Tuesday, March 29, 2011

Seniman adalah Intelektual



Seniman adalah Intelektual
Oleh Kuss Indarto
DALAM konsep dan pemahaman yang konservatif, seorang seniman diidealkan bekerja dengan tiga hal mendasar, yakni 3-H: Head, Heart, Hand. Kepala, hati dan tangan. Dengan head atau kepala, diasumsikan secara jelas bahwa kerja kreatif seorang seniman selalu didahului oleh berbagai soal yang kemudian disarikan atau dimasukan dengan memberi peran otak atau rasionalitas. Letak otak ada dalam kepala. Dan rasionalitas bekerja sebagai mahkota untuk memikirkan secara konseptual tentang karya kreatif apa yang hendak dilahirkan.

Kedua, heart. Ini menyangkut rasa, yang berkait dengan problem sensibilitas, kemampuan untuk memiliki kepekaan dalam menangkap sinyal-sinyal kreatif. Dalam seni, beberapa teori justru memberi penekanan yang lebih atas dominasi kepekaan rasa untuk melahirkan sebuah karya kreatif. Di konteks ini, persoalan nilai-nilai juga mengemuka. Dan ketiga, hand, atau tangan. Ini menyangkut pada problem kemampuan teknis seorang seniman dalam memberi eksekusi konkret atas apa yang telah digelisahkan dan dirasakan oleh heart, dan hal yang telah dikonsepkan, dirumuskan, dipetakan atau dirasionalisasikan oleh head.
Ketiganya, head, heart, dan hand, merupakan trio yang integral, menyatu sama lain untuk menciptakan sebuah karya seni. Semuanya saling dukung dan saling sambung. Lalu, kenapa hal kuno dan konservatif ini perlu diungkapkan kembali?

Dewasa ini, dinamika dan perkembangan seni, termasuk seni rupa, teramat pesat. Akselerasinya, pada sebagian kalangan dan di tingkat praksis, begitu cepat (bahkan) melampaui hal yang teoritik. Dan satu hal penting yang mengemuka adalah bahwa sebuah karya seni rupa adalah sebuah problem gagasan, bukan secara sempit dilihat sebagai sebuah problem fisik karya. Artinya, apresian akan melihat sebuah lukisan, misalnya, bukan sekadar menyimak serangkaian tanda-tanda visual berupa titik, garis, bidang, warna, tekstur, komposisi, dan semacamnya. Namun juga bisa digali lebih lanjut bagaimana sejarah pikiran sang seniman dalam menjumput tanda tersebut.

Contoh klasik yang relatif kuno untuk konteks sejarah seni rupa Indonesia modern adalah karya lukisan “Penangkapan Diponegoro” yang dilukis oleh Raden Saleh. Sjarief Boestaman yang dibuat tahun 1857. Dalam lukisan tersebut, pelukis yang priyayi kelahiran Semarang 1812 (?) ini mengomposisikan dengan begitu bagus jejeran tokoh-tokoh Pangeran Diponegoro dan anak-anak buahnya, serta Jendral De Kock beserta para pasukannya yang bersenjata. Namun, lebih dari itu, ada gagasan tentang nasionalisme yang kuat dan dalam pada karya tersebut. Lukisan itu merupakan bentuk plesetan dari karya lukisan Nicolaas Pieneman sekaligus perlawanan visual yang dilakukan Raden Saleh. Apa yang dilukiskan oleh Pieneman, “digambar ulang” dan dimirip-miripkan oleh Raden Saleh dengan perspektif pandang dan cara berpikir yang berbeda khas Raden Saleh sebagai seorang Hindia Belanda. Maka, yang muncul, menjadi sebuah bentuk pemberontakan visual yang tidak kalah heroiknya dengan para pejuang yang turun ke lapangan dan bertarung secara fisik dengan para penjajah Belanda.

Dari contoh ini terlihat betul bahwa Raden Saleh sebagai seniman tidak sekadar mengekplorasi kemampuan teknisnya (dengan menggunakan hand), namun juga menggali kembali kepekaannya sebagai anak bangsa yang tengah dijajah dan dikebiri kebebasannya. Ini menyangkut sensibilitas yang bertaut dengan heart. Juga, tentu karya ini dipikirkan, dirumuaskan, dan dikonseptualisasikan dengan masak sebelum digarap dengan cermat di atas kanvas. Ini sudah berkaitan dengan head. Bahkan, dalam kajian sejarah yang dilakukan oleh peneliti dari Universitas Passau, Jerman, Prof. Werner Krauss, sebelum menciptakan karya masterpiece tersebut, Raden Saleh terlebih dahulu membuat beberapa rancangannya di atas kertas dengan ketelitian dan kerumitan yang sangat terukur. Ini membuktikan bahwa apa yang dilakukan oleh Raden Saleh sebagai seniman bukanlah kerja spontanitas yang seadanya tanpa banyak dipikirkan dan riset (kecil-kecilan) sebelumnya. Semuanya memakai 3-H. Maka, tak heran kalau kemudian karya tersebut ditanggapi begitu sinis namun penuh kekaguman oleh kerajaan Belanda pada waktu itu. Sinis karena secara esensial karya itu berseberangan pendapatnya dengan apa yang telah diwacanakan atau digembar-gemborkan oleh pemerintah dan kerajaan Belanda. Dan karya Pieneman adalah salah satu corongnya. Di samping itu, kekaguman pun muncul dari mereka karena ternyata di antara anak jajahan itu ada seniman yang mampu berpikir dan berkarya dengan brilliant. Inilah titik penting karya Raden Saleh. Dan ini juga titik penting karya yang dikreasi dengan mengedepankan rasionalitas, kepekaan akan nilai-nilai yang melingkunginya, dan kecanggihannya dalam mengekskusi karya secara kreatif. 3-H ada dalam karya tersebut.

