Saturday, August 22, 2009

Tamasya Surealistik Kaum Terpinggirkan





(Wawancara dengan Totok Buchori oleh Kuss Indarto, dan disarikan oleh Kuss Indarto dan Satmoko Budi Santoso. Naskah ini dimuat dalam pameran tunggal Totok Buchori, "Megaphonology", di Mon Decor Art Space, Jakarta, 20-31 Agustus 2009)

MEMAHAMI proses kreatif adalah sesuatu hal yang penting dalam melihat segi paling holistic dari karya. Terlebih lagi pada sosok perupa. Bagaimanapun karya yang lahir tidak bisa dilepaskan dari keterkaitan proses kreatif yang bernilai sebagai sejarah tersendiri.

Totok Buchori boleh jadi adalah perupa yang dalam era booming kemarin tidak ikut muncul dalam posisi yang sangat diuntungkan. Namun bukan berarti ia stagnan, atau tak lagi mempunyai mesiu kreatif. Pameran tunggalnya ini membuktikan bahwa ia masih tetap konsisten mengeksplorasi titik pijak surealistik dalam karya-karyanya sebagaimana trade mark yang melekat pada dirinya semenjak tahun 1980-an. Itulah yang juga membuatnya cukup diperhitungkan dalam khazanah percaturan dunia seni rupa Indonesia.

Apa pandangan Totok Buchori tentang proses kreatif tersebut? Apa pula pandangannya tentang pasar dan sejumlah hal lainnya? Berikut ini adalah esai naratif yang merupakan hasil wawancara dengan Totok Buchori.

Obsesi Masa Kanak-kanak

SEJAK kecil saya memang mempunyai cita-cita menjadi seorang pelukis. Hal itu merupakan satu dimensi kesadaran yang tak terbantahkan. Kisah lengkapnya adalah: suatu saat, ketika saya masih studi di tingkat SD, saya menjumpai adanya sejumlah singkatan universitas. Ada UGM, ITS, dan salah satunya adalah ASRI. Waktu itu, saya sudah tahu artinya. Saat itu pula, saya sudah mempunyai keinginan kelak jika kuliah adalah di ASRI. Tekad saya sudah bulat semenjak SD. Hal itu saya buktikan dengan terus mengasah kemampuan melukis. Apalagi, sejak kecil pula saya sudah suka mencontoh gambar umbul, jenis-jenis silat yang pakai kucir-kucir itu, bawa pedang segala. Saya merasakan itu basis kreativitas penuh eksplorasi yang amat menggugah.

Beranjak kemudian di tingkat SMP. Orientasi visual saya semakin terarah dengan membaca sejumlah komik juga cerita-cerita bergambar lainnya. Ada Ganes TH, misalnya, meskipun yang paling saya suka adalah Teguh Santosa atau Jan Mintaraga. Perhatikan saja, aspek pendekatan realismenya menarik sekali. Lulus SMP, saya bilang sama simbah (kakek-nenek) agar disekolahkan di sekolah seni karena sejak kecil saya memang ikut simbah saya. Apalagi selepas SMP itu ada kawan di Probolinggo yang memberitahu bahwa di Yogya memang ada SMSR (Sekolah Menengah Seni Rupa). Zaman itu namanya SSRI (Sekolah Seni Rupa Indonesia). Sama guru SMP pun saya juga didorong-dorong agar masuk sekolah seni. Tapi, saya justru disuruh masuk SMA oleh simbah. Masuklah saya SMA di Probolinggo selama 1 tahun. Kebetulan, waktu itu, saya punya kawan SMP yang ayahnya polisi. Ia mempunyai buku tentang lukisan koleksi Presiden Soekarno di rumahnya. Lewat buku-buku koleksi lukisan Soekarno itulah saya belajar aspek seni rupanya. Sampai hafal. Itu karena saking seringnya saya ke rumahnya dan hanya bertujuan belajar seni rupa. Sampai-sampai ia bilang, “Bawa saja pulang bukunya.”

Soal gambaran awal menempuh studi di STSRI “ASRI” (Sekolah Tinggi Seni Rupa Indonesia “ASRI”) kaitannya dengan permasalahan visual dan pasar, waktu itu yang jelas situasinya kan belum seperti sekarang. Waktu itu yang menguat hanya idealisme semata. Tidak terbersit pengaruh pasar. Tidak kepikiran laku atau tidak laku. Semua berlomba-lomba ingin menjadi yang paling berbeda di antara kawan yang satu dengan yang lain. Itu jelas kontras dengan situasi sekarang yang pengaruh pasarnya cukup besar. Setidaknya, perupa zaman sekarang jadi mempunyai gambaran bisa bertahan hidup. Dulu adanya ya cuma idealisme, idealisme, dan idealisme. Begitulah realitasnya.

