Friday, February 23, 2018

Pindah Posisi

Hari itu, pertengahan 1994, saya minta ijin pada teman-teman satu kelompok KKN (Kuliah Kerja Nyata, bukan Kejar-Kejar Nona) untuk balik ke Yogyakarta selama 2 hari. Saya dibonceng naik sepeda motor oleh teman dari desa Dawuhan, kecamatan Banyumas, kabupaten Banyumas, Jawa Tengah lalu naik bus Mandala dari depan pasar Banyumas hingga ke Yogyakarta.

Bus padat penumpang. Kulihat nyaris semua tempat duduk telah terisi. Ada beberapa kursi kosong di bagian bagian belakang. Tapi kuputuskan untuk duduk di bangku paling depan, di sebelah kiri sopir, berdampingan dengan seorang bapak setengah umur.

Laju bus begitu cepat. Penumpang satu persatu bertambah lagi hingga ada beberapa orang yang berdiri di lorong bus karena bangku kosong tak tersisa lagi.

Pada satu tempat, bus kembali berhenti untuk menaikkan serombongan penumpang. Usianya beragam, tua dan muda. Beberapa detik setelah para penumpang baru itu naik dan bus kembali melaju, saya berkeputusan untuk memberikan tempat dudukku pada orang lain. Saya memilih berdiri bergerombol bersama penumpang lainnya (yang sama-sama berdiri) di bagian tengah bus. Sebetulnya saya tidak sedang bertindak heroik memberikan bangku itu pada orang lain. Tapi hanya merasa kurang nyaman karena di posisi dudukku itu terasa panas. Maklum, bus melaju ke arah timur hingga Yogyakarta, tentu akan terus menghadap sinar matahari hingga tengah hari.

Saya kurang tahu persis siapa orang yang mengambil alih posisi dudukku tadi. Kini saya sibuk memegang palang besi di bawah atap bus agar tidak terjatuh karena sang sopir mengemudikan kendaraan dengan kencang, belok kanan-kiri dengan tiba-tiba, pun sesekali mengerem mendadak.

Tak sampai 15 menit setelah saya beranjak dari kursi dan berdiri bergerombol di tengah bus, tiba-tiba tubuh bus seperti tak terkendali: kencang, zigzag tak karuan, suara rem berdecit keras, para penumpang teriak histeris, dan... breezzzggh@#*~☆hkkxx!!!!!

Saya terjatuh bersama puluhan penumpang lain. Situasi kalang-kabut. Jerit tangis penumpang perempuan dan anak-anak memenuhi ruangan bus tanpa AC itu. Pun dengan teriakan beberapa penumpang laki-laki yang memaki perilaku sopir.

Pelan-pelan, satu persatu penumpang bisa mengendalikan tubuh dan diri mereka, termasuk saya. Kami semua saling menolong dan lalu keluar dari bus untuk menenangkan dan menyelamatkan diri. Untunglah saya baik-baik saja, tak ada luka sedikit pun kecuali kondisi psikologis yang merasa telah terancam oleh kecelakaan.

Bermenit-menit kemudian saya baru tahu bahwa ternyata tadi ada seekor kuda penarik dokar yang mengamuk di jalan. Kusir tak bisa mengendalikan hingga kemudian kuda dan dokarnya lari kencang di tengah jalan. Bus yang saya tumpangi juga melaju sangat kencang, dan berlawanan arah dengan kuda ngamuk tadi.

Sopir bus mencoba mengerem mendadak tapi tak mampu menghentikan bus seketika. Keputusannya adalah banting stir ke kiri, masih dalam kecepatan tinggi, dan akhirnya menabrak pohon besar. Ya, bagian depan-kiri bus rusak cukup parah. Kaca pecah dan terberai kemana-mana.

Saya berusaha menengok bagian depan bus di tengah kerumuman orang. Mereka sedang sibuk menolong dua penumpang yang terhimpit tubuh bus. Ya, dua orang itu berdarah-darah dan tak lagi sadar. Entah pingsan atau lebih parah lagi. Saya ngeri karena di posisi mereka itulah saya sempat duduk puluhan menit untuk kemudian pindah dan berdiri berdesakan.

Saya hanya bisa diam dan bersyukur: hanya dalam hitungan beberapa detik saya seperti dibimbing oleh sebuah kekuatan yang menggerakkan otak dan tubuh untuk berpindah posisi, dari yang nyaman ke situasi yang kurang nyaman, tapi justru mampu menyelamatkan dari celaka.

