Friday, May 29, 2009

Pameran Menilik Akar di Koran Tempo


Foto menunjukkan karya patung Ali Rubin, A White Key for Indonesian Oppressed Generation, 2009


Koran Tempo, Senin, 25 Mei 2009

Ekspresi Nusantara

Dalam "Menilik Akar", para seniman masih dibayangi nilai-nilai tradisi dan nasionalisme.

Pameran Seni Rupa Nusantara datang lagi. Kali ini, setelah melalui seleksi 600 peminat, 99 perupa dari 21 provinsi terpilih mengikuti pameran dua tahunan (bienial) bertajuk "Menilik Akar" itu. Di Galeri Nasional, terlihat bagaimana wajah perkembangan seni rupa Indonesia, sekaligus wajah Indonesia itu sendiri.

Para perupa menempuh beragam media berekspresi, dari lukisan, patung, grafis, gambar, instalasi, hingga video. Karya-karya video Forum Lenteng, misalnya. Mereka menghadirkan ratusan foto reklame pinggiran jalan. Bukan poster-poster berizin dan membayar pajak, melainkan pamflet-pamflet tempelan di tembok hingga iklan yang biasa dipaku di pohon atau digantung di tiang listrik.

Dalam karya berjudul Andi Bertanya itu, proyektor menayangkan potongan-potongan slide berisi foto-foto dari berbagai sudut kota dan tepi jalan, dari iklan sedot tinja hingga agen pembantu rumah tangga. Sebuah rekaman percakapan telepon diputar, berisi dialog antara Andi dan salah satu pengiklan pembantu rumah tangga.

Kegelisahan terhadap sistem sosial agaknya menjadi inspirasi para perupa instalasi. Seperti karya Ali Rubin, A White Key for Indonesian Oppressed Generation, yang membentuk wujud bayi terborgol dan terjepit gembok raksasa. Atau A.B. Soetikno dengan Dirt Inside, membuat figur otak yang terkungkung jeruji.

Secara umum, ekspresi trimatra yang dipamerkan bukanlah karya-karya yang mengejutkan bagi penikmat seni di pusat-pusat seni, seperti Bandung dan Jakarta. Meski begitu, kehadiran karya-karya perupa, seperti Endang Lestari, Agung Hanafi Purboaji, dan Ali Rubin, penting untuk memberi inspirasi bagi perupa-perupa dari daerah.

Karya-karya dwimatra pun tak mengejutkan. Kita melihat banyak perupa Indonesia masih berkutat dengan karya-karya yang realis. "Memang begitulah adanya seni rupa kita," kata perupa Haris Purnomo kepada Tempo saat pembukaan pameran.

Namun begitu, Haris memuji keapikan teknik para perupa realis itu. "Juga ide-idenya," kata Haris. Dia, misalnya, memuji karya Ariyadi-Cadio Tarompo (Kalimantan Timur), Super P Boy. Ini lukisan seorang anak dengan kostum pahlawan bertopeng, tapi bayangannya berbentuk garuda Pancasila.

Di sana-sini, kita melihat unsur-unsur tradisi berbagai daerah yang meloncat ke kanvas. Ada yang sepenuhnya "menyerah" pada keagungan tradisi, ada yang menabrakkannya dengan ciri modernitas, ada yang sekadar meminjam bentuknya saja, tanpa terikat dengan makna.

Ada pula yang tak melupakan peran seni sebagai pembawa pesan kaum marginal yang tersudut oleh pembangunan. Misalnya Mahdi Abdullah (Aceh) dengan Demi Massa #3 dan Jacky Lau (NTT) dengan Orang Timor. Mereka mengingatkan bahwa pemerataan tak kunjung sampai ke banyak tempat.

Ada pula perupa yang mencoba memberontak dari kanvas lukisan, seperti Susilo Tomo (Jawa Tengah) dan Lenny Pasaribu (Sumatra Utara). Pada Kerbau-kerbau di Bawah Langit Perak, Susilo mengganti bagian atas kanvasnya dengan bentuk-bentuk yang mengingatkan kepada mesin. Di kanvas, ekspresionisme lanskap alam bercampur aduk dengan jahitan spanduk.

Lenny, dengan Rumit, tak menggunakan cat. Bungkus-bungkus permen berwarna-warni ia tempelkan pada kanvas sebagai latar. Pola-pola dari benang wol dan sedikit perca berseliweran di atas latar itu. Yang antiklimaks adalah bingkai yang seakan membatasi ekspresinya.