Kebebasan dan Tren Surealisme

IDEALISME seperti apa? Tentu saja idealisme seperti yang diacu pada tema-tema lukisan itu sendiri. Misalnya, dalam hal lukisan saya adalah keberpihakan pada rakyat kecil. Itu bisa dilihat pada karya-karya saya tentang simbok-simbok di pasar. Kalau soal aliran awal-awal di ASRI saya termasuk ikut arus realisme. Sampai suatu saat, ada pemikiran soal ketidaknyamanan. Pemerintahan yang represif, Soeharto yang begitu kuat aspek militerismenya, dan keprihatinan pada kehidupan sosial-politik lainnya. Hal itu mau tidak mau juga mempengaruhi orientasi tema dan aliran dalam kelanjutan berkarya. Meski sebenarnya, perspektif berkarya dengan tema kritik terhadap represi tertentu itu sudah saya dapatkan mulai dari SSRI. Saat itu saya sudah banyak bergaul dengan mahasiswa karena notabene kawan tetangga kos. Kalau mereka mau demonstrasi, misalnya, malam hari sebelumnya saya sudah mendengar mereka kasak-kusuk di kos-kosan.

Jadi, bangunan orientasi estetik pada karya saya terkondisi semenjak ada nilai-nilai perlawanan tertentu yang muncul dalam diri saya dan hal itu terus terpelihara sampai sekarang. Bolehlah kalau disebut bahwa ekspresi yang saya ungkapkan melalui kanvas merupakan bagian dari upaya pembelaan pada rakyat kecil yang tertindas. Jangan lupa, sepanjang saya berkarya juga pernah masuk Sanggar Bambu yang amat legendaris di Yogya. Kalau dihitung-hitung, saya mulai intensif terlibat di Sanggar Bambu era tahun 1980-an. Yang saya ingat, di Sanggar Bambu cukup banyak kegiatan sastra, teater, dan seni rupa. Umar Kayam, misalnya, sering ke sana. Banyaklah pengaruh positif yang betul-betul inspiratif saya transfer karena bergaul di Sanggar Bambu.

Secara spesifik, topangan pengaruh yang makin memperkuat idealisme berkarya selama di STSRI ASRI jika dari sisi luar tentu dengan adanya diskusi dan sejenisnya. Sementara itu, jika dari dalam adalah adanya iklim kebebasan bagi mahasiswa untuk memilih apa yang ia mau. Soal wujud hasil karya, ASRI cenderung hanya menurut atau mengikuti saja apa kemauan mahasiswanya. Kedudukan ASRI seolah-olah bilang, “Terserah mahasiswa mau berkarya apa, kalau bisa ada perbedaan. Itu saja.” Kalau zaman sekarang, mungkin hal semacam itu cukup mewakili adanya tipe seniman yang tidak berkompromi dengan aspek pasar. Tema-tema yang pada saat itu digeluti banyak mahasiswa cenderung tidak populer. Seram, misalnya. Ini tentu kontras dengan pandangan kritikus seni Agus Dermawan T. yang pernah bilang, “Kamu boleh buat karya yang surealis, aneh-aneh, tapi bagaimanapun pasar harus disiasati karena kamu berhubungan dengan pecinta seni atau pembeli.”

Selama saya di ASRI memang mengalami imbas situasi Gerakan Seni Rupa Baru yang pernah muncul fenomenal itu dan juga gempita kemunculan seniman Moelyono dengan konsep seni “Kesenian Unit Desa” yang cukup menghebohkan. Tentu, itu juga menambah referensi soal bentuk-bentuk idealisme dalam kapasitas yang beragam.

Saya terhitung kuliah selama 4 tahun di ASRI setelah fase geger Desember Hitam yang begitu menyentak di ujung tahun 1976. Kalau polemik tentang Seni Kepribadian Apa sudah saya tahu ketika menginjak bangku SSRI. Yang paling saya rasakan berbeda ketika menginjak bangku ASRI adalah adanya kelonggaran berekspresi dengan rambahan bentuk visual yang relatif ke arah pop art, misalnya. Pak Widayat, Pak Aming Prayitno, dan yang lainnya adalah orang-orang yang tak kenal lelah untuk selalu menyarankan soal teknik atau sisi lainnya yang belum tergali secara maksimal. “O, ini bagusnya begini, itu begitu,” demikian tutur mereka waktu itu.

Memang, saya tidak sempat menyelesaikan studi di ASRI. Padahal waktu itu saya sudah KKN segala. Bahkan sudah ancang-ancang mau meneliti soal aspek tekstur karya-karya Aming Prayitno. Ya, akhirnya saya justru ditanting (diajak) Pak Subroto SM mau melanjutkan studi atau tidak dan saya memutuskan keluar.

