Tuesday, January 31, 2017

Kuda


Equus Caballus atau kuda menjadi satwa yang menarik perhatian bagi perupa Operasi Rachman Muchamad. Kuda Sumbawa, kali ini menjadi pilihannya untuk dimuntahkan dalam kanvas. Seperti ada derap kaki dan tubuh kuda yang melesat kencang dalam karya ini, dari arah kiri ke kanan. Namun perupa kelahiran Jember, Jawa Timur ini tidak membuat visualisasi kuda yang rinci dengan penuh kecermatan. Cipratan beragam warna yang kaya dihempaskan (seperti) penuh emosi—dan aristik hasilnya. Ada yang mengotakkan corak karya seperti ini sebagai abstrak figuratif atau abstrak morfik karena seniman menyisakan citra benda atau sosok yang bisa ditemui dalam alam nyata yang rasional. Sementara dalam “Painting Today” (2014), kritikus Tony Godfrey menyebutnya sebagai “ambiguous abstract”. Seniman seolah mencoba mengulang-alik kesadarannya dalam menghadapi subyek karyanya antara kelebat fantasi, sublimasi atas fakta-fakta, atau bangunan “dunia baru” yang datang mengalir dari rasa dan logika seniman.

Karya berukuran 200 x 280 cm ini dieksposisikan dalam pameran seni rupa “Art-Tivities Now” di Breeze Art Space, Green Office Park Sinar Mas Land BD, Tangerang, Banten, yang dibuka pada hari Sabtu, 4 Februari 2017, pukul 18.30 WIB. Pameran dibuka oleh Bapak Sumantri Widagdo, Chairman of the advisory board, Titian Bali Foundation. Pamerannya sendiri berlangsung hingga 5 Maret 2017.
_________
Hari Minggu, 5 Februari 2017, pukul 15.00 WIB ada diskusi seni bertema, “Seni, Penggalian Gagasan, dan Jejaring Kerja”, dengan narasumber: Heri Dono (Yogyakarta) dan Tisna Sanjaya (Bandung), dengan moderator Kuss Indarto.
_________
73 seniman peserta pameran “Art-Tivities Now” adalah:
Agapetus Kristiandana, Agung Mangu Putra, Agus Putu Suyadnya, Agus Triyanto BR, Agustan FDSK, Ahmad Sobirin, Andi Wahono, Anggar Prasetyo, Anthonius Kho, Bambang Pramudiyanto, Budi Kustarto, Dadi Setiadi, Deddy Sufriadi, Dhanoe, Dicky Takndare, Djoeari Soebardja, Edi Sunaryo, Emmy Go, Galuh Tajimela, Gatot Indrajati, Gusmen Heriadi, Heri Dono, Hono Sun, Hudi Alfa, Isa Ansory, Ida Bagus Putu Purwa, Ipong Purnama Sidhi, Jeihan Sukmantoro, Joni Ramlan, Jopram, Justian Jafin Rocx W, Ketut Sugantika, Klowor Waldiyono, Laksmi Sitharesmi, Lenny Ratnasari W, Lugas Sylabus, Made Djirna, Made Sumadiyasa, M. Irfan (Ipan), Made Toris Mahendra, Made Wiradana, Mahdi Abdullah, Manuela Wijayanti, Masagoeng, Melodia, Michael Maxon, Michael Timothy S, Monika Ary Kartika, Nasirun, Ngakan Putu Agus Wijaya, Niko Siswanto, Nisan Kristiyanto, Nyoman Darya, Oktaviyani, Operasi Rachman Muchamad, Putu Adi Gunawan, Putu Sutawijaya, RE Hartanto, Rendra Santana, Rismanto, Robi Fathoni, Ronald Apriyan, Ruayyah Diana, Safrie Effendi, Samuel Indratma, Seno Andrianto, Surya Darma, Suroso Isur, Tiarma Sirait, Tisna Sanjaya, Tommy Wondra, Ugy Sugiarto, Zirwen Hazry

Nonton yuks!

Sunday, January 29, 2017

Cita-cita

(Status Facebook pada 29 Januari 2015)

Malam itu, sekitar tiga puluhan tahun lalu, aku menguping pembicaraan ayah dan dua tetanggaku (sebut saja J dan K) yang datang “ngendhong” (menamu) untuk sebuah keperluan. Sebagai orang/keluarga yang baru pindah dari kota, ayahku dianggap oleh tetangga punya secuil pengalaman yang berbeda sehingga perlu untuk berbagi. Tapi, kukira, itu juga lebih karena karakter tetangga kami di dusun yang lebih toleran, semanak, dan ingin menjaga silaturahmi, sehingga praktik bertetangga menjadi penuh kekeluargaan.

Dua tamu ayahku tadi semuanya berusia sekitar 27 tahun dan sudah menikah (muda) dengan masing-masing memiliki dua orang anak (mereka, kelak sama-sama punya 5 orang anak). Mereka hidup dalam belitan ekonomi keluarga yang pas-pasan karena hanya menjadi petani penggarap tanpa memiliki lahan sendiri. Latar pendidikan yang dilakoninya hanya sampai tamat SMP. Tanah warisan sebetulnya punya meski tak seberapa (seperti pengakuan mereka), tapi belum dibagi.

Maka, maksud kedatangan mereka ini untuk curhat kepada ayahku, sekaligus mencari peluang pekerjaan yang mungkin bisa diraih untuk mengubah nasib. Mereka ingin menjadi polisi, karena sadar yang mereka datangi adalah seorang mantan anggota Polri. Siapa tahu bisa memberi jalan, bahkan mungkin peluang. Sebagai seorang pensiunan perwira pertama (pama), bukan orang penting dalam struktur besar lembaga polri, ayahku hanya bisa memberi petuah, petunjuk praktis, dan perkara teknis pendaftaran masuk polri seperti yang diketahuinya. Tak bisa memberi anjuran yang lebih konkret dan sok kuasa seperti “temuilah pak X, bilanglah kalau anda saudara saya”, karena ayahku bukan siapa-siapa. Di antara keriuhan perbincangan itu, ayah berpesan pada dua tamu muda waktu itu: “Umur panjenengan berdua sudah mepet sebenarnya untuk masuk jadi anggota polri. Tapi cobalah, siapa tahu ada keajaiban.”

