Thursday, December 14, 2006

East Art Map


Menurut majalah Artforum, East Art Map ini adalah salah satu buku (seni) terbaik tahun ini, di samping judul2 lain seperti Eat the Document, sebuah novel karya Dana Spiotta dan We karya Yevgeny Zamyatin.

East Art Map ditulis secara kolaboratif oleh lima seniman yang melakukan survei atas geliat produksi seni di bawah kekuasaan pemerintahan Komunis dari tahun 1945 hingga tahun2 terakhir ini, terutama di Slovenia.

Sepertinya menarik banget. Sayang sementara ini hanya bisa baca sinopsisnya aja. Entah bisa atau enggak baca seluruhnya. Ah, seandainya... Grrrrfff!!

Museum Situs Ingatan

(Tulisan ini dimuat dalam katalog pameran Homage 2 Homesite. Pameran ini berlangsung di eks kampus Fakultas Seni Rupa ISI Yogyakarta, di Gampingan, Wirobrajan, Yogyakarta)

Oleh Kuss Indarto

Sesungguhnya, tulisan yang hendak ngalor-ngidul ini tak berhasrat banyak untuk mendedahkan problem substansial atas teks visual (yang bertebaran di ruang pamer) seperti yang ditengarai oleh tajuk pameran ini. Dan sejatinya, memang, label Homage 2 Homesite (Kembali ke Gampingan) “sekadar” judul penanda pameran, bukan tajuk kuratorial yang galibnya dengan kuat mengimbas pada implimentasi atas rentetan karya-karya seni rupa di dalamnya. Ya, terus terang, ini memang merupakan pameran “dalam rangka”, bukan pameran “dengan kerangka” tematik yang ketat dan rigid.

Tak berbeda jauh ketimbang perhelatan sebelumnya, yakni Melukis Lagi di Gampingan yang berlangsung Minggu, 19 November 2006 lalu, pameran ini memberangkatkan diri dari upaya “romantik” untuk merawat ingatan. Ingatan, seperti yang digagas oleh pemikir Perancis Paul Ricoeur (1999), memiliki dua jenis hubungan dengan masa lalu. Pertama, merupakan relasi pengetahuan, sementara yang kedua adalah relasi tindakan. Kedua relasi ini muncul karena mengingat merupakan jalan untuk melakukan segala hal, bukan hanya dengan kata-kata, tetapi juga dengan pikiran kita. Dalam mengingat atau mengenang kita menggunakan ingatan, yang merupakan sejenis tindakan. Justru karena ingatan merupakan sebuah exercise, maka kita dapat berbicara tentang penggunaan ingatan, meski pada gilirannya bahkan memungkinkan kita berbicara tentang penyalahgunaan ingatan.

Dengan menjadikan ihwal ingatan sebagai kemungkinan konstruk pengetahuan, maka dua perhelatan, yakni Melukis Lagi di Gampingan dan pameran Homage 2 Homesite ini digelar secara berurutan. Dia, perhelatan tersebut, dihasratkan memunculkan banyak kemungkinan. Mungkin bisa sebagai “perayaan atas ingatan”. Pun barangkali menjadi semacam “pintu masuk” untuk memberi pemahaman-pemahaman baru atas “teks” ingatan yang telah melayap digerus waktu. Atau juga sekaligus dimungkinkan menjadi medan pemberi bingkai dan perspektif baru atas “teks” ingatan.

Situs Gampingan

Kemungkinan-kemungkinan tersebut cukup penting untuk dikedepankan sebagai respons atas wacana yang tengah mengembang. Yakni rencana akan dijadikannya bekas kampus seni rupa ASRI/STSRI “Asri”/Fakultas Seni Rupa dan Disain Institut Seni Indonesia (FSRD ISI) Yogyakarta di Gampingan, Wirobrajan, sebagai museum seni rupa. Bahkan rencananya berlevel nasional. “Situs ingatan” ini mengemas banyak hal yang layak diaduk dan dibongkar kembali untuk mengais nilai-nilai yang selama ini diabaikan. Misalnya, seperti yang pernah diungkapkan oleh budayawan Emha Ainun Nadjib (1991), bahwa di situs itu, pada kurun 1970-an, sangat kental akan situasi psikologis dan kultural yang sangat merangsang kreativitas dalam berkarya seni. Juga memiliki ketersentuhan integral dan inklusif yang menyeluruh dari realitas sosial. Ada iklim komunalitas yang kuat antarseniman sendiri dan antara seniman-masyarakat yang digambarkan begitu kental dan karib oleh Cak Nun.

Tentu kita tak akan menggiring diri menyelami alur kurun waktu lampau yang romantik itu untuk mengabaikan nilai kekinian yang pasti telah menggeser banyak sistem nilai sosial sebelumnya. Melainkan memberi bingkai pada ingatan atas situs Gampingan untuk menjadikannya sebagai sumber atau “ruh” pada bangunan sosial atas museum yang kelak akan dibangun. Artinya, bangunan fisik bisa semegah apapun atau bisa sementereng apapun seperti yang mungkin tengah digagas oleh pendirinya. Namun, nilai-nilai sosial yang menjadi pijakan di atasnya, pada hemat saya, bisa tetap mengawetkan atau mengadopsi sistem dan nilai sosial yang dulu atau selama ini telah terbangun di lingkungan tersebut. Sekali lagi, inklusivitas dan komunalitas yang kental, seperti diisyaratkan oleh Cak Nun adalah titik pentingnya. Situs Gampingan bisa tetap menjadi “rumah” untuk tempat kembali, situs untuk mendaratkan lagi ruh kreativitas.

Cermin Pembanding

Selepas itu, tampaknya kita harus berpikir cepat atas ketertinggalan kita yang telah masuk pada “stadium akut” dalam soal permuseuman. Misalnya dibandingkan dengan Amerika Serikat yang hingga tahun 1984 pun (22 tahun lalu, kawan!) telah mempunyai sekitar 5.000 museum (Hilde Hein, 1992) dengan beragam jenis museum dan varian sistem kepemilikan atau kepengelolaannya. Jumlah itu, tentu kini kian bertambah banyak sesuai perkembangan waktu dan kebutuhan akan museum yang kian menguat. (Dengan segala maaf, kita harus memberi diri contoh pembanding yang lebih maju agar perspektif pandang menjadi jauh lebih progresif). Keragaman museum tersebut berdasar tipe utamanya terdiri dari (1) museum seni rupa (art museums), (2) museum ilmu pengetahuan (science museums) seperti museum biologi, museum industri dan teknologi, museum botani dan sebagainya), lalu (3) museum antropologi (anthropology museums), (4) museum sejarah (history museums), dan (5) museum dengan ketertarikan khusus (miscellaneous special interest museum).

Atau ada realitas lain yang bisa diketengahkan di sini. Andai kita mau menengok kepada wajah raksasa ekonomi di Asia, Cina, yang juga kian menggeliat di sektor kebudayaannya, tentu akan cukup menggetarkan nyali. Kini, di sana ada realitas yang sedang dikonstruksi secara sistematis dan serius oleh pemerintah dan elemen masyarakat seni-budaya Cina, yakni proyek filantropi budaya dan repatriasi budaya (ARTnewsletter Highlights, edisi 3 Januari 2006). Proyek pertama, filantropi budaya, dihasratkan oleh pemerintah dan publik budaya Cina untuk “menghamburkan” (= mengalokasikan) dana (negara, perusahaan dan pribadi) demi kepentingan kebudayaan sebagai rencana strategis untuk menjadikan Cina sebagai kekuatan kebudayaan penting di dunia. Proyek ini, dari pertama dan utama, tidak ditendensikan untuk mengeruk keuntungan komersial. Salah satu proyek yang sedang direalisasikan adalah rencana pembangunan sekitar 1.000 (seribu) museum seni di seluruh daratan Cina hingga tahun 2015 atau dalam 9 tahun mendatang! Ini untuk melengkapi keberadaan 2.000 (dua ribu) museum yang telah ada hingga tahun 2002. Menariknya, proyek-proyek ini justru dipelopori oleh lembaga bisnis milik militer yakni Chine Poly Group Corporation yang dipimpin langsung oleh Mayor Jendral He Ping. Lembaga ini mulai bergerak di ranah seni budaya tahun 1998 lalu.

Proyek ambisius itu kiranya bukanlah isapan jempol belaka kalau menyimak laju perkembangan pasar seni rupa di sana yang sedikit banyak memiliki imbas positif pada pentingnya kehadiran banyak museum. Misalnya angka hasil pelelangan barang dan karya seni di semua balai lelang yang beroperasi di Cina yang menyentuh angka 579,9 juta dolar AS pada tahun 2003 dan melonjak hingga menjadi 1 milyar dolar AS (sekitar 9 triliun rupiah) sepanjang tahun 2004. Ini tidak termasuk angka transaksi finansial yang terjadi di galeri-galeri atau studio-studio seniman. Belum lagi ada perhelatan Shanghai Art Fair yang selalu dibanjiri pengunjung dari seluruh dunia.

Mau Ngapain Kita?

Ketimbang dua raksasa di atas, kita tentu jauh tertinggal. Bahkan untuk sekadar mendapatkan informasi dan data jumlah museum di tanah sendiri pun, alamak, merupakan perjuangan yang teramat berat. Sulit! Apalagi andai menyandingkan antara fakta-fakta yang terjadi di sini dan kemajuan mereka (negara lain, apalagi dengan Amerika Serikat dan Cina) yang tentu penuh ketimpangan dan cenderung kurang proporsional. Namun setidaknya dua contoh di atas betul-betul menjadi ilustrasi efektif yang akan mampu memberi nilai lebih dalam proses pembelajaran sekaligus shock therapy untuk lebih serius mewujudkan lebih banyak museum di Indonesia. Khususnya museum seni rupa di tanah Yogyakarta.

Nilai penting kehadiran museum ini kelak tentunya akan memberi ruang akomodasi atas (potongan) artefak seni rupa yang telah dihasilkan oleh seniman Yogyakarta atau Indonesia. Terjalin pula di dalamnya, karya tersebut dimungkinkan mampu menjadi alat baca untuk menelusuri fakta sosial-kultural yang lahir dari medan seni rupa. Atau dengan kata lain, fakta dalam seni rupa menjadi cermin dari realitas sosial-budaya. Di sinilah dimensi pembelajaran dan apresiasi akan beragam nilai-nilai mengemuka. Belum lagi aspek-aspek lain yang segera merimbun sebagai imbas positif dari munculnya museum. Anda, sidang pembaca, tentu tahu betul beragam imbas tersebut yang bisa anda sebut dan urai satu persatu. Dan itu akan kian variatif sesuai perkembangan waktu. Singkatnya, sudah saatnya kita bersama-sama membaca ulang dan membongkar kembali cara pandang serta cara bersikap yang kuno dan stereotipe ihwal museum yang selama ini, di republik tercinta ini, dipahami sebagai “kuburan” tempat mengonggokkan masa lalu saja, dan bukan sebagai “supermarket ingatan” tempat orang berbelanja dokumentasi.

Lalu, kalau ada kenyataan bahwa kita belum juga memiliki sebuah museum seni rupa yang representatif untuk ukuran kota Yogyakarta (yang telah terlanjur mengutuk diri sebagai “kota budaya”) ini, pada titik mana kita akan memulai? Pada kisi-kisi mana kita bisa ramai-ramai memberi kontribusi?

Pada momen ini, lewat cara dan medium apapun, kita bisa memulai untuk memberi kontribusi. Siapapun Anda! Mari bergegaslah bersama!

Tuesday, December 12, 2006

DPR yang D-Rp



"Di Sini Mandi Uang". Kukira ini merupakan salah atu karya performance art yang jenial di Yogyakarta dalam tiga tahun terakhir ini. 15 orang kampung Gamping itu didaulat oleh teman2 Kelompok Seringgit untuk memajang kalimat cerdas dan kontekstual ketika mereka hadir persis di depan gedung DPRD Yogyakarta, kira-kira Agustus 2004 lalu.

Ini menjadi bagian dari kreasi ratusan seniman Yogyakarta yang waktu itu diprakarsai oleh Kerupuk (Komunitas Ruang Publik Kota) Yogyakarta yang menggalang proyek seni "Di Sini Akan Dibangun Mall". Ya, itulah bentuk respons seniman dan aktivis perkotaan atas rencana pembangunan belasan mall di sekujur kota Yogyakarta. Dan beginilah salah satu "sikap politik" Kelompok Seringgit atas wacana mall-isasi Yogya. Dapat dipahami bahwa menurut para seniman ini, kunci persoalan kasus mall-isasi teramat berkait pada attitude politik para anggota DPRD yang sangat permisif bin akomodatif bukan karena nilai fungsional bangunan kotak sabun raksasa tersebut, tapi lebih pada kalkulasi ekonomis yang akan mereka terima kalau melicinkan perizinan pendirian mall-mall di Yogya.

Ya, dangkal memang kepentingan mereka. Aku juga Kerupuk tentu bukannya anti-mall, karena itu adalah keniscayaan zaman yang tak mungkin ditolak. Namun penolakanku lebih pada politik perizinan yang amat mudah untuk membangun mall telah menjadikan mall sebagai simpul kemacetan baru yang amat mengganggu. Coba cek, nyaris semua mall di Yogya dibangun persis di pusat kota atau jalan protokol yang telah jenuh oleh pertokoan. Idealnya, dia hadir di pingir kota dengan lahan parkir yang luas, jauh dari permukiman penduduk dan cukup jauh dari pasar tradisional.

Yah, lagi2 kita mesti mengelus dada karena anggota DPR kita, termasuk di Yogyakarta berisikan orang2 miskin wawasan dan melarat kepeduliannya pada masa depan publiknya sendiri. Bagaimana dampak sosial mall pada gaya konsumtivisme, sepertinya mereka cuek.

Jadi benarlah foto di atas. DPR(D) cuma bisa mandi uang, tak peduli dengan kemacetan yang ditimbulkan oleh keputusan ngawur mereka. Mungkin gedung itu bisa diplesetkan menjadi DRp. Duit lagi, duit lagi yang jadi paradigma mereka!

