Thursday, December 14, 2006

East Art Map


Menurut majalah Artforum, East Art Map ini adalah salah satu buku (seni) terbaik tahun ini, di samping judul2 lain seperti Eat the Document, sebuah novel karya Dana Spiotta dan We karya Yevgeny Zamyatin.

East Art Map ditulis secara kolaboratif oleh lima seniman yang melakukan survei atas geliat produksi seni di bawah kekuasaan pemerintahan Komunis dari tahun 1945 hingga tahun2 terakhir ini, terutama di Slovenia.

Sepertinya menarik banget. Sayang sementara ini hanya bisa baca sinopsisnya aja. Entah bisa atau enggak baca seluruhnya. Ah, seandainya... Grrrrfff!!

Museum Situs Ingatan

(Tulisan ini dimuat dalam katalog pameran Homage 2 Homesite. Pameran ini berlangsung di eks kampus Fakultas Seni Rupa ISI Yogyakarta, di Gampingan, Wirobrajan, Yogyakarta)

Oleh Kuss Indarto

Sesungguhnya, tulisan yang hendak ngalor-ngidul ini tak berhasrat banyak untuk mendedahkan problem substansial atas teks visual (yang bertebaran di ruang pamer) seperti yang ditengarai oleh tajuk pameran ini. Dan sejatinya, memang, label Homage 2 Homesite (Kembali ke Gampingan) “sekadar” judul penanda pameran, bukan tajuk kuratorial yang galibnya dengan kuat mengimbas pada implimentasi atas rentetan karya-karya seni rupa di dalamnya. Ya, terus terang, ini memang merupakan pameran “dalam rangka”, bukan pameran “dengan kerangka” tematik yang ketat dan rigid.

Tak berbeda jauh ketimbang perhelatan sebelumnya, yakni Melukis Lagi di Gampingan yang berlangsung Minggu, 19 November 2006 lalu, pameran ini memberangkatkan diri dari upaya “romantik” untuk merawat ingatan. Ingatan, seperti yang digagas oleh pemikir Perancis Paul Ricoeur (1999), memiliki dua jenis hubungan dengan masa lalu. Pertama, merupakan relasi pengetahuan, sementara yang kedua adalah relasi tindakan. Kedua relasi ini muncul karena mengingat merupakan jalan untuk melakukan segala hal, bukan hanya dengan kata-kata, tetapi juga dengan pikiran kita. Dalam mengingat atau mengenang kita menggunakan ingatan, yang merupakan sejenis tindakan. Justru karena ingatan merupakan sebuah exercise, maka kita dapat berbicara tentang penggunaan ingatan, meski pada gilirannya bahkan memungkinkan kita berbicara tentang penyalahgunaan ingatan.

Dengan menjadikan ihwal ingatan sebagai kemungkinan konstruk pengetahuan, maka dua perhelatan, yakni Melukis Lagi di Gampingan dan pameran Homage 2 Homesite ini digelar secara berurutan. Dia, perhelatan tersebut, dihasratkan memunculkan banyak kemungkinan. Mungkin bisa sebagai “perayaan atas ingatan”. Pun barangkali menjadi semacam “pintu masuk” untuk memberi pemahaman-pemahaman baru atas “teks” ingatan yang telah melayap digerus waktu. Atau juga sekaligus dimungkinkan menjadi medan pemberi bingkai dan perspektif baru atas “teks” ingatan.

Situs Gampingan

Kemungkinan-kemungkinan tersebut cukup penting untuk dikedepankan sebagai respons atas wacana yang tengah mengembang. Yakni rencana akan dijadikannya bekas kampus seni rupa ASRI/STSRI “Asri”/Fakultas Seni Rupa dan Disain Institut Seni Indonesia (FSRD ISI) Yogyakarta di Gampingan, Wirobrajan, sebagai museum seni rupa. Bahkan rencananya berlevel nasional. “Situs ingatan” ini mengemas banyak hal yang layak diaduk dan dibongkar kembali untuk mengais nilai-nilai yang selama ini diabaikan. Misalnya, seperti yang pernah diungkapkan oleh budayawan Emha Ainun Nadjib (1991), bahwa di situs itu, pada kurun 1970-an, sangat kental akan situasi psikologis dan kultural yang sangat merangsang kreativitas dalam berkarya seni. Juga memiliki ketersentuhan integral dan inklusif yang menyeluruh dari realitas sosial. Ada iklim komunalitas yang kuat antarseniman sendiri dan antara seniman-masyarakat yang digambarkan begitu kental dan karib oleh Cak Nun.

