Friday, July 28, 2017

Diplomasi Rasa


RABU, 10 November 2010, dalam kemegahan auditorium Universitas Indonesia, Depok, Jawa Barat, di hadapan sekitar 6.000 undangan, Presiden Amerika Serikat Barack Hussein Obama berteriak lantang: “Baksoooo…! Satteeee…!!!” Gedung audorium UI langsung bergemuruh oleh tertawa riuh orang-orang di dalamnya. Antara lucu dan surprised. Betapa tidak? Seorang pemimpin negara adidaya dunia yang terbiasa berkomunikasi dengan bahasa Inggris dan membincangkan probem serius tingkat dunia, tiba-tiba berteriak lantang, dan “hanya” meneriakkan nama makanan lokal Indonesia.

Teriakan Obama tersebut ternyata tak sekadar bergema di dalam ruang auditorium UI. Dengan lekas, kata-kata “bakso” dan “sate” bergema dalam ruang-ruang yang lebih meluas, di seluruh pojok negeri Nusantara, bahkan mendunia. Sebagai sebuah subyek isu, bakso dan sate dengan cepat menjadi viral. Teriakan presiden kulit hitam pertama AS itu juga dengan serta-merta menggugah dengan kuat kesadaran “nasionalisme” sekian banyak orang Indonesia lewat isu makanan atau kuliner.

Tak begitu lama dari kesempatan itu, tanggal 7 September 2011, situs berita berlevel dunia CNN, persisnya CNNGo mengumumkan hasil surveinya yang berkesimpulan bahwa makanan bernama rendang dan nasi goreng dari Indonesia dinyatakan sebagai makanan terlezat di dunia (tahun itu). "Setelah menjaring lebih dari 35.000 suara, makanan paling enak di dunia bukan Massaman curry yang kami sarankan, tapi hidangan daging berbumbu yang pedas dari Sumatera Barat," demikian hasil survei yang dimuat situs CNN.

Ya, memang kepopuleran rendang, yang ada di urutan pertama, disusul nasi goreng mengalahkan Massaman curry asal Thailand yang sebelumnya ditasbihkan jadi makanan paling enak di muka planet bumi. Dalam daftar 50 Makanan Terlezat versi CNN tahun 2011 itu ada makanan Indonesia lainnya, yakni sate yang ada di urutan 14. Kuliner Indonesia Berjaya di antara makanan lain dari seluruh dunia, seperti sushi Jepang yang berada di urutan 3, dim sum Hong Kong (7), bebek peking Cina (9), es krim Amerika Serikat (15), lasagna Italia (11), kebab Turki (16), croissant Perancis (18), bulgogi Korea (23), tacos Meksiko (25), seafood paella Spanyol (33), masala dosa India (39), goi cuon Vietnam (50), dan lainnya.

Dua fakta itu memberi dampak yang cukup luar biasa bagi popularitas Indonesia, khususnya di dunia kuliner di mata dunia. Saya, kita tidak tahu persis apakah dua kenyataan tersebut berbau politis karena diduga menjadi disain besar yang disusun oleh Amerika Serikat yang ingin menghangatkan hubungan dengan Indonesia agar tidak “berpindah ke lain hati” pada China, atau dugaan politis lainnya. Tapi setidaknya publik mendapatkan dampak ikutan atas kenyataan tersebut. Sejak itu, banyak (atau bahkan mungkin hampir 100%) hotel berbintang 3, 4, hingga 5 di Indonesia nyaris selalu menghidangkan nasi goreng di samping nasi putih pada daftar menu sarapan yang menjadi fasilitas mereka. Sementara itu, menurut cerita seorang teman yang cukup lama menetap di Eropa bercerita bahwa saat ini di beberapa negara Eropa barat, terutama Belanda, banyak rumah makan Asia—yang bermenu utama Chinnese food, Thai food, atau Vietnamese food—menyediakan makanan bernama nasi goreng di antara daftar menunya. Dugaan targetnya jelas, bahwa itu ingin menyasar konsumen dari Indonesia atau masyarakat kosmopolitan lainnya yang ingin merasakan menu yang mendunia: nasi goreng.

Mendunianya dengan segera kuliner Indonesia pada momen ini, pada sisi lain, sekaligus menerbitkan sebuah keprihatinan. Mengapa rendang, sate, nasi goring dan sekian banyak nama makanan Indonesia justru diglobalkan oleh orang atau pihak asing, dan bukan oleh manusia-manusia Indonesia sendiri? Kenapa Thailand, Jepang, India, bahkan Vietnam bisa lebih dulu mampu menginternasionalkan kuliner mereka? Apakah keragaman dan kekayaan kosa kuliner Nusantara atau Indonesia, gagal diinternasionalkan dengan masif karena kita tidak mampu menguasai jejaring kerja (networking) dunia lewat political will negara? Apakah kita memang tak mampu memberdayakan aspek kultural (termasuk di dalamnya dunia kuliner) sebagai bagian penting dari diplomasi politik atau diplomasi budaya itu sendiri?

Saya tidak tahu persis perkara tersebut. Mungkin teramat kompleks. Atau rumit bahkan ruwet. Meski demikian, kalau kita menelisik jelujur kronologi sejarah, ada upaya yang telah dilakukan oleh negara atau pemerintah dalam mengupayakan perkara kuliner sebagai garda penting dalam menerakan perkara identitas bangsa/nasional, atau problem kuliner sebagai siasat untuk memberikan alternatif “perlawanan” terhadap kekuatan “luar”.

Sejarah perihal ini bisa dilihat dari upaya Bung Karno, presiden pertama RI yang berinisiatif untuk menerbitkan sebuah buku tentang aneka macam makanan Nusantara. Tajuknya: “Buku Masakan Indonesia Mustika Rasa: Resep-resep Masakan Indonesia dari Sabang sampai Merauke”. Baru terbit tahun 1967, setahun (lebih) setelah Soekarno jatuh. Buku yang disusun cukup lama tersebut berisi kurang lebih 1.600 resep masakan, 900 resep di antaranya menggunakan penekanan asal daerah. Menurut Fadly Rahman dalam buku “Jejak rasa Nusantara: Sejarah Makanan Indonesia” (2016) resep-resep tersebut sudah sejak lama popular seperti dari Jawa, Sumatera, Sulawesi, dan Maluku, tetapi tidak sedikit resep baru—entah baru dikenal tapi sudah lama ada atau baru dikenal karena baru ditemukan. Dengan segala kelebihan dan kelemahannya, buku tersebut relatif bisa menjadi tonggak penting betapa Negara telah peduli untuk mengelola makanan sebagai salah satu kosa budaya yang mampu diberdayakan sebagai bagian dari identitas dan kekuatan sumber daya Indonesia.