Monday, December 04, 2006

Akhir November lalu, Sabtu tanggal 25 persisnya, saat didaulat untuk ngobrol di hadapan puluhan seniman Purwokerto, aku seperti disadarkan oleh realitas jagat seni rupa di sekitarku yang masih sangat-sangat beragam gradasi pemahamannya atas dunia seni rupa itu sendiri. Di Purwokerto, seperti halnya yang dialami oleh seniman di kota lain di Jawa, apalagi di luar Jawa, masih banyak berkutat pada problem elementer yang cukup berjarak dengan perkembangan di Yogya.

Dialog yang dilakukan beberapa jam setelah pembukaan pameran seniman Trio Faham (mas Fathur, pak Hadi Wijaya, dan mas Medi) ini berlangsung begitru menggairahkan hingga berlangsung hampir 4 jam sampai jam 23.30-an. Aku cukup capek juga sih, tapi senang. Banyak hal bisa kulontarkan untuk memberi pengayaan pikiran atas perkembangan seni rupa yang selama ini belum terpikirkan oleh teman2 seniman di Purwokerto. Pun aku mendapatkan banyak fakta menarik tentang geliat perkembangan mereka di tengah apatisme publik dan negara terhadap jagat seni yang mereka lakoni dengan teguh.

Ada pula hal menarik bahwa perhelatan pameran tersebut disponsori oleh seorang pengusaha lokal yang mulai peduli seni, pak Firman yang kira2 usianya sekitar 45 tahun. Masih cukup muda. Dia bilang teman bergaulnya pematung Pintor Sirait saat dia kuliah di Unpad Bandung. Dia mulai mengoleksi karya seni dan menularkannya pada beberapa rekanan bisnisnya yang lain. Kecenderungan ini, menjadi maecenas dan kolektor, aku kira sebuah persoalan yang acap dilupakan oleh publik seni rupa, bahkan di Yogyakarta atau kota besar lainnya. Seniman Yogyakarta kadang, menurut pengamatanku, menganggap hal itu seperti sesuatu yang given, yang begitu saja terberi, tanpa berupaya menciptakan situasi yang memungkinkan karyanya direspon dan diserap dengan baik oleh publik. Kukira, adanya sosok pak Firman memberi celah bagus bagi seniman Purwokerto untuk melacak garis relasi dunia seni dengan jagat apresiasi publik yang mungkin selama ini banyak terpotong.

Yah aku punya PR bagus untuk menuliskan lebih fokus sedikit tentang hal ini ke publik yang lebih luas. Ah, moga2 deh ntar ada waktu untuk nulis di koran lokal. Semoga bisa.

Buntut, Stok Jadul

Di bawah ini kembali tulisan stok lamaku yang jadul banget. Saat itu masih 22 tahun, masih kuliah dan mulai latihan nyari2 duit sendiri buat nutup biaya kuliah hehehe. Kukorek lagi tulisan ini untuk pengingat bagiku sendiri bahwa, "Heyy, 14 tahun lalu kamu sudah bisa nulis! Yang maju donk, jangan jalan di empat!" Yah, kayaknya aku masih jalan di tempat tuh... Huhuhu!

Buntut

Oleh Kuss Indarto

Tahukah Saudara arti judul di atas? Rasanya memori-otak kita tak perlu banyak memboroskan waktu untuk berlama-lama menjawab bahwa buntut adalah dua atau tiga nomor dari 7 nomor yang muncul tiap Rabu malam sebagai ‘program nasional’ mingguan pemerintah untuk mengumpulkan duwit (dana olahraga) dari sebagian di antara kita yang suka bergelar sebagai kaum ‘dermawan-sosial’ dan senang menggantang asap, membeli selembar kertas berisi (= berhadiah) satu milyar imajinasi.

Tapi tak perlulah kita berpanjang-kata tentang buntut yang satu ini. Cukup Ibu Haryati Soebadio (Menteri Sosial kita) sajalah yang mempunyai kompetensi tentang program (semilyar mimpi?) ini. Sebaiknya kita giring saja perkara buntut ini ke dalam jaring gawang kita, seni. Memang tak ada perbedaan yang prinsipil tentang buntut dalam seni, namun ada sedikit pergeseran konotasi karena perbedaan situasi.

Sebelum membeberkan buntut dalam seni, sebaiknya kita tampilkan contoh-contoh kasuistik yang dapat mewakili pokok permasalahan.

Pengamat sastra, Subagio Sastrowardoyo pernah membuat berang WS Rendra karena penelitiannya. Menurutnya, puisi-puisi si Burung Merak (yang kini suka ‘hinggap’ di konser musik) itu – sebut saja puisi ‘Ballada Orang-orang Tercinta’ sebagai misal – mempunyai gejala-gejala pemiripan dan pembuntutan terhadap puisi-puisi karya penyair kondang dari Spanyol, Lorca. Dan ia tak sendirian. Pembuntutan atau yang lalu berpakaian keren menjadi epigonisme inipun ternyata juga dialami pada diri dan karya-karya Rivai Apin dan Asul Sani yang dianggap sebagai epigon dari si liar Chairil Anwar. Almarhum polisi-penyair Ibrahim Sattah pun konon adalah epigon dari si penyair mantra-kontemporer Soetardji Calzoum Bachri. Atau ada contoh yang mendunia dan ‘ngeri’ kedengarannya; bahwa lakon Caligula-nya almarhum Albert Camus (sastrawan yang pernah mendapat hadiah Nobel dalam bidang sastra) ternyata adalah hasil-timba sebuah cerita Romawi Kuno. Atau dalam blantika musik popular, tak maukah saudara mengiyakan bahwa Abadi Soesman dengan Bharata-nya adalah satu di antara ratusan grup band pengekor (bahkan peng-kultus) mitos Beatles?

Mari mencoba mengerling dunia seni rupa kita.

Kartika Koberl dulu (dan barangkali sampai detik ini) terpaksa harus tersenyum kecut karena lukisan-lukisan yang tergores dari jemari tangannya, yang terujud dari ekspresi-jiwanya, dianggap sebagai pembuntutan dari dari gaya dan corak lukisan sang bapak, Affandi. Juga Maria Tjui tentu saja, harus rela risih diteror sebagai epigon sang Maestro. Atau ‘pelukis konglomerat’ Jeihan Sukmantoro pun lama-lama harus ‘cuek’ dituduh sebagai pembuntut gaya ‘mata bolong-hitam’ dari si Italia, Modegliani. Atau barangkali puluhan generasi surrealis kita yang hendak berkibar harus siap dikobar ‘api panas’ yang menuding-nuding: kamu epigon anu, anu buntut dia, kau pengekor anu…

Lantas dosa dan perlu disesalikah pembuntutan dan epigonisme dalam seni itu? Apakah sosok-sosok epigon adalah narapidana-narapidana estetika?

Tatkala seorang pelukis berkarya, tak selamanya dia memulai dengan bekal kehampaan batin, pandangan, pikiran, khayalan dan imajinasi. Bahkan kekosongan dalam hal yang satu ini adalah kemustahilan. “Keisian” itu justru sudah menjadi tuntutan yang sudah harus ada sebelum seniman memulai mengembarakan dan menggembalakan ekspresinya. Seorang pelukis tak jarang melihat karya-karya lukis dari seniman yang sadar atau tak sadar, cepat atau lambat akan memberi pengaruh. Bahkan tak sekadar itu, jiplak-menjiplak pun pada akhirnya tak terhindarkan. Jangan berkecil hati, sang Ekspresionisme besar Vincent van Gogh sekalipun pernah secara terang-terangan memindahkan karya grafis Jepang dalam lukisannya. (Lihat lukisan-lukisannya yang provinsial Jepang).

Namun ada satu titik yang perlu ditorehi garis tebal pada perkara ini. Bahwa keterpengaruhan (bahasa rusak tapi justru dipopulerkan oleh para bapak pemimpin republik ini), pembuntutan atau epigonisme bahkan penjiplakan atau plagiasi yang dialami atau dilakukan oleh seorang seniman (dalam hal ini pelukis) adalah lumrah, sah dan halal saja adanya, apabila dilakukan dengan amat sadar bahwa tahap itu hanyalah salah satu terminal dalam perjalanan/proses kreatif kesenimanan yang terus bergerak. Artinya menjadi epigon bahkan plagiator mestinya bukan jejak penghabisan tanpa kelanjutan, atau menjadi titik-mati tujuan. Epigonisme, plagiatisme bolehlah – sekali lagi – menjadi salah satu terminal yang memberi ruang gerak bagi kita untuk bertolak membangun jati diri. Terminal tempat menghimpun atau menghirup hawa sebelum membentuk nafas estetika pribadi yang ‘patent’.

Yang paling penting adalah hadirnya “otentisitas-jiwa” yang sedikit demi sedikit dan terus-menerus dinyalakan, digemakan dan dialirkan ketika terminal ‘epigonisme-plagiatisme’ tengah kita jalani.

Intensitas yang ajeg dan terjaga dengan tetap menjunjung tinggi ‘otentisitas-jiwa’ ketika singgah di terminal epigonisme ini, bukan sebuah kemuskilan/kemustahilan bila kelak akan menghasilkan sesosok ‘potret diri’ yang sangat pribadi. Sebuah jati diri yang sangat hakiki dan mandiri. Jadi, epigonisme takkan selalu menjadi dosa yang pantas untuk disesali.

Banyak tauladan yang dapat dijadikan cermin bagi kita, tentang Kartika Koberl misalnya.
Tataplah lukisan-lukisan Kartika dan Affandi kini. Akan ditemukan di sana, kekartikaan Kartika yang tak lagi ‘affandi’. Akan ditemukan di sana, sebuah jati diri yang tak lagi bergantung (dependent) pada sebuah kemandirian. Akan ditemukan di sana, sebungkah ‘nyawa’ yang tak lagi pantas disebut buntut…

(Tulisan ini telah dimuat di majalah Sani edisi No. 1 Tahun I Maret 1991, yang diterbitkan oleh Lembaga Penerbitan Mahasiswa Fakultas Seni Rupa dan Disain ISI Yogyakarta)

Tuesday, November 21, 2006

Pameran di Purwokerto

Lebaran lalu, saat mudik di Banyumas, aku didatangi oleh beberapa seniman Purwokerto. Intinya, aku diajak untuk membantu menulis kata pengantar pada katalogus pameran 3 pelukis: Pak Hadi Wijaya, mas Medi dan Mas Fathur. Tak pelak, seharian itu, aku muter2 di rumah mereka, hingga malam hari. Ibuku yang masih kangen di rumah kutinggal bersama istriku, 2 keponakanku, dan adiku. Hehehe. Aku juga sekalian mampir di rumah pak novelis Ahmad Tohari yang masih satu kecamatan dengan rumah ibuku.

Jadinya ya tulisan di bawah ini. Singkat banget karena dibatasi gak boleh panjang2, tapi gak jelas standarnya berapa karakter, berapa kata, atau gimana gitu. Ya, udah, jadinya ya tulisan yang kira2 kusesuaikan dengan audiens di Purwokerto. Mungkin aku sedikit underestimate. Tapi ya, kekhawatiran itu akan kubalas pada sesi acara diskusi malam Minggu besok itu. Aku udah siapin banyak materi visual, siapa tahu banyak membantu memberi pembayangan atas progres seni rupa dewasa ini. Aku sangat tertarik untuk masuk di kerumunan mereka untuk mengaduk2 mitos2 tentang (pemikiran) seni rupa yang barangkali telah uzur di kerangka kepala teman2 seniman di sana. Bukan sok pinter, tapi saling membongkar atas sesuatu yang telah baku kadang mengasyikan. Hehehe.

Oya, tulisanku di bawah ini ternyata tidak dimuat utuh di leaflet pameran karena ada penyuntingan pada bagian yang kukira cukup sinis bagi mereka hehehe. Risiko ya! So, bacalah!

Melihat Teks, Meraba Konteks

Oleh Kuss Indarto

(Teks ini telah dimuat di leaflet pameran lukisan tiga pelukis Purwokerto: Fathur, Hadi Wijaya, dan Medi, bertajuk Transisi 2006 yang berlangsung 25-30 November 2006 di Gedung Kesenian Soetedja Purwokerto)

Dewasa ini telah banyak cara pandang seniman dalam mendasari praktik berkeseniannya, terkhusus di ranah seni rupa. Ada seniman yang memberlakukan karya-karyanya sebagai hasil ekspresi pribadi yang cenderung mengedepankan aspek personalitas diri. Bahkan terkadang begitu kuat menekankan semangat narsisisme, dimana citra diri (self) menjadi pusat pemaknaan. Pun masih banyak seniman yang memiliki modus kreatif dalam melakukan praktik berkarya sebagai proses mimesis atau meniru (alam) seperti pernah diteorikan oleh filsuf Plato berabad-abad lalu.

Pada perkembangannya, praktik berkesenian telah begitu beragam sesuai dengan tuntutan dan sistem nilai yang berlaku pada kurun waktu tertentu yang terus bergerak. Dengan demikian, semangat jaman (zeitgeist) tidak sekadar memberi warna pada hasil karya seni rupa saja, melainkan juga terhadap konsep atas proses kreatif itu sendiri. Sebagai contoh kecil terjadi pada kerja kreatif perupa Mulyono di beberapa pedesaan di kawasan Tulungagung, Jawa Timur yang menjadikan anak-anak setempat sebagai subyek (bukan obyek) kreatif. Perupa lulusan ISI Yogyakarta ini memberi pelajaran menggambar dan kriya dengan metodologi partisipatoris ala pedagog Brasil Paulo Freire yang sangat berbeda dengan pola pembelajaran yang terjadi di TK, SD, atau sanggar lukis pada umumnya di Indonesia. Dari sanalah kemudian dapat dibaca bahwa proses penciptaan karya ditempatkan sebagai sebuah upaya penyadaran sosial (social consciousnes) bagi masyarakat pedesaan. Mulyono sendiri mengidentifikasi proses dan proyek kreatif seninya itu sebagai “seni rupa penyadaran”.