Tentu kita tak akan menggiring diri menyelami alur kurun waktu lampau yang romantik itu untuk mengabaikan nilai kekinian yang pasti telah menggeser banyak sistem nilai sosial sebelumnya. Melainkan memberi bingkai pada ingatan atas situs Gampingan untuk menjadikannya sebagai sumber atau “ruh” pada bangunan sosial atas museum yang kelak akan dibangun. Artinya, bangunan fisik bisa semegah apapun atau bisa sementereng apapun seperti yang mungkin tengah digagas oleh pendirinya. Namun, nilai-nilai sosial yang menjadi pijakan di atasnya, pada hemat saya, bisa tetap mengawetkan atau mengadopsi sistem dan nilai sosial yang dulu atau selama ini telah terbangun di lingkungan tersebut. Sekali lagi, inklusivitas dan komunalitas yang kental, seperti diisyaratkan oleh Cak Nun adalah titik pentingnya. Situs Gampingan bisa tetap menjadi “rumah” untuk tempat kembali, situs untuk mendaratkan lagi ruh kreativitas.

Cermin Pembanding

Selepas itu, tampaknya kita harus berpikir cepat atas ketertinggalan kita yang telah masuk pada “stadium akut” dalam soal permuseuman. Misalnya dibandingkan dengan Amerika Serikat yang hingga tahun 1984 pun (22 tahun lalu, kawan!) telah mempunyai sekitar 5.000 museum (Hilde Hein, 1992) dengan beragam jenis museum dan varian sistem kepemilikan atau kepengelolaannya. Jumlah itu, tentu kini kian bertambah banyak sesuai perkembangan waktu dan kebutuhan akan museum yang kian menguat. (Dengan segala maaf, kita harus memberi diri contoh pembanding yang lebih maju agar perspektif pandang menjadi jauh lebih progresif). Keragaman museum tersebut berdasar tipe utamanya terdiri dari (1) museum seni rupa (art museums), (2) museum ilmu pengetahuan (science museums) seperti museum biologi, museum industri dan teknologi, museum botani dan sebagainya), lalu (3) museum antropologi (anthropology museums), (4) museum sejarah (history museums), dan (5) museum dengan ketertarikan khusus (miscellaneous special interest museum).

Atau ada realitas lain yang bisa diketengahkan di sini. Andai kita mau menengok kepada wajah raksasa ekonomi di Asia, Cina, yang juga kian menggeliat di sektor kebudayaannya, tentu akan cukup menggetarkan nyali. Kini, di sana ada realitas yang sedang dikonstruksi secara sistematis dan serius oleh pemerintah dan elemen masyarakat seni-budaya Cina, yakni proyek filantropi budaya dan repatriasi budaya (ARTnewsletter Highlights, edisi 3 Januari 2006). Proyek pertama, filantropi budaya, dihasratkan oleh pemerintah dan publik budaya Cina untuk “menghamburkan” (= mengalokasikan) dana (negara, perusahaan dan pribadi) demi kepentingan kebudayaan sebagai rencana strategis untuk menjadikan Cina sebagai kekuatan kebudayaan penting di dunia. Proyek ini, dari pertama dan utama, tidak ditendensikan untuk mengeruk keuntungan komersial. Salah satu proyek yang sedang direalisasikan adalah rencana pembangunan sekitar 1.000 (seribu) museum seni di seluruh daratan Cina hingga tahun 2015 atau dalam 9 tahun mendatang! Ini untuk melengkapi keberadaan 2.000 (dua ribu) museum yang telah ada hingga tahun 2002. Menariknya, proyek-proyek ini justru dipelopori oleh lembaga bisnis milik militer yakni Chine Poly Group Corporation yang dipimpin langsung oleh Mayor Jendral He Ping. Lembaga ini mulai bergerak di ranah seni budaya tahun 1998 lalu.