Selama saya di ASRI pula sempat merasakan kecenderungan aliran surealisme yang menguat. Rupanya, pengaruh Ivan Sagito waktu itu cukup lumayan. Ia kakak kelas saya. Hanya saja, keberadaan Ivan Sagito masih kalah kuat pengaruhnya jika dibandingkan dengan Agus Kamal. Pak Sudarisman juga di bawahnya. (Kedua nama terakhir itu sekarang dosen di FSR ISI Yogyakarta). Memang, secara teknis, saya juga suka dengan acuan sebagaimana yang dikerjakan “raksasa” surealisme asal Spanyol, Salvador Dali. Nah, sisi surealistik yang kemudian saya kembangkan merupakan perpanjangan dari idealisasi kritik visual ala Jawa. Semacam filosofi ngono ya ngono ning aja ngono.

Lompatan Identitas Visual

SAYA pun semakin mendapatkan pengayaan perspektif berkarya dengan belajar tentang teknik pada era renaisans, misalnya. Yang pasti, semua hal yang merupakan acuan benang merah pengayaan kreativitas saya pelajari menjadi mengkristal dan bermuara dalam aliran surealistik sebagai satu kecenderungan estetik yang relatif menguat dalam karya saya. Meski bagi saya tren kecenderungan surealistik di Indonesia boleh dikatakan yang punya posisi penting ya Ivan Sagito atau Agus Kamal.

Kalau soal pengalaman stagnasi dan ingin berubah gaya itu juga pernah saya alami. Jika kini banyak pelukis muda yang ingin mencoba teknik dengan gaya yang lebih riang atau bebas, eksperimen itu pernah saya lakukan salah satunya ketika saya di tempat Pak Widayat. Waktu itu menggambar bentuk sejenis orang berwarna hijau dengan background polos adalah lumrah.

Adanya pergeseran tema lukisan surealistik saya menjadi seperti yang ada sekarang tentu saja didorong adanya faktor internal dan eksternal. Secara eksternal jelas berkaitan dengan tema kebebasan berekspresi. Sisi internal, inilah kesempatan bagi saya untuk bisa lebih berkembang dan eksis. Katakanlah lebih diperhitungkan publik yang luas. Terus terang, kalau saya stagnan surealis terus dengan perspektif seperti yang dulu jelas saya kalah dengan Ivan Sagito, Agus Kamal, bahkan Lucia Hartini.

“Nah, ngapain saya terus-terusan di situ? Bukankah ada baiknya jika saya mengambil pilihan estetik seperti dalam karya pameran kali ini?” Itulah bagian dari keinginan saya untuk hijrah secara estetik, setidaknya ada lompatan identitas tentang tema demonstrasi yang cukup berbeda dengan karya terdahulu.

Saya kira, karya-karya saya seperti yang ada dalam pameran kali ini tetap ada relevansinya dengan tema kritik zaman seperti yang dikerjakan seniman Djoko Pekik dengan muatan kekentalan unsur sosial-politiknya. Kiranya, dengan pijakan tema itu saya memang tetap menganggap sangat penting apalagi karena sejumlah ketidakadilan masih terus terjadi sampai hari ini. Sepertinya, tak akan kehabisan masa aktualitasnya. Lihat saja, bagaimana perlakuan antara buruh dan majikan dalam situasi sekarang, misalnya, apa sudah adil? Bagaimana dengan nasib Pembantu Rumah Tangga? Bagaimana dengan nasib orang-orang yang bisanya hanya berjualan di kaki lima? Sementara mereka terus saja digusur-gusur dengan cara cukup kasar padahal bertahan hidup dengan berjualan semacam itulah yang paling bisa mereka lakukan.

Tamasya Ideologi Kerakyatan

JIKA diamati, dalam lukisan-lukisan saya kali ini ada 2 sosok dominan yang mengemuka. Sosok saya dan seorang pantomimer yakni Jemek Supardi. Kehadiran saya di dalam sejumlah lukisan boleh dikatakan merupakan satu simbol: biarlah saya yang menjadi martir. Tak perlu ikon dengan model foto Soe Hok Gie (tokoh demonstran Angkatan 66) atau Wiji Thukul Wijaya (penyair dan demonstran asal Solo yng hilang tahun 1998). Titik penanda visual itu merupakan bagian dari eksplorasi wilayah ekspresi berupa kritik zaman supaya orang tetap bisa mendengar kritikan sebagai suara hati yang bening.

Pertimbangan saya dalam menghadirkan sosok pantomimer Jemek Supardi lebih disebabkan karena adanya alasan bahwa ada gestur di dalam diri Jemek Supardi yang menggelitik. Cukup artistik jika disinkronkan menjadi bagian keutuhan kesebadanan kepentingan visual karya saya. Ekspresi tingkah Jemek Supardi dalam melakoni sejumlah adegan ketika berpantomim merupakan hal-hal yang merupakan bagian dari idealisasi visual yang sungguh saya inginkan.

