Wednesday, October 21, 2015

Mushala Sunaryo


 
Salah satu bagian yang indah dari keseluruhan bangunan Selasar Sunaryo Art Space di Bandung, bagi saya, adalah mushala di halaman belakang. Bangunan mungil itu kira-kira seluas 3 x 7 meter. Cukuplah untuk sholat berjamaah bagi 7-9 orang. Sisi paling menarik adalah dinding di ujung depan atau di arah kiblat. Di situ ada dua dinding yang bertemu dan membentuk sudut. Di sudut itulah imam shalat berposisi.

Dua dinding di arah kiblat tersebut seperti menjadi kanvas bagi sang pemilik ruang seni, seniman Sunaryo. Dinding seperti terkelupas di bagian tertentu. Sementara di bagian tengah-atas tampak semburat warna emas yang menjadi aksen untuk menguatkan komposisi “lukisan”. Di bagian tengah-kanan ada kutipan ayat-ayat Al Qur'an. Dua dinding yang menyudut itu tidak menyambung secara massif derngan bagian dinding lainnya. Ada celah vertikal yang dimanfaatkan sebagai pemberi cahaya (matahari) dalam mushala. Dan lantai kayu menambah nuansa kehangatan dalam ruangan mungil itu. Shalat di mushala itu seperti bertegur dengan Tuhan lewat lukisan. Terima kasih inspirasinya, Pak Naryo!

Proses Jokowi-JK

Itu Jokowi-JK lewat! Jakarta, 20 Oktober 2014.

Persis setahun lalu, 20 Oktober 2014, aku sudah di Jakarta. Pagi hari sekitar pukul 06.00 wib kujejakkan kaki di seputaran Jakarta Nol Kilometer atau sekitar Istana Merdeka. Hari itu Jokowi-JK dilantik sebagai presiden dan wapres 2014-2019. Aku sendiri datang dengan spirit untuk merayakan dan menghargai sebuah proses. Ya, proses untuk menjadi warga negara yang ingin menyimak kilasan perjalanan bangsa ini, setidaknya 5 tahun ke depan—di bawah kendali seorang bekas tukang kayu dan kakek tua yang jago berdagang.

 Menghargai sebuah proses itu mengasyikkan. Apalagi dibalut dengan sebuah keyakinan. Bahwa kelak semua—proses dan harapan—itu lenyap, tak perlu disesali kalau ada perjuangan di atasnya. Apalagi ada keringat, air mata dan darah yang melambari perjuangan itu. (Waduh, Mario Teguh banget!) Banyak kisah yang bisa jadi cermin atas proses itu. Seorang Thomas Alva Edison pernah dikeluarkan dari sekolah karena dianggap idiot. Nyatanya dia bisa berproses dengan panjang dan membalikkan keadaan, dan menjadi seorang jenius. The Beatles harus rela menjadi grup band di banyak kelab malam dengan bayaran murah, dan tape demo lagu-lagunya dilecehkan banyak produser, sebelum akhirnya ngetop dengan melewati proses yang tak pendek. Affandi bertahun-tahun menjadi tukang nggambar poster bioskop dan terus berproses hingga kelak menjadi maestro. Nasirun, jauh-jauh hari sebelum menjadi seniman yang milyarder seperti sekarang, pernah memburuh dengan membuat sapu tangan batik berhonor kecil. Bahkan proposal pamerannya ke sebuah ruang seni ditolak karena dianggap “seperti lukisan tukang becak”. Semua proses itu bukan saja sekadar pengalaman, namun juga pelajaran yang pantas diberi penghargaan. Apresiasi.

Jokowi dan JK pasti masih punya banyak kekurangan dan kelemahan. Masih “jauh panggang dari api” harapan banyak manusia di negeri ini. Proyek Nawa Cita-nya mungkin masih dianggap “Khayal Cita”, seperti menggantang asap yang segera lenyap entah kemana. Tapi, hei, siapa lagi yang bisa punya keyakinan, optimisme dan penghargaan atas sebuah proses yang tengah dilakukan oleh pemimpinnya kalau bukan rakyat Indonesia sendiri? Kebencian dan kemarahan hanya membuntukan cercah solusi. Beri mereka—Jokowi dan JK—jalan yang lempang. Dan yang terpenting: beri dia asupan kritik konstruktif terus-menerus untuk nutrisi otoritasnya mengelola negeri ini selama 5 tahun. Ayo, berhentilah menjadi bangsa pembenci dan pendengki! ***

Sunday, October 18, 2015

Kapal Tsunami


Museum kapal (kecil) di Gampong Lampulo, Aceh. 4 Oktober 2015

Kapal kecil ini menjadi saksi bisu kedahsyatan tsunami Aceh, 26 Desember 2004. Artifak ini bertengger sekitar 3-4 meter di atas sebuah rumah milik seorang karyawan Pertamina di kawasan Gampong Lampulo, kecamatan Kuta Alam, Banda Aceh. Oleh PNPM telah dibeli dan dijadikan museum.