Proyek ambisius itu kiranya bukanlah isapan jempol belaka kalau menyimak laju perkembangan pasar seni rupa di sana yang sedikit banyak memiliki imbas positif pada pentingnya kehadiran banyak museum. Misalnya angka hasil pelelangan barang dan karya seni di semua balai lelang yang beroperasi di Cina yang menyentuh angka 579,9 juta dolar AS pada tahun 2003 dan melonjak hingga menjadi 1 milyar dolar AS (sekitar 9 triliun rupiah) sepanjang tahun 2004. Ini tidak termasuk angka transaksi finansial yang terjadi di galeri-galeri atau studio-studio seniman. Belum lagi ada perhelatan Shanghai Art Fair yang selalu dibanjiri pengunjung dari seluruh dunia.

Mau Ngapain Kita?

Ketimbang dua raksasa di atas, kita tentu jauh tertinggal. Bahkan untuk sekadar mendapatkan informasi dan data jumlah museum di tanah sendiri pun, alamak, merupakan perjuangan yang teramat berat. Sulit! Apalagi andai menyandingkan antara fakta-fakta yang terjadi di sini dan kemajuan mereka (negara lain, apalagi dengan Amerika Serikat dan Cina) yang tentu penuh ketimpangan dan cenderung kurang proporsional. Namun setidaknya dua contoh di atas betul-betul menjadi ilustrasi efektif yang akan mampu memberi nilai lebih dalam proses pembelajaran sekaligus shock therapy untuk lebih serius mewujudkan lebih banyak museum di Indonesia. Khususnya museum seni rupa di tanah Yogyakarta.

Nilai penting kehadiran museum ini kelak tentunya akan memberi ruang akomodasi atas (potongan) artefak seni rupa yang telah dihasilkan oleh seniman Yogyakarta atau Indonesia. Terjalin pula di dalamnya, karya tersebut dimungkinkan mampu menjadi alat baca untuk menelusuri fakta sosial-kultural yang lahir dari medan seni rupa. Atau dengan kata lain, fakta dalam seni rupa menjadi cermin dari realitas sosial-budaya. Di sinilah dimensi pembelajaran dan apresiasi akan beragam nilai-nilai mengemuka. Belum lagi aspek-aspek lain yang segera merimbun sebagai imbas positif dari munculnya museum. Anda, sidang pembaca, tentu tahu betul beragam imbas tersebut yang bisa anda sebut dan urai satu persatu. Dan itu akan kian variatif sesuai perkembangan waktu. Singkatnya, sudah saatnya kita bersama-sama membaca ulang dan membongkar kembali cara pandang serta cara bersikap yang kuno dan stereotipe ihwal museum yang selama ini, di republik tercinta ini, dipahami sebagai “kuburan” tempat mengonggokkan masa lalu saja, dan bukan sebagai “supermarket ingatan” tempat orang berbelanja dokumentasi.

Lalu, kalau ada kenyataan bahwa kita belum juga memiliki sebuah museum seni rupa yang representatif untuk ukuran kota Yogyakarta (yang telah terlanjur mengutuk diri sebagai “kota budaya”) ini, pada titik mana kita akan memulai? Pada kisi-kisi mana kita bisa ramai-ramai memberi kontribusi?

Pada momen ini, lewat cara dan medium apapun, kita bisa memulai untuk memberi kontribusi. Siapapun Anda! Mari bergegaslah bersama!

Tuesday, December 12, 2006

DPR yang D-Rp



"Di Sini Mandi Uang". Kukira ini merupakan salah atu karya performance art yang jenial di Yogyakarta dalam tiga tahun terakhir ini. 15 orang kampung Gamping itu didaulat oleh teman2 Kelompok Seringgit untuk memajang kalimat cerdas dan kontekstual ketika mereka hadir persis di depan gedung DPRD Yogyakarta, kira-kira Agustus 2004 lalu.