Lalu, apa yang bisa dihubungkan dengan pameran Pratita Adikarya kali ini? Dengan melihat persemaian benih-benih kreatif yang tampak pada pameran ini, saya kira, wacana tentang 3-H tidak ada salahnya untuk dikedepankan kembali. Ini penting karena sebenarnya posisi seniman sekarang ini tidak bisa secara sempit dikelompokkan sebagai seorang tukang yang bekerja dengan tangan secara eksploitatif. Seniman bukan hanya bekerja dengan kemampuannya melukis yang halus, detil, dan cermat, namun diharapkan juga mampu berpikir matang tentang problem di luar seni rupa yang kemudian menjadi bahan baku gagasan yang diketengahkan dalam kanvas atau karya kreatif lain. Kita tentu ingat, seperti yang ditulis dalam novel heboh Da Vinci Code-nya Dan Brown. Di dalamnya sempat disebut bahwa pada jamannya, Leonardo Da Vinci bukanlah dikenal sebagai seorang seniman. Namun pergaulannya sangat luas. Bahkan, dia sempat menjadi ketua perkumpulan para intelektual yang ada di kota Roma, yang anggotanya pada intelektual, politisi, dokter, dan lainnya. Demikian pula kalau kita mengulik sejarah kita sendiri. S. Soedjojono merupakan salah satu teman diskusi Bung Karno pada tahun-tahun sebelum kemerdekaan, khususnya yang berkait dengan soal kebudayaan dan seni.

Seniman adalah intelektual, yang bisa bekerja dengan metodologi berkarya yang khas dan kreatif. Kalau para peneliti melakukan riset pustaka, lapangan, dan sebagainya, tidak ada salahnya seniman juga melakukan hal serupa ketika akan berkarya dengan tema tertentu yang menuntut pendalaman atas tema. Tentu caranya berbeda dan khas seniman. Kalau hal ini ditekankan pada calon seniman, kelak, karya-karya yang akan muncul tidak sekadar berbicara tentang hal-hal yang berbau keindahan saja, namun juga hal-hal yang memuat nilai-nilai yang penting bagi dorongan moral dan kepekaan sosial masyarakat yang menyimak karya tersebut. Seniman tidak sekadar menjadi penonton bagi keadaan lingkungannya, namun berpotensi sebagai pemberi dan penjaga nilia-nilai di dalamnya. Apakah para calon seniman di sekolah ini, juga para pengajarnya telah banyak menyadari hal ini? Semoga. Selamat berpameran!

Kuss Indarto, kurator, dan editor in chief www.indonesiaartnews.or.id

Friday, March 18, 2011

Majalah "Arti" Tutup Usia


Diambil dari http://www.indonesiaartnews.or.id/newsdetil.php?id=207

oleh Kuss Indarto
KABAR tak sedap datang dari media seni. Arti, majalah seni yang kali pertama terbit pada Juni 2008 lalu, akhirnya “jatuh tersungkur” dan berhenti terbit. Setelah terbit selama hampir 3 tahun mengiringi perkembangan dan dinamika seni Indonesia, terutama seni rupa, ternyata Arti masih banyak menghadapi persoalan, baik di ranah internal ataupun eksternal. Berikut ini wawancara singkat Indonesia Art News dengan Doddi Ahmad Fauzie, salah seorang motor penting majalah Arti. Doddi terlibat aktif dalam menggagas kemunculan media ini, bahkan sejak majalah Arti masih bernama Koktail yang menjadi sisipan mingguan di harian Jurnal Nasional, Jakarta. Selama ikut mengelola Arti, posisi sosok Doddi banyak hilir mudik antara bagian redaksional dan manajemen. Berikut hasil wawancara itu:

Apa sih penyebab paling elementer hingga Arti harus ditutup?

Penyebab paling elementer, sejak saya ditarik dari marketing Arti, tepat setelah peringatan ultah Arti yang pertama, kondisi Arti menurun karena ditangani oleh manajer marketing yang tidak bisa menghayati kehidupan kesenian. Akibatnya, ia enggan datang ke pembukaan pameran seni rupa misalnya, apalagi memimpin kawan-kawan buka lapak di pembukaan pameran atau di acara kesenian lainnya. penurunan promosi langsung ini berdampak pada kepercayaan pengiklan. Inti soal dari ini adalah mis-management, sebab prinsip manajemen di mana-mana bunyinya sama: bila suatu urusan tidak ditangani oleh ahlinya, maka tunggulah keruntuhannya. Penutupan Arti adalah karena mis-management itu, baik di marketing maupun di redaksinya.

