Friday, July 28, 2017

Diplomasi Rasa


RABU, 10 November 2010, dalam kemegahan auditorium Universitas Indonesia, Depok, Jawa Barat, di hadapan sekitar 6.000 undangan, Presiden Amerika Serikat Barack Hussein Obama berteriak lantang: “Baksoooo…! Satteeee…!!!” Gedung audorium UI langsung bergemuruh oleh tertawa riuh orang-orang di dalamnya. Antara lucu dan surprised. Betapa tidak? Seorang pemimpin negara adidaya dunia yang terbiasa berkomunikasi dengan bahasa Inggris dan membincangkan probem serius tingkat dunia, tiba-tiba berteriak lantang, dan “hanya” meneriakkan nama makanan lokal Indonesia.

Teriakan Obama tersebut ternyata tak sekadar bergema di dalam ruang auditorium UI. Dengan lekas, kata-kata “bakso” dan “sate” bergema dalam ruang-ruang yang lebih meluas, di seluruh pojok negeri Nusantara, bahkan mendunia. Sebagai sebuah subyek isu, bakso dan sate dengan cepat menjadi viral. Teriakan presiden kulit hitam pertama AS itu juga dengan serta-merta menggugah dengan kuat kesadaran “nasionalisme” sekian banyak orang Indonesia lewat isu makanan atau kuliner.

Tak begitu lama dari kesempatan itu, tanggal 7 September 2011, situs berita berlevel dunia CNN, persisnya CNNGo mengumumkan hasil surveinya yang berkesimpulan bahwa makanan bernama rendang dan nasi goreng dari Indonesia dinyatakan sebagai makanan terlezat di dunia (tahun itu). "Setelah menjaring lebih dari 35.000 suara, makanan paling enak di dunia bukan Massaman curry yang kami sarankan, tapi hidangan daging berbumbu yang pedas dari Sumatera Barat," demikian hasil survei yang dimuat situs CNN.

Ya, memang kepopuleran rendang, yang ada di urutan pertama, disusul nasi goreng mengalahkan Massaman curry asal Thailand yang sebelumnya ditasbihkan jadi makanan paling enak di muka planet bumi. Dalam daftar 50 Makanan Terlezat versi CNN tahun 2011 itu ada makanan Indonesia lainnya, yakni sate yang ada di urutan 14. Kuliner Indonesia Berjaya di antara makanan lain dari seluruh dunia, seperti sushi Jepang yang berada di urutan 3, dim sum Hong Kong (7), bebek peking Cina (9), es krim Amerika Serikat (15), lasagna Italia (11), kebab Turki (16), croissant Perancis (18), bulgogi Korea (23), tacos Meksiko (25), seafood paella Spanyol (33), masala dosa India (39), goi cuon Vietnam (50), dan lainnya.

Dua fakta itu memberi dampak yang cukup luar biasa bagi popularitas Indonesia, khususnya di dunia kuliner di mata dunia. Saya, kita tidak tahu persis apakah dua kenyataan tersebut berbau politis karena diduga menjadi disain besar yang disusun oleh Amerika Serikat yang ingin menghangatkan hubungan dengan Indonesia agar tidak “berpindah ke lain hati” pada China, atau dugaan politis lainnya. Tapi setidaknya publik mendapatkan dampak ikutan atas kenyataan tersebut. Sejak itu, banyak (atau bahkan mungkin hampir 100%) hotel berbintang 3, 4, hingga 5 di Indonesia nyaris selalu menghidangkan nasi goreng di samping nasi putih pada daftar menu sarapan yang menjadi fasilitas mereka. Sementara itu, menurut cerita seorang teman yang cukup lama menetap di Eropa bercerita bahwa saat ini di beberapa negara Eropa barat, terutama Belanda, banyak rumah makan Asia—yang bermenu utama Chinnese food, Thai food, atau Vietnamese food—menyediakan makanan bernama nasi goreng di antara daftar menunya. Dugaan targetnya jelas, bahwa itu ingin menyasar konsumen dari Indonesia atau masyarakat kosmopolitan lainnya yang ingin merasakan menu yang mendunia: nasi goreng.

