Tuesday, September 25, 2007

Minggu Tegang...

(Harusnya ini tertulis pada 28 Agustus lalu, tapi salah kamar ngirimnya...)

Ini pekan yang menegangkan bagiku. Perhelatan pameran Boeng Ajo Boeng: Tafsir Ulang Nilai-nilai Manusia Affandi yang aku kuratori bersama mas Hari Budiono (Bentara Budaya Yogyakarta) dan Sujud Dartanto, masuk dalam tahap akhir persiapan. Displai akan segera dilakukan.

Ini yang merepotkan. Seharusnya, sesuai jadwal, para seniman peserta sudah menyerahkan karya paling akhir pada 20 Agustus kemarin. Nyatanya, setelah lewat seminggu, baru ada sekitar 35 persen karya yang masuk ke panitia. Jelas memusingkan karena kami harus mendisplai di tiga tempat sekaligus, yakni di Bentara Budaya, Museum Affandi, dan Taman Budaya Yogyakarta. Kalau hanya lukisan saja sih sebenarnya tak terlalu masalah, lha ini kan banyak yang rencananya mau bikin karya instalasi. Tentu repot. Karya lukisan pun juga tak mudah mesti ukurannya sudah ketahuan lewat data. Kalau belum tau secara fisik, aku gak bisa gegabah karya si A dipasang bersebelahan dengan karya si B. Pasti karakter karya memberi pengaruh dan menjadi alasan dasar dalam mendisplai. Misalnya karya seniman A bisa jadi tak nyambung bila dijejerkan dengan karya si B. Inilah yang bikin aku pusing . Apalagi waktunya mepet, tenaga hanya 6 orang. wah!

Ternyata budaya last minute masih kuat menghinggapi teman seniman di Indonesia. Inilah yang banyak disinyalir oleh beberapa kalangan atas lemahnya daya saing seniman kita ketimbang seniman negara lain. Misalnya dengan seniman Cina. Menurut beberapa owner galeri di Jakarta, mereka -- para seniman itubegitu disiplin dan tepat waktu sesuai jadwal. Mungkin mekanis. Tapi hal itu, budaya macam itu, sangat membantu sepak terjang mereka dalam membangun reputasi di tingkat lebih global. Kalau mau mendunia, harus siap untuk membenahi kultur buruk seper, ti ketidakdisipinan.

Ah, jadi ngrumpi gak baik ya! Tapi itulah faktanya! Kita masih ketinggalan untuk hal yang sederhana: disiplin!

Yasud... Moga2 sukses deh acara pameran Boeng Ajo Boeng: Tafsir Ulang Nilai-nilai Manusia Affandi..



Saturday, September 15, 2007

Oom Pasikom, Sang Perekam Zaman


Oleh Kuss Indarto

Menyimak karya-karya GM Sudarta serasa menyimak orang Jawa (atau Timur?) menuturkan kritik. Karya-karya kartun editorialnya (atau yang secara salah kaprah lebih diakrabi sebagai karikatur), dengan Oom Pasikom sebagai maskotnya, seperti memberi representasi yang melekat atas modus orang Jawa dalam menyampaikan kritik.

Pada sebagian besar karyanya, terasa kuat gejala eufemisme atau kramanisasi yang bertolak dari ungkapan dalam bahasa Jawa sebagai titik pijak ketika berolah kritik: Ngono ya ngono, ning aja ngono. Begitu ya begitu, tapi jangan begitu. Ungkapan ini, yang telah mengental sebagai ideologi, memberi semacam garis demarkasi bagi hadirnya sebuah kritik. Dua kata ngono pada bagian awal mengindikasikan kemungkinan dan peluang akan hadirnya sebuah kritik dalam pergaulan sosial kemasyarakatan. Di sini tersirat kemampuan manusia dan atau kultur Jawa untuk mengakomodasi datangnya kritik. Sedangkan kata ngono yang ketiga seolah menjadi kunci pokok yang menyiratkan pentingnya etika dan moralitas dalam tiap kritik yang muncul, tentu dengan subyektivitas khas Jawa. Artinya ada relasi yang komplementatif atas hadirnya kritik yang berpeluk erat dengan pentingnya aspek format, bentuk, dan kemasan kritik. Sehingga dalam mencermati kenyataan di atas, terlihat menyeruaknya pemaknaan wacana kritik (khas Jawa) yang bisa ditafsirkan sebagai paradoksal dan mendua. Pentingnya kritik (seolah hanya) ada pada kemasannya.