Setidaknya itu menjadi jawaban atas keprihatinan Soekarno tentang dunia makanan Indonesia yang justru direndahkan oleh orang Indonesia sendiri akibat mentalitas anak jajahan. Ini tecermin dari ujaran Soekarno yang dicatat oleh Cindy Adams dalam “Bung Karno: Penjambung Lidah Rakjat Indonesia” (1966): “Sampai sekarang orang Indonesia masih terbawa-bawa oleh sifat rendah diri, jang masih sadja mereka pegang teguh setjara tidak sadar. Hal ini menjebabkan kemarahanku baru-baru ini. Wanita-wanita dari kabinetku selalu menjediakan djualan makanan Eropa. ‘Kita mempunjai panganan enak kepunjaan kita sendiri,’ kataku dengan marah. ‘Mengapa tidak itu sadja dihidangkan?’ ‘Ma’af, Pak,’ kata mereka dengan penjesalan,’ Tentu bikin malu kita sadja. Kami rasa orang Barat memandang rendah pada makanan kita jang melarat.’ Ini adalah suatu pemantulan-kembali daripada djaman dimana Belanda masih berkuasa. Itulah perasan rendah diri kami jang telah berabad-abad umurnja kembali memperlihatkan diri. Edjekan jang terus-menerus dipompakan oleh pemerintah Hindia Belanda tentang ketidakmampuan kami, menjebabkan kami jakin akan hal tersebut.” 

Mata Jendela edisi kali ini berupaya membuka kembali ingatan kita tentang dunia makanan atau kuliner yang penuh keragaman. Sudah pasti ini hanya secuil narasi tentang kekuatan salah satu budaya kita yang bisa dikembangkan, dan diberdayakan lebih lanjut menjadi sebaris “kekuatan nasional” yang bisa diandalkan. Kenapa kita tidak terus mengupayakannya? Kenapa harus Obama dan CNN yang memancing kekuatan diplomasi olah cita rasa kita di panggung dunia? *** 

Kuss Indarto, pemimpin redaksi Mata Jendela.

(Catatan ini adalah editorial untuk majalah Mata Jendela, edisi 2/2017)


Wednesday, June 14, 2017

Embuh. Entah.

Kabar tentang tutupnya majalah remaja Hai, bagi saya, cukup mengharukan—meski kemudian harus dipupus dengan permakluman bahwa fakta ini adalah bagian kecil dari keniscayaan. Zaman telah bergerak, gadget telah menyita begitu banyak prosentase perhatian sekian miliar manusia planet tua ini. Dan buku, majalah, Koran serta sekian banyak bahan bacaan fisik yang tercetak di atas kertas telah terasa lampau, dan lalu secara pelahan ditinggalkan.

Majalah Hai, meski di bawah grup penerbitan terbesar di Indonesia, yakni Kelompok Kompas Gramedia, toh tak bisa beringsut menghindari vonis kematiannya. Tiras yang menurun tajam seiring dengan bergesernya pola konsumsi informasi masyarakat dari tradisi cetak menuju tradisi digital, semakin tak terelakkan.

Realitas ini menambah deret panjang terempasnya media cetak oleh gelombang tsunami internet dan media digital yang tak bisa dielakkan. Di internal Gramedia sendiri naga-naganya ada penyusutan daya serap konsumen yang makin terasa. Saya jumput secuil data dari Gramedia sebagai jaringan toko buku terbesar di Indonesia itu mencatat bahwa tiras atau jumlah satuan buku yang tercetak dan terdistribusi lewat Gramedia pada tahun 2012 sebesar 33.565.472 eksemplar, tahun 2013 turun menjadi 33.202.154 eksemplar, serta tahun 2014 turun lagi menjadi 29.883.822 eksemplar. Tahun-tahun terakhir ini diduga kembali turun, meski saya belum melacak datanya. Hanya ada secuil fakta yang mungkin cukup representatif menggambarkan sebuah realitas: toko buku Gramedia di salah satu mal terbesar di Yogyakarta, yakni Ambarukmo Plaza, tergerus kaplingnya. Yang sebelumnya begitu luas, sekarang berkurang sekitar 25%-nya. Saya hanya menduga-duga: toko buku dan penerbtan sebesar Gramedia saja mulai tergerus pendapatan dan anak-anaknya, apalagi penerbitan yang skalanya lebih kecil?

Tapi, uniknya, di seberang fakta yang disodorkan dari dan tentang Gramedia, saya melihat data yang lain, yang tak kalah menariknya. Perpusnas (Perpustakaan Nasional), lewat parameter yang bisa diacu dari ISBN yang terdaftar di lembaga ini, mencatat bahwa ada buku baru mencapai angka 36.624 judul pada tahun 2013, dan meningkat tajam pada tahun 2014 menjadi 44.327 judul. Dari sisi kuantitas judul buku, ini jauh melampaui angka-angka yang tak terbayangkan sebelumnya. Beberapa sumber pernah merilis bahwa jumlah judul buku yang terbit pada tahun-tahun sebelum pemerintahan Soeharto jatuh paling banyak berkisar antara 2.000 hingga 3.000 judul buku pertahun.

Lompatan angka-angka itu tentu saja cukup membanggakan, meski kalau kemudian kita melongok keluar, kebanggaan itu belum bisa membuat kita menepuk dada, karena pada kurun waktu yang kurang lebih sama, India telah mampu menerbitkan sekitar 60.000 judul, dan negeri panda China dengan 140.000 judul buku. Itu baru dengan sesama negara Asia.

Lalu, kalau kembali pada soal kasus matinya majalah Hai, tampaknya memang kita tak bisa menampik jalannya sejarah. Dia seperti jarum jam yang tak bisa dihentikan. Majalah mingguan berskala dunia, Newsweek pun telah beberapa tahun lalu menjadi korban. Apalagi “hanya” majalah Hai yang berskala nasional dan tingkat spesifikasinya masih dianggap mengambang—sehingga masyarakat pembacanya mungkin kurang memiliki fanatisme yang kuat. Akhirnya ya, apa boleh buat, perpindahan konten media menuju format digital menjadi salah satu kemungkinan untuk tetap survive, meski karakternya ada perubahan.

Itu juga berlaku pada barang cetakan yang lain, yakni buku. Kini sudah ada tantangan yang lain yakni e-book yang bisa relatif lebih lekas datang ke pembaca. Saya bisa mendapatkan buku seni rupa yang terbit di Eropa atau Amerika setahun terakhir. Baru! Kinyis-kinyis! Saya tinggal nge-download dan lalu nge-print (seiring usia, mata tak kuat melototi layar komputer terlalu lama, haha), jadilah buku yang siap diserap ilmunya dari situ.

