Wednesday, September 23, 2020

Pulanglah Bersama Kebaikanmu, Edo!

Foto: Ibunda dan istri (kiri) dan putri tunggal Edo (bertopi) di depan pusara.

Pada sepotong senja, mungkin tahun 2002 lalu, saya membonceng Edo sembari membawa lukisan seorang teman. Lukisan yang cukup besar itu rencananya akan dipamerkan di ruang seni yang kami bangun dan kelola, JFAC (Jogja Fine Art Community) namanya.
Begitu kendaraan sampai di depan pintu gerbang halaman JFAC yang sedikit terbuka, saya langsung melompat dari sepeda motor, dan tergopoh-gopoh membawa lukisan ke dalam ruangan. Lampu saya nyalakan semua. Lukisan yang terkemas rapi kubuka pelan-pelan. Kemudian kusandarkan ke tembok.
Ada persoalan yang harus kudiskusikan dengan Edo soal teknis pemajangannya. Tapi, lho, Edo kemana? Setelah berboncengan, kok dia tidak segera memasukkan sepeda motor ke halaman? Atau cari makanan?
Kutunggu bermenit-menit, tapi belum muncul dia. Saya mandi dan mengerjakan yang lain sambil menggerutu sendirian karena ulah Edo yang tiba-tiba ngilang. Saya telpon tapi tidak diangkat.
Setelah hampir sejam barulah dia datang. Wajahnya agak kusam. "Ah, kamu, Do. Kenapa langsung ngilang?" sergahku.
Dia langsung bercerita cukup runtut. Katanya, beberapa puluh detik setelah saya masuk ke dalam JFAC, ada seorang bapak tua melintas dengan menuntun sepeda onthel. Kakinya agak gontai ketika melangkah. Edo langsung bertanya ke bapak itu, kenapa sepedanya dituntun, tidak dinaiki. Apa gembos bannya?
Bapak itu, cerita Edo, mengeluhkan kakinya yang sakit sekali. Sulit untuk menggenjot sepeda. Dia tak kuat dan takut akan terjatuh lagi seperti sebelumnya.
Dengan sigap Edo mengambil keputusan untuk mengantarkan si bapak pulang ke rumahnya di daerah Jalan Godean. JFAC sendiri berada di daerah Tegalrejo. Beberapa kilometer jaraknya.
Dengan pelahan Edo mengantar. Tangan kanan memegang stang sekaligus gas motor, dan tangan kiri memegang stang sepeda onthel milik bapak. Tentu bukan perkara mudah karena dia harus menjaga keseimbangan sepeda dan sepeda motor. Si bapak diantarnya dengan selamat hingga di rumahnya.
Itu hanya secuil kebaikan Edo di antara kebaikan-kebaikan lain yang pasti pernah lakukan olehnya. Hari ini, kebaikan dan semua amal yang pernah dilakukan Edo niscaya akan menjadi kendaraan yang akan melancarkan perjalanannya menuju ke keabadian di sana. Selamat jalan, Edward a.k.a Away a.k.a Edo Pillu a.k.a Edo Riang. Ikhlaskanlah juga kuatlah, Tini dan Kay.
Al Fatihah.

Tuesday, September 22, 2020

Selamat Jalan, Edo Pillu/Edo Riang...






Selamat jalan, kawan Edward Piliang a.k.a. Edo Pillu a.k.a. Edo Riang (5 Juni 1969-21 Sept 2020, 51 tahun). Diabetes dan asma telah mengoyak-koyak tubuhmu. Edo masuk kuliah di Seni Patung, Fakultas Seni Rupa dan Disain (FSRD) ISI Yogyakarta tahun 1990 dan lulus tahun 1997.
Edo, Rabu lalu, 16 Sept lalu aku mendengar berita dari teman kita, Zulkarnaen Damanik (Jul Batak), bahwa dirimu ada di RS Bethesda, Yogya, sejak hari Sabtu sebelumnya (12 Sept 2020). Kamis, 17 Sept, kukontak istri tercintamu, Tina, menanyakan kabar dan kondisimu. "Masih dalam perawatan intensif," kata Tina. Sayang situasi kurang mendukung untuk menjengukmu. Protokol kesehatan yang diberlakukan di rumah sakit, termasuk tempatmu opname, belum memungkinkan untuk tiap orang menjenguk pasien yang menginap.
Senin malam, 21 Sept malam, kabar duka itu kudengar. Aku hanya bisa pasrah dan mengikhlaskan kepergianmu ke keabadian di sana. Semoga Tuhan memuliakanmu di alam barumu.
Perca-perca kenangan masih menempel dalam ingatan. Kita, misalnya, bolak-balik ikut berunjuk rasa untuk berbagai isu di Bunderan UGM. Juga pernah aku mengajakmu bersama S. Teddy D plus Yustoni Volunteero (salam buat mereka ya kalau ketemu di sana) untuk berdemo tentang isu perempuan (bersama para aktivis perempuan Yogya) di alun-alun Jepara tahun 1995 (?).
Maaf ya kalau dulu aku sering tiba-tiba datang ke kamar kostmu di Kersan (jejer bersama kamar
Budi Kustarto
) dan ngobrol lama hingga kamu tak bisa berkarya. Bahkan kadang asyik ngobrol hingga nginap di kamarmu.
Asyik ya dulu kita ngobrol dengan mimpi-mimpi besar, khas anak-anak muda yang masih bergelora, hahaha. Lalu kita bareng Setyo Irmanto,
Wahyu Gunawan
, dll. bikin JFAC (Jogja Fine Art Community) yang didanai oleh bro Lie Chi Sing a.k.a. Sing Sing (eh, moga-moga segera ketemu bro Sing Aing ya di sana).
Baiklah, kawan Edo, semoga jalanmu ke keabadian begitu lempang. Tetaplah riang dan banyak senyum seperti biasanya ya.
Oya, lukisan pemberianmu, "Belajar dari Sejarah" masih tersimpan di rumah kok. Itu bagian dari sejarah proses kreatifmu, juga sekuel dari persahabatan kita. Terima kasih Edo, untuk semuanya. Untuk Tina dan Kay, ikhlaskan kepergian ayah Edo ya. Kuatlah... Bismillah... 🙏🙏🙏😪😪😪
Innalillahi wa inna ilaihi raji’un..
Allahummaghfirlahu warhamhu wa ‘afihi wa’fu’anhu
N.B.
Pemakaman almarhum Edo dilangsungkan pada hari Selasa, 22 September 2020, pukul 14.00 WIB. Berangkat dari rumah duka di Kembaran RT 03 no.142, Tamantirto, Kasihan, Bantul. Almarhum akan dikebumikan di pemakaman Sonoloyo Lor, Kembaran.