Ideologi kritik semacam ini kian menguat dan strategis untuk dihadirkan ketika Oom Pasikom muncul di tengah kuku kekuasaan otoritarianisme Orde Jawa (istilah GM Sudarta untuk Orde Baru) pimpinan Soeharto. Pemerintahan militeristik yang cenderung antikritik waktu itu bagai mengalih-ubah ideologi ngono ya ngono ning aja ngono secara eksploitatif menjadi “ngritik ya ngritik ning aja ngritik” atau “protes ya protes ning aja protes”. Situasi represif inilah yang kemudian memberi celah kemungkinan bagi karikaturis penyuka kostum warna gelap tersebut untuk bersiasat membangun kreativitas dengan kritik lewat karikatur di forum publicum, yakni harian Kompas.

Siasat ini, meminjam paparan Magnis Suseno dalam Etika Jawa: Sebuah Analisa Falsafi tentang Kebijakan Hidup Orang Jawa (1993), mengedepankan dua kaidah penting dalam relasi sosial manusia Jawa, yakni “prinsip kerukunan” dan “prinsip hormat”. Kaidah pertama menentukan bahwa dalam setiap situasi manusia hendaknya bersikap sedemikian rupa agar terhindar dari konflik. Sedang kaidah kedua menuntut agar cara berkomunikasi dan membawa diri selalu disertai sikap hormat yang ditunjukkan terhadap orang lain sesuai dengan derajat dan kedudukannya. Keduanya merupakan kerangka normatif yang menentukan semua interaksi dalam masyarakat Jawa. Tujuannya jelas, memelihara harmoni atau keselarasan. Di selinap dua prinsip tersebut, “prinsip humor” menjadi ruh penting pada tiap karya karikatur Oom Pasikom.

Artefak dari siasat kritik ala orang Jawa eh, GM Sudarta itu terpampang dalam pameran tunggalnya yang dikelilingkan di beberapa kota dalam setengah tahun ini. Masing-masing di Bentara Budaya Jakarta, 4-12 Juli 2007, lalu di Bentara Budaya Yogyakarta (4-10 Agustus). Berikutnya di Kantor Perpustakaan Umum dan Arsip Kota Malang (21-29 Agustus), Balai Pemuda Surabaya (8-14 September), Danes Art Veranda, Denpasar (19-28 September), Galeri Semarang (4-14 November), dan terakhir di Galeri Soemardja Bandung (18-27 Januari 2008). Ada sekitar 250-an karikatur yang telah disiapkan, dan tentu ini disesuaikan dengan kapasitas masing-masing ruang (venue) tersebut. Rencana pameran keliling itu diawali dengan peluncuran buku 40 Tahun Oom Pasikom: Peristiwa dalam Kartun Tahun 1967-2007 di Bentara Budaya Jakarta. Ini merupakan buku antologi karikatur ketiga GM Sudarta, dan terlengkap, setelah antologi Indonesia 1967-1980 (1980) dan Reformasi (1999).

Historiografi Visual

Kehadiran karikatur GM Sudarta sendiri bagi harian Kompas berposisi sebagai katup opini redaksi di samping katup lain yakni pojok Mang Usil dan tajuk rencana. Senjatanya jelas: gambar dengan pendekatan humor. Sejak kemunculannya pertama kali di Kompas 4 April 1967, kemudian awal dikreasinya maskot Oom Pasikom hampir empat tahun kemudian pada 20 Februari 1971, hingga sekarang ini, antara Kompas dan karikatur Oom Pasikom seolah menjadi paket tunggal yang integral dan mutual. Keduanya identik. Saling menunjang dan menguatkan untuk membangun identitas Kompas seperti yang kita kenali kini.

Lalu, kini, apa yang bisa dibaca pada karya-karya karikatur tersebut ketika mereka hadir berhamburan dalam kilasan waktu dan konteks budaya yang terus merambat?