Pada akhirnya, pameran ini tak cukup untuk menilai perkembangan individual para perupa. Secara kolektif, karya mereka kembali memotret wajah seni rupa Indonesia apa adanya. Bila perupa mendapat inspirasi dari lingkungannya, pameran ini, seperti bienial sebelumnya, masih menunjukkan ketimpangan pemerataan di Indonesia. Di "pusat", perupa beroleh eksplorasi ide yang lebih pekat.

Kurator pameran, Kuss Indarto, mencatat bahwa para seniman masih dibayangi nilai-nilai tradisi dan nasionalisme. Dia juga mengakui faktor geografis mempengaruhi perkembangan seniman. "Ada wilayah yang mampat sebagai daerah kering untuk berkesenian, ada pula kawasan yang telah membentuk komunalitas yang berpengaruh bagi pembentukan dan pendalaman kreatif para seniman," ujar dia.
Dan untuk aspek komunalitas itu, kata Kuss, Yogyakarta tetaplah daerah istimewa.

IBNU RUSYDI

Thursday, May 28, 2009

Pameran Menilik Akar di Majalah TEMPO






Sadumuk Bathuk dan Penyeimbang Itu

Catatan Bambang Bujono
Majalah Berita Mingguan TEMPO, edisi 25-31 Mei 2009

Kalau dianggap pameran-pameran di galeri komersial dan hiruk-pikuk balai lelang seni rupa kurang acuan, Pameran Seni Rupa Nusantara menyimpan potensi menjadi penyeimbang, dengan sedikit pengembangan.

Ketika keberagaman disadari bukan saja sebagai kenyataan, melainkan kenyataan yang bernilai, keberagaman itu bisa menjadi ”jebakan” dalam menyeleksi karya seni rupa. Inilah tantangan yang mesti dijawab dalam Pameran Seni Rupa Nusantara, pameran dua tahunan (semula setahunan) oleh Galeri Nasional Indonesia sejak 2001. Pameran yang keenam hingga akhir Mei ini mengambil tema ”Menilik Akar”—tema yang ”mengikat” 90-an karya yang kebanyakan lukisan (ada beberapa instalasi dan seni rupa video) dari 90-an perupa dari seluruh Indonesia.

”Jebakan” pertama adalah seleksi tersebut sekadar memenuhi keberagaman itu agar satu daerah terwakili. ”Jebakan” kedua, seleksi mengupayakan ha¬dirnya berjenis karya seni rupa: dari lukisan sampai seni grafis, dari patung sampai karya instalasi dan seni rupa video. Jadi, asal sebuah karya dianggap masuk ke bingkai ”Menilik Akar”, jadilah karya ini diterima.

Itulah yang muncul di kepala ketika berkeliling di ruang utama dan sam¬ping serta halaman Galeri Nasional Indonesia tempat Pameran Nusantara VI diselenggarakan. Ada Sadumuk Bathuk Sanyari Bumi, lukisan karya Yudi Kodo, karya realistis yang menyuguhkan bentuk sebagaimana dilihat mata. Tampaknya lukisan ini menggambarkan seseorang sedang berpantomim, menilik wajahnya yang dilabur putih sebagaimana lazimnya pemain pantomim ketika beraksi di panggung. Karya ini, selain berhasil secara teknis, juga menimbulkan empati—kita merasakan lorek-lorek warna merah pada baju lurik pemain pantomim itu, komposisi tubuhnya yang merunduk, dan ekspresi wajahnya yang dingin sementara itu tangan kanannya menghunus sebilah keris yang warangka-nya digenggam di tangan kiri. Lalu ada lukisan Adat Lama (Pusaka Usang) karya Edi Dharma. Lukisan ini menggambarkan rumah-rumah adat, sesosok wajah, dan kemudian ditumpuk dengan kaligrafi Arab dan beberapa deret tulisan Latin. Dibandingkan dengan Sadumuk Bathuk, tampaknya Adat Lama dimasukkan hanya karena rumah adat itu. Ada jarak mutu yang cukup jauh di antara kedua karya ini.