 Saat saya berkunjung pada hari Minggu, 4 Oktober lalu, kondisi secara keseluruhan lingkungan relatif masih rapi dan terawat. Namun artifak kapal itu sendiri cukup mengkhawatirkan. Setelah lebih dari 10 tahun bertengger di tempat itu, proses pelapukan mulai menggerogoti. Pada beberapa bagian badan kapal, kayu-kayunya terlihat terkikis karena terkena hujan dan panas dengan cuaca yang bergantian terus-menerus.

Bahaya pelapukan, menurut saya, sudah menunjuk di lampu kuning. Pencegahan tampaknya segera dilakukan. Alternatif solusi bisa dikerjakan. Misalnya, bekerjasama dengan para seniman patung, misalnya, untuk melapisi seluruh badan kapal itu dengan resin bening. Material ini tetap bisa mempertontonkan secara utuh benda di lapis bawahnya, sekaligus melindungi dari lekangnya panas matahari dan guyuran hujan. Ingat, ini negeri tropis! Kalau tak ada upaya perlindungan pada artifak (utama) museum di kampung itu, saya kira tidak sampai 10 tahun lagi kapal ini sudah tidak menarik dilihat.

Thursday, October 01, 2015

Rejim Jagal


Bertahun-tahun setelah kuliah, aku baru sadar, betapa berat beban ayahku untuk "mempertahankan" posisinya sebagai anggota Brimob Polri. Ini sama sekali tidak bertalian dengan soal ambisi. Bukan. Sederhana saja. Seorang kakak iparnya, ya kakak kandung ibuku, atau pakdheku, hilang setelah tahun 1965. Tak pernah jelas kemana dan dimana dia (di)hilang(kan), apalagi makamnya. Kata ibuku, pakdhe dulu terbilang anak yang paling cerdas di keluarga, dan aktif berorganisasi. 

Lalu ada juga adik ipar ayahku, suami dari salah satu adik kandung ayahku, atau paklikku, yang masih selamat dari penculikan dan kematian namun seperti "mati dalam hidup". Ya, paklik mungkin dianggap "tersangkut" oleh orde baru meski masih bisa termaafkan. Namun, seingatku, dia menjadi "penganggur abadi" karena setiap geraknya selalu diawasi. Menyakitkan, karena dia beranak banyak dengan kondisi ekonomi yang pas-pasan. Lebih menyakitkan lagi, dia nyaris terpenjara di rumah. Bahkan untuk menghadiri syukuran rumah baru kami yang berbeda kecamatan pun, dia tak bisa datang. Pasti dia ingin datang, tapi kemungkinan besar memilih tidak hadir justru demi menyelamatkan posisi ayahku yang anggota Brimob. Ayahku mungkin waswas akan kehilangan banyak hal hanya karena menerima adik iparnya sebagai tamu yang diduga tersangkut PKI--meski tak jelas segi ketersangkutannya. 

Bagiku, itu aneh. Penyambungan tali persaudaraan itu ya sederhana: kehadiran. Dan paklikku nyaris banyak di rumah, tanpa menghadirkan diri dalam keluarga besar. Sehari-harinya, kalau tak salah ingat, lebih banyak hanya membantu meracik makanan sebelum diperdagangkan di pasar oleh bulik dan anak-anaknya. Kalau tak salah, menjadi petani penggarap juga menjadi bagian dari kesehariannya, meski aku lupa persisnya.

Begitulah. Anak-anak pakdheku tak ada yang (bisa) menjadi PNS karena kematian ayahnya yang berada di kisaran tahun 1965 (berikut sejarah aktivitas sebelumnya). Mereka cukup selamat dengan tinggal di rumah salah satu pakdhe kami yang lain yang seorang tentara. Anak-anak paklikku ada yang lolos menjadi PNS karena "alibi" tahun kematian ayahnya dan menyembunyikan rapat-rapat jatidiri sang ayah, sembari membesar-besarkan keberadaan ayahku, pakdhe mereka, yang anggota Brimob. Ini semua seperti sebuah strategi hidup di "jaman kegelapan" Soeharto. Jaman Soeharto adalah jaman ketika kecurigaan antartetangga, bahkan antarsaudara begitu kuat meneror sebuah hubungan, hanya karena praduga tanpa dasar dan di luar batas kewajaran tentang ilusi komunisme. 

Ayahku selamat kariernya hingga pensiun. Tapi harga sosial yang harus ditempuhnya, antara lain, dengan berusaha "meniadakan" kakak dan adik iparnya. Ini tak manusiawi. Sungguh. Maka, kukira Soeharto memang jagal sejagal-jagalnya yang tak layak dipahlawankan. Nusantara masih bisa diselamatkan justru tanpa (ideologi) Soeharto. 

Jembar kuburanipun nggih: Bapak, Paklik lan Pakdhe.