Monday, September 21, 2020

Kekuatan Disain





Sudah berapa juta kali, atau bahkan mungkin berapa milyar kali kesalahpamahan dapat dijembatani dan diselamatkan oleh emoticon Smiley Face? Kita mungkin baru sadar bahwa akar dari proses penjembatanan dan penyelamatan itu, dulu, awalnya hanya seharga 45 dolar.
Tahun 1963, perusahaan asuransi jiwa negara bagian Worcester, Massachusetts, Amerika Serikat membeli sebuah perusahaan penjaminan bersama di Ohio (Guarantee Mutual Insurance Company of Ohio). Kedua perusahaan itu kemudian dimerger jadi satu. Penyatuan perusahaan tersebut tidak dengan serta-merta menyatukan emosi para karyawan (mantan) kedua perusahaan tersebut. Situasi internal serba sulit. Banyak karyawan belum “klik” satu sama lain.
Melihat situasi yang berdampak pada kemungkinan rendahnya semangat dan produktivitas kerja para karyawan, maka Joy Young, Direktur Promosi dari perusahaan yang disatukan itu diberi tugas untuk membuat semacam “kampanye persahabatan” di internal perusahaan. Salah satu bentuk konkretnya adalah pembuatan ikon visual untuk kampanye tersebut. Ikon visual tersebut nantinya akan diterapkan menjadi pin yang dikenakan pada baju seragam perusahaan—juga dipasang dimedium lain.
Joy Young lalu menghubungi Harvey Ball, disainer dan pemilik Harvey Ball Advertising—sebuah perusahaan iklan yang dibangun tahun 1959. Dari order dan masukan Young, kemudian Young mengeksekusinya dengan membuat lingkaran warna kuning dan di dalamnya ada garis lengkung. Ini serupa kepala manusia dengan bibir tersenyum.
Ball menyadari kalau hanya berujud seperti itu, jika gambar dibalik, maka seperti bibir yang cemberut. Untuk menguatkan karakter senyum, kemudian dibuatlah 2 titik di seberang garis lengkung tanda bibir tersenyum tersebut. Mata kiri dibuat sedikit lebih kecil ketimbang mata sebelah kanan. Clink! Maka, jadilah simbol wajah tersenyum atau Smiley Face yang dibuat oleh Harvey Ball dalam 10 menit. Dia mendapatkan US$ 45 untuk jasa tersebut. Tak ada hak cipta dan semacamnya atas karya itu yang memungkinkan Ball mendapatkan hak royalti. Sudah, cukup hanya US$ 45 itu saja.
Harvey Ball lahir pada 10 Juli 1921 di Worcester, Massachusetts telah meninggal pada 12 April 2001 dalam usia 79 tahun. Kini, setelah lebih dari setengah abad dilahirkan oleh Ball, Smiley Face masih tetap dipergunakan oleh milyaran manusia dalam berkomunikasi lewat dunia digital. Lewat emoticon, Smiley Face—dengan berbagi pengembangannya—telah menghangatkan komunikasi antara dua orang atau sekelompok orang. Dalam situasi tertentu, emoticon itu mampu menjadi jembatan atau penyelamat atas situasi komunikasi yang kurang baik, hangat dan cair. Karya disain yang baik pasti abadi, dan menemukan fungsi sosialnya yang efektif.
Semoga engkau sedang tersenyum di surga sana, eyang Harvey Ball...

Friday, September 11, 2020

Sawu







Hari ini, Jumat, 14 Agustus 2020 di depan Sidang Tahunan MPR, Presiden Jokowi mengenakan pakaian adat suku atau pulau Sawu. Saya baru tahu pakaian dan aksesorisnya seperti itu. Ternyata indah dan keren.
Lalu, dimana dan bagaimanakah Sawu? Bila kita terbang dari Denpasar atau Surabaya menuju Kupang, pesawat terbang akan melintas di atas laut Sawu, atau sisi utara pulau Sawu. Persisnya di titik koordinat 10°39'0""LS (Lintang Selatan) dan 121°53′0″BT (Bujur Timur). Pulau ini tak terlalu besar. Menyebut pulau Sawu sebetulnya menyebut "paket" sebuah kepulauan yang terdiri dari pulau Sawu, Raijua, dan pulau Dana. Yang disebut terakhir itu berada paling barat dan tidak berpenghuni. Sawu kira-kira seluas 540 km², sedang Raijua hanya sepersepuluhnya, yakni 54,9 km², sementara Dana lebih kecil lagi. Sebelah utara dan barat Sawu dikelilingi Laut Sawu, dan selatan serta timur dikepung Samudera Hindia. Jumlah penduduk Sawu kini diperkirakan sekitar 92.000 orang.
Pulau Sawu terbentuk dari karang koral yang membentuk daratan setinggi 300 meter dari permukaan laut, sama seperti dua pulau di sekitarnya. Pulau ini juga dikenal dengan sebutan Sabu atau Savu. Tetapi penduduk asli pulau ini menyebut dengan Rai Hawu atau "Tanah dari Hawu".
Bagian utara pulau Sawu lebih hijau ketimbang bagian selatan. Pulau ini memiliki beberapa sungai hujan, yang berair ketika musim hujan, dan kerontang saat kemarau, kecuali di bagian utara yang memiliki mata air, sehingga air sungai mengalir sepanjang tahun.
Ada dua pelabuhan di Sawu, yakni Haba di bagian barat, yang dipergunakan saat musim kemarau, dan pelabuhan Bolou yang banyak dipakai saat musim penghujan. Keduanya memiliki jalur pelayaran rakyat menuju ke Kupang, Sumba dan Ende (Flores). Di pulau ini ada bandara kecil yang dapat untuk mendarat pesawat terbang ukuran kecil. Namanya Terdamo. Tapi rute ke pulau ini belum tiap hari ada.
Cuplikan sejarah mengisahkan bahwa penguasaan VOC atas Sawu tahun 1756 mewajibkan penduduk pulau ini menyediakan tentara untuk membantu kompeni (VOC) dalam perang di pulau Timor serta untuk memperkuat benteng di Kupang. Tentara asal Sawu juga dimanfaatkan untuk menghentikan serangan orang-orang Ende yang mendapatkan budak di Sumba pada tahun 1838. Pada kurun waktu itu sebagian orang Sawu beremigrasi menuju Sumba timur dan membentuk perkampungan di sana. Catatan tahun 1876 menyebutkan ada peningkatan dalam jumlah cukup besar penduduk Sumba asal Sawu. Diduga, ini tidak lepas dari adanya wabah kolera pada tahun 1874 yang membuat orang Sawu banyak meninggal atau bergerak meninggalkan pulau tersebut.
Orang Sawu menganggap pulau mereka, Rai Haru, seperti makhluk hidup yang membujur dengan kepala di sebelah barat (di Mahara), perut di tengah pulau (daerah Haba dan Liae), serta ekor di bagian timur (kawasan Dimu). Mereka juga menganggap Sawu seperti perahu: wilayah Mahara di barat yang bergunung-gunung disebut "duru rae" atau anjungan, dan daerah Dimu yang dataran rendah sebagai "wui rae" atau buritan.
Filosofi atau aturan perahu juga terlihat dalam pengaturan bagian kampung. Misalnya, nama sebutan kampung secara lengkap disebut kampung perahu atau rae kowa. Bagian kampung yang lebih tinggi disebut anjungan atau duru rae. Sedang bagian yang lebih rendah sisebut wui rae (buritan), dan di bagian buritan kampung disebut kemudi kampung (uli rae).
Seperti halnya daerah lain di kawasan Nusa Tenggara Timur, di pulau Sawu ini juga memiliki kekayaan wastra (kain) dengan motif yang khas dan indah. Termasuk seperti yang dikenakan oleh Presiden Jokowi. Secara umum orang juga mengenal bahwa pulau ini penghasil gula merah dari pohon nira yang sangat manis.
Pemunculan pakaian adat Sawu yang dikenakan Presiden pasti memiliki banyak dugaan tendensi dan motif, termasuk politik. Bagi saya sih ini juga menerbitkan dugaan kultural: bahwa "tubuh" Sawu yang "kecil" secara geografis itu memiliki kekayaan besar secara kultural, dan sekian lama bangsa ini mengabaikan kekayaan dan keindahan "tubuh" kita sendiri.
Di Nusa Tenggara Timur saja ada puluhan kekayaan bahasa utama dengan ratusan dialek yang berbeda. Demikian pula dengan keragaman motif kain tenun yang luar biasa indahnya. Jokowi seperti kembali memberi sinyal betapa kita perlu kembali menguatkan "rasa cinta yang keras kepala" kepada tubuh kebudayaan sendiri. Bukan memunggungi bahkan meninggalkannya. Indonesia kita itu sebenarnya kaya.

14 Agustus 2020

(Sebagian catatan saya cuplik dari buku "Pelayaran dan Perdagangan Kawasan Laut Sawu: Abad ke-19 hingga Awal Abad ke-20, tulisan Didik Pradjoko dan Friska Indah Kartika).

