Thursday, February 26, 2015

In Memoriam Hendro Suseno: Siluet di Balik Layar

Kuss Indarto

Sing sapa kang ngeling-eling pati
ingkang bisa mati jro ning gesang
tinetah supaya teteh
titah ing Hyang Mahagung
kudu eling ing dalem pati
petitis ing kasidan
uripe linuhung
sebab uripe prasanak pati
lawan pati urip tan kenaning pati
yeku dat ing hyang Suksma

Barang siapa ingat akan kematian
barang siapa dapat mati sambil hidup
barang siapa menerima bimbingan agar menjadi jelas baginya
segala peraturan Yang Maha Agung
barang siapa dengan jelas melihat kesempurnaan
hidup orang itulah luhur
karena hidupnya berkaitan dengan kematian
yang sekaligus hidup tunduk kepada kematian
artinya hakikat Hyang Suksma

(Serat Centhini II pupuh 64, bait 234, disusun dalam tembang Dandanggula)

Akhirnya, kematian menjadi jalan terbaik pilihan Tuhan untuk diberikan pada perupa Drs. R. Hendro Suseno. Selasa dini hari, 13 Juni 2006 sekitar pukul 00.30 WIB, perupa kelahiran 24 Oktober 1962 ini kembali ke sangkan paraning dumadi, muasal segala keberadaan, dalam usia 44 tahun. Kematian menjadi jalan terindah untuk menyempurnakan hidupnya, menuju suwung awang-uwung seperti dalam kosmologi Jawa. Penyakit diabetes akut yang selama empat bulan terakhir menyergap, tak kuasa ditahan oleh tubuhnya yang tak lagi terlalu kokoh, juga oleh spirit hidupnya yang masih tampak sangat kukuh.

Masyarakat seni (rupa) Yogyakarta kehilangan. Tak berlebihan, karena selama bertahun-tahun, peran-perannya yang tak terlalu diperhatikan banyak pihak, sedikit banyak telah memberi sumbangan bagi dinamika seni (rupa) di tlatah Yogyakarta. Mungkin tak gigantik capaian atas sumbangannya itu, tetapi barangkali itulah pilihan garis dedikasi yang terus ditekuni dan diyakininya. Inilah bagian penting dari risiko yang melekat dari posisi sosok Hendro Suseno yang acap bergerak di balik layar. Dia mungkin tak lebih dikenal ketimbang teman-teman seangkatannya di SSRI (Sekolah Seni Rupa Indonesia, sekarang SMKN 1 Yogyakarta) dulu semisal aktor Butet Kertaradjasa, kurator Suwarno Wisetrotomo, atau koreografer Bimo Wiwohatmo, pun penulis Sunardian Wirodono. Sehingga, mafhumlah andai menyeruak sebaris tanya: siapa Hendro Suseno?

Tanpa bertendensi untuk membangun heroisasi picisan, sebenarnya Hendro Suseno, bagi saya, merupakan sebuah “lembaga seni (rupa)” tanpa lembaga formal profesional. Dia bisa tampil sebagai seniman dengan karya visualnya pada satu waktu. Pada lain kesempatan, dengan mobilitas vertikal dan horizontalnya yang telah terbangun dengan baik, bujangan ini mampu tampil sebagai event-organizer bagi banyak perhelatan seni yang bermutu. Di sinilah posisinya sebagai mediator begitu terasah untuk, antara lain, menjembatani antara kolektor “yang tergagap-gagap” dan seniman yang “bergagah-gagah” dalam melakukan ritus pertukaran nilai. Bahkan dalam beberapa perhelatan seni rupa, praktik kuratorial tak jarang telah dilakoninya dengan baik, meski tidak dengan serta-merta publik menyebutnya sebagai kurator. Dalam format tersendiri, putra ketiga pasangan RM Saronosuwiryo dan Suyatmi ini menjelma menjadi “lembaga sosial seni” bagi rekan-rekan seniman yang berkekurangan dalam banyak segi. Pendeknya, “lembaga Hendro Suseno” telah sekian tahun bergerak memberi warna tersendiri bagi geliat seni di kota Yogyakarta – sekecil apapun pengakuan publik terhadap fakta ini. Lembaga formal profesional jelas tak akan pernah terwujud dari dirinya karena justru ritus kesenimanannya yang “kontra-rutinitas” tak memungkinkan – dan menolak – melangkah ke arah itu.