Dua orang tetangga itu memang kemudian mencoba beradu nasib dengan mendaftarkan diri masuk Polri. Namun akhirnya nasib belum berpihak pada kehendak yang dibayangkannya. Mereka kembali bertani dengan seadanya, bertaruh dengan roda nasib yang terus bergulir. Aku tak banyak tahu perkembangan mereka, apalagi ketika aku juga harus mengadu nasib jauh dari kampung.

Cita-cita dua tamu ayahku tiga puluhan tahun lalu itu, tiba-tiba terbuka dari dokumentasi ingatanku ketika kemarin malam aku mendapat panggilan telepon. Panggilan itu dari sahabat dari masa kecilku di kampung. Dia sekitar 6-7 tahun lebih muda usianya ketimbang aku. “Ingat aku kan, mas? Aku T, anak pak J, tetanggamu!” Dalam puluhan detik itu aku berusaha keras mengingat sosoknya yang kurus saat kanak-kanak dulu, sesekali sulit bergabung untuk bermain karena harus menggembala kambing keluarganya, dan tak jarang dicemooh teman sepermainan karena kelemahan fisiknya.

“Ya, ya, ya, aku ingat kamu, T…!” sambungku menjawab pertanyaannya. “Sekarang kerja dimana?” balik kubertanya. “Aku sekarang di daerah terpencil di Kalimantan Barat, berbatasan dengan Malaysia. Alhamdulillah, aku jadi Kapolsek di sana, mas!” Gleekkk!! Perbincangan kami lewat telepon terus bergulir. Tapi ada poin penting terus kuingat: cita-cita besar dan mulia pun bisa digetarkan hingga ke anak cucu, atau lingkungan sekitar.

“Lalu, empat adik-adikmu dimana sekarang, T?” tanyaku kembali. “Tiga adikku di Kalbar juga, mas, jadi polisi dan polwan. Satu lainnya tetap di kampung, jadi guru.” Gleekkk!! (lagi). Aku yakin, cita-cita pak J—tetanggaku yang ingin jadi polisi itu—pasti telah terlampaui begitu dalam. Dan profesi yang tumbuh dari sebuah cita-cita mulia, semoga, bisa memanusiakan dirinya. Aku berharap tetanggaku itu jadi polisi yang baik, polisi yang (mendekati) paripurna. Semoga. ***

Tuesday, January 24, 2017

Lelaku: Menggali Rasa

Salah satu karya S.Priadi atau Supriadi yang dipajang dalam pameran "Lelaku: Menggali Rasa"

Oleh Kuss Indarto 

(Catatan ini telah dimuat dalam katalog pameran tunggal S.Priadi, "Lelaku: Menggali Rasa", di Taman Budaya Yogyakarta, 14-24 Januari 2017)

SUPRIYADI atau S. Priadi, saya kira, sedang masuk dalam fase yang penting pada perjalanan kesenirupaannya. Bagi sebagian seniman, pameran tunggal adalah momentum untuk menunjukkan setidaknya dua hal mendasar. Pertama, kepada publik atau masyarakat seni yang menopangnya, ini menjadi forum bagi seniman untuk melakukan “absensi diri” bahwa dirinya masih atau pantas masuk sebagai bagian dari seniman yang aktif. Ini problem eksistensi(al) yang memang selayaknya harus terus diketengahkan kepada publik. Bukan sekadar eksistensi personal, namun lebih pada eksistensi yang bertumbuh dari pencapaian kekaryaan. Eksistensial yang dilambari oleh problem estetik. Dari problem eksistensial ini kelak akan dibaca oleh publik dengan pemberian identifikasi dan bahkan labeling (pelabelan)—semua itu tergantung pada segenap kode dan tanda yang dihadirkan oleh sang seniman. 

Kedua, kepada dunia internal seniman sendiri, sebuah pameran penting kehadirannya untuk memberi jejak tanda atas fase-fase, tahap-tahap atau periode-periode yang pernah ditorehkannya dalam perjalanan kreatif dan kesenimanannya. Dalam pembacaan internal seniman, seyogyanya, dia bisa memberi pemetaan atas dunia gagasan dan pencapaian teknis yang ada dalam perjalanan kekaryaan tersebut. Apakah dunia gagasan dalam benak dan imajinasinya itu bergerak lambat, mentok, mampat, atau malah berjalan terlalu cepat beriringan dengan dunia teknis kekaryaannya yang entah cepat penguasaannya, fasih menghadapi beragam mediam dan teknis, atau sebaliknya justru sang seniman kurang adaptif dengan masalah teknis tersebut. Dengan pameran (tunggal), seniman bisa memberi tengara atau tanda atas perjalanan fase-fase kekaryaannya (kalau ada) sehingga bisa menjadi masukan baginya dan menjadi bahan hendak kemana kreativitas diarahkan.

S. Priadi sendiri, sebelum ini, pernah menghelat pameran yang cukup penting bagi kesenimanannya di tempat yang sama, di Taman Budaya Yogyakarta, pada 18-24 April 2009 lalu. Waktu itu dia pameran bertiga bersama Risdianto dan Yusuf Santosa dengan tajuk “Sebuah Proses”. Trio seniman itu belum pernah melanjutkan untuk berpameran lagi. Kedua rekan S. Priadi bahkan “tumbang” oleh keadaan dan situasi di dalam dan di luar dirinya, yang memaksanya untuk tidak lagi bersikukuh dengan pilihan hidup menjadi seniman. Risdianto terbang ke mancanegara untuk bekerja yang sama sekali tidak bersentuhan dengan dunia seni rupa. Demikian pula dengan Yusuf Santosa yang memilih berbisnis yang tak memiliki relasi dengan seni rupa—tentu demi alasan survival menghadapi kerasnya hidup. S. Priadi-lah yang bertahan. Setidaknya setelah tujuh tahun berselang dari pameran “Sebuah Proses”, rute proses yang sesungguhnya betul-betul masih dijalani dan dihayati oleh S. Priadi. Saya tak ingin berkesimpulan bahwa S. Priadi menjadi “pemenang” di antara ketiga trio tersebut, namun kita bisa memberi penilaian awal bahwa ada upaya keras,  konsistensi dan kegigihan pada diri S. Priadi untuk terus merunuti pilihan hidupnya sebagai seniman. Ini tentu tidak mudah.

