Monday, September 26, 2016

Operasi: Perca-perca Aksi Kreatif dan Aksi Sosial



(2 lukisan karya Operasi Rachman Mochamad yang dipamerkan di Taman Budaya Yogyakarta, Juli 2016)

Oleh Kuss Indarto

Tahun ajaran 1986/1987 belum berakhir. Pengumuman kelulusan bagi para siswa kelas 3 di SMA di Jember—juga di kawasan lain di Indonesia—belum berlangsung. Namun, Mohamad Operasi Rahman sudah bikin geger keluarga dan sekolahnya, SMAN 2 Jember, Jawa Timur. Ketika itu pertengahan tahun 1987.  Dengan berbekal uang sekitar Rp 50.000,- dan pakaian secukupnya, anak muda ini memutuskan minggat—pergi tanpa pamit. Tujuannya jelas: melarikan diri ke kota impian, Yogyakarta. Dengan menumpang kereta ekonomi jurusan Jember-Yogyakarta, pagi-pagi, berangkatlah dia dengan segala kenekatannya.

Kota Yogya menjadi titik pengharapannya yang begitu besar untuk dituju dan ditinggali. Operasi ingin betul menjadi seorang seniman dan dihidupi oleh atmosfir kota Yogyakarta yang nyaman, yang memiliki sejarah panjang dalam perkembangan peradaban dan kebudayaan, juga terutama kesenian. Persentuhan pertamanya dengan Yogyakarta berikut aura kesenian yang melingkupinya terjadi tahun 1981. Ketika itu Operasi masih studi di bangku sekolah dasar kelas 6. Saat liburan sekolah, dia berkeinginan berkunjung ke Yogyakarta. Banyak tempat-tempat standar yang biasa jadi destinasi wisata bagi para pelajar atau wisatawan dikunjunginya. Dia ke sana-sini, waktu itu, diantar oleh Nafi, kakak sepupunya yang kuliah di Akprind (Akademi Perindustrian) Yogyakarta—dan kos di bilangan Purbonegaran, sisi belakang-utara kawasan bisnis Jalan Solo (sekarang Jalan Urip Sumohardjo). Menjelang sore, setelah kemana-mana, seperti tanpa sengaja Nafi dan Operasi melewati kawasan kampung Gampingan, Wirobrajan. “O iya, ini adalah kampus seni rupa. Namanya ASRI, Akademi Seni Rupa Indonesia,“ jelas Nafi. Operasi mengangguk-angguk.

“Kamu kan suka menggambar, Op. Nak, kalau kamu ingin melanjutkan sekolah yang lebih tinggi dan ingin menjadi seniman, kamu bisa sekolah di sini,” papar Nafi lebih jauh menjelaskan. Saudara sepupunya—Operasi—tampak tertarik. Lalu dia ingin sebentar saja diajak masuk ke lokasi kampus ASRI (waktu itu sudah menjadi sekolah tinggi, namanya STSRI “ASRI”}. Namun Nafi menolaknya. “Jangan sekarang. Kapan-kapan saja. Ini sudah sore. Suatu ketika pasti kamu akan bisa ke sini lagi,” kenang Operasi menirukan kalimat-kalimat kakak sepupunya itu.

Pada kesempatan itu Nafi diberi narasi tambahan yang lebih menggugah perasaan Operasi. Dari pintu gerbang kampus STSRI “ASRI”, mereka berdua beringsut sedikit ke arah utara. Masih di Jalan Gampingan. “Kamu tahu rumah bagus di pojokan jalan itu. Itu rumah seniman top Indonesia. Namanya Amri Yahya. Tahu kan? Itu lho, yang jadi model iklan cat tembok merek Amco, produknya ICCI,” terang Nafi dengan runtut. Operasi manggut-manggut dan mengiyakan tiap kata yang dilontarkan saudaranya. Ya, dia ingat betul dengan iklan cat tembok di pesawat televisi yang tertayang sekitar akhir dasawarsa 1970-an (waktu itu channel-nya hanya TVRI). Ingatan tentang pengalaman melihat iklan itu masih membekas di batok kepala Operasi kecil.

Di bangku kereta api ekonomi jurusan Jember-Yogyakarta, tahun 1987 itu, bayangan tentang pengalamannya liburan ke Yogyakarta sekitar 6 tahun sebelumnya juga kembali mencuat. Dan kali ini dia datang kembali menuju kota impiannya. Seperti menjemput lagi impiannya. Menjelang sore, kereta api berhenti di stasiun Tugu, persis di pusat kota Yogyakarta. Keluar dari stasiun terbesar di Kota Gudheg itu, dengan pelahan dia berjalan menyusuri jalur paling legendaris di situ: Jalan Malioboro.

Operasi datang ke Yogyakarta kali ini, sebenarnya, dalam kondisi psikologis yang berbeda. Ada kegalauan di sana. Dia terpaksa harus minggat dari Jember karena sudah merasa ada pesismisme dalam benaknya bahwa dia tidak akan lulus SMA. Pasalnya, menurut versi Operasi tentu saja, di awal-awal masuk kelas 3 dia beberapa kali protes kepada para gurunya perihal keberadaan mata pelajaran PSPB (Pendidikan Sejarah Perjuangan Bangsa). Dia merasa bahwa mata pelajaran tersebut kurang menarik lantaran banyak kepentingan dan muatan politisnya ketimbang untuk penyadaran dan pembelajaran bagi para siswa dalam soal pengetahuan sejarah yang obyektif. Tak banyak hal yang bisa didapatkan dari pelajaran tersebut. “Itu mata pelajaran bikinan Soeharto yang dipakai untuk mengawetkan kekuasaan Orde Baru yang dengan cara memaksa didoktrinkan pada anak-anak. Termasuk aku,” tutur Operasi dalam sebuah percakapan awal Juli 2016.

Sebagai bentuk protes, maka kalau pelajaran PSPB itu akan berlangsung, dia “menghilang”—entah pergi ke kantin sekolahan atau pulang. Aksi ini dilakukannya beberapa kali hingga kemudian dilaporkan oleh bu Sutiyem dan pak Ratiban—guru pelajaran PSPB—kepada kepala sekolah SMAN 2 Jember, ibu Susi. Kepala sekolah pun memanggilnya setelah aksi pembolosan itu berlangsung sekian kali. Operasi tetap berupaya bersikukuh kalau pelajaran itu tidak menarik, penuh doktrin Negara, meski dalih dari kepala sekolah jelas, bahwa pelajaran itu bukan usulan dari Jember namun sudah jadi keputusan struktural yang diberlakukan di seluruh sekolahan di Indonesia. Sebagai “serangan balik” yang telak atas kebandelan Operasi, kepala sekolah kemudian menawarkan opsi: “Kamu memilih kami keluarkan dari sekolah ini, atau tetap bertahan dengan aturan main sekolah?!”