Ini menjadi bagian dari kreasi ratusan seniman Yogyakarta yang waktu itu diprakarsai oleh Kerupuk (Komunitas Ruang Publik Kota) Yogyakarta yang menggalang proyek seni "Di Sini Akan Dibangun Mall". Ya, itulah bentuk respons seniman dan aktivis perkotaan atas rencana pembangunan belasan mall di sekujur kota Yogyakarta. Dan beginilah salah satu "sikap politik" Kelompok Seringgit atas wacana mall-isasi Yogya. Dapat dipahami bahwa menurut para seniman ini, kunci persoalan kasus mall-isasi teramat berkait pada attitude politik para anggota DPRD yang sangat permisif bin akomodatif bukan karena nilai fungsional bangunan kotak sabun raksasa tersebut, tapi lebih pada kalkulasi ekonomis yang akan mereka terima kalau melicinkan perizinan pendirian mall-mall di Yogya.

Ya, dangkal memang kepentingan mereka. Aku juga Kerupuk tentu bukannya anti-mall, karena itu adalah keniscayaan zaman yang tak mungkin ditolak. Namun penolakanku lebih pada politik perizinan yang amat mudah untuk membangun mall telah menjadikan mall sebagai simpul kemacetan baru yang amat mengganggu. Coba cek, nyaris semua mall di Yogya dibangun persis di pusat kota atau jalan protokol yang telah jenuh oleh pertokoan. Idealnya, dia hadir di pingir kota dengan lahan parkir yang luas, jauh dari permukiman penduduk dan cukup jauh dari pasar tradisional.

Yah, lagi2 kita mesti mengelus dada karena anggota DPR kita, termasuk di Yogyakarta berisikan orang2 miskin wawasan dan melarat kepeduliannya pada masa depan publiknya sendiri. Bagaimana dampak sosial mall pada gaya konsumtivisme, sepertinya mereka cuek.

Jadi benarlah foto di atas. DPR(D) cuma bisa mandi uang, tak peduli dengan kemacetan yang ditimbulkan oleh keputusan ngawur mereka. Mungkin gedung itu bisa diplesetkan menjadi DRp. Duit lagi, duit lagi yang jadi paradigma mereka!

Monday, December 04, 2006

Akhir November lalu, Sabtu tanggal 25 persisnya, saat didaulat untuk ngobrol di hadapan puluhan seniman Purwokerto, aku seperti disadarkan oleh realitas jagat seni rupa di sekitarku yang masih sangat-sangat beragam gradasi pemahamannya atas dunia seni rupa itu sendiri. Di Purwokerto, seperti halnya yang dialami oleh seniman di kota lain di Jawa, apalagi di luar Jawa, masih banyak berkutat pada problem elementer yang cukup berjarak dengan perkembangan di Yogya.

Dialog yang dilakukan beberapa jam setelah pembukaan pameran seniman Trio Faham (mas Fathur, pak Hadi Wijaya, dan mas Medi) ini berlangsung begitru menggairahkan hingga berlangsung hampir 4 jam sampai jam 23.30-an. Aku cukup capek juga sih, tapi senang. Banyak hal bisa kulontarkan untuk memberi pengayaan pikiran atas perkembangan seni rupa yang selama ini belum terpikirkan oleh teman2 seniman di Purwokerto. Pun aku mendapatkan banyak fakta menarik tentang geliat perkembangan mereka di tengah apatisme publik dan negara terhadap jagat seni yang mereka lakoni dengan teguh.

Ada pula hal menarik bahwa perhelatan pameran tersebut disponsori oleh seorang pengusaha lokal yang mulai peduli seni, pak Firman yang kira2 usianya sekitar 45 tahun. Masih cukup muda. Dia bilang teman bergaulnya pematung Pintor Sirait saat dia kuliah di Unpad Bandung. Dia mulai mengoleksi karya seni dan menularkannya pada beberapa rekanan bisnisnya yang lain. Kecenderungan ini, menjadi maecenas dan kolektor, aku kira sebuah persoalan yang acap dilupakan oleh publik seni rupa, bahkan di Yogyakarta atau kota besar lainnya. Seniman Yogyakarta kadang, menurut pengamatanku, menganggap hal itu seperti sesuatu yang given, yang begitu saja terberi, tanpa berupaya menciptakan situasi yang memungkinkan karyanya direspon dan diserap dengan baik oleh publik. Kukira, adanya sosok pak Firman memberi celah bagus bagi seniman Purwokerto untuk melacak garis relasi dunia seni dengan jagat apresiasi publik yang mungkin selama ini banyak terpotong.