Itu alternatif yang paling efektif dan murah. Dibanding misalnya membeli secara online, atau titip ke saudara atau teman yang tengah ke mancanegara, pasti lebih mahal. Atau beli di beberapa toko buku di Singapura yang begitu updated ketimbang semua toko buku apapun di Indonesia. (Heran, negeri mungil tapi toko-toko bukunya lebih lengkap menyediakan buku-buku seni rupa ketimbang di negeri sebesar Indonesia).

Tapi, ah, ya sudahlaaahhh…

Toh dua tahun terakhir ini Indonesia (eh, Jakarta dan Surabaya) sudah dijadikan lahan untuk pameran besar buku Big Bad Wolf yang menyediakan jutaan buku dalam sekali pameran, meski “konon” itu sekadar limpahan setelah dipamerkan di Malaysia. Ya sudahlaaahhh… toh membaca buku bisa dianggap kudet ketimbang membaca linimasa medsos yang selalu riuh dan menjadi tren perbincangan, dari warung angkringan, dalam pembukaan pameran seni rupa, hingga arisan keluarga. Membaca itu, membaca itu, membaca itu, ah, tidur aja lagi deh. Micek wae, daripada perut semangkin lapar. Hahaha! Zzzzzz… ***

Wednesday, May 31, 2017

Lanyah


LANYAH. Orang Jawa punya istilah “lanyah” yang kurang lebih berarti terbiasa, “fasih”, atau “luwes” dalam melakukan sebuah aktivitas. Istilah tersebut mengindikasikan pelakunya telah mempraktikkannya dengan rutin, lama, dan terus-menerus. Misalnya, “Bayine wis lanyah le mlaku” (Si bayi sudah lancar berjalan), “Mbak Ponirah lanyah tangane olehe mbathik” (Mbak Ponirah sudah terampil tangannya dalam membuat batik), dan seterusnya. Dua kalimat contoh itu mengindikasikan bahwa si bayi telah lebih dulu jatuh bangun berlatih berjalan dan diduga baru di bulan kesebelas lancar berjalan. Demikian pula, Mbak Ponirah mungkin telah berlatih membatik sejak usia dini dan baru dikatakan fasih atau terampil setelah masuk di tahun ketiga, bahkan lebih.

Pendeknya, semua aktivitas butuh upaya, latihan, mempraktikkan langsung secara kontinyu, berkesinambungan, dan terus-menerus sehingga bisa mengalami "trial and error" untuk kemudian mencoba menghindari atau meminimalisasi titik "error"-nya agar pekerjaan lebih optimal. Seorang pelukis bila tidak terus melukis secara "istiqomah", terlalu banyak jeda, maka akan kehilangan kefasihannya dalam mengguratkan garis atau sekadar mencampurkan warna yang tepat. Seorang montir yang libur berpraktik hingga setahun, niscaya akan terkurangi kecekatannya tatkala kemudian menghadapi sebuah mesin yang lama tidak ditanganinya. Belum lagi kebaruan sistem dalam mesin yang menjadi tantangan baru mesti harus dipelajari rentang waktu yang relatif lama.

Apakah (calon) pemimpin juga membutuhkan ke-lanyah-an untuk memimpin rakyatnya? Pasti. Pemimpin juga perlu magang dalam situasi yang kurang lebih sepadan, meski bobot, gradasi, level, dan kompleksitas permasalahannya berbeda. Karakter lembaga yang dipimpinnya pun niscaya akan berbeda, dan ini berpotensi membentuk karakter pemimpinnya. Lembaga militer, lembaga bisnis, lembaga sosial, pun lembaga negara atau lembaga pemerintahan, sudah pasti memiliki titik diferensiasi yang variatif satu sama lain.

Mereka yang biasa menjadi pimpinan di lembaga militer level bawah tentu tak akan butuh banyak waktu ketika berpindah di level yang lebih tinggi di jalur militer. Demikian pula, orang yang telah bertahun-tahun sukses menjadi pimpinan lembaga pemerintahan di level menengah, tentu memerlukan proses adaptasi yang bisa relatif lama ketika harus berpindah memimpin lembaga bisnis yang levelnya setara. Akhirnya, sekarang, Anda pun bisa bernalar ketika melihat fakta seperti ini: seorang jenderal militer yang pernah membawahi puluhan ribu tentara dan telah libur memimpin selama 16 tahun, sudah mencoba berbisnis dengan banyak persoalan, kini, tiba-tiba berkehendak menjadi pemimpin bagi ratusan juta warga sipil. Butuh berapa tahun dari 5 tahun masa jabatannya itu untuk beradaptasi dengan rakyat dan sistem kenegaraan yang telah terbangun puluhan tahun? Eksperimentasi yang fatalistik seperti apa yang mungkin terjadi dengan pemimpin yang selama ini hanya meneriakkan gagasan namun belum pernah membenamkannya dalam proyek miniatur apapun dalam skala apapun? Maaf, saya tidak ngeri dengan tentara. Saya hanya ngeri dengan pemimpi (tanpa “n”) kosong yang diberi kesempatan. Saya ingin pemimpin yang “lanyah”!
Wirobrajan, YK, ujung Mei 2014.

Friday, May 19, 2017

Potret Sang Kekasih dari Lensa Nabila



Oleh Kuss Indarto

PULUHAN lukisan potret diri para tokoh ulama Nusantara ini, khususnya ulama (kyai) dari Nahdlatul Ulama (NU), kiranya tidak bisa dipandang secara sederhana sebagai rentetan wajah-wajah manusia semata. Di balik kesederhanaan visual yang dikerjakan sekian lama oleh Nabila Dewi Gayatri ini, memuat sekian banyak pesan yang bisa dieksplorasi.

Pertama, secara personal, pameran tunggal ini merupakan “proyek” pelunasan janji sang seniman terhadap dirinya sendiri, juga terhadap mendiang ayahnya, yang pernah dilontarkan bertahun-tahun lalu sebelum sang ayah meninggal dunia. Kedua, pameran ini seperti menjadi medan pengingat atas kekayaan “sumber daya ulama atau kyai” Nusantara yang pernah ada dan terus bersambung garis kesejarahannya hingga kini. Para kyai yang menjadi subyek model karya Nabila ini berasal dari berbagai kawasan, dan merupakan sosok yang banyak ditokohkan oleh waktu, tempat, massa serta momentum dimana mereka berada. Ini merupakan hal penting karena masing-masing tokoh ulama memiliki garis ketokohan berikut kemungkinan kebintangannya yang khas satu sama lain. Ketiga, potret-potret ini menjadi pengilas-balik bagi konsep tentang nilai kenusantaraan atau keindonesiaan yang telah mulai bermasalah dewasa ini. Para tokoh tersebut memiliki peran, sepak terjang, dan sumbangsih penting bagi rajutan nilai-nilai kebangsaan yang berangkat dari lokal masing-masing.