Dari dirinya muncul banyak gagasan kreatif yang terimplementasikan sebagai perhelatan seni yang “ngawur”, nothing to lose, dan unik, tanpa menggamit tendensi sensasi. Misalnya ketika kalangan seniman, budayawan, dan akademisi mempersembahkan acara megah “Pak Kayam Pamit Pensiun” pada 16-17 Juni 1997 di Purna Budaya. Beberapa hari berselang dia “menyodorkan” pantomimer Jemek Supardi untuk melakukan aksi pantomim jalanan mulai dari boulevard UGM hingga ke Benteng Vredeburg di ujung selatan Malioboro dengan menumpang kendaraan forklift yang disewa secara bantingan. Aksi ini, yang bertajuk “Pak Jemek Pamit Pensiun”, kiranya menjadi sebuah aksi resistensial yang sengaja disandingkan untuk menyitir ketersingkiran seniman “kecil” yang telah sekian tahun suntuk berkarya dan dengan begitu lekas dilenyapkan oleh waktu dan kealpaan. Bagi Jemek sendiri, itu merupakan capaian kreatif yang belum terpikirkan sebelumnya. Duet Hendro-Jemek ini kemudian berlanjut dengan aksi pantomim di permakaman umum di belakang Purawisata Yogyakarta. Mereka menggagas bersama untuk kemudian Jemek tampil sebagai “jenazah” di peti mati yang siap dikuburkan.

Pada lain kesempatan, sekitar tahun 1998, AJI (Aliansi Jurnalis Independen) Yogyakarta berhasrat untuk melakukan penggalangan dana untuk penguatan organisasi profesi tersebut. Hendro disambati, melakukan praktik kuratorial, pendekatan personal dengan seniman dan kolektor, dan akhirnya pameran di Bentara Budaya Yogyakarta dapat mengantungi dana bersih hingga ratusan juta rupiah. Tentu bukan faktor pasar yang cermati di sini, melainkan faktor kejelian dan jenialnya sosok alumnus Jurusan Seni Lukis ISI Yogyakarta ini dalam menyeimbangkan antara memilih seniman dan karya dengan citra estetik yang baik dan menggandeng pasar yang masih tergagap. Bukan dengan mempertajam dualisme “pasar dan wacana” yang seolah tanpa titik temu.

Dari dirinya muncul banyak gagasan kreatif yang terimplementasikan sebagai perhelatan seni yang “ngawur”, nothing to lose, dan unik, tanpa menggamit tendensi sensasi. Misalnya ketika kalangan seniman, budayawan, dan akademisi mempersembahkan acara megah “Pak Kayam Pamit Pensiun” pada 16-17 Juni 1997 di Purna Budaya. Beberapa hari berselang dia “menyodorkan” pantomimer Jemek Supardi untuk melakukan aksi pantomim jalanan mulai dari boulevard UGM hingga ke Benteng Vredeburg di ujung selatan Malioboro dengan menumpang kendaraan forklift yang disewa secara bantingan. Aksi ini, yang bertajuk “Pak Jemek Pamit Pensiun”, kiranya menjadi sebuah aksi resistensial yang sengaja disandingkan untuk menyitir ketersingkiran seniman “kecil” yang telah sekian tahun suntuk berkarya dan dengan begitu lekas dilenyapkan oleh waktu dan kealpaan. Bagi Jemek sendiri, itu merupakan capaian kreatif yang belum terpikirkan sebelumnya. Duet Hendro-Jemek ini kemudian berlanjut dengan aksi pantomim di permakaman umum di belakang Purawisata Yogyakarta. Mereka menggagas bersama untuk kemudian Jemek tampil sebagai “jenazah” di peti mati yang siap dikuburkan.