Banyak yang bilang fenomena estetika perihal potret diri cukup menguat di Indonesia. Kalau dikatakan bahwa apa yang saya lakukan merupakan terusan atau kelanjutan dari kecenderungan perupa yang eksis dengan pendekatan estetik berupa pengelolaan bentuk tubuh, maka apa yang saya lakukan jelas berbeda. Persamaannya ya hanya dalam kadar objek sebagai pelaku. Perbedaannya jelas pada sisi eksplorasi estetik tentang objek demonstrasi itu. Adanya visualisasi gambar yang menyoal rebutan suara, orang-orang yang terluka secara sosial-politik, tentu saja mempunyai kaitan dengan ranah eksplorasi seputar estetika demonstrasi. Ekspresi Jemek Supardi yang berteriak namun seolah sia-sia itu bukankah merupakan perpanjangan idealisasi visual tentang demonstrasi? Belum lagi jika mencermati lukisan saya yang berobjek tentang megapon, topeng-topeng, atau lainnya yang merujuk pada idiom seputar demonstrasi.

Saat ini boleh dikatakan bahwa tema-tema surealistik tidak sebanyak era dahulu. Mudah-mudahan apa yang saya pamerkan kali ini cukup bisa menjadi garis penegas bahwa objek lukisan yang saya tekuni sekarang merupakan pilihan yang mempunyai spesifikasi tertentu. Sepanjang saya mengikuti perkembangan visual pencapaian estetik seni rupa Indonesia, menjatuhkan pilihan berupa objek demo tergolong tidak biasa digambar orang. Itulah salah satu wujud wilayah kreatif yang menurut saya sangat perlu dieksplorasi lebih mendalam sebagai identitas estetik yang khas. Bukankah hal itu cukup jarang atau tidak biasa diekspresikan sebagai karya seni? Jadi, saya memilih aspek cara ucap tanda-tanda visual tentang demo bukanlah sebuah keserta-mertaan yang tanpa landasan proses.

Buat saya, aspek pengalaman empiris haruslah digarap sebagai fokus yang tak ada habisnya. Bolehlah kalau dikatakan bahwa dengan melihat karya saya juga merupakan apresiasi terhadap keberagaman ideologi. Anggap saja sebagai satu bentuk tamasya ideologi kerakyatan. Misalnya saja, paham Karl Marx yang sosialis terepresentasikan juga di dalam karya saya. Jika kita mengritisi pemikiran Karl Marx memang ia tetap menjunjung tinggi agar kehidupan demokrasi yang terbangun tidaklah anarkhis. Berbeda dengan jika kita mengritisi pemikiran ideolog lainnya di luar Karl Marx yang seringkali justru menyarankan agar dalam kehidupan demokrasi justru menggunakan sisi kekerasan guna mencapai cita-cita tertentu.

Nah, dalam konstelasi semacam itu maka di manakah letak arti substansial terhadap ungkapan suara rakyat adalah suara Tuhan?

Friday, August 07, 2009

Gelembung Harapan





Oleh Kuss Indarto

(Teks ini dimuat dalam katalog pameran "Up & Hope", di D'Peak Art Space, 8-27 Agustus 2009. Foto karya Budi "Swiss" Kustarto, Ketika Itu, 2009)

[Pertama]: “Mengenang” Booming
Masa-masa boom seni rupa yang hingar-bingar tampaknya luruh sudah. Masa bulan madu pada kurun 2007-2008 yang menghinggapi para perupa di kawasan Asia itu—tentu termasuk perupa Indonesia di dalamnya—banyak memberi guncangan yang terasa cukup fenomenal. Pada beberapa segi bisa pula dikategorikan sebagai “keajaiban” karena banyak hal belum pernah terjadi sebelumnya, seperti melesatnya harga karya seorang seniman yang jauh di atas perkiraan.

Fenomena tersebut, yang bisa terlacak dari deretan angka-angka, menyeruak dari rumah-rumah lelang yang bertebar di seantero jagad. (Tentu saja menyebut data kuantitatif yang berasal dari balai lelang terkadang bisa diasumsikan memberi bias pemahaman oleh sebagian kalangan karena diduga mereduksi beberapa hal yang substansial berkait dengan seni, yakni soal nilai-nilai). Kita bisa menyimak dan menyuplik banyak data dalam Contemporary Art Market 2007/2008 (Artprice Annual Report) yang dirilis pada pertengahan 2009 oleh lembaga Artprice dan FIAC yang berkedudukan di Paris.

