Friday, July 25, 2014

Jokowi dan Seni(man)


Oleh Kuss Indarto

Jokowi-JK resmi terpilih sebagai Presiden dan Wakil Presiden RI periode 2014-2019. Setelah membaca pidato kemenangan (selengkapnya silakan baca di bagian bawah) yang dibacakan oleh Jokowi di atas geladak kapal pinisi “Hati Buana Setia” di Pantai Sunda Kelapa, ada beberapa hal yang bisa dicermati:

(1) Jokowi-JK ingin menjalankan roda pemerintahan dengan baik tanpa banyak dijegal oleh lawan politiknya. Maka dia mengucapkan terima kasih mengapresiasi Prabowo-Hatta Rajasa sebagai “sahabat dalam kompetisi politik”, BUKAN seperti yang telah diucapkan oleh Prabowo dalam wawancaranya dengan BBC beberapa waktu lalu yang menyebut Jokowi sebagai “enemy” (musuh), bukan “rival” (pesaing), apalagi “sahabat”.

(2) Jokowi menyebut dengan tegas bahwa Pemilu/Pilpres kemarin bukan hanya “sebagai sebuah peristiwa politik semata-mata, tetapi peristiwa kebudayaan”. Ini memberi indikasi yang kuat bahwa era pertarungan politik ke depan akan memberi porsi yang besar pada masalah etika untuk hidup bersama, bukan perebutan kekuasaan semata. Maka, problem politik ke depan diduga akan dikerangkai oleh pemerintahan Jokowi sebagai upaya untuk memberi penguatan nilai-nilai sosial budaya (budi dan daya), bukan sekadar pencapaian angka-angka ekonomis tapi memundurkan problem etis. Untuk apa bangsa maju secara ekonomi tapi problem etika moral remuk.

(3) Untuk pertama kalinya (seingat saya), seorang presiden RI memberi pidato kemenangan dengan menyebut “pekerja budaya dan seniman” sebagai kelompok yang diberi ucapan terima kasih. Bagi saya ini poin yang serius bahwa disiplin seni (budaya) akan diberi porsi yang lebih banyak dan lebih baik lagi oleh pemerintahan Jokowi sebagai bagian penting dari penyangga dinamika kehidupan bermasyarakat dan berbangsa. Ini sebagai turunan (derivate) lebih lanjut dari konsep Trisula ajaran Bung Karno yang salah satunya mendambakan Indonesia “berkepribadian secara kebudayaan”.

Jokowi-JK, mari bersama menjadikan Indonesia Hebat!

Berikut ini:
PIDATO KEMENANGAN Joko Widodo – Jusuf Kalla

“SAATNYA BERGERAK BERSAMA”

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,
Salam Damai Sejahtera untuk kita semua,
Om Swastiastu,
Namo Buddhaya

Saudara-saudara sebangsa dan setanah air,

Komisi Pemilihan Umum Republik Indonesia telah menetapkan kami berdua, Joko Widodo dan Jusuf Kalla sebagai Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia terpilih 2014 - 2019.

Pertama-tama, saya mengucapkan terima kasih dan penghargaan tinggi kepada bapak Prabowo Subianto dan bapak Hatta Rajasa yang telah menjadi sahabat dalam kompetisi politik untuk mendapatkan mandat rakyat untuk memimpin negeri ini lima tahun ke depan.

Saudara-saudara sebangsa dan setanah air,

Kemenangan ini adalah kemenangan seluruh rakyat Indonesia. Saya berharap, kemenangan rakyat ini akan melapangkan jalan untuk mencapai dan mewujudkan Indonesia yang berdaulat secara politik, berdikari secara ekonomi dan berkepribadian secara kebudayaan.

Namun, dalam beberapa bulan terakhir, perbedaan pilihan politik seakan menjadi alasan untuk memisahkan kita. Padahal kita pahami bersama, bukan saja keragaman dan perbedaan adalah hal yang pasti ada dalam demokrasi, tapi juga bahwa hubungan-hubungan pada level masyarakat adalah tetap menjadi fondasi dari Indonesia yang satu.

Dengan kerendahan hati kami, Joko Widodo dan Jusuf Kalla, menyerukan kepada saudara-saudara sebangsa dan setanah air untuk kembali ke takdir sejarahnya sebagai bangsa yang bersatu; bangsa yang satu, bangsa Indonesia. Pulihkan kembali hubungan keluarga dengan keluarga, tetangga dengan tetangga, serta teman dengan teman yang sempat renggang.