Dalam perhelatan-perhelatan yang dilakoninya itu, sekali lagi, Hendro relatif tersamar kehadiran dan perannya. Barangkali dia sekadar siluet yang sesekali berkelebat dalam layar (seni rupa Yogyakarta) yang terus bergerak dengan segenap kompleksitasnya. Oleh publik dia tak terlacak kebintangannya, tapi sekadar jejak kerja kreatifnya yang mungkin membekas, atau mungkin lenyap tanpa tilas. Kemampuan untuk membendung diri agar tidak tampil sebagai bintang atau lakon utama pantas digarisbawahi oleh banyak seniman dewasa ini yang saling berebut membintangkan diri. Tak berlebihan kalau hal ini merupakan “asketisme estetik” tersendiri.

Barangkali nama Hendro Suseno tak akan banyak masuk dalam berbagai pemetaan seni (rupa) ke depan. Itu sekadar soal politik kesenian yang bisa dikonstruksi berulang-ulang oleh siapapun. Namun, dalam pergaulan sosial kesenimanan di Yogyakarta, tak ayal, kita kehilangan figur seniman yang jarang marah, humoris, suka “iseng”, enthengan, dengan kesadaran sosial yang amat kental.

Mas Hendro, selamat jalan. Tetegna atimu, aja mandheg, aja noleh. Ing ngarep kana ana dalan padhang mulya linuwih, pepadhang, pepadhang, pepadhang! Kuatkan hatimu, jangan berhenti, jangan menoleh. Nun di depan ada jalan yang lebih mulia, benderang, benderang, benderang!

***

Catatan ini telah dimuat di harian Kedaulatan Rakyat, Yogyakarta, Minggu, 18 Juni 2006.

Kuss Indarto, salah satu sahabat almarhum.

Friday, February 13, 2015

Sejarah yang Jauh di Dekat Kita

Oleh Kuss Indarto

“SAYA tidak begitu asing dengan Diponegoro karena masa kecil saya sempat tinggal tak jauh dari Museum Diponegoro di daerah Tegalrejo, Yogyakarta. Dan saya sesekali berkunjung ke sana. Hanya sekitar 300 meter jaraknya menuju museum,” kata Prof. Dr. Anis Rasyid Baswedan, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI saat mengawali sambutan dalam pembukaan pameran seni rupa “Aku Diponegoro: Sang Pangeran dalam Ingatan Sejarah”. Pameran ini berlangsung di Gedung A, Galeri Nasional Indonesia (GNI), Jalan Medan Merdeka Timur 14, Jakarta Pusat, mulai 5 Februari hingga 8 Maret 2015. Dalam sambutan tersebut Anis juga menyoal tentang peran dan kontribusi Pangeran Diponegoro dalam perjuangan menuju keindonesiaan, hingga membincangkan tentang pentingnya pembangunan kebudayaan—yang menjadi tanggung jawabnya sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan.

Sambutan Anis menjadi sambutan puncak setelah sebelumnya ada pidato dari Kepala Galeri Nasional Indonesia, Tubagus “Andre” Sukmana selaku tuan rumah, dan Dr. Heinrich Blomeke, Direktur Goethe-Institut Indonesien, sebagai penghelat acara pameran ini. Andre dan Blomeke sama-sama mengingatkan bahwa pameran ini kiranya tak lepas dari “kisah sukses” pameran tungal karya-karya Raden Saleh Sjarief Boestaman yang berlangsung di tempat yang sama pada Juni 2012 lalu. Pameran tersebut menjadi pameran tersukses yang terjadi di GNI dalam kurun beberapa waktu terakhir karena dalam waktu penyelenggaraan yang hanya berdurasi 2 pekan telah mampu menyedot pengunjung lebih dari 20.000 orang. Untuk menonton pun ratusan orang harus mengantri hingga mengular di halaman Gedung A GNI. Maka, perhelatan kali ini diharapkan tidak saja menjadi pameran biasa, namun bisa digagas lebih lanjut tentang pentingnya koleksi museum, warisan budaya, dan pengaruhnya terhadap ingatan kolektif masyarakat Indonesia.