Thursday, September 10, 2020

Memanah



Dalam seminggu terakhir telah beredar secara berantai--dan viral--sebuah video bersejarah yang bertajuk "Kabinet Pertama RI (Republik Indonesia) Terbentuk". Video berdurasi 3:33 menit ini diiringi lagu Indonesia Raya 3 stanza. Lengkap, seperti yang diciptakan dulu oleh violis kelahiran Purworejo, Jawa Tengah, Wage Rudolf Soepratman.
Hal yang menarik bagi saya adalah terpampangnya sebuah lukisan berukuran 153 x 153 cm pada bagian dinding paling strategis dalam ruangan bersejarah pada rumah di Jalan Pegangsaan Timur nomer 56, Jakarta itu. Di halaman rumah itulah kemerdekaan Republik Indonesia diproklamasikan. Coba simak video tersebut (saya sertakan dalam status ini) pada menit 1:16 hingga 1:45, lalu bersambung pada menit 2:00 hingga 2:05, dan 2:25 menuju 2:28. Belum saya ketahui secara persis, Sukarno dan para anggota kabinet pertama RI tersebut duduk-duduk saat menjelang acara pelantikan atau sesudahnya, menjelang konferensi pers, atau momen apa. Belum ada keterangan.
Meski masih dalam format hitam-putih, namun video itu cukup jelas memperlihatkan lukisan bertajuk "Memanah" yang berada di belakang kepala Sukarno, Mochamad Hatta dan petinggi negara RI yang baru merdeka pada hari Jumat, 17 Agustus 1945. Lukisan itu karya Henk Ngantung. Hendrik Joel Hermanus Ngantung nama lengkap seniman itu.
Lukisan "Memanah" dibuat pada tahun 1943 dengan medium tripleks dan menggunakan cat minyak. Pada sebuah pameran besar di Jakarta yang dihelat oleh Keimin Bunka Sidosho (pusat kebudayaan buatan penjajah Jepang) pada tahun 1944, "Memanah" ikut di dalamnya. Waktu itu Sukarno sempat menyaksikan pameran tersebut dan tertarik pada lukisan Henk Ngantung.
"Lukisan bagus. Ini sebuah simbol bangsa Indonesia yang terus, terus, dan terus bergerak maju. Paulatim longius itur!" kata Bung Karno.
Begitu pameran selesai, diam-diam Sukarno pergi menyambangi Henk di studionya. "Aku ingin membeli lukisan itu," kata Sukarno. "Untuk Sukarno saya dapat hadiahkan lukisan itu. Tapi saya juga perlu uang," ujar Henk Ngantung. Seniman muda ini (waktu itu Henk berusia 23 tahun, dan Sukarno 43 tahun) mengatakan bahwa lukisan itu sebetulnya belum selesai seperti yang dia harapkan. Ada bagian yang belum sempurna, yakni bagian lengan. Dia mengatakan bahwa untuk menyelesaikannya harus ada seorang model. Saat itu belum ada model.
"Aku, Sukarno akan jadi model," seru Sukarno.
Henk terhenyak. Dia tak bisa menolak. Maka, saat itulah dilukisnya Sukarno untuk menuntaskan lukisan "Memanah". Dalam rentang waktu setengah jam proses memperbaiki bagian lengan usai sudah. Dengan segera lukisan itu dibawa sebagai koleksi karya seni Bung Karno.
Tidak diketahui secara persis berapa harga lukisan tersebut ditransaksikan. Namun selanjutnya karya itu menjadi salah satu koleksi Istana Kepresidenan RI. Pada titik ini ada hal yang unik, yakni bahwa Sukarno kadang "sulit" membedakan dan memposisikan diri sebagai seorang kolektor karya seni dan sebagai pejabat presiden. Banyak karya seni rupa diorder dan dikoleksi atas nama pribadi namun kemungkinan dilunasi dengan dana pemerintah atau sebagai pejabat presiden. Begitu juga sebaliknya, tidak sedikit karya seni yang dikoleksi dengan dana pribadi namun kemudian diatasnamakan sebagai milik negara.
Lukisan "Memanah" adalah salah satu contohnya. Lukisan ini dibeli tahun 1944 ketika Sukarno belum menjadi presiden. Demikian pula dengan Monumen Dirgantara yang lebih populer dengan nama Tugu Pancoran. Pematungnya, almarhum Edhie Soenarso sempat menyatakan bahwa karya tersebut akhirnya dituntaskan dengan dana pribadi si seniman sendiri karena ketika proses pembuatan patung sedang berjalan pemerintahan Sukarno jatuh. Dan dana dari pemerintah (orde baru) makin seret mengalir untuk penuntasan karya karena Sukarno meninggal tak lama kemudian.
Sebelumnya Sukarno mencoba melunasi dengan menjual sebuah mobil VW kodok yang kala itu laku Rp 1.000.000,-. Tugu Pancoran akhirnya dilunasi oleh putri sang pengorder, yakni Megawati Sukarno Putri, saat dia menjadi presiden RI antara 2001-2004.
Karya "Memanah", setelah berusia puluhan tahun, tidak tahan oleh gerusan waktu dan cuaca. Apalagi materialnya "hanya" tripleks yang kemudian keropos dan nyaris rusak sama sekali. Maka kemudian dibuatkan replikanya yang terbuat dari kanvas, dilukis oleh seniman Haris Purnomo (lulusan STSRI "ASRI", sekarang FSR ISI Yogyakarta), dan antara lain dipamerkan untuk masyarakat luas pada 1-31 Agustus 2017 lalu di Galeri Nasional Indonesia.
Lantas, siapakah Henk Ngantung si pelukis "Memanah" itu? Banyak catatan yang menyatakan bahwa dia anak keturunan Minahasa yang lahir di Bogor pada 1 Maret 1921. Namun sejak kecil diboyong ke Tomohon, Sulawesi Utara, hingga pada tahun 1937 (saat usia 16 tahun) memulai merantau ke Bandung. Ayahnya seorang tentara KNIL (tentara pemerintahan Hindia Belanda) berpangkat fourier atau bintara, Arnold Rori Ngantung. Sedang ibunya bernama Maria Magdalena Ngantung Kalsun.
Dia tidak pernah belajar seni rupa di bangku akademis, namun pada para akademisi Barat yang menetap di Bandung, yakni Prof. Rudolf Wenghart dan Prof. Wolf Schoemaker dari Austria. Setelah sekitar 3 tahun di Bandung, Henk berpindah ke Jakarta tahun 1940 dan menggabungkan diri dengan Bataviasche Bond van Kunstkringen atau asosiasi seniman Batavia). Saat Belanda terusir oleh Jepang, Henk bergabung dengan lembaga kebudayaan bentukan Jepang, Keimin Bunka Sidosho.
Dasawarsa 1950-1960 aktivitasnya meningkat seiring dengan pergaulannya yang meluas. Dia terkait dengan Lekra atau Lembaga Kebudayaan Rakyat. Pergerakan budaya dan politik diikuti dengan giat, hingga puncaknya berbuah pada pencapaiannya sebagai birokrat di Jakarta: sebagai Wakil Gubernur DKI Jakarta mendampingi perwira TNI AD, Kolonel Dr. Soemarno sebagai gubernur.
Lalu bersambung menjadi pejabat gubernur mulai 17 Oktober 1964 saat Soemarno (yang pada tahun 1964 telah naik pangkat menjadi Mayjen) berganti jabatan sebagai Menteri Dalam Negeri. Namun posisi Henk Ngantung sebagai gubernur hanya dijabat selama 9 bulan. Sukarno dikabarkan tidak cocok dengan cara kerja Henk, dan diberhentikanlah secara resmi pada 14 Juli 1965. Mayjen Soemarno ditarik kembali jadi gubernur. Sementara Henk diperbantukan pada Menteri Sekretaris Negara.
Setelah pemerintahan Sukarno jatuh, nasib Henk pun ikut runtuh. Pada tahun-tahun terakhir hidupnya dia bersama istri tercintanya, Hetty Evelyn Mamesah atau Evie, terimpit oleh kemiskinan. Rumahnya di pusat kota terpaksa dijual untuk menyambung hidup dan untuk membeli pondok kecil di gang sempit di bilangan Cawang, Jakarta Timur. Di situlah Henk berpulang ke haribaan pada 12 Desember 1991. Monumen Nasional, Tugu Selamat Datang dan sekian banyak capaian monumental yang dia ikut terlibat menggagasnya saat menjabat Wagub dan Gubernur DKI Jakarta telah jadi kenangan abadi bagi publik.
Tetaplah mulia, Para Pahlawan Bangsa!