Pendeknya, praktik berkesenian, pada awalnya, dapat ditempatkan dalam fungsi pribadi. Kemudian berkembang dengan mengemban fungsi sosial, fungsi politik, bahkan juga fungsi ideologis. Beragamnya fungsi itu, pada praktiknya terkadang relatif cukup sulit untuk mengidentifikasi satu sama lain. Namun titik penting yang bisa dimaknai di sini adalah bahwa karya seni telah menempatkan diri sebagai produk kultural. Pemunculan atas fungsi-fungsi pada praktik berkesenian itu, dalam teks singkat ini, tidak saya tendensikan secara ketat sebagai upaya mengonstruksi hierarkhi atas fungsi-fungsi tersebut. Karena pada masing-masing fungsi itu tentu memiliki masyarakat dan komunitas seni penyangga yang khas, sesuai kondisi dan kebutuhan masing-masing. Tetapi, sejujurnya, hal urgen yang perlu digarisbawahi adalah bahwa beragamnya fungsi-fungsi tersebut relatif menunjukkan tingkat progresivitas dan kompleksitas permasalahan yang dialami oleh sebuah komunitas seni tertentu.

Demikian juga tatkala saya menyaksikan puluhan karya seni lukis dari tiga seniman Purwokerto ini, yakni Fathur, Hadi Wijaya, dan Medi. Dengan serta-merta dapat saya cermati (secara subyektif) bahwa tampaknya kompleksitas persoalan belum cukup kuat menjadi agenda perbincangan dalam substansi karya trio pelukis ini. Atau dengan lain perkataan, dua hal yang lazimnya terintegrasi dalam sebuah karya seni rupa, yakni ihwal teks dan konteks, belum cukup kuat mengemuka sebagai satu kesatuan.

Teks di sini merupakan visualitas yang mengisyaratkan pengalaman teknis seniman tentang kondisi obyektif visual/lukisan yang secara kasat mata dapat dicerna oleh indera penglihat. Semuanya adalah hasil ekspresi atau sekaligus refleksi perupa/pelukis atas realitas yang diimajinasikan, atau sebaliknya, imajinasi yang direalisasikan. Sementara konteks merupakan problem substansi atas teks yang menjadi “ruh” karya berisi gagasan yang mencerminkan kadar pemahaman perupa terhadap realitas obyek benda. Substansi ini merupakan narasi atas dunia visual. Dengan demikian, gambar adalah “kendaraan” bagi substansi/narasi, sementara narasi merupakan sistem nilai-nilai yang diterjemahkan oleh gambar. Kecenderungan untuk saling mempertautkan teks dan konteks ini kemudian dijadikan sebagai salah satu perangkat untuk mengapresiasi sebuah karya seni rupa, seperti yang diintroduksikan oleh kritikus Karsten Harries (1968), yang tidak sekadar mempersoalkan ihwal beautiful (“indah” atau “tidak indah” yang mengacu pada aspek visual), melainkan juga menyoal ihwal interesting (“menarik” atau “tidak menarik” yang bertumpu pada aspek substansi).

Pada kebanyakan karya Medi, saya melihat intensi yang begitu berlebih terkumpul untuk menyuntuki persoalan teknis perupaan. Ada upaya untuk melakukan eksplorasi visual yang terus-menerus namun lupa untuk mengendapkan substansi persoalan yang dijadikan sebagai ruh karya. Namun kalau soal visual menjadi konteks itu sendiri, tampaknya upaya penguasaan bentuk pun mesti didalami, meski akhirnya kelak akan dideformasi dan sebagainya. Demikian pula untuk Fathur yang mencoba bereksperimen secara visual. Upaya penggabungan kaligrafi Islam dan lanskap memang bukan hal baru. Namun tak menutup kemungkinan baginya untuk menguasai aspek pemaknaan atas teks-teks Alqur’an itu kemudian dinarasikan dengan lebih jelas atau pun simbolik lewat lanskap pendukung itu. Sedangkan karya-karya Hadi Wijaya yang relatif lebih sedimentatif dengan penggalian nilai-nilai falsafah Jawa, saya kira, perlu lebih menekankan pemfokusan tema pada tiap pameran yang melibatkan banyak karyanya. Bukan dengan “lari kemana-mana” yang justru akan menjauhkan “identifikasi estetik” yang akan diraihnya.

Singkatnya, teks dan konteks memang perlu dibaca ulang untuk mengurai niat dan tujuan dalam berkreasi seni. Dari sanalah, antara lain, muasal peta kreatif dan sistem makna akan dikonstruksi. Selamat “menjajakan” nilai dan makna!

Friday, November 17, 2006

Tulisan Jadul

Aku terkesiap saat Janu, teman yang usianya sekitar 14-an tahun di bawahku, dan masih kuliah, datang beberapa hari lalu dan bawa majalah kampus, Sani. Wuih! Itu majalah yang aku dan beberapa teman buat saat kuliah di ISI Yogya masuk semester 4, kira-kira nyaris 15 tahun lalu. Saat aku masih lugu, "latihan" berambut gondrong, pakaian dikumal-kumalkan, gaya dicuek2kan. Njijiki banget kae kalo inget. Tapi masih imut abis, paling enggak waktu udah bisa gonta-ganti cewek. Sok playboy bin Don Juan norak kae. Njijiki pooollll! Hahahaha, lucu banget deh. Ini nih tulisan anak yang baru latihan nulis di tengah lingkungan kampusku yang jauh dari atmosfir intelektual(itas). Isinya cuman adu nyentrik, adu norak etcetera hahaha. Aku inget, itu kutulis beberapa bulan sebelum aku masuk kerja jadi karikaturis/ilustrator di harian Bernas yang membuat kuliahku jadi molor sepuluh tahun hahahaha! Bayangin, karena tiap semester ganti kartu mahasiswa baru, so aku punya 20 kartu mahasiswa! Njijiki meneh to?

Harlah ASRI: Kampusku

Oleh Kuss Indarto

(Tulisan ini telah dimuat di Majalah Sani No. 1 Th. I Maret 1991 hal 16-18,
yang diterbitkan oleh Lembaga Penerbitan Mahasiswa
Fakultas Seni Rupa dan Disain ISI Yogyakarta)



SEJARAH telah mencatat perjalanan panjang lembaga pendidikan seni rupa ASRI (Akademi Seni Rupa Indonesia) mulai dari awal kemerdekaan sampai jaman penuh dengan tantangan yang kompleks seperti sekarang ini. Mulai dari jaman awal pertumbuhan dunia seni rupa modern sampai kepada masa-masa “panen raya”, mulai dari era sanggar sampai era “booming” yang hingar-bingar. Barangkali kita perlu sejenak menengok ke belakang untuk mengilas-balik keberadaan kampus Gampingan dan perjuangannya di tengah-tengah iklim yang begitu kurang peduli terhadap dunia pendidikan seni rupa khususnya dan dunia seni rupa pada umumnya.

Catatan sejarah berdirinya ASRI ditengarai dengan peresmian pembukaannya pada tanggal 15 Januari 1950 di Bangsal Kepatihan, Malioboro, oleh Menteri Pendidikn, Pengajaran dan Kebudayaan pada waktu irtu, Ki Mangunsarkoro. Namun pemikiran-pemikitan dan hasrat untuk mendirikan sebuah lembaga pendidikan/akademi seni rupa sudah jauh-jauh hari diawali. Perencanaan pendirian ASRI sudah dimulai ketika bangsa Indonesia tengah mengalami situasi bergolaknya perjuangan fisik. Ini jelas kurang menguntungkan. Dan wajarlah bila proses pendiriannya memakan waktu yang sangat panjang.

Ketika bangsa Indonesia memperoleh kemerdekaannya pada 17 Agustus 1945, keinginan para seniman untuk mendirikan ASRI semakin bergelora. Mr. Soewandi (ingat ejaan Soewandi) yang menjabat sebagai Menteri PP dan K pertama waktu itu pun memberikan angin akan gagasan tersebut, juga pemerintah daerah Yogyakarta yang merupakan kota dimana para pencetus gagasan bertempat tinggal sekaligus kota dimana gagasan itu pertama kali muncul. Namun situasi awal kemerdekaan yang masih belum stabil jugalah yang menyebabkan segala keinginan tersebut tidak segera terlaksana.

Pada tahun 1948, gagasan yang telah lama terpendam muncul kembali ke permukaan dan dibicarakan dalam Kongres Kebudayaan Nasional yang berlangsung di Magelang. Pada kesimpulannya, kongres tersebut menyetujui bahwa bangsa Indonesia memandang sangat perlu didirikannya sebuah akademi seni rupa. Paling tidak, inilah motivator dan pendorong semangat bagi para penggagasnya. Namun sekali lagi pil pahit kembali ditelan. Perang Kemerdekaan atau Clash II terjadi, dan segala kegiatan otomatis terhenti.

Walaupun demikian, usaha-usaha untuk itu masih tetap dilakukan, meski lambat sekali. Pada akhir tahun 1949 usaha-usaha untuk mewujudkan ASRI hangat kembali. Tanggal 14 November, Menteri PP dan K lewat suratnya mengundang segenap tokoh budayawan dan seniman di Yogyakarta untuk merencanakan segala ihwal yang berhubungan dengan pendirian akademi ini. Surat tersebut segera disusul dengan keluarnya Keputusan Menteri Nomor 26/Keb. yang bertanggal 17 November 1949 yang (sekaligus) mengangkat R.J. Katamsi sebagai ketua, Djajengasmoro sebagai wakil ketua, Sarwana sebagai sekretaris dan beberapa peluksi dan guru sebagai anggotanya, antara lain: Hendra, Kusnadi, Sindoesisworo, Soerjosoegondo, Prawito danlain-lain.

Sidang-sidang panitia pendirian ASRI segera dilakukan. Sidang ini dihadiri tokoh-tokoh Jawatan Kebudayaan dan kalangan seniman Yogyakarta. Rencana-rencana tentang pendirian ASRI sebenarnya sudah dimasukkan sebagai agenda Kementerian PP dan K sejak tahun 1947 yang disusun oleh R.J. Katamsi. Dengan adanya kesempatan tersebut rencana-rencana yang telah disusun segera dibentangkan.

Setelah mengadakan serangkaian pertemuan sebanyak 4 kali pada bulan November 1949 yang bertempat di kantor Djawatan Kebudayaan (di jalan Batanawarsa 34) dan di Kementerian PP dan K (di jalan Mahameru, Yogyakarta yang ketika itu menjadi ibukota RI), dengan menambah beberapa perubahan pada konsep yang diajukan oleh R.J. Katamsi tersebut, berhasillah disusun suatu “Rencana Akademi Seni Rupa Indonesia”.

Surat Keputusan Menteri PP dan K yang tertanggal 15 Desember 1949 memutuskan bahwa pendirian ASRI bertempat di Yogyakarta. Dan peresmian pembukaan harus dilakukan pada tanggal 15 Januari 1950.

Melewati proses pengesahan secara yuridis oleh Menteri PP dan K selesai, muncul masalah baru. Wadah pendidikan seni rupa sudah terbentuk tetapi pengadaan tenaga pengajar mengalami hambatan dan kesulitan. Memang Yogyakarta dikenal sebagai kota budaya yang di dalamnya banyak sekali tokoh-tokoh seni rupa yang sangat tangguh. Namun sejak pecah Perang Kemerdekaan banyak seniman yang tidak diketahui rimbanya, seperti pelukis Rusli misalnya. Rusli tidak pernah muncul dalam keempat rapat persiapan (November 1949) walaupun namanya tercantum dalam daftar undangan yang diharapkan hadir. Sebetulnya Rusli, yang sampai saat itu merupakan satu-satunya seniman yang pernah mengenyam pendidikan formal seni rupa di Santiniketan, India, diharapkan sekali kehadirannya selain R.J. Katamsi yang pernah belajar di Belanda. Juga tidak muncul pada saaat itu pelukis Affandi yang tengah mendapat beasiswa untuk belajar di Santiniketan. Adapun nama-nama yang diusulkan untuk menjadi guru pada waktu itu antara lain: Ir. Purbodiningrat, Pangeran Hadinegoro CBI, R.J. Katamsi, Hendra, Kusnadi, Mardio, Djajengasmoro, Sri Martono, dan masih banyak lagi.

Dan akhirnya, hari Minggu kedua bulan Januari 1950 impian para seniman Indonesia atau Yogyakarta pada khusunya, terkabul. Upacara peresmian pembukaan ASRI yang dihadiri oleh banyak kalangan seni rupa Indonesia. Pejabat direktur ASRI yang pertama adalah R.J. Katamsi dengan pembagian jurusan waktu itu: seni lukis, seni patung, dan pahat, seni pertukangan, seni rekalame, dekorasi, ilustrasi dan grafik, guru gambar ijasah A dan B, dan jurusan seni bangunan.

Para pendaftar untuk angkatan pertama ketika itu sebanyak 160 orang. Setelah diadakan ujian penyaringan, yang dapat diterima hanya seperempatnya atau kurang lebih 40 orang. Dan di antara itulah tokoh-tokoh yang kelak kemudian tercatat sebagai staf pengajar Fakultas Seni Rupa dan Disain (FSRD) ISI Yogyakarta atau seniman berlevel nasional seperti Abdul Kadir MA, HM Bakir, Saptoto, Edhi Soenarso, Abas Alibasyah, Widayat, dan lainnya. Sedang gedung-gedung yang dipakai untuk ruang kuliah masih sangat sederhana dan memprihatinkan, yang terpencar pada beberapa tempat seperti di Gondolayu, Bintaran, dan Ngabean.

Tahun 1963, penataan struktural di ASRI diperjelas di mana dipisah-pisahkan antara kelas-kelas tingkatan SMTA dan tingkat fakultas. Status perguruan tinggi penuh diberikan oleh Departeman Pendidikan dan Kebudayaan (P dan K), dan mulai menerima calon-calon mahasiswa lulusan SMTA dengan masa pendidikan tiga tahun. Siswa-siswa setingkat SMTA dipisahkan dari ASRI dan membentuk wadah baru, SSRI (Sekolah Seni Rupa Indonesia, kemudian berubah menjadi SMSR dan kini bernama SMKN 2 Kasihan, Bantul). Tahun 1964 sudah menghasilkan sarjana-sarjana mudanya yang pertama.