Mengingat ruang kehadiran karikatur berada dalam forum yang menghadirkan realitas media yang diangkut dari realitas sosial, maka sejauh ini karya karikatur relatif banyak membopong fakta-fakta sosial budaya yang bertebaran di masyarakat. “Realitas karikatur” adalah pantulan dari realitas sosial budaya sebuah masyarakat tertentu. Pada titik inilah sebenarnya karikatur dalam surat kabar yang kehadirannya rutin, intensif dan kritis dari waktu ke waktu akan mampu menyediakan diri sebagai alat baca alternatif atas kecenderungan dan pergeseran sebuah masyarakat. Di dalamnya juga ada cara pandang kritis terhadap dinamika masyarakat itu. Oleh karenanya, karya karikatur mampu pula diposisikan sebagai alternatif perangkat historiografi visual dan/atau antropologi visual yang bisa dibaca dari sudut berbeda.

Lihat misalnya karikatur GM Sudarta yang dimuat Kompas pada tanggal 14 Desember 1970. Karya itu menggambarkan kasus Sum Kuning, seorang gadis penjual telur yang diperkosa oleh beberapa anak berandal di Yogyakarta yang diduga melibatkan anak petinggi, ningrat, dan terhormat di kota Gudeg. Peristiwa hukum itu kian heboh karena diduga ada upaya untuk menjadikan kasus tersebut sebagai dark number yang membuntukan solusi. Oleh GM Sudarta, kasus ini tidak digiring masuk dalam kotak hukum, melainkan memperluas perspektif persoalan dengan menempatkannya sebagai upaya pemberangusan kebebasan pers yang dilakukan oleh aparat hukum. Kala itu penyelidikan polisi tidak tuntas dan pers tidak bisa memberitakan hal yang sebenarnya. Digambarkan di sana ada papan bertuliskan “Peristiwa Sum Kuning” yang memiliki bayangan berbentuk serupa palu godam dan siap jatuh menimpa sosok manusia berbaju “kebebasan pers”.

Ada pula karikatur menarik yang dimuat pada tanggal 31 Januari 1987. Karikaturis asal Klaten, Jawa Tengah ini memvisualkan sosok aktris opera sabun Australia, Rebecca Gilling, pemeran tokoh Stephanie Harper dalam serial paling heboh waktu itu, Return to Eden yang ditayangkan oleh TVRI. Gilling seperti “diada-adain” acara dengan diundang oleh Kedutaan besar Australia di Jakarta dalam rangka menghadiri peringatan Hari Nasional Australia pada tanggal 25 Januari 1987. Sebenarnya itu peristiwa kecil dan “biasa-biasa saja”. Namun oleh GM Sudarta ditangkap sebagai sebuah upaya kultural dalam menghangatkan hubungan RI-Australia yang selalu penuh drama “benci tapi rindu”. Sosok Rebecca Gilling digambarkan tertawa lepas dan menjadi mediator bagi dua orang Australia dan Indonesia di kanan-kirinya. Di samping mereka bertiga, ada anak kecil yang denga usil nyeletuk: “Diplomasi Return to Eden”.

Begitulah. Dengan kepiawaian artistik yang mumpuni, sensibilitas sosial tinggi, wawasan terus terbarui, dan kritisisme yang tajam, sosok GM Sudarta telah menjadi dalang yang baik bagi lahirnya lakon-lakon karikatur bernas dan intelek di harian Kompas hingga 40 tahun. Karikatur-karikatur itu, saya kira, telah melampaui posisi dirinya tidak sekadar sebagai karya jurnalistik ataupun karya seni rupa, namun juga menjadi karya sosial yang tiap kepingnya menangkap lalu merekam gelagat tanda-tanda zaman. GM Sudarta, Oom Pasikom, telah menjadi saksi bagi dinamika dan semangat zaman yang terus bergerak.

Lalu, apakah ideologi ngono ya ngono, ning aja ngono juga bergerak menemukan kebaruannya?