Pesan Abah

Nabila Dewi Gayatri, seniman yang tengah berpameran ini, memerlukan waktu yang relatif cukup lama untuk mewujudkan obsesi berpameran tunggal dengan materi seperti ini. Lebih mendasar dari hal itu, pilihannya untuk menekuni dunia seni rupa juga tidaklah dilalui dengan mulus dan sederhana. Masa kecil dan remajanya banyak dilewati di jantung kota Surabaya, persisnya di bilangan Jalan Bengawan, dimana sang ibu dan abah (sebutan karibnya terhadap ayah), menetap. Dengan menempati areal tanah seluas sekitar 3.000 meter persegi, lingkungan rumah orang tuanya itu selalu riuh menjadi jujugan (tempat berkunjung) bagi sekian banyak orang tiap hari. Para tamu itu beragam. Mulai dari para petinggi pemerintahan dan militer dari Surabaya dan Jawa Timur sendiri, hingga mereka para tokoh yang datang dari kota lain, bahkan ibukota Negara, Jakarta. Ada pula orang-orang sesama saudagar, para kyai dan ulama, hingga para nahdliyin atau umat yang berkunjung untuk menjalin tali silaturahim, meminta doa restu, hingga ada sebagian yang, maaf, memohon santunan. Semuanya berbaur dalam satu ruang dan waktu yang nyaris berbarengan, dan berlangsung hingga bertahun-tahun.

Nabila masih mengingat betul bagaimana kesibukan abah-nya menerima sekian banyak tamu tiap hari itu juga berimbas pada seluruh aktivitas di sekujur lingkungan rumahnya. Di ruang tamu, orang-orang dilihatnya hilir mudik begantian bertamu. Sementara di belakang, persisnya di dapur, aktivitas domestik di sana tidak kalah sibuk dan repotnya. Hampir tiap hari, seingat Nabila, para asisten rumah tangga yang mengabdi di keluarganya harus menanak nasi hingga puluhan kilogram demi memenuhi kewajibannya menjamu tetamu yang datang dari berbagai daerah. Bisa dibayangkan berapa pengeluaran yang mesti digelontorkan dari dompet tuan dan nyonya rumah demi melihat realitas tersebut tiap hari.

Namun, sebaliknya, Nabila juga merasakan ada kekuatan yang tak bisa dikatakan dengan detail, dan tak bisa dilihat dengan mata telanjang ala awam, yang senantiasa terjadi dalam kehidupan di rumah orang tuanya tersebut. Apa lagi ketika itu dia masih berada di masa kanak-kanak atau mulai beranjak dewasa, sehingga belum cukup peduli dengan detail yang terjadi. Dia hanya masih bisa mengingat betapa ketika mulai duduk di bangku SMA, ketika dia hendak bepergian dengan cara yang cuek karena tanpa banyak perencanaan matang, selalu saja terfasilitasi dengan sangat baik. Dengan mudah, tergesa-gesa bahkan sembari berlari, Nabila tak jarang pamitan untuk pergi keluar bersama teman-temannya. Dalam ketergesaan itu, tangannya bisa mengambil bergepok-gepok uang yang bertebar di banyak kamar yang ada dalam rumah besar orang tuanya.

Secuil cerita itu memberi sedikit kilasan gambaran betapa keberadaan orang tua Nabila memiliki strata yang berbeda dengan kebanyakan orang di lingkungannya. Ada aura ketokohan yang relatif mumpuni yang membuat sang abah sangat dihormati oleh banyak orang dari berbagai kalangan. Aura ketokohan itu bisa diduga dibangun dari banyak aspek. Mulai dari keilmuannya (dalam bidang agama) yang membuatnya terasa linuwih (punya banyak kelebihan dibanding orang lain) sehingga orang lain perlu mengerumuninya untuk menimba pengetahuan dan daya lebih tersebut. Ketokohan itu juga muncul karena kesuksesannya sebagai saudagar, apalagi ketika kesuksesannya itu diraihnya dari bawah, sehingga proses merangkak untuk berusaha hingga merengkuh kesuksesannya tersebut pantas untuk diapresiasi dan ditimba oleh orang lain. Pada titik ini pun secara personal dia mengalami mobilisasi vertikal, yakni pergerakan sosial ekonomi dari bawah ke atas yang berimbas pada banyaknya pihak yang kemudian berkerumun. Ini gejala yang sangat wajar bahwa “semut akan selalu merubung gula”.

Posisi dan keberadaan abah atau orang tua Nabila inilah yang pada satu titik memberi “beban” persoalan ketika sang anak memiliki pilihan hidup dan profesi yang berjarak, atau bahkan cukup menjauh dari garis profesi dan pilihan hidup orang tuanya. Ya, inilah yang terjadi. Nabila muda melanjutkan kuliah di Jurusan Arsitektur di ITS (Institut Teknologi Surabaya) selepas lulus SMA. Bertahun-tahun setelah lulus menjadi calon arsitek, dia melanjutkan kuliah di Al Azhar, sebuah perguruan tingi prestisius di Mesir, untuk memperdalam ilmu yang kurang lebih diamini oleh orang tuanya. Sebagai anak tunggal, dan kebetulan berjenis kelamin perempuan, pundak Nabila seperti harus siap menampung “beban” yang diharapkan tidak saja dari orang tuanya, namun juga masyarakat di sekitarnya. Setidaknya, eksistensi si anak dengan sigap (dan kadang kejam) akan diperbandingkan oleh masyarakat dengan eksistensi orang tuanya. Apa boleh buat, itulah yang acap terjadi.

Dua disiplin ilmu yang telah dikenyamnya di bangku pendidikan tinggi formal di Surabaya dan di Mesir, ternyata tidak mempan untuk membendung kekuatan alam bawah sadar Nabila. Dia ingin berkarya seni, terutama seni rupa, dan ingin menjadi seniman! Ini, sungguh, sebuah pilihan yang tak sepenuhnya menarik perhatian dan apresiasi dari orang tuanya, terutama sang abah. Perlu kurun waktu yang tidak sebentar untuk meyakinkan kepada orang tuanya bahwa pilihan hidup dan pilihan profesi sebagai seniman itu layak untuk diperjuangkan dan dipertahankannya—karena terus menguat menyeruak dari dalam diri. Nabila sadar betul dengan dasar “penolakan” orang tuanya untuk menjadi seniman. Pemikiran umum dan mainstream relatif sudah sepaham bahwa pilihan hidup menjadi seniman atau bergelut di dunia seni itu adalah pilihan yang sulit, berat, karena akan berhimpitan dengan problem sosial kemasyarakatan yang sudah bisa ditebak: hidup tidak teratur, awut-awutan, penghasilan pas-pasan, dan segala cap yang cenderung negatif yang teralnjur melekat dalam benak masyarakat—juga pada orang tuanya.

