Friday, January 30, 2015

Cita-Cita

Oleh Kuss Indarto

Malam itu, sekitar tiga puluhan tahun lalu, aku menguping pembicaraan ayah dan dua tetanggaku (sebut saja J dan K) yang datang “ngendhong” (menamu) untuk sebuah keperluan. Sebagai orang/keluarga yang baru pindah dari kota, ayahku dianggap oleh tetangga punya secuil pengalaman yang berbeda sehingga perlu untuk berbagi. Tapi, kukira, itu juga lebih karena karakter tetangga kami di dusun yang lebih toleran, semanak, dan ingin menjaga silaturahmi, sehingga praktik bertetangga menjadi penuh kekeluargaan.


Dua tamu ayahku tadi semuanya berusia sekitar 27 tahun dan sudah menikah (muda) dengan masing-masing memiliki dua orang anak (mereka, kelak sama-sama punya 5 orang anak). Mereka hidup dalam belitan ekonomi keluarga yang pas-pasan karena hanya menjadi petani penggarap tanpa memiliki lahan sendiri. Latar pendidikan yang dilakoninya hanya sampai tamat SMP. Tanah warisan sebetulnya punya meski tak seberapa (seperti pengakuan mereka), tapi belum dibagi.

Maka, maksud kedatangan mereka ini untuk curhat kepada ayahku, sekaligus mencari peluang pekerjaan yang mungkin bisa diraih untuk mengubah nasib. Mereka ingin menjadi polisi, karena sadar yang mereka datangi adalah seorang mantan anggota Polri. Siapa tahu bisa memberi jalan, bahkan mungkin peluang. Sebagai seorang pensiunan perwira pertama (pama), bukan orang penting dalam struktur besar lembaga polri, ayahku hanya bisa memberi petuah, petunjuk praktis, dan perkara teknis pendaftaran masuk polri seperti yang diketahuinya. Tak bisa memberi anjuran yang lebih konkret dan sok kuasa seperti “temuilah pak X, bilanglah kalau anda saudara saya”, karena ayahku bukan siapa-siapa. Di antara keriuhan perbincangan itu, ayah berpesan pada dua tamu muda waktu itu: “Umur panjenengan berdua sudah mepet sebenarnya untuk masuk jadi anggota polri. Tapi cobalah, siapa tahu ada keajaiban.”

Dua orang tetangga itu memang kemudian mencoba beradu nasib dengan mendaftarkan diri masuk Polri. Namun akhirnya nasib belum berpihak pada kehendak yang dibayangkannya. Mereka kembali bertani dengan seadanya, bertaruh dengan roda nasib yang terus bergulir. Aku tak banyak tahu perkembangan mereka, apalagi ketika aku juga harus mengadu nasib jauh dari kampung.

Cita-cita dua tamu ayahku tiga puluhan tahun lalu itu, tiba-tiba terbuka dari dokumentasi ingatanku ketika kemarin malam aku mendapat panggilan telepon. Panggilan itu dari sahabat dari masa kecilku di kampung. Dia sekitar 6-7 tahun lebih muda usianya ketimbang aku. “Ingat aku kan, mas? Aku T, anak pak J, tetanggamu!” Dalam puluhan detik itu aku berusaha keras mengingat sosoknya yang kurus saat kanak-kanak dulu, sesekali sulit bergabung untuk bermain karena harus menggembala kambing keluarganya, dan tak jarang dicemooh teman sepermainan karena kelemahan fisiknya.

“Ya, ya, ya, aku ingat kamu, T…!” sambungku menjawab pertanyaannya. “Sekarang kerja dimana?” balik kubertanya. “Aku sekarang di daerah terpencil di Kalimantan Barat, berbatasan dengan Malaysia. Alhamdulillah, aku jadi Kapolsek di sana, mas!” Gleekkk!! Perbincangan kami lewat telepon terus bergulir. Tapi ada poin penting terus kuingat: cita-cita besar dan mulia pun bisa digetarkan hingga ke anak cucu, atau lingkungan sekitar. “Lalu, empat adik-adikmu dimana sekarang, T?” tanyaku kembali. “Tiga adikku di Kalbar juga, mas, jadi polisi dan polwan. Satu lainnya tetap di kampung, jadi guru.” Gleekkk!! (lagi). Aku yakin, cita-cita pak J—tetanggaku yang ingin jadi polisi itu—pasti telah terlampaui begitu dalam. Dan profesi yang tumbuh dari sebuah cita-cita mulia, semoga, bisa memanusiakan dirinya. Aku berharap tetanggaku itu jadi polisi yang baik, polisi yang (mendekati) paripurna. Semoga. ***