Adakah data dan angka (data penjualan, tiras, iklan, dan lain-lain) yang bisa menjadi indikasi bagi Arti (atau publik) yang kemudian bisa menjadi alasan kenapa Arti harus tutup?

Dulu, hingga ultah Arti yang pertama, tiras Arti rata-rata antara 2.500-3.000 eksemplar. Pengiklan semakin membaik, dan merebut kue iklan yang biasanya dipasang di majalah seni rupa Visual Arts. Pelanggan sudah hampir sampai ke angka 500, dan bulk order (pembelian dalam jumlah banyak), seringkali terjadi antara 50-500 eksemplar. Ketika saya dipanggil kembali untuk menangani marketing Arti, kondisinya sudah jatuh, pelanggan jatuh, pengiklan juga jatuh, dan promosinya padam. Ketika saya melakukan ulang promosi, misalnya melalui diskusi Indonesia Art Fair 2011, ada titik terang, bahkan dari Bali, ada developer yang mau kerjasama, langganan 500 eksemplar tiap bulan mulai Januari 2011, dan kompensasinya ia mendapatkan 10 halaman tiap edisi. Dari Kementerian Budaya dan Pariwisata juga sudah ada komitmen untuk pasang iklan booking seperti terjadi waktu awal Arti, di mana Kemenbudpar pasang iklan museum tiap edisi. Tapi sebelum 2011 terjadi, tanpa diajak diskusi, dan saat itu tim marketing sedang di Bali, ternyata edisi Desember 2010, Arti tidak dicetak. Saya tidak tahu asalan paling konkret selain keuangan.

Kalau dana menjadi problem utama, apakah posisi Arti yang berada di bawah manajemen harian Jurnal Nasional (Jurnas) yang juga (menurut banyak sumber) didanai oleh Partai Demokrat (sebagai partai penguasa) tidak bisa mengatasi hal ini?

Sebetulanya Jurnas tidak didanai oleh Partai Demokrat, tapi oleh perorangan, salah satunya orang Sampoerna (dulu sih Soenarjo Sampoerna, salah satu pemilik perusahaan rokok PT Sampoerna). Justru karena tidak mau menggandeng Partai Demokrat, Jurnas malah terengah-engah. Soal keuangan saya tidak tahu persis. Yang jelas, begitu menutup Majalah Arti dan Majalah Eksplo (keduanya satu grup dgn Jurnas), Jurnas malah bikin sisipan 16 halaman dari hari Senin-Sabtu yang ongkos cetaknya dalam sebulan, 100% lebih mahal dari ongkos cetak Arti + Eksplo dalam sebulan. Selain bikin sisipan 16 halaman di Jurnas, juga menerbitkan koran Jurnal Medan yang tentu membutuhkan biaya untuk cetak, karyawan, dan operasional. Jadi sepertinya bukan masalah dana yang paling elementer, walaupun alasan manajemen Jurnas mengatakan, soal dana menjadi alasan penutupan Arti.

Dari aspek strategi jurnalisme, benarkah kelemahan Arti ada pada personal redaksinya yang diduga hanya bisa membuat reportase 5W+1H (what, who, why, where, when + how) tapi kurang paham cukup dalam “jerohan” dunia seni rupa?
Dari aspek jurnalistik dan redaksional, saya kira anda bisa menilai seperti apa content Arti. Saya dalam posisi marketing, dan di redaksi bukan penentu kebijakan yang utama. Sebagai orang lapangan, saya sering berbeda pendapat dalam soal kontent redaksi. Bahkan pernah juga sampai ada gebrak meja. Kalau Arti hanya dilihat dari sisi seni rupa saja, saya ajukan pertanyaan, siapa orang redaksi Arti yang anda kenal sebelum arti ada? Kan kalau kau kenal aku, jauh sebelum ada Arti. Juga keengganan mendengarkan suara-suara publik, atau malah enggan melakukan riset dan observasi pasar, ikut menentukan menjadi seperti itulah content Arti yang terakhir.

Di balik penutupan Arti ini, apakah pihak manajemen tengah mempersiapkan format dan disain besar baru bagi keberadaan sebuah media seni rupa baru pengganti Arti?

Saya tidak tahu persis. Tapi sepertinya tidak ada. Dingin-dingin saja, sebab industri pers seperti Kompas misalnya, berapa persen sih karyawan Kompas yang benar-benar peduli "kesenian"? Juga, setelah aku dan Deddy Paw hengkang dari Media Indonesia (sekarang Deddy menjadi perupa), Anda bisa lihat wajah kebudayaan di MI, menurun atau lebih maju dibandingkan ketika kami mengelola?

Lepas dari soal penutupan Arti, menurut Anda, apa sih sebenarnya media yang cocok bagi medan seni rupa di Indonesia yang relatif dinamis seperti saat ini?

Semua media pada dasarnya cocok untuk seni rupa. Soalnya adalah, bahwa bisnis media cetak memang trend-nya menurun. Kompas, Majalah Tempo, dan lain-lain, megap-megap dengan ongkos cetak, karena harga kertas akan terus naik. Tahun 2020-an, Amerika Serikat sudah merancang undang-undang pers, hanya membolehkan 4 media cetak saja yang terbit, yaitu 3 koran dan 1 majalah. Mau tidak mau, suka tidak suka, sekarang era konvergensi di dunia maya, sepertinya internet akan lebih efisien untuk media massa bidang apapun.