Di halaman antara ruang utama dan ruang samping, dua instalasi terpajang megah. Cikal Bakal adalah karya instalasi Ismanto, dua patung batu, satu sosok perempuan dan satu lelaki, menjadi gapura depan sebuah kolam. Karya instalasi yang lain dari Kokok H.S. berjudul Sedot. Sebuah mobil penyedot tinja beneran, yang selang-selang penyedotnya dipasang pada lukisan-lukisan berukuran besar yang disusun tak beraturan. Sedot menjadi karya seni, menurut kesan saya, karena mobil itu berhenti sebagai benda praktis karena dua hal. Pertama selang yang menyedot lukisan, dan kedua ban mobil diwarnai perak. Memang Sedot tak terlalu kuat karena mobil itu belum sepenuhnya tanggal kesan praktisnya. Namun, dibandingkan dengan Cikal Bakal, karya Kokok lebih tampil sebagai karya seni dan bukan kenyataan ”mentah” yang dianggap karya seni.

Empat karya ini adalah contoh yang jelas untuk menyatakan betapa seni rupa Indonesia yang plural itu dalam pameran ini diwakili oleh karya-karya yang mutunya pun beragam. Dari sisi ini Pameran Nusantara VI mengundang tanda tanya, apa sebenarnya yang hendak dicapai.

Pada pameran pertama, 2001, kurator pameran (Suwarno Wisetrotomo) menyatakan bahwa kegiatan ini merupakan salah satu jalan untuk menemukan ”seni rupa modern di Indonesia”. Seingat saya, ”seni rupa modern di Indonesia” yang dimaksudkan itu di ruang pameran berupa karya yang gaya dan bentuknya berbeda-beda. Dan pada pameran-pameran berikutnya sampai yang kelima, 2007, keberagaman ini tak berubah meski tema berganti. Misalnya, tema pameran yang kelima ”demi ma[s]sa”, yang keempat ”apakah kita berbeda?”

Ini mengingatkan saya pada pameran pelukis muda Indonesia yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) sejak awal 1970-an, berselang-seling dengan Pameran Besar Seni Lukis Indonesia (yang kemudian menjadi Pameran Biennale Jakarta). Dalam pameran seni lukis muda itu konsep DKJ sederhana dan jelas: menyajikan karya perupa di bawah usia 35 tahun yang terpilih. Tujuannya, melihat adakah ”bakat” baru yang layak diikuti, didukung, dan diundang berpameran.

Saya tak ingat benar siapakah yang muda-muda itu yang hari ini dicatat sebagai perupa kita yang sukses dari sisi kreativitas. Samar-samar waktu itu ada nama Ivan Sagito, Nindityo, dan beberapa yang lain yang kini dianggap sebagai seniman yang layak dicatat. Bila kemudian pameran pelukis muda ini tak berlanjut, mungkin sejak awal 1990-an, itu soal lain. Boleh jadi DKJ melihat bahwa di luar Taman Ismail Marzuki—tempat program DKJ diselenggarakan—penyelenggara dan ruang pameran sudah tumbuh dan bahkan dari tempat, yakni ruang pamerannya, yang di luar TIM jauh lebih layak.

Yang kemudian hilang, pameran di luar DKJ itu tak lagi dalam ”skala Indonesia” untuk dengan sengaja mencari sosok baru. Kalau toh ada, misalnya sebuah galeri memamerkan karya pelukis muda yang ternyata kemudian memang mendapat apresiasi secara nasional (bahkan mungkin internasional), itu hanyalah kebetulan. Setidaknya galeri itu tak menjadikan hal ”mencari” ini sebagai hal yang direncanakan dalam jangka panjang di dalam dunia seni rupa Indonesia.

Itu sebabnya lahirnya Pameran Seni Rupa Nusantara pada 2001 saya lihat sebagai ganti dari pameran pelukis muda Indonesia yang diselenggarakan oleh DKJ. Ada persamaannya. Jangkauan Pameran Nusantara ini Indonesia, dan dari awal sudah meletakkan keberagaman sebagai hal yang disadari dan secara sengaja ditampilkan. Bedanya, pameran pelukis muda Indonesia DKJ terbuka, tanpa tema tertentu, Pameran Nusantara bertema tertentu.

Tema itulah pada hemat saya yang kemudian ”membatasi”, karena bisa saja seorang perupa menolak ikut serta karena merasa tak cocok dengan temanya. Bila memang ada niat untuk menyuguhkan sebuah panorama dunia seni rupa Indonesia masa kini dari generasi mudanya (dan menurut saya ini akan memberikan gambaran aktual tentang dunia seni rupa kita) bukannya tak ada jalan.