17 Agustus 2020
(Beberapa bagian pada catatan ini saya kutip dari buku "Henk Ngantung: Saya Bukan Gubernur PKI" (2017), tulisan Obed Bima Wicandra)

Liang Lahat Kolonialisme







Perupa asal suku Tlingit-Unangax, Alaska, Amerika Serikat, Yeil Ya-Tseen Nicholas Galanin membuat karya menarik di 22nd Sydney Biennale 2020. Karyanya kurang lebih mempertanyakan ulang keberadaan kolonialisme masa lalu yang masih diawetkan simbolisasinya hingga kini. Sebagai seniman yang juga native atau penduduk asli benua Amerika, Galanin memposisikan setara keberadaan dirinya atau sukunya di Amerika Serikat, dengan penduduk Aborigin di Australia. Atau orang-orang Maori di Selandia Baru. Sama, mereka dikolonialisasi (hingga kini, meski dengan gradasi persoalan yang bergeser).
Galanin mengeksekusi ide karyanya dengan membuat semacam lubang ekskavasi (atau penggalian artefak arkeologis) yang bentuknya sama persis dengan outline sosok patung James Cook. Karya Galanin itu ada di pulau Cockatoo, Sydney's Hyde Park.
James Cook sendiri, kita tahu, adalah pria kelahiran Marton, Yorkshire, Inggris tahun 1728 yang memimpin penjelajahan laut dari Inggris dengan kapal Endeavour dan mendarat di daerah yang kemudian dinamakan sebagai Queensland di pantai tenggara Australia. Cook dan timnya berangkat dari London pada 26 Agustus 1768 dan mendarat di pantai tenggara benua Australia pada 19 April 1770. Itulah momen pertama kali orang Eropa menjejakkan kaki di Australia. Dan itulah titik awal Inggris mengkolonisasi Australia.
Karya Galanin berupa lubang ekskavasi itu diimajinasikan sebagai liang lahat bagi patung James Cook, dan tentu juga liang lahat bagi praktek kolonialisme. Ingatan tentang James Cook sebagai "penemu" benua Australia dan menjadikannya sebagai superhero, bagi Galanin, sudah saatnya dikubur dalam-dalam. Cook bisa jadi adalah pahlawan bagi Inggris, tapi hantu kolonialisme bagi penduduk asli Australia--yang kemudian dipinggirkan. Karya Galanin ini bertajuk "Shadow on the Land, an Excavation and Bush Burial".

Selamat Jalan, Pak Jakob Oetama...



Orang besar itu, Jakob Oetama (JO), wafat siang hari ini, Rabu, 9 September 2020, di usianya yang ke-88 tahun. Ya, dia orang besar karena berani menempuh jalan penuh liku dengan mendirikan usaha media mulai dari nol hingga tumbuh menjadi salah satu perusahan media terbesar dan berpengaruh di negeri ini.
Jakob sadar bahwa masuk di lahan knowledge industry hingga sukses besar bukan perkara mudah. Idealisme tetap dimunculkan tapi tetap mengatur ritme untuk bisa survive di sisi ekonomi. Maka ketika sukses secara ekonomi, Jakob teringat kalimat pendiri raksasa industri Jepang, Panasonic, yakni Konouke Matsushita (1894-1989) yang membilang bahwa "laba bukanlah cermin kerakusan perusahaan. Laba tanda kepercayaan masyarakat. Laba tanda efisiensi."
Begitulah. Kompas dan perusahaan media garapan JO dan Petrus Kanisius PK Ojong (1920-1980) beserta sekian banyak perintis dan penerus lain merunuti jalan kesuksesannya. Knowledge industry atau industri pengetahuan yang dikelola oleh JO lewat Kompas ini adalah perpanjangan dari mata rantai dari kehendak untuk mengabadikan kerja dan daya ingatan otak.
Dia--karya budi dan daya manusia itu--seperti dirumuskan oleh Umberto Eco, tidak hanya mengendap dalam otak sebagai organic memory, tapi meneruskannya sebagai karya vegetal memory lewat bantuan teknologi cetak (yang dirintis sejak Gutenberg menciptakan mesin cetak tahun 1445). Vegetal memory sendiri merupakan bentuk progresif setelah berabad-abad sebelumnya manusia mengabadikan organic memory dengan mineral memory (seperti prasasti dengan memahat teks di atas batu, dan semacamnya). Menarik bahwa JO wafat ketika bisnis knowledge memory-nya yang berada di tahap vegetal memory mulai berangsur surut, menipis populasi konsumennya, dan publik ramai-ramai beranjak menuju tahap digital memory.
Sepeninggal JO, publik akan menjadi saksi keberadaan warisan fisik atas kedigdayaan JO dan para mitra perintisnya membangun raksasa media seperti Kompas, Gramedia, hingga jaringan hotel Santika, dan lainnya. Tapi hal yang juga lebih penting, seberapa dalam dan kuat nilai-nilai falsafah, etika serta budaya kerja yang ditanamkan oleh JO akan dilanggengkan oleh generasi penerusnya.
Salah satu rumusan nilai-nilai yang ditanamkan dan acap diucapkan JO adalah Five C, yakni Care (peduli), Credible (bisa dipercaya), Competent (kompeten), Competitive (kompetitif), dan Customer Delight (kepuasan konsumen). Apakah para penerus KKG (Kelompok Kompas Gramedia) bisa mewarisi nilai-nilai tersebut dan terus mampu mengarungi jalan kesuksesan pada fase berikutnya? Atau publik siap-siap menyimak KKG sebagai Komunitas Kalah dan Galau?
Saya hanya bisa mengirim doa terbaik untuk kemuliaan Pak JO di haribaan di sana, dan tentu untuk para penerus JO di KKG yang pasti jauh lebih cerdas dalam menyusun strategi ke depan. Selamat jalan, Pak JO. Nama dan karyamu abadi...

Tuesday, September 01, 2020

Edi Sunaryo: Merawat Ruang Idealisme





//Imajinasi Jadi Seniman//

Lelaki berkumis itu begitu ramah menyambut kami. Senyumnya merekah. Tegur sapanya hangat, semanak, dan membuat kami sebagai tamu jadi betah. Ya, lelaki itu bernama Edi Sunaryo. Dia terbilang sebagai seniman senior dan pensiunan dosen Fakultas Seni Rupa Institut Seni Indonesia (FSR ISI Yogyakarta). Wajahnya masih segar sumringah meski usianya sudah hendak menjejak pada angka 69 di tahun ini (kelahiran 4 September 1961).

Kami diterima di rumah kedua Edi Sunaryo di kawasan perumahan Sidoarum, Sidoagung, Sleman, Yogyakarta. Jarak antara rumah pertama dan kedua hanya sekitar 25 meter. “Kita ngobrol di sini saja ya. Lebih bebas kalau kita mau teriak atau tertawa keras-keras,” tuturnya sembari mengulas senyum. Rumah utama itu berupa pendapa berdinding yang telah dimodifikasi di sana-sini. Banyak karya seni seperti lukisan, grafis, patung dan lainnya bertebar di seantero bangunan. Rumah utama dihubungkan dengan bangunan lain, dua lantai, di bagian belakang. Ada kolam ikan kecil di dalam rumah itu. Semuanya berdiri di atas tanah seluas 230 meter persegi. Tanah itu sendiri dibelinya pada tahun 1998, cipratan rezeki dari larisnya penjualan karya seni saat ada booming seni rupa tahun-tahun itu.