(Tulisan ini dimuat di harian Suara Merdeka Semarang, Minggu 11 November 2007)

Wednesday, September 12, 2007

Cermin Affandi


Oleh Kuss Indarto

LIMA puluh tiga tahun lalu, dalam majalah Budaya edisi ke 6 bulan Juni 1954, Kusnadi, staf pengajar Akademi Seni Rupa Indonesia (sekarang Fakultas Seni Rupa ISI) Yogyakarta yang juga anggota redaksi majalah terbitan Djawatan Kebudajaan Kementerian P.P.K tersebut, menorehkan laporan khusus seputar Bienal Seni Rupa ke-2 di Sao Paulo, Brasil. Laporan yang menyita 48 halaman edisi khusus tersebut memaparkan perhelatan seni rupa tingkat dunia yang berlangsung 12 Desember 1953 hingga 12 Maret 1954.

Kusnadi mencatat ada 33 negara peserta yang secara keseluruhan mempertontonkan 4.500 hasil karya seni rupa dalam berbagai ragam ekspresi. Negara-negara yang kuat dan berpengaruh dalam jagad seni rupa hadir dengan karya (dan) para seniman bintangnya. Ada Spanyol yang menghadirkan karya-karya megabintangnya yang paling kemilau waktu itu, Pablo Picasso. Ada pematung Inggris yang jadi trendsetter dunia, Henry Moore. Hadir pula Ben Shahn dari Amerika Serikat. Tampak George Braque, R. Delaunaye, Marchel Duchamp yang menjadi duta Perancis. Jerman direpresentasikan oleh seniman Paul Klee, Norwegia oleh Edward Munch, Austria oleh Oscar Kokoschka, dan lainnya.

Asia hanya diwakili oleh 4 negara: Jepang, Israel, Mesir, dan Indonesia. Indonesia sendiri, yang baru sewindu merdeka, mengeksposisikan 59 lukisan karya dari 26 seniman. Undangan dari pemerintah Brasil kepada seniman Indonesia waktu itu, diduga, berkat kiprah penting dari salah seorang bintangnya yang mulai menanam reputasi ke jenjang internasional: Affandi. Dia yang saat itu telah membangun reputasi di Italia, mengirimkan 25 lukisan. Seniman lain yang bertolak ke negeri Samba itu adalah Kusnadi sendiri dan pelukis Sholihin.

Kehadiran tiga seniman Indonesia tersebut, dalam konteks masa itu, telah menyelipkan makna kultural yang dalam. Sebagai bekas bangsa jajahan, Bienal Sao Paulo mampu memberi ruang dan posisi tawar bagi Indonesia di fora internasional. Terlebih lagi perhelatan Bienal Seni Rupa Sao Paulo tersebut merupakan salah satu dari beberapa ajang penting seni rupa kelas dunia, selain Bienal Venezia di Italia, Bienal Whitney di New York, atau Documenta di Jerman. Bahkan menariknya, menurut Kusnadi, pers Uruguay yang juga meliput perhelatan itu menempatkan Indonesia sebagai salah satu di antara 10 negara dengan penampilan terbaik.