Kita bersama sama bertanggung-jawab untuk kembali membuktikan kepada diri kita, kepada bangsa-bangsa lain, dan terutama kepada anak-cucu kita, bahwa politik itu penuh keriangan; politik itu di dalamnya ada kegembiraan; politik itu ada kebajikan; politik itu adalah suatu pembebasan.

Saudara-saudara sebangsa dan setanah air,

Pemilihan Umum Presiden kali ini memunculkan optimisme baru bagi kita, bagi bangsa ini. Jiwa merdeka dan tanggung jawab politik bermekaran dalam jiwa generasi baru. Kesukarelaan yang telah lama terasa mati suri kini hadir kembali dengan semangat baru. Pemilihan Umum Presiden telah membawa politik ke sebuah fase baru bukan lagi sebagai sebuah peristiwa politik semata-mata, tetapi peristiwa kebudayaan. Apa yang ditunjukkan para relawan, mulai dari pekerja budaya dan seniman, sampai pengayuh becak, memberikan harapan bahwa ada semangat kegotong-royongan, yang tak pernah mati.

Semangat gotong royong itulah yang akan membuat bangsa Indonesia bukan saja akan sanggup bertahan dalam menghadapi tantangan, tapi juga dapat berkembang menjadi poros maritim dunia, locus dari peradaban besar politik masa depan.

Saya hakkul yakin bahwa perjuangan mencapai Indonesia yang berdaulat, Indonesia yang berdikari dan Indonesia yang berkepribadian, hanya akan dapat tercapai dan terwujud apabila kita bergerak bersama.

INILAH SAATNYA BERGERAK BERSAMA!

Mulai sekarang, petani kembali ke sawah.

Nelayan kembali melaut
Anak kembali ke sekolah.
Pedagang kembali ke pasar.
Buruh kembali ke pabrik.
Karyawan kembali bekerja di kantor.

Lupakanlah nomor 1 dan lupakanlah nomor 2, marilah kembali ke Indonesia Raya.

Kita kuat karena bersatu, kita bersatu karena kuat!

Salam 3 Jari, Persatuan Indonesia!

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Om Shanti Shanti Shanti Om,
Namo Buddhaya

Merdeka!!! Merdeka!!! Merdeka!!!

Joko Widodo – Jusuf Kalla
22 Juli 2014

Wednesday, July 16, 2014

Elek Ning Jero

(Pengantar singkat untuk buku kumpulan kartun Prie GS., "Indonesia Tertawa", 2014) 

SALAH satu maestro seni rupa Indonesia, almarhum H. Widayat, saat masih mengajar di kampus Fakultas Seni Rupa, Institut Seni Indonesia (FSR ISI) Yogyakarta, sering membuat keder mahasiswa. Apalagi kalau mengritik karya-karya lukis para mahasiswanya. Tak jarang, saat menghadapi lukisan yang tidak menarik secara artistik dan estetik (baginya), pak Widayat langsung bertanya, “Ini lukisan siapa? Maunya apa?” Sang mahasiswa empunya lukisan tersebut dengan antusias bergegas menjawab, “Karya saya, pak!” Pak Widayat hanya berkomentar pendek: “Elek we durung, mas!” (Jelek saja belum, mas!) Seperti biasa, ledakan tawa seperti nyaris meruntuhkan tembok kelas mendengar komentar sang dosen itu. Dan dari titik momentum tersebut pak Widayat biasa memberi argument dan dalih atas komentarnya.

Sejujurnya, saya juga punya komentar serupa ketika menyaksikan karya-karya kartun mas Prie GS yang terhimpun dalam buku ini. Goresannya: “elek we durung!” Sejak pertama kali lihat puluhan tahun lalu hingga karyanya yang mutakhir, kartun-kartun mas Prie—secara artistik—kurang berkembang. Lalu, apa kelebihannya? Bagi saya, kenyataan bahwa karya-karyanya yang masih “elek we durung” itu seperti disadari dan dipahami sebagai bagian penting dari proses sekaligus tujuan kreatifnya, sehingga rute utama yang harus dilalui adalah konsisten pada “elek we durung”. Output dari proses kreatifnya berupa kartun dengan garis yang linier, monoton, seenaknya tapi kurang plastis-elastis, dikukuhi hingga bertahun-tahun pada ratusan bahkan mungkin ribuan karya. Ini mengingatkan kita pada kartunis Ranan Lurie dengan arsiran pada karyanya yang tegas tapi kaku. Dan ini, yang terjadi pada Pris GS, terus dilakukan dengan konsistensi yang terjaga, dengan mental nekad a.k.a. mburok a.k.a. mbonek. Hasilnya adalah identitas atau ciri khas yang berbeda dengan karya kartunis yang lain. Memang karya kartunnya tidak sangat orisinal—seperti halnya di dunia ini nyaris tak ada yang baru dan orisinal. Tapi ketika menyimak dan membandingkan dengan karya dilingkungannya, maka identitas kartun yang “prie gs banget” terasa betul. Beda jauh dengan (minimal) kartunis seputar Semarang seperti Koesnan Hoesie, Slamet Widodo, dan sekian banyak nama kartunis yang merimbun di kawasan itu.