Hidupnya dirasakan lebih santai setelah memasuki pensiun. Masa pensiun telah dijalani 4 tahun lalu, tahun 2016, setelah mengabdi sebagai dosen di almamaternya sejak tahun 1980—beberapa waktu serampung dia kuliah S1. Waktunya kini tetap dilimpahkan untuk berkarya seni. Dalam porsi waktu yang seimbang, tentu saja—bersama istri tercinta, Setyowati—momong cucu-cucunya dari ketiga putra-putrinya: Dona, Brian, dan Ajeng.

Menjadi seniman seni rupa, bagi Edi, adalah bagian dari imajinasinya sejak usia dini. Sang kakek, Mbah Sarpan—seorang penginjil dan petani ‘utun’—adalah salah satu sosok penting yang mengajarkan tentang relijiusitas Kristen sekaligus keindahan. Ayahnya, Insuwandi, seorang anggota polisi, langsung atau tak langsung mengajarkan tentang pentingnya kedisiplinan. Sementara sang ibunda, Sayekti, adalah seorang pendongeng yang selalu mengajarkan dan mengingatkan soal cinta kasih, dosa dan tabu. Dari situlah bibit-bibit yang mengantarkan Edi untuk mencintai keindahan, seni, hingga kelak—bertahun-tahun kemudian—memilih kuliah di seni rupa, dan akhirnya menjadi seniman hingga kini. 

***

//Atmosfir Idealisme//

Sebagai tuan rumah, Edi Sunaryo adalah seorang pencerita yang baik dan hangat. Berbagai kisah, pahit dan manis, suka dan duka, ditebarkan nyaris tanpa tedheng aling-aling. Terbuka. Dan tugas redaksi Padmanews-lah yang mesti bijak untuk memilah untuk dinarasikan kembali.

Pilihan untuk menjadi seniman, tutur Edi, bukan hal mudah. Banyak proses dan pengalaman dilaluinya. Awalnya dia mendaftar masuk AKABRI. Tapi tidak diterima. Dia merasakan memang bukan di situ ruang yang cocok baginya. Maka, kemudian, masuklah Edi ke ASRI (Akademi Seni Rupa Indonesia, kini bernama Fakultas Seni Rupa ISI Yogyakarta). Namanya lolos sebagai mahasiswa ASRI angkatan (masuk) tahun 1972. Teman-teman seangkatannya antara lain seniman Nisan Kristiyanto, Godod Sutedja, Sutopo, dan lainnya.

Masa-masa kuliah di ASRI menjadi salah satu masa paling menyenangkan untuk dikenangnya. Kampus itu seperti “kawah Candradimuka” baginya untuk menggembleng dan menempa diri sebagai (calon) seniman dan manusia dengan berbagai dimensinya. Para dosen yang mengajarnya dulu adalah mereka yang berkelas empu atau maestro dalam peta seni rupa Indonesia. Sebut saja misalnya Widayat, Fadjar Sidik, Nyoman Gunarsa, Aming Prayitno hingga Suwadji, dan lainnya. Belum lagi maestro Affandi sesekali bertandang ke studio kampus lalu berdiskusi dengan dosen dan mahasiswa. Pun dengan romo Dick Hartoko yang mengajar filsafat seni dan kebudayaan di ASRI. Juga ada romo de Bolt dan sastrawan Darmanto Jatman mengampu mata kuliah lainnya. Sosok-sosok tersebut memberi pembelajaran penting dalam dasar-dasar berseni rupa.

Masih dalam lingkungan kampus, Edi merasakan atmosfir penalaran dan kreativitas yang mengayakan dirinya. Kakak-kakak kelasnya turut memberi penguatan proses kreatifnya. “Hardi dan Nanik Mirna itu dua di antara kakak kelas yang paling sering mengritik habis karya-karya saya dan seangkatan saya. Kritik mereka keras. Bahkan terbilang sadis! Tapi itu sangat bermanfaat bagi proses perjalanan kreatif saya sebagai seniman dan dosen,” kenang Edi. Hardi adalah salah satu seniman muda yang pada pertengahan dasawarsa 1970an ikut dalam GSRB (Gerakan Seni Rupa Baru) yang menghebohkan jagat seni rupa kala itu. Karya monumental Hardi adalah karya serigrafi (sablon) yang bergambar potret diri Hardi yang dibubuhi tulisan besar “Presiden RI Tahun 2000”. Karya tersebut terbilang keras secara politis waktu itu, ketika rezim Soeharto tengah menguatkan kekuasaannya.

Iklim dan atmosfir kampus yang kondusif untuk dunia kreativitas itu menumbuhkan sosok Edi Sunaryo sebagai calon seniman yang menggenggam penuh idealisme. “Saya lahir dan tumbuh sebagai seniman di situasi yang tidak memikirkan pasar. Cita-cita saya waktu itu adalah menaklukan TIM (Taman Ismail Marzuki),” kenang Edi. Ya, pada kurun waktu 1970-an hingga akhir 1980-an situasi pasar seni rupa masih sepi. Belum hingar-bingar ketimbang dasawarsa berikutnya, hingga kemudian ada booming seni rupa ketika harga karya seni rupa meledak dan banyak bermunculan kolektor seni. Unik juga bahwa berhasilnya seniman lolos seleksi untuk bisa berpameran (kelompok atau tunggal) di galeri TIM merupakan sebuah pencapaian dan prestasi besar kala itu. Realitas ini tak lepas dari keterbatasan situasi ketika Indonesia masih minim gedung-gedung untuk perhelatan seni rupa. Bisa berpameran di TIM jadi sangat prestisius.

Cita-cita Edi untuk berpameran di TIM dapat tercapai ketika menginjak di usia 26 tahun. Ketika itu, tahun 1977, dia terpilih untuk ikut Pameran Pelukis Muda. Pencapaian itu tidak lepas dari prestasi sebelumnya yang telah direngkuh. Pada tahun 1976 Edi meraih penghargaan Pratisara Affandi Karya, sebuah penghargaan yang diberikan oleh kampus ASRI bagi karya terbaik kreasi mahasiswa. Penghargaan tersebut mulai ada tahun 1975. Selain tahun 1976, Edi juga mendapatkan (kembali) penghargaan serupa pada tahun 1980. Beda tahun-tahun sesudahnya, kala itu penerima penghargaan itu tidak mendapatkan hadiah berupa uang atau bentuk lain. “Tapi saya sudah sangat senang. Saya merasa digdaya karena penghargaan itu terasa begitu prestisius...,” kenang Edi. Dia juga merasakan aura yang prestisius ketika ujian skripsi diuji oleh 11 orang dosen—di antaranya pelukis senior Aming Prayitno dan Soebroto Sm. Dia seperti dikeroyok. Sedang saat ujian doktor tahun 2011, Edi diuji oleh 9 orang penguji.

***

//Seukuran Bajaj//

Pengalaman pameran pertama kali di TIM ternyata menjadi tonggak penting bagi perjalanan kesenimanan Edi. Bukan saja untuk menanamkan reputasi, namun juga pada aspek yang lain, yakni pasar. Untuk pertama kalinya karyanya berpindah tangan ke kolektor. Tidak tanggung-tanggung, karyanya dikoleksi oleh Alex Papadimitrou—kolektor seni top waktu itu. Alex juga seorang konsultan perbankan asal Yunani yang telah lama menetap di Indonesia. Proses pengkoleksian itu pun tidak mulus. Perkenalan dengan Alex dimediasi oleh sastrawan Ajip Rosidi dan pelukis Nashar yang lebih dulu kenal. Juga bersama Arfial Arsyad, seniman muda (kala itu) yang berpameran bersama Edi di TIM (kemudian menjadi dosen seni rupa di UNS).

Awal-awal pertemuan dengan Alex sangat mengesankan Edi. Ada nasihat yang menancap kuat dalam dokumentasi ingatannya. “Pemain piano yang baik kalau tidak bermain 4 jam saja pasti jari-jarinya kaku. Pelukis pun juga begitu. Kalau jarang melukis, pasti akan kaku. Maka rajinlah melukis. Kalau ada yang baik, kirimkanlah ke saya.” Kalimat yang menyemangati itu diingat betul hingga kini.