Sebab, sebagaimana Pameran Nusantara VI ini, ada sejumlah karya yang menunjukkan potensi untuk berkembang. Beberapa contoh yang saya catat, selain yang telah disebut di bagian awal tulisan ini, adalah Metamorfosa karya Bambang Hariyanto. Inilah karya yang dibuat dengan bolpoin di kanvas besar: ketekunan tanpa kehilangan √©lan, sebuah komposisi garis-garis yang membentuk ornamen. Lalu Pembekuan Budaya oleh Rendra Santana: close up wajah perempuan ”diterjang” huruf-¬huruf balok.

Ada juga Teks Un Detect karya Andris Susilo. Inilah gambar 50 tokoh wayang, masing-masing digambarkan di kertas berukuran 32,5x21,5 cm, kertas yang penuh teks. Ke-50 gambar ini ditempel di tembok ruang pameran, disusun berderet 10x5. Kemudian 09 Never Ending Story lukisan Bestrizal Besta. Dalam gaya realisme fotografi, lukisan ini menggambarkan empat anak sibuk dengan laptop masing-masing, digambar dari belakang. Ada ”pelesetan” di sini: anak paling kanan tak berbusana selembar benang pun.

Adapun karya instalasi dicampur seni rupa video yang menyita perhatian adalah In Balance hasil karya Khrisna. Sebuah patung kepala Buddha sebesar dua kepalan tangan ditaruh di lantai dikelilingi taburan pasir putih melingkar, di tembok kanan dan kiri beberapa gambar ditempel, lalu di tembok depan di belakang patung kepala itu sebuah monitor. Patung kepala itu sendiri sebenarnya sudah merupakan karya instalasi yang memukau. ”Tambahan” seni rupa video sebenarnya tak begitu menambah nilai, untunglah tak mengganggu.

Mungkin, menyelenggarakan pameran selingan setelah lima kali Pameran Nusantara misalnya, yang menampil¬kan karya dari beberapa seniman yang terpilih dari lima Pameran Nusantara itu, adalah solusi untuk mengatasi keterbatasan tersebut. Bila peng¬antar kuratorial di Pameran Nusantara pertama berharap dari pameran ini bisa tergambar lebih ”jelas” yang dinamakan seni rupa modern di Indonesia, pameran selingan tersebut setidaknya bakal menggambarkan dunia seni rupa kita pada suatu kurun waktu. Ini akan membuat sebuah ke¬seimbangan: di satu sisi Pameran Nu¬santara, di sisi lain keramaian pameran di galeri komersial dan riuh-rendah¬nya balai lelang yang hingga kini terasa kurang acuan itu.

Sunday, May 24, 2009

Pameran Seni Rupa "Menilik Akar"


(foto di atas adalah performance art oleh Ananta O'edan yang merespon karya jewelry karya Alvi Luviani, dalam pembukaan Pameran Seni Rupa Nusantara 2009: "Menilik Akar")

Oleh Kuss Indarto


/1/

Dalam sebuah artikel pendek yang kurang begitu dikenal publik, sejarawan sosialis Eric J. Hobsbawm membeberkan pendapatnya bahwa sebuah bangsa itu lahir karena “ditemukan”, dan nasionalisme adalah sebuah invented tradition, yakni sebuah tradisi yang harus terus-menerus digali. Dengan ungkapan tersebut Hobsbawm mengingatkan bahwa nasionalisme sebuah negara merupakan sebuah pencarian yang tak akan pernah berhenti karena ia bisa terus digali dan dikembangkan sesuai dengan kebutuhan aktual.

Sementara itu Anthony Giddens berpendapat bahwa negara adalah sebuah wadah yang berisi berbagai kekuatan yang berbeda yang saling menggesek satu sama lain. Dengan mengandaikan negara seperti apa yang dikemukakan oleh Giddens tersebut, maka titik relevansi dari hal serupa yang dikatakan oleh Clifford Geertz adalah bahwa setiap negara membutuhkan sebuah “nasionalisme” karena dari sanalah akan menjadi tali perekat antara berbagai kekuatan tersebut. Sedang pandangan bahwa sebuah nasionalisme bisa berfungsi sebagai primordialism and civic tie seperti yang dianjurkan oleh Geertz di atas, semuanya berpulang kembali pada publik di negara bersangkutan dalam menghormati segala hal yang telah mereka miliki.