Status ASRI berubah pada tahun 1968 dengan adanya Surat Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan nomor 0100/1968 yang mengubah status ASRI menjadi STSRI (Sekolah Tinggi Seni Rupa Idonesia). Dengan status yang baru ini, maka sejak itu lembaga pendidikan seni rupa ini berhak menyelenggarakan pendidikan tingkat sarjana penuh dengan masa pendidikan 4,5 tahun.

Pemegang tampuk kepemimpinan dari jaman ASRI sampai STSRI sudah mengalami 4 kali pergantian. Yang pertama R.J. Katamsi yang lalu digantikan oleh direktur kedua, I Djunaedi M.Ed. Kemudian Abas Alibasyah menjadi direktur ketiga yang untuk selanjutnya berturut-turut digantikan oleh Abdul Kadir MA, dan terakhir Drs. Saptoto.

Setelah kurang lebih 16 tahun nama SRSRI “Asri” berkibar, akhirnya status dan nama itu hilang dan digantikan dengan Fakultas Seni Rupa dan Disain (FSRD) di bawah naungan Insitut Seni Indonesia yang merupakan perguruan tinggi negeri ke 44 di Indonesia. ISI diresmikan oleh Mentyeri Pendidikan dan Kebudayaan Prof. DR. Nugroho Notosusanto pada tanggal 23 Juli 1984.

ISI yang dibentuk berdasarkan Keputusan Presiden RI No. 39/1984 tanggal 30 Mei 1984, merupakan gabungan dari 3 lembaga pendidikan seni yang sudah ada dan bertumbuh lama di Yogyakarta: Akademi Musik Indonesia (AMI) yang berdiri tahun 1952, Akademi Seni Tari Indonesia (ASTI) yang berdiri tahun 1961 dan ASRI (1950). Penyatuan ketiga akademi seni tersebut sudah direncanakan sejak tahun 1973 dengan suatu keinginan dan kesepakatan untuk membentuk lembaga pendidikan tinggi kesenian yang lebih luas cakupannya dan lebih besar kewenangannya baik di bidang seni maupun dari segi ketentuan-ketentuan pendidikan tinggi.

Meleburnya STSRI “ASRI” menjadi FSRD ISI pada prinsipnya tidak mengalami banyak perubahan status apalagi fasilitasnya, bila dibandingkan dengan AMI dan ASTI. Ini bukan berarti menutup mata akan kemajuan-kemajuan pada beberapa sisi sepanjang usia ISI yang sudah 6,5 tahun telah mewarnai keberadaannya.

Lepas dari masalah di atas, diakui atau tidak, nama ASRI sudah melegenda bagi masyararakat Yogyakarta maupun warga seni rupa Indonesia. Perjalanan panjang sejarahnya yang masih tetap ‘asri’, sampai kini terus mewarnai dan mewarisi generasi penerusnya. Ada dua sisi yang kontradiktif dari warisan ASRI kepada FSRD: kebanggaan dan/atau beban akan sosok sejarah yang telah mumpuni.

Mana yang melekat dalam batin?

Tuesday, November 14, 2006

Obat Stress

Coba, ah, ngeliatin gambar ini barang 30 atau 45 detik. ali2 aja ada efek optisnya. Ya, sugesti aja. Kalau gak salah gambar ini "pengembangan" dari karya Optical Art-nya Victor Vassarelly yang emang efeknya mengelabuhi mata. Atau malah ngrusak mata hehehe

Aku Datang, Aku Senang2, Aku Girang

Yayasan Yogyakarta Seni Nusantara bekerjasama dengan para seniman alumni Fakultas Seni Rupa ISI Yogyakarta akan mengadakan perhelatan Melukis Lagi di Gampingan, Minggu 19 November 2006 mendatang. Acara akan berlangsung sehari penuh, mulai pukul 08.00 pagi hingga 18.00 WIB bertempat di bekas kampus STSRI Asri atau Fakultas Seni Rupa ISI Yogyakarta, di bilangan Gampingan, Wirobrajan, Yogyakarta (belakang pasar Serangan, Wirobrajan). Perhelatan ini dihasratkan sebagai forum komunikasi antar seniman seni rupa di Indonesia, khususnya di Yogyakarta, sekaligus sebagai upaya sosialisasi atas rencana pembangunan Jogja National Museum.

Acara melukis bersama ini tidak sekadar merawat semangat romantisme atas keberadaan (bekas) kampus seni rupa tertua di Indonesia itu, tetapi juga dimaksudkan sebagai "pintu masukâ" bagi upaya mewacanakan lebih lanjut gagasan berdirinya Jogja National Museum. Oleh karenanya, acara ini tidak ditendensikan sebagai perhelatan yang bersifat internal, tetapi terbuka seluas-luasnya bagi publik seni rupa di Yogyakarta, bahkan Indonesia, untuk terlibat di dalamnya. Mereka yang berminat untuk terlibat sebagai peserta tidak harus alumni STSRI Asri atau FSR ISI Yogyakarta, atau seniman di Yogyakarta saja. Melainkan terbuka juga kemungkinannnya bagi para seniman di kota lain atau anak-anak untuk menjadi peserta, sejauh telah memiliki pengalaman dan ketertarikan terhadap seni rupa.

Kalimat "Melukis Lagi di Gampingan" sebenarnya berposisi sebagai tag-line semata, karena dalam praktiknya nanti panitia tidak menutup kemungkinan untuk menerima peserta yang akan menampilkan bentuk kreasi beragam. Misalnya performance art, bikin video art, baca puisi, mengeksposisikan happening art, memajang seni instalasi, environmental art, dan sebagainya.

Panitia memperkirakan acara ini akan melibatkan sedikitnya 300 peserta. Sejauh ini, panitia telah mendapatkan dukungan dari banyak seniman profesional untuk terlibat dalam acara melukis bersama ini. Di antaranya adalah pelukis Djoko Pekik, Nasirun, Pupuk Daru Purnomo, Bambang "Benk" Pramudyanto yang telah membangun reputasi di Yogyakarta. Juga beberapa seniman dari luar Yogyakarta yang telah memiliki reputasi bersedia untuk terlibat, seperti Hanafi, Hardi (Jakarta), Bonyong Munni Ardhi (Solo), Nyoman Gunarsa dan Made Wianta (Bali), Ivan Hariyanto (Surabaya), Tisna Sanjaya dan Arahmaiani (Bandung), dan masih banyak lagi.

Sebagai kelanjutan acara melukis bersama, direncanakan hasil karya lukis tersebut akan dipamerkan secara kolektif di bekas kampus Gampingan. Pameran itu ditendensikan sebagai bentuk fund raising atau penggalangan dana, sehingga diharapkan kepada seniman peserta untuk mendonasikan sebagian hasil penjualan karya sesuai kesepakan dengan panitia.

Untuk rencana perhelatan ini, panitia mengundang para seniman untuk bergabung menjadi peserta acara tersebut dan para pecinta seni dapat ikut mengunjunginya. Untuk keterangan lebih lanjut bisa kontak via telepon atau faksimili ke Arini (0274-419370/ 0811267736), Tere (08562870229), dan Janu (08157974359). Atau bisa lewat email rj_katamsi@yahoo. com, ndalemwironegaran@ yahoo.com. Bisa bisa dilihat detilnya di www.gampingan- site.blogspot. com atau www.gampingansite. multiply. com

Penanggungjawab: KPH Wironegoro a.k.a. Mas Nico
Ketua Umum: Yuswantoro Adi
Koordinator Pelaksana: Kuss Indarto
Divisi Acara: Iwan Wijono
Divisi Properti: Satya Bramantyo
Divisi Media: Janu Satmoko
Divisi Humas: Tere

Friday, November 10, 2006

"The man of knowledge must be able not only to love his enemies but also to hate his friends."Friedrich Nietzsche

Wednesday, November 08, 2006

Art Child 1

Art Child 2

Aku senang dapat kesempatan dan dipercaya oleh Mas Totok dari PPPG Kesenian untuk ikut nulis kata pengantar di katalog pameran lukisan anak-anak, Art Child. Sedianya pameran itu dibuka Sabtu, 11 November 2006 besok di Taman Budaya Yogyakarta. Itu tuh sebelah barat Toko Progo, Gondomanan. Sebaiknya Anda nonton deh. Ajak anak atau keponakan Anda. Bagus2 kok. Bayangin, anak2 nglukis segede 4 meter dan bagus2. Itu tuh di atas, salah satu contohnya, karya anak Perancis. (Sayang gak jelas anak usia berapa tahun. Tapi kalau nurut teorinya Viktor Lowenfeld sih, anak2 ya 0-14 tahun).

Ada dua pameran sebenarnya, tapi di jadiin satu, yaitu yang internasional, dan nasional. Aku kebagian nulis pameran yang nasional bareng pak DR. Agung Suryahadi dari PPPG Kesenian. Sedang untuk yang internasional, ada tulisan pak DR. Agung S juga, bareng pak DR. Dwi Marianto.

Aku nggak spesifik nulis tentang materi pameran itu karena males kejebak untuk bahas karya yang "baik" dan "buruk". Tapi lebih masuk ke soal pewacanaan atas fenomena lomba lukis anak2 yang kurasa mulai sedikit patologis. Aku agak emosional juga hehehehe. Ini nih petikan 3 alinea terakhir tulisanku:

...Perkara-perkara teknis yang remeh tersebut, saya kira, pantas dikemukakan kembali tatkala di tengah-tengah kita sekarang ini dunia anak sudah begitu lekat dengan hal yang industrial. Termasuk lomba lukis anak yang hadir bagai agen mesin industri sehingga melupakan hakikat bermain ataupun pleasure yang begitu penting bagi perkembangan kejiwaan anak-anak. Mereka acap profesional dalam teknis penyelenggaraan, namun bukan pada pendekatan psikologi(s) anaknya. Tidak sedikit ditemui juri yang tidak kapabel dan tidak uptodate pemahaman seni rupanya namun punya jaring “mafia” perlombaan. Atau orang tua yang mengejar prestise dan piala lewat tangan mungil anak-anaknya. Alhasil, yang sering ditemui adalah karya-karya seni rupa anak yang mulai cenderung stereotip, repetitif, seragam, dan maraknya praktik epigonisme.

Inilah silang sengkarut yang mesti dihentikan. Hal terpenting tentu saja adalah selalu membebaskan sama sekali si anak untuk melakukan aktivitas mencorat-coret atau menggambar untuk tetap menjaga sifat kekanak-kanakan si anak, seperti kata filsuf Perancis Rousseau, “Let childrenhood ripen in children!” Biarkan masa kanak-kanak matang pada diri anak-anak. Bukan menjadikan mereka sebagai kuda pacu bagi sistem nilai orang tua yang dengan paksa dibenamkan, seperti sering ditemui dalam lomba lukis anak yang kian menjadi komoditas nan kapitalistik itu.

Begitulah. Kita memang menginginkan anak tumbuh secara alamiah pada usia atau jamannya, bukan malah – misalnya – menjadi kanak-kanak justru tatkala seseorang telah tua menjadi pejabat…

Risiko...

Wah, sekarang aku garus banyak kalkulasi untuk setipa butir waktu yang akan kulalui. Bajigur. Ya udah. Itu risiko yang harus kupeluk, juga tanggung jawab yang mesti dekap. Tak masalah. Banyak hal juga keajaiban yang aku lewati setelah hidup bersama istriku, Narina... hihihi!

Mas Jaduk-Mbak Petra di Mantenanku

Monday, November 06, 2006

Adios, Omi Intan Naomi

Omi Berpulang

Omi berpulang. Hah, Naomi Intan Naomi yang anaknya pak Darmanto Jatman itu tutup umur? Aku kaget ketika Agung “Leak” Kurniawan kasih info tentang itu. Kala itu, sekitar jam 21.10 WIB hari Minggu 5 November, aku dan istriku naik motor untuk pulang setelah berakhir pekan di rumah mertua. Beberapa menit kemudian Neni, istri Leak kirim sms duka itu. Pun Senin paginya, mbak Anggi Minarni sms serupa.

Bayangan tentang Omi segera berkelebat di batok kepalaku. Beberapa hari lalu aku baru berencana menyapa dia, meski lewat e-mail atau sms, setelah kubaca tulisan dia di harian Suara Merdeka (Semarang) edisi Minggu 29 Okteber 2006. Tulisannya yang bertajuk “Medioker” itu sebetulnya tak cukup menarik. Ngalor-ngidul kemana-mana. Tapi karena dia dengan langsung menyebut-nyebut namaku, dengan segala kenyinyirannya, aku seperti diingatkan bahwa barangkali itulah cara paling santun bagi dia untuk menyapaku. Hahaha. Ya, kami sudah amat lama tak saling sua. Entahlah, mungkin sudah 5-6 tahun meski tempat tinggalku mungkin hanya 2 km dari tempatnya menetap. Dekatlah, mung sak plinthengan. Tapi belum ada dalih kuat untuk saling ketemu.

Kami sendiri saling kenal sekitar tahun 1996-1997. Aku lupa persisnya. Tapi meski belum lama kenal dan tak intens bergaul, kalau ketemu kami begitu hangat dan sama-sama ngawurnya. Mungkin karena aku sering baca tulisan-tulisan dia termasuk di koran Bernas saat aku masih jadi “tukang gambar” di koran itu. Omong saling serang, saling ngeledek. Umpamanya aku nyinggung namanya yang mirip dengan nama salah satu anak WS Rendra. “Emang bapakmu janjian ya bikin nama anak kok bisa mirip? Gak kreatif,” tanyaku. “Ah, enggak. Rendra aja yang niru-niru,” sergah Omi. Anak Rendra yang kumaksud tentunya ya Naomi Srikandi yang aktif di Teater Garasi. Agak2 nyablak juga dia kalo ngomong.

Tapi pada dasarnya Omi(nya Darmanto Jatman) adalah sosok yang cukup cantik, sangat cerdas, hangat sebagai sahabat, jujur, dan baik. Hanya lama-kelamaan cenderung tertutup dan “introvert”. Mungkin ada jagat lain yang sangat dia nikmati dan lalu menggiringnya agak asosial. Dunia mayalah yang kuduga menggeser modus budaya komunikasinya dengan teman-teman “real”-nya. Dia ngaku dalam tulisan ”Medioker” punya piaran dua blog yang dipeliharanya bertahun-tahun. Dan seperti sangat dinikmatinya.