Ini tentu kalau menyimak dari sisi visualnya, karena pada karya seni rupa (termasuk kartun atau komik termasuk di dalamnya) ada dua hal penting dan mendasar yang bisa disimak: dunia bentuk dan dunia gagasannya, dunia visual dan dunia substansialnya. Lalu, ada apa dan bagaimana dengan dunia substansi karya kartun dari kartunis yang juga cerewet sebagai motivator ini?

Saya melihat bahwa kartun-kartun Prie GS ini, terkhusus yang berlabel “Cantrik” yang dimuat periodik seminggu sekali di harian “Suara Merdeka”, Semarang, seperti miniatur dari pikiran-pikiran usil kartunisnya. Mungkin juga sikap kritis atau sikap politiknya. Dalam “Cantrik”, seperti biasa, ditampilkan struktur cerita yang sederhana yang dipindahkan dari realitas sosial yang tengah aktual terjadi. Oleh Prie digubah sebagai “realitas kartun” dalam beberapa panel sederhana. Ada fakta yang ketengahkan ulang, lalu dijelaskan lebih lanjut lewat dialog antartokohnya, dan diakhiri pada panel terakhir dengan punch berupa kata atau kalimat kunci yang lucu, pedas, nyinyir atau sinis.

Pola ini standar. Namun Prie mampu dan sering membuat punch dengan baik. Standar baik pun bisa bermacam-macam, antara lain lucu, sinis menyengat, atau penuh endapan filosofi. Tapi tokoh “Cantrik” yang disodorkan tak jarang justru mengajak untuk menertawakan kenaasan yang menimpa. Pada titik inilah, sebenarnya, Prie seperti membongkar salah satu nilai terdalam dari sisi kemanusiaan kita: tega mengorek luka sendiri berarti siap lahir batin menjadi manusia yang penuh. Pada level inilah karya Prie berpotensi “elek ning jero”, jelek tapi dalam. *** 

Kuss Indarto, pensiunan kartunis, dan angota Dewan Kurator Galeri Nasional Indonesia 2009-2014.

Wednesday, July 09, 2014

Kesederhanaan dalam Ujian Konsistensi Artistik

DALAM pelataran sejarah, publik telah menengarai bahwa seni lukis abstrak telah lama mengemuka sebagai bagian penting dari dinamika seni rupa. Robert Atkins dalam ARTSPEAK: A Guide to Contemporary Ideas, Movements, and Buzzwords (1990) memberi peta kecil bahwa seni lukis abstrak telah muncul dan dipioniri oleh tiga sosok penting, yakni Wassily Kandinsky yang beproses di Munich, Jerman, dan Frantisek Kupka serta Robert Delaunay di Paris, Perancis. Pada rentang waktu yang nyaris bersamaan, yakni antara 1913-1916, tokoh constructivist Rusia, Vladimir Tatlin mengkreasi bentuk-bentuk relief abstrak yang dianggap sebagai pencapaian baru.

Dalam perkembangannya, sekira tahun 1940-1950, setidaknya yang bisa ditapaki jejaknya di Amerika Serikat, tidak sedikit seniman yang masuk dan suntuk dalam kesadran kreatif abstract expressionism. Ada banyak nama yang membawa arus ini seperti William Baziotes, Adolf Gottlieb, Philip Guston, Franz Kline, Lee Krasner, Robert Motherweli, Barnett Motherwell, Barnett Newman, Clyfoord Still, Mark Tobey, hingga para bintangnya yang cemerlang seperti Willem de Kooning, Jackson Pollock, dan Mark Rothko.

Dalam konteks seni rupa Indonesia, publik telah mafhum dengan para pioner yang banyak bergerak dari beberapa kawasan geografis atau pun muasalnya, entah otodidak maupun akademik. Lembaga pendidikan seni rupa di Institut Teknologi Bandung dianggap sebagai laboratorium seni rupa Barat yang kemudian diidentikkan, antara lain, dengan "produsen" seni rupa abstrak. Dari situ kemudian muncul nama seperti Ahmad Sadali dan sederet nama lain di belakangnya. Di kawasan lain muncul nama Nashar, OE (Oesman Effendi), dan lainnya. Di Yogyakarta, di tengah kerumunan para perupa yang sangat suntuk dengan karya-karya figuratif, menyeruak nama Fadjar Sidik yang menjadikan abstrak sebagai pilihan kreatifnya.