Dia terpacu untuk bersemangat dalam berkarya. Lalu, bila ada karya yang menurut Edi bagus, langsung dibawanya ke Jakarta untuk ditawarkan pada Alex. “Karena ada keterbatasan, maka ukuran karya yang saya bawa ya yang bisa masuk dalam bajaj, hahaha...” kenang Edi sembari tergelak.

Suatu ketika Edi membawa beberapa karya ke Jakarta. Dari Jogja naik kereta senja, dan tiba di stasiun Gambir, Jakarta, saat subuh. Pagi-pagi sekali. Secepatnya dia menumpang bajaj menuju ke kediaman Alex. Sampai di sana—karena terlalu pagi—pintu rumah masih ditutup. Namun Edi tidak sendirian. Di depan rumah Alex, sepagi itu, sudah ada mobil yang membawa lukisan dan hendak ditawarkan pada sang tuan rumah. Mobil itu datang dari Bandung. Dan seniman yang membawa karya-karya itu adalah: Hendra Gunawan, salah satu seniman old master Indonesia. Edi kaget. Tapi juga gembira. Karena pagi itu bisa ngobrol banyak dan mendapat “kuliah subuh” tentang kesenian bersama seorang maestro seni rupa Indonesia. Dia jadi bisa belajar bahwa perjuangan untuk menjadi seniman besar pun sungguh tak mudah. Mereka ngobrol hingga kemudian pintu rumah Alex dibukakan persis pukul 07.00 WIB.

Bertahun-tahun kemudian Edi mendapatkan kebanggaan ketika suatu hari kembali bertandang ke rumah Alex. Pada salah satu tembok, matanya nanar menyaksikan lukisan karyanya berdampingan dengan karya Hendra Gunawan. 

***

//Ruang Kosong 30%//

Seiring alur waktu, perjalanan kreatif Edi Sunaryo begitu larut. Idealisme yang dikukuhinya saat mahasiswa lambat laun berbuah. Karyanya tidak sekadar diapresiasi dalam pewacanaan, namun juga dalam aspek pasar. Karya-karya menarik perhatian publik. Dan Citra Primitif menjadi salah satu tema dan serial karyanya yang paling dikenal para kritisi seni dan masyarakat. Para pecinta seni pun banyak berburu untuk mengoleksi karya serial ini.

Pencapaian atas tema ini muncul jauh setelah Edi menjadi dosen di almamaternya. Ketertarikannya pada citra primitif yang ada di Afrika, Papua, dan kawasan lain menjadi sumber gagasan awalnya. Dia kagum pada unsur titik, garis, meander, dan lainnya, yang dalam karya primitif menjadi simbol penuh makna. Ketika menyaksikan unsur visual tersebut, Edi merasakan nilai relijiusitas dan spiritualitas pada karya primitif terasa tinggi. Edi pernah menyaksikan sebuah pameran seni di Indonesia dari karya para seniman China. Karya-karya itu mengagumkan baginya. “Saya merasakan aura karya itu ada dan dalam,” katanya. Itu juga dirasakannya bila mengamati relief dan ornamen di tubuh candi.

Begitulah. Karya bertema Citra Primitif itu ditekuninya hingga sekitar 10an tahun. Entah sudah berapa karya yang dihasilkannya dengan menggali serial itu. Ndilalah, kebetulan, respon publik dan pasar pun baik terhadap serial karya itu. Apapun karyanya yang dibuat, dengan segera bisa terkoleksi oleh pasar. Pada situasi inilah Edi merasakan masuk di zona nyaman (comfort zone) secara ekonomi. Tapi pelan-pelan terasa menelusup di zona rawan secara kreatif. “Saya merasakan bahwa karya-karya saya itu kini sekadar hiasan. Kedalaman spiritualitasnya kurang. Hanya mengandalkan komposisi, tekstur, kerok dan lain-lain, yang berbau teknik saja,” kenangnya.

Edi merasakan kejenuhan. Di sisi lain, dia juga sedang merancang sebuah pameran tunggal. Dia ingin sesuatu yang berbeda. Sebagai salah satu langkah solusi, maka berkunjunglah bapak tiga anak ini ke kediaman dokter Oei Hong Djien, seorang kolektor seni ternama di Magelang. Namanya sering disingkat sebagai OHD. Edi lupa waktu persisnya, tapi kira-kira sebelum tahun 1998—sebelum booming seni rupa datang. Di samping berkonsultasi soal perkembangan karyanya, dia juga mulai melobi agar kelak pak OHD diharapkan bisa membuka pameran tunggalnya di Jakarta.

OHD mau membuka pameran Edi. Tapi ada syaratnya, yakni karya-karya Edi harus berubah. Permintaan ini seperti menampar mukanya. Ini sebuah kritik halus untuknya. OHD sebagai apresian, mungkin, merasakan kemandegan pada perkembangan karya Edi. Maka sang kolektor itu memberikan buku-buku seni rupa untuk sang seniman sebagai bahan referensi. “Karyamu terlalu penuh, Ed. Aspek ruang kosong nyaris tidak ada. Perlu ruang kosong 30%, dan ruang padat penuh warna dan bentuk 70%,” tutur Edi menirukan kalimat OHD. Edi pun tergugah. Dia minta waktu sekitar 2 bulan untuk berproses dan mencoba bertransformasi. 

***

 //”Menitipkan” Cat dan Kanvas//

Pergolakan batin itu pun terjadi. Ibarat terbiasa makan nasi, sekarang tiba-tiba harus memamah kentang. Pasti tidak mudah. Namun zona nyaman harus diakhiri. Setelah 2 bulan, Edi mampu menuntaskan 5 karya. Dia datang kembali ke rumah OHD, tapi hanya 3 karya yang dibawanya. Kali ini didampingi anak dan istrinya. “Ini strategi, biar OHD terharu...,” ujarnya sambil tergelak keras. Dia mengingat cerita Hendra Gunawan puluhan tahun lalu yang sesekali membawa istri dan anaknya agar sang kolektor jatuh iba dan lalu mengoleksi karya. Ini diungkapkan Edi, antara serius dan bercanda.

“Whhaaaa... Ini beda, Ed! Apik, Ed! Ini yang saya inginkan” OHD tampak terkejut dan gembira dengan perubahan karya Edi. Tampaknya perjuangannya beberapa bulan itu berbuah. Apakah OHD merespons dengan mengoleksi karyanya waktu itu? Ya, lewat pertimbangan dan masukan dari anak OHD, kolektor itu lalu mengoleksi 1 karya Edi. “Itu juga berkat doa anak dan istri yang saya ajak untuk mendampingi...,” katanya sambil terkekeh. Satu karya terkoleksi, dan karya lainnya berusaha keras untuk disimpan. “Ini menjadi patokan atau barometer bagi perkembangan karya saya yang sesekali akan saya atau orang lain lihat.”

Sepulang dari kediaman OHD, Edi terasa memperoleh energi tambahan yang besar. Dia teruskan berkarya dengan tema dan pilihan kreatif berbeda dari serial sebelumnya, Citra Primitif. Enam bulan berlalu setelah tantangan OHD, Edi bertandang lagi. Kali ini 10 lukisan baru dibawanya. Edi siap menantang untuk berpameran tunggal, dan OHD ditagihnya kembali untuk membuka pameran tersebut.

Deal! Akhirnya dosen yang jadi panutan di almamaternya itu berpameran tunggal pada tahun 2000 di sebuah ruang pajang baru di kawasan perumahan elit, Pondok Indah, Jakarta. Moom Gallery namanya. Milik Cipto, seorang pecinta seni. Sebelum pameran itu, Cipto juga telah mengoleksi 4 karya Edi yang bertema Citra Primitif.