Dari aspek content (muatan, isi), menurut pengalaman Anda, apa yang mendesak dibutuhkan bagi para seniman?

Informasi-informasi yang memberikan harapan dan benar-benar memberikan pengetahuan, dan informasi seperti itu selalu tertutup. Wartawan harus mau melakukan investigasi dan menghabiskan waktu bersama narasumber. Sekarang ini, semakin banyak wartawan baru yang pandai copy paste dari internet, dan ini adalah awal dari kehancuran. Padahal, seringan apapun informasi dari lapangan, jauh lebih dibutuhkan publik. Kalau hanya copy paste, kenapa pula harus beli koran Kompas? Baca saja detik.com lebih murah dan informasinya lebih berjubel, bisa diakses di mana saja dan kapan saja, termasuk lewat HP. Kekuatan wartawan ada dua sebenarnya, pengamatan langsung dengan menggunakan panca indera dan wawancara. Data sekunder dari hasil riset hanyalah pelengkap, bukan yang premier. Tapi kalau wartawan hanya pandai copypaste, yang disodorkan jadinya data sekunder yang bisa dicari di Prof. Dr. Mohammad Google. Betul kan?

Pada HUT pertama, Arti memberi award bagi almarhum Sanento Yuliman dengan (antara lain) memberi uang tunai sebesar Rp 50 juta. Ini luar biasa. Apa makna pemberian bagi Sanento yang adalah kritikus seni rupa itu? Apakah seni rupa kini tidak apresiatif pada hal yang kritis-konstruktif?

Pada ultah kedua Arti, saya merancang pemberian hadiah untuk para penulis yang masih hidup, tapi sayang begitu ultah pertama selesai, posisi saya digeser, dan tidak ada yang meneruskan visi serta misi seperti itu. Makna pemberian penghargaan kepada penulis (terutama kritikus), tentu saja untuk mengukuhkan bahwa dunia apapun membutuhkan kritik yang konstruktif. Ketika kritikus macam Anda yang dulu rajin nulis di media, sudah mulai jadi kurator (yang makanya bagiku kurator itu cenderung sebagai promotor), maka kritik kesenian jadi tumpul. Ketika kritik tumpul, kesenian jadi liberalis, dalam berbagai aspek dan bidangnya. Terutama dalam marketing-nya.

Setelah Arti tutup, majalah seni rupa yang masih bertahan adalah Visual Arts. Apakah media yang tunggal keberadaannya itu akan berpotensi menjadi dominan dalam mengelola isu, atau akan merangkul pasar yang selama ini dibidik Arti, atau sama saja: akan segera tutup karena persoalan yang sama?

Saya tidak tahu akan seperti apa Visual Arts, semoga terus bertahan dan makin maju. Saya ingat, ketika arti pertama terbit bulan Mei 2008, iklan di Visual Arts mencapai 75 halaman dan jadi mirip katalog. Tapi kira-kira awal 2010, iklan di Visual Arts tinggal 25 halaman karena sebagian lari ke Arti, termasuk pembaca dan pelanggannya. Mengapa ini terjadi, tentu karena strategi Arti yang progresif dan langsung mendatangi rumah-rumah seniman, kurator, galeri, bahkan kami melakukan roadshow, dan aku tidak memiliki prinsip high art atau low art. Toh yang dulu dianggap poster, di era kontemporer bisa diakomodasi sebagai lukisian. Dengan semangat kontemporer itu Arti menjelajah ke berbagai kantong kesenian dengan semangat, kesenian adalah untuk semua kalangan, walau kenyataannya ada sedikit kalangan eksklusif.

Visual Arts ditutup atau tidak, tentu bergantung kepada pemodalnya. Kalau nomor uangnya tidak berseri, kiranya Visual Arts akan bertahan dalam keadaan apapun. Bahwa dunia kesenian (dalam pengertian modern dibagi ke seni sastra, teater, tari, musik, rupa, film seperti yang diakomodasi oleh dewan kesenian dalam bentuk komite-komite) yang bisa swadaya itu seni rupa, ada benarnya di suatu saat dan kondisi, yaitu ketika terjadi booming lukisan. Tapi booming sama seperti gunung Merapi, ada saatnya ledakannya menghebohkan dunia, tapi pada saat lain, nampak adem-ayem. Bahkan kini, balai lelang sebagai tempat menggoreng lukisan, mengalami titik surut, lukisan yang biasa terjual di galeri mencapai Rp 50 juta, di balai lelang hanya laku Rp 15 juta, bahkan kadang tak laku.

Terakhir, apa sih hal yang paling mengenaskan selama Anda mengelola majalah seni rupa semacam Arti?