Apapun, opsi itu membuatnya berpikir ulang tentang banyak hal: tentang masa depannya yang masih panjang. Namun juga terlintas pikiran bahwa sekolah ini bukan satu-satunya jalur yang akan mengantarkannya ke masa depan. Masih ada jalan lain. Operasi “keder” juga dengan ancaman sang kepala sekolah. Akhirnya dia memilih untuk tetap bertahan menjadi siswa SMAN 2 Jember. “Aku hanya ingin tetap menyenangkan hati orang tua kalau aku masih bersekolah”, kenang laki-laki berambut gondrong kelahiran Jember, 26 September 1968 ini. Maka, untuk menutup gelagat perilakunya yang “kurang senonoh” itu, surat peringatan atau pemberitahuan tentang perilaku sang anak yang ditujukan kepada orang tuanya—dari sekolahan—tidak pernah disampaikan ada bapak-ibunya. Dia terima, baca, lalu disobek. Perilaku ini memang sangat memunginkan terjadi karena sejak masuk SMA, Operasi dan beberapa adiknya tidak hidup serumah dengan orang tua. Dia dan saudara-saudaranya dibelikan rumah di kota Jember, tidak jauh dari sekolahan, sementara orang tuanya—pasangan Syaiful Rachman dan Menik Tri Yulisasi—tinggal cukup jauh di kecamatan yang berbeda. Ini membuat keseharian Operasi kurang cukup terkontrol oleh orang tuanya.

Aksi protesnya pada pelajaran PSPB itu, juga ancaman sang kepala sekolah, menjadikan Operasi cukup kehilangan gairah untuk masuk sekolah. Kemudian dia tidak jarang masuk sekolah dengan malas-malasan. Kadang baru masuk setelah jam istirahat pertama. Atau setelah jam istirahat kedua langsung kabur. Begitu seterusnya. Aksi ini kemudian dipantau oleh para gurunya, dan diantisipasi oleh sekolah. Misalnya, ketika dia sudah datang ke sekolah dengan naik sepeda motor, maka tanpa sepengetahuan Operasi, kendaraannya itu dipasangi rantai dan digembok oleh guru atau penjaga parkir sekolah. Aksi-aksi lucu masa lalu Operasi itu, menurutnya, cukup memberi sinyal ketakutan bagi siswa lain. Kalau ada yang “ngeyel”, membangkang, atau melakukan tindak indisipliner, para siswa akan diperlakukan seperti Operasi Rachman. Akan “di-Operasi-kan”.

***

Akhirnya, pada sebuah sore di tahun 1987 itu kereta yang membawa Operasi dari Jember dengan tiket Rp 5.000 sampai di Yogyakarta. Setelah menyusuri jalan Malioboro, dia menemui seorang teman yang berasal dari Jember dan tinggal di kawasan Langenastran, sekitar Kraton Yogyakarta.

Dia memulai hidup dalam “pelarian” dari orang tuanya, dari teman-teman sebaya dan selingkungannya di Jember yang dilakoni belasan tahun. Sekarang mencoba malakoni improvisasi hidup yang mungkin tanpa banyak rencana, namun ada target besar dalam dasar batinnya: menjadi seniman.

Ide awal yang pertama dilakukannya adalah berkunjung ke Museum Affandi di tepian sungai Gajah Wong yang legendaris itu. Ya, kepada sang maestro seni rupa Indonesia Operasi memalingkan perhatiannya, dan berupaya mencari perhatian. Hari-hari setelah tiba di Yogyakarta, dia nyaris tiap hari ke rumah, studio sekaligus museum sang pelukis besar Indonesia tersebut. Awalnya dia diantar oleh temannya. Berikutnya, tiap hari dia ulang-alik berjalan kaki dari kawasan Langenastran menuju ke Museum Affandi. Waktu itu, karena ketidaktahuannya atas peta kota Yogyakarta, dia melalui jalan yang cukup jauh: berangkat dari daerah Kraton, lalu ke utara melewat Malioboro, Mangkubumi, lalu berjalan lurus ke timur hingga Museum Affandi. Begitu pula ketika berjalan menuju pulang. Rutenya sama. Sama-sama jauhnya.

Di kediaman Affandi dia awalnya datang sebagai tamu museum: melihat-lihat karya lukisan. Ketika mengetahui ada sosok Affandi dalam lingkungan museum, Operasi datang mendekat, dan mengobrol. Hari-hari berikutnya dia datang lagi, dan datang lagi menuju museum, kemudian berusaha keras untuk dekat dengan Affandi. Dia datang dengan membawa segumpal tembakau yang dibawanya dari tanah Jember. Sang maestro tertarik. Bahkan kemudian bercerita banyak tentang seniman seangkatannya yang aktif di Lekra, Trubus, yang juga suka merokok dengan bahan tembakau Jember. “Pintu masuk” Operasi lewat tembakau cukup memberi angin bagus untuk mendekati Affandi. Dari situlah kemudian pada waktu-waktu berikutnya dia bisa dengan leluasa datang mengunjungi ayahanda Kartika Affandi itu.

Kesempatan untuk belajar sembari menimba ilmu terbuka sedikit baginya. Maka, celah itu dimanfaatkannya dengan positif. Operasi mengunjungi idolanya itu dengan lengkap membawa kertas gambar, tinta atau alat gambar lainnya. Di sana dia ikut menggambar menjejeri sang maestro. Hatinya makin melambung ketika Affandi sempat mengeluarkan sedikit komentar: “Kamu bisa menggambar. Belajarlah terus”, kenang Operasi.

Namun peluang untuk meneruskan berguru pada Affandi tersendat. Beberapa waktu setelah itu, asisten pribadi Affandi, Munandar, mengajaknya berbicara ketika Operasi datang kembali ke museum. Singkat kata, dia tidak lagi diperkenankan untuk terus-menerus mengunjungi Affandi, apalagi melukis atau menggambar bersama di lingkungan studio sang maestro. Operasi tidak tahu persis, apakah pesan itu betul-betul dari Affandi lewat asistennya, atau memang sang asisten kurang menyukai kehadiran anak muda “antah-berantah” itu. Operasi hanya bisa mengenang “sesi penutup” pertemuannya dengan seniman besar kali itu lewat pesan yang terus diingatnya. “Kamu bisa menggambar. Teruskan bakatmu dengan masuk kuliah di ASRI”, pesan Affandi. Secara konkret Affandi juga langsung memberikan uang tunai sebanyak Rp 40.000, yang dibumbui pesan: “Ini untuk biaya awal kuliahmu di ASRI.” Operasi terpukau dengan pesan dan pemberian yang tak diduganya itu. Mungkin itu semacam tanda “PHK” dari Affandi agar tak lagi “mengganggunya” bekerja di studio. Mungkin juga itu isyarat serius bahwa Operasi punya bakat dan tak bisa disia-siakan hanya dengan belajar tanpa sistem pengajaran yang baik.

Dia cukup terpukul dengan keputusan yang disampaikan oleh Munandar itu. Tapi apa boleh buat, Operasi sadar dia bukan siapa-siapa. Pada sisi lain, dia ingin tetap bertahan di Yogyakarta meski harapan untuk menjadi seniman itu bukan tujuan dengan langkah yang selalu mulus. Oleh Operasi, uang pemberian Affandi itu dibawanya ke pasar Beringharjo, dan dibelikan sebuah gitar. Harganya Rp 30.000. Pikiran Operasi waktu itu masih sederhana: “Aku harus bertahan dengan hidup mandiri di Yogyakarta. Dan dengan sebuah gitar, aku bisa menjadi pengamen jalanan, dan dari situlah aku bisa menyambung hidup.” Begitulah kemauannya.