Mendunianya dengan segera kuliner Indonesia pada momen ini, pada sisi lain, sekaligus menerbitkan sebuah keprihatinan. Mengapa rendang, sate, nasi goring dan sekian banyak nama makanan Indonesia justru diglobalkan oleh orang atau pihak asing, dan bukan oleh manusia-manusia Indonesia sendiri? Kenapa Thailand, Jepang, India, bahkan Vietnam bisa lebih dulu mampu menginternasionalkan kuliner mereka? Apakah keragaman dan kekayaan kosa kuliner Nusantara atau Indonesia, gagal diinternasionalkan dengan masif karena kita tidak mampu menguasai jejaring kerja (networking) dunia lewat political will negara? Apakah kita memang tak mampu memberdayakan aspek kultural (termasuk di dalamnya dunia kuliner) sebagai bagian penting dari diplomasi politik atau diplomasi budaya itu sendiri?

Saya tidak tahu persis perkara tersebut. Mungkin teramat kompleks. Atau rumit bahkan ruwet. Meski demikian, kalau kita menelisik jelujur kronologi sejarah, ada upaya yang telah dilakukan oleh negara atau pemerintah dalam mengupayakan perkara kuliner sebagai garda penting dalam menerakan perkara identitas bangsa/nasional, atau problem kuliner sebagai siasat untuk memberikan alternatif “perlawanan” terhadap kekuatan “luar”.

Sejarah perihal ini bisa dilihat dari upaya Bung Karno, presiden pertama RI yang berinisiatif untuk menerbitkan sebuah buku tentang aneka macam makanan Nusantara. Tajuknya: “Buku Masakan Indonesia Mustika Rasa: Resep-resep Masakan Indonesia dari Sabang sampai Merauke”. Baru terbit tahun 1967, setahun (lebih) setelah Soekarno jatuh. Buku yang disusun cukup lama tersebut berisi kurang lebih 1.600 resep masakan, 900 resep di antaranya menggunakan penekanan asal daerah. Menurut Fadly Rahman dalam buku “Jejak rasa Nusantara: Sejarah Makanan Indonesia” (2016) resep-resep tersebut sudah sejak lama popular seperti dari Jawa, Sumatera, Sulawesi, dan Maluku, tetapi tidak sedikit resep baru—entah baru dikenal tapi sudah lama ada atau baru dikenal karena baru ditemukan. Dengan segala kelebihan dan kelemahannya, buku tersebut relatif bisa menjadi tonggak penting betapa Negara telah peduli untuk mengelola makanan sebagai salah satu kosa budaya yang mampu diberdayakan sebagai bagian dari identitas dan kekuatan sumber daya Indonesia.

Setidaknya itu menjadi jawaban atas keprihatinan Soekarno tentang dunia makanan Indonesia yang justru direndahkan oleh orang Indonesia sendiri akibat mentalitas anak jajahan. Ini tecermin dari ujaran Soekarno yang dicatat oleh Cindy Adams dalam “Bung Karno: Penjambung Lidah Rakjat Indonesia” (1966): “Sampai sekarang orang Indonesia masih terbawa-bawa oleh sifat rendah diri, jang masih sadja mereka pegang teguh setjara tidak sadar. Hal ini menjebabkan kemarahanku baru-baru ini. Wanita-wanita dari kabinetku selalu menjediakan djualan makanan Eropa. ‘Kita mempunjai panganan enak kepunjaan kita sendiri,’ kataku dengan marah. ‘Mengapa tidak itu sadja dihidangkan?’ ‘Ma’af, Pak,’ kata mereka dengan penjesalan,’ Tentu bikin malu kita sadja. Kami rasa orang Barat memandang rendah pada makanan kita jang melarat.’ Ini adalah suatu pemantulan-kembali daripada djaman dimana Belanda masih berkuasa. Itulah perasan rendah diri kami jang telah berabad-abad umurnja kembali memperlihatkan diri. Edjekan jang terus-menerus dipompakan oleh pemerintah Hindia Belanda tentang ketidakmampuan kami, menjebabkan kami jakin akan hal tersebut.” 

Mata Jendela edisi kali ini berupaya membuka kembali ingatan kita tentang dunia makanan atau kuliner yang penuh keragaman. Sudah pasti ini hanya secuil narasi tentang kekuatan salah satu budaya kita yang bisa dikembangkan, dan diberdayakan lebih lanjut menjadi sebaris “kekuatan nasional” yang bisa diandalkan. Kenapa kita tidak terus mengupayakannya? Kenapa harus Obama dan CNN yang memancing kekuatan diplomasi olah cita rasa kita di panggung dunia? *** 

Kuss Indarto, pemimpin redaksi Mata Jendela.

(Catatan ini adalah editorial untuk majalah Mata Jendela, edisi 2/2017)