Hal paling mengenaskan adalah kenyataan bahwa sejak awal aku merasa sendirian membawa majalah Arti ke wilayah seni rupa. Kemudian, baru kemudian, personel Arti (marketing maupun redaksi), dikenal oleh publik. Saya pindah haluan dari redaksi ke marketing, juga karena perasaan yang kenas itu. Lebih parah dari itu, bahwa induknya Arti, Jurnal Nasional, baru berhasil menyandang nasional dari segi nama, yaitu koran Jurnal Nasional yang alhamdulillah sudah mulai beredar di tiga provinsi, yaitu Jakarta, Banten (Tangerang maksudnya), dan Jawa Barat (Bekasi maksudnya). ***

Sunday, March 06, 2011

Pameran Nusantara 2011 Memanggil Perupa



GALERI Nasional Indonesia (GNI) kembali akan mengelar perhelatan dua tahunan, yakni Pameran Nusantara. Menurut Direktur GNI, Tubagus “Andre” Sukmana, untuk Pameran Nusantara 2011 ini akan menjumput tema “Imaji Ornamen”. Tema ini diajukan demi menantang banyak seniman di Indonesia untuk kembali menengok akar tradisi yang ada di sekitarnya, dan sekaligus mengelola akar tersebut secara lebih kreatif dengan memperhatikan konteks jaman yang lebih mutakhir. (Silakan simak detil keterangannya di bagian bawah dari “News” ini). Pameran Nusantara 2011 ini sendiri, rencananya akan berlangsung pada 19-29 Mei 2011.

Masih menurut Andre, pameran ini merupakan tanggung jawab Galeri Nasional Indonesia untuk memberi peluang dan kesempatan bagi para perupa di seluruh Indonesia untuk berperan di venue milik pemerintah itu tanpa semata-mata mengedepankan aspek komersialnya secara ketat. Oleh karenanya, diharapkan aspek keterwakilan (representativeness) dalam pameran ini bisa lebih kuat. Andre mencontohkan bahwa pada perhelatan Pameran Nusantara 2009 dengan tajuk kuratorial “Menilik Akar” dua tahun lalu mampu menyaring 99 perupa dan kelompok perupa dari 21 propinsi di Indonesia. Ini dijaring dari sekitar 600 proposal seniman/kelompok seniman yang diajukan. Memang belum semua propinsi terwakili dalam pameran tersebut karena bagaimanapun, selain aspek keterwakilan, GNI juga tetap berusaha untuk memperhatikan aspek kualitas artistik dan estetika karya.

Andre juga banyak menaruh harapan kalau (mudah-mudahan) kualitas dan kuantitas karya seniman yang hadir atau diajukan oleh seniman pada tahun ini bisa jauh lebih meningkat. “Sehingga, gedung A, B, dan C bisa sekaligus digunakan untuk perhelatan Pameran Nusantara ini. Bukan hanya gedung A dan C saja seperti tahun 2009 lalu,” tuturnya.

Tantangan Andre dan GNI kiranya sangat menarik di tengah situasi pewacaan dan pasar seni rupa dewasa ini yang cenderung datar tanpa banyak dentuman hebat apalagi monumental. Juga, meskipun perhelatan ini sama sekali tidak memberi stimulan hadiah berupa angka-angka rupiah atau kompensasi yang menggiurkan seperti event kompetisi seni rupa yang belum lama ini berlangsung, diharapkan para perupa di Indonesia tidak melewatkannya. Memang, ini menjadi tantangan tersendiri, apakah seniman mampu berbuat banyak di tengah minimalnya wacana dan relatif miskinnya iming-iming denting rupiah seperti terjadi sekitar 3-4 tahun lalu. ***

LAMPIRAN

UNDANGAN PAMERAN
GALERI NASIONAL INDONESIA, 19 – 29 MEI 2011

Pameran Seni Rupa Nusantara 2011
“Imaji Ornamen”

TEMA : “Imaji Ornamen”

WAKTU : 19 Mei – 29 Mei 2011
PERESMIAN : Kamis, 19 Mei 2011
Pukul : 19.00 WIB – selesai

Pameran akan diresmikan oleh:
Menteri Kebudayaan dan Pariwisata RI
Bpk. Ir. Jero Wacik, MBA

TEMPAT : Galeri Nasional Indonesia, Jakarta

KARYA : Lukisan, Patung, Seni Cetak, Fotografi, Video Art, Object, Instalation Art

PESERTA : Calon peserta terdiri dari para perupa yang perorangan atau kelompok dari berbagai wilayah di Indonesia, berdasarkan proses seleksi tim kurator dan juga berdasarkan undangan khusus dari pihak Galeri Nasional Indonesia.

TIM KURATOR : Kuss Indarto, curator
Eddy Susilo, exhibition coordinator
Email : pameran.nusantara2011@gmail.com


PENGANTAR

Imaji Ornamen

ORNAMEN telah lama menjadi bagian yang melekat dalam sejarah seni (rupa) di Indonesia. Publik dapat memberi tengara, misalnya, pada sekujur tubuh bangunan banyak candi Hindu dan Buddha yang bertebar di beragam kawasan di Indonesia. Sebagai amsal, candi Borobudur yang dibangun mulai sekitar 824 M dan candi Prambanan (sekitar 850 M). Di dalamnya, pada arca, relief, dan tubuh candi itu sendiri banyak sekali tergurat ornamen yang mengisahkan fragmen-fragmen Ramayana dan Mahabharata. Ada detail yang njelimet yang bisa dimungkinkan menjadi salah satu representasi atas ketelitian cara kerja dan (bahkan) cara berpikir manusia Indonesia (waktu itu).