Namun tanpa dinyana, saudara-saudara sepupunya yang kuliah di Yogyakarta mulai mencium gelagat bahwa Operasi melarikan diri di kota ini (dari Jember). Pada bulan kedua setelah minggat, dia “ditemukan”, dan dipaksa untuk pulang ke Jember. Apa boleh buat, akhirnya Operasi menuruti saran saudara-saudaranya, juga pesan orang tuanya, untuk pulang kampung dan kembali menuntaskan studinya.

Pulang ke kampung pun dia tak bisa lama. Ayahnya menghendaki dengan keras bahwa anaknya yang nomer 2 ini harus menyelesaikan studi tingkat SMA-nya. Operasi mengakui bahwa dia juga berkeinginan untuk lulus SMA, tapi merasa tidak mungkin balik lagi ke SMAN 2 Jember. Kondisi psikologisnya terasa tidak mungkin lagi cocok ketika bertemu dengan lingkungan di situ. Ada beberapa guru yang kurang suka dengan perilakunya, juga mungkin sebagian temannya. Itu tak baik bagi kelangsungan studinya. “Baiklah, terserah apa maumu, yang penting kamu lulus SMA,” kenang Operasi pada desakan sang ayah.

Sebagai titik solusi, akhirnya Operasi memilih memutuskan untuk meneruskan sekolah di sebuah SMA swasta, SMA Widya Mataram, di bilangan Ngasem, Yogyakarta (dekat pasar hewan, waktu itu). Operasi tampaknya sudah merasai getar kecocokan dengan atmosfir Yogyakarta yang telah dimimpikannya sejak lama. Dan, akhirnya, dengan segala keterbatasan dia tahun berikutnya, 1988, berhasil lulus SMA. Pintu masuk ASRI—yang sejak tahun 1984 berganti nama menjadi Fakultas Seni Rupa dan Disain, Institut Seni Indonesia (FSRD ISI) Yogyakarta—terasa sudah membayang di pelupuk mata.

***

Pertengahan tahun 1988, akhirnya, nama Mohamad Operasi Rahman menjadi salah satu mahasiswa Program Studi Seni Lukis, di lingkungan FSRD ISI Yogyakarta. Beberapa rekan seangkatannya antara lain Ugo Untoro, Indarto Sukmo Nugroho, Threda Mairayanti, Heryanto Asmara. Di Program Studi Seni Patung ada nama Basrizal Albara yang sekarang masih malang melintang di dunianya. Proses kelulusan untuk masuk kampus seni rupa legendaris di Indonesia ini relatif mulus karena Operasi telah mempersiapkan dengan waktu yang cukup lama. Di celah kesibukannya sekolah di SMA di kawasan Ngasem, pada malam harinya atau di waktu senggang lain, dimanfaatkannya untuk belajar menggambar. Proses itu berfungsi ganda karena pada satu sisi menggambar itulah salah satu caranya untuk mengamen dan mencari uang bersama kawan-kawan baru yang ditemuinya di Malioboro, dan di sisi lain, itulah siasat yang pelahan namun pasti memberi penguatan bagi kemampuan teknisnya untuk menggambar. Dua hal terlampaui sekaligus.

Pengharapan besarnya untuk menjadi seniman sudah mulai terjejaki tangga-tangganya dengan kuliah di ISI Yogyakarta. Pergulatannya untuk mengasah kemampuan teknis dan kepiawaiannya dalam bernalar di ranah dunia seni rupa sudah berada di depan mata. Operasi Rahman merasa mendapatkan bongkahan anugerah karena masuk dalam lingkungan yang tepat dengan atmosfir pendukung cita-citanya yang sangat memadai. Deretan staf pengajar yang mengampu dan membimbing bakatnya adalah para tokoh yang relatif mumpuni dalam jagat seni rupa Indonesia. Ada nama Nyoman Gunarsa, Fadjar Sidik, H. Widayat, Wardoyo, Aming Prayitno, Subroto Sm., Suwadji, Sudarisman, Agus Kamal, dan banyak nama lainnya yang kala itu merupakan nama-nama yang sangat diperhitungkan di level atas seni rupa Indonesia.

Namun itu semua, ternyata tidak bisa mulus berjalan. Bayangan tentang seni yang penuh kebebasan, pada dimensi yang lain terasa justru cukup membebat bagi naluri kebebasan yang selama ini dibayangkan dengan enak dan mudah oleh Operasi. Bebat-bebat yang menyerimpung itu datang dari begitu banyaknya beban tugas akademik yang harus ditanggung dan diselesaikannya. Itu mungin perkara klasik bagi sebagian mahasiswa seni rupa. Demikian pula bagi Operasi. Namun dia menambahkan problem yang mendasar karena dalam setahun terakhir tinggal di Yogyakarta—sebelum masuk kuliah—situasi penuh kebebasan itu banyak diserapnya. Nah, ketika pada semester-semester berikutnya ada sekian banyak tanggung jawab yang mesti diemban, persoalan pun datang: kejenuhan dan kebosanan.

Ditambah lagi, pada suatu kesempatan setelah lebaran tahun 1989, seorang pakdhe-nya (kakak dari ayahnya) yang bernama KH. Abdul Hamid mengundangnya untuk berkumpul dengan keluarga besar. Dia seperti menyidang Operasi dalam kerumunan sanak saudaranya atas pilihannya untuk masuk studi di seni rupa. Sidang itu digelar karena Operasilah satu-satunya (dalam keluarga besar) yang memilih masuk studi dengan pilihan disiplin ilmu paling beda. Apalagi keluarga besar sebenarnya berasal dari keluarga santri yang ketat yang menginginkan tradisi tersebut masih bisa diteruskan oleh generasi berikutnya. Operasi seperti menyempal dari garis tradisi keluarga.

Dengan gaya yang slengekan dia bisa dengan jitu berdalih sembari menyitir ungkapan fisikawan peraih Nobel, Albert Einstein tentang tiga hal yang bisa “menghidupi” dunia, yakni ilmu, agama, dan seni. Dengan ilmu dunia akan berubah, dengan agama dunia jadi penuh berkah, dan dengan seni dunia akan jadi indah. “Seni adalah pilihanku, dan itu akan melengkapi fungsi keberadaan manusia di dunia, selain mereka yang berjuang dengan ilmu pengetahuan dan agama,” Operasi mengenang argumentasinya. Singkat cerita, dia bisa mengatasi sidang keluarga tersebut. Dan pada akhir sidang itu, ada pesan pakdhe-nya yang kemudian terus diingatnya, yakni bahwa apapun pilihannya, hal penting yang perlu dilakukan adalah “majjadah wajjadah”. Siapapun yang melakukan dengan bersungguh-sungguh, dia akan berhasil.