Dari laporan itu, di antaranya bisa diketahui ada 9 nama perupa kontemporer Indonesia yang masuk dalam deretan 500 Besar seniman dunia yang karyanya terjual dengan harga tertinggi di bursa lelang, yakni I Nyoman Masriadi (berada di urutan 41), Agus Suwage (122), Rudi Mantovani (142), Putu Sutawijaya (152), Yunizar (176), Handiwirman Saputra (250), Budi Kustarto (316), Jumaldi Alfi (384), dan M. Irfan (481). Nama-nama itu menyeruak di antara sekitar 160-an seniman papan atas China, antara lain Zhang Xiaogang, Zeng Fanzhi dan Yue Minjun yang masing-masing berada di urutan kelima, 6 dan 7. Mereka juga menyelip di antara nama-nama perupa kelas dunia dewasa ini yang publik secara bersama telah mafhum kualitas pencapaian estetiknya, seperti Jeff Koons, Jean-Michel Basquiat, Damien Hirst, serta Richard Prince yang secara berurutan berada di deretan pertama, 2, 3 dan 4.

Dalam “kerumunan” itu juga tercetak nama-nama besar lain yang karya-karyanya begitu penting dan berpengaruh dewasa ini, seperti Takashi Murakami yang berada di urutan 8, Keith Haring (16), Anish Kapoor (18), Rudolf Stingel (20), Yoshitomo Nara (21), Banksy (22), Anselm Kiefer (25), Cindy Sherman (26), Gilbert & George (28), Julian Schnabel (47), dan ratusan nama top lain. Ada belasan nama seniman India juga Jepang di dalamnya. Termasuk pula beberapa gelintir nama seniman Korea, Taiwan, Pakistan, Thailand, Filipina, dan lainnya. Dengan berderetnya ratusan nama seniman Asia dalam daftar 500 Besar seniman terlaris di dunia itu, kekuatan kualitas karya seniman Asia tampaknya mulai diapresiasi dengan baik, meski tetap dengan dugaan kontroversinya. Misalnya dugaan adanya konspirasi para pemilik modal China yang mengangkat keberadaan seniman China lewat kekuatan kapitalnya. Entahlah, barangkali “politik kesenian” seperti ini juga terjadi pada kasus yang serupa dengan kecenderungan pem-Barat-an seni rupa untuk menghegemoni seluruh kekuatan seni rupa dunia.

Apapun, entah itu bagian dari kekuatan yang dikonstruksi lewat konspirasi ataupun berlangsung dengan “alamiah”, faktanya, kekuatan pasar seni rupa di Asia telah merangsek dengan sangat mencengangkan. Gelembung pasar seni (buble market) yang kian membesar dalam kurun boom 2007-2008 telah menghasilkan realitas yang tak bisa dielakkan, yakni: 10 Besar negara di dunia yang memiliki balai lelang terlaris, 5 negara di antaranya berada di Asia. Amerika Serikat—masih menurut Contemporary Art Market 2007/2008 (Artprice Annual Report)—menempati level utama dengan mengeruk hasil penjualan hingga menyentuh 348 juta Euro dari seluruh balai lelang yang beroperasi di sana. Berikutnya berturut-turut adalah Inggris (262 juta Euro), China (259 juta), Prancis (15 juta), Taiwan (14 juta), Singapura (13 juta), Italia (10 juta), Jerman (6 juta), Uni Emirat Arab (4) juta, dan Jepang (3 juta). Data ini sedikit banyak telah memberi indikasi yang tegas akan kuatnya geliat pertumbuhan pasar (lelang) seni rupa di dunia, sekaligus luruhnya dominasi pasar Eropa dan Amerika Serikat atas kawasan lain yang telah berlangsung selama puluhan tahun. Dengan asumsi angka penjualan sebesar 641 Euro juta pada negara-negara Amerika Serikat dan Eropa (yang masuk 10 Besar) berbanding 293 juta pada negara-negara di Asia(yang juga masuk 10 Besar), maka dengan kentara mempertontonkan potensi yang besar bagi kekuatan Asia, terutama China, untuk membalikkan posisi dengan mendominasi pasar seni rupa pada kurun waktu 10-15 tahun ke depan.

Potensi ini juga dapat ditengarai oleh kekuatan lain yang mendukung dugaan dominasi pasar tersebut, yakni berdayanya balai lelang dalam menyerap pasar. Pada masa booming 2007-2008 yang lalu diketahui bahwa ada 10 balai lelang terkuat di dunia berdasar besaran angka penjualan tertinggi. Dua peringkat teratas masih dihegemoni oleh dua legenda balai lelang karya seni dari kekuatan “Anglo-Saxon”, yakni dua Titan yang selalu bertarung saling mengalahkan: Sotheby’s dan Christie’s. Sementara 6 dari 10 Besar balai lelang berpengaruh di dunia sekarang berada dan dimiliki oleh para pemodal (di) Asia, yakni Poly International Auction Co.,Ltd yang konon sahamnya dimiliki oleh lembaga militer pemerintah China, lalu China Guardian Auctions Co., Ltd., Borobudur Chinese Contemporary Auction Ptd.Ltd., Ravenel Art Group, Zhong Cheng Auctions Co.Ltd, Shanghai Hosane Auction Co., Ltd., dan Beijing Council International Auctions. Detil data atas balai lelang berikut angka-angka perolehan dalam tahun 2008 dapat disimak dalam tabel di bawah ini:

