Thursday, June 30, 2016

Lampu Kuning untuk Kampus Seni Rupa



Oleh Kuss Indarto

Jarum waktu menuding ke angka 17.22 wib. Dalam sore yang gerah itu, di halaman Galeri R.J. Katamsi, ISI Yogyakarta, pembukaan pameran seni rupa “Ars Longa Vita Brevis”, dimulai. Seorang mahasiswi manis yang berperan sebagai MC mengawali acara formal yang seharusnya—sesuai waktu yang tertera di undangan—dimulai pukul 16.00 wib. Waktu yang molor hingga 1,5 jam tampaknya masih menjadi istiadat yang lazim, bahkan di lingkungan kampus. Sore itu, rektor ISI Yogyakarta, Prof.Dr. M. Agus Burhan M.Hum baru bisa hadir sekitar pukul 17.00 wib karena harus merampungkan sebuah rapat di rektorat. Pun dengan bintang sore itu, Drs. Wardoyo Sugianto dan Drs. Soewardi M.Sn. yang kasip datang. Sementara Dra. Nunung Nurdjanti M.Hum malah berhalangan hadir.

            “Ars Longa Vita Brevis” dihelat sebagai penghargaan dan momentum pelepasan bagi tiga orang dosen Fakultas Seni Rupa, ISI Yogyakarta menuju masa pensiun. Drs. Wardoyo Sugianto (dosen seni lukis) dan Drs. Soewardi M.Sn. (dosen seni patung) telah mengabdi pada almamaternya lebih dari 38 tahun, sementara Dra. Nunung Nurdjanti M.Hum, dosen seni grafis, secara resmi telah purna tugas setelah mengabdi selama 41 tahun. Ketiganya memasuki masa purna tugas antara tahun Juli 2014 dan Agustus 2015 lalu. Namun perhelatan penting berupa “pameran penghormatan terakhir” setelah mengabdi sebagai staf pengajar baru lakukan pada tanggal 20-26 Mei 2016.

            Menurut I Gede Arya Sucitra, S.Sn., M.A., Kepala Galeri R.J. Katamsi, “Tradisi penghormatan dosen yang telah pensiun di lingkungan FSR ISI Yogyakarta ini telah berlangsung beberapa tahun terakhir ini. Hanya saja, tidak dilakukan secara sendiri-sendiri saat dosen bersangkutan purna tugas, tetapi menanti dosen lain yang juga memasuki masa pensiun dalam rentang waktu yang berdekatan”. Sebelum pameran ini dihelat, ada acara lain yang juga dilakukan sebagai penghormatan, yakni pra-pameran berujud melancong bersama-sama para dosen lain ke Blitar. Di salah satu kota di Jawa Timur itu, para dosen antara lain mengunjungi situs kuno Candi Panataran untuk berkarya bersama. Dan hasilnya menjadi materi untuk pameran “Ars Longa Vita Brevis” ini.

            Ada 24 staf pengajar FSR ISI Yogyakarta yang terlibat sebagai peserta pameran ini, mulai dari rektor Prof.Dr. M. Agus Burhan, Dr. Edi Sunaryo, Agus Kamal, Nano Warsono, Andre Tanama, Setyo Priyo Nugroho, hingga Satrio Hari Wicaksono—staf pengajar yang lulusan FSRD Institut Teknologi Bandung. Mereka, sebagian besar, banyak mengeksposisikan karya berupa lukisan, sketsa, drawing hingga fotografi hasil melancong ke Blitar.

            Tajuk pameran “Ars Longa Vita Brevis”—hidup itu pendek, (namun) seni itu abadi—seperti memberi penegasan lain bahwa “berkarya seni itu waktunya pendek, namun seni itu abadi”. Ya, karya seni itu akan menuju ke keabadian kelak. Namun waktu yang dimiliki untuk berkarya seni tak selalu panjang dan melimpah ruah, seperti yang dialami oleh sebagian dosen—bahkan dosen seni rupa di lingkungan ISI Yogyakarta. Pameran ini, juga bila menilik data dan materi yang tertera dalam katalogus, seperti memberi garis representasi atas sepak terjang para dosen yang telah tersita waktunya untuk urusan kepengajaran dan birokrasi, sehingga waktu luang untuk berkarya kian menyempit—untuk tak mengatakan tidak ada. Ini menjadi hal yang ironis di tengah tuntutan pada para mahasiswa untuk terus mengembangakan kreativitas. Ya, bukan hanya “hidup itu pendek”, namun diduga “hidup untuk berkarya seni pun waktunya juga pendek”.