Demikian juga tatkala publik mencermati karya seni batik dari berbagai daerah. Mulai dari batik ala keraton Ngayogyakarta, Surakarta, atau batik pesisiran ala Pekalongan, Cirebon, Indramayu, Gresik, hingga Madura, Riau dan berbagai kawasan lain. Semuanya memberi porsi yang besar atas ornamen sebagai tanda visual yang dominan. Berbagai motif, baik yang dikreasi dengan didasarkan atas kelas sosial tertentu (seperti batik motif parangrusak, udan liris, kawung atau sidomukti di keraton Ngayogyakarta), hingga batik yang diciptakan dengan cara pandang egaliter di luar keraton, telah menempatkan aspek ornamen sebagai hal yang penting, melekat dan dominan di dalamnya.

Belum lagi dengan motif-motif pada bagian tertentu dalam bangunan atau arsitektur ala Melayu, Minangkabau, Banjar, Dayak, Batak, Bugis, Lombok, dan sekian banyak kelompok suku dan etnis lainnya. Di sana, ornamen tidak sekadar menjadi tempelan sekadarnya, namun telah bersalin makna sebagai identitas kultural yang dihasratkan sebagai simbol kebanggaan masing-masing suku atau etnis. Demikian pula kalau publik menilik seni tattoo yang telah (pernah?) ada pada sebagian masyarakat di Indonesia, terutama di Mentawai dan Dayak. “Seni lukis” tubuh itu mengenal dengan sadar pola-pola tertentu yang mendepankan aspek ornamen(tik) untuk memberi tekanan artistik dan semiotik dalam mengguratkan seni tattoo tersebut. Sikerei di Mentawai memiliki pemahaman yang cukup untuk memberi ornamen atas tubuh-tubuh orang tertentu saat hendak menattoo, berdasarkan profesi atau kelas-kelas tertentu yang ada dalam masyarakat.

***

ORNAMEN sendiri, seperti banyak disitir dari para etimolog, berasal dari kata ornare (bahasa Latin) yang berarti “menghiasi”. Ornamen, dalam Ensiklopedia Indonesia, dijelaskan sebagai gugusan hiasan bergaya geometrik atau yang semacamnya. Ornamen, lazimnya dikreasi pada sebuah bentuk dasar dari hasil kerajinan tangan (bisa perabot, pakaian, dan sebagainya) dan arsitektur. Ornamen menjadi komponen dalam produk dan kreasi seni yang ditambahkan atau didisain secara sengaja dengan tujuan sebagai hiasan.

Pembahasan perihal ornamen tidak terlepas dari pola dan motif karena itu merupakan bagian yang melekat dari ornamen. Pola dalam bahasa Inggris disebut “pattern”. H.W. Fowler dan F.G Fowler menyebut bahwa pola adalah “decorative” design as executed on carpet, wall paper, cloths etc”. Sedangkan Herbert Read menjelaskan pola sebagai penyebaran garis dan warna dalam suatu bentuk ulangan tertentu. Mungkin masih sulit gambaran kita tentang pola apabila belum mengerti motif. Dalam Ensiklopedia Indonesia, dijelaskan bahwa motiflah yang menjadi pangkal tema dari suatu buah kesenian. Pendapat di atas bisa digambarkan bahwa bila ada garis lengkung, msalnya, maka garis tersebut disebut sebagai motif, yaitu motif garis lengkung. Kalau garis lengkung tadi diulang secara simetris, maka akan diperoleh gambar lain yaitu gambar kedua. Inilah sebuah pola yang didapat dengan menggunakan motif garis lengkung tadi. Selanjutnya bila gambar kedua tadi motif dan diulang-ulang menjadi gambar ketiga, maka gambar tersebut dapat disebut sebagai pola atas motif yang kedua tadi. Demikian seterusnya.

Di samping tugasnya sebagai penghias secara implisit menyangkut segi-segi keindahaan, misalnya untuk menambah keindahan suatu barang sehingga lebih bagus dan menarik. Disadari pula bahwa dalam ornamen sering ditemukan pula nilai-nilai simbolik atau maksud-maksud tertentu yang ada hubungannya dengan pandangan hidup (falsafah hidup) dari manusia atau masyarakat pembuatnya, sehingga benda-benda yang dijadikan medium atas ornamen itu memiliki arti dan makna yang mendalam, dengan disertai harapan-harapan yang tertentu pula.

Memang, tak jarang ornamen itu berkait dengan masalah-masalah lain yang lebih kompleks dan luas. Kaitan hubungan tersebut bisa diuraikan perihal motif, atau tema maupun pola-pola yang dikenakan pada benda-benda seni, bangunan, dan pada permukaan apa saja tanpa memandang kepentingannya bagi struktur dan fungsinya. Selanjutnya apabila diteliti lebih mendalam dari pembahasan di atas, cakupan ornamen menjadi teramat luas. Oleh sebab itu pengertian ornamen akan bergantung dari sudut pandang kita melihatnya, dan setiap orang bebas menarik kesimpulan menurut sudut pandangnya.

***

LALU, apa yang bisa diperbincangkan dan dipertajam dari kuratorial tentang “Imaji Ornamen”? Inilah titik penting yang diajukan dalam perhelatan ini.