Pada tahun-tahun terakhir sebelum berpulang, sang abah mulai mencoba menerima dan mengapresiasi pilihan hidup dan profesi anak tunggalnya ini. Menjadi seniman, hidup dengan, bersama, dan dari dunia seni bolehlah menjadi pilihan bagi Nabila. Namun, abah memiliki satu keinginan yang ingin sang anak kelak bisa mewujudkannya, yakni melukis wajah para kyai atau ulama Nusantara, atau khususnya yang berkaitan dengan dunia NU (Nahdlatul Ulama). Pameran ini, dengan menampilkan deretan puluhan wajah para kiai atau ulama Nusantara, adalah “proyek pelunasan utang” dari Nabila terhadap sang abah—yang baru bisa terwujud setelah bertahun-tahun proses harus dilewati. ***

Catatan ini dimuat dalam katalog pameran tunggal "Sang Kekasih" karya Nabila Dewi Gayatri. Pameran berlangsung di Grand Sahid Jaya Hotel, Jakarta, 8-14 Mei 2017.

Friday, April 28, 2017

Ironi Patung Yesus?



Oleh Kuss Indarto 
Sekitar 10 hari lalu, seorang teman seniman berbincang padaku tentang sebuah rencana proyek besar yang ditawarkan kepadanya. Dia mengaku pusing, tak bisa memikirkan rencana yang jauh di luar kemampuannya itu. Dan dia merasa itu bukan kapasitasnya. Pagi ini, rencana proyek besar itu ternyata mulai berseliweran di beberapa situs berita: Pemerintah Provinsi Papua berencana membangun patung Yesus dengan alokasi dana Rp 300 miliar sampai Rp 500 miliar!

 Patung Yesus itu dirancang dibangun di Puncak Gunung Swajah, Kampung Kayu Batu, Distrik Jayapura Utara, Kota Jayapura. Kalau jadi, patung tersebut tingginya sekitar 50-67 meter dan landasannya sekitar 100 meter. Jadi, total 150-167 meter. Sebagai perbandingan, tinggi patung Yesus di Brasil hanya 30 meter, dan landasannya 8 meter, total 38 meter. Sementara patung di Tana Toraja tingginya 23 meter dan landasannya 17 meter, keseluruhan 40 meter. Di Dili, Timor Leste, ada patung Kristus Raja atau Cristo Rei pada ujung bukit di Tanjung Fatucima dengan ketinggian 27 meter.

Semua patung di atas berada di puncak pegunungan, “menyendiri”, sehingga jauh lebih menonjol ketimbang patung yang berada di dataran rendah. Misalnya patung Liberty di muara sungai Hudson, New York setinggi 93 meter, di tugu Monas di Jakarta yang berketinggian 132 meter, menara Eiffel di Paris yang menjulang 324 meter (Monas dan Eiffel tugu dan menara ya, bukan patung. Sebagai pembanding sisi ketinggian saja). Atau bandingkan dengan 3 patung Buddha tertinggi di dunia yang semua dirancang berada di lahan tanah lapang yang luas, mungkin ratusan hektar, sehingga tempak menonjol posisinya. Ketiga patung Buddha yang paling menjulang di dunia itu berada di Ushiku Daibutsu, Japan, dengan ketinggian 120 meter, Spring Temple Buddha, di propinsi Henan, China (128 meter), dan patung Buddha di Maitreya Buddha, Uttar Pradesh, India (152 meter).

Rencana pembangunan patung Yesus itu pasti akan ribut hanya karena soal besaran dananya saja. Apalagi kalau berkembang hingga soal kekhawatiran pada kemungkinan jadi lahan korupsi dan semacamnya. Apalagi kalau disandingkan dengan isu kemiskinan yang ada di Papua yang pasti akan selalu dipersandingkan. Dan polemik yang kontraproduktif seperti itu kemungkinan akan berkembang.

Dana sebesar Rp 300-500 miliar untuk sebuah karya seni patung bisa jadi sangat murah. Apalagi kalau melihat besaran ukuran, volume, lalu fakta bahwa karya itu berada di pegunungan di Papua, tentu berdampak pada tingkat kesulitan pembuatan, hingga kompleksitas pengiriman dan pemasangan karya yang tidak sederhana. Dana sebesar itu bisa jadi sangat “ngepres”, pas-pasan untuk mengimbangi ambisi besar pemprov Papua—propinsi kaya karena sumber daya alamnya ini.

Dan poin penting yang harus ditekankan di sini adalah bahwa karya seni itu memang tidak murah, tak selayaknya selalu dianggap sebagai kebutuhan “di ujung akhir kehidupan” sehingga seolah tidak terlalu penting, sehingga selalu mempersoalkan anggaran sebagai sumber persoalan. Anggapan seperti ini yang perlu diubah, dan selayaknya diberi perspektif baru bahwa karya seni layak senantiasa dihadirkan sebagai saksi atas tiap denyut perkembangan negeri ini.

Kalau besaran dana masih menjadi persoalan, saya kira kita masih terbelakang setengah abad lebih dibanding pemikiran dan hal yang telah dilakukan Bung Karno yang tahun 1960-an. Si Bung sudah mengisi beberapa sudut Jakarta dengan berbagai karya seni dan bangunan penting serta monumental hingga kini. Sebut misalnya dengan Monas (Monumen Nasional) yang tonggal awal pembangunannya dilakukan oleh Bung Karno pada 17 Agustus 1961. Berapa biaya pembangunan Monas? Menurut beberapa sumber: Rp 7 miliar. Untuk ukuran waktu itu, sungguh, sebuah kenekatan luar biasa dari Si Bung. (Kalau dikurskan dengan rupiah sekarang, konon setara denga Rp 42 triliun. Wallahu’alam. Atau bandingkan juga dengan proyek Bung Karno yang lain, yakni proyek Tugu Dirgantara atau yang lebih popular sebagai Tugu Pancoran yang masih sangat ikonik hingga sekarang. Karya pematung Yogyakarta almarhum Edhie Sunarso tersebut, tahun 1964, menghabiskan dana Rp 12 juta. Waktu itu, harga seliter bensin premium Rp 0,5,- (setengah rupiah). Uniknya, Sukarno harus melunasi pembuatan patung itu dengan dana pribadi, antara lain menjual mobil VW kodok seharga Rp 1 juta.

Rencana pemprov Papua dengan rencana patung Yesus raksasa itu barangkali sebuah ambisi yang tak ada salahnya untuk realisasi, namun juga—bagi saya—sebagai sebuah sindiran keras kepada pemerintah pusat yang tidak kunjung serius mengurus persoalan seni budaya (dan agama). Dari hal konsep, regulasi, hingga derivasi atas keduanya di tingkat praksis.

