya untuk tetap disebarkan. Dalam sebuah pameran seni rupa, unsur tata (pen)cahaya(an) atau "lighting" punya peran sangat penting. Itu punya pengaruh untuk lebih "menghidupkan" sebuah karya--bahkan dalam kasus tertentu bisa memberi aspek dramatik pada karya.

Teknologi tata cahaya juga ikut terus mengiringi perkembangan jagad seni rupa. Ini yang perlu dicermati oleh banyak kalangan yang bergelut dalam dunia seni rupa.

Salah satu contoh kecil dari perkembangan tata pencahayaan adalah seperti dalam foto ini. Tampak ada serentetan teks yang memberi penjelasan atas data seniman dan karyanya. Teks tersebut berupa "cutting sticker" yang harus ditempatkan dalam ruangan bersama karya. Namun ruangan itu diinginkan oleh senimannya dalam keadaan minim cahaya atau sangat temaram.

Maka, cahaya lampu yang ada semestinya memang minimal. Di sinilah teknologi mencoba memfasilitasi. Pada karya, ada satu-dua lampu yang menyiram tubuh karya secukupnya. Sementara pada bagian teks/keterangan karya juga perlu secuil cahaya. Cuilan cahaya itu terukur jelas areanya, tidak terlalu berhamburan sehingga bertebar memakan ruang sehingga mengacaukan eksotisme atau tingkat artistik karya.

Anda bisa lihat, cahaya lampu itu bisa di-setting membentuk kotak kecil sesuai kebutuhan. Jarak lampu hingga tembok tempat teks itu berada sekitar 2 meter, sehingga fisik lampu tidak mengganggu pandangan penonton.

Di banyak negara maju, seperti yang saya saksikan di Singapore Art Museum, ini sudah jadi kelaziman--bahkan tuntutan--dalam menghadirkan karya ke publik secara ciamik. Semoga di Indonesia (yang perkembangan jagad seni rupanya sudah sangat pesat) juga sudah banyak diterapkan. Bagaiaman dan apa pun, cara penghadiran karya yang serius akan menambah daya pukau karya bagi penonton. Yo ra, bung?

Salah satu contoh kecil dari perkembangan tata pencahayaan adalah seperti dalam foto ini. Tampak ada serentetan teks yang memberi penjelasan atas data seniman dan karyanya. Teks tersebut berupa "cutting sticker" yang harus ditempatkan dalam ruangan bersama karya. Namun ruangan itu diinginkan oleh senimannya dalam keadaan minim cahaya atau sangat temaram.

Maka, cahaya lampu yang ada semestinya memang minimal. Di sinilah teknologi mencoba memfasilitasi. Pada karya, ada satu-dua lampu yang menyiram tubuh karya secukupnya. Sementara pada bagian teks/keterangan karya juga perlu secuil cahaya. Cuilan cahaya itu terukur jelas areanya, tidak terlalu berhamburan sehingga bertebar memakan ruang sehingga mengacaukan eksotisme atau tingkat artistik karya.

Anda bisa lihat, cahaya lampu itu bisa di-setting membentuk kotak kecil sesuai kebutuhan. Jarak lampu hingga tembok tempat teks itu berada sekitar 2 meter, sehingga fisik lampu tidak mengganggu pandangan penonton.

Di banyak negara maju, seperti yang saya saksikan di Singapore Art Museum, ini sudah jadi kelaziman--bahkan tuntutan--dalam menghadirkan karya ke publik secara ciamik. Semoga di Indonesia (yang perkembangan jagad seni rupanya sudah sangat pesat) juga sudah banyak diterapkan. Bagaiaman dan apa pun, cara penghadiran karya yang serius akan menambah daya pukau karya bagi penonton. Yo ra, bung?

Kerbau di Taman Ambarrukmo


Ada sekian banyak hotel bintang 5 di Yogyakarta kini. Salah satunya adalah hotel tertua warisan Orde Lama, yakni Royal Ambarrukmo yang dibangun di ujung akhir pemerintahan presiden Soekarno. Menariknya, selera seni Bung Karno juga disematkan pada hotel ini, antara lain berupa patung perunggu berjudul "Dua Gembala dan Kerbau" karya seniman Mon Mudjiman yang dibuat tahun 1964. Kalau benar catatan itu, berarti patung tersebut dibuat ketika Mon Mudjiman berusia 22 tahun, saat hampir menyelesaikan studi seni di kampus ASRI (Akademi Seni Rupa Indonesia), Yogyakarta. Atau mungkin sudah jadi dosen muda di almamaternya.