Yah aku punya PR bagus untuk menuliskan lebih fokus sedikit tentang hal ini ke publik yang lebih luas. Ah, moga2 deh ntar ada waktu untuk nulis di koran lokal. Semoga bisa.

Buntut, Stok Jadul

Di bawah ini kembali tulisan stok lamaku yang jadul banget. Saat itu masih 22 tahun, masih kuliah dan mulai latihan nyari2 duit sendiri buat nutup biaya kuliah hehehe. Kukorek lagi tulisan ini untuk pengingat bagiku sendiri bahwa, "Heyy, 14 tahun lalu kamu sudah bisa nulis! Yang maju donk, jangan jalan di empat!" Yah, kayaknya aku masih jalan di tempat tuh... Huhuhu!

Buntut

Oleh Kuss Indarto

Tahukah Saudara arti judul di atas? Rasanya memori-otak kita tak perlu banyak memboroskan waktu untuk berlama-lama menjawab bahwa buntut adalah dua atau tiga nomor dari 7 nomor yang muncul tiap Rabu malam sebagai ‘program nasional’ mingguan pemerintah untuk mengumpulkan duwit (dana olahraga) dari sebagian di antara kita yang suka bergelar sebagai kaum ‘dermawan-sosial’ dan senang menggantang asap, membeli selembar kertas berisi (= berhadiah) satu milyar imajinasi.

Tapi tak perlulah kita berpanjang-kata tentang buntut yang satu ini. Cukup Ibu Haryati Soebadio (Menteri Sosial kita) sajalah yang mempunyai kompetensi tentang program (semilyar mimpi?) ini. Sebaiknya kita giring saja perkara buntut ini ke dalam jaring gawang kita, seni. Memang tak ada perbedaan yang prinsipil tentang buntut dalam seni, namun ada sedikit pergeseran konotasi karena perbedaan situasi.

Sebelum membeberkan buntut dalam seni, sebaiknya kita tampilkan contoh-contoh kasuistik yang dapat mewakili pokok permasalahan.

Pengamat sastra, Subagio Sastrowardoyo pernah membuat berang WS Rendra karena penelitiannya. Menurutnya, puisi-puisi si Burung Merak (yang kini suka ‘hinggap’ di konser musik) itu – sebut saja puisi ‘Ballada Orang-orang Tercinta’ sebagai misal – mempunyai gejala-gejala pemiripan dan pembuntutan terhadap puisi-puisi karya penyair kondang dari Spanyol, Lorca. Dan ia tak sendirian. Pembuntutan atau yang lalu berpakaian keren menjadi epigonisme inipun ternyata juga dialami pada diri dan karya-karya Rivai Apin dan Asul Sani yang dianggap sebagai epigon dari si liar Chairil Anwar. Almarhum polisi-penyair Ibrahim Sattah pun konon adalah epigon dari si penyair mantra-kontemporer Soetardji Calzoum Bachri. Atau ada contoh yang mendunia dan ‘ngeri’ kedengarannya; bahwa lakon Caligula-nya almarhum Albert Camus (sastrawan yang pernah mendapat hadiah Nobel dalam bidang sastra) ternyata adalah hasil-timba sebuah cerita Romawi Kuno. Atau dalam blantika musik popular, tak maukah saudara mengiyakan bahwa Abadi Soesman dengan Bharata-nya adalah satu di antara ratusan grup band pengekor (bahkan peng-kultus) mitos Beatles?

Mari mencoba mengerling dunia seni rupa kita.