Kita belum punya Museum Nasional yang membanggakan tampilan dan muatannya. Masuk ke museum itu memang murah, hanya sebesar parker mobil tiketnya, namun disuguhi artifak luar biasa dengan displai yang “kemuruyuk”, penuh sesak, penerangan yang minimal di sana-sini, karena tak ada pembenahan yang serius selama bertahun-tahun. Kita belum punya Galeri Nasional yang membuat kita menaruh rasa hormat. Bertahun-tahun rencana pembangunan gedung baru yang “hanya” sekitar Rp 500 miliar terus tertunda bahkan terbengkalai tidak jelas juntrungannya. Kita kalah dengan galeri nasional India yang sama-sama Negara berkembang. Apalagi bila dibandingkan dengan galeri nasional Singapura atau China, malu teramat sangatlah kita karena bagai bumi dan langit perbedaannya. Tak perlu deh untuk dibandingkan dengan Negara-negara Eropa dan Amerika.

Rencana patung Yesus di Papua itu memang sebuah ironi. Apalagi kalau masih ribut soal dana. Ah, jadi ingat ketika seorang kolektor seni asal Indonesia, Budi Raharjo Tek, tahun 2010 nge-bid dan membeli sebuah (ya, sebuah) lukisan karya Zhang Xiaogang bertajuk Chapter of a New Century-Birth of the People’s Republic of China II (1992) dibalai lelang Sotheby’s, Hong Kong. Dia nge-bid dengan harga tertinggi: HK$ 52,18 juta atau sekitar Rp 56 miliar. Seorang warga Indonesia pun telah keranjingan karya seni hingga menghabiskan dana pribadi yang luar biasa besar. Mungkin perbandingan itu terasa kurang “nyambung”, namun sungguh ironis kalau Negara masih pelit untuk mengeluarkan dana demi karya seni seperti yang diambisikan oleh pemprov Papua.

Aduh, jadi ingat  juga pada seniman Bandung Nyoman Nuarta yang masih belum sukses mewujudkan megaproyek patung GWK (Garuda Wisnu Kencana) sesuai rencana. Patung yang rencananya berdiri setinggi 120 meter yang tersusun dari sekitar 4.000 ton logam itu sampai sekarang masih terberai di perbukitan Tanjung Nusa Dua, Badung, Bali. Megaproyek seharga Rp 450 miliar itu terbengkalai setelah pemerintah Soeharto jatuh, dan belum ada campur tangan Negara yang sangat serius untuk ikut menuntaskannya.

Patung Yesus di bumi Papua, semoga jadi ambisi yang bisa direalisasi. Biarlah teman seniman saya tadi pusing. Toh rencana menarik ini juga masih di sini, negeri yang kaya seniman luar biasa! Ayo, tak ada yang tak mungkin! ***

Saturday, April 22, 2017

Seratan Luru Raos



Lukisan "Bring the Spirit" karya Astuti Kusumo, 200 x 300 cm2016

"Seri Merapi IV", 50 x 60 cm, ail on canvas, 2017
 
[perca-perca pembacaan atas gagasan dan karya Astuti Kusumo] 

Oleh Kuss Indarto 

MENYIMAK pameran tunggal pertama Astuti Kusumo ini adalah menyimak, setidaknya, tiga hal penting. Pertama, perihal posisinya sebagai seniman yang menghadirkan diri mencari eksistensi dalam pusaran dinamika seni rupa Yogyakarta dari jalur otodidak. Kedua, problem perempuan yang dibawa oleh seniman ini, dari perkara personal yang melekat dalam dirinya dan perkara substansial yang menempel pada sebagian karya-karya yang dipresentasikannya kali ini. Ketiga, ihwal “perburuan rasa” yang telah dan terus dilakukannya sebagai seorang seniman—sebagaimana tema pameran ini, “Seratan Luru Raos”, catatan perihal perburuan rasa.

Mengenai hal pertama, yakni kenyataan bahwa Astuti berangkat sebagai seniman dari jalur otodidak, saya tidak akan memberi tekanan lebih jauh pada kerangka pandang oposisi biner (binary opposition) antara otodidak dan akademik. Realitas yang ada memberi gambaran bahwa keduanya hadir saling melengkapi satu sama lain. Bahwa dewasa ini, khususnya di Yogyakarta, peran dan sepak terjang para seniman dari jalur akademik sangatlah dominan, tentu tak bisa dipungkiri. Seniman akademik atau seniman yang terdidik dari lembaga pendidikan formal seni rupa ini, di Yogyakarta, cikal-bakalnya telah terbentuk lama, yakni berawal ketika Presiden pertama RI, Sukarno, mendirikan ASRI (Akademi Seni Rupa Indonesia) pada 17 Januari 1950 atau 67 tahun lalu (di kemudian hari menjadi Fakultas Seni Rupa, ISI Yogyakarta—setelah mendirikan Balai Pendidikan Universiter Guru Gambar pada 1 Agustus 1947, yang kelak menjadi Fakultas Seni Rupa dan Desain, ITB.

Kehadiran lembaga pendidikan tinggi formal seni rupa yang kemudian disusul oleh lembaga pendidikan menengah atas formal seni rupa, yakni SSRI (Sekolah Seni Rupa Indonesia) mulai tahun April 1963, secara evolutif—setelah berlangsung selama puluhan tahun—telah mengubah peta perkembangan seni rupa di Yogyakarta sendiri, bahkan di Indonesia. Jakarta bukan lagi pusat seni rupa, kecuali sebagai pasar yang cukup riuh, sementara Yogyakarta telah berdiri kokoh sebagai zona kekuatan seni rupa di Indonesia, bahkan Asia Tenggara. Di dalamnya, di Yogyakarta sendiri, konstelasinya juga berubah. Berbeda dengan kondisi pada dasawarsa 1950 dan 1960an yang dinamika perkembangan seni rupanya diwarnai oleh sanggar-sanggar seni, kini diriuh-rendahi oleh para seniman (atau calon seniman) yang terdidik secara akademik oleh lembaga pendidikan formal seni rupa. Mereka, baik yang bergerak secara individual ataupun yang tergabung secara kolektif dalam sebuah wadah komunitas seni, banyak menggerakkan berbagai aktivitas seni rupa di berbagai ruang-ruang seni yang juga banyak berdiri di kawasan ini. Mereka juga berusaha membangun jejaring kerja di level nasional, regional bahkan global. Realitas yang ada mengindikasikan dengan kuat bahwa para perupa akademik ini telah banyak memberi pengaruh besar pada dunia pewacanaan seni rupa. Realitas ini juga merembet pada aspek yang lain, yakni pasar (art market) yang menaruh kepercayaan terhadap perkembangan dan pencapaian para seniman akademik. Gejala ini tidak saja terjadi pada level global, namun juga di ranah lokal. Tidak jarang para pelaku pasar yang turun di lapangan mempertanyakan asal-usul seniman yang tengah berpameran di sebuah ruang seni: “seniman A itu lulusan kampus seni mana?”, dan semacamnya. Kadang terasa tak kurang fair, namun itulah yang sesekali terjadi.