Pengalaman itu memberi tambahan kesadaran pada saya betapa sebuah keputusan yang baik atau sebaliknya, kadang ditentukan hanya dalam hitungan beberapa detik. Hal yang didahului dengan ketidaknyamanan, kepahitan, menjengkelkan, kadang justru menjadi siasat Tuhan untuk menguji kita untuk masuk dalam lorong situasi yang jauh lebih baik. Kita pasti akan atau telah menemui keajaiban (besar atau kecil) dalam hidup.

Terima kasih, Tuhan. ***

Saturday, February 17, 2018

Monumen Pro-Kontra





"Monument" (2017), seni instalasi karya Manaf Halbouni.

Manaf Halbouni, 34 tahun, menggegerkan kota Dresden setahun lalu. Seniman keturunan Jerman-Suriah ini membuat karya seni instalasi bermaterial ready-made-used object berupa 3 buah bus bekas yang diletakkan persis di Neumarkt Square, atau Nol Kilometer-nya kota Dresden. Tidak jauh dari gereja Frauenkirche atau Church of Our Lady. Karya ini dipasang selama 2 bulan, mulai 7 Februari hingga 3 April 2017.

“Monument”, judul karya tersebut. Konsepnya berkisar pada rasa empati sang seniman terhadap negeri kelahirannya, Suriah, yang luluh lantak oleh perang saudara. Instalasi Manaf Halbouni ini menciptakan representasi atas citra yang kuat dari situasi jejalanan di Aleppo, Suriah pada tahun 2015 di mana tiga bus dibalik secara vertikal, diikat bersamaan, dan digunakan sebagai tempat penampungan bagi warga sipil untuk melindungi dari tembakan para sniper (penembak jitu). Karya seni Manaf "Monument" merupakan simbol perang dan penghancuran, sekaligus merupakan sebentuk harapan akan kedamaian dan kemanusiaan. Lewat karya ini, Manaf ingin mengandaikan bahwa citra bus yang tegak dapat membantu pada generasi muda di Dresden untuk mengingat dan memikirkan dampak horor dan kehancuran yang disebabkan oleh perang. 

Dipasang di pusat kota Dresden, patung tersebut menarik perhatian karena memiliki kesejajaran antara perang saudara di Suriah, dan pemboman tahun 1945 di kota-kota di Jerman. Tapi karya seni tersebut tidak mulus dari pro-kontra. Kelompok sayap kanan kota Dresden melakukan unjuk rasa atas pemasangan karya tersebut tepat saat diresmikan oleh walikota Dresden, Dirk Hilbert pada hari Selasa, 7 Februari. 

Sebuah pernyataan yang dikeluarkan oleh cabang lokal partai populis sayap kanan Jerman, für Deutschland (AfD), mengecam bahwa karya seni Manaf ini sebagai "penyalahgunaan kebebasan seni" yang sengaja dirancang untuk "menghina warga Dresden", dan dianggap memunggungi pusat simbol kebangkitan kembali pasca-reunifikasi Dresden tersebut dengan "besi tua". Peresmian karya instalasi itu menjadi hiruk-pikuk.

Sang seniman, Manaf Halbouni, juga dikecam oleh AfD sebagai "pengelana yang tak berdaya". Pada lain momentum, Manaf menanggapi kecaman AfD tersebut: "Saya memang tidak berdaya, dalam arti perang sudah mengambil sebagian masa kecil saya, dengan membunuh atau mencerai-beraikan teman-teman masa muda saya ke seluruh dunia," katanya. 

Realitas ini menarik. Bahwa karya seni pun bisa tidak dengan mudah direspons oleh masyarakatnya, meski sudah disepakati oleh pemilik otoritas wilayah dimana karya tersebut dipasang. Sebuah realitas yang tak bisa ditampik dan dibiarkan begitu saja dengan mengatasnamakan kebebasan seni. Ini justru menjadi bahan pemikiran bagi seniman untuk lebih menguatkan konsep karyanya, dan di sisi lain merancang aspek eksekusi karya yang lebih bagus. Atau, jangan-jangan pro-kontra itu juga bagian dari strategi kreatif para pelaku seni agar karya seninya dilirik dan diperbincangkan? Bisa jadi. ***

Wednesday, February 14, 2018

Lukisan Order Raden Saleh



“Javanese Temple in Ruins” (Reruntuhan Candi Jawa) yang dilukis oleh Raden Saleh Syarief Boestaman tahun 1860. 