            Wardoyo Sugianto memamerkan karya-karya lukis bertarikh 1979 dan 1999. Selebihnya adalah montage foto-foto parodi dan gojekan (becandaan) yang dibuatnya dengan memanfaatkan kecanggihan Photoshop. Karya lukis bertajuk “Fresh Drink” (cat minyak, 90 x 90 cm, 1999) menawarkan tapak-tapak kejayaan kemampuan teknisnya yang mumpuni dalam menggeluti teknik seni lukis klasik. Wardoyo memiliki kepiawaian menaklukan teknik ini setelah dia selama hampir 2 tahun mendapat beasiswa dari pemerintah Belanda belajar pada Psychopolis Academie voor Bee dende Kunsten, dan melukis klasik (renaissance) pada pelukis Diana Vandenberg di den Haag, Belanda, pada tahun 1982-1983. Sementara dari tema visual, lukisan ini dapat dirujuk sebagai perca dari keriuhan surealisme (khas) Yogya yang sempat booming pada akhir dasawarsa 1980-an hingga awal dasawarsa 1990-an. Sayang sekali tak ada lagi artifak visual yang bisa mempertontonkan lebih kaya dan lengkap atas jejak-jejak kesenimanan Wardoyo. Tampaknya, faktor produktivitas berkarya menjadi persoalan di sini, sehingga, lagi-lagi tali birokrasi yang menjerat waktu para dosen menjadi “kambing hitam” dalam keleluasaan berkarya. Dalam katalog tertulis bahwa pameran terakhir yang diikuti Wardoyo ada di tahun 1998.

            Hal serupa dialami oleh Nunung Nurdjanti. Produktivitas dan kreativitasnya relatif belum kunjung menemukan puncak pencapaiannya yang direspons dengan sangat antusias oleh publik. Karya-karyanya pada kurun dasawarsa 2000-an banyak menyandarkan pada pola pemiripan dengan karya-karya dosennya yang telah almarhum, maestro Widayat. Pola pemiripan itu sebenarnya merupakan salah satu bahan kajian sebagai peneliti—dan itu berlanjut menjadi “inspirasi” ketika Nunung berpraktik sebagai seniman.

            Sementara Soewardi, relatif masih berupaya untuk tetap aktif berkarya. Pengujung tahun 2015 lalu dia terlibat dalam proyek seni JSSP (Jogja Street Sculpture Project) yang berlangsung di Jalan Margo Utomo (d/h Jl. Mangkubumi) dan mendapat respons sangat antusias oleh publik. Jejak kreatifnya dalam pameran ini terlacak dari sekitar 12 karya patung dan drawing-nya yang dikreasinya antara tahun 1993 hingga 2004.

            Sayang memang, pameran ini seperti kurang terancang dengan sangat serius. Sosok ketiga dosen yang telah purna tugas tersebut kurang banyak digali detail perjalanan kreativitasnya dalam jagat seni rupa (apapun pencapaiannya), juga jejak rute pemikirannya dalam dunia seni. Sebagai dosen tentu bisa diduga bahwa mereka telah memberikan kontribusi pemikiran yang berkait dengan dunia seni dan kreativitas. Sebenarnya ini lumrah, dan relevan dengan hal yang pernah dilontarkan oleh seorang pendidik sekaligus seniman site-specific performance asal Kuba, Ernesto Pujol, yang membilang bahwa ada tiga komponen yang sangat penting dalam relasinya dengan keberadaan sebuah perguruan tinggi seni rupa, yakni: kurikulum, the faculty (para dosen atau staf pengajar), dan komunitas masyarakat. Dua hal pertama, yakni kurikulum dan para dosen, menjadi hal yang diharapkan untuk memberi kontribusi besar kepada para anak didik dan komunitas masyarakat di lingkungannya. Maka, ketika para dosen belum mampu meneorikan dan mempraktikkan secara proporsional atas ilmu pengetahuan yang dimilikinya, atau apalagi tidak berusaha untuk memperbarui terus-menerus sistem pengetahuannya, kelak para mahasiswa bukan tidak mungkin akan tertular ekses dari ketakmampuan tersebut.