Di celah sepak terjang para perupa akademik yang sangat dinamis di Yogyakarta inilah, tentu tidak mudah bagi para seniman non-akademik atau otodidak untuk berkiprah. Astuti Kusumo termasuk salah satu orang yang berupaya keras untuk menghadirkan diri menembus dominasi itu. Pasti tak akan mudah, dan tidak perlu mematok ekspektasi atas pencapaian yang terlalu tinggi. Jangankan Astuti yang berlatar belakang pendidikan tinggi ekonomi di salah satu universitas swasta di Yogyakarta, bahkan para calon seniman yang berasal dari kampus seni rupa lain di Yogyakarta pun—seperti dari UNY (dulu IKIP Yogyakarta), Universitas Sarjana Wiyata Taman Siswa, dan lainnya—hingga sekarang sulit menembus dominasi anak-anak ISI Yogyakarta.

Pada sisi “kekurangan” inilah yang tengah ditempuh oleh Astuti untuk ditambal dengan pembelajaran diri dari banyak segi. Menjadi pembelajar yang gigih dan tekun dengan mengabaikan usia serta berbagai keterbatasan. Salah satu yang saya ingat adalah ketika suatu hari, 19 Februari 2012, Astuti Kusumo sengaja terbang ke Jakarta hanya untuk menyaksikan pembukaan pameran tunggal seniman Yogyakarta asal Bali, Made Toris Mahendra. Pameran yang bertajuk kuratorial “Hidden Passion” itu berlangsung di Apik Gallery di bilangan Radio Dalam, Jakarta Pusat. Saya tak tahu persis apakah dia betul-betul bertolak ke Jakarta hanya untuk keperluan itu atau ada aktivitas yang lain. Namun, hal yang masih saya ingat betul, Astuti banyak bertanya menggali pengetahuan tentang berbagai hal seputar praktik dan proses penciptakan kepada Toris sebagai seniman yang tengah berpameran, dan kepada saya sebagai kurator pameran tersebut. Kalau melihat rentang waktu antara kedatangan Astuti dalam pameran tunggal Made Toris (tahun 2012) dan pameran tunggalnya yang pertama kali ini (tahun 2017)—yang berjarak 5 tahun—kita bisa membopong kesimpulan masing-masing, antara lain bahwa ada dugaan keseriusan dari Astuti sebagai sang pembelajar yang berusaha mengejar pencapaian.

Dalam jengkal waktu sepanjang itu, dia berusaha keras membangun relasi yang tepat dan efektif untuk menempatkan posisi dirinya dengan baik. Ya, ini masalah eksistensi dan positioning yang tak bisa dielakkan dalam peta seni rupa—sekecil apapun keberadaannya. Maka, pameran tunggalnya kali ini, kiranya, menjadi lompatan penting atas hasil belajar menimba pengetahuan dan ketelatenan selama bertahun-tahun dengan jalur yang dia kukuhi. Dan ini adalah pencapaian yang pantas untuk diapresiasi, meski asupan kritik masih sangat perlu untuk menata perkembangan ke depan.

*** 

Sebagai Perempuan 

Jalur pilihan hidup yang dikukuhi Astuti dengan bergiat di dunia seni rupa ini, sesungguhnya, bukanlah jalur yang pertama dan utama. Namun dia, dunia seni itu, bagai energi atau spirit yang terus melambai-lambai merajuk Astuti secara laten dalam bawah sadarnya. Sebenarnya, sejak kecil, minatnya terhadap dunia seni rupa telah mengemuka. Ketika Astuti mengenyam pendidikan di bangku sekolah dasar (SD), dia sudah mulai menekuninya meski dalam ranah yang berbeda. Tiap kali ada lomba menggambar atau melukis untuk anak-anak, Astuti kecil relatif cukup sering menyabet gelar juara. Sebagai missal, pada lomba menggambar Sirkit Piala Affandi yang diadakan di tiga kota yaitu Jogja, Solo dan Surabaya misalnya, Astuti meraih juara II. Berikutnya, lomba melukis pada rangkaian HUT Dewi Sartika, kembali Astuti meraih jenjang tertinggi, juara I. Tercatat  karyanya pernah mengikuti kompetitisi pameran keliling Asia. Bahkan karyanya pernah membuatnya meraih silver medal dalam rangka Children Art Competition di Shankar India.

Bertahun-tahun lalu, selepas menjadi anak SMA, dia memutuskan untuk kuliah di Fakultas Ekonomi, UPN “Veteran” Yogyakarta (hingga lulus). Selepas itu, Astuti berkarier pada sebuah lembaga perbankan sampai bertahun-tahun, hingga secara struktural posisi jabatannya relatif cukup mapan. Secara finansial pun, relatif cukup bisa “mengamankan” diri dan keluarganya.

Di tengah kemapanan yang telah lama dibangunnya sendiri itu, kemudian Astuti justru “meruntuhkan” begitu saja. Dia memutuskan untuk keluar dari pekerjaannya di sebuah lembaga perbankan, dan kemudian memulai dari nol sama sekali dengan menceburkan diri di dunia seni rupa yang dirinya nyaris tanpa banyak memiliki “bekal”, kecuali niat, mungkin seberkas bakat, dan itu tadi: energi dan spirit yang sekian lama hadir sebagai obsesi personal untuk berkehendak menjadi pelaku seni rupa. Keputusan besar dalam diri Astuti itu sudah barang pasti banyak mempunyai risiko yang tidak kecil. Ditambah lagi dengan kenyataan bahwa dirinya sudah sekian lama menjadi single parent bagi dua putrinya. Astuti adalah sosok ibu sekaligus ayah bagi anak-anaknya. Sosok yang menghadirkan diri di depan anak-anaknya dalam feminitas dan “maskulitas”-nya sekaligus pada satu waktu.

Keberanian (= kenekatan) Astuti untuk mencoba keluar dari zona nyaman itu seperti mengingatkan kembali konsep hidup orang Jawa yang tentang “Dadi Wong”—seperti yang pernah dibahas dengan detil oleh Risa Permanadeli dalam “Dadi Wong, Kerangka yang Menjabarkan Pemikiran Jawa dan Representasi Modernitas” (2015). Banyak orang memiliki pemahaman tentang “Dadi Wong” sebagai orang yang: mentas, mandiri, mapan, dan mulyo. Secara harafiah kata mentas berarti keadaan ketika seseorang keluar dari air/sungai setelah berendam di dalamnya, namun mentas dalam konteks ini bermakna sebagai sebuah kesiapan mental dan fisik juga finansial untuk melanjutkan perjalanan hidup. Kata mandiri berarti kemampuan untuk mengurus diri sendiri, tanggung jawab dengan hidupnya sendiri. Mapan artinya tidak memiliki keurangan apapun dan mampu membantu orang lain, serta kata mulyo yang artinya kaya secara sosial juga finansial, dan itu bisa terlihat dari banyaknya harta benda yang dimiliki.