Ah, sayang ya, cewek secerdas dia cepet pergi. Sayang juga dia tak lagi produktif berkarya pada tahun-tahun terakhir. Ups, gak tau ya, barangkali justru di situs atau blog-nya dia menyimpan banyak harta dan karya sastranya yang tak banyak diketahui oleh publik seni di sini. Apalagi karyanya itu berbahasa Ingris semua. Aku yakin pasti menarik kalau dikuak. Setidaknya kalau mengacu pada karya skripsinya yang setebal 330-an halaman, Analisis Kebebasan Pers Dalam Rubrik Pojok Surat Kabar Kompas dan Suara Karya, yang diselesaikannya tahun 1995, yang lalu dibukukan oleh penerbit Garba Budaya-nya Sitok Srengenge dengan tajuk Anjing Penjaga. Isinya bagus, bahasanya pun sangat liat dan inspiratif, menunjukkan kalau bacaaan Omi sangat luas. Aku beruntung masih menyimpan skripsi asli karyanya yang diberikan ke aku ketika akan kupinjam untuk ngebut bikin skripsi tahun 1998. Aku tak percaya waktu itu. “Ah, yang bener, Om?”

“Ambil aja. Aku tak butuh lagi,” katanya. Sampai sekarang skripsi dengan cover legam itu masih di almari bukuku. Sayang sekali aku tak mungkin lagi bisa ngobrol dengan sang empunya.

Selamat bobo’ setenang2 yang kau inginkan, Omi! Aku yakin kau tak butuh air mata teman2 untuk melepaskanmu. Tapi Tuhan harus kuseret via doaku agar Dia tulus mendekat di sisimu. Saling dekaplah kau dan Dia, Omi! Mungkin surga segera melingkungimu. Amien.

Saturday, November 04, 2006

Lebaran kemaren, waktu aku ngumpul lengkap di rumah ibu, dua keponakan masih tetap jadi pusat perhatianku. Aku seneng banget mengingat2 mereka. Adel (2 tahun), anaknya Yana-Ida, semakin cerewet dan imut. Bulu matanya, idepnya masih panjang dan lucu banget. Suaranya cempreng bikin kangen banget.

Sedang Ivan, anaknya Ning-Tri, udah mulai dewasa meski baru 6 taun. Dia bisa ngemong Adel. Nggak nakal banget kayak 2 tahun lalu. Bisa ngajak berlogika dengan Adel, tentu khas seusianya. Yang aku senang, Ivan makin senang menggambar. Kata ibunya, Ning, Ivan kemaren juara 2 lomba mewarnai. Lumayan deh, paling enggak agak2 nurun aku, pakdenya. Tapi Adel malah berkurang minatnya. Gak tau, padahal setahun lalu keliatan lebih antusias ketimbang Ivan. Kukira mood pun bisa fluktuatif, naik-turun frekuensi ngikuti lingkungannya. Mungkin ngikuti mood ibunya, Ida (adik iparku), yang mulai sebulan lalu memutuskan keluar dari pekerjaannya sebagai guru di SMKK dan serius dengan usaha bridal-nya yang mulai berkembang. Sehingga meski banyak waktu di rumah, tapi Ida sering sibuk dan serius. Dan ini nular ke Adel yang jadi ikutan serius, termasuk gak suka nggambar. Adel jadi sok serius, gampang emosional kalo disentuh orang lain.

Dasar anak2. Ah, taun depan, kalau tak meleset dan baik2 aja, anakku akan lahir. Kata dokter, kira2 25 Maret. Wuih, kalau tepat asik dunk, ulang taunnya kelak berurutan dengan ultahku, 26 Maret. Ah, yang penting sehat semua dan lancar.

Wednesday, November 01, 2006

Tuesday, October 31, 2006

Memoar Apotik Komik

Oleh Kuss Indarto

(Tulisan ini telah dimuat di harian Kompas, Minggu 22 Oktober 2006 halaman 29)

Apotik Komik menutup hikayat. Tak ada air mata. Tiada tangis sedu-sedan untuk melepas kepergiannya. Seremoni penamatan riwayat komunitas seni rupa yang cukup populer dan fenomenal di Yogyakarta ini dilangsungkan dengan peluncuran buku tentang proyek seni mereka, Sama-Sama/Together, di Jogja Gallery, Sabtu malam, 7 Oktober 2006. Buku tersebut memuat teks dan foto dokumentasi proyek Sama-Sama/Together antara Apotik Komik dan CAMP (Clarion Alley Mural Project) San Fransisco yang berlangsung di Yogyakarta dan San Fransisco tahun 2003 lalu.

Sayang forum itu tidak dihadiri secara lengkap oleh personal inti Apotik Komik. Hanya Samuel Indratma dan Ari Diyanto. Sementara eksponen lain yang mengawali pembentukan kelompok tersebut pada April 1997, Bambang Wicaksono dan Popok Tri Wahyudi, tak nampak. Diskusi kecil yang menyertai peluncuran buku itu pun relatif tidak cukup serius. Penuh celotehan, saling ledek, dan guyonan sekenanya yang menimpali tiap personal Apotik Komik atawa peserta diskusi yang tengah unjuk bicara.

Bubarnya Apotik Komik, secara de facto, sebenarnya telah terjadi sekitar dua tahun lalu. Setidaknya ditandai dengan keberangkatan Samuel Indratma seorang diri ke Taipei Biennalle Oktober 2004 yang waktu itu bertema kuratorial “Do You Believe in Reality”. Ini menjadi penanda pamungkas atas pemakaian label komunitas tersebut dalam forum-forum (resmi) seni rupa.

Lalu, adakah makna yang masih bisa dijumput dari tutup bukunya Apotik Komik ini?

Bubarnya sebuah komunitas seni rupa niscaya sesuatu yang lumrah, di manapun di dunia. Fakta ini tentu bukanlah titik pembenaran bagi kemungkinan bubarnya kelompok-kelompok lain yang saat ini tengah mengukuhkan kekuatan. Apalagi bagi yang belum memberi kontribusi bagi kepentingan internal kelompok bersangkutan. Terlebih bila mampu menginspirasi atau menorehkan sumbangan terhadap eksternal kelompok.

Apotik Komik sendiri – yang dulu memberangkatkan diri sebagai komunitas dengan ketertarikan terhadap jagat komik – dalam perjalanannya yang tidak genap satu dasawarsa, telah begitu identik dengan mural (lukisan di dinding) yang menempel pada tembok-tembok kota Yogyakarta. Tak pelak, ini berkait dengan proyek seninya yang fenomenal, Sama-Sama yang berlangsung mulai tahun 2002. Diawali dari pembuatan mural di tubuh jembatan layang Lempuyangan, lalu menebar ke banyak kawasan. Pemilik otoritas kota pun melegitimasi aksi kreatif ini dengan perizinan. Dari situlah kemudian, publik ditulari oleh demam muralisasi tembok-tembok kosong dan kumuh yang ada di kampung-kampung di seantero kota. Wajah sebagian tembok kota Yogyakarta – yang ‘mengutuk’ diri sebagai kota seni budaya ini – menjadi marak penuh warna. Mural-mural dengan beragam karakter itu sedikit banyak telah menguatkan atmosfir kota Yogyakarta sebagai kota budaya.

Kiranya, muralisasi tembok-tembok kota yang digarap secara simultan oleh seniman bersama masyarakat ‘awam’ tersebut telah menggeserkan pemahaman dari aksi (dengan tendensi) estetik menjadi aksi (atau bahkan gerakan) sosial – meski dalam besaran yang terbatas. Memang ini jelas masih jauh dari skala dan implikasi sosial atas gerakan serupa yang terjadi di Chicago, Amerika Serikat lewat gerakan Wall of Respect (1967) atau Wall of Choice (1970) yang digerakkan oleh seniman dan publik yang tergabung dalam the Organization for Black American Culture (OBAC). Gerakan muralisasi di Chicago itu memang kuat berdimensi sosial politis karena dipicu oleh isu diskriminasi rasial. Atau capaian kreatif mural di Yogyakarta itu belumlah se-spektakuler karya mural The Great Wall of Los Angeles yang membentang sepanjang setengah mil di Lembah San Fernando, LA, AS. Mereka jelas belum sebanding monumentalitasnya ketimbang karya-karya mural Diego Rivera atawa Jose Orozco.

Namun untuk konteks Indonesia, capaian seniman Apotik Komik tersebut dapat dimaknai dalam beberapa hal penting. Pertama, sebagai upaya popularisasi karya seni. Nilai lebih ini adalah upaya seniman mural untuk sekaligus melakukan proyek demistifikasi seni (Eva Cockcroft, John Weber dalam Toward a People’s Art, 1998). Aksi semacam ini mencoba meruntuhkan jagat ‘takhayul’ atas karya seni rupa yang – dalam perspektif masyarakat – telah masuk dalam perangkap stereotip sebagai “harus indah, molek, bersih, dan tak bisa disentuh” seperti halnya lukisan-lukisan di atas kanvas di ruang galeri komersial yang rapi dan dalam siraman kilauan cahaya lampu spot. Atau pemahaman bahwa karya seni hanya bisa dilahirkan oleh orang yang diberi legitimasi akademis dan sosial sebagai seniman. Lewat medium mural, kini semua warga memiliki hak kreatif untuk membuat karya seni sekaligus menyalurkan opini sebagai hak sosial-politiknya. Dengan demikian, mural telah menjadi galeri terbuka yang bisa menyuarakan kepentingan publik.

Kedua, mural diasumsikan menjadi jembatan atas upaya estetisasi ruang publik kota. Dalam konteks Yogyakarta, upaya ini telah memotong kecenderungan baku selama ini bahwa pemilik otoritas kota secara ex officio adalah juga penentu, pemilik dan pengelola tunggal keindahan kota secara keseluruhan. Ini merupakan wujud otoritarianisme tersendiri, yang antara lain terealisasi dengan proyek tamanisasi, potisasi dan kembarmayang-isasi yang kaku, norak, seragam, berbiaya mahal dengan menyingkirkan keberagaman dan partisipasi publik. Maka, mural hadir dalam kapasitasnya untuk memberi alternatif lain tentang konsep keindahan kota yang telah dipatok secara kaku dan stereotip. Di sinilah kiranya letak nilai moral pada mural: menawarkan proses penyadaran dan pendewasaan terhadap penguasa kota untuk menghargai keberagaman, dan mengajarkan tentang penghematan dana publik.

Ketiga, berkait dengan hal di atas, kehadiran mural di berbagai sudut kota telah memberi persuasi sekaligus upaya pembelajaran yang efektif kepada para penggrafiti liar untuk berbagi ruang. Dengan demikian kemunculan crime art atau street art (antara lain berbentuk graffiti) di berbagai sudut kota sedikit banyak bisa saling mengisi secara mutualistik dengan kehadiran mural. Mural relatif tidak merusak fasilitas kota atau milik perorangan karena dibuat secara terbuka dengan perizinan.

Keempat, secara pelahan maraknya kehadiran mural telah mendudukkannya sebagai simbol tempat (symbol of place). Yogyakarta tambah lagi julukannya, sebagai kota mural. Lebih dari itu, beberapa mural di kota ini telah membentuk dan menjadi sistem tanda untuk mengidentifikasi sebuah lokasi tertentu. Hal ini tak lepas dari tingkat akomodasi yang memadai dari masyarakat dan sebagian pemilik otoritas kota Yogyakarta untuk menerima mural. Berbeda, misalnya, dengan pemda Jakarta (dan mungkin kota-kota lain) yang justru alergi dan kemudian memutihkan kembali tembok-tembok kota yang bermural.

Warisan almarhum Apotik Komik yang paling berharga saya kira bukan saja fisik mural yang masih menempel di tembok-tembok kota Yogyakarta. Namun perkara mental dan kesadaran untuk memiliki sense of art bagi sebagian masyarakat Yogyakarta atas kotanya pantas dipresiasi lebih lanjut. Ke depan, pekerjaan rumah yang menanti adalah perkara teknis seperti maintenance (perawatan) atas karya yang kurang diagendakan dengan baik. Juga perkara “pencurian” beberapa tembok-tembok kota oleh pemilik kapital besar yang menghapus mural seniman atau warga dan kemudian menggantinya dengan mural produk-produk rokok dan lainnya. Ini problem mental rakus dan nggragas yang telah laten mengaliri urat syaraf para pedagang dan birokrat kita. Inilah tugas bersama seluruh masyarakat untuk mengontrol moral mereka. Termasuk lewat mural.

Selamat tinggal, Apotik Komik!

Kuss Indarto, kurator seni rupa, aktivis Kerupuk (Komunitas Peduli Ruang Publik Kota) Yogyakarta.

Huhuhuhuuu

Sedih juga Valentino Rossi gak bisa juara MotoGP lagi. Sirkuit Valencia Spanyol emang gak cukup cocok buat dia. Sayang banget sih karena Nicky Hayden, juara baru itu, sebetulnya belum jadi juara sejati ketimbang Rossi dalam 5 taun terkahir. Untuk taun ini aja Rossi bisa menang di 5 sirkuit, lebih banyak ketimbang Hayden yang cuma jagoan di 2 sirkuit. Cuma konsisten aja di banyak seri sebagai medioker. Juara kagak, bontot juga enggak.

Ini kayak Michael Schumacher di F1 yang taun ini dimenangi lagi sama Alonso. Scummy cuma kalah mujur ketimbang si Espanola bedebah itu. Persis kayak taun kemaren yang garis kemujuran dari Dewi Fortuna "dikasihkan" ke Alonso, bukan ke Kimi Raikonen yang jauh lebih piawai ngebut dengan jet darat. Liat aja taun 2007 depan, Alonso pasti keteteran jauh di belakang Kimi atawa Felipe Massa. Apalagi Alonso "cuma" nongkrong di belakang cockpit McLaren yang banyak punya problem mesin, daripada tunggangan baru Kimi, Ferarri.