Dari judul yang menerakan kata "gembala" dan dibandingkan dengan tampilan yang ada kini, tampaknya ada yang berubah. Patung itu sepertinya sudah tidak sesempurna kondisi awal dulu, yakni hilangnya sosok anak gembala yang bertengger di atas kerbau. Memang ada sisa perunggu di atas punggung kerbau sebelah kiri yang sangat mungkin lepas/dilepas.
Patung karya Mon Mudjiman ini berada di taman yang cukup luas dan asri di utara kolam renang hotel. Di samping sosok kerbau itu, masih ada beberapa karya lain yang terserak di sana. Ada patung kreasi Edhie Soenarso, Soetopo, Sulistyo, Soehartono dan Mudjiman KS. Mereka dulu tergabung dalam komunitas pematung bernama Keluarga Artja pimpinan Edhie Soenarso.
Secuil fakta ini memberi gambaran cukup jernih pada kita (minimal saya), bahwa: (1) waktu itu negara punya tanggung jawab untuk menghidupkan gairah berkesenian para senimannya, antara lain mengorder karya patung--bahkan bermaterialkan perunggu; (2) hotel berkelas bintang 5 seperti dipersuasi untuk menunjukkan kebintangannya dengan menghadirkan karya seni yang relatif bermutu. Bukan berani bikin hotel di pusat kota, tak punya areal luas tapi justru merebut air tanah dari penduduk/kampung sekitar.
Terima kasih, Bung Karno! Terima kasih, pak Mon Mudjiman!***

Tuesday, March 15, 2016

Affandi dan Basuki Abdullah

Ketika Basuki Abdullah kembali ke Indonesia, setelah lulus dari sekolah gambar di negeri Belanda, ia banyak berpameran di luar negeri dan di dalam negeri. Namanya termashur. Surat-surat kabar Belanda memuji-muji dan mengagung-agungkannya.

Mendengar berita ini, makin menyala hasrat Affandi untuk menemui Basuki Abdullah. Ingin belajar dan berguru padanya.

Pada suatu hari, datanglah ia ke tempat kediaman Basuki Abdullah.

Hatinya berdebar-debar. Takut-takut memasuki halaman rumah gedung itu.

Tapi hati dikuatkannya. Pintu dibuka pelayan, ketika ia memijit bel.

"Saya ingin bertemu dengan tuan", kata Affandi.

Pelayan masuk kembali untuk memberi tahu tuannya. Affandi berdiri di ambang pintu. Lama baru ada suara.

Dari pintu yang terbuka, terdengar oleh Affandi suara orang bertanya:

"Apakah tamu itu bisa bicara bahasa Belanda?"

Sejenak kepala Affandi pusing mendengarkan pertanyaan dari dalam itu. Hatinya tiba-tiba tidak senang. Bencilah, pokoknya. Affandi dapat berbahasa Belanda, sebab dia keluaran MULO dan AMS! Tapi mendengar suara pertanyaan itu, hatinya jadi hambar. Hilang keingingannya untuk bertemu dengan Basuki Abdulah. Dan cepat-cepat Affandi, meninggalkan rumah itu. Hatinya di dalam amat kecewa dan amat sedih!

Terasalah bagi Affandi, bahwa pelukis Basuki Abdullah, tidak dari golongan dirinya. Tapi golongan atas!

Tapi Afandi jalan terus. Melukis dan belajar sendiri.

(Dikutip dari catatan Nasyah Djamin dalam buku "Affandi Pelukis", halaman 57-58, terbitan Aqua Press Bandung, (diduga) tahun 1977)

Tuesday, March 08, 2016

Old Master Menguasai (Kembali)

Akhir Februari 2016, Artprice, lembaga data dan riset pasar seni rupa yang berkedudukan di Paris, kembali mengeluarkan laporan tahunan (annual report). Banyak informasi dan data bertebar di dalamnya. Salah satu data yang selalu ditunggu adalah daftar 500 Besar seniman yang karyanya paling banyak diserap dengan angka penjualan tertinggi oleh pasar selama tahun 2015 lalu—terutama oleh balai lelang di seluruh dunia. Tentu lembaga itu hanya bisa menyandarkan data pada balai lelang karena relatif lebih terukur secara kuantitatif dan terbuka sumbernya.

Dari 500 nama seniman sedunia itu, nama­-nama yang sudah mapan seperti Pablo Piccasso, Andy Warhol, Francis Bacon, Mark Rothko, juga Roy Liechtenstein, masih bertahan di level 10 Besar. Sementara Jeff Koon mulai terlempar dari 10 Besar. Tapi posisinya masih lebih baik ketimbang Damien Hirst yang terperosok pada level agak jauh di bawahnya, meski masih masuk 100 Besar. Ini serupa dengan para perupa China yang cukup dominan di level 50 Besar pada kurun 2008­-2010 ketika booming seni rupa Asia terjadi. Nama-­nama seperti Yue Minjun, Fang Lijun dan lainnya meroket drastis hingga mengejutkan smile emotikon membingungkan) peta pasar seni rupa dunia.