Pameran tunggal itu terbilang sukses. Pengaruh OHD sebagai patron kolektor seni rupa juga berimbas hingga pascapameran itu berakhir. Bangunan wacana yang terbentuk bahwa karya Edi berubah dan menarik telah menjadikannya dikejar banyak orang. Para pecinta seni atau kolektor generasi baru yang belajar mengoleksi seni pada OHD banyak berhamburan mendatangi rumah Edi di Godean. Beberapa dari mereka bahkan ada yang membujuknya dengan cara agresif, yakni datang sembari “menitipkan” kanvas dan cat berkualitas bagus. “Kalau dituruti tanpa mempertimbangkan idealisme, saya bisa dengan gampang melukis sekadarnya, dan uang Rp 10 juta langsung ada di tangan,” kenangnya. Untung Edi mampu menjaga ruang kehormatan idealismenya dengan mengabaikan tawaran-tawaran tersebut. 

***

 //Mem-branding Diri//

Setelah puluhan tahun bergelut sebagai seniman atau perupa, pengalaman pun membentang panjang. Edi merasa bersyukur bahwa dirinya masih bisa berkarya dengan baik, ada imbas ekonomi yang sangat memadai karena pencapaian karyanya. Juga yang penting, mampu membangun jejaring pertemanan dan kekeluargaan dengan berbagai pihak, yang lintas wilayah, lintas sosial, lintas agama, dan lainnya.

Pengalaman itu mengajarkan banyak hal. Temuan atas tema atau serial baru dalam karya, misalnya, itu tidak dengan sendirinya akan menutup rapat pada tema lama. Dia sesekali akan hilir mudik kembali berkarya dengan tema lama. Ini juga bagian dari strategi kreatif untuk mengatasi kejumudan dalam berkarya. Pada soal ini, Edi mengaku banyak belajar pada adik kelasnya, seniman Ivan Sagita, yang mampu mengulang-alik tema dan medium karya sebagai alternatif mengatasi kejenuhan.

Di sisi lain Edi juga belajar banyak dari “kekurangan” teman seniman lain. Teman Edi itu, sebut saja Mr. X, punya cita-cita ingin menaklukan dinding OHD. Dia ingin karya-karyanya bertengger di sana. Suatu ketika ada seorang kolektor dari Jakarta datang ke tempat Edi. Sang kolektor juga ingin diajak ke rumah Mr. X. Setelah sampai di tempat, tanggapan pelukis tadi kurang menarik. Dingin. Sang kolektor yang belum cukup dikenal itu kurang direwes (dipedulikan). Maka kolektor itu batal mengoleksi karya.

“Saya itu bukan hanya beli lukisan, tapi juga ‘mengoleksi’ pribadi seseorang. Kalau saya membeli lukisan dengan respons yg menarik dari pelukis, maka saya akan mengingat-ingat terus karya itu dengan baik. Begitu juga sebaliknya,” gerutu sang kolektor seperti ditirukan Edi. Maka sang kolektor hari itu juga langsung pulang ke Jakarta dengan hati kecewa.

Perca pengalaman itu, bagi Edi, mengingatkan pada ‘kotbah’ dari para ahli marketing, yakni betapa pentingnya seniman mem-branding dan menjadi PR (public relation) bagi dirinya sendiri. Ketika di dalam studio dan bergelut menciptakan karya, maka egoisme seniman sangat diperlukan untuk membangun kekuatan orisinalitas karya yang khas si seniman bersangkutan. Namun ketika berhadapan dengan dengan penonton dan pecinta karya seni, maka tugas seniman untuk meluluhkan egoisme diri dan dituntut untuk mampu mengkomunikasikan karyanya dengan bahasa yang secair mungkin. Itulah yang coba terus dilakukan Edi. ***

Catatan Kuss Indarto

SMKN 3 Kasihan, Bergeser Bersama Zaman




Sekolah Menengah Kejuruan (SMKN) 3 Kasihan, Bantul, Yogyakarta—tak pelak—adalah salah satu kawah candradimuka bagi banyak perupa atau seniman seni rupa Indonesia. Sejak lama sekolah ini telah menelurkan bibit-bibit perupa atau seniman level nasional bahkan dunia. Para alumninya antara lain Butet Kartaredjasa, Nasirun, Dadang Christanto, Jumaldi Alfi, Budi Ubrux, Ivan Sagita, Eko Nugroho, Lucia Hartini, Dede Eri Supria, Wedhar Riyadi, hingga kurator Suwarno Wisetrotomo, dan sekian banyak nama populer lain dalam pelataran seni rupa Indonesia.

Sihono, Kepala SMKN 3 Kasihan kini—pada siang yang cukup terik itu—banyak berkisah tentang almamaternya yang legend pada Padma News. Dulu, SMKN 3 Kasihan bernama SSRI atau Sekolah Seni Rupa Indonesia. Tempatnya berada di kampung Gampingan, Wirobrajan, Yogyakarta, berbarengan dengan kampus ASRI (Akademi Seni Rupa Indonesia, sekarang menjadi Fakultas Seni Rupa ISI Yogyakarta). SSRI dibuka mulai tahun 1963. Para mahasiswa ASRI kuliah pagi hari, sedang siswa-siswi SSRI dapat jatah masuk kelas sore hari. Tak lama kemudian pindah ke Kuningan, Karangmalang. Lalu jadilah SMSR. Tahun 1983 dari Karangmalang kampus pindah ke Bugisan. Karena sekolah berada di daerah Kasihan, Bantul, maka sekolah menjadi SMKN 3 Kasihan. Ini berurutan bersama sekolah seni lain, yakni SMKI atau SMKN 1, SMM atau SMKN 2 dan SMSR jadi SMKN 3.

SMKN 3 Kasihan atau SMSR Yogyakarta mampu menghasilkan banyak alumni dengan level tinggi, menurut Sihono, karena banyak faktor. Salah satunya karena dulu masa studi di sekolah tersebut durasinya hingga empat tahun. Beda dengan sekolah menengah atas pada umumnya. Ini memungkinkan siswa mendapatkan modal pembelajaran lebih banyak.

Di samping itu, proses pembelajaran memberi porsi banyak pada kebebasan berekspresi terhadap para siswa. Juga pendalaman pada beberapa mata pelajaran yang memberi kesan bagi anak didik. Sembari bernostalgia, Sihono mengisahkan masa-masa dirinya saat menjadi siswa SMSR tahun 1980-an dulu. “Saya merasakan hal yang berbeda ya antara pelajaran sejarah seni rupa dulu dengan sekarang. Dulu kalau pelajaran sejarah seni rupa siswa diajak mengunjungi langsung candi-candi yang ada di D.I. Yogyakarta, Jawa Tengah, dan di Jawa Timur. Kunjungan ke candi-candi itu diiurut, sehingga siswa bisa tahu langsung kronologi peradaban yang dipreresentasikan secara fisik oleh sejarah lewat bangunan candi. Waktu itu siswa SMSR keliling benda purba, dari melihat relief, patung, hingga galeri-galeri seni di jakarta, Bali, dan tentu Yogyakarta sendiri. Ini sulit dilupakan bagi saya. Kalau dipraktekkan sekarang ini sulit waktunya. Masa studi hanya 3 tahun dan mata kuliah tambah banyak. Pengunaaan dana juga terbatas. Belum lagi tidak diijinkannya pemungutan iuran di luar SPP. Sekarang sulit. Dulu juga ada camping yang bukan pramuka. Tempat camping di lingkungan dekat candi” tutur Sihono panjang lebar.

Zaman terus berubah. Kurikulum yang diberlakukan—termasuk untuk sekolah seni rupa ini—juga berubah. Sekarang diberlakukan kurikulum 2013, sebelumnya 2006, dan 1984. Dari beberapa kurikulum itu, dulu banyak pelajaran praktiknya. Sementara sekarang ilmu lain, misalnya Matematika diajarkan sampai kelas 3.