Saya terpaku cukup lama di depan lukisan ini: “Javanese Temple in Ruins” (Reruntuhan Candi Jawa). Lukisan karya Raden Saleh Syarief Boestaman ini berukuran 105,4 x 187 cm, dibuat tahun 1860. Banyak hal yang membuat saya terpaku di situ, di National Gallery Singapore, akhir Januari lalu. Pertama, lukisan ini eksotik. Dilukis saat Raden Saleh berusia 49 tahun, memperlihatkan kematangannya sebagai pelukis, apalagi setelah bertahun-tahun berproses di Eropa. Karya ini tergarap detil, terlihat pengaruh guru lukis lanskapnya, Andreas Schelfhout—begitu kuat. Pun dengan pencahayaannya yang seolah dibuat dengan kesadaran ketika hidup di Eropa: langit dan tanah yang temaram meski bayang-bayang benda menunjukkan suasana tengah hari. Ini tak lepas dari pengaruh para seniman Perancis yang dikaguminya, Horace Vernet dan Eugene Delacroix.

Kedua, lukisan ini nyaris tidak banyak dibicarakan, atau dipamerkan keliling, atau keluar-masuk balai lelang. Bahkan dalam pameran "Raden Saleh dan Awal Seni Lukis Modern Indonesia" yang digelar pada 3-17 Juni 2012 di Galeri Nasional Indonesia, Jakarta, karya ini sama sekali tidak dipamerkan atau disebut-sebut. Ternyata betul, selama 92 tahun karya ini “ngumpet” di Smithsonian Art Museum, Amerika Serikat.

Ketiga, kondisi karya ini—meski sudah berusia 158 tahun—masih terlihat jelas sangat bagus, bersih, dan tampak seperti baru. Ini, maaf, beda jauh dengan kondisi lukisan yang disebut-sebut sebagai karya puncak Raden Saleh, “Penaklukan Diponegoro” yang sudah memprihatinkan. Saya menyaksikan “Penaklukan Diponegoro” pada Agustus 2016 saat dipamerkan (kembali) di Galeri Nasional Indonesia. Sudah banyak garis-garis retak pada pigmen warnanya, juga kemungkinan jamur pada beberapa bagian di permukaan cat dan kanvas. Ada banyak kemungkinan kenapa kondisinya seperti itu. Mungkin betul-betul tidak dirawat dengan benar. Atau, mungkin juga kondisi alam. Indonesia yang tropis dengan kelembaban tinggi memungkinkan lukisan kanvas berpotensi cepat menjamur. Di negara subtropis dengan suhu rendah (di bawah 20 derajat Celcius) memungkinkan kondisi kanvas relatif awet. Beda dengan di Indonesia yang bersuhu di kisaran 27 derajat Celcius (atau lebih sering di atas angka itu). Lukisan “Penaklukan Diponegoro” jelas membutuhkan perangkat teknologis seperti AC terus-menerus untuk membantu menjaga keawetannya.

Keempat, lukisan ini menyimpan banyak cerita, mulai dari prosesnya hingga perjalanan panjangnya setelah dibuat. Saya ingin sekilas menceritakan kembali perihal lukisan ini, meski sebenanya sudah diulas dengan bagus oleh mas Amir Sidharta (kurator Museum Lippo/Museum Universitas Pelita Harapan) di harian Kompas, Sabtu, 3 Februari 2018 lalu. Juga telah ditulis oleh Russel Storer (dengan narasumber Marie-Odette Scalliet) dalam buku katalog pameran “Between World: Raden Saleh and Juan Luna” (2017). Saya ingin meringkasnya untuk merunut perjalanan karya tersebut.

Lukisan “Javanese Temple in Ruins” (Reruntuhan Candi Jawa) dipesan oleh Alexander Fraser (1816-1904) pada akhir dasawarsa 1850-an. Pengusaha asal Aberdeen, Skotlandia ini sukses berbisnis di Hindia Belanda. Fraser memesan 4 lukisan yang bertema tentang pemandangan tanah Jawa, dengan ukuran lukisan sama semuanya. Satu lukisan dihargai 1.000 gulden. Ini harga yang sangat tinggi, misalnya bila dibandingkan dengan tunjangan bagi Raden Saleh dari pemerintah Hindia Belanda yang setahunnya sebesar 2.400 gulden.