Saturday, October 21, 2006

Friday, October 20, 2006

J.Allora - G.Calzadilla

Ini foto karya J.Allora - G.Calzadilla yang sedang dipajang di bienalle venice, italia, yang memang sedang jatahnya fotografi, film dan arsitektur.

Thursday, October 19, 2006

Galeri Simbol Kota


Artikel di bawah ini sudah dimuat di harian Kompas edisi Yogyakarta dan Jateng, Rabu 18 Oktober 2006 kemaren. Jujur aja, ini artikel yang kurasa masih agak prematur. Data masih minim dan argumentasi kurang "mbuku". Tapi mas Budiawan yang doktor sejarah itu malah komentar via sms kalau itu artikel "apik, dab!" Dia nyarain juga agar aku (serius) masuk IRB (Ilmu Religi Budaya) Sanata Dharma dan ntar bikin tesis dengan judul "Cultural-Economy of Art Galleries in Yogyakarta". Juga alternatif nyari beasiswanya dimana. Walah, walah, kalok dikasih aba-aba gitu jadi ngeri nih Aku sih sebetulnya cuma nyindir aja via tulisan itu, bahwa kalo bikin galeri dengan embel2 sebagai galeri publik internasional itu nggak gampang. Apalagi kalo cuman cari link dengan galeri di kota kecil yang tak begitu penting semacam Wollongong. Emang sih di Ngostralia tapi kan gak semua yang bau luar negri tuh bagus. Sayang kan, bikin galeri denan biaya mahal, sudah pake nama Jogja, tapi diisi oleh para petualang yang gak visioner. Nih, nih, baca aja tulisan ku ya.

Galeri Simbol Kota

Oleh Kuss Indarto

Akhirnya sebuah galeri kembali hadir. Jogja Gallery labelnya. Kehadirannya seperti mengisi kesadaran psikologis atas Yogyakarta yang menabalkan diri sebagai kota seni budaya. Gedung tua yang telah berdiri sejak 1929 di ujung timur laut alun-alun utara Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat itu, kini nampak cukup rapi dan kenes menyapa masyarakat yang lalu-lalang melintasi kawasan tersebut. Dia tak lagi berjuluk Soboharsono Theatre yang dulu rajin menayangkan film-film nasional yang norak hingga paruh awal dasawarsa 1990-an. Sejak 19 September lalu, gedung itu resmi ditahbiskan sebagai galeri seni rupa. Bahkan hasrat besarnya ikut mengembel-embeli namanya, yakni sebagai galeri publik internasional. Sebuah ekspektasi sekaligus ambisi ‘heroik’ yang pantas ditunggu realisasinya.

Hadirnya galeri ini tentu diniscayakan akan memarakkan geliat dinamika kehidupan seni rupa yang telah ‘larut’ di kota ini. Jauh melampaui kota-kota lain di Indonesia. Sebagai ilustrasi – seperti dicatat oleh Yayasan Seni Cemeti – sepanjang 2005, di sekujur kota Yogyakarta dan sekitarnya telah tergelar 223 perhelatan seni rupa yang bertebaran di 60-an venues atau ruang seni. Mulai dari acara besar yang dikerumuni ribuan pengunjung hingga perhelatan mungil di rumah kontrakan yang disambangi segelintir apresian. Venue yang relatif dinamis seperti Bentara Budaya mampu menyelenggarakan pameran hingga 27 kali setahun. Kemudian Rumah Budaya Tembi 17 event, Griya KR (15), Rumah Seni Cemeti (11), Kedai Kebun Forum (11), Via-Via Café (13), Lembaga Indonesia Perancis (7). Sedang gedung milik pemerintah seperti Benteng Vredeburg tercatat 11 perhelatan dan Taman Budaya Yogyakarta (5).

Juga tak sedikit venues lain yang relatif baru dan dimiliki secara perorangan, telah mempunyai program yang cukup tertata. Pun dengan ruang-ruang lain yang awalnya tidak ditendensikan sebagai ruang seni rupa. Misalnya Museum dan Tanah Liat dengan 8 event, Galeri Biasa (4), Parkir Space (7), Wisma Ary (3), Gramedia (3), Hamursava (5), Ministry of Café (6), dan lainnya. Dari keseluruhan banyaknya perhelatan itu, maka bila dihitung rerata dalam sebulan ada lebih dari 18 event, atau lebih dari 4 kali event per minggu. Ini sebuah capaian angka yang bisa menguatkan maklumat kota ini sebagai kota seni dan budaya. Capaian ini tentu tak lepas dari masyarakat penyangganya yang punya militansi kuat pada dunia seni rupa dengan jumlahnya yang tidak banyak (di antara 3,2 juta penduduk DIY) – yang ditumbuhkan oleh sekolah dan kampus seni rupa, komunitas seni, dan lainnya.

Lantas, bagaimana Jogja Gallery akan mengambil posisi di celah belantara ruang dan perhelatan seni rupa Yogyakarta?

Dengan positioning sebagai galeri komersial (dan hasrat) bertaraf internasional, tentu bukan perkara mudah untuk memainkan perannya. Publik seni rupa Yogyakarta sendiri – secara bergurau – sepertinya telah kadung punya garis justifikasi bahwa Yogyakarta adalah kuburan bagi galeri komersial. Beberapa di antara mereka yang sebenarnya dikelola dengan cukup serius telah pernah tumbuh di sini, namun kemudian berkalang tanah tak lebih dari usia dua tahun. Misalnya galeri Embun atau galeri Oktober – untuk menyebut beberapa nama. Artinya galeri yang menghasratkan diri sepenuhnya hidup dari hasil transaksi finansial atas karya-karya seni rupa di dalamnya, belum cukup memungkinkan terjadi di Yogyakarta.

Ini memang memuat masalah yang kompleks. Mulai dari problem manajemen, jaringan pasar yang belum cukup terbangun pada masing-masing galeri, hingga pada problem code of conduct dalam mekanisme dan sistem pasar seni rupa yang masih teramat sulit terbentuk. Artinya – sebagai contoh kasus – tak ada aturan baku yang memungkinkan seorang kolektor seni rupa hanya akan mengoleksi lukisan dari ruang-ruang pajang di sebuah galeri saja, dan bukan dengan cara door to door di rumah atau studio seniman. Oleh karenanya, adagium “untuk apa beli di toko kalau bisa memborong langsung di pabriknya” terus berlaku di sini. Kolektor merangkap jadi kolekdol (mengoleksi dan dijual lagi). Ini memang tak sepenuhnya salah karena ada relasi yang mutualistik dengan seniman. Namun, apa daya, mentalitas sepeti inilah yang kerap mematikan keberadaan galeri komersial di Yogyakarta (atau Indonesia).

Kelimun persoalan berikutnya yang segera menyergap saya yakin akan kian banyak dan kompleks. Maka, bagi sebuah galeri baru, persoalan latent yang mesti dilakukan sebagai siasat untuk bernafas panjang adalah menerapkan tiga hal penting, yakni membangun citra, meluaskan jaringan, dan menguatkan program. Tiga hal itu bisa saling berintegrasi satu sama lain.

Membangun citra jelas berkepentingan untuk menanamkan kesadaran yang lebih dalam atas keberadaan dan positioning ruang ini di mata publik. Bahwa Jogja Gallery adalah galeri yang berorientasi ke pasar namun tidak pasaran, misalnya, adalah hal elementer yang mesti dicarikan titik hubungnya dengan kualitas program pameran yang matang dan terencana dengan melepaskan praktik koncoisme yang akut.

Atau kalau brand galeri sudah membawa nama kota, maka pencitraan sudah semestinya mampu memberi imbas balik yang elegan dan mutual bagi citra kota Yogyakarta. Ini bisa diimplikasikan dengan meluaskan jaringan dengan galeri (milik) kota di kota-kota dunia lainnya. Ini pun bisa lebih lanjut membangun program kota kembar atau sister city yang berorientasi pada program seni rupa. Misalnya dengan kota Kyoto yang bekas kota kekaisaran di Jepang sehingga punya kesetaraan. Atau dengan kota-kota lain di dunia yang sesama anggota Liga Kota Bangsa sedunia karena kesetaraan garis sejarahnya dan sederajat status administrasinya. Misalnya dengan kota Sidney di Australia, Amsterdam (Belanda), Madrid (Spanyol), Singapura, Seoul (Korsel), Basel (Swiss), dan lainnya. Beberapa seniman atau lembaga seni di Yogyakarta pun sebenarnya telah pernah menjalin relasi dengan ruang-ruang seni penting di kota-kota tersebut, dan karenanya bisa diharapkan keterlibatannya untuk membangun jaringan.

Dengan demikian, program kegiatan galeri pun nantinya bisa lebih kaya, meluas, dan mematangkan citra sebagai galeri simbol kota Yogyakarta. Toh label sebagai galeri publik internasional bukan hanya dicitrakan dengan mengenakan tiket tanda masuk kan?

Kuss Indarto, kurator seni rupa, tinggal di Yogyakarta

Tuesday, October 17, 2006

Sebel, cah...

Aku sebel banget dengan tulisan Kun Adnyana di Kompas, Minggu 8 Oktober 2006 lalu. Bagaimana tidak, sebuah ulasan seni rupa yang ditulis oleh seorang dosen seni rupa, bahkan mahasiswa pascasarjana, isinya cuma puja-puji melulu. Seperti tulisan wartawan biasa yang sekadar memenuhi kaidah jurnalistik, 5W + 1H. Miskin kritisisme yang bisa mencerahkan pembaca. Inikah produk pendidikan S2 ISI Yogyakarta yang ngejar kuantitas aja? Hahahaha. Bener lho, respon semacam ini juga menghinggapi banyak teman seniman yang baca tulisan Kun tersebut. Ora mutu. Atau takut sama kurator pameran yang diulasnya, Dwi Marianto, yang kebetulan dosen dan direktur S2 ISI Yogya? Ah, lebih gombal lagi kalo itu yang terjadi. Bikin seni rupa gak maju-maju. Hihihi. Untung di hari yang sama tulisanku juga muncul di harian Media Indonesia. Isinya juga ulasan tentang pameran yang sama, Icon: Retrospektif. Ya, cuma nasibnya agak beda. Kalau dimuat Kompas, pasti yang baca lebih banyak karena tirasnya sampai 500 ribu eksemplar. Ketimbang Media Indonesia yang cuma 200 ribu eksemplar. Tapi cobalah baca tulisanku itu di bawah ini. Salam!

Bermain Ikon Sejarah

Oleh Kuss Indarto

(Tulisan ini telah dimuat di harian Media Indonesia, Minggu 8 Oktober 2006)

Sore mulai berangin tatkala beberapa perupa yang beranjak gaek asyik mengobrol ngalor-ngidul di depan Taman Budaya Yogyakarta (TBY). Hari itu, Selasa 19 September 2006. Di antara reriuhan itu ada Haris Purnomo, Ronald Manulang, dan Hari Budiono, yang pada 1978-an membikin heboh dengan mendirikan kelompok seni rupa PIPA (Kepribadian Apa). Ada juga Bonyong Munny Ardhi, Hardi, dan lainnya – yang pada tahun-tahun sebelumnya tak kurang heroiknya dengan aksi yang melegenda, Gerakan Seni Rupa Baru (GSRB).

Ada gelak tawa yang membuncah pada pertemuan nostalgis mereka. Dan di ujung persuaan itu, mereka saling berucap dan berharap untuk kembali bertemu menuntaskan kangen di malam harinya, di Jogja Gallery. Namun Hari Budiono tidak mengiyakan. Dia tak akan datang pada pembukaan pameran sekaligus launching perdana galeri di Jalan Pekapalan di ujung timur laut alun-alun utara kraton Ngayogyakarta Hadiningrat tersebut.

Tampaknya Hari merasa cukup punya alasan untuk tak nongol malam itu. Meski sebenarnya dia tak punya acara yang lebih penting dan berharga ketimbang perhelatan di galeri itu. Tapi barangkali dalih ini lebih dikarenakan oleh rasa tak enak, sungkan atau malah galau. Bagaimana tidak, garis panjang “kesejarahan estetik” dirinya yang setara dengan rekan-rekannya seperti Haris Purnomo atau Ronald Manulang, ternyata “disembunyikan” oleh kurator M. Dwi Marianto dan Mikke Susanto yang membesut pameran bertajuk kuratorial Icon: Retrospective tersebut. Dirinya tidak dilibatkan sebagai peserta pameran yang sebenarnya layak untuk menempatkan nama dan karyanya di pameran itu. Entahlah, apakah kurator alpa atau melupakannya, atau – itu tadi – ada konstruksi dan agenda “khusus” untuk “menyembunyikannya”.

Padahal dia tetap berdiam di Yogyakarta, bukan di Jakarta atau kota lain seperti Ronald Manulang atau Haris Purnomo, sehingga (sebenarnya) gampang untuk memantaunya. Padahal dia juga tetap konsisten berproses kreatif, bahkan medio tahun ini berpameran tunggal di Bentara Budaya Jakarta (dan di dua kota lain), seperti halnya rekan-rekannya, sehingga masih terlacak garis dinamik kreatifnya. Kalau kurator alpa, bagaimana proses pembacaan dan penelusuran mereka atas “sejarah dasar” seni rupa tiga puluh tahun terakhir? Tapi kalau ada agenda dan disain “khusus”, pada titik mana mereka hendak mengonstruksi subyektivitasnya (ingat, bukan obyektivitas) dalam memandang sejarah?

Hari Budiono tenyata tidak sendirian. Masih banyak perupa atau apresian seni yang, misalnya, mempertanyakan kemunculan perupa A dan absennya seniman B pada perhelatan kali ini. Atau kelompok seni Z diketengahkan, namun kelompok X malah dikesampingkan. Demikianlah kiranya bagian paling dinamis tapi riskan dari sebuah pameran berbingkai kuratorial penuh jaring risiko, yakni menampilkan sebuah pembabakan sejarah dengan pilahan para lakon sejarah yang dikonstruksinya. Apa boleh buat, kebenaran dalam ilmu sejarah – yang dari awal menolak prinsip keilmiahan dalam bingkai positivisme – memang tidak bersifat universal, tapi temporal dan spasial. Di dalamnya, kebenaran pun sulit untuk bersifat obyektif, namun intersubyektif dan ideografis.