Kartika Koberl dulu (dan barangkali sampai detik ini) terpaksa harus tersenyum kecut karena lukisan-lukisan yang tergores dari jemari tangannya, yang terujud dari ekspresi-jiwanya, dianggap sebagai pembuntutan dari dari gaya dan corak lukisan sang bapak, Affandi. Juga Maria Tjui tentu saja, harus rela risih diteror sebagai epigon sang Maestro. Atau ‘pelukis konglomerat’ Jeihan Sukmantoro pun lama-lama harus ‘cuek’ dituduh sebagai pembuntut gaya ‘mata bolong-hitam’ dari si Italia, Modegliani. Atau barangkali puluhan generasi surrealis kita yang hendak berkibar harus siap dikobar ‘api panas’ yang menuding-nuding: kamu epigon anu, anu buntut dia, kau pengekor anu…

Lantas dosa dan perlu disesalikah pembuntutan dan epigonisme dalam seni itu? Apakah sosok-sosok epigon adalah narapidana-narapidana estetika?

Tatkala seorang pelukis berkarya, tak selamanya dia memulai dengan bekal kehampaan batin, pandangan, pikiran, khayalan dan imajinasi. Bahkan kekosongan dalam hal yang satu ini adalah kemustahilan. “Keisian” itu justru sudah menjadi tuntutan yang sudah harus ada sebelum seniman memulai mengembarakan dan menggembalakan ekspresinya. Seorang pelukis tak jarang melihat karya-karya lukis dari seniman yang sadar atau tak sadar, cepat atau lambat akan memberi pengaruh. Bahkan tak sekadar itu, jiplak-menjiplak pun pada akhirnya tak terhindarkan. Jangan berkecil hati, sang Ekspresionisme besar Vincent van Gogh sekalipun pernah secara terang-terangan memindahkan karya grafis Jepang dalam lukisannya. (Lihat lukisan-lukisannya yang provinsial Jepang).

Namun ada satu titik yang perlu ditorehi garis tebal pada perkara ini. Bahwa keterpengaruhan (bahasa rusak tapi justru dipopulerkan oleh para bapak pemimpin republik ini), pembuntutan atau epigonisme bahkan penjiplakan atau plagiasi yang dialami atau dilakukan oleh seorang seniman (dalam hal ini pelukis) adalah lumrah, sah dan halal saja adanya, apabila dilakukan dengan amat sadar bahwa tahap itu hanyalah salah satu terminal dalam perjalanan/proses kreatif kesenimanan yang terus bergerak. Artinya menjadi epigon bahkan plagiator mestinya bukan jejak penghabisan tanpa kelanjutan, atau menjadi titik-mati tujuan. Epigonisme, plagiatisme bolehlah – sekali lagi – menjadi salah satu terminal yang memberi ruang gerak bagi kita untuk bertolak membangun jati diri. Terminal tempat menghimpun atau menghirup hawa sebelum membentuk nafas estetika pribadi yang ‘patent’.

Yang paling penting adalah hadirnya “otentisitas-jiwa” yang sedikit demi sedikit dan terus-menerus dinyalakan, digemakan dan dialirkan ketika terminal ‘epigonisme-plagiatisme’ tengah kita jalani.

Intensitas yang ajeg dan terjaga dengan tetap menjunjung tinggi ‘otentisitas-jiwa’ ketika singgah di terminal epigonisme ini, bukan sebuah kemuskilan/kemustahilan bila kelak akan menghasilkan sesosok ‘potret diri’ yang sangat pribadi. Sebuah jati diri yang sangat hakiki dan mandiri. Jadi, epigonisme takkan selalu menjadi dosa yang pantas untuk disesali.

Banyak tauladan yang dapat dijadikan cermin bagi kita, tentang Kartika Koberl misalnya.
Tataplah lukisan-lukisan Kartika dan Affandi kini. Akan ditemukan di sana, kekartikaan Kartika yang tak lagi ‘affandi’. Akan ditemukan di sana, sebuah jati diri yang tak lagi bergantung (dependent) pada sebuah kemandirian. Akan ditemukan di sana, sebungkah ‘nyawa’ yang tak lagi pantas disebut buntut…

(Tulisan ini telah dimuat di majalah Sani edisi No. 1 Tahun I Maret 1991, yang diterbitkan oleh Lembaga Penerbitan Mahasiswa Fakultas Seni Rupa dan Disain ISI Yogyakarta)