Dua dari 4 lukisan pesanan Fraser dipamerkan di National Gallery Singapore antara 16 November 2017 hingga 11 Maret 2018. Lukisan lain selain “Javanese Temple in Ruins” (Reruntuhan Candi Jawa) berjudul “Six Horsemen Chasing Deer” (Enam Penunggang Kuda Mengejar Rusa). Keduanya bertarikh 1860. Apakah order 4 lukisan itu semua diselesaikan oleh Raden Saleh dalam setahun? Mungkin saja.

16 Februari 1879 istri (pertama) Fraser, Julia Hermina van Citter, meninggal. Tahun itu juga Fraser memutuskan untuk pulang ke Eropa, persisnya ke London, Inggris. Setahun berikutnya, 1880, Fraser menikahi seorang janda muda, namanya Emma Augusta Blackman, di Massachuset, Amerika Serikat. Selisih usia mereka terpaut 31 tahun. Mereka pertama kali berkenalan saat sama-sama menetap di Jawa. Pasangan Fraser-Emma kemudian menetap di London. Fraser meninggal tahun 1904 dalam usia 88 tahun.

Emma sendiri meninggal 20 tahun kemudian, 11 Oktober 1924. Banyak harta benda, termasuk 4 lukisan Raden Saleh, diwariskan kepada Roland Burbank Swart. Roland adalah anak Sally Burbank Swart atau cucu salah satu kerabat Emma yang bernama Caroline Blackman. Oleh Roland, warisan karya seni itu diberitahukan kepada seseorang yang dikenal sebagai Miss Abbot. Dia adalah adik kandung Dr. William L. Abbot, seorang kolektor benda etnologis dan spesimen biologis, terutama dari Asia Tenggara, juga pendukung utama dalam pengembangan koleksi Museum Nasional Amerika Serikat. Dr. William L. Abbot pun kemudian menghubungi Sekretaris Smithsonian, Dr. Charles D. Walcott. Kira-kira pada tahun itu juga akhirnya 4 lukisan warisan Alexander Fraser masuk menjadi koleksi institusi Smithsonian di Washington DC, Amerika Serikat.

Jadi, lukisan “Javanese Temple in Ruins” (Reruntuhan Candi Jawa), “Six Horsemen Chasing Deer” (Enam Penunggang Kuda Mengejar Rusa), dan 2 lukisan lain garapan Raden Saleh itu sudah melanglang buana karena situasi seperti yang saya ceritakan sekilas di atas. Antara tahun 1860 hingga 1879 ada di Jawa (Jakarta?), 1879-1924 berada di London, dan mulai 1924 hingga seterusnya berada di Washington DC. Selama November 2017 hingga Maret 2018 dipinjamkan di Singapura. Apakah dia akan mampir uga ke “tanah kelahirannya” di Jawa? Rasanya tidak mudah mewujudkan hal itu. Apalagi bila akan menetap lama seperti lukisan “Penaklukan Diponegoro”. Pasti nasibnya akan serupa: tak terawat, jamuran, dan mungkin “menemu ajal”.

Bagi saya, ada hal menarik lainnya dari karya raden Saleh ini, yakni harga ordernya. Fraser memberi nilai order sebesar 1.000 gulden pada tahun 1860, dan dianggap sebagai harga yang sangat tinggi. Saya mencoba merunut seberapa besar angka itu pada masa lukisan tersebut dibuat. Pada sebuah karya skripsi berjudul “Produksi dan Perdagangan Beras di Sulawesi Bagian Selatan di Akhir Abad ke-19” tulisan Nurlaelah Muhlis yang diajukan pada Jurusan Ilmu Sejarah, Universitas Hasanudin, Makassar (2013), saya menemukan hal yang kemungkinan bisa dijadikan sandaran. Di situ tertulis bahwa harga beras pada tahun 1886 fluktuatif antara 4-8 gulden per pikul. Satu pikul sama dengan 60,479 kg. Jika memiliki uang 1.000 gulden dengan harga beras per pikul 4 gulden, maka 1.000 gulden dapat dibelikan sebanyak 250 pikul. Jika 1 pikul = 60,479 kg, maka 250 pikul = 15.119 kg. Jika dikonversi dengan harga beras hari-hari ini sekiatr Rp 10.000/kg, maka 15.119 kg x Rp 10.000 = Rp 151.190.000.