Zaman yang berubah itu juga berimbas di lingkungan SMKN 3 Kasihan. Menjadi pemimpin atas puluhan guru dan 896 siswa (dari kelas 1-3), Sihono mesti mengikuti perkembangan zaman dan aturan yang dibakukan oleh kementerian. Visi sekolah ini kini bergeser, yakni menekankan anak didiknya pada aspek kompetitif, punya kompetensi di dunia global, punya wawasan global, tetap memiliki kearifan lokal, dan juga akhlak perlu dibekali di bangku sekolah.

Sihono sadar, kemajuan sekolah yang dipimpinnya tak mungkin hanya menyandarkan masa lalu. Dan tidak berhenti di titik masa lalu. Masa kini pasti memiliki spirit, tantangan, dan strategi yang berbeda. Di sekolahnya kini ada 7 jurusan. Di seni rupa terpilah 2 jurusan: Seni Lukis dan Seni Patung. Di disain ada Jurusan Disain Komunikasi Visual (DKV) dan Jurusan Animasi. Sedangkan di kriya ada Jurusan Kriya Kayu, Jurusan Tekstil dan Jurusan Keramik. Kalau di masa lalu Jurusan Seni Lukis menjadi primadona jadi andalan dan primadona, sekarang ini mulai ada “kompetitornya”. Seiring perkembangan zaman, Jurusan Animasi telah muncul sebagai jurusan yang banyak “dikejar” oleh para calon siswa baru tiap tahun. Seleksi untuk masuk di jurusan itu begitu ketat. Demkian pula dengan Jurusan DKV.

Dalam beberapa tahun terakhir ini, lulusan Jurusan DKV dan Animasi banyak diserap di pasar kerja. Atau setidaknya 2 jurusan tersebut banyak menjalin kerjasama profesional dengan beberapa lembaga lain. Menurut pengakuan Sihono, ada beberapa lembaga profesional seperti advertising yang dengan terbuka meminta anak-anak SMKN 3 Kasihan untuk magang (PKL, Praktek Kerja Lapangan) di lembaganya. Kepercayaan ini tumbuh karena pihak sekolah mampu menjaga kontinuitas mutu para siswanya. Bukti lain tentang prestasi anak-anak SMKN 3 adalah kompetisi bernama Asian Skill yang menempatkan anak didik Sihono berada di level tinggi. Siswa yang terpilih itu kini dibimbing di UBINUS (Universitas Bina Nusantara) untuk persiapan event. Terakhir ada siswa bernama Bayu yang akan ikut Asian Skill di Thailand 2020. Sekarang dia tengah di-training selama 8 bulan di Ubinus. Sebelum ini, ada siswa SMKN 3 Kasihan yang bernama Ganjar pada tahun 2014 memenangi ajang World Skill di kota Leipzig, Jerman.

Sementara Jurusan Seni Lukis dan Seni Patung, meski telah mulai mendapat kompetitor yang kuat, masih tetap menjadi kekuatan penting di Yogyakarta bahkan di level nasional. Beberapa tahun terakhir, tiap kali ada perhelatan kompetisi seni lukis antarsekolah menengah se-Indonesia nyaris selalu mendapatkan posisi terhormat. Kalau tidak Juara 1 ya Juara 2.

Mengapa mereka mampu secara rutin dan terus-menerus mencetak para juara? Salah satu kemungkinan jawabannya adalah adanya penghargaan Pratita Adi Karya. Penghargaan ini diberikan tiap akhir tahun ajaran dengan mengompetisikan semua karya para siswa semua kelas. Jadi antara siswa kelas 1, 2 dan 3 saling berkompetisi satu sama lain. Jurinya dari para guru SMKN 3 Kasihan sendiri, dan mengundang para seniman dan kurator dari luar sekolah sebagai juri tamu.

Tradisi ini sudah terentang panjang. Tokoh pengonsep penghargaan ini adalah Setiadi. Kira-kira bermula tahun 1970 dengan nama “Piagam Penghargaan”. Baru pada tahun 1972 beralih nama menjadi Pratita Adi Karya. Waktu itu narasumber yang turut menentukan pemenangnya adalah Supono PR dan Mahyar. Semuanya seniman yang juga guru SMSR. Untuk menjaga kualitas biar tidak terkesan mengobral penghargaan, panitia hanya memilih 6 karya/orang sebagai pemenang (tanpa hierarkhi atau penjenjangan). Dan pola tersebut diberlakukan hingga sekarang. Baik penentuan jumlah pemenangnya, atau komposisi jurinya.

Hal lain yang juga turut mendukung penaikan kualitas anak-anak SMKN 3, terutama Jurusan Seni Lukis dan Seni Patung adalah adanya program magang (PKL). Mereka diuntungkan karena bisa langsung magang di studio-studio para seniman yang sudah punya kelas tersendiri di Yogyakarta. Para seniman itu banyak yang sudah memiliki reputasi nasional hingga internasional—yang bertebaran di seantero Yogyakarta. Ketika anak-anak muda tersebut masuk dalam lingkungan para seniman profesional, sedikit banyak mereka bisa menyerap cara dan pola kerja yang berbeda. Hal-hal yang telah dipelajari di bangku sekolah bisa langsung diamati dan dipraktikkan ketika menghadapi dan bekerja di lingkungan seniman tersebut.

Hanya saja, melakukan PKL di studio seniman tidak bisa disetarakan ketika anak-anak Jurusan DKV magang di lembaga kerja/advertising. Menghadapi seniman berarti menghadapi personalitas seseorang yang tidak terlembagakan, dengan mood yang berbeda antarseniman satu sama lain. Ini hal yang merepotkan karena kalau anak-anak yang magang tidak mampu beradaptasi dengan pribadi senimannya, sangat mungkin akan menghadapi kendala psikologis. Ya, magang di kantor advertising sudah jelas jam kerjanya. Misalnya sehari bekerja selama 7 jam, dari Senin sampai Jumat. Sementara magang di studio seniman (pelukis pematung atau perupa secara umum), pola rutinitasnya tdak seperti di sebuah kantor. Dia bisa hanya bekerja seminggu selama 3 hari dengan jam kerja yang berubah-ubah.

Proses magang ke seniman, kini bisa terkoordinasi dengan baik. Misalnya dengan bekerjasama dengan IKASSRI (Ikatan Alumni Sekolah Seni Rupa Indonesia). Lembaga ini bisa menjadi bagian penting dari upaya almamater membangun jejaring kerja. Alumni bisa membangun sistem koordinasi dalam menempatkan siswa untuk ditempati sebagai tempat PKL. Atau sebagai narasumber untuk memotivasi siswa. PKL itu sangat penting karena siswa bisa betul-betul langsung ikut mengalami proses kerja dan berproses kreatif di lokasi tempat kerja. Ada DKV yang PKL di tempat pencetakan barang-barang cetakan. Ini kan konkret bagi siswa karena mereka tahu teori dan praktek,” papar Sihono.

Di samping program magang, ada pula ada program sekolah yang disesuaikan dengan zaman. Namanya program “Bakti Seni”. Atau Outing Class. Di sini para siswa Jurusan Seni Lukis turba (turun ke bawah) mengajari cara melukis atau membatik pada anak-anak kampung.

Butet Kertaradjasa, aktor teater dan budayawan yang juga salah seorang alumnus SSRI (SMKN 3 Kasihan) mengingat betul bahwa sekolah ini memberi kebebasan berekspresi bagi para siswanya dengan sangat memadai. Tapi sebaliknya, kebebasan yang diakomodasi penuh oleh pihak sekolah harus dilakukan dengan penuh tanggung jawab. Secara konkret dia mengalami sendiri. Yakni suatu ketika—ceritanya pada Padma News—dia membuat sebuah event seni di SSRI. Di luar ekspektasi, peristiwa seni bikinannya itu tidak balik modal. Maka, dia tidak meminta pihak sekolahnya untuk menanggung kerugian. Butet nomboki sendiri, meski event itu memakai nama sekolahnya. ***

 

(Kuss Indarto)