Pameran bertiga “Sebuah Proses” waktu itu, sebenarnya, sudah terlihat momentumnya yang kurang tepat. Tahun itu gejolak pasar yang ditengarai sebagai booming seni rupa sudah redup, kehilangan gemuruh dan hiruk-pikuknya. Pelaku pasar seni rupa, mulai dari kolekdol, kolektor sejati, galeri, rumah lelang dan semacamnya, sudah beringsut meninggalkan “medan pertarungan pasar” yang sempat terguyur oleh efek domino dari “Asian art buble” yang diawali di negeri Tirai Bambu, China, pada akhir paruh pertama dasawarsa 2000-an.

Kalau S. Priadi relatif “selamat” meniti waktu dan masalah ketimbang dua rekan lainnya itu, apa yang bisa dibawanya dalam pamerannya kali ini? Itulah yang saat ini, dan terus dilakukan olehnya: meniti proses. Kalau tema kuratorialnya kali ini mengambil tema besar tentang “Lelaku”, kiranya hal itu merupakan pertautan atas tema pamerannya saat bertiga tahun 2009, “Sebuah Proses”. Ini menjadi “lelaku” bagi dirinya sebagai manusia dan seniman untuk menyadari bahwa seluruh perjalanan kemanusiaannya berisi proses terus-menerus. Proses mencari sesuatu yang tak berkesudahan. Dalam terminologi Jawa ada kata “laku” yang secara sederhana diartikan sebagai “cara hidup”, dan bentuk “perluasan” kata tersebut menjadi “lelaku” yang kurang lebih dimaknai sebagai “perjalanan menempuh hidup dengan cara, lewat, dan menuju titik kebenaran”. Pemahaman ini terkadang akan memberi titik beda antara nilai-nilai relijiusitas dan spiritualitas. Karen Amstrong dalam “Sejarah Tuhan” (2013) memberi gambaran yang agak sepadan dengan hal itu dengan menyatakan bahwa orang-orang beriman tahu secara teoritis Allah itu sama sekali di luar jangkauan, bersifat transenden (berjarak dengan manusia), namun manusia berasumsi bahwa manusia itu tahu persis siapa “Dia”, seolah tahu persis apa yang dipikirkannya, apa yang dicintainya, dan yang diharapkannya, dan seterusnya.

Menariknya, bagi masyarakat Jawa, kata “lelaku” itu menjadi kata kerja aktif ketika tertulis sebagai “nglakoni”, dan ini—bagi masayarakat mdern dewasa ini—terasa menjadi sebuah praktik mistik yang dianggap menjauhi logika. Namun justru di sini letak titik menariknya. Di Jawa, orang yang sedang “nglakoni”, misalnya dengan melakukan “laku” prihatin, bermeditasi, membiasakan diri berkonsentrasi di tempat sepi sering mendapatkan pengalaman atau firasat akan kehadiran (“dzat”) yang Ilahi. Kehadiran “dzat” yang menyapa orang Jawa itu bukan muncul melalui akal budi dan pancaindera manusia, melaui rasa, sebagai indera keenam. Masyarakat Jawa tradisional memberi tempat begitu penting atas kehadiran rasa. Indera rasa ini sungguh-sungguh sangat dilibatkan dalam kepribadian Jawa, tidak kalah pentingnya dengan pikiran, sehingga ia sangat berperan untuk melihat laku  dan perilaku orang Jawa secara umum. Seseorang bisa disebut sebagai sudah dewasa ketika ia mampu mengendalikan dan menghadikan rasa dalam berkomunikasi dengan orang lain, dalam mengungkapkan dirinya dan dalam komunikasi dengan Gusti Allah, sebagai Rasa Sejati. Tak heran bila ada frasa yang cukup populer bagi orang Jawa, yakni “… yen tak rasak-rasakke..”, sebagai alternatif dari frasa “…yen tak pikir-pikir…”—yang lebih berorientasi pada aspek logika saja. Clifford Geertz dalam Abangan, Santri, Priyayi dalam Masyarakat Jawa (1981) juga memberi penegasan bahwa “makin halus rasa seseorang, makin mendalam pengertiannya, makin luhur sikap moralnya, dan indah segi luarnya”. Dugaan-dugaan atas dunia batin orang Jawa inilah yang kemudian dikorelasikan oleh realitas pada hasil proses penghalusan dunia lahir seperti tarian klasik, music gamelan, tembang macapat, batik dan lainnya. Itu semua adalah artifak penting yang lahir dari dunia batin orang Jawa dengan kepemilikan atas rasa yang telah mendewasakan mereka. Dan rasa itu merupakan hasil dari upaya “lelaku”.

Saya kira S. Priadi tidak secara ekstrem sedang mempraktikkan lelaku seperti yang saya gambarkan di atas. Atau apalagi melakukan praktik lain dari upaya nglakoni yang dalam kepercayaan orang Jawa banyak sekali ragamnya. Kita tahu ada praktik nglakoni dengan puasa yang tujuannya dipercaya untuk membersihkan diri dan batin seseorang. Praktik nglakoni itu antara lain: mutih, yakni puasa dengan tidak makan apa-apa kecuali hanya nasi putih dan air putih saja. Lalu ada ngeruh (puasa dengan hanya memakan sayuran atau buah-buahan saja), ngebleng (menghentikan segala aktifitas normal sehari-hari, tanpa makan, minum, keluar dari rumah atau kamar, tanpa seksual, hingga 24 jam), patigeni (hampir sama dengan ngebleng, tapi tidak boleh keluar kamar dengan alasan apapun, tidak boleh tidur sama sekali selama sehari semalam), ngelowong (puasa tanpa makan dan minum dalam kurun waktu tertentu. Hanya diperbolehkan tidur 3 jam saja dalam sehari semalam, tapi diperbolehkan keluar rumah), ngrowot (puasa yang dilakukan dari subuh sampai maghrib dan hanya boleh makan buah-buahan, misalnya pisang 3 buah saja).