Ya, satu lukisan Raden Saleh pesanan Fraser tadi sekitar Rp 151.190.000 (seratus lima puluh satu juta seratus Sembilan puluh ribu rupiah). Untuk angka-angka ini, tentu, jangan terlalu dipercaya. Ini hanya hitung-hitungan acak, asal, tanpa memperhitungkan aspek lain seperti laju inflasi, dan lainnya. Ini hanya pembanding yang cukup ngawur, haha…

Dan nilai karya seni tentu beda urusannya dengan laju perkembangan harga beras. Kita bisa melihat salah satu faktanya sekarang. Sabtu, 27 Januari 2018 lalu, salah satu lukisan Raden saleh, “La Chasseau Taureau Sauvage” atau “Perburuan Banteng” laku terjual senilai 8,9 juta euro atau sekitar Rp149,6 miliar di rumah lelang di Kota Vannes, Prancis. Inilah lukisan termahal seniman Indonesia yang pernah terjual (di rumah lelang). Dan pembelinya pun orang Indonesia, meski dirahasiakan namanya. Gosipnya sih orang Surabaya dan juragan rokok. Silakan menduga. ***

Saturday, February 10, 2018

Saleh dan Luna


Menengok karya-karya Sang Pemula dari Philipina, Juan Luna de San Pedro y Novicio. Juan hidup hampir satu generasi setelah Sang Pemula dari Indonesia, Raden Saleh Syarief Boestaman. Raden Saleh hidup antara 1811 dan wafat tahun 1880 ketika berusia 69 tahun. Sementara Juan Luna lahir tahun 1857 dan meninggal karena serangan jantung di usia 42 pada tahun 1899.

Karya-karya dahsyat keduanya tengah dipamerkan di National Gallery Singapore, 16 Nov 2017 hingga 11 Maret 2018. Ada banyak hal yang bisa dipelajari dari dua tokoh ini. Misalnya tentang hasrat untuk memajukan diri dengan terus belajar. Raden Saleh studi seni rupa di Belanda dan Jerman. Juan Luna belajar di Spanyol dan Italia.

Di sisi lain, Raden Saleh dianggap sebagai priyayi yang akomodatif terhadap kepentingan negeri penjajahnya, Belanda. Tapi anggapan itu bisa luntur ketika dia melukis "Penangkapan Diponegoro" yang secara simbolik memberi perlawanan kultural terhadap Belanda. Sedang Juan Luna yang karya-karyanya cukup kuat memunculkan atmosfir dan wajah-wajah Eropa, sesungguhnya adalah aktivis politik yang ikut memperjuangkan kemerdekaan bangsanya. Dia bahkan terlibat sebagai bagian dari tim diplomatik untuk pemerintahan Filipino Revolusioner dan melakukan misi negaranya ke Amerika Serikat dan lainnya.

Pameran ini unik: mempertemukan Sang Pemula Indonesia dan Philipina, dan ketemu di Singapura. Mungkin keduanya memang pernah mampir di Singapura untuk transit (naik kapal laut) sebelum ke Eropa. Tapi, memang, pemerintah Singapura lewat National Gallery Singapore tampak berambisi besar menjadi pusat perkembangan seni rupa Asia Tenggara. Mereka sadar sejarah dan SDM seni rupanya lemah. Maka mereka menguatkan etalase dan manajemennya untuk, antara lain, menghadirkan pameran yang berkelas.

Pameran ini penting untuk pembelajaran sejarah, demi turisme, demi kesadaran bahwa karakter bangsa (wuih...) perlu dikuatkan lewat karya seni budaya, dan sebagainya. Tampak sih, pameran ini ramai pengunjung, bahkan riuh, kemruyuk, padahal saat saya nonton hari Minggu kemarin, 28 Januari 2018, pameran sudah berlangsung hampir 2,5 bulan.

Unik juga, tak jauh dari negara mungil ini, ada negeri yang kaya SDM seni, tapi pengelolaannya masih jauh dari harapan, dan tak kunjung bisa belajar untuk maju. Uniknya lagi, di lingkungan sendiri banyak pameran seni tapi ada beberapa seniman, guru seni atau dosen seni pada malas nonton. Mungkin sudah ampuh hingga tak perlu asupan gizi seni. Tahu-tahu hanya bisa "jalan di tempat". ***