Memang, disiplin studi yang dipilih oleh ayah dari Alif Ya Muhammad (kelahiran 2008) ini relatif paling berbeda bahkan dari 5 saudara-saudara sekandungnya. Kakak tertuanya, Ani Rochani memilih mengambil studi di IKIP Jember, lalu adik-adiknya ada Fifi Asfiati Rahman yang masuk FMIPA UGM, Afandi Rahman (Jurusan Teknik Elektro UGM), Fitria Rahman (Akademi Ahli Gizi, Yogyakarta), dan Ninit Kurniawati (Fakultas Pertanian Universitas Jember).

Apalagi bila menyimak akhir studinya yang membutuhkan durasi hingga kurang lebih 10 tahun. Mungkin beban akademik yang menyerimpung kebebasannya membuat Operasi awet bertahan di kampus hingga menjadi MA (Mahasiswa Abadi). Istiadat seperti itu (kuliah hingga bertahun-tahun) relatif telah menjadi hal yang lumrah di kampus ISI Yogyakarta, terutama dulu, jauh sebelum aturan akan batasan masa studi diberlakukan dengan ketat. Sebelum akhirnya lulus dari ISI Yogyakarta, waktu itu ayahnya terus mendesak untuk serius kuliah. “Bapak tidak pernah menyuruhmu kuliah di seni rupa. Itu pilihanmu sendiri. Maka hormatilah pilihanmu sendiri dengan lulus kuliah,” pesan sang ayah waktu itu.

***

Banyak pergulatan kreatif dan pergulatan beragam persoalan pada kurun waktu ketika Operasi studi di kampus Gampingan—sebutan yang merujuk pada nama kampung tempat kampus FSR(D) ISI Yogyakarta itu berada. Posisinya di kampus pun menarik: tahun 1991 dia terpilih sebagai Ketua Senat Mahasiswa (Sema) Fakultas Seni Rupa (dan Disain) ISI Yogyakarta. Posisi tersebut, pada waktu itu memiliki implikasi yang lumayan penting bagi keberlangsungan dinamika kehidupan kampus, meski tentu saja tidak sangat hegemonik dan dominan. Dia lupa sampai kapan posisinya sebagai Ketua Sema itu berakhir. Seingatnya, seperti nyaris tanpa jangka waktu yang jelas.

Pada masa kepengurusannya itu setidaknya ada dua isu seni budaya penting yang hingar bingar di Yogyakarta dan membubung sebagai wacana nasional. Pertama, isu tentang ditariknya kembali gedung kesenian Senisono oleh Negara dan difungsikan sebagai bagian dari kepentingan protokoler di wilayah Gedung Agung atau istana kepresidenan Yogyakarta. Bagi masyarakat seni budaya, sivitas akademika di lingkungan ISI Yogyakarta memiliki kepentingan untuk merespons secara aktif isu tersebut. Gedung kesenian yang telah puluhan tahun berkontribusi secara langsung sebagai venue seni (rupa, pertunjukan, dan lainnya) telah turut mengiringi pertumbuhan, perkembangan dan dinamika seni di Yogyakarta.

Maka, meresponlah sekian banyak mahasiswa seni ISI Yogyakarta, termasuk seni rupa tentu saja, dengan turun ke jalan. Operasi sebagai Ketua Sema turut memobilisasi massa mahasiswa sekalian turut berorasi di depan gedung Senisono, persisnya di plaza di Titik Nol Kilometer Yogyakarta. Negara dan penguasa Orde Baru yang tengah kuat-kuatnya mencengkeramkan kuku kuasa itu toh akhirnya memenangkan “perebutan” tersebut. Setelah berminggu-minggu para mahasiswa ISI Yogyakarta bersama sekian banyak masyarakat seni budaya Yogyakarta mempertahankan keberadaan Senisono sebagai bagian dari akvitas mereka, tumbang oleh keputusan Negara yang menyatakan bahwa situs itu diklaim sebagai bagian inheren dari kompleks istana kepresidenan Gedung Agung Yogyakarta.

Isu kedua, tentang Biennale Jogja III tahun 1992 yang kontroversial. Biennale Jogja, perhelatan prestisius seni rupa dua tahunan tersebut, untuk tahun tahun 1992 menuai kegaduhan dan kontroversi. Pasalnya, panitia membuat regulasi yang dianggap memenjara keleluasaan kreatif dan perhelatan Biennale Seni Lukis Yogyakarta III itu sendiri. Poin yang dianggap memenjara itu adalah: peserta biennale harus berusia 35 tahun ke atas, dan karya (2 dimensi) yang diperbolehkan ikut maksimal berukuran 1x1 meter. Bagi banyak perupa di Yogyakarta, aturan main itu diangap sewenang-wenang dan terlalu konservatif karena (1) mengesampingkan pertumbuhan kreatif seniman Yogyakarta yang sebagian di antaranya banyak diinisiasi dan dipioniri oleh kalangan muda, dan (2) panitia diasumsikan masih merawat kaidah lama serta kuno yang tidak memperhatikan gejolak kreatif seniman yang terus memperbarui konsep, gagasan dan keluaran kreatifnya.

Maka, muncullah tandingan biennale resmi versi pemerintah, bernama: “Binal Experimental Art” yang dilakukan dan dimotori oleh para seniman muda. Beberapa yang kemudian mencuat namanya karena gerakan dan karyanya fenomenal adalah seniman muda seperti Heri Dono, Dadang Christanto, para mahasiswa Fakultas Seni Rupa, ISI Yogyakarta, dan lainnya. Mereka mengisi banyak ruang-ruang di sekujur kota sebagai venue-nya, antara lain stasiun Tugu, Kampus ISI Gampingan, gedung Senisono, rumah kontrakan Heddy Hadiyanto, dan lain-lain. Dengan posisinya sebagai Ketua Sema FSRD ISI Yogyakarta, Operasi pun bergegas sejak awal untuk merespons isu menarik tersebut. Beberapa kali mereka melakukan rapat koordinasi antara para seniman muda dalam kampus dan seniman lain (muda, atau yang mulai senior di luar kampus) untuk melakukan aksi. Hal yang tak kalah konkretnya adalah keputusannya sebagai Ketua Sema untuk memberi dana subsidi bagi gerakan kreatif para mahasiswa itu. Dengan persetujuan Pembantu Dekan 3, Drs. Narno S., dan Dekan FSRD ISI Drs. Sun Ardi SU, Sema FSRD memberikan dana untuk mereka yang akan bergerak membuat karya seni di beberapa venue. Keputusan Operasi ini dianggap cukup populis karena segaris dengan aksi resistensi mahasiswa dan seniman muda untuk menolak konservatifme yang telah menguat di tubuh panitia Biennale Jogja.