Peringkat Balai Lelang Perolehan Tahun 2008
1 Sotheby’s € 14,536,000
2 Christie’s € 14,403,900
3 Phillips de Pury & Company € 8,706,150
4 Poly International Auction Co.,Ltd € 7,189,350
5 China Guardian Auctions Co., Ltd. € 6,791,400
6 Borobudur Chinese Contemporary Auction Ptd.Ltd. € 5,721,540
7 Ravenel Art Group € 5,712,374
8 Zhong Cheng Auctions Co.Ltd € 5,452,460
9 Shanghai Hosane Auction Co., Ltd. € 5,159,200
10 Beijing Council International Auctions € 4,663,950

Sumber: Contemporary Art Market 2007/2008 (Artprice Annual Report), p. 18

Kilasan informasi di atas memberi sepercik gambaran atas situasi pasar global yang berkembang pada kurun buble market ketika beberapa “keajaiban” terjadi. Angka-angka itu bisa saaja tidak cukup akurat, namun secara umum pasar bergejolak secara positif, dan Asia (terutama China) dengan meyakinkan merangsek naik menjadi kekuatan pasar seni rupa dunia yang pantas dicermati oleh pemilik hegemoni, Eropa dan Amerika Serikat.

Namun fenomena tersebut memang masih betul-betul menjadi tanda tanya besar, seperti halnya buble sabun yang gampang menggelembung namun juga dengan singkat meletus dan lenyap tanpa sisa. Ini ditengarai oleh situasi ekonomi global yang tiba-tiba redup dengan drastis pada pertengahan 2008. Kondisi euforia pasar seni yang melambung mengawang-awang, tiba-tiba seperti dihempaskan jatuh dari keadaan semula. Banyak pihak memberi penanda atas gejala berputarnya situasi pasar ini pada kurun Oktober 2008 yang disebut sebagai “Black October”. Setelah “berpuncak” pada peristiwa pelelangan karya Damien Hirst di Sotheby’s London tanggal 15-16 September 2008, selanjutnya pasar bergerak turun secara signifikan. Bila sebelumnya angka-angka hasil pelelangan bergerak pada kisaran 80%, maka pada bulan Oktober menukik tajam. Semua turun drastis! Sotheby’s hanya mampu mencatat angka 27%, Christie’s hanya mencapai 45%, dan Phillips de Pury & Company tak lebih dari 46%.

Dan selanjutnya bisa ditebak. Dengan cepat kondisi ini bergerak dengan gegas untuk lalu menular kemana-mana, termasuk di Indonesia, hingga kini. Dan bersama-sama publik belum tahu, sampai kapan situasi paceklik seperti ini akan berlangsung.

[Kedua]: Booming dan Implikasinya
Di seberang surutnya masa-masa penuh hingar-bingar dalam pasar seni rupa, tampaknya, banyak persoalan yang bisa ditimba. Booming seni rupa yang sempat berlangsung sekitar 2 tahun terakhir ini telah memberi pengantar publik seni rupa atas ragam tema perbincangan—dengan segala risiko dan pro-kontra yang nyaris selalu menyertainya. Dalam kajian budaya popular, realitas ini tidak bisa dilepaskan dari pandangan terhadap hakikat kebudayaan itu sendiri yang bergantung pada konteks produksi dan distribusinya, serta juga pada konteks konsumsi dan resepsinya. Dalam pemahaman yang lebih meluas atas hal tersebut, beberapa hal bisa ditengarai sebagai “isu” perbincangan.

Pertama—dan yang paling mengemuka tentu saja—adalah masalah angka-angka rupiah yang berdenting dengan deras di gendang telinga. Ini menjadi “wacana” (!) tersendiri yang penuh hingar-bingar di tengah kerapnya frekuensi pameran yang kian tak terbendung jumlahnya. Ihwal angka-angka itu, tentu kita telah jamak mengikuti dari beragam media, termasuk “media” gosip antar-kawan, antar-seniman di sekitar kita. Ada yang berujung pada problem paradigmatik yang menyoal uang sebagai alat ukur utama dalam membincangkan problem seni rupa. Di samping ada pula yang yang menyoal problem pasar dan uang sebagai bagian yang bersifat komplementer (bukan primer) bagi progres wacana kreatif dalam seni rupa. Artinya, dengan berkurangnya hamburan denting rupiahpun, sebenarnya, jagad seni rupa tidak akan terpengaruh untuk tetap berupaya bergerak mencari dan menemukan kebaruan-kebaruan.