Salah satu hal penting yang dimiliki publik dalam sebuah negara bangsa adalah imajinasi atas kehidupan bersama, dan ihwal identitas. Kita telah mampu membayangkan sebuah komunitas bersama yang dibatasi oleh wilayah teritorial dan pengandaian tentang sejarah yang dianggap sama (meminjam cara pandang Benedict Anderson) yang kemudian menghasilkan satu rasa tersatukan sebagai bangsa. Maka, pada dasarnya apa yang kita tunjuk dengan istilah bangsa akhirnya tidak lebih dari sejumlah pengandaian, atau impian. Dan itu bisa berarti semu belaka. Sebab antara saya/kita dengan "saudara" saya/kita si Tengku di Meulaboh, Uda Koto di Bukittinggi, Cak Rojaki di Bangkalan, Madura, atau si Mangge dari suku Kaili di Sulawesi Tengah, tidak diikat oleh garis apa pun selain oleh adanya pengandaian tentang sebuah nasib yang kurang-lebih sama. Pembayangan tentang sebuah sejarah praktis disamakan, yakni bangsa. Pembentukan kerangka imajiner untuk terus mempertahankan dan menerjemahkan "bayangan" atau khayalan kita itu di antaranya adalah dengan pendirian negara.

Negara menjadi realitas yang seolah aktual karena memiliki daya dukung untuk mengoperasikannya, menjadi jalinan relasi dalam kehidupan sosial kemasyarakatan. Negara hadir secara faktual lewat serangkaian operasi (entah via media atau perangkat kuasa lain yang terstruktur) yang dibahasakan setiap hari sehingga menjadi realitas yang langsung berhadapan dan teralami bersama kita. Negara dan bangsa adalah contoh termudah untuk melihat bagaimana sesuatu yang pada dasarnya semu, kemudian diperlakukan sebagai kenyataan nyaris tanpa bantahan. Kita seperti menerima itu sebagai sesuatu yang given (terberi).

Alhasil, negara bagai sebuah impian yang (kadang) menjadi kenyataan, karena kita bisa terlibat secara (inter)aktif dengan kerangka imajinernya itu sendiri. Negara menjadi nyata karena kita masuk ke dalamnya, menjadi bagian darinya, dan sebaliknya kalau perlu, ramai-ramai menafikkannya. Maka, dengan demikian, memandang Indonesia kini, bisa jadi, layaknya memberlakukan sebuah mimpi seperti halnya mengelola sebuah permainan. Dibutuhkan banyak eksplorasi dan eksperimentasi untuk menjadi anggota di dalamnya. Bukan statis seolah semuanya serba terberi tanpa kita berupaya untuk mencoba “mengonstruksi”.

Problem ini tentu menjadi kian rumit ketika dewasa ini globalisasi telah menawarkan orientasi borderless ataupun trans(national) identity, yakni ketika semua orang berhak menentukan siapa dirinya tanpa harus terkungkung oleh nilai dan bayangan imajiner kolektif yang dibangun sebagai konstruksi resmi negara. Dengan demikian proses sosialisasi dan pengalaman interaksi tiap-tiap orang sebagai bagian dari bangsa Indonesia, sangat mempengaruhi bentuk pemahaman, memori kolektif, dan orientasi sosial kultural orang-orang tersebut sebagai warga. Dalam pada itu berbagai kebijakan negara yang berusaha menciptakan “identitas” kolektif, senantiasa dirasakan sebagai sebuah tawaran tanpa pilihan, bahkan terasa sebagai sebuah pemaksaan. Akibatnya muncul respon yang beragam: dari mengakomodasi atau menerima hingga penolakan. Di sinilah sebenarnya citra ke-Indonesia-an tengah dan terus diuji hingga kini.

Dari kerangka berpikir atas fakta-fakta sosial yang terpapar singkat di atas, maka perhelatan Pameran Nusantara 2009 ini berupaya menjadi ruang bersama untuk menilik dan membicarakan lebih lanjut ihwal akar imajinasi dan identitas ke-Indonesia-an tersebut hingga orientasinya ke depan. Tentu bukan perkara yang bombastis kalau kemudian para perupa (sebagai bagian penting dari negara bangsa ini) melakukan pembacaan, pemetaan, penyikapan dan pelontaran komitmen personal atas fakta-fakta tersebut. Tentu tetap dengan bahasa visual yang menjadi perangkat utama para perupa.