Pada momen yang bersamaan, yakni dalam “Binal Experimental Art”, Operasi juga menampilkan diri sebagai sosok seniman muda yang turut menolak dan mengingkari konservatifme kreatif para seniman tua dan panitia Biennale Jogja. Dia mengetengahkan karya yang diberinya tajuk “Destructive Display” dan digelar di ruang tunggu stasiun Tugu, persisnya di sayap utara. Di sana dia membawa sekitar 40 lukisan dua dimensi—sebagian besar karya tugas akademik—dan ditata dengan cara dan pola yang tidak biasa. Lukisan-lukisan itu digantung secara acak, baik aspek ketinggiannya, arah hadapnya, hingga kemiringannya yang ekstrem—yang jauh dari pola displai di ruang galeri seni rupa. Karya tersebut dilengkapi dengan aksi performance art-nya yang dilakukan tidak jauh dari displai lukisan-lukisannya. Aksi itu dilakukannya dengan terlebih dahulu bertelanjang (hanya bercawat), lalu tubuhnya dibebat penuh dengan kain perban warna putih. Dia berdiri mematung, diam dengan sedikit gerakan. Dia menjuduli action-nya itu dengan “Operasi Diam”. Sebuah judul yang menggoda karena secara ulang-alik berkelindan antara makna leksikal dan makna gramatikal, bergerak antara makna denotatif dan konotatif. Karya tersebut juga kian terbangun nilai dramatiknya karena posisi tubuh Operasi Rahman berdekatan dengan patung-patung manusia nyaris seukuran dengan tubuh manusia—karya mahasiswa jurusan seni patung, Basuki Prahoro. Pengunjung dan juga para calon penumpang kereta api di stasiun Tugu Yogyakarta terhibur karena termanipulasi oleh tubuh-tubuh patung dan tubuh Operasi serta oleh tata displai lukisan yang meneror secara visual karena ketidakbiasaannya.

Karya Operasi yang cukup menarik waktu itu tidak banyak terekspose oleh banyak media. Kemungkinan karena keterbatasan jumlah media, dan lebih dari itu, pada venue stasiun Tugu banyak bertebar karya dari beragam seniman. Semua menumpahkan sejuta tanda di situ untuk saling berkontestasi berebut perhatian dari para apresian.

***

Lalu, dimanakah sebenarnya posisi Mohamad Operasi Rahman dalam peta seni rupa di Yogyakarta, bahkan Indonesia? Pertanyaan ini niscaya bisa diduga hendak menggiring asumsi pembaca bahwa teks ini berpotensi ingin membangun sebuah penokohan atas Operasi sebagai hero atau “sosok yang berbeda”. Asumsi tersebut memang tidak berlebihan. Namun lepas dari asumsi dan dugaan tersebut, teks-teks seni rupa seperti ini layak juga untuk menampilkan perca-perca narasi kecil, sederhana, dan di luar peta serta struktur mainstream yang telah dibentuk sebelumnya, entah untuk pemetaan atau riset dengan vested interested tertentu—seperti kepentingan pasar (art market), politisasi seni dari kelompok tertentu, dan berbagai kemungkinan lain. Semua berhak menyusun sejarah dan kepentingannya sendiri dengan subyektivitas dan perspektifnya sendiri. Sejarah (seni rupa) tak harus berarti sejarah nama-nama tokoh besar dengan karya besar yang telah secara obyektif diamini oleh banyak pihak. Dalam pemahaman sederhana untuk mencuatkan narasi kecil dari sosok yang tidak bernama besar atau bereputasi besar inilah saya ingin sedikit mengulik tentang Operasi Rahman.

Dalam rentang satu dasawarsa, persisnya antara 1989 hinga 1999, publik di sekitar sosok ini bisa menyimak sepak terjangnya yang menarik, dan kadang melampaui problem yang menjadi disiplin studinya. Ini kisah tentang kebengalan-kebengalan kecil yang bisa menjadi salah satu cermin dari gerak dan dinamika hidup serta kreativitas sosok tersebut. Operasi mengisahkan pada upaya protesnya terhadap penyelenggaraan FKY (Festival Kesenian Yogyakarta) yang baru digelar tahun 1988—meng-copy paste kisah sukses PKB (Pekan Kesenian Bali) yang telah dihelat bertahun-tahun sebelumnya. Kala itu, pertengahan tahun 1989 atau setahun setelah masuk ISI Yogyakarta, dia mendatangi Amri Yahya yang rumahnya berada berseberangan dengan kampus Gampingan. Amri Yahya adalah seniman seni rupa ternama, pernah popular sebagai bintang iklan cat tembok, dosen IKIP Yogyakarta (sekarang Universitas Negeri Yogyakarta), dan tahun itu termasuk salah satu tokoh penting di tubuh kepanitiaan FKY. Operasi muda datang dengan semangat untuk memprotes rekruitmen seniman peserta FKY yang, menurutnya, mengabaikan keberadaan seniman muda Yogyakarta. Dia sudah mendengar selentingan kabar bahwa para seniman peserta dalam pameran seni rupa FKY, seperti tahun sebelumnya, hanya terdiri dari seniman senior yang sudah dianggap profesional dan dosen.

Operasi tidak terima dengan aturan main itu. Alasannya, tidak sedikit seniman muda yang masih studi di kampus FSRD ISI Yogyakarta yang kualitas karyanya layak masuk pameran FKY. Sebaliknya, tidak sedikit pula mereka yang dianggap seniman senior namun standar artistik dan estetiknya telah menemukan kebuntuan dan monotonitas. Dengan serta-merta, saat itu juga Operasi mengajak Amri Yahya untuk datang ke kampus Gampingan dan menyimak karya-karya tugas para mahasiswa yang kebetulan tengah dieksposisikan dalam “pameran gang” yang rutin digelar di gang kampus. Entah Operasi datang dengan amarah atau memang argumentasinya meyakinkan, saat itu juga Amri Yahya menyanggupi untuk menyambangi kampus. Karya-karya yang sudah didisplai secara sederhana dalam ruangan kelas ditengok oleh Amri. Teman-teman dan satu-dua dosen yang mengetahui kehadiran Amri di kampus cukup kaget. Apalagi posisinya seperti “disandera” oleh mahasiswa baru bernama Operasi.

Kalau itu Amri langsung berkomentar positif setelah menyimak karya para mahasiswa. Namun dengan tegas dia menolak mengakomodasi karya-karya mahasiswa untuk langsung diterima dan dipamerkan dalam FKY. Alasannya, keputusan harus dilakukan secara kolektif oleh tim penyeleksi, bukan hanya dirinya saja. Lagi pula, seleksi dan rekruitmen karya sudah selesai untuk tahun itu. Tak mungkin seenaknya diubah. Ya, memang tidak sekejap mata usulan dan desakan dari seniman muda seperti Operasi tentang perhelatan FKY dengan cepat disetujui. Namun, menurut Operasi, pada perhelatan festival seni terbesar di Yogyakarta kala itu, pada tahun berikutnya mengakomodasi masukan dari Operasi. Di sini tampak secuil tentang hal yang diperjuangkan oleh seniman ini.

Dalam lingkup yang lebih jauh, sekitar 9 tahun berikutnya, Operasi juga melakukan kembali hal yang serupa. Ia menjadi salah satu noktah pembentuk gerakan besar bernama Gerakan Reformasi 1998. Itu merupakan gerakan rakyat dan mahasiswa Indonesia yang berhasrat untuk menurunkan rezim Orde Baru dan Soeharto. Gerakan rakyat dan mahasiswa selalu muncul dalam tiap generasi untuk menentang pemerintahan otoriter Soeharto, mulai dari mereka yang diklasifikasikan sebagai Angkatan 1966, Angkatan 1974, Angkatan 1980-an, hingga Angkatan 1998 atau 1990-an yang akhirnya mendapatkan momentum untuk menumbangkan Soeharto. Momentum penting yang mengiringi proses penggulingan rezim Orde Baru terjadi ketika ada krisis moneter (krismon) di Asia dan merembet ke Indonesia tahun 1997. Krisis itu mendorong krisis kepercayaan terhadap Soehato yang telah menguasai Indonesia hingga 3 dasawarsa.