Pada titik inilah sebenarnya pengharapan begitu menggelembung atas pameran “kolosal” yang rencananya berlangsung hingga 19 November mendatang. Puluhan karya dari sekian puluh nama seniman yang dipilih kurator bertaburan di sekujur ruang. Mereka adalah seniman yang dianggap berproses kreatif di Yogyakarta. Pembabakan dihasratkan untuk memudahkan pelacakan sejarah, yakni dalam kelompok kurun sepuluh tahunan atau dasawarsa. Mulai dari dasawarsa 1970-an yang memunculkan nama-nama dosen ASRI yang diasumsikan memberi pengaruh pemikiran, seperti Fadjar Sidik, Widayat, Edhi Sunarso dan Aming Prayitno. Kemudian kehadiran Sanggar Dewata Indonesia (SDI) dengan representasinya Nyoman Gunarsa dan Made Wianta. Hingga menampilkan “representasi” ikon peristiwa penting masa itu, yakni pameran “Nusantara-Nusantara!”, Gerakan Seni Rupa Baru (GSRB), dan pameran kelompok “Kepribadian Apa (PIPA)”.

Kemudian dasawarsa 1980-an yang satu di antaranya mengeksposisikan karya Moelyono dengan Kesenian Unit Desa (KUD)-nya, Heri Dono, Eddie Hara, Nindityo hingga para pelukis surealis ala Yogya seperti Agus Kamal, Lucia Hartini, Ivan Sagito dan lainnya. Dilanjutkan 1990-an yang menampilkan Dadang Christanto, Anusapati, Hedi Hariyanto, Djoko Pekik, Entang Wiharso, hingga Apotik Komik dan Nyoman Masriadi. Serta kurun 2000-an diketengahkan karya para “ikon”-nya seperti Komunitas Seni dan Budaya Taring Padi, Ruang Mess 56, Budi Kustarto, Eko Nugroho, Abdi Setyawan, hingga Sigit Santoso. Di luar itu, ada Affandi yang melampaui batas-batas kurun waktu yang dikelompokkan.

Konstruksi kuratorial semacam ini memang bukan pekerjaan gampang dan oleh sebab itu, sekali lagi, berisiko. Ini menyangkut kekuatan konsep kesejarahan yang tampaknya menjadi dasar atas peta kuratorial pameran Icon: Retrospective yang kemudian dipertanyakan publik. Pertanyaan, misalnya, berangkat dari dataran filosofis, di mana ada tiga aspek yang kerap menjadi sasaran kajian historis dalam melihat suatu perkembangan sejarah. Ketiganya masing-masing meliputi latar belakang yang menyebabkan terjadinya suatu peristiwa, proses dari peristiwa itu sendiri, dan konklusi historis yang dihasilkan oleh peristiwa tersebut (Syamsul Ardiansyah, Pikiran Rakyat, 30/9/2006).

Hal-hal inilah yang terasa mengganjal ketika mengamati rangkaian karya-karya dalam pameran dan mencoba untuk mengonstruksi sistem makna yang ada di dalamnya. Saya kira banyak ditemukan nama dan karya yang menunjukkan cukup kuatnya sistem dan cara berpikir yang disorientatif, untuk tak mengatakan “kebingungan”.
Sebut saja misalnya kehadiran nama dan karya almarhum G. Sidharta yang dikelompokkan sebagai seniman yang mewarnai dinamika seni rupa Yogyakarta kurun 1970-an. Tentu ini sebuah kelucuan karena sejak 1960-an beliau telah menetap di Bandung, bukan di Yogyakarta. Atau Studio Brahma Tirta Sari (Agus Ismoyo dan Nia Fliam) yang masuk dalam kelompok 1980-an. Ini sebuah bias temporal karena mereka memang membentuk diri tahun 1980-an namun baru menemukan “puncak” kreatif dan ke-ikon-annya awal 2000-an. Setidaknya pada Biennal Jogja 2003 lalu. Pun dengan kehadiran Seiko Kajiura dan kawan-kawan yang dipaksa “masuk peta” lewat pameran “Jogjapan-Jepangkarta” April 2005, dan dengan gegabah dikelompokkan sebagai salah satu “ikon” kurun 2000-an. Diduga ini karena relasi personal antara kurator M. Dwi Marianto dengan para “seniman” tersebut yang berpameran di kampus Pascasarjana ISI Yogyakarta, dan bukan lewat pendekatan konseptual tentang “ikonisitas” berdasar karya kreatif mereka. Dengan metodologi seperti ini, maka “tersingkirlah” kelompok Geber Modus Operandi, Yuswantoro Adi, dan lainnya.

Saya tak tahu persis apakah pendekatan metodologis yang diterapkan pada perhelatan ini memakai perspektif neoscientific yang memungkinkan memberi ruang bagi “orang-orang biasa saja” dalam spirit kesetaraan untuk masuk sejarah, atau ini justru menjadi “jebakan-jebakan” yang dibuat kurator sendiri lewat tema kuratorial heroik tersebut. Tentu hal ini lumayan mencederai pameran. Sebuah kerja besar yang semestinya bisa lebih baik, malah terpelanting pada perkara yang elementer. Padahal publik seni Yogyakarta atau bahkan Indonesia mungkin begitu berharap dengan hadirnya galeri publik megah ini. Launching yang dilakukan oleh Sultan Hamengku Buwono X dengan seremonial meriah tentu menyelinapkan banyak harapan pada ruang baru ini.

Agak sayang memang. Meski dalam pameran ini sudah banyak “ikon” berkelas paus, hiu, atau kakap, ternyata terselip juga “ikon” teri, “ikon" wader… Sebuah dekonstruksi atau destruksi sejarahkah ini?

Kuss Indarto, kritikus seni rupa, tinggal di Yogyakarta.

Wednesday, October 04, 2006

Potret-potret Palsu Plantungan

Oleh Kuss Indarto

(Tulisan ini dimuat dalam katalog pameran fotografi: Habis Gelap tak Kunjung Terang di Taman Budaya Yogyakarta, 20-24 April 2006)

Sekitar September-Oktober 2005 lalu, HD. Haryo Sasongko merilis puluhan puisi lewat media dunia maya (cyberspace). Dari sudut ritme bunyi atau pun kebahasaan, sebenarnya puisi-puisi itu begitu lugu dan lugas tanpa banyak "kelokan" yang melenturkan kata demi kata. Nyaris tiada berupaya memesonakan diri lewat metafora. Belum cukup "artistik", dan tampaknya bukan capaian itu yang ingin direngkuh. Melainkan membangun realitas dalam puisi yang berkehendak untuk menampilkan keutuhan isi atas narasi yang didedahkan kembali dari hasil wawancara yang direpresentasikan lewat sebentuk puisi. Salah satu puisi tersebut bertajuk Plantungan:

di plantungan desa yang dingin itu
di barak-barak kotor bekas tempat
perawatan penderita lepra
yang juga dihuni ular, ulat, dan
kelabang serta serangga
kami yang tercatat menjadi
anggota gerwani
atau dicap sebagai orang gerwani
atau sama sekali bukan gerwani
dikumpulkan sebagai tahanan
kalian dikumpulkan di sini sebagai hukuman
karena kalian wanita tidak bermoral
berani memotong kelamin dan mencungkil mata para jenderal
kata pak kepala yang suka memperkosa
dan menghamili tapol wanita
bila suatu saat akan tiba
utusan dari palang merah internasional
pak kepala pun melatih mereka
menyanyikan lagu wajib dalam
paduan suara yang nyaring

kalau ditanya pagi sarapan apa?
nasi, dengan lauk daginggg ......!
minumannya?
segelas susuuuu ......!
kalau makan siang?
nasi dan suppp .........!
tambahan gizinya?
semangkuk bubur kacang hijauuu ...!
kalau makan malam?
nasi, sayur sana teluurrrr....!!
buahnya?
pisannggg ......!
seorang dokter yang lancang
berteriak garang pada mereka yang datang
semua bohonngggg.....!
inilah makanan kami
sambil menunjukkan sayur bayam
yang telah kusam menghitam

para tapol wanita itu memang makan
dari hasil berkebun dan membuat
kerajinan tangan sendiri
tanpa penghasilan itu
mereka akan didera kelaparan
dan mati tanpa ada yang peduli

Ya, Plantungan! Puisi yang "tak cukup puitik" itu begitu kental menggendong pesan. Lugas pula penyampaiannya meski belum begitu deskriptif tapi cukup provokatif. Puisi ini mengabarkan tentang Plantungan, salah sebuah artifak penting (sekaligus simbol) dari surutnya keberadaban pemerintah Orde Baru – di samping artifak lain, Pulau Buru. Di daerah terpencil di kawasan selatan kabupaten Kendal Jawa Tengah ini, pasca geger G30S, menjadi pusat penampungan tahanan politik perempuan. Mereka ditempatkan di bangunan bekas rumah sakit khusus lepra, leproseri, yang telah dibangun oleh pemerintah Hindia Belanda mulai tahun 1870. Tahun 1967, seluruh aktivitas rumah sakit itu berhenti setelah hampir dipakai selama seratus tahun, dan kemudian – setelah direnovasi seperlunya – tahun 1969 dialihfungsikan untuk mengisolasi tapol perempuan. Dari rumah sakit lepra bergeser menjadi "penjara lepra politik".

Praktik Fasisme Negara
Kawasan itu memang sangat terpencil. Secara topografis berada di daerah cekungan di gigir bawah Gunung Prau yang diapit Gunung Butak dan Kemulan di deretan Dataran Tinggi Dieng (Dieng Plateau). Sampai sekarang pun, setelah secara administratif menjadi salah satu di antara 19 (sembilan belas) kecamatan di kabupaten Kendal, Plantungan masih tetap menjadi daerah yang belum banyak "berkembang". Setidaknya ini kalau mendasarkan diri pada angka populasi penduduknya yang hingga tahun 2004 berjumlah 30.748 penduduk atau berada di urutan nomer 18 dari 19 kecamatan, sedikit lebih banyak ketimbang kecamatan Limbangan yang berada di posisi buncit. Dengan jumlah penduduk Kendal yang sebanyak 899.211, maka angka populasi di Plantungan pun masih di bawah rata-rata densitas atau kepadatan penduduk sekabupaten yang mencapai 47.327 penduduk.

Deretan data singkat ini saja sudah bisa dijadikan "alat bantu" untuk membayangkan betapa senyap dan terkucilnya lokasi "penjara lepra politik" tiga dasawarsa lalu. Betapa leluasanya aparatus negara melakukan praktik-praktik fasisme yang tak berperadaban – seperti pemerkosaan, penghukuman fisik tanpa musabab yang jelas dan masuk akal – dilakukan di sana tanpa mampu dicegah, tanpa ada tapol yang sanggup melawan kecuali bersiaga kehilangan sisi hakiki kemanusiawiannya, ya harga diri juga nyawa.

Salah satu mantan penghuni Plantungan, (almarhumah) dokter Hajah Sumiyarsi Siwirini, mengisahkan seorang pegawai bidang keagamaan di Plantungan yang barusan kehilangan istri karena meninggal. Oleh sang komandan, yang disebutnya sebagai "Raja Plantungan", didekatkan dengan seorang gadis tapol yang berparas menarik. Beberapa bulan kemudian, sang gadis hamil (tanpa dinikahi tentunya), dan dengan serta-merta pegawai itu dipecat tanpa syarat. Dalam tahun-tahun berikutnya, gadis itu kembali hamil, juga tanpa suami yang sah. Kali ini hasil perbuatan sang Raja Plantungan yang telah beristri. (Plantungan: Pembuangan Tapol Perempuan, akan diterbitkan).

Pun setali tiga uang dengan pengalaman Sumarmiyati yang dijebloskan ke beberapa rumah tahanan hingga ke Plantungan karena aktivitasnya di IPPI (Ikatan Pemuda Pelajar Indonesia) yang dianggap sebagai underbouw PKI. Dalam pengakuannya, ibu yang begitu tegas intonasinya kalau tengah berbicara ini mengisahkan ketragisannya saat mengalami pelecehan luar biasa saat diinterograsi oleh tentara. Sumarmiyati, dalam film dokumenter Kado untuk Ibu yang dibuat oleh Syarikat Yogyakarta, menuturkan bagaimana ia dan tapol perempuan lainnya dipaksa untuk mengakui kesalahan yang tak pernah dilakukannya. Lalu dia ditelanjangi dan dipaksa untuk, maaf, mencium penis para pemeriksanya. Dia bertutur pahit: "Kami disuruh melakukan itu karena menurut mereka kami layak diperlakukan seperti itu".

Belum lagi perlakuan mengenaskan yang menimpa Sumilah, gadis 14 tahun korban salah tangkap – yang tak tahu banyak tentang politik – yang dijebloskan begitu saja tanpa proses peradilan, merenda belasan tahun kegetirannya di penjara Plantungan tanpa kesalahan yang diperbuatnya. Ada 400 hingga 500-an perempuan muda (angka ini menurut catatan dokter Sumiyarsi Siwirini) yang bertahun-tahun meniti hari dengan ketegangan dan teror yang acap mengintai. (Dan ketika puluhan tahun masa mengerikan itu berlalu, para penjahat kemanusiaan yang berseragam itu tak pernah ganti diadili apalagi masuk bui!)

Kalau neraka itu disebut "Pusat Pelatihan" sebagai nama resmi dari penjara Plantungan yang disematkan oleh pemerintah Orde Baru, tentu betul-betul sebuah kamuflase bagi dunia luar untuk menutupi borok lembaga tersebut. Untuk sebuah politik pencitraan yang baik atas tuduhan pelanggaran hak asasi manusia, pola semacam itu telah dengan cermat dilakukan begitu sistematis dan terstruktur dilakukan oleh pemerintahan Soeharto.