Pameran ini memang memuat “password(s)” penting: mempertautkan Pangeran Diponegoro dan Raden Saleh dalam satu ruang dengan pengayaan beberapa sudut pandang. Ada karya puncak Raden Saleh di sini, yakni lukisan Penangkapan Dipanegara (1857)—yang merupakan apropriasi sekaligus perlawanan terhadap karya pelukis Belanda, Nicolaas Pieneman, Penyerahan Diri Diponegoro (1835). Untuk penguatan aspek seni rupanya, tim kurator yang terdiri dari Werner Krauss, Jim Supangkat, dan Peter Carey mengajak para para perupa Indonesia untuk merespons tema “Aku Diponegoro” ini dalam konteks pemahaman subyektif masing-masing. Para perupa itu direkrut berdasar undangan dan aplikasi terbuka. Mereka antara lain adalah Srihadi Soedarsono, Chusin Setiadikara, Sri Astari, Pupuk Daru Purnomo, Nasirun, Entang Wiharso, Indieguerilas, Aditya Novali, Indyra, Maharani Mancanagara, Manguputra, Mirelle dan Lutfi Hasan, Bron Zelani, Eli Sugiarto, Muhammad Ferdy Pratama, Nino Novanda, Rudi Winarso, Sangaji Surahmat, dan lainnya. Juga ada lukisan para old master yang sengaja dihadirkan karena secara visual memiliki tema yang sangat relevan tentang Diponegoro, yakni karya S. Soedjojono, Hendra Gunawan, Sudjono Abdullah, dan Harijadi Sumodidjojo.

Para perupa “penafsir” itu, sayangnya, banyak yang masih terpaku pada problem visualitas semata, belum ada upaya penggalian substansi yang memungkinkan ada pengayaan interpretasi. Ada memang karya Aditya Novali yang cukup menggugah ketika dia membayangkan ada sesuatu di balik proses pembuatan karya Penangkapan Diponegoro. Ada pula karya Chusin Setiadikara yang memberi konteks baru soal keindonesiaan atas karya Raden Saleh yang berjudul “Banjir Jawa” (1863-1876). Lukisan Raden Saleh itu sendiri merupakan adaptasi dari karya besar Theodore Gericault, “Craft of Medusa”. Sebagai sebuah gagasan, karya Chusin begitu menarik. Sayang, kali ini karyanya tidak ditopang oleh perkara teknis yang tuntas. Karyanya tampak belum selesai, tidak lebih detil ketimbang karya-karyanya yang biasa dipresentasikan ke publik.

Di luar jajaran karya para perupa, pameran ini menjadi lebih kaya karena kehadiran artifak-artifak bersejarah yang mengikatkan secara kuat sosok dan heroisme Pangeran Diponegoro. Posisi sejarawan “spesialis Diponegoro”, Peter Carey, dalam tim kurator ini tampaknya memberi kontribusi besar untuk mengayakan sekaligus memperluas pameran ini menjadi berdimensi historis dan, bahkan, antropologis. Pada sebuah ruangan di pojok tenggara Gedung A, yang berukuran 6,5 x 6,5 meter, ada tiga artifak penting yang bersejarah dan berkait dengan perjuangan kepahlawanan Pangeran Diponegoro.

Artifak itu: tombak pusaka bernama Kiai Rondhan, pelana kuda yang diduga dipasang di punggung kuda kesayangan Diponegoro, Kiai Gentayu, serta tongkat Kanjeng Kyai Tjokro (Cakra). Kiai Rondhan dan pelana kuda sejak tahun 1978 telah kembali ke Indonesia dan menjadi koleksi Museum Nasional, di Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta. Diponegoro kehilangan tombak dan pelana tersebut pada tanggal 11 November 1829, tepat Diponegoro berusia 44 tahun, ketika dia disergap oleh Pasukan Gerak Cepat ke-11 pimpinan Mayor A.V. Michiels di pegunungan Gowong. Ia melompat dari kuda lalu bersembunyi menyusuri lembah di sekitar itu. Sang pangeran selamat jiwanya, namun dia kehilangan senjatanya kesayangan yang dianggapnya suci dan selama dipegangnya telah memberi perlindungan serta peringatan akan datangnya bahaya. Dua artifak itu kemudian oleh Michiels dikirim ke raja Belanda waktu itu, Willem I (1813-1840), sebagai rampasan perang.