Sunday, January 25, 2015

Inspirasi Dari dan Untuk Wonobodro




Oleh Kuss Indarto


Karya seni rupa, pada perkembangan terkini, bukanlah karya yang statis dari aspek konsep, gagasan, material hingga mediumnya. Sepertinya halnya dasar dari kreativitas, seni selalu berusaha mencari sesuatu yang baru, yang berbeda, yang mengejutkan, bahkan melompat jauh dari tata nilai yang ada sekarang, namun berorientasi jauh ke depan. Maka, definisi dalam seni rupa (khususnya) sulit untuk bisa tetap, konstan bahkan konsisten. Selalu dapat digoyahkan oleh temuan baru atau pencapaian mutakhir yang didasari oleh kreativitas seniman. Inilah dinamika dalam seni rupa.


Demikian pula dengan banyak hal yang ditampilkan oleh Totaris dalam perhelatan kali ini. Ada pintu gerbang dari rangkaian sekian banyak botol plastik bekas air mineral, ada gazebo atau gubug di tengah kolam, mural di atas gerbang tembok, pot-pot tanaman dari kaleng dan botol minuman bekas, dan masih banyak lagi. Dalam konteks tertentu, artefak-artefak itu merupakan barang biasa yang dapat dilakukan oleh siapa saja. Namun dalam kerangka dan kacamata seniman, semua itu bisa juga dijadikan sebagai proyek seni (art project) dengan pendekatan seni rupa. Totaris, seniman asal Batang ini, memang memiliki tendensi seni dalam menggagas, mengonsep hingga menerapkan art project ini di lingkungan SDN Wonobodro 01.


Tendensi seni dalam proyek ini tidak sekadar dilakukan oleh Totaris untuk melakukan estetisasi atas banyak hal yang ditemuinya di lapangan, namun—saya kira—menjadikan karya-karya yang diestetisasi itu masuk dalam kerangka sosial sebagai karya yang fungsional. Karya itu bukanlah karya pajangan yang, seperti dalam definisi dan penerapan karya seni lama, hanya boleh dilihat namun tak boleh dipegang. Namun, melampaui itu, karya-karya Totarist ini melebur dalam praktik hidup keseharian anak didik dan staf pengajar atau masyarakat di lingkungan sekolah dasar tersebut: karya seni itu bisa dipegang, diinjak-injak, dan lainnya. Bahkan dijadikan sarana pertanian yang kelak akan dipanen karena artefak yang diestetisasi tersebut. Pendeknya, karya seni telah diderivasikan (diturunkan) untuk bertaut dalam dua hal, yakni (1) karya seni untuk kepentingan ekspresi personal, dan (2) karya seni untuk fungsi sosial. Untuk poin pertama, Totaris memberi gagasan dan mengonsep demi kepentingan personalitasnya sebagai seniman beserta egosentrismenya, dan ketika itu semua dioperasikan di ranah material, maka artefak karya disesuaikan dengan kebutuhan sosial yang ada dalam lingkungan masyarakat sebagai subyek seninya.


Proyek seni ini menjadi lebih berarti ketika Totaris mempraktekkan gagasan seninya dengan secara partisipatoris di lapangan. Artinya, sebagai seniman, Totaris bukanlah pemain tunggal yang sangat sentral di lapangan. Namun ada keterlibatan masyarakat—dalam hal ini para pelajar dan staf pengajar SD—yang terjun langsung secara bersama-sama untuk mengoperasionalkan gagasan seni Totaris. Di sinilah, sebenarnya karya seni menemukan target goal atau sasaran yang jelas: untuk apa dan siapa karya seni itu dibuat. Proyek seni ini bukanlah seperti lukisan yang menjadikan seniman sangat sentral fungsi senimannya, dan dengan cara mengonsumsinya di ruang terbatas dengan waktu yang relatif terbatas. Proyek seni di SDN Wonobodro 01 ini, saya kira, adalah upaya meleburkan seni dengan masyarakat sehinga menghilangkan sekat-sekat pembatas antara “aku seniman dan dia awam”, karena semua orang berpotensi untuk menjadi seniman, berpotensi juga untuk menjadikan semua hal yang merupakan objek sehari-hari menjadi bentangan karya seni.