Lalu, bagaimana dengan posisi para seniman Indonesia atau yang ada kaitannya dengan Indonesia? Data menunjukkan bahwa dalam kurun tahun 2015 lalu hanya ada 3 nama seniman Indonesia (atau yang berproses dan dikenal di Indonesia) yang masuk dalam daftar 500 Besar, yakni Hendra Gunawan di peringkat 167, Affandi Kusuma (191), dan Rudolf Bonnet (403). Keseluruhan karya Hendra, dalam tahun 2015, yang terjual di balai lelang menyentuh angka US$ 10,848,670 atau sekitar Rp 140 miliar. Sementara karya­-karya Affandi total terjual hingga US$ 9,267,016, dan Bonnet di angka US$ 4,261,108.

Keberadaan nama­-nama seniman dalam daftar tahun 2015 tersebut berkurang ketimbang pada daftar tahun 2014 yang berjumlah 6 seniman. Dua tahun lalu, ada nama-­nama seniman Affandi yang berada di peringkat 211, lalu berturut­-turut ada nama Lee Man Fong (217), S. Sudjojono (248), Nyoman Masriadi (438), Le Mayeur de Merpes (411), dan Sudjana Kerton (451).

"Peta" nama­-nama dan pencapaiannya di pasar seni rupa itu relatif banyak berbeda bila dibandingkan dengan kurun 2007­-2008 yang bisa disimak dari sumber yang sama, Artprice. Kala itu, lembaga tersebut mencatat ada 9 nama seniman Indonesia—yang relatif berusia muda dan masih hidup—dalam daftar 500 Besar. Mereka masing­-masing adalah: Nyoman Masriadi di peringkat 41, Agus Suwage (122), Rudi Mantofani (142), Putu Sutawijaya (152), Yunizar (176), Handiwirman Saputra (250), Budi Kustarto (316), Jumaldi Alfi (384), dan M. Irfan (481).

Puncaknya ada pada dua tahun berikutnya, yakni kurun 2009­-2010 yang menempatkan 12 nama seniman Indonesia di celah rimbunan 500 Besar nama seniman dunia. Uniknya, nama-­nama itu adalah seniman yang masih hidup dan belum tergolong sebagai old master—berbeda jauh dengan daftar tahun 2015. Mereka adalah Nyoman Masriadi di urutan 32, Handiwirman (75), Agus Suwage (78), Rudi Mantofani (128), Budi Kustarto (142), Jumaldi Alfi (243), Yunizar (285), Putu Sutawijaya (314), Ay Tjoe Christine (285), Haris Purnomo (436), M. Irfan (440), dan F.X. Harsono (490).

Kondisi ketika booming seni rupa Asia yang berimbas ke Indonesia dan menggoyang peta pasar seni rupa dunia memang berbeda dengan situasi sekarang. Dari daftar 500 Besar seniman terlaris di pasar seni rupa tahun 2015 cukup jelas memberi gambaran bahwa pasar sepertinya menghendaki nama­-nama yang telah lebih dulu teruji oleh pasar sekian lama. Atau, memang para pelaku pasar ingin mencari aman dengan “memegang” dan berburu karya dari seniman old master yang eksistensinya telah mapan dalam sejarah. Bahwa pada masa booming kemarin muncul nama-nama seniman (yang relatif) muda dan belum sangat mapan dalam lintasan sejarah, ternyata itu merupakan gejala umum dan global.

Sekarang publik bisa menyimak dalam daftar versi Artprice, betapa nama­-nama seniman yang kemarin “hilir­-mudik” dalam daftar, sekarang rontok di urutan bawah, bahkan terlempar dan hilang sama sekali. Ini semua tak lepas dari peran (pelaku) pasar yang mampu mengonstruksi nama, sekaligus dengan mudah merontokkannya. Semua bisa terjadi dengan cepat dan tanpa diduga. Semuanya juga diduga bisa memain­-mainkan modalnya untuk menjaga eksistensi jejaring kerja pasarnya.

Kita bisa melihat, misalnya, dalam daftar 500 Besar versi Artprice tahun 2009/2010 ada nama Nyoman Masriadi di urutan 32, sementara seniman Filipina, Ronald Ventura (yang seusia, sama-sama kelahiran tahun 1973) berada di urutan 173. Lima tahun berikutnya, tahun 2015, Ronald Ventura masih bisa bertahan di urutan 383, sedangkan Masriadi sudah lenyap dari daftar 500 Besar. Ini, antara lain, diduga oleh banyak pihak sebagai bagian dari akibat pecahnya kongsi antara Masriadi dan networking pasar yang selama ini melejitkan dan “menjaganya” dalam beberapa tahun terakhir.

Daftar versi Artprice ini tentu bukan segala­-galanya. Itu hanya salah satu etalase yang bisa menunjukkan dengan angka-­angka kuantitatif yang relatif terukur, dan konsisten dipublikasikan ke masyarakat setidaknya dalam satu dasawarsa terakhir. Namun itu juga tak bisa diabaikan begitu saja karena di dalamnya memuat beberapa indikator perihal pergerakan pasar seni rupa di level global. Anda bisa percaya, atau mengabaikannya sama sekali. Data­-data itu bisa menjadi salah satu wajah (pasar) seni rupa dunia. ***