Ada pula nganyep (puasa yang hanya memperbolehkan memakan yang tidak ada rasanya), ngidang (hanya diperbolehkan memakan dedaunan dan air putih), ngepel (puasa ini mengharuskan seseorang untuk memakan dalam sehari satu kepal nasi saja), ngasrep (hanya diperbolehkan makan dan minum yang tidak ada rasanya, minumnya hanya diperbolehkan 3 kali saja sehari), nyenin-kemis (puasa ini dilakukan hanya pada hari Senin dan Kamis, seperti anjuran rasul Muhammad SAW), wungon (puasa tidak dibolehkan makan, minum dan tidur selama 24 jam), tapa jejeg (tidak duduk selama 12 jam), lelono (melakukan perjalanan dengan berjalan kaki dari jam 12 malam sampai jam 3 subuh), kungkum (bugil dan berendam dalam air dengan posisi bersila dengan kedalaman air setinggi leher, biasanya dilakukan dipertemuan dua buah sungai), ngalong (tapa dengan posisi tubuh kepala di bawah dan kaki di atas seperti kalong/kelelawar), ngeluwang (tapa dengan menguburkan diri di pekuburan atau tempat yang sangat sepi).

***

Pameran kali ini S. Priadi mengetengahkan visualitas yang beragam meski kalau dicermati dengan seksama, sebenarnya, bertumpu pada satu titik persoalan yang ingin diperbincangkan, yakni spiritualitas. Dikatakan ada keberagaman visualitas karena setidaknya ada tiga gaya pelukisan atas karya-karya yang ditorehkan di atas kanvas.

Pertama, ada satu karya yang menggambarkan kebanggaan bangsa Indonesia, candi Borobudur, yang diekspresikan dengan penyusunan struktur blok-blok warna secara acak namun ritmis. Karya ini merupakan “warisan” yang tersisa dari kecenderungan karya S. Priadi yang dipresentasikan dalam pameran “Sebuah Proses” tahun 2009 lalu. Berikutnya, kedua, ada karya ekspresif semi-abstrak. Satu karya jenis ini terdiri dari gabungan sekian banyak kanvas kecil. S. Priadi mengawali proses karya ini dengan torehan, guratan, dan cipratan warna yang ekspresif sesuai rasa yang dikehendakinya. Kadang bahkan memunculkan accidental form karena memang tidak dirancang untuk menggambar(kan) sebuah bentuk apapun. Baru pada akhir dari proses tersebut, citra bentuk yang dibuat dengan membuat cetakan gambar lalu menyemprotkannya dengan cat kaleng—seperti yang lazim dilakukan oleh para stencil artist(s). Bentuk-bentuk yang dibuat dengan teknik semprot itu adalah citra tentang masjid, pura, kuil, vihara, dan lainnya. Lalu yang ketiga, seniman asal Lumajang, Jawa Timur ini melukisi kanvas dengan teknik saputan langsung yang agak kasar. S. Priadi melukiskan subyek benda yang ada dalam kanvas dengan realitistik, namun sengaja tidak dengan sangat detil. Usapan dan guratan kuas yang dilakukannya pun seperti sengaja tidak dengan saputan halus atau apalagi dengan teknik chiaroscuro—sebuah teknik untuk mendatangkan efek pencahayaan dan volume yang detil yang dikembangkan pada jaman renaisans.

Sementara secara tematik karya-karya tersebut—seperti diinginkan oleh senimannya—mencoba menarasikan tentang hal yang berkait dengan spiritualitas. Ini memang cukup berisiko akan menjebak karena pada beberapa karyanya S. Priadi menggambarkan lanskap perihal rumah ibadah seperti masjid, pura, vihara dan lainnya. Juga ada panorama tentang suasana keriuhan manusia yang dicitrakan sedang melakukan prosesi ibadah pada agama atau kepercayaan tertentu. Kalau dipahami secara “tekstual” mungkin ada benarnya dugaan tentang penggalian atas tema relijiusitas atau perihal agama dalam karya-karya seniman otodidak ini. Namun, lebih jauh dari itu, S. Priadi seolah ingin menekankan bahwa nilai-nilai spiritualitas itu lebih luas cakupannya ketimbang relijiusitas atau hal yang berkait dalam agama. Relijiusitas dirasakannya sebagai sebuah kotak-kotak yang bisa berlainan “standarnya” ketika berhadapan dengan agama yang berbeda. Sementara nilai-nilai spiritualitas melampui kotak-kotak agama tersebut. Dan seperti secuil disinggung di atas—bagi orang Jawa—nilai spiritualitas tersebut adalah siasat atau cara untuk mencari dan mendekatkan kehidupan seseorang manusia pada kebenaran—salah satu nilai hakiki dalam hidup. Atas tema ini, S. Priadi berupaya untuk menampilkan potongan panorama yang menggambarkannya sebagai peristiwa yang bersifat kultural, bukan rigid menyorot aspek ritual keagamaannya.

Kita bisa menyimak salah satu karya untuk sedikit kita kuliti. Misalnya lukisan yang mempertontonkan upacara melasti yang berlangsung di sekitar Tanah Lot, salat satu ikon penting dari pulau Bali. Melasti atau makiyis adalah upacara yadnya yang memilki makna untuk menyucikan diri secara lahir dan batin. Dengan proses penyucian itu maka manusia akan mampu membangun kualitas meningkatkan keheningan pikiran yang lebih baik.  Ritual ini juga dihelat untuk memberi kesucian atas jagat raya ini, yang dilakukan dengan prosesi simbolik lewat labuh gentuh dengan labuhan sesaji ke laut. Upacara melasti bagi penganut agama Hindhu di Bali secara umum juga dilakukan dengan cara menyucikan seluruh arca, pratima, nyasa, pralingga. Ini sebagai wujud atau sthana Ida Sang Hyang Widi Wasa, Tuhan Yang Maha Esa dengan segala manifestasiNya. Acara ini berlangsung setahun sekali, sebagai bagian dari acara peringatan Nyepi.