Kedua, bergesernya problem kontemporerisme di tengah-tengah publik seni rupa. Publik tiba-tiba digayuti oleh sebuah pemahaman “definitif” yang “baru” bahwa seni rupa kontemporer adalah karya seni lukis yang mengacu pada kecenderungan visual dari karya para seniman yang berproses di China (daratan). Penyempitan pemahaman ini—meski naif dan konyol—telah sedikit menggeser pemahaman yang sebelumnya juga diasumsikan tidak kalah sempitnya, yakni bahwa karya seni rupa kontemporer adalah karya-karya dengan medium di luar seni lukis yang banyak diperkenalkan oleh Cemeti Art House selama bertahun-tahun sebelumnya. Saya kira—tanpa tendensi apapun—fakta ini menarik karena mengentalnya penunggalan paham yang dikemukakan oleh Cemeti itu sedikit demi sedikit luluh justru oleh kekuatan pasar dan masyarakat penyangganya. Bukan oleh pemilik sistem pewacanaan yang berpotensi untuk membangunnya, misalnya kampus atau akademisi seni. Saya harus menegaskan bahwa Cemeti Art House tak salah ketika dia mencoba mengonstruksi dirinya hingga menjadi sosok yang kuat dan mumpuni. Namun ketika dia (diasumsikan oleh publik) menjadi pusat pembenaran dan pemahaman atas “seni rupa kontemporer”, itu menjadi persoalan, karena kemudian berpotensi menciptakan pusat dan bukan pusat. Maka, pola partnership dalam proses pewacanaan seni rupa dimungkinkan terjadi.

Ketiga, adanya anggapan yang kuat bahwa booming seni rupa telah berpotensi mendangkalkan pencapaian kreatif para seniman. Tak banyak pencapaian estetik atau kreatif yang sangat signifikan di tengah laju pasar uang yang bergelimang saat booming menggejala. Seniman tak lagi banyak “menemukan”, namun sekadar “mereproduksi” atau “mengulang-ulang” karya kreasinya. Ini bisa jadi hanya asumsi dari kalangan yang cukup berseberangan dengan kekuatan pasar, atau memang sesungguhnya benar-benar tak banyak pencapaian kreatif yang kuat di kalangan seniman. Bahwa kuantitas pameran berlangsung kian banyak itu merupakan fakta. Namun ihwal peningkatan kualitas karya kreatif, perlu pengkajian lebih lanjut.

Lalu, apakah dengan surutnya booming sekarang ini, akan sangat berpengaruh pada situasi kreatif seniman dalam berkarya? Apakah pencapaian kreatif akan makin menguat karena seniman tidak lagi banyak digoda oleh helaan kepentingan pasar? Apakah eksperimen kreatif pada diri seniman senantiasa berjarak dengan soal yang berbau uang atau kapital?

[Ketiga]: Menera(p)kan Harapan
Dengan banyak mempertimbangkan realitas di atas, maka perhelatan pameran ini dibuat. Pameran Up & Hope merupakan sebuah upaya “ringan” dan tak begitu mengikat bagi pembacaan, pengharapan, sekaligus juga penilaian seniman dalam melihat situasi dunia kreatif (dan segala rentetan dampak ikutannya) setelah booming seni rupa 2007-2008 berakhir. Seniman peserta pameran ini diharapkan bisa memberi apresiasi sedikit lebih jelas, dengan caranya sendiri tentang situasi setelah booming ini. Dengan demikian, sebenarnya praktik kuratorial ini tidak mencoba mengintervensi lebih jauh terhadap seniman dalam melakukan eksekusi karya secara lebih ekstrem. Justru pendalaman atas tema-tema yang selama ini digeluti oleh seniman ini yang akan bisa digali lebih lanjut. Dari kecenderungan yang telah biasa dibuat oleh seniman peserta itulah lalu tema Up & Hope ini diletakkan, didalami, dan bisa disubversi. Sebagai salah satu kurator, saya memiliki banyak ekspektasi terhadap para perupa untuk mampu memberi pengayaan atas gagasan kuratorial ini dalam pengaplikasiannya secara visual.

Upaya ini menjadi menarik sekaligus berisiko karena mengajak sekian banyak seniman peserta dengan beragam pengalaman mereka. Ada yang telah terbiasa berpameran dengan keketatan tema kuratorial. Ada pula seniman yang sama sekali tak peduli dengan apapun tema kuratorial itu disodorkan. Ada lintas generasi antar-seniman peserta yang sedikit banyak memberi garis “pemetaan awal” untuk menyodorkan hipotesis atas pola pemikiran seniman dalam menyikapi problem kreatif dan ekstra-estetika yang diimplementasikannya dalam karya. Atas rentetan karya yang terpajang dalam pameran ini, publik—setidaknya saya secara pribadi—masih tetap berasumsi kuat bahwa para seniman ini tidak sekadar memposisikan dirinya sebagai homo aestheticus yang “sekadar” menggapai-gapai tangannya dalam kerangka kreatif atau estetik. Namun juga berpotensi sebagai homo socius atau makhluk sosial yang berkemungkinan untuk membaca tanda-tanda zaman yang berkelebat di ruang sosial yang bisa jadi berada di seberang lingkup disiplin dirinya sebagai seniman.