/2/

Realitas estetik yang kemudian terpampang dalam pameran ini merupakan penampang kecil atas pembacaan para seniman terhadap tema yang disodorkan. Dari beragam media, mulai dari seni lukis, drawing, patung, jewelry, video art, kriya seni, seni instalasi dan lainnya, tampak bahwa para seniman masih memiliki pembayangan yang kuat akan nilai-nilai tradisi dan nasionalisme sebagai bagian yang inheren ketika mereka memperbincangkan ihwal “identitas”.

Tidak sedikit dari mereka yang membuat re-kreasi atas unsur-unsur tradisi tersebut dalam bentuk kreatif yang secara kebentukan tidak lagi utuh merepresentasikan aspek tradisi tersebut, namun lebih berusaha untuk menyerap aspek nilai dan hal-hal yang substansial atas tradisi ini. Pada karya semacam ini publik bisa menengarai sebagai sebuah upaya seniman untuk melakukan “kontinuitas nilai” yang berpotensi untuk menghasilkan “nilai baru” dengan perpektif pandang seniman yang lebih mengayakan. Bukan lagi sekadar “nguri-uri” yang kesulitan untuk memberi kebaruan nilai dan substansi, namun lebih sebagai upaya untuk mengawetkan “kemandegan” masa lalu. Namun tidak sedikit pula karya yang belum banyak bergerak mengarah pada proses dinamisasi nilai atas tradisi tersebut.

Pembacaan atas nilai-nilai tersebut (entah itu tentang pokok soal tradisi, nasionalisme dan sebagainya) secara mendasar juga diasumsikan telah dipengaruhi oleh banyak faktor pendukung. Antara lain faktor latar belakang pendidikan, faktor geografis, faktor informasi, dan lainnya. Asumsi ini, tentu masih bersifat tentatif karena lebih banyak didasarkan oleh pengamatan sekilas, belum sampai pada penelitian yang lebih serius dan menyeluruh.

Namun sedikit banyak publik bisa mengamini bahwa faktor pendidikan, sebagai contoh menarik, telah memberi pengaruh begitu kuat terhadap banyak seniman dalam memperbarui sistem pengetahuan mereka dalam membaca sekian banyak fenomena dan tanda-tanda zaman. Hingga, yang terpenting, kemampuan praktik berkesenian. Tentu publik bisa berkaca pada banyak contoh kasus tentang para (calon) seniman yang bergerak menuju lembaga pendidikan seni rupa untuk menjadikannya sebagai bagian penting dalam pembentukan proses kesenimanan. Entah mereka yang bergerak dari Bali, Minangkabau, atau kawasan lain menuju Yogyakarta (dalam hal ini lembaga ISI Yogyakarta) pada perkembangan berikutnya telah menghasilkan imbas progresif bagi keberadaan dan proses seniman.

Berikutnya, faktor geografis, memiliki dampak yang dalam kurun waktu cukup lama terasa berpengaruh terhadap progres kesenimanan seorang seniman. Ada wilayah yang mampat sebagai daerah kering untuk berkesenian, namun ada pula kawasan lain yang secara umum telah membentuk komunalitas yang luas dan berpengaruh begitu melekat bagi pembentukan sekaligus pendalaman kreatif seorang seniman. Ini, lagi-lagi (maaf), menempatkan kawasan Yogyakarta sebagai contoh menarik untuk wilayah perbincangan tentang aspek komunalitas ini. Di sini publik bisa menyimak bahwa atmosfir kampus atau proses pembelajaran kreatif tidak hanya berlangsung di ruang-ruang kelas berpagar gedung formal, namun juga terjadi dalam lingkungan pergaulan yang meluas dan dalam modus komunikasi serta cara “pembelajaran” yang khas.