Karya dan proyek seni seperti yang dikerjakan Totaris ini, dalam level dan kerangka pandang tertentu, tidak berlebihan kiranya bila digolongkan sebagai earth art atau environmental art. Ini adalah sebuah gejala seni rupa yang pertama kali muncul pada pertengahan dasawarsa 1960-an di Eropa dan di Amerika Serikat. Earth art atau environmental art merupakan gerakan seni yang dilakukan oleh para seniman untuk menolak gencarnya komersialisasi dalam seni dan sekaligus mendukung munculnya gerakan ekologis dengan aksi “back-to-land” yang antiurbanisme. Gerakan tersebut tentu sangat kontekstual bagi seniman di Eropa dan Amerika pada waktu itu karena mereka digerus dengan kuat oleh laju perkembangan industrialisasi di segala bidang yang menyempitkan kedekatan masyarakat dengan alam.


Banyak tokoh seniman yang bergerak di lahan ini, antara lain Michael Heizer, Nancy Holt, Robert Smithson, Christo, Jan Dibbets, Dennis Oppenheim, dan lainnya. “Spiral Jetty” adalah sebuah karya monumental yang menengarai kuatnya karya-karya earth art atau environmental art ini. Karya ini berupa material Kristal garam di atas batu karang yang disusun melingkar seperti obat nyamuk bakar sepanjang 1.500 kaki (sekitar 300 meter) di atas danau Great Salt, Amerika Serikat. Ada pula karya seniman Nancy Holt yang membuat sebuah struktur arsitektur yang berorientasi pada aspek astronomi di sekitar situs Stonehenge di Inggris yang terkenal itu. Semua karya ini seperti memberi persuasi, atau medium pengingat bagi publik bahwa ada problem sosial yang telah, sedang, dan hendak muncul yang berkaitan dengan masalah lingkungan.


Karya Totaris yang melibatkan pelajar dan staf pengajar SDN Wonobodro 01, Batang ini, kiranya, juga merupakan sebuah medan pengingat bagi masyarakat di sekitarnya atas gejala sosial yang mulai merubung, yakni (antara lain) makin banyaknya produk-produk industri yang mesti dipikirkan proses pendaur-ulangannya yang tidak mudah, seperti plastik, kaleng olahan pabrik dan lainnya. Belum juga masalah perilaku dan sistem tata nilai sosial yang terus bergerak tanpa kendali, seperti budaya konsumtivisme yang menundukkan masyarakat (Indonesia) hanya sebagai konsumen atas semua produk yang datang dari luar, hingga menjauhkan bahkan melupakan banyak hal yang menjadi kekuatan lokal karena semata-mata prestise, gengsi, dan gaya hidup yang merusak. Karya seni ini, siapa tahu, bisa menjadi inspirasi bagi masyarakat di sekitar untuk memberdayakan diri, sekecil apapun titik inspirasi itu. Siapa tahu! ***


Kuss Indarto, kurator seni rupa.

Saturday, January 10, 2015

Ide Bukan dari Langit

 
Oleh Kuss Indarto

(Catatan ini merupakan editorial untuk majalah seni budaya Mata Jendela, terbitan Taman Budaya Yogyakarta, edisi No. 4/2014)
 