Berpijak dari pemahaman dan ekspektasi ini, publik bisa menyimak karya Reach Out yang dikreasi oleh Ugy Sugiarto. Seniman otodidak asal Wonosobo, Jawa Tengah ini tidak sekadar menerakan jejak artistiknya yang memukau lewat kemampuan melukis secara hiper-realistik, namun juga menampakkan intensinya pada problem sosial yang masih saja aktual di tengah-tengah banyak problem sosial kemasyarakatan di negeri ini. Karya Reach Out yang mengambarkan citra tangan kanan yang seolah menyembul keluar dari lumpur dan tampak antara menggapai dan hendak mencakar. Ini dengan lekas mengingatkan publik pada para korban Lumpur Lapindo yang mulai Juni 2006 hingga sekarang tak putus dirundung bencana buatan manusia. Bahkan terus menambah areal bencana dan korban. Malah secara sistematis media (bahkan mungkin didukung oleh negara) menafikkan persoalan dengan menggeser terminologi kasus tersebut dari Lumpur Lapindo menjadi Lumpur Sidoarjo, untuk merujuk pada lokus dimana bencana itu berada, bukan pada lembaga apa penyebabnya. Tangan berlumpur pada karya Ugy bagai sebuah resistensi untuk menggapai-gapai harapan. Ugy, saya kira, menjadi satu di antara sekian banyak perupa dalam pameran ini yang menggali problem sosial sebagai salah satu sandaran bagi proses kreatifnya.

Sementara deretan lain, ada karya Masih Ada Jalan Keluar yang dikreasi oleh I Made Widya Diputra a.k.a. Lampung. Ini merupakan satu dari sekian banyak perupa muda yang masih bersetia untuk menyuntuki aspek lirisisme dalam karya rupa. Dalam lirisisme ini segi kebentukan, komposisi, keseimbangan antar-obyek visual yang berada di dalamnya diberi porsi yang amat memadai, bahkan melampaui problem substansi karya yang menyoal tema di seberang aspek visual. Dan memang di situlah aspek lirisisme itu bergerak: mencari substansi lewat dan bersama kekuatan dunia (ke)bentuk(an). Saya menduga karya Lampung ini seperti meneruskan kontinuitas abstrak ekspresionime ala perupa Bali yang berproses di Yogyakarta yang amat popular sekitar satu dasawarsa lalu. Pola abstrak ekspresionisme yang dominan terpotong oleh beragamnya pilihan-pilihan kreatif muncul oleh dinamika seni rupa di Yogyakarta, juga oleh kebuntuan corak kreatif itu sendiri.

Tajuk karya Lampung seolah memberi indikasi bagi kesenimanannya yang berupaya menyusup dan mencari jalan keluar atau solusi bagi pencapaian dan kebaruan yang dimungkinkan terjadi. Karya Lampung tak sekadar menarik dari sisi visual karena kemampuannya untuk menaklukkan ragam material, namun juga karena secara “moral” bisa memberi pengayaan atas dunia bentuk pada keseluruhan karya dalam pameran ini. Setidaknya, selama ini, publik seni rupa terus diterpa oleh beberapa “trend” visual yang menarik namun juga sangat dikhawatirkan cukup “menyesatlan”. Belum lama berselang masyarakat seni rupa Indonesia digelontori oleh “air bah” lukisan ala “seni rupa kontemporer China” yang diimpor ke sini dan lalu diadaptasi, direpetisi bahkan dipindahkan secara “mentah-mentah” oleh banyak perupa Indonesia. Kemudian, ketika itu mulai surut, sekarang ini, ada “trend” merebaknya lukisan “street art” yang merujuk pada karya-karya bercorak graffity, stencil art, raw art, dan sebagainya yang bahan referensinya dengan mudah dijumput di dunia maya. Semuanya “mudah”, semuanya tiba-tiba menjadi “trend” dan menguasai garis pewacanaan bahwa seolah-olah itulah yang terdepan dan termutkahir pencapaiannya. Inilah bagian kecil dari ritus seni yang selalu bergerak mendinamisasikan dirinya. Ada yang bergerak alamiah, ada pula yang dikontruksi dengan implikasi untuk (terkadang) menggeser bahkan meniadakan yang lain. Inilah sebuah risiko.

Pameran ini saya kira berupaya untuk menumbuhkan dan merayakan optimisme bagi menguatnya keberagaman dalam seni rupa. Pasar yang melemah akan tetap dirayakan dengan pencapain-pencapaian kreatif yang terkadang lalai diagendakan ketika booming tiba. Harapan, memang, harus selalu dibangkitkan.