Friday, February 09, 2018

Kiefer



Karya ini bertajuk "Dein und mein Alter und das Alter der Welt" (Umurmu, Umurku, dan Umur Dunia), dibuat 26 tahun lalu atau tahun 1992. Ditempatkan di ruang khusus di ArtStage Singapura 2018 hanya demi Anselm Kiefer—salah satu perupa kontemporer paling berpengaruh di dunia dewasa ini. Lukisan Kiefer yang cukup besar ini berukuran 281 x 380 cm dengan latar belakang dinding warna legam, agar lebih menguatkan kemunculan karya di depannya. Seperti halnya banyak karya Kiefer lainnya, karya ini memakai beragam material, misalnya "ready-made used object" seperti pohon bunga matahari, pasir, jerami, pecahan gelas, dan beragam benda lainnya, di samping tentu material standar lainnya seperti cat minyak, vernis, dan sebagainya.

Kiefer mengerjakan karya ini saat berusia 47 tahun. Dia tengah membincangkan tentang persoalan mendasar ihwal perjalanan proses waktu dan potongan kehidupan seperti hidup itu sendiri, kematian, juga pembusukan. Meski sudah berusia 26 tahun, material karya ini tampaknya masih terjaga keawetannya. Tujuh batang pohon bunga matahari masih kuat tertempel di atas kanvas. ***

Saturday, January 20, 2018

Barang Dapur Subodh

"Line of Control"(2008, karya Subodh Gupta.

Salah satu bintang seni rupa kontemporer India saat ini, tak pelak lagi, adalah Subodh Gupta. Seniman kelahiran Bihar, India tahun 1964 ini memiliki karakter karya yang khas. Meski mengambil jurusan seni lukis saat kuliah di College of Art and Craft, Patna (lulus tahun 1988), Subodh banyak melahirkan karya patung yang kuat ide dan eksekusinya.

"Line of Control" (2008) adalah salah satu karyanya yang monumental. Bukan saja karena ukurannya yang cukup gigantik, namun juga karena keunikan material karya dan kekuatan idenya. Fisik karya ini memiliki titik terpanjang dan terlebar 10 meter, dan titik tertinggi mencapai 10 m. Materinya berupa susunan alat-alat dapur atau rumah tangga yang sebelumnya telah di-finishing dengan stainless yang kinclong. Susunan ribuan benda-benda tersebut memiliki berat 26 ton.

Karya yang pernah dipajang di Tate Triennale, Inggris ini dirancang oleh Subodh serupa dengan gumpalan awan hasil eksplosi bom atom di Hiroshima dan Nagasaki, Jepang tahun 1945. Subodh sendiri pertama kali menggambar tema bom atom pada tahun 1999 saat ada ketegangan politik antara negaranya, India dan Pakistan yang dipicu oleh upaya percobaan bom nuklir.

Ide tersebut muncul kembali 9 tahun kemudian dan dieksekusi dengan material "everyday object" berupa perangkat dapur dan rumah tangga: sendok, garpu, panci, rantang, pispot dan sebagainya. Ya, dengan material "sederhana" Subodh berbicara perihal politik dan dengan format yang cukup gigantik.

Kecenderungan seniman ini memanfaatkan material yang siap pakai bagi orang awam ini yang membuat surat kabar Inggris, The Guardian menyebut Subodh sebagai "Damien Hirst-nya New Delhi". Ya, sebutan yang sekilas seperti membanggakan karena dia disetarakan dengan seniman Inggris yang reputasinya di seni rupa kontemporer dunia lebih tinggi dan kuat. Tapi juga, lagi-lagi, itu julukan yang meliyankan (the other) orang Asia. Seolah Asia tetap di bawah kuasa Barat.

Kini, karya-karya Subodh makin banyak dengan pencapaiannya masing-masing. Konsep dasar karyanya yang menempatkan "everyday and readymade object" sebagai basis material karyanya masih tetap jadi landasan praktik kreatif Subodh. Sederhana mulanya, luar biasa akhirnya.

Kamu juga bisa kok kalau mau tekun menggali kekuatanmu! Ayo!

Monday, January 08, 2018

Mengelola Ingatan

"The Lover II", lukisan Rene Magritte yang dibuat tahun 1928.

120 tahun lalu, tahun 1898, di kota kecil Lessines, Hainaut, Belgia, lahirlah sesosok bayi dari rahim perempuan bernama Regina Bertinchamps. (Persisnya sih lahir 21 November 1898). Suaminya seorang penjahit bernama Leopold Magritte. Bayi pertama dari pasangan ini diberi nama: Rene Francois Ghislan Magritte. Beberapa tahun kemudian mereka memiliki tiga anak yang diberi nama depan Raymond dan Paul.