Ornamen sebagai bagian dalam “bawah sadar” dan “tradisi” yang dikenal, diketahui atau bahkan melekat dalam diri dan proses kreatif seniman di Indonesia, kali ini dihasratkan untuk dijumput dan digali kembali, dan kemudian diaktualisasikan dan dikembangkan dalam konteks kebaruan cara pandang seniman terhadap perkembangan jaman. Ini memang sebuah hasrat yang “klasik” namun memang perlu kreativitas lebih lanjut dari para perupa untuk lebih mendinamisasikan lagi.

Publik bisa berkaca dari beragam contoh karya seni rupa kontemporer yang telah beredar di sekitar kita. Sebut misalnya karya “Wayang Batak” karya Heri Dono yang mengolah aspek dasar wayang dengan pembaruan segi ornamentasinya yang naïf dan kartunal khas Heri Dono. Demikian pula dengan karya lukis dari perupa Nasirun yang memendam memori personalnya atas dunia pewayangan yang menjadi akar (dasar) tradisinya. Wayang digali dan digubahnya kembali dengan spirit “kontemporer” sesuai kapasitas estetik dan artistiknya. Dan publik tentu tahu persis bahwa dunia rupa wayang sangat identik dengan dunia ornamen yang rumit penuh ketekunan. Demikian pula dengan seniman Indonesia yang kini bermukin di Australia, Dadang Christanto. Pada satu waktu, sekitar dua tahun lalu, karya-karyanya yang dipamerkan secara tunggal di Jepang banyak menggali aspek visual dari batik pesisiran Cirebonan dengan motif mega mendung. Pun dengan pasangan Santi dan Otom yang melabelkan diri dengan nama Indieguerillas. Karya-karya mereka yang paling mutakhir sedikit banyak beranjak dari kemampuan mereka untuk mengeksplorasi dan menggubah kembali narasi-narasi visual lokal untuk diangkat dalam “narasi baru” yang dekat dengan konteks perbincangan masa sekarang (versi Indieguerillas, tentu saja). Sekali waktu, tokoh-tokoh Punakawan yang bernilai lokal itu dijadikan sebagai salah satu subyek utama karya meraka dan dihadirkan dalam kerangka pandang “new pop art” yang kontekstual untuk masa sekarang.

Dengan demikian, sesungguhnya, perhelatan Pameran Nusantara 2011 ini memberi peluang seluas-luasnya bagi para perupa yang bergerak dalam banyak ragam medan dan medium seni rupa untuk terlibat memikirkan kembali (re-thinkhing), membaca kembali (re-reading), dan menemukan kembali (re-inventing) nilai-nilai dalam ornamen yang telah banyak bergerak di sekitar sebagai nilai lokal untuk dikembangkan lebih lanjut dengan bentuk ungkap dan sistem pemahaman yang (sebisa mungkin) lebih baru dan dalam.

A. CATATAN BAGI PESERTA PAMERAN

• Calon peserta terdiri dari para perupa perorangan atau kelompok dari berbagai wilayah di Indonesia, berdasarkan proses seleksi tim kurator dan juga berdasarkan undangan khusus dari pihak Galeri Nasional Indonesia.
• Setiap calon peserta WAJIB MENDAFTARKAN DAN MENGISI FORMULIR yang disediakan panitia PALING LAMBAT tanggal 21 April 2011, melalui email pameran.nusantara2011@gmail.com

Alamat pengembalian Formulir Pendaftaran/ Kesediaan calon peserta adalah:

Panitia Pameran
Seni Rupa Nusantara 2011 “Imaji Pameran”
Galeri Nasional Indonesia
Jl. Medan Merdeka Timur no. 14
(depan Stasiun KA. Gambir)
Jakarta Pusat
Telp/fax: 021- 34833954
Email: pameran.nusantara2011@gmail.com
u.p. Bpk. Tunggul (HP: 085780825275 )

• Setiap peserta WAJIB menyertakan keterangan CV/Biodata dan konsep karya dalam BAHASA INDONESIA sebagai DATA FILE (Word Document). Biodata terdiri dari: Data diri, alamat lengkap, prestasi, dan photo diri serta image karya yang akan dipamerkan.

B. CATATAN TENTANG KARYA

• Pengerjaan dan penyiapan karya adalah tanggung jawab peserta
• Karya yang diajukan untuk dipamerkan merupakan karya yang dibuat dalam rentang waktu dari tahun 2010 hingga 2011 serta milik masing-masing peserta.
• Karya yang dipamerkan merupakan hasil tanggapan terhadap tema “Imaji Ornamen”
• Karya peserta berupa: Lukisan, Patung, Seni Cetak, Fotografi, Video Art, Object, Instalation Art
• Media dan teknik pembuatan karya tidak mengikat/ BEBAS.
• Setiap peserta kengirimkan dua buah karya dalam bentuk image/foto ukuran 10 R (dikirim via pos) atau dalam bentuk soft data image resolusi minimal 500 kb dan maksimal 1 mb (dikirim via email) untuk bahan seleksi tim kurator.
• Ukuran karya:
Karya 2 dimensi (minimal 1x1 m dan maksimal lebar 3x4m)
Karya 3 dimensi (minimal 50 cm3 dan maksimal 3 m3)
Karya instalasi (maksimal 3 m3)
Dengan diperbolehkan pilihan secara vertikal ataupun horisontal.