Para mahasiswa Yogyakarta menjadi salah satu aset kekuatan penting dari sekian banyak kekuatan gerakan mahasiswa di kota-kota lain di Indonesia. Di Yogyakarta sendiri, gerakan mahasiswa membentuk kekuatan dalam beberapa kelompok yang masing-masing memiliki kekhasan, ideologi gerakan, vested interested, target goal dan lainnya. Kondisi faktual seperti itu tak terelakkan dimanapun. Pola gerakan mahasiswa cukup lazim menggariskan hal tersebut. Sementara di celah keriuhan gerakan mahasiswa dalam proses menjatuhkan rezim Soeharto, ada sekian banyak mahasiswa ISI Yogyakarta yang juga tampil untuk turun ke jalan. Tidak sedikit yang mengklaim bahwa para mahasiswa ISI Yogyakarta kurang genuine sebagai aktivis mahasiswa karena bukanlah konseptor aksi mahasiswa atau yang berdarah-darah turun ke jalan jauh sebelum tahun 1998. Asumsi tersebut kiranya menjadi tidak penting karena turunnya gelombang mahasiswa ISI Yogyakarta di tengah gelombang besar gerakan mahasiswa di Yogyakarta memberi warna yang relatif berbeda, unik, dan menawarkan modus baru dalam melakukan aksi demonstrasi.

Operasi Rahman dengan slogan dan yel-yel “Hoya-hoya” yang selalu diteriakkan dalam aksi demonstrasi di Yogyakarta pada awal 1998 hingga runtuhnya kekuasaan Soeharto, terasa begitu ikonik dengan keterlibatan para mahasiswa ISI Yogyakarta dalam gerakan reformasi. Yel-yel “Hoya-hoya” itu bukanlah ikon untuk mengidentifikasi aksi heroisme kalangan mahasiswa, namun justru sebaliknya seperti model atas pengingkaran terhadap kekakuan dan pemahlawanan atas sosok. “Hoya-hoya” seperti simbol kecil untuk membuktikan bahwa aksi demonstrasi bukanlah aksi penuh kekerasan, keseraman, kemuraman, bahkan kekerasan (baik yang simbolik maupun yang faktual) yang meneror mental masyarakat tanpa nyali, namun—sebaliknya—memberi contoh betapa aksi demonstrasi adalah sebuah serbuan kritik kepada penguasa dengan cara yang rileks, penuh canda, dan efektif di titik pusat obyek kritik.

Begitulah. Operasi sempat aktif turun ke jalan pada gelombang besar gerakan reformasi, tanpa berhasrat besar menjadikan dirinya sebagai pahlawan, atau memiliki target goal berupa konsesi politik atau sosial pascagerakan reformasi. Banyak para aktivis mahasiswa yang mendapatkan atau mengemis posisi dan konsesi setelah pemerintahan era reformasi bergulir. Operasi dan sekian banyak mahasiswa yang dianggap pernah aktif sebagai penggerak gerakan mahasiswa sama sekali tidak memiliki tendensi ke arah kekuasaan—karena tanpa tendensi. Menengadahkan tangan demi menerima remah-remah kue kekuasaan bukanlah karakter dari para aktivis mahasiswa di ISI Yogyakarta, karena aksi turun ke jalan atau aksi demonstrasi bagi para mahasiswa adalah aksi have fun bernuansa artistik, bukan aksi pamrih yang membopong sekian banyak tendensi. Operasi termasuk salah satu orang yang tanpa tendensi itu. ***

Kuss Indarto, kurator dan penulis seni rupa.

(Teks ini telah dimuat dalam katalog/buku pameran tunggal Operasi Rachman Mochammad yang bertajuk "Operasi")

Friday, September 23, 2016

YAA, Kontemporer, dan Manual

Oleh Kuss Indarto

EMPAT puluh tiga pelukis siap berkontestasi dalam satu ruang yang dihelat oleh Sangkring Art Space, di bilangan Nitiprayan, Kasihan, Bantul, Yogyakarta. Perhelatan itu bertajuk YAA, Yogya Annual Art, berlangsung mulai 20 Mei hingga 20 Juli 2016. Dr. Hilmar “Fay” Farid, sang Dirjen Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan direncanakan akan membuka resmi YAA. Ini merupakan perhelatan kali pertama yang kelak—seperti namanya—akan berlangsung secara rutin tiap tahun (annual). Dan, bisa jadi, ini menjadi ambisi tersendiri bagi pengelola Sangkring Art Space untuk memiliki sebuah peristiwa seni rupa yang ikonik, yang menjadi simbol sebuah kawasan, dan diingat oleh masyarakat selama mungkin. Setidaknya jagat seni rupa Yogyakarta atau di luar Yogyakarta bisa “dipecah” perhatiannya tidak sekadar pada Biennale Jogja atau ArtJog yang telah lama menggenang dalam ingatan publik.

Putu Sutawijaya a.k.a. Liong dalam sebuah percakapan di suatu sore di pertengahan April 2016 menyatakan bahwa ide untuk melahirkan YAA ini akarnya sudah lama. Bahkan nyaris sama usianya dengan kelahiran Sangkring Art Space yang telah didirikan 9 tahun lalu. Gagasan tersebut lebih meruncing setelah ruang seni yang berada di tengah kampung di kabupaten Bantul itu menghelat sebuah pameran bertajuk “Reborn” pada pertengahan tahun 2015 lalu. Kala itu gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo yang membuka pameran. Dari sebuah obrolan seru bersama teman-teman seniman dan manajemen Sangkring setelah pembukaan pameran itulah kemudian ide untuk menciptakan perhelatan yang ikonik makin menguat.

Ide itu pun kemudian dibumikan lagi, kata Liong, dengan sebuah kenekatan. Ya, kenekatan di tingkat action ini diwujudkan dengan membangun lagi satu ruang pameran di bagian belakang dari lahan yang telah ada—dari ketersediaan tanah yang seluruhnya seluas sekitar 3.000 meter persegi. Sebelumnya, Sangkring Art Space sudah memiliki dua ruang pajang atau ruang pameran yang luas. Dan sekarang, satu ruang baru lagi telah nyaris selesai setelah dikerjakan dengan ngebut. Luas ruang baru itu 14 x 35 meter yang di dalamnya terpilah dalam 5 petak ruang. Plafonnya relatif cukup tinggi, yakni 5 meter dari lantai. Ini lebih ideal ketimbang, misalnya ruang pameran di Taman Budaya Yogyakarta yang sebagian besar plafonnya hanya berketingian sekitar 2,75 meter.
“Waktuku akhir-akhir ini banyak kuhabiskan untuk menunggui proses pembangunan gedung baru ini,” tutur Liong sambil ngakak. Dia memang seperti menjadi “mandor” bangunan bagi gedung baru yang dibangunnya karena untuk pembangunan kali ini relatif tidak mudah baginya mencari tukang. “Banyak tukang yang bagus-bagus standarnya sedang dikerahkan untuk membangun berbagai hotel di banyak tempat di Yogyakarta,” keluhnya. Kali ini pun Bapak dari 3 anak tersebut menjadi menjadi arsitek bagi bangunan baru itu—setelah dua ruang pameran sebelumnya diarsiteki oleh seorang kolektor dari Magelang yang juga pemilik Syang Art Gallery, yakni Ridwan Muljo.