DALAM catatannya yang termuat dalam buku “15 Years Cemeti Art House: Exploring Vacuum” (2003, p. 190-192), Gerrit Willems, Direktur Centrum Beeldende Kust Dordrecht (Pusat Seni Rupa di kota Dordrecht, Belanda) mencoba memberi garis perbandingan antara kerja ilmiah seorang ilmuwan dan kerja kreatif seniman. Petikannya antara lain adalah sebagai berikut: “… Meski boleh dikata seniman dan ilmuwan sama-sama memiliki sikap eksploratif dan energi kreatif yang dapat mereka daya gunakan, seni tetap saja bukan ilmu. Berbeda dengan eksperimen kesenian, eksperimen keilmuan ialah suatu uji (tes) yang sistematis dan terkendali, dengan sasaran yang jelas dan sudah tertentu. Di suatu laboratorium, kondisi-kondisi (baca: syarat-syarat) selalu dikontrol dengan ketat cermat. Riset sosiologis bekerja dengan melibatkan kelompok kontrol. Riset ilmiah bersifat obyektif dan harus dapat diulang untuk dapat memperoleh kesahihan (validitas) umum. Bahasa ilmiah, atau sistem lambang ilmiah, tidak taksa (ambigu), penjelasan tunggal. Dalam banyak kasus, tolok-ukur keberhasilan eksperimen sudah ditetapkan sebelumnya. Sedangkan dalam kesenian, eksperimen mempunyai arti uji coba. Tak ada metode yang seragam dan telah ditetapkan lebih dulu untuk diikuti, tidak ada kriteria yang telah dirumuskan untuk menentukan apakah suatu eksperimen kesenian dapat dipandang berhasil atau tidak. Suatu karya seni tidak dapat diulang, dan ia bersifat subyektif. Bahasa dan sistem lambang seni itu taksa, puitik dan memuat sejumlah lapisan makna. Singkat kata, ilmu (sains) terikat pada metode si periset, sedangkan seni terikat pada person si periset.”

Dari kutipan Willems di atas saya menemu kemungkinan bahwa dalam praktik proses kreatif seni dewasa ini, seorang seniman tak ada salahnya melakukan (semacam) proses riset untuk mengayakan karya seni yang akan dilahirkannya. Karya seni tidak lagi dihasilkan semata-mata oleh “modus operandi” kuno yang menjebak romantisisme, yakni metode “menunggu ilham jatuh dari langit”. Bakat pun—seperti dikatakan oleh salah satu jenius dari Perancis, Paul Cezanne—cukup dibutuhkan satu persen saja, dan 99% lainnya berasal dan buah dari kerja keras. Maka, derivat dari ungkapan tersebut adalah bahwa proses kelahiran karya seni pun kini perlu diawali oleh banyak hal. Dan riset adalah salah satu hal yang dimungkinkan oleh seniman untuk dilakukan demi mengoptimalkan gagasan dan imajinasi seni. Riset ini, tentu, berbeda dengan yang dilakukan oleh para ilmuwan sosial, baik metodologinya hingga output-nya.

Riset ini telah banyak dilakukan oleh seniman di berbagai belahan dunia untuk mendukung kemajuan karyanya. Dan para seniman Indonesia pun tak lepas dari upaya untuk itu—meski belum banyak yang melakukannya. Perupa Ivan Sagita adalah salah satu contoh kasus yang layak disinggung dalam konteks perbicangan tentang hal ini. (Tentu kita bisa mencari contoh dari para seniman berlevel dunia dan berpengaruh. Namun tak ada salahnya kita berguru pada lingkungan terdekat). Nama Ivan Sagita cukup cemerlang pada paruh akhir dasawarsa 1980-an ketika kecenderungan visual surealisme ala Yogyakarta menggejala begitu kuat hingga sekitar 10 tahun berikutnya. Reputasinya sebagai perupa muda yang menonjol waktu itu menyeruak bersama nama-nama pelukis surealisme lain seperti Agus Kamal, V.A. Sudiro, Probo, Boyke Aditya Krishna, Effendi, Lucia Hartini, Totok Buchori, dan lainnya. Karya-karya Ivan banyak diserap dalam ruang pewacanaan seni rupa waktu itu karena membawa gagasan tentang poin-poin falsafah Jawa yang inspiratif bagi apresian. Ini berbeda dengan beberapa surealis lain yang sekadar mengetengahkan eksotisme visual tanpa diimbangi dengan kekuatan gagasan yang dibenamkan dalam kanvas. Serapan pasar tentu saja juga sangat kuat mengikuti kekuatan bangunan wacana yang ditawarkan Ivan. Pada perhelatan Bienalle Seni Lukis Jakarta tahun 1987 dan 1989 karya-karya Ivan diganjar dengan penghargaan sebagai (salah satu) karya terbaik. Lukisan bertajuk “Sesapi-sapinya dalam Mikro dan Makrokosmos” (1989) yang hingga kini masih menempel di tembok koleksi Dr. Oei Hong Djien (OHD) dianggap sebagai (salah satu) karya puncak (masterpiece) Ivan di periode surealisme ala Yogyakarta. 