***
LALU, di manakah Haji Affandi Kusuma sekarang berada? Maaf, ini bukanlah pertanyaan dengan pendekatan filsafat eksistensialis(me), atau gumam berbau spiritual(isme). Ini sekadar rerasan orang awam yang mencoba berlaku sok heroik melawan lupa. Juga, barangkali, hanyalah upaya kecil untuk mengulik kembali pola ingatan kita dalam mengapresiasi figur-figur penting (pada peta seni) yang terpacak dalam konstruksi sejarah.
20 Mei lalu 2007 kita diingatkan (sekali lagi) bahwa nama Affandi telah ditabalkan sebagai nama jalan yang menjelujur dari perempatan Condongcatur di ringroad utara hingga di pertigaan jalan di ujung tenggara Universitas Negeri Yogyakarta. Nama Affandi menggantikan juluk Gejayan yang juga menjadi identitas pengenal kampung di sekitar jalan itu yang telah menempel sekian puluh tahun sebelumnya. Nama seniman yang dilekatkan pada sepenggal jalan, jelas bukan sebagai upaya mendekonstruksi nalar militerisme yang artefaknya muncul secara dominan pada nama-nama jalan di sekujur negeri ini.
Saya kira, “hanya” ada “nalar kebersahajaan” di sana: bahwa para jenius lokal (harus) diberi “ruang keabadian” yang memadai untuk memberi tanda sekaligus inspirasi bagi generasi yang akan melampauinya. Meski “sekadar” nama untuk seutas jalan. Inilah kiranya prestasi pemerintah kabupaten Sleman dalam memberi penghargaan terhadap prestasi warga Yogyakarta yang namanya telah menjadi aset dan ikon seni rupa Indonesia.
Affandi memang bukan orang “Yogyakarta asli”. Dan ini tak layak untuk dipersoalkan. Dia lahir di Cirebon pada tahun 1907, bergelut dengan rentetan pengalaman getir-manis di Bandung, Jakarta, berkesempatan “mampir” di India, Italia, Amerika Serikat, dan kawasan lainnya. Hingga lalu berpulang pada usia 83 tahun di rumah sekaligus museumnya di lembah kali Gajahwong, Yogyakarta pada 23 Mei 1990. Andaikan masih sugeng, tahun ini genap berusia 100 tahun.
Pengakuan atas reputasi dan prestasinya telah banyak dilakukan secara internasional. Misalnya, gelar Doctor Honoris Causa didapatkannya dari National University of Singapore (NUS) pada tahun 1974, tentu tanpa melewati praktik menyuap, dan tanpa percik kontroversi atas penobatan itu. Nyaris semua pihak memberi permakluman. Sebutan Affandi sebagai “sang maestro” pun bukan istilah banal seperti yang sekarang banyak terucapkan, karena memang dia mendapatkan penghargaan Grand Maestro dari Dag Hammarskjold, Diplomatic Academy of Peace Pax Mundi di Roma, Italia tahun 1977. Pemerintah Indonesia, lewat Menteri Pendidikan dan Kebudayaan tahun 1969 juga memberikan Anugerah Seni dan medali emas. Pun Bintang Jasa Utama dari Presiden pada tahun 1977.

***
SETELAH tujuh belas tahun berpulang, sesudah seratus tahun Affandi dilahirkan, cermin apa yang bisa kita baca dan catat hari ini?
Artprice, sebuah lembaga informasi kecenderungan pasar seni rupa dunia yang berkedudukan di Paris, pada kuartal pertama 2007 merilis laporan tahunan atas deretan nama perupa yang karya-karyanya terkoleksi dengan harga tertinggi sejagad selama kurun 2006. Di antara 500 nama yang terpampang dalam daftar itu, tercetak nama Affandi di urutan 381 dengan nilai transaksi atas karya-karyanya (selama tahun 2006) sebesar 2.425.395 US dollar atau senilai Rp 22.085.555.000,- (dengan kurs 1 $= Rp 9.000,-). Hanya satu nama orang Indonesia dalam daftar itu. Mayoritas masih didominasi oleh seniman Eropa dan Amerika. Dari Asia muncul banyak nama, terutama dari China, Jepang, dan India.
Data ini mungkin cukup naif untuk ditampilkan. Tapi apa boleh buat, ukuran kuantitatif bisa memberi salah satu jalan masuk untuk memberi tengara bahwa proses kreatif Affandi yang dibangun dari komitmen personal dan sosial yang tinggi, sikap, wawasan, dan cita rasa seni yang paripurna itu telah diberi pengakuan oleh semua kalangan, dari beragam perspektif. Kalau toh masih hidup, Affandi yang tetap sederhana itu mungkin tak silau dengan angka-angka statistik yang melekat pada karya-karyanya itu. Karena itu semua hanyalah akibat, bukan tujuan utama Affandi dalam hidup berkesenian.
Saya kira, benarlah ungkapan budayawan Umar Kayam (almarhum) dalam harian Kompas, 27 Mei 1990: “Di tengah proses pendangkalan dan pendambaan materi yang menjijikkan di sekitar kita, kita boleh bersyukur bahwa kita pernah memiliki harta yang tak ternilai harganya dalam keutuhan seorang Affandi”.
(Tulisan ini telah dimuat di harian Kompas edisi Yogyakarta, Rabu 19 September 2007)