Namun demikian asumsi yang dibentuk oleh dua hal di atas, dewasa ini, telah pula mendapatkan pembanding yang baik dengan menempatkan faktor informasi sebagai aspek penting dalam meretas kekurangan pada dua aspek di atas. Dengan sistem informasi yang melaju kencang dan luar biasa saat ini, telah sangat membantu para seniman untuk mengakses sebanyak-banyaknya informasi yang membanjir lewat jalur cyber. Tanpa didukung oleh aspek pendidikan dan berada dalam wilayah geografis yang “tepat”, seorang seniman yang berkehendak melakukan progresivitas pun kini dapat melakukan pengayaan kreatifnya dengan lebih kaya, cepat, sekaligus instan lewat jalur informasi cyber yang tersedia. Kebuntuan yang sebelumnya terjadi telah bisa sedikit banyak diretas. Hanya saja, pertanyaan besar yang mengggelayuti adalah: apakah membanjirnya informasi tanpa didasari oleh sistem pengetahuan yang baik akan juga melahirkan bentuk-bentuk kreatif yang berkembang pula? Atau sebaliknya, meluapnya “air bah” informasi ini mampu memberi peluang bagi terbentuknya sistem pengetahuan yang lebih baik?

Dalam pameran kali ini, kiranya gelagat ke arah itu telah sedikit banyak tercium lewat karya-karya yang terpampang. Ada beberapa karya yang dikreasi seniman dari kawasan tertentu yang kurang diperhitungkan pencapaian artistiknya selama ini, ternyata telah muncul dalam kerangka pemikiran seolah yang melintasi problem di lingkungannya. Ini sebuah gejala menarik yang perlu dilihat sebagai sumber gagasan untuk diteliti lebih lanjut.

/3/

Akhirnya, sebagai sebuah perhelatan seni, Pameran Seni Rupa Nusantara ini sebenarnya bisa dikehendaki bersama sebagai media investasi atau penanaman modal kultural dan estetik. Tanpa merancang fungsi ini dengan sadar, perhelatan semacam ini di tahun mendatang bisa mengalami dekadensi. Kalau toh berjalan, bisa jadi produksi tersebut hanya terjadi di lingkungan atau pihak-pihak yang sudah melimpah dengan modal kultural dan estetiknya.

Sehingga, bagi para perupa—entah yang sudah mapan ataupun belum—investasi ini berupa proses pendidikan seni yang, seperti disebut di atas, berpotensi untuk meningkatkan dan menyebarkan lebih lanjut aesthetic literacy, pencerdasan estetik. Memang, harus diakui bahwa dalam masyarakat yang kapitalis tak ada produk yang lepas dari komoditi dan esensi yang tak lain adalah “passion to exchange with another of its kind” seperti yang pernah ditengarai oleh kritisi Terry Eagleton (1990). Jenis pertukaran yang kita butuhkan sekarang ini bukan hanya pertukaran barang dan uang namun juga antara bentuk dan referensi atau rujukan. Ini merupakan pertukaran paling mendasar dalam jagat seni rupa sekarang ini.

Kita juga bisa mengandaikan bahwa perhelatan ini bisa menjadi media transaksi. Publik seni rupa boleh mengapresiasi lebih lanjut karena mempunyai pengalaman menukarkan modal kultural dan estetik yang sudah dipunyai dengan rupa-rupa bentuk estetik yang dijumpai dalam ruang pameran. Maka, transaksi tidaklah mesti berupa pertukaran antara seni rupa dan gemerincing rupiah. Transaksi pertama bisa mendukung transaksi kedua dalam arti transaksi pertama bisa membangun nilai estetik pada transaksi kedua.

Maka, bisa jadi, transaksi kultural dan estetik merupakan penyelesaian akhir dari sebuah tawar-menawar yang panjang. Barangkali tak semua/banyak pengunjung sebuah pameran seni rupa itu tidak memiliki kompetensi ekonomis untuk melakukan transaksi ekonomi. Namun demikian dari merekalah kita bisa banyak berharap akan terajadi transaksi kultural dan estetik yang bermanfaat untuk jangka panjang bagi sang seniman. Para perupa menyerahkan simbol-simbol ciptaannya kepada publik dan publik mengapropriasinya dengan berbagai kemampuan yang dimiliki. Di sinilah ada potensi bahwa Pameran Seni Rupa Nusantara ini mampu menyumbangkan terjadinya konsensus di ruang publik atau kontrak sosial-kultural yang sebenar-benarnya.