S. Priadi menggambarkan orang-orang yang terlibat dalam upacara melasti itu sebagai sekumpulan manusia yang bergerak di pantai yang segera menyucikan diri dan bumi dengan membuang kotoran ke laut. Lelaku kumpulan manusia ini tergambar berarak dengan berbagai asesoris pelengkapnya yang khas: umbul-umbul, panji-panji, penjor, leak, ikat kepala pada tiap sosok laki-laki, beragam sesaji yang disunggi di kepala para perempuan, dan sebagainya. Seniman ini, sebagai orang Jawa Timur, pernah beberapa kali secara langsung menyimak peristiwa melasti dengan dengan mata kepala sendiri. Karya ini adalah kesaksian visual S. Priadi atas momen sosial-religi yang kemudian dipindahkan dalam kanvas dalam momen artistik. Pandangan artistiknya mungkin saja masih terbilang turistik dan belum memiliki banyak pendalaman seperti hanya peneliti sosial atau warga setempat. Namun, itulah kerangka dan konsep tentang lelaku yang dimiliki oleh S. Priadi ketika menyaksikan peristiwa di Pelau Dewata tersebut.

Karya-karya lain mengisahkan tentang kuil, pulau sunyi dengan vihara di dalamnya, pemandangan sebuah kawasan kota tua dengan arsitektur kuno khas China atau Asia Timur. Seniman kelahiran Jakarta ini melukiskan panorama-panorama tersebut dengan modal dasar dari pengalamannya menonton film atau youtube tentang subyek itu. Sejauh ini, dia belum pernah sekalipun menginjakkan kakinya ke daratan China atau kawasan Asia Timur—seperti subyek yang dilukisnya. Fakta seperti ini memang unik, sekaligus aneh meski bisa berisiko ketika dihadapkan atas persoalan detail. Misalnya tentang detail pada sebuah bangunan atau arsitektur lokal, karakter flora yang berkembang di kawasan tersebut, pola bukit atau gunung, dan sebagainya. Ini tak beda jauh dengan contoh yang cukup monumental, yakni sastrawan Asmaraman Kho Ping Ho dari Solo, Indonesia. Pengarang cerita silat terkenal di tanah air ini selalu mengambil pengisahan dalam lakonnya dengan setting di negeri China. Hampir semua tokoh dalam lakon yang diangkatnya memiliki nama Tionghoa—yang kadang sulit dihafalkan oleh orang Indonesia. Namun, anehnya, Kho Ping Ho sama sekali tidak pernah pergi ke tanah leluhurnya tersebut—bahkan hingga wafat dan menutup semua lakon silat yang ditulis dan membesarkan reputasinya.

Dengan demikian, maka karya-karya S. Priadi yang bersubyek visual tentang bangunan dan lanskap tentang negeri China tak bisa sepenuhnya dinilai dari masalah kemampuannya mengarap secara detil, atau apalagi aspek filosofis yang ada di dalamnya. Namun kita bisa menyimak aspek lain di luar problem detil visualnya, yakni soal nilai-nilai spiritual yang mungkin bisa ditangguknya. Atau mudahnya, aspek spirit (semangat) yang ada dalam karya tersebut. Misalnya spirit tentang kebersamaan, tentang unity pada sekumpulan bangunan yang dikurung secara ritmis dan harmonis oleh bebukitan, dan lainnya.

***

Sampai di titik ini, perbincangan bisa berlanjut dengan pertanyaan: pada problem apakah tema tentang lelaku ini memiliki relevansi? Dugaan pun akan bertumbuk pada realitas personal sang perupa sendiri. Tentu saja dugaan ini bisa ditampik sama sekali, atau sebaliknya, bisa dijadikan landasan atas kemungkinan yang berkait dengan tema itu.

S. Priadi, lelaki kelahiran 12 Juli 1975 ini mengaku bahwa nama yang menempel sebagai identitas diri sekarang ini sedikit berbeda dengan nama yang awal diberikan oleh orang tuanya. Tahir Supriyadi, nama pertama yang diberikan. Setelah menginjak usia beberapa tahun, kondisi kesehatannya tidak sangat sempurna. Supriyadi kecil tidak jarang sakit-sakitan. Kondisi ini meresahkan kedua orang tuanya. Oleh salah satu tetua di lingkungannya, disarankan agar nama anak kecil itu perlu diubah karena dianggap terlalu “membebani” si anak. Kata “tahir” berarti bersih, suci atau murni. Sementara kata “su” berasal dari bahasa Jawa yang berarti baik, dan kata priya atau priyadi mengindikasikan sebagai pria atau laki-laki. Kata atau nama Supriyadi kiranya telah cukup kalau anak ini kelak diekspektasikan sebagai “pria yang baik”. Kata “tahir” tampaknya terlalu superlative, berlebihan, maka terlalu memberatkan si bocah. Dan dengan demikian perlu dikoreksi.

Demikianlah, anak ketiga dari empat bersaudara keturunan pasangan Slamet Sumaryo dan Indun ini awalnya bertumbuh di sekitar Menteng, Jakarta—bersama dua kakaknya: Hendra dan Sri Sumarni, serta seorang adik laki-laki bernama Irfan. Namun masa kanak-kanaknya di metropolitan tidak genap karena kemudian kawasan mereka tinggal (di bantaran sungai) itu terkena banjir besar. Pemerintah daerah tak mengizinkan lagi untuk tinggal di kawasan tersebut. Maka, pulanglah keluarga Slamet Sumaryo yang sehari-hari menjai seorang sopir taksi itu ke Klakah, Lumajang, Jawa Timur.

Saat S. Priadi menginjak kelas I SMP, hempasan masalah pun mendera. Kedua orang tuanya berpisah. Anak-anak mengikuti sang ibu, sementara ayah mereka berdiam di kecamatan berbeda. Beruntunglah bahwa semua anak ini mampu menyelesaikan studi hingga di sekolah menengah atas—sama dengan rata-rata anak di lingkungannya. Pilihan S. Priadi adalah masuk di Jurusan Otomotif di STM Negeri Klakah, Lumajang, dan diselesaikannya pada tahun 1993. Usai itu, sebagai anak yatim, tuntutan untuk hidup mandirilah yang membuatnya harus secepatnya mencari penghidupan sendiri, yang tak lagi merepotkan orang tua, khususnya sang ibu.