Di sisi lain, kenekatan Putu Sutawijaya ini membuat heran para kolektor atau pemilik ruang seni dari negara lain yang sempat dating ke Sangkring beberapa waktu sebelumnya—ketika proses pembangunan gedung masih gencar berlangsung. Mereka yang datang dari Singapura antara lain heran, “Untuk apa kamu sebagai seniman repot-repot membangun galeri? Itu kan tugas orang galeri atau pemerintah, bukan kamu sebagai seniman?!” tutur Sutawjaya menirukan orang-orang Singapura itu. Sutawijaya sendiri juga merasa punya tanggung jawab untuk mengambil peran di sisi penyediaan sarana fisik karena Negara juga belum maksimal menyediakan hal itu.

Sutawijaya cuek sambl jalan terus. Dia tetap merampungkan gedung sembari terus berkoordinasi dengan para seniman yang akan menangani perhelatan YAA, yang terutama adalah Yuswantoro Adi, Samuel Indratma, Nyoman Adiana (adik kandungnya), Yaksa Agus, Maslihar Panjul, dan lainnya. Mereka inilah yang hendak menopang jalannya semua acara dari awal hingga akhir.

Yuswantoro mengonsep perhelatan YAA dengan kembali mempertanyakan ulang—secara sederhana—keberadaan seni rupa kontemporer. Yus sempat berbincang dan menafsir bahwa ukuran atau indikasi kontemporer tidak terletak semata-mata pada praktik dan medium baru seperti yang banyak terjadi kini. Secara sederhana, kata kontemporer itu berarti sejaman, pada waktu yang sama, sebaya, seumur, sewaktu, kiwari, mutakhir, atau dewasa ini. Pendeknya: kekinian. “Dengan kata lain, sejauh karya seni tersebut bersifat kekinian, apapun praktik dan mediumnya tetap sah disebut sebagai baru sebagaimana rumus dasar sebuah karya seni yang bisa berlaku universal (tidak hanya dalam seni rupa) dan harus memiliki sifat novelty atau kebaruan,” tutur seniman berbadan tambun tersebut.

Penerapan dari konsep mendasar tentang kontemporer itulah yang ditekankan oleh Yuswantoro, yakni menampilkan (hanya) karya seni dua dimensi dalam perhelatan YAA. Para seniman pesertanya semuanya adalah hasil pilihan Tim Sangkring—bukan dari hasil aplikasi para seniman. Mereka adalah para seniman yang telah mulai menancapkan nama dan reputasinya dalam orbit seni rupa di Yogyakarta atau kawasan lain, namun belum terlalu banyak diserap dalam berbagai peristiwa seni yang sangat prestisius. Begitu kira-kira dasar pemiihan para senimannya. Sebetulnya ada 48 seniman yang diundang dalam acara YAA ini. Namun 5 seniman berhalangan untuk berpartisipasi karena berbagai alasan. Mereka yang sudah memastikan akan terlibat untuk memamerkan karya antara lain adalah Ampun Sutrisno, Anto Sukanto, Galuh Tajimalela, Hilman Hendarsyah, Kuart, L. Surajiya, Luddy Astagis, Panca DZ, Robert Kan, Roy Karyadi, W. Adin Wiedyardini, dan Woro Indah Lestari. Pun ada nama-nama yang selama beberapa tahun terakhir ini mulai banyak berseliweran dalam garis orbit seni rupa: Agus “Baqul” Purnomo, Agus Triyanto BR, Erizal, Erianto, Hayatudin, I Nyoman Darya, Nengah Sujena, dan beberapa nama lainnya. Hal lain yang menjadi pertimbangan dari para tim selektor YAA adalah batasan usia yang ditetapkan maksimal 45 tahun. Tentu ini menarik karena sebenarnya beberapa perhelatan seni rupa lain juga memberlakukan batasan usia bagi seniman pesertanya. Misanya BaCAA (Bandung Contemporary Art Award) yang membatasi usia pesertanya maksimal 40 tahun. Pameran seni rupa FKY (Festival Kesenian Yogyakarta) juga pernah membatasi maksimal 35 tahun. Lebih menarik lagi, kalau menyimak data para seniman peserta YAA, mayoritas usianya sudah melampaui 30-an tahun, bahkan beberapa di antaranya sudah berada di kisaran usia 40-an tahun. Tentu ini perlu dipikirkan lebih matang lagi tentang konsep perhelatan ini yang menyangkut ihwal klasifikasi para seniman pesertanya.

Yogya Annual Art juga memberi porsi yang sebesar-besarnya pada para seniman yang menggarap karyanya dengan kemampuan teknik atau skill tanpa bantuan perangkat yang berbau teknologis. “Jadi ya kami membayangkan bahwa berdasarkan teknis pengkaryaannya, perhelatan ini menjadi Yogya Manual Art karena semua karyanya dibuat secara manual, murni dengan tangan, bukan lewat campur tangan yang kental peran teknologi. Misalnya lewat digital printing yang ditimpa dengan cat. Kami menolaknya,” tegas Yuswantoro Adi.

Pada bagian lain, Yus juga menawarkan gagasan lain untuk menghadirkan satu seniman old master yang sudah almarhum yang dihadirkan karyanya untuk mendampingi karya para seniman muda ini. Pilihannya jatuh pada tokoh seni rupa abstrak Indonesia, yang juga (mantan) dosen Fakultas Seni Rupa ISI Yogyakarta, Fadjar Sidik. Ya, semacam “Tribute to Fadjar Sidik”. Tentu, ini sebagai bentuk penghormatan atas dedikasi dan kontribusi sang seniman old master tersebut dalam mengawali perkembangan dunia seni rupa (abstrak) di Indonesia. Ini mengingatkan pada pameran seni rupa FKY (Festival Kesenian Yogyakarta) tahun 2005 yang bertajuk “Shout Out” yang menggandengkan antara puluhan karya seniman muda dan beberapa seniman senior, khususnya para eksponen Gerakan Seni rupa Baru (GSRB), yakni karya F.X. Harsono, Hardi, dan Bonyong Muni Ardhi.