Setelah bertahun-tahun menggeluti karya yang berkecenderungan surealistik (ala Yogyakarta), tampaknya, Ivan Sagita telah dijemput oleh titik kritis yang berpotensi mengandaskannya sebagai seorang kreator, yakni stagnasi. Pada titik ini seniman dihadapkan dan ditantang untuk, setidaknya, memasuki dua kemungkinan, yakni involusi atau evolusi atas gerak kreatif karyanya. Dengan involusi, diandaikan bahwa seniman akan tetap menjalani proses kreatifnya dengan tema dan kecenderungan kreatif yang serupa namun akan berkelindan pada titik yang sama atau tak beranjak jauh membuat pencapaian-pencapaian baru yang signifikan. Sementara dengan evolusi, seorang seniman mencoba menyadari titik stagnasi atas pergerakan karyanya, lalu mencari titik kelemahan sekaligus kebaruan yang bisa dimasukkan dalam karya, dan kemudian secara pelahan dan terkonstruksi melakukan pebenahan atas dunia bentuk dan dunia gagasan atas karya-karya berikutnya. Pun ada alternatif ketiga, yakni melakukan penyikapan yang revolusioner atau revolutif atas ritme karya berikutnya. Ini bisa, namun berisiko terlalu besar pada kemungkinan karya yang kehilangan jejak sejarah (ahistoris) dengan karya sebelumnya.

Dalam pengamatan saya, perupa Ivan Sagito mencoba melakukan evolusi atas kecenderungan karya sebelumnya untuk beranjak pada karya-karya berikutnya. Evolusi dilakukan dalam beberapa penerapan seperti membuat pengayaan material/artefak karya. Ivan Sagita tidak sekadar melukis namun juga bereksperimen dengan material berbeda seperti kayu hingga fotografi. Namun hal yang lebih menarik adalah pendalamannya pada tema yang berkait dengan falsafah Jawa. Ivan tampaknya menjumput falsafah “urip sajroning pati” yang masih populer di kalangan masyarakat Jawa. Artinya, “hidup itu diliputi oleh kematian”. Kematian itu nyaris senantiasa berhimpitan datangnya di celah noktah kehidupan. Maka, bagi orang Jawa, mesti siap siaga karena kematian akan sewaktu-waktu menjemput.

Di titik inilah Ivan seperti menemu hal penting dan menjadikannya titik awal untuk menggali fakta sosial kemasyarakatan yang berkait dengan kematian. Seperti halnya seorang antropolog atau ilmuwan sosial, Ivan kemudian banyak terjun ke kawasan Gunungkidul, D.I. Yogyakarta, tempat dimana ada “tradisi” pulung gantung, yakni melakukan aksi bunuh diri karena ada “panggilan sesuatu”—yang memang berkait erat dengan keterhimpitan kondisi sosial ekonomi. Dalam kurun waktu beberapa bulan, Ivan banyak melakukan kunjungan lapangan untuk mengobservasi secara langsung korban bunuh diri, memotretnya, menemui keluarganya, berbincang dengan tetangga atau keluarga dekat korban. Tak ada prosedur yang sangat rigid secara akademis dan ilmiah sesuai kaidah keilmuan, namun Ivan melakukannya dengan cara dan gayanya sebagai seniman dan orang kebanyakan.