Dia bekerja di kotanya, Lumajang, juga di kota yang lebih besar, Surabaya. Lelaku sebagai buruh dialami sejak lulus sekolah. Tahun 1997 garis nasib pun dilengkapinya dengan merantau menjadi seorang TKI (tenaga kerja Indonesia) di negeri jiran, Malaysia. Pengalaman jauh di rantau dilakoni hingga tahun 2000 setelah dia memutuskan untuk pulang. Dan pilihan sementara adalah menjadi buruh serabutan/pocokan yang mengerjakan apapun.

Tahun 2001 adalah tahun penting baginya ketika memutuskan untuk pergi ke Yogyakarta untuk bekerja pada seseorang yang mempekerjakan sebagai penggarap kerajinan figura cermin. Dari situlah kemudian laju naik-turun, zigzag dan lompatan-lompatan perjuangan dan nasibnya bergerak mengikuti waktu. Ada suatu masa ketika dia tinggal di kawasan Nitiprayan, Kasihan, Bantul, yang membuatnya kenal dengan dunia seni rupa. Tembok keterbatasan awalnya tampak besar karena dia tidak pernah mengenyam pendidikan seni rupa. Itu tak menyurutkan dirinya yang secara pelahan masuk di dunia tersebut. Semuanya datang tanpa diduga.

S. Priadi sesekali main ke sebuah studio yang tak jauh dari rumah kontrakannya, dan melihat beberapa pekerja seni sedang menuntaskan lukisan orderan. Setelah sering main, sedikit demi sedikit dia memperhatikan orang-orang di ruang kerja itu yang bekerja mengecat, memberi warna tertentu pada kanvas, ada yang memasang kanvas pada spanram, ada yang membuat packing untuk lukisan yang telah dipesan pencinta seni, dan lainnya. Lama-lama, pemilik studio tersebut—Chusing namanya—menawarkan padanya untuk bekerja di situ. S. Priadi pun menerima. Dan pergulatan di dunia seni rupa pun diawalinya dari menjadi seorang tukang yang membantu mengerjakan hal mendasar dalam praktik kerja seni rupa. Tentu banyak hal yang dikerjakan di situ masih jauh dari kapasitasnya sebagai seniman. Dia merasakan betul sebagai tukang yang mendukung jadnya lembaran-lembaran lukisan pesanan yang kemudian beredar kemana-mana.

Sosok S. Priadi masih mengingat betul betapa dia melakukan kerja awal di situ sebagai tukang mengeblok warna pada sebuah kanvas sebelum akhirnya hasil blok-blokan warnya itu diteruskan oleh orang lain yang lebih piawai untuk dibentuk menjadi lukisan yang lebih kompleks, kaya warna, dengan bentuk-bentuk yang juga beragam. Baginya, di situlah “sekolahan” yang turut menyumbang kemampuannya. Ada rekan-rekan yang sangat diingatnya yang menjadi seniornya di situ, seperti: Sarindi, Slamet, Heri Tarjo, Boeyan, Yusuf, dan lainnya. Masih pula diingatnya lukisan pertama yang dibenahinya karena ada kerusakan, yakni lukisan seniman Dipo Andy—yang sekarang menjadi salah satu perupa cukup ternama di negeri ini.

Pengalaman inilah yang secara pelahan memberikan nyali dan semangat untuk menjadi seniman. Tentu upaya ini tak mudah, karena dia harus melewati sekian banyak proses dan lelaku yang kompleks dan penuh masalah. Ketika dia mulai lancer melukis dengan ide sendiri pun, tantangan untuk berani memutuskan menjadi seniman seutuhnya tidak bisa langsung dilakoni dengan konsisten dan keteguhan hati. Apa boleh buat, ada banyak problem mendasar yang mesti dia penuhi sebagai orang perantauan. Misalnya, pada tahun-tahun sebelum dan sesuah berpameran bertiga di  Taman Budaya Yogyakarta, dia membantu sebagai artisan bagi Butet Kertaradjasa yang juga rajin melukis. Sebagai artisan, dia banyak menimba pengetahuan atas kemampuan Butet yang masih piawai melukis meski waktunya kini banyak tersita di luar dunia seni rupa. Bertahun-tahun kemudian S. Priadi membantu proses kelahiran karya seniman lain seperti Nasirun juga Faizal. Semua itu dilakukan dengan kesadaran bahwa itulah bagian dari lelaku-nya sebagai manusia yang ingin melabeli diri dengan sebutan seniman. Sungguh tak mudah.

Kalau kali ini dia tampil dengan identitas diri S. Priadi sebagai seniman, dia mengakui masih memiliki banyak bopeng yang perlu ditambal dan diparipurnakan di sana-sini. Dia paham dengan adanya batas-batas yang pasti dimiliki oleh setiap seniman—apapun kualitas dan levelnya. Kesadaran bahwa dirinya berangkat sebagai seniman bukan dari jalur akademik, tapi dari jalur otodidak, tentu, akan membawa konsekuensi dan risiko tersendiri. Meski sudah barang pasti dualisme antara akademik-otodidak ini terkadang pada satu dua kesempatan mulai basi dan kurang menemukan relevansinya. Seni rupa, atau publik seni rupa, tetap menantikan kualitas pencapaian karya seniman, bukan berdasar dari mana dia berasal. Tapi kalimat tadi bukan “pil penenang” yang meninabobokan karena seniman seperti S. Priadi memang harus bekerja lebih keras lagi. Ada banyak pekerjaan rumah yang harus dicermati: mulai dari menyeimbangkan antara kemampuan teknisk berkarya dan kepiawaian dalam menglah dunia gagasan bagi karyanya. Kemudian ada tuntutan secara langsung atau tak langsung untuk membangun jejaring kerja agar keberadaan diri dan karyanya bisa lebih luas cakupannya, kemampuan untuk melakukan pricing management yang baik, dan sekian banyak persoalan yang lain. Jadi seniman memang tidak mudah, bung. Ini perlu lelaku yang secara terus-menerus, konsisten, proporsional dalam bersikap, dan lainnya. Tapi tetaplah optimis! *** 

Kuss Indarto, kurator seni rupa.