                Pada kasus di FSR ISI Yogyakarta, tampaknya, kini tengah menghadapi problem, antara lain regenerasi staf pengajar yang berkemampuan lebih dalam dunia praksis seni rupa. Hingga awal dasawarsa 1990-an, kampus seni rupa yang lahir tahun 1950 ini masih diampu oleh para dosen yang memiliki kelas tersendiri (bahkan istimewa) dalam dunia seni rupa Indonesia. Di sana ada nama-nama yang telah mumpuni dalam peta seni rupa seperti H. Widayat, Fadjar Sidik, I Nyoman Gunarsa, Aming Prayitno, Subroto Sm, Sudarisman, dan lainnya, juga kritikus seni Sudarso Sp. MA. Selepas mereka satu persatu pensiun, regenerasi dosen baru tetap berlangsung, namun dalam pola dan sistem seleksi yang “berbeda”. Para dosen yang memiliki pencapaian penting dalam dunia seni rupa di level nasional apalagi internasional belum banyak yang masuk dalam jajaran di FSR ISI Yogyakarta. Dosen-dosen yang berkelas sebagai seniman bintang, apalagi berlevel “the legend” tidak terjaring dalam sistem seleksi.

                Mungkin ini bukan sebuah krisis bagi FSR ISI Yogyakarta, namun bisa menjadi lampu kuning yang mesti diwaspadai. Kita bisa paham bahwa kampus seni yang baik adalah tempat inkubasi bagi bakat-bakat mahasiswa untuk bisa berproses dan berkembang, bukan malah sebaliknya menjadi “puso” (gabuk, tidak bisa dipanen) karena bakat-bakat itu tidak dikelola dengan baik dan tidak berada dalam genggaman tangan yang tepat. Pendidikan seni rupa adalah tempat mahasiswa memahami peta persoalan seni rupa, tidak hanya problem seni semata, namun juga berbagai kemungkinan seni itu dibangun, dinilai dan kelak diapresiasi. Dan pada titik inilah para staf pengajar diharapkan bisa mengakomodasi kepentingan tersebut. Kalau harapan-harapan itu kering keberadaannya, maka apa boleh buat, kampus hanya menjadi satu titik kecil bagi mahasiswa calon seniman, yang kemudian mencari kanal-kanal lain dalam artworld yang bisa memfasilitasi kebutuhannya untuk berkembang. Dalam artworld yang kian jauh berkembang dan dinamis, sayang sekali kalau dunia kampus, termasuk FSR ISI Yogyakarta tidak mengantisipasi kemungkinan lubang dan bopeng dalam dirinya. Mari terus peka dan bergerak karena ars itu longa, sayang kalau tidak banyak berbuat karena vita itu brevis… ***



                Kuss Indarto, penulis dan kurator seni rupa, tinggal di Yogyakarta.

Bashher...


Bagi mereka yang sering atau sesekali ke negeri jiran, mungkin tak asing lagi dengan lanskap ruangan ini. Ya, lantai kotak hitam-putih serupa papan catur dan ribuan buku yang relatif baru tertata dan berserak dalam beberapa ruangan tersebut sudah membentuk identitas tersendiri.

Ruang-ruang itu bernama Basheer Graphic Bookstore, berada di lantai 4 kompleks Bras Basah, Singapura. Letaknya berseberangan dengan Raffles Hotel, tak jauh dari National Library, Singapore Art Museum (SAM), dan Museum Nasional Singapura. Hanya berbilang raturan meter dari tempat-tempat tersebut, dan tentu bisa ditempuh dengan jalan kaki.

Basheer mungkin bisa dibilang "hanya" sebuah "kios" buku yang berukuran agak luas. Kalah luas ketimbang semua toko buku Gramedia di Indonesia. Tapi jualannya yang cukup spesifik itu jadi kelebihan yang tampaknya belum ada di negeri sebesar Indonesia. Buku-buku seni rupa, arsitektur, animasi dan lainnya ngumpul di sini. Majalah seni rupa ternama di seantero jagad seperti Art In America, Frieze, Art Forum, Art News, semua rutin bertandang ke sini.