YAA kiranya layak untuk diharapkan menjadi sebuah perhelatan baru yang ikonik bagi Sangkring Art Space. Syukur bisa melampaui itu, yakni ikonik bagi Yogyakarta. Namun itu tak mudah karena butuh ketegasan dan kekuatan konsep yang lebih matang lagi. Di luar itu, kawasan ini sudah menopang penuh dengan menyediakan melimpahnya sumber daya seniman yang relatif berkualitas. Pada titik inilah teramat saying kalau diabaikan. Apalagi kalau hanya karena dalih konsep kontemporer yang menunggal dan menyempit, yang beku dan baku bahkan kaku—yang ujung-ujungnya kurang mengakomodasi keluasan dan keliaran imajinasi para seniman. Alangkah sayangnya… ***

Susi


(Catatan di akun facebook-ku, 10 September 2015)

SOSOK Susi Pudjiastuti tampaknya butuh improvisasi dalam hidup. Apalagi pada 12 bulan terakhir ketika "tiba-tiba" menjadi pejabat tinggi. Jadi menteri lagi! Nyaman sekali tampaknya ketika semalam pengusaha ini menyambangi Bentara Budaya Yogyakarta, di jalan Suroto 2, Kotabaru, Yogyakarta. Hadir bersama rombongan kecil sekitar pukul 19.00 wib, dan baru pulang empat jam berikutnya, pukul 23.00 wib.

Dua mangkok bakso permintaannya tandas disantapnya. Juga teh panas dan air putih. Tapi tampaknya Bu Susi menahan diri untuk tidak merokok, daripada esok harinya para hater punya bahan untuk nyampah dan nyumpah di medsos. Dia maju di depan tetamu, setidaknya 5 kali, untuk menyampaikan sambutan, menerima hadiah lukisan dari perupa Nasirun, mengucapkan tabik hormat untuk para pemain ludruk, memenuhi ajakan untuk berfoto bersama, dan menari. (Tarik, maaanngg...)

Pejabat sekelas menteri "nongkrong" hingga 4 jam di sebuah venue seni, ngapain aja? Wong walikota Yogyakarta saja belum pernah--bahkan undangan untuk membuka pameran pun sering tak dipenuhinya. Ya, menteri Susi sengaja datang Jogja memenuhi undangan PFI (pewarta Foto Indonesia) Yogyakarta untuk menutup secara resmi pameran foto bertema "Nusa Bahari", nonton ludruk berlakon "Susi Duyung", mendengarkan musik rock'n roll, yang sepanjang semua pertunjukan itu berbonus ocehan para penonton. Ini bukan venue seni yang "tertib", sehingga celometan atau olok-olok para penonton (yang sebagian adalah seniman) mewarnai pertunjukan. Susi sesekali tertawa lepas karena keriuhan celometan para penonton yang jauh dari tertib itu. Dia bersama sahabat masa studi di SMA, Prof. Dr. Dwi Korita (Rektor UGM), tergoda menengok ke arah suara celometan yang datang dari seantero arah.

Ketika ada adegan pertarungan dari tokoh antagonis dan protagonis di panggung ludruk, misalnya, penonton berseru: "Dibom saja, bu Susi! Bom aja!" Atau ketika ada pemain perempuan yang cukup bahenol tengah akting dan dengan sigap seniman Djaduk Ferianto mendekati pemain itu untuk memotret dengan kameran hapenya, teriakan pun terlontar: "Wah, Djaduk orgasme!"

Lakon "Susi Duyung" sendiri narasinya dikreasi oleh budayawan Romo Dr. Sindhunata SJ, dan telah dipentaskan sebelumnya. Kala itu Susi sudah berusaha untuk memenuhi undangan pentas tersebut namun gagal karena kesibukannya sebagai menteri. Dan malam tadi adalah upayanya untuk "menebus" janji menyaksikan lakon tersebut.

Menteri perempuan yang bertato dan perokok namun menjadi bintang terang dalam Kabinet Kerja Jokowi-JK ini seperti tidak sedang dikejar oleh banyak pekerjaan yang menumpuk di sekitarnya. Santai, seperti apa yang diucapkannya dalam sambutan, Bu Susi tampaknya ingin "menikmati level hidup ketika seni bisa mendamaikan dan membuat adem jiwa". Selamat datang dalam keriuhan dunia seni yang mengaayikan, Bu Susi. Tulari teman-teman di sekitar ibu, ya.

Thursday, September 01, 2016

Sop Sapi


Setiap kali mampir makan di warung sop sapi itu, salah satu pelayannya, seorang laki-laki yang ber-make up cukup tebal dan kemayu selalu menyapa kami dengan santun. “Makan apa, mas? Adik makan juga?” sapanya pada kami sekeluarga. Warung itu ada di pinggir timur Kebumen, dekat batas kota, di sisi selatan jalan. Adikku yang merekomendasi tentang lezatnya sop sapi di situ. Dan memang benar, lidahku sekeluarga cocok. Pantas kalau warung itu cukup ramai. Bahkan mengantri banyak kalau pas jam makan siang datang.

Maka, setiap kali mudik beberapa bulan sekali ke Banyumas yang jaraknya sekitar 180 km dari Yogyakarta, kami berhenti makan di separuh jarak tersebut, yakni di jarak sekitar 100 km, persisnya di batas timur kota Kebumen. Dan setiap kali kami datang, mas-mas yang kemayu itu hampir pasti antusias menyambut kami. “Makan apa, mas? Ini masih komplit,” sapanya. Sementara pelayan lain, 4 perempuan, ramah meski datar cara penyambutannya.

“Ritus” itu berkali-kali kami alami setiap mampir makan. Hingga pada suatu kesempatan kami menemui kejanggalan. Seperti biasa, kami membelokkan kendaraan untuk istirahat dan makan di warung tersebut. Tapi mas-mas kemayu itu tak ada lagi. Tak ada lagi sapaan yang antusias. Di tengah-tengah saat makan, istriku berkomentar, “kok rasa bumbu kuahnya beda ya?” Aku mengiyakan sambil bilang, “mungkin kali ini masaknya sambil ngantuk.”

Beberapa bulan kemudian kami berkesempatan mampir lagi ke warung itu. Lagi-lagi, mas-mas kemayu itu tidak kutemui. Tak kudengar lagi sapaannya, juga make up-nya yang agak tebal. Maka, kutanyakan hal itu pada keempat pelayan warung yang masih ada itu. “Mas-nya itu kok tak kelihatan lagi, bu, mbak?” tanyaku. “Iya, dia sudah keluar,” jawab salah satu perempuan. “Kenapa? Pindah ke cabang lain? Atau ke restoran yang lebih besar?” desakku. “Tidak tahu.” Tak ada jawaban lain. Aku tak mencoba menginvestigasi lebih jauh. Kami kembali merasakan rasa sop sapi di warung itu tak lagi sekuat waktu-waktu sebelumnya.

Aku langsung berkesimpulan bahwa tampaknya mas-mas yang kemayu itu memang “ruh” dari warung tersebut. Dia tidak sekadar pelayan seperti 4 perempuan lainnya, tapi kemungkinan besar juga sebagai main chef (juru masak utama). Ini yang berimbas mempengaruhi ramai atau sepinya warung itu. Kian kurasakan, mas-mas yang berpenampilan berbeda itu memang hebat. Aku kehilangan racikan bumbu olahannya. Tapi itu sekaligus menginspirasi kami di rumah untuk sesekali memasak sop sapi, tentu dengan rasa yang (sementara) belum selezat masakan mas-mas yang kemayu itu. Semoga kamu sehat dan sukses, mas!

Akhir Agustus 2012