Thursday, January 19, 2017

Filantropi(sme) Lewat Seni

Lukisan karya Godek Mintorogo

Lukisan karya Oetje Lamno
 
Oleh Kuss Indarto

(Catatan ini dimuat dalam katalog pameran amal (charity exhibition) "Seni untuk Kemanusiaan" yang diselenggarakan oleh YAKKUM di Museum Affandi, 20-24 Januari 2017)

Dalam pandangan yang sudah sangat klasik, fungsi seni rupa itu ada dua hal besar, yakni (1) fungsi personal atau individual, dan (2) fungsi sosial. Fungsi individual merupakan fungsi seni rupa yang hanya dapat dinikmati oleh para kreator karya seni rupa itu sendiri, yakni para seniman.

Pada konteks fungsi individual ini pun bisa dibedah lagi dalam dua perkara, yakni sebagai pemenuhan kebutuhan fisik dan sebagai pemenuhan kebutuhan emosional. Untuk kebutuhan fisik, kita paham bahwa manusia adalah mahluk yang memiliki banyak kebutuhan, salah satunya adalah kebutuhan fisik. Dalam hal ini, seni rupa terapan (applied art) yang menjadi salah satu pengembangan cabang seni berdasar kegunaannya dapat memenuhi kebutuhan tersebut. Misalnya, kita temukan berbagai penerapan seni dalam bidang arsitektur (bangunan), furnitur (kelengkapan), tekstil, serta seni kerajinan, dan masih banyak lagi. Sedangkan pada kebutuhan emosional, kita bisa mafhum bahwa dunia dan karya seni rupa juga bisa sebagai perangkat untuk memenuhi kebutuhan emosional seseorang. Dari artifak karya seni kita bisa menduga-duga bahwa karya tersebut dibuat dengan landasan perasaan gembira, sedih, cinta, benci, jengkel dan lainnya. Pada banyak karya seni rupa yang ada dewasa ini kadang bahkan sangat kentara menggambarkan kondisi emosi(onal) si pembuatnya. Hal ini antara lain tampak pada karya dengan jenis seni rupa kontemporer.

Fungsi kedua, yakni fungsi sosial bisa diandaikan bahwa karya seni rupa selain dapat bermanfaat bagi para pembuatnya, karya tersebut juga berpotensi mempunyai banyak fungsi bagi masyarakat. Fungsi ini disebut fungsi sosial. Kalau dibedah lebih jauh, fungsi sosial dari seni rupa tersebut antara lain: (a) Sebagai sarana rekreasi. Ini membantu kondisi psikologis seseorang agar terhindar dari banyak masalah seperti kejenuhan, stress, trauma, dan lain sebagainya. Selain dengan melihat seni yang tercipta di/oleh alam, penyegaran dalam menghilangkan rasa jenuh, stres, trauma tersebut juga dapat dilakukan dengan menilik hasil karya seni rupa yang ada di ruang pameran. Ini sama dengan menyimak pagelaran musik. (b) Sebagai sarana komunikasi bahasa. Ini dimungkinkan karena bahasa seni rupa relatif merupakan bahasa universal yang bisa dipahami oleh banyak orang. Penggunaan bahasa seni yang tertuang dalam sebuah karya seni (rupa), bisa menjadi alternatif solusi bahasa universal yang justru dapat dimengerti tanpa harus dibatasi oleh ruang dan waktu.

Berikutnya, (c) Fungsi sosial di bidang pendidikan. Seni rupa juga diandaikan dapat berfungsi sebagai sarana pendidikan. Melalui seni, pendidikan diberikan melalui bahasa universal yang terkandung pada nilai estetika sebuah pertunjukan seni. Fungsi seni rupa dalam hal ini adalah sebagai pembimbing dan pendidikan mental bagi seseorang serta dapat menumbuhkan pengalaman etika dan estetika. (d) Fungsi sosial seni di bidang rohani. Fungsi seni rupa yang terakhir adalah sebagai sarana kerohanian. Tidak sedikit orang yang bersepakat bahwa keindahan sejatinya bersumber dari Tuhan. Hal-hal yang bertalian dengan nilai agama adalah inspirasi seni yang berfungsi untuk membekaskan pengalaman-pengalaman religi. Oleh karena itu, melalui seni, peningkatan kerohanian seseorang diharapkan akan bisa lebih efektif dibandingkan penyaluran yang bebas dari nilai-nilai seni.

Paparan singkat di atas memberi gambaran bahwa seni rupa berpotensi untuk bersentuhan dengan publik dan untuk kepentingan umum atau sosial. Pemahaman awal dan klasik tentang fungsi sosial karya seni seperti yang terpapar di atas, sesungguhnya, masih mendasar dan masih mengikat kuat pada aspek diri pribadi seniman.

Pemahaman tentang fungsi sosial tersebut akan meluas ketika karya seni rupa mulai “diserahkan” kepada masyarakat untuk diresepsi (diserap). Setidaknya ada dua hal penting masyarakat meresepsi karya, yakni meresepsi secara apresiatif, dan meresepsi secara transaksional. Resepsi secara apresiatif mengandaikan bahwa masyarakat umum menyaksikan karya dengan menyerap nilai-nilai substansial yang ada dalam karya seni tersebut. Dengan demikian masyarakat akan memiliki pertambahan perbendaharaan nilai setelah menyaksikan karya seni rupa. Namun ini juga akan berlapis-lapis persoalannya karena semuanya tergantung pada banyak hal, seperti sejauh mana karya seni itu menawarkan nilai dan mutu karya, dan sebaliknya, seberapa dalam daya serap apresian/penonton dalam mengapresiasi karya. Apapun, ketika seseorang atau sebuah masyarakat telah masuk ke ruang seni atau mau dan mampu menyaksikan karya seni, pertambahan nilai humanismenya diduga akan bertambah. Minimal, ada alternatif sumber pengayaan nilai kemanusiaan, yakni lewat karya seni.