Hiks, bikin ngiri. Kenapa tak ada kios atau toko buku seni seperti ini di Indonesia? Apa daya beli masih rendah? Apa minat baca masih minim? Hihihi, iya ya, majalah seni rupa di Indonesia kan sudah banyak yang almarhum--dan tak banyak yang merasa kehilangan. Kalau toh masih bertahan, ya itu karena dibela dengan idealisme yang keras kepala...

Monday, June 13, 2016

Aware


DALAM sebuah interviu yang mempertanyakan "apa itu seni", filsuf Baudrillard menjawab bahwa: "Seni adalah bentuk. Sebuah bentuk adalah sesuatu yang benar-benar tidak mempunyai sejarah, melainlan memiliki tujuan (destiny). Kini seni sudah tumbang dalam nilai, dan celakanya kini nilai-nilai itu sudah rusak. Nilai: nilai estetis, nilai komersial... Nilai-nilai bisa dinegosiaaikan, dibeli dan dijual, dipertukarkan. Bentuk sebagai bentuk tidak dapat dipertukarkan dengan sesuatu; bentuk hanya dapat dipertukarkan dalam bentuk-bentuk itu sendiri, dan harganya adalah nilai estetis."

Jawaban tersebut mengindikasikan adanya pergeseran yang kuat dalam seni dan praktik penciptaannya. Hal pertama yang penting dalam seni adalah bentuk, bukan menyoal pada nilai tukar yang bisa dihasilkan oleh karya seni tersebut. Seni bisa bergerak leluasa menentukan tujuannya sendiri ketika berdiri sebagai bentuk. Ia bisa dikaitkan dengan desire for illusion, hasrat untuk (membuat) ilusi, yang dimungkinkan mampu membuka hasrat manusia untuk memasuki ruang-ruang tak terbatas."

Tiga anak muda ini, Caca, Niken dan Rani, saya duga masih berada dalam kumparan persoalan seni sebagai bentuk. Belum atau belum kuat nuansa karyanya dikerangkeng dalam balutan seni sebagai barang produksi untuk kepentingan komoditas yang dikonsumsi seperti halnya barang lain dalam masyarakat kapitalis.

Caca membincangkan tentang tubuh-tubuh dan mencoba keluar dari problem dan isu usang tentang rivalitas makna "naked" dan "nude", sembari mendalami makna-makna lain perihal ketubuhan. Niken sibuk bermain-main tentang satwa-satwa kecil dengan eksotikanya, dan mengeksposisikannya dengan cara yang tidak cukup mainstream. Dia menggambar ikan atau satwa lain lalu dimasukkan botol dan dijajar sebagai sebuah repetisi yang menawarkan ilusi lain tentang air, akuarium, ruang, dan lainnya. Sedangkan Rani dengan drawing-nya yang renik dan telaten berupaya menelusuri problem keperempuanan, meski mungkin tak akan menjebakkan diri sebagai seorang feminist artist.

Karya-karya mereka, meski belum amat komprehensif tampilannya karena keterbatasan waktu dan tempat, cukup memberi gambaran tentang anak-anak muda dalam seni rupa yang gelisah mencari kebaruan atau perbedaan dalam praktik dan capaian kreatif. Terlebih lagi bila ditemalikan dengan problem gender, posisi trio yang relatif minoritas ini penting untuk dicermati. Caca menggarap pilihan kreatif yang tak banyak digeluti perupa perempuan. Bahkan mungkin dihindari. Rani juga memilih gubahan kreatif yang butuh energi kuat dan bekal pengetahuan yang lebih dalam untuk menguatkan ideologi kreatifnya. Sementara Niken tampaknya dituntut untuk jauh lebih telaten dan eksploratif untuk menemukan lebih banyak lagi material lain yang secara konseptual bisa menambah kekuatan dan tampilan karyanya. Semuanya bermuara pada satu hal: kreativitas. Di dalamnya ada eksperimentasi, eksplorasi, dan lainnya. Dalam seni rupa, apalagi, selalu dituntut untuk mencari "another form and concept of art". Ini hal yang akan membedakan seniman yang kuat dan biasa-biasa saja.