Dari fakta dan data yang dikumpulkannya, mulai dari kisah tentang firasat korban, pratanda yang ditangkap tetangga atau orang terdekat sebelum kejadian, hingga foto-foto yang dijepretnya setelah kejadian (dan belum ditangani oleh polisi atau belum dimakamkan), Ivan menjadikan itu semua sebagai bahan baku untuk karya-karya yang akan dibuatnya. Hasilnya adalah dua kali pameran tunggal yang subject matter-nya adalah ihwal kematian, yakni pameran dengan tema “Hidup Bermuatan Mati” yang dihelat di CP Artspace, Jakarta tahun 2005, dan pameran “Final Silence” (2011) di Pulchri Studio, Den Haag, Belanda. Pameran tunggal “They Lay Their Heads on a Soft Place” (2014) di Equator Art Projects, Singapura, sedikit banyak juga masih memuat kecenderungan tema yang sama, namun dengan artifak karya yang lebih beragam. Dalam katalog pameran tunggalnya di Den Haag, Ivan bahkan menuliskan pengalaman dan pengamatannya turun di lapangan hingga sepanjang 14.000 kata. Tampak ada detail pengamatan dalam catatan tersebut. 

Pencapaian kreatif yang dilakukan Ivan ini, kiranya, merupakan salah sebuah upaya seniman untuk menolak kebekuan subjek tema yang telah sekian lama dirunuti dan berakhir di titik jenuh. Upayanya untuk melawan pengulangan gagasan yang telah mekanistik itulah yang dikerahkan oleh diri Ivan demi menemukan ruang baru, dan kebaruan pandangan agar terhindar dari titik nadir sebagai kreator. Stagnasi gagasan, saya kira, adalah lonceng awal kematian seorang seniman. 

Upaya riset, “petualangan” seni, pengamatan yang down to earth oleh seniman, atau apapun namanya itu, seperti yang telah dilakukan oleh Ivan Sagita, tampaknya, juga telah banyak dilakukan oleh seniman lain dari berbagai disiplin seni. Untuk seni rupa, publik telah cukup mafhum bagaimana seorang Anusapati yang banyak menelaah perihal perahu, cadik, atau sampan, sebagai sumber gagasan atas karyanya. Demikian pula dengan Tisna Sanjaya yang bahkan menetap beberapa lama di kawasan kampung Cigowendah sebagai terminal akhir sampah di pinggiran Bandung, Jawa Barat, yang kemudian “mengolah” sampah tersebut sebagai subject matter atas karya seni kontemporernya. Bahkan, sebagian dari gunungan sampah dari kampung itu pernah diberangkatkan ke Singapura sebagai materi seni rupa. Demikian pula dengan video artist papan atas Indonesia, Krisna Murti yang sempat mengikuti gerak para nelayan Nusa Tenggara Timur yang bergelut dengan maut untuk mencari teripang di pulau terluar Indonesia yang berbatasan dengan Australia—dan menjadikannya sebagai ide pembuatan karya video art yang sangat naratif dan menyentuh. Pun dengan perempuan perupa, Titarubi yang membutuhkan banyak waktu untuk menggeluti naskah-naskah lama tentang rempah Nusantara, survei ke lapangan, hingga kemudian—akhirnya—melahirkan karya rupa dengan materi utama berupa rangkaian buah pala yang ditera dengan warna emas. Karya-karya lain serupa itu kiranya akan kembali bermunculan dari tangan Tita. (Simak catatan tentang ini pada tulisan sosiolog UGM, Arie Setyaningrum Pamungkas pada Mata Jendela edisi ini).

Perbincangan tentang pentingnya riset dalam berproses karya seni ini kami anggap penting karena telah menjadi tema global dalam dunia seni. Berkarya seni, kini, tak layak lagi kalau sekadar disikapi secara sederhana sebagai upaya membuat gambar (dalam seni rupa), merangkai kata-kata (dalam sastra), menggabungkan bebunyian (dalam musik), dan sebagainya. (Ber)karya seni akan lebih berdaya ketika ada sesuatu yang hendak diperjuangkan, sekecil apapun itu, yang karena itu pula maka proses kelahirannya perlu dikayakan. Oleh karenanya, tak berlebihan bila riset telah diidealkan menjadi agenda dalam pikiran para seniman. Kenapa Anda tidak? *** 

Kuss Indarto, redaksi Mata Jendela.