Anak pertama Regina-Leopold, kelak menjadi salah satu seniman besar kebanggaan bangsa Belgia, yang populer dengan nama: Rene Magritte. Magritte dianggap sebagai salah satu penganut surealisme meski reputasinya kalah dibanding tokoh besar surealis dunia, Salvador Dali. Oleh sebagian pengamat Magritte justru dianggap sebagai “Godfather of Pop”, setidaknya itu respons yang menguat ketika dia berpameran tunggal di MOMA (Museum of Modern Art), New York tahun 1965. Jasper Johns, Roy Lichtenstein, Robert Rauschenberg, dan Andy Warhol sebagai tokoh pop-art di Amerika banyak berkarya dengan menjumput insiprasi dari Magritte.

Ada hal memilukan dalam potongan kehidupan Magritte. Masa kecilnya banyak berpindah-pindah rumah karena keterbatasan ekonomi orang tuanya. Mereka berpindah dari kota Lessines menuju Gilly, lalu ke Chatelet, lalu bergerak ke Charleroi, hingga ke Athenee—sebelum Magritte dewasa dan hidup mandiri di Brussel dan kemana-mana.

Saat tinggal di kota Chatelet, di suatu tengah malam pada 24 Februari 1912, ibunya bunuh diri dengan menceburkan diri di sungai Sambre. Sebelumnya, upaya bunuh diri beberapa kali dilakukan oleh Regina, sang ibu, karena mengidap neurasthenia—yakni gangguan emosional yang membuatnya mudah tersingung, lekas marah, disertai kondisi fisik yang menurun seperti sakit kepala dan kelelahan. Mayatnya diketemukan setengah bulan berikutnya, tanggal 12 Maret, sekitar 1 mil dari tempat kejadian awal. Magritte ikut melihat jasad ibundanya saat ditemukan. Baju tidur yang terakhir dipakainya telah lepas dari bagian badan (bawah), semuanya membebat dan menutup kepala almarhumah.

Ingatan tentang tragika keluarganya itu rupanya menusuk begitu dalam pada diri dan ingatan Magritte. Setidaknya, 16 tahun berikutnya, tahun 1928, anak kecil yang telah tumbuh dewasa dan menjadi seniman itu melukiskan kembali ingatan getirnya tentang sang ibu. Meski karya-karya tersebut membingkai tema yang telah meluas, namun visualisasinya muncul dari pengalaman batinnya di masa lalu yang terus berpendar setidaknya hingga ketika dia melukis. Ada karya berjudul “The Heart of the Matter” serta seri “The Lover” (In Les Amants) dan “The Lover II” yang semuanya dibuat tahun 1928. Karya-karya itu menggambarkan sosok-sosok manusia yang wajahnya tertutup rapat oleh bebatan kain putih—persis seperti keadaan ibunya saat ditemukan setelah menjemput ajal. Anda bisa lebih jauh menerka dan menganalisis karya tersebut.

Sebagian pengamat lain juga menduga bahwa karya Magritte yang lain, yang bertajuk “Les Eaux Profondes”, dibuat tahun 1941, menggambarkan representasi sosok ibunya. Karya itu melukiskan perempuan dengan wajah serupa pualam. Putih pucat pasi dan setengah memejamkan mata. Dia berdiri di samping seekor burung. Sementara di latar belakang ada bayangan air sungai dengan tembok tepian yang kokoh, serupa dengan gigir sungai Sambre yang mengingatkan tragedi saat Magritte berusia 14 tahun.

Pada titik ini saya dan kita bisa menduga bahwa lewat karya seni Magritte bisa mengingat sekaligus menjernihkan masa lalunya yang getir. Dia seperti ingin mengingat sosok ibundanya, sekaligus berhasrat melampaui masa-masa pahit itu dengan indah, tak terjerat oleh duka lara tanpa henti.

Pengalaman yang serupa dengan Magritte ini—meski tidak sama ekstremnya—mungkin juga terjadi pada banyak orang, termasuk seniman di Indonesia. Tak ada salahnya pengalaman sepahit itu bisa menginspirasi untuk melahirkan karya-karya bagus dan menarik yang menjadi bagian penting dari perjalanan kreatif seniman. Semua bagian dari kehidupan ini bisa dipandang (dan dibuat) dari perspektif artistik. Ya, kan? ***