Sementara artifak lain yang menjadi bintang pada pameran ini adalah Kanjeng Kyai Tjokro (Cakra). Tongkat ini acap kali dibawa Diponegoro ketika melakukan perjalanan ziarah ke tempat-tempat suci untuk memohon agar segala kegiatannya teberkati. Pada upacara pembukaan pameran, Kamis malam itu, Mendikbud Anis Baswedan secara resmi menerima kembali tongkat itu dari wakil keluarga Baud—Erica Lucia Baud dan Michiels Baud—yang memiliki tongkat tersebut sejak tahun 1834, 4 tahun setelah Perang Jawa atau Perang Diponegoro (1825-1830) berakhir. Diduga, tongkat itu berpindah tangan pada 11 Agustus 1829 ke Pangeran Adipati Notoprojo, cucu Nyai Ageng Serang—komandan perempuan pasukan Diponegoro. Notoprojo sendiri adalah sekutu politik Belanda setelah dia menyerahkan diri pada 24 Juni 1827. Wajarlah kalau Notoprojo berusaha mengambil hati—dengan memberikan tongkat Cakra tersebut—pada Jean Chretien Baud (1789-1859), gubernur jendral baru yang tengah melakukan inspeksi pertama di Jawa Tengah pada musim kemarau 1834.

Erica Lucia Baud dan Michiels Baud yang mewarisi tongkat dari leluhurnya tersebut, seiring jalannya waktu, merasa telah kehilangan makna atas benda itu. Apalagi ketika ayah mereka meninggal tahun 2012 lalu. Maka, bergegaslah mereka menghubungi Rijkmuseum di Amsterdam untuk meneliti keberadaan sejarah yang sesungguhnya atas tongkat itu. Dan, akhirnya, 5 Februari 2015 ini—setelah 181 tahun berada di genggaman keluarga Baud, tongkat Kanjeng Kyai Tjokro kembali ke bumi Jawa.

Presentasi ketiga artifak tersebut cukup anggun meski, sayangnya, berada dalam ruang yang terlalu sempit, sehingga tidak memungkinkan bagi pengunjung untuk menyimak secara detil warisan pusaka itu dari berbagai sudut pandang—kecuali tongkat Kyai Tjokro. Tapi sebagai presentasi awal ke publik sejarah—pendekatan seni rupa ini mampu menggoda orang awam untuk masuk mendalami sejarah (Diponegoro) yang kadang diabaikan.

Artifak bersejarah lainnya dapat dirunuti dari karya batik tulis sogan yang berada di ruangan lain dalam Gedung A. Tergelar di sana kain batik tulis berukuran 270 x 90 cm yang diduga dibuat antara kurun 1870-1900. Penggambaran dalam karya ini menarasikan pergerakan Pasukan Gerak Cepat Belanda selama Perang Jawa/Perang Diponegoro (1825-1830). Pasukan ini, bersama sistem Benteng Stelsel, memutar balik arah pertempuran dan memberikan keuntungan kepada Belanda pada tahun ketiga perang tersebut. Karya batik koleksi museum Danar Hadi, Solo ini kiranya bisa memberi secuil pesan bahwa dalam seni rupa tradisi pun, sejak lama, tak lepas dari garis ordinasi politik kekuasaan yang mengepung di sekitarnya. Ada dugaan political order dalam dunia kreatif pada kurun tertentu, seperti terlacak dalam karya indah dan bersejarah ini.

Akhirnya, saya hanya bisa menduga-duga bahwa pameran semacam ini bisa memungkinkan menyambung jarak psikologis publik yang terpotong oleh keterasingan pada sejarah meski dia dekat secara geografis. Sambutan pembuka Mendikbud Anis Baswedan di awal tulisan ini, yang merasa tak asing dengan sosok Diponegoro, kiranya bisa digarisbawahi dengan aksi untuk mengenal, mengetahui, dan belajar lebih lanjut tentang sesuatu yang dekat itu. Tentu sebuah satir yang telak dan menohok ketika pameran penting ini—yang tanpa hingar-bingar isu pasar—justru diinisiasi oleh lembaga asing, Goethe-Institut, sebagai motor utama. Aduh, malunya kami! ***