Sunday, June 28, 2015

Suhu


ADA dua benda kotak seperti ini (lihat foto) kutemui di sudut-sudut ruangan Kunst Historiches Museum, Wina, Austria. Pasti jumlahnya lebih banyak dari yang kuamati dan aku lalai memperhatikan satu persatu. Namun ketika masuk di sebuah ruangan~~yang berisi karya-karya lukis salah satu bintang di era renaisans, Peter Paul Rubens~~kotak ini mencuri perhatianku.

Sembari memperhatikan, kudekati salah satu penjaga museum dan kubisikan pertanyaan. Menurutnya, benda ini adalah indikator suhu ruangan. Tugasnya mencatat pergerakan suhu ruangan terus-menerus, selama 24 jam sehari. Perangkat ini diinterkoneksikan dengan bagian kantor yang juga memantau situasi museum terus-menerus. Kalau suhu ruangan melebihi atau kurang dari standar suhu ideal yang mereka tentukan, alarm akan bunyi sebagai tanda untuk direspons dengan tindakan.

Saat berkunjung ke museum tersebut pertengahan Juni ini, musim semi di Eropa tiba, dan suhu relatif tinggi untuk ukuran Benua Biru, yakni antara 21-24 derajat Celcius di siang hari. Malamnya sih bisa terjun sampai 14-17 derajat Celcius. Suhu-suhu sekarang tersebut masih masuk dalam batas toleransi, bahkan ideal, bagi keamanan kondisi lukisan. Tak akan ada alarm untuk memberi peringatan. Namun kalau sudah dianggap terlalu panas, mesti perlu tindakan untuk mendinginkannya. Sebaliknya, bila terlalu dingin, mesin pemanas ruangan segera dinyalakan untuk menghangatkannya.

Suhu yang relatif rendah di Eropa diduga memungkinkan keawetan bagi lukisan. Permukaan cat pada lukisan tidak cepat meretak. Kelembaban yang rendah juga tak mempercepat berjamurnya kanvas atau cat minyak. Barangkali kondisi alam seperti ini yang mengawali pembuatan cat minyak dan material seni rupa yang cocok untuk di Eropa. Meski tentu itu semua juga bergantung pada aspek lain, yakni kemampuan mengelola dan merawat.

Kita bisa menilik pada karya puncak Raden Saleh bertajuk "Penaklukan Diponegoro" (The Arrest of Diponegoro, 1857). Karya tersebut saat ini (setidaknya seperti yang saya lihat di pameran "Aku Diponegoro" di Galeri Nasiinal Indonesia awal tahun 2015) kondisinya mulai memprihatinkan. Keretakan pada permukaan cat makin banyak, pun dengan jamur yang bertabur pada beberapa bagian. Menurut beberapa sumber, saat dikembalikan ke Indonesia oleh pemerintah Belanda tahun 1976 (atau 1973?) Kondisinya masih sangat bagus. Cling banget. Apakah Raden Saleh dulu tidak memakai bahan yang sangat berkualitas? Atau memang suhu di sekitar ruang penyimpanan karya itu tak pernah dikontrol sama sekali? Saya tidak tahu.

Baiklah. Apapun, tampaknya perangkat seperti tampak dalam foto ini sudah layak untuk dimiliki dan dipergunakan secara serius oleh lembaga yang bertautan dengan benda-benda bersejarah semacam lukisan dan lainnya. Ini demi warisan sejarah. Mari kita pikirkan. Salam hangat! ***
Bottom of Form

Tuesday, June 23, 2015

Disiplin Waktu



Sebagai orang yang jauh dari disiplin dalam memanfaatkan waktu, ingin rasanya saya menyimak sisi-sisi kedisiplinan orang atau sistem di Barat. Ini kulakukan dalam 3 hari terakhir saat mengunjungi Hongaria, Italia, Austria dan Slovakia.

Pertama, saat perjalanan naik bus dari kota kecil Nagykanizsa, Hongaria menuju Venezia, Italia. Dalam tiket tertera pukul 23.45 mulai berangkat, dan sampai di Venezia pukul 06.05. Kami menunggu bus mulai pukul 23.30. Bus EuroLines berukuran besar itu datang pukul 23.43. Urusan sedikit agak lama karena paspor kami diperiksa oleh sopir yang merangkap kondektur sekaligus kernet. Usai itu, bus pun berangkat tepat waktu.

Bus melaju kencang di highway. Masuk di kota Dragontinci, Slovenia, bus berhenti sekitar 10-15 menit. Ternyata sang sopir makan dan minum sendirian di rest area yang sepi. Lalu bus kembali melaju kencang melewati highway di pinggiran kota Tepanje, Vinjeta, Kompolje, Dane (?), hingga masuk ke kota pertama di Italia utara, Trieste. Tak lama dari kota yang padat itu, bus berhenti di rest area sekaligus pom bensin, selama 20 menit.
Dari situ, bus melaju menuju Mestre, dan sampailah di Tranchetto, Venezia, tepat pukul 06.05 seperti dalam tiket. Wah!

Berikutnya, hari itu juga (malamnya) kami bertolak naik kereta api dari Venezia menuju Wina/Vienna, Austria. Di atas tiket tertera berangkat pukul 21.00 dan sampai stasiun Wien Honpfhoft pada 07.55. Kenyataannya, kereta berangkat tepat waktu, tapi sampai di Wina terlambat 2 menit. Ya, 2 menit, bukan 2 jam. Hari berikutnya, dari Wina ke Bratislava, lalu rute dari Bratislava-Budapest relatif sama: on time dan sesuai jadwal hingga pada menit yang sama.

Asemik. Yowis, inilah hal mendasar yang membuat kami bisa membuat agenda pertemuan dan kunjungan dengan teman-teman di beberapa kota di sekian banyak tujuan, berakhir dengan baik. Perjalanan sekitar 1.100 km di 4 hari terakhir di 4 negara itu begitu lancar. Sarana menunjang, sistem mendukung, dan kebetulan cuaca berpihak. Ihwal ketepatan waktu ini jadi mengingatkanku pada kisah tentang kedisiplinan filsuf Imannuel Kant yang tiap pagi keluar rumah untuk berangkat ke gereja dengan presisi waktu yang sama dari hari ke hari, hingga orang-orang sekitarnya punya patokan tentang "pagi waktu Kant".

Hanya dengan modal kepatuhan atas waktu inilah, bisa jadi, kebudayaan bisa ditumbuhkan menuju kemajuan. Ketoke lho... :-)