Kata abstrak ini sendiri, kalau dimasukkan dalam konteks gejala seni rupa, setidaknya terpilah dalam dua hal yang cukup berseberangan, yakni abstrakisme dan abstraksionisme. Hal pertama, abstrakisme—pengertian sederhananya—adalah gaya dalam lukisan yang meniadakan ilusi-ilusi bentuk dalam kanvas, sementara abstraksionisme lebih mengacu pada karya seni abstrak yang masih menyisakan citra obyek yang menjadi titik berangkat karya lukisan.

Menyimak karya-karya Richard Meyer yang terpapar dalam pameran tunggalnya ini, saya kira, kita tidak masuk dalam belantara kotak abstrakisme atau abstraksionisme yang teramat ketat. Karya-karyanya mencoba ulang-alik antara keduanya meski pada kurun waktu tertentu dia ketat dalam pilihan kreatif yang menunggal. Pengalaman panjangnya sebagai sosok yang berada cukup dekat secara geografis dengan salah satu pusaran perkembanagan seni lukis modern dunia, terutama seni lukis abstrak di Amerika memungkinkan bagi dirinya untuk menyuntuki dan menganalisis apa yang telah dilihatnya untuk kemudian melakukan "pengingkaran" terhadapnya.

Meyer terasa berupaya keras untuk melakukan "pengingkaran" atas kecenderungan visual seni lukis abstrak yang ada di sekitarnya, terutama saat tinggal di negaranya. Maka, inilah deret buah permenungan sekaligus pencariannya untuk menghindari dominasi pikirannya tentang abstrakisme atau pun abstraksionisme yang terserak banyak di sekitarnya. Maka, sebenarnya, pilihan kreatif Meyer memang tidaklah baru, seperti halnya tidak ada yang orisinal di maka jagad ini. Namun, tampaknya ada cercah konsistensi atas pilihan kreatif tersebut. Dari konsistensi itulah ruh karya-karya seniman ini dihidupkan.

Ada beberapa karya Meyer yang menarasikan tentang dirinya dalam gubahan visual berupa potret-potret diri yang beragam. Simplisitas goresan dengan meminimalisasi detail menjadikan beberapa karya "jenis" ini cukup kuat dan impresif. Sementara karya-karyanya yang menghadirkan citra tentang sejenis nebula atau pusaran awan cukup "enigmatic" (penuh teka-teki) meski ada satu-dua yang perlu eksplorasi visual untuk meneguhkan kekuatan artistik dan dorongan muatan estetiknya. ***

kuss Indarto, penulis seni rupa. Pengelola situs www.indonesiaartnews.or.id


Catatan pendek ini termuat dalam leaflet untuk mengiringi pameran tunggal Richard Erwin Meyer, "Transposisi", yang berlangsung di NalaRRoepa Ruang Seni, Karangjati, Tamantirto, Kasihan, Bantul, Yogya. Pameran berlangsung 7 Juli-7 Agustus 2014.

Tuesday, July 01, 2014

Berpihak

ENTAHLAH. Aku juga heran, betapa aku begitu antusias dengan Pilpres 2014 ini. Bentuk antusiasku adalah dengan keberpihakan pada capres Jokowi yang memberi banyak harapan perubahan ketimbang capres lainnya. Logika pilihanku berasal dari fakta pencapaian dan prestasi Jokowi, juga komitmennya, setidaknya dalam 10 tahun terakhir.

Aku sama sekali bukan tim sukses atau relawan yang bergerak masif. Tak ada uang sama sekali yang hinggap ke dompetku karena keberpihakanku itu. Tapi aku akan membela keberpihakan ini dengan semampu logikaku. Kalau kelak Jokowi memang, kukira tak perlu mengemukakan pembelaan dan keberpihakan ini pada dunia, apalagi sampai berharap pada konsesi ekonomi atau cipratan kuasa apapun sebagai balas jasa. Maaf, tak akan pernah itu. Sebaliknya, kalau Jokowi kalah, aku akan menghormati siapapun presidennya sebatas dia menang tanpa kecurangan.

Bagiku, dalam situasi seperti ini, keberpihakan lebih bermartabat dan akan mendewasakan diri ketimbang seolah-olah netral (apalagi apatis) namun sebenarnya, diam-diam, hanya cari aman dan menunggu ke mana arah angin hendak bertiup. Pendukung Jokowi (dan Prabowo), selamat berpihak! Mari belajar dewasa untuk mendewasakan Indonesia! ***