Sedangkan resepsi secara transaksional mengandakan bahwa karya seni rupa mampu dipertukarkan dengan pendekatan harga dan dengan transaksi ekonomis. Ini bisa merupakan kelanjutan secara kronologis dari resepsi apresiatif—lalu bergerak ke resepsi transaksional. Namun bisa juga keduanya bisa tak memiliki titik relasi yang utuh. Contohnya ditandai dengan adanya kolekdol seni (bukan kolektor murni, tapi plesetan dari “kolektor” yang ngedol atau menjual kembali karya seni itu setelah harya karya seniman tertentu naik jadi mahal di pasaran). Apapun, ketika karya seni mampu diminati, diapresiasi dan kemudian memiliki daya untuk diserap secara transaksional, maka bisa disimpulkan bahwa karya seni pun memiliki fungsi ekonomis.

Apakah karya seni mampu bertaut dalam banyak hal, yakni memiliki fungsi personal, fungsi sosial dan fungsi ekonomis? Pasti bisa, dan ini telah terjadi berabad-abad lalu, dan kian menderas dalam puluhan tahun terakhir di manapun di dunia, termasuk di Indonesia. Karya seni sebagai ekspresi personal telah dapat memberikan fungsi sosial bagi orang lain—dalam pengertian lebih luas—dan kemudian mampu diapresiasi dengan relatif baik, dengan harga ekonomis (tinggi) oleh masyarakat. Inilah perputaran fakta yang terjadi dalam dunia seni rupa.

Pertanyaan lanjutan atas gejala tersebut adalah, apakah karya seni juga mampu dijadikan sebagai perangkat untuk praktik filantropis(me)? Jawabannya: sangat mungkin! Kita pahami bersama bahwa kata filantropi berasal dari kata dalam bahasa Yunani, yakni “philein” berarti cinta, dan “anthropos” berarti manusia. Maknanya kurang lebih adalah tindakan seseorang yang mencintai sesama manusia serta nilai kemanusian, sehingga menyumbangkan waktu, uang, dan tenaganya untuk menolong orang lain. Istilah ini umumnya diberikan pada orang-orang yang memberikan banyak dana untuk amal. Biasanya, praktik filantropi ini dilakukan oleh orang yang berkecukupan yang menyumbangkan sebagian dari harta atau kepemilikannya bagi kaum yang lebih berkekurangan dan membutuhkan bantuan tersebut.

Dalam dunia seni rupa, sebetulnya, praktik filantropisme ini ada dan terjadi di banyak Negara, termasuk di Indonesia. Hanya bedanya, di Negara-negara maju seperti di kawasan Eropa dan Amerika atau sebagian di Asia seperti Jepang, pola dan praktiknya telah terorganisasi dengan baik. Sementara di Indonesia, praktik filantropisme dalam dunia seni masih bersifat insidental dan nyaris tanpa pelembagaan yang jelas dan solid. Sehingga kurang banyak peristiwa tentang hal itu yang tersiar dan terdokumentasi dengan baik, serta bisa terakses dengan mudah leh publik.

Pameran amal dengan tendensi sebagai praktik filantropisme seperti pameran “Seni Untuk Kemanusiaan” ini kiranya sangat menarik kehadirannya. Ia bisa menjadi momentum yang tepat untuk mengukuhkan keterlibatan seniman dan dunia seni sebagai bagian penting dari praktik filantropisme yang solid dan terkoordinasi antarkelompok dalam masyarakat. Selama ini sudah lazim menjadi “identifikasi” yang cukup melekat bahwa kelompok seniman (terkadang) kurang mampu melakukan pengorganisasian dengan baik dan bisa dipertanggunjawabkan dengan penuh. Ini bukan sebuah sikap yang meremehkan para seniman atau pekerja seni. Namun justru sebuah koreksi, cermin bersama, dan awal dari upaya untuk bisa menyadari bahwa kolaborasi antarkelompok dalam masyarakat sangatlah penting adanya.

Kerjasama antara pihak Yakkum, para seniman seni rupa, dan Museum Affandi dalam pameran amal ini bisa dijadikan trigger, atau semacam pemicu awal—bahwa praktik filantropisme bisa dilakukan dengan sistem, koordinasi, pengorganisasian dan perencanaan hingga presentasi yang baik. Perhelatan ini tidak harus bersifat incidental atau dilakukan ketika—misalnya—tiba-tiba ada musibah atau bencana alam di suatu kawasan, dan harus dibantu secara finansial dan sosial. Pameran amal seperti yang tengah berlangsung saat ini bukanlah tipe reaksi penuh ketergesa-gesaan seperti itu. Ketergesaan, kita tahu, biasanya berpotensi menghasilkan kerja yang kurang maksimal.

Maka, sekali lagi, perhelatan ini menarik dan tak selayaknya berhenti di titik ini. Ketersambungan dengan perhelatan serupa ke depan, bahkan mungkin dilakukan secara periodik, taka da salahnya untuk diagendakan. Sungguh menarik ketika dalam pameran ini hadir para seniman yang sudah bisa dipercaya komitmennya seperti mas Totok Bukori, mas Agustioko, Bayu Wardhana, mbak Dyan Anggraini, Klowor Waldiono, pak Godot Sutejo, Joko Sulistiono, Otje Lamno, Godek Mintorogo, Januri, Eddy Sulistyo, Ampun Sutrisno, Kukuh Nuswantoro, Widarsono Bambang. Juga sosok mami Kartika Affandi dan keluarga yang penuh hangat mengakomodasi acara ini.

Akhirnya, kita semua hanya bisa terus berharap bahwa kesetiakawanan social yang telah tumbuh dalam pola relasi social kemasyarakatan di Indonesia bisa makin dikuatkan dengan kehadiran acara ini. Pada seniman, aktivis social, para pencinta seni, dan segala lapisan masyarakat bersama-sama memperjuangkan kebersamaan. Dan seni rupa menjadi salah satu perangkat penting dalam upama menjalin kebersamaan itu. Semoga abadi. ***

Kuss Indarto, pemerhati seni, tinggal di Yogyakarta.