Potret Palsu
Kamuflase demi pencitraan yang baik bagi penguasa Orde Baru di Plantungan dan penjara lain, tampaknya terimbas dari pemerintahan baru Amerika Serikat di bawah kepemimpinan presiden Jimmy Carter mulai tahun 1977. Imbas itu begitu terasa karena Soeharto merupakan diktator yang sangat bergantung pada bantuan ekonomi, investasi, bantuan militer, dan persetujuan diplomatik dengan Amerika Serikat. Waktu itu, pemerintahan Carter bersama negar-negara Eropa, menekan Soeharto agar memperbaiki kondisi para tahanan politik dan mulai melepas seabagian dari mereka. Pejabat-pejabat negara asing, termasuk di antaranya dari Palang Merah Internasional, mulai melakukan kunjungan ke penjara-penjara di Indonesia.
"Penjara lepra politik" Plantungan, tak pelak, merupakan satu di antara tempat yang kemudian dengan serta-merta menjadi locus penting untuk dijadikan sebagai etalase "pusat pelatihan", "instalasi rehabilitasi (inrehab)" atau apapun istilah kosmetik oleh Orde Baru bagi tahanan politik perempuan yang harus dipertontonkan dengan citra baik di mata dunia. Politik semantik yang penuh gincu dalam pengistilahan penjara tempat para tapol itu ditempatkan, kemudian diteruskan dengan terus mereproduksi kepalsuan-demi kepalsuan.

Puluhan foto tentang Plantungan yang terpajang dalam pameran bertajuk Habis Gelap tak Kunjung Terang ini merupakan penampang penting dari keadaan yang ada di rumah tahanan tapol perempuan itu. Foto-foto tersebut menampilkan realitas gambar yang sangat menarik untuk dicermati lebih lanjut dalam ruang-ruang kajian yang beragam dan mendalam.
Foto atau citra visual yang tersaji sebagian besar memiliki karakter yang nyaris serupa, yakni menampilkan segi formalitas dari beragam kegiatan. Juga aktivitas seremonial menjadi nilai penting dalam pengambilan cecitraan visual itu. Dari aspek ini tampak jelas target dari pemotretan yang dilakukan oleh negara lewat aparatusnya yang beroperasi di Plantungan.

Mereka, para tapol perempuan itu, dengan sengaja dikonstruksi sebagai instrumen atau obyek (bukan subyek) dalam realitas media yang dikemas untuk kepentingan disain besar negara. Mereka jadi salah satu "tulang punggung" atas citra rezim di hadapan Amerika Serikat sang sinterklas ekonomi yang juga culas di belakangnya. Maka, kalau dicermati, bisa jadi ada keberjarakan yang cukup kentara antara realitas media (lewat foto-foto itu) yang berbeda dengan realitas sosial yang sesungguhnya terjadi dalam keseharian mereka. Tak heran, yang banyak muncul adalah foto "mejeng" bersama yang frontal, banyak "diatur-atur", dan sekali lagi, penuh formalitas.

Oleh karenanya, tentu sangat berisiko kalau menampilkan realitas sosial yang biasa terjadi dalam keseharian mereka, yang belakangan ini hanya tersuarakan dalam kisah-kisah mengenaskan yang digaungkan oleh LSM. Potret tentang situasi saat tidur para tapol yang digambarkan oleh dokter Sumiyarsi seperti deretan ikan pindang, tentu tak akan mungkin didapatkan dalam dokumentasi negara karena hal itu bukan target goal yang diraih negara.

Ditilik Sebelum Keluar
Belum lagi di sana ada sistem superkontrol atas foto-foto itu yang dilakukan oleh negara lewat penguasa Plantungan. Ini adalah kenyataan yang tercecer dalam pengamatan, yang menarik untuk disimak. Foto-foto yang dibuat, seperti yang akhirnya bisa terpamerkan kali ini, adalah koleksi dari para tapol perempuan yang membeli atau meminta kepada petugas Plantungan untuk dikirim ke keluarganya. Menariknya, tidak semua foto bisa dikirim keluar penjara tanpa pemeriksaan petugas. Hanya foto yang mencitrakan masa-masa "keindahan", "manis" dan tak berbahaya bagi citra Plantungan – atau negara – saja yang diperbolehkan untuk diminta atau dibeli dan kemudian dikoleksi dan dikirim ke keluarga.

Lagi-lagi ada segi formalitas mengemuka pada proses ini. Setiap foto yang disepakati oleh penguasa Plantungan untuk dikirim atau dikoleksi oleh tapol, harus diberi stempel terlebih dahulu dengan teks kapital: DITILIK. Teks ini seperti "mantra" untuk menebarkan sekaligus memamerkan klaim kekuasaan yang dimiliki negara (lewat penguasa Plantungan). Karena tanpa "mantra" itu, seorang tapol tak berhak untuk membawa potongan masa lalunya lewat realitas foto yang sebelumnya telah dikonstruk oleh negara.

Dalam gradasi tertentu, barangkali teks "DITILIK" pada foto-foto ini merupakan artifak dari sistem panoptikon seperti yang diteorikan oleh Michel Foucault dimana praktik kuasa berfungsi secara otomatis: individu-individu penghuni ruang-ruang di Plantungan, lama-kelamaan, senantiasa merasa (perlu) dipantau, (perlu) ditilik, (perlu) diawasi, tanpa pernah tahu siapa yang meniliknya. Mereka sadar bahwa dirinya diawasi, tidak lagi selalu harus secara fisik, melainkan hanya dengan mewajibkan diri meminta cap stempel DITILIK untuk selembar realitas foto yang (mungkin) semu.

Akhirnya, rentetan foto-foto ini memang penting nilainya untuk dipresentasikan kembali di tengah-tengah publik demi kepentingan sejarah sosial-politik bangsa ini. Lapisan-lapisan generasi baru yang akan melapis generasi sebelumnya tak ada salahnya dikayakan dengan gambaran buram sejarah bangsanya. Sejarah toh tidak selalu ditampilkan dengan gincu yang merona...

Kuss Indarto, kurator seni rupa.

Memeriksa Ulang Tanda-Kuasa

Oleh Kuss Indarto

(Tulisan ini dimuat di harian Suara Merdeka Semarang, Minggu 14 Mei 2006)

Sejatinya, dalam pembacaan saya, perhelatan ini merupakan salah satu upaya untuk memeriksa kembali relasi praktik kuasa yang dilakukan oleh negara terhadap masyarakatnya. Orde dan order. Tatanan dan pesanan atau perintah. Dua terminologi yang saling bertaut melekat, yang senantiasa beroperasi ulang-alik antarkeduanya. Puluhan bahkan ratusan obyek atau artifak renik yang dijumput dari masa lalu itu dikumpulkan kembali. Dielus kembali. Dilap dan dibersihkan dari puing-puing pola makna masa lalu yang dibangun oleh negara Orde Baru, untuk kemudian direkonstruksi dengan modus, sistem, dan cara pandang pemaknaan yang berbeda – untuk tak mengatakan baru.

Dengan demikian, pameran dengan tajuk Orde & Order yang berlangsung 5 Mei hingga 3 Juni mendatang di Kedai Kebun, Jalan Tirtodipuran 3 Yogyakarta ini, saya kira, juga mengagendakan kembali proses mengingat untuk merancang – atau setidaknya meraba-raba – masa depan. Bukan sok heroik tentu saja, karena dengan cara sikap suprahistoris (ubergeschichtlicht) seperti yang diperkenalkan oleh kerangka berpikir Nietzsche ini ada penggalian atas makna-makna yang melampaui perubahan sejarah. Pencecapan terhadap makna-makna yang melampaui sejarah itulah yang kemudian memunculkan mental Dionysian, yakni mental yang berani berkata "ya" terhadap kehidupan. Keberanian mengatakan "ya" terhadap kehidupan berarti memiliki nyali untuk menggugat diri. Menggugat diri merupakan awal untuk membangun order yang bukan sepenuhnya dikendalikan oleh negara sebagai pengklaim tata aturan yang tunggal.

Kekuatan Tersembunyi
Dalam implementasinya, pameran ini bukanlah pameran konvensional yang dengan serta-merta menampilkan seniman atau perupa dengan senjata lukisan atau obyek seni pada umumnya setelah membaca tema kuratorial. Seniman yang terlibat di dalamnya adalah para "pembaca (teks) sejarah relasi kuasa negara atas rakyatnya". Ada arsitek, peneliti, dan seniman-kurator, yang membongkar-bongkar kembali koper sejarah berisi lembar-lembar artifak dengan sistem makna ala Orde Baru yang telah lapuk. Sebelumnya, tim kurator di sini – Pius Sigit dan Nuraini Juliastuti – memberi guide-line berupa fakta-fakta produk kebudayaan (visual) yang diorder oleh negara kepada publik atau para pekerja seni visual dalam relasi yang tidak setara. Artinya posisi negara begitu dominatif atas rakyat yang terdomestifikasi (terjinakkan). Inilah yang kemudian dibaca lebih lanjut oleh para pembaca teks sebagai seniman.

Misalnya Mahatmanto, seorang arsitek yang dosen sebuah kampus swasta di Yogyakarta. Dia menggali kembali para hero yang namanya banyak berjejalan di jalan-jalan seantero negeri. Materi teks visual yang dijajarkan sebagai subyek pengingat dalam konteks ini adalah poster-poster pameran, foto-foto jalan penting di beberapa kota. Ada poster pameran fotografi, pameran sketsa arsitektur dan semacamnya. Juga dokumentasi perubahan nama-nama jalan di Surabaya dan Malang mulai dari jaman penjajahan Belanda hingga era Orde Baru (kini).
Mahatmanto membaca bahwa pemberian nama jalan di suatu kota, antara lain merupakan bagian penting dari spatialisasi kekuasaan yang tengah beroperasi dalam komunitas penghuninya. Sehingga beragam perubahan yang terjadi di ruang publik perkotaan dapat dimaknai sebagai perubahan pada distribusi kekuasaan dalam komunitas tersebut. Sementara itu, gelagatnya, wajah kota kita dewasa ini lebih ditentukan oleh kekuatan tersembunyi yang tidak secara formal menduduki pemerintahan setempat – tetapi tetap bersekongkol dengan negara.

Sehingga, berikutnya, produksi seni visual di ruang publik juga tidak lebih dari tempelan-tempelan yang akan mengikut saja ke mana kekuatan tersembunyi tersebut menghendaki tampil. Dengan pola pengelolaan tata ruang kota yang tidak transparan, tidak memberi ruang partisipasi pada penduduk kota, sehingga pemberian nama pada fasilitas publik hanyalah label yang direkatkan untuk sementara dan siap untuk diganti dengan yang lain. Sementara wajah visual kota tetap di luar kendalinya. Fakta tersebut nyaris seragam terjadi di kota-kota di Indonesia.

Sedang keseragaman yang bersifat ideologis, lebih lanjut dipersoalkan kembali oleh Primanto Nugroho, seorang peneliti sosial. Dia mencomot artifak pengingat seperti seragam sekolah, juga seragam batik Korpri warna biru tua yang logonya dulu dikreasi oleh seniman senior Yogyakarta, Aming Prayitno. Terpampang juga poster Bung Karno, poster pameran tunggal Yuswantoro Adi "Bermain dan Belajar" yang berseragam pelajar SD.

Bagi Primanto, pola penyeragaman yang terjadi dalam berbagai ranah tersebut tidak lagi bisa dibaca sebagai bagian dari militerisasi masyarakat dengan Angkatan Darat selaku motornya. Dengan militerisasi maka yang ditunjuk ialah proses diletakkannya militer sebagai acuan dalam berbagai segi kemasyarakatan yang bukan militer. Asumsi ini bisa dipalingkan oleh kenyataan sejarah bahwa pada masa penjajahan Belanda atau Jepang dulu pun, ternyata pola penyeragaman telah terjadi. Modusnya yang menguat (antara lain) adalah bayangan tentang "kemajuan" yang menjadikan pakaian seragam (entah sekolah, entah kantoran) sebagai alat ukur utama. Ini terjadi, menurut Primanto, sejak awal Abad 20.

Penggalian Episteme Masa Lalu
Karya-karya lain yang berserak dalam ruang pajang dibaca oleh Ronald Apriyan. Dia menguak kembali ritus 17 Agustusan, hari kemerdekaan Indonesia itu, sebagai kenduri nasional yang berlangsung sebagai perhelatan tahunan untuk membangun dan meneguhkan sakralitas negara. Juga Bambang "Toko" Witjaksono yang mencoba menakar relasi antara produk visual yang diprakarsai (dan memang menjadi kewenangan) negara – seperti perangko dan uang – sebagai narasi mungil terhadap situasi sosial kemasyarakatan nasional sebagai narasi besar di seberangnya.

Secara umum, pameran ini cukup menarik sebagai alternatif untuk mempersuasi publik dalam menafsirkan, membayangkan, menciptakan, mengontrol, mengatur dan memperlakukan pengetahuan tentang praktik kuasa negara di masa lalu untuk bersikap di masa sekarang dan ke depan. Lebih lanjut – meminjam kalimat Budiawan dalam buku Mematahkan Pewarisan Ingatan (2004: 26) – penelusuran historis dapat dikatakan sebagai penggalian episteme (pengetahuan) tentang masa lalu, untuk membedakan bagaimana kejadian masa lalu itu dijelaskan kepada orang-orang kepada diri mereka sendiri melalui struktur narasi yang dominan dan terpinggirkan.

Hanya sayang, pergerakan dari tingkat konseptual menuju operasional, karya-karya yang tersaji masih lumayan jauh dari sempurna. Misalnya ada patung Abdi Setyawan yang tiba-tiba seperti "nyelonong" karena sama sekali tak tematik, sehingga kehadirannya di ruang itu menjadi sangat ahistoris. Dan hal yang juga menguat kelemahannya adalah proses rekoleksi artifak-artifak sebagai materi pameran yang masih terbatas dan tak semua representatif. Dengan menghadirkan para seniman "pembaca teks sejarah" yang disertakan dalam proyek ini sebenarnya memungkinkan mereka untuk memungut teks-teks visual yang jauh lebih banyak di luar koleksi yayasan Seni Cemeti.

Apa boleh buat, "sejarah" pembacaan atas sejarah masa lalu telah terjadi. Toh "sejarah" berikutnya bisa kembali didesain dengan perspektif yang lebih fokus.

Kuss Indarto, kurator seni rupa, tinggal di Yogyakarta.