Dengan obssesi semacam ini, maka, mau tak mau publik sebaiknya mencari alat ukur baru untuk melihat keberadaan dan keberhasilan perhelatan semacam Pameran Seni Rupa Nusantara ini. Kalau hanya diukur dari keberhasilannya dalam melahirkan selebritas seni rupa yang lebih baru, bisa jadi bukan di sinilah ajangnya. Atau seandainya keberhasilan pameran ini diukur dari nilai bisnis yang terjadi, tentu ada forum lain yang lebih menjanjikan dan berkompeten. Selebritas dan nilai komoditi memang penting, namun keduanya tak menutup kemungkinan untuk “dinisbikan” dengan transaksi kultural-estetik. Forum seperti ini, kiranya, dimungkinkan menuju ke arah itu. Siapa tahu?

Kuss Indarto, kurator Pameran Seni RupaNusantara 2009: “Menilik Akar”.



Friday, May 15, 2009

Pembukaan Pameran MENILIK AKAR




Mengundang Anda untuk menghadiri

pembukaan Pameran Seni Rupa Nusantara 2009:

“MENILIK AKAR”



Selasa, 19 Mei 2009, pukul 19.00 wib

di Galeri Nasional Indonesia (GNI)

Jl. Medan Merdeka Timur No. 14

Jakarta Pusat 10110

(www.galeri-nasional .or.id)



Pameran akan dibuka oleh:

Bapak Ir. Jero Wacik, SE

(Menteri Kebudayaan dan Pariwisata RI)



Rangkaian Acara:



Selasa, 19 Mei 2009 Pukul 19.30 WIB

Pembukaan Pameran; Peresmian Ruang Audio-Visual;

Penyerahan Hibah Lukisan karya kolektif Sanggar Bumi Tarung

Rabu, 20 Mei 2009 Pukul 10.00 WIB
Diskusi: SENI RUPA SEBAGAI KARIER:

MENEROPONG PERUPA MUDA INDONESIA
Pembicara: Alia Swastika, Kuss Indarto,

Penanggap: Rizki A. Zaelani
(Kerjasama dengan Majalah VISUAL ARTS)

23-31 Mei 2009 pukul 11.00 dan 15.00 WIB
Penayangan Video Art (Video Screening)

(Kerjasama dengan RUANGRUPA)



Daftar Peserta

Pameran Seni Rupa Nusantara 2009:
"MENILIK AKAR"

ACEH: mahdi abdullah, BALI: antonius kho, i gusti putu hardana putra, i wayan sedanayasa, i wayan suardana, nyoman gunarsa, wayan dania, BANTEN: nikasius, rohadi, D.I. YOGYAKARTA: agung hanafi, agung santosa, agus putu suyadya, andris susilo, arlan kamil, farhan siki, hery sudiono, hidayat, i kadek agus ardika, ivan yulianto, kohar, prasetiyo yunianto, robert nasrullah, rocka radipa, sulistya hadi, susanto, vani h.r., ye agung, yun suroso, yulius heru prihono, DKI JAKARTA: ab soetikno, afriani, forum lenteng, m. rusnoto, nani sakri, syaiful ardianto, tato kastaredja, JAMBI besta, edy dharma, fauzi z., JAWA BARAT: agus djatnika, ali rubin, arivin yasonas, basuki bawono, danny irawan, evi muheryawan, khrisna, machfudz, rendra santara, toni antonius, yudi a.b., JAWA TENGAH: arif sulaiman, bambang hariyanto, daryono yunani, sedes art, soegeng tm, suitbertus sarwoko, susilo tomo, darus marchiano, JAWA TIMUR: ainur maryanto, djoeari soebardja, gusar suryanto, imron fatoni, ira sulistyawati, ivan hariyanto, miranti minggar triliani, ruslan, santoso prasetyo, KALIMANTAN BARAT: benyamin dermawan, KALIMANTAN SELATAN: sulistyono, KALIMANTAN TIMUR: cadio tarompo, sairi lumut, LAMPUNG: koliman, nurbaito, NTB: wayan geredeg, NTT: jacky lau, RIAU: reynaldi, kodri johan, julianto, zulamri, SULAWESI SELATAN: mike turusy, SULAWESI UTARA: enoch saul, jimmy manus, SUMATRA BARAT: dwi oon agustyono, randi pratama, zikri, iswandi, SUMATRA SELATAN: edy fahyuni, SUMATRA UTARA: endra, lenny pasaribu, sahala, yoesafrizal, PESERTA UNDANGAN: alfi luviani, awi ibanesta, besta, donny kurniawan, endang lestari, endra, herlambang bayuaji “gundul”, ismanto, irawan banuaji, wilman syahnur, yuli kodo