Pameran "Aware" ini adalah permulaan yang baik untuk mengawali jelajah kreatif trio anak muda ini di pelataran seni rupa. Syukur kelompok kecil ini bisa bertahan beberapa waktu ke depan sehingga ketiganya bisa saling ber-sparring partner secara sehat dan konstruktif. Dengan demikian, bisa lama bertahan (atau selamanya) menjadikan karya seni sebagai bentuk, dan bukan memprioritaskan sebagai nilai tukar yang sangat komersial. Kalau mampu, bukan tak mungkin karya yang "desire for illusion" akan banyak lahir dari tangan mereka. Ya, waktu sedang membangun misterinya atas mereka. ***

Wednesday, June 01, 2016

Lanyah

Orang Jawa punya istilah “lanyah” yang kurang lebih berarti terbiasa, “fasih”, atau “luwes” dalam melakukan sebuah aktivitas. Istilah tersebut mengindikasikan pelakunya telah mempraktikkannya dengan rutin, lama, dan terus-menerus. Misalnya, “Bayine wis lanyah le mlaku” (Si bayi sudah lancar berjalan), “Mbak Ponirah lanyah tangane olehe mbathik” (Mbak Ponirah sudah terampil tangannya dalam membuat batik), dan seterusnya. Dua kalimat contoh itu mengindikasikan bahwa si bayi telah lebih dulu jatuh bangun berlatih berjalan dan diduga baru di bulan kesebelas lancar berjalan. Demikian pula, Mbak Ponirah mungkin telah berlatih membatik sejak usia dini dan baru dikatakan fasih atau terampil setelah masuk di tahun ketiga, bahkan lebih.
Pendeknya, semua aktivitas butuh upaya, latihan, mempraktikkan langsung secara kontinyu, berkesinambungan, dan terus-menerus sehingga bisa mengalami "trial and error" untuk kemudian mencoba menghindari atau meminimalisasi titik "error"-nya agar pekerjaan lebih optimal. Seorang pelukis bila tidak terus melukis secara "istiqomah", terlalu banyak jeda, maka akan kehilangan kefasihannya dalam mengguratkan garis atau sekadar mencampurkan warna yang tepat. Seorang montir yang libur berpraktik hingga setahun, niscaya akan terkurangi kecekatannya tatkala kemudian menghadapi sebuah mesin yang lama tidak ditanganinya. Belum lagi kebaruan sistem dalam mesin yang menjadi tantangan baru mesti harus dipelajari rentang waktu yang relatif lama.
Apakah (calon) pemimpin juga membutuhkan ke-lanyah-an untuk memimpin rakyatnya? Pasti. Pemimpin juga perlu magang dalam situasi yang kurang lebih sepadan, meski bobot, gradasi, level, dan kompleksitas permasalahannya berbeda. Karakter lembaga yang dipimpinnya pun niscaya akan berbeda, dan ini berpotensi membentuk karakter pemimpinnya. Lembaga militer, lembaga bisnis, lembaga sosial, pun lembaga negara atau lembaga pemerintahan, sudah pasti memiliki titik diferensiasi yang variatif satu sama lain.
Mereka yang biasa menjadi pimpinan di lembaga militer level bawah tentu tak akan butuh banyak waktu ketika berpindah di level yang lebih tinggi di jalur militer. Demikian pula, orang yang telah bertahun-tahun sukses menjadi pimpinan lembaga pemerintahan di level menengah, tentu memerlukan proses adaptasi yang bisa relatif lama ketika harus berpindah memimpin lembaga bisnis yang levelnya setara. Akhirnya, sekarang, Anda pun bisa bernalar ketika melihat fakta seperti ini: seorang jenderal militer yang pernah membawahi puluhan ribu tentara dan telah libur memimpin selama 16 tahun, sudah mencoba berbisnis dengan banyak persoalan, kini, tiba-tiba berkehendak menjadi pemimpin bagi ratusan juta warga sipil. Butuh berapa tahun dari 5 tahun masa jabatannya itu untuk beradaptasi dengan rakyat dan sistem kenegaraan yang telah terbangun puluhan tahun? Eksperimentasi yang fatalistik seperti apa yang mungkin terjadi dengan pemimpin yang selama ini hanya meneriakkan gagasan namun belum pernah membenamkannya dalam proyek miniatur apapun dalam skala apapun? Maaf, saya tidak ngeri dengan tentara. Saya hanya ngeri dengan pemimpi (tanpa “n”) kosong yang diberi kesempatan. Saya ingin pemimpin yang “lanyah”!
Wirobrajan, YK, ujung Mei 2014