• Pilihan Ukuran, materi dan bentuk karya yang bersifat khusus harus dibicarakan dengan pihak kurator.
• Karya yang telah terpilih dapat disempurnakan kembali dan di foto ulang dan dikirimkan ke panitia pameran paling lambat 21 April 2011. Foto tersebut di gunakan untuk keperluan pembuatan katalog pameran.

C. PENGEPAKAN DAN PENGIRIMAN KARYA

• Pengepakkan dan pengiriman karya ke Galeri Nasional Indonesia (Jakarta) adalah tanggung jawab peserta pameran.
• Masing-masing perserta disarankan menyiapkan kemasan bungkus atau kotak karya yang memadai sehingga tidak akan mengakibatkan kerusakan karya saat proses pengiriman karya
• Peserta wajib mengirimkan karyanya dalam kondisi finish siap pajang/display.
• Bagi karya peserta yang menggunakan pigura, maka peserta WAJIB mengirimkan karyanya dalam kondisi SUDAH DIPIGURA (frame)/ finish.
• Karya paling lambat diterima di Galeri Nasional Indonesia tanggal 6 Mei 2011
• Alamat pengiriman karya:

Panitia Pameran
Seni Rupa “NUSANTARA 2011”
u.p. Bpk Tunggul (HP : 085780825275 )
Galeri Nasional Indonesia
Jl. Medan Merdeka Timur no.14 (depan Stasiun KA. Gambir)
Jakarta Pusat
TEL/FAX : 021 - 34833954

• Pengepakkan kembali dan pengiriman ulang karya kepada perupa/peserta adalah tanggung jawab pihak Galeri Nasional Indonesia.

D. DISPLAY KARYA

• Display karya adalah hak dan tanggung jawab kurator pameran dan Galeri Nasional Indonesia.
• Pemasangan atau display karya yang bersifat khusus akan didiskusikan oleh kurator dengan pihak perupa/peserta yang bersangkutan.
• Pengadaan alat yang digunakan untuk presentasi karya adalah tanggung jawab masing-masing peserta yang menggunakannya.

E. PUBLIKASI

• Galeri Nasional Indonesia akan memproduksi katalog pameran.
• Publikasi kegiatan akan dilakukan melalui berbagai saluran promosi dan interaksi elektronik.
• Undangan dan poster pameran akan diproduksi Galeri Nasional Indonesia.
• Galeri Nasional Indonesia akan menyelenggarakan kegiatan press confeerence dan menyebarkan press release menjelang pelaksanaan kegiatan.

F. RANGKAIAN KEGIATAN

• Kegiatan pameran akan dilengkapi oleh rangkaian kegiatan :
1. Diskusi/Sarasehan mengenai Seni Rupa Nusantara (20 Mei 2011) pukul 10.00 WIB hingga selesai.

G. CATATAN KHUSUS
• Karya yang dipamerkan pada Pameran nusantara 2011 ini direncanakan dipamerkan keliling ke kota lain. Penentuan materi pameran diseleksi oleh tim kurator Galeri Nasional Indonesia

CATATAN: TENGGAT WAKTU PENTING (TIME FRAME)

1. Pendaftaran Kesertaan Peserta Pameran, Pengumpulan Biodata Seniman dan Pengumpulan Image/photo karya => 7 Mar-21 April 2011

2. Proses seleksi tim kurator => 25 April 2011
3. Pengumuman Karya/Peserta terpilih => 26 April 2011
4. Pengiriman Karya ke GNI => 1 - 6 Mei 2011
5. Display Karya => 16 - 19 Mei 2011
6. Pembukaan Pameran => 19 Mei 2011
7. Pameran Seni Rupa Nusantara 2011 “Imaji Ornamen” => 19 – 29 Mei 2011
8. Pembongkaran Display Karya => 30 Juni-3 Juli 2011
9. Pengembalian Karya pada Peserta => 3 - 30 Juli 2011

LEMBAR KESEDIAAN PESERTA*)

Pameran Seni Rupa Nusantara 2011 “Imaji Ornamen”
GALERI NASIONAL INDONESIA 19 – 29 MEI 2011

Setelah membaca dan memahami butir-butir keterangan penyelengaraan kegiatan,
maka dengan ini:
Nama : __________________________________
Alamat : __________________________________
____________________________________________
____________________________________________
Tel/Fax : ___________________________________
e-mail : __________________________________
menyatakan bersepakat dengan seluruh ketetapan yang telah ditentukan dan bersedia menjadi peserta pameran dan akan menyertakan foto/image karya dengan data sebagai berikut:
Judul Karya : ______________________________
Tahun : ________________________________
Medium/Teknik : ______________________________
Konsep karya (bisa dalam bentuk lampiran word dokumen) : ______________________________
_____________________________________________
_____________________________________________
_____________________________________________
_____________________________________________
_____________________________________________
_____________________________________________
_____________________________________________
_____________________________________________
_____________________________________________
_____________________________________________
_____________________________________________
_____________________________________________

Demikian pernyataan dan keterangan yang dapat saya sampaikan.

Terima kasih.
______________________________ , 2011


[ _____________________________ ]


*) Formulir Kesedian Peserta PALING LAMBAT DIKEMBALIKAN TANGGAL 21 APRIL 2011