Dalam pemahaman orang dan kultur Jawa konsep “Dadi Wong” tersebut kurang lebih bisa diringkas dengan menyajikan tiga atribut yang paling dominan, yakn: kegigihan, keberhasilan, dan keterbukaan rohani dengan tujuan untuk membantu orang lain. Kualitas-kualitas itu mengukur kedalaman dan kebesaran jiwa pada seseorang yang dianggap sudah “Dadi Wong”. Maka, atribut tentang kegigihan itu menemukan titik sambungnya dengan nasihat para orang (yang lebih) tua yang menyatakan: “ajar prihatin, supaya bisa “Dadi Wong” atau orang harus belajar bersusah-susah, supaya bisa menjadi orang”. Atribut tentang keberhasilan bertemu dengan ungkapan “wah uripe wis mapan, wonge wis “Dadi Wong” (kehidupannya sudah berhasil, karena dia sudah “Dadi Wong”), serta atribut keterbukaan rohani yang selaras dengan ungkapan “wong iki “Dadi Wong” yo kudu isa disambati” yang artinya “kalau sudah jadi orang maka orang tersebut harus bisa dimintai tolong”.

“Gangguan-gangguan” tentang konsep “Dadi Wong” tersebut tampaknya cukup memberi daya dorong bagi Astuti Kusumo untuk “dadi wong” dengan caranya sendiri. Bukan lagi menjadikan diri sebagai karyawan atau wanita karier yang sukses di jalur perbankan, misalnya, yang selaras dengan disiplin ilmu yang telah dikenyamnya. Namun dengan menjadi seniman. Pancapaian dan standarnya pasti berbeda, setidaknya bukan sekadar dari problem ekonomi dan finansial, namun dari soal kepuasan batin. Ini tentu sangat sulit diukur dengan angka-angka statistik.

“Gangguan” tersebut kemudian turun (derivated) sebagai gagasan-gagasan dasar yang kemudian dieksekusi sebagai karya kreatif, ya karya lukisan yang ada dalam pameran ini. Ada sekian banyak karya yang membopong tema perihal perempuan dengan upaya kemandirian dan kekuatannya untuk tidak menjadi subordinat laki-laki. Saya tidak mengatakan bahwa sebagian karya-karya Astuti dalam pameran ini memuat tema perihal feminisme. Sama sekali tidak, karena dia pun pasti juga enggan menyentuh perbincangan tentang itu.

Sebut misalnya karya bertajuk “Bring the Spirit” yang sebagian besar bernuansa biru. Di tengah dominasi biru itu Astuti sengaja menorehkan warna yang berbeda, yakni warna cerah, pada sesosok perempuan tengah menunggang kuda. Ada citra heroisme di sana: perempuan di atas kuda tengah bersiap menghela busur untuk melepaskan anak panah menuju sasaran. Bangunan narasi heroik ini terasa kuat karena di sekeliling perempuan tersebut ada sekian banyak citra manusia yang tampak gelap dan dalam berbagai posisi serta ekspresi terpinggirkan. Mereka, sosok-sosok tersebut, seperti menengadahkan kepala, menatap nanar, dan menanamkan banyak harapan pada srikandi yang tengah memanah itu. Apakah itu gambaran obsesif dari senimannya yang sekarang ini (selama bertahun-tahun) menjadi single parent, harus mandiri dari ketergantungan pihak lain, dan ada sekian banyak kepala menaruh harapan pada pencapaiannya? Bisa jadi.

*** 

Tentang Rasa, Juga Lelaku 

Pameran tunggal Astuti ini sendiri mengambil tema “Seratan Luru Raos”. Ini merupakan hasil penggalian atas kata-kata dalam bahasa Jawa, sebuah pengantar komunikasi yang sejatinya banyak penganutnya namun kini lambat laun mulai surut karena ditinggalkan. Maka, ada nilai moral dari penggalian teks berbahasa Jawa ini, yakni upaya kecil untuk kembali karib dengan kultur Jawa.

Secara etimologis, kata “luru” memuat arti memburu. Tetapi kemudian memiliki perluasan makna dan konteks sehingga kurang lebih dipahami sebagai “belajar atau memburu ilmu”. Jika dijadikan secara diglosif maka arti pada bahasa pustakanya hampir sama dengan kata “ngudi”. Namun kata “ngudi“ terasa agak kurang dinamis jika dibandingkan dengan “luru”. Sedangkan terminology atau kata “raos” dalam bahasa Jawa merupakan bentuk halus atau eufemisme dari kata “rasa” atau “roso”. Nilai rasanya bahkan lebih dalam dari sekadar kata “rasa“. Raos itu merasakan dengan atma atau jiwa, jadi tidak sekadar merasakan indera, tetapi juga secara empati(k). Umpamanya, andai seseorang mencubit bagian dari tubuh kita, seketika itu yang dirasakan adalah sakit pada kulit yang dicubit, bahkan dalam hal ini juga meliputi emosi orang mencubit, mengapa dia mencubit. Jadi “raos” itu lebih dalam di mana ada berpikir metafisik. Sementara kata “seratan” juga merupakan bentuk penghalusan dari kata “cathetan” atau catatan. Dengan demikian, tema pameran “Seratan Luru Raos“ ini diandaikan memiliki makna yang dalam sebagai catatan atau upaya pencatatan dalam proses belajar dengan, melalui, tentang dan dalam rasa seseorang.

Astuti sendiri menumpukan harapan bahwa karya-karya ini merupakan titik tertinggi dari “raos” terhadap diri sendiri, juga raos terhadap proses maupun produk sosial yang saat ini selalu bergejolak. Maka, melalui raos, seniman yang memiliki satu petera dan dua puteri ini ingin membaca lebih jauh segenap gejala dan dinamika dunia—mulai dari perkara social, budaya, kemasyarakatan dan lainnya. Tentu dari sudut pandang personal Astuti, dan dari kerangka dasar seni rupa.

Tentang “rasa” ini kiranya juga menarik diperbincangkan karena juga bisa bertautan erat dengan problem “lelaku”. Bagi masyarakat Jawa, kata “lelaku” itu menjadi kata kerja aktif ketika tertulis sebagai “nglakoni”, dan ini—bagi masayarakat modern dewasa ini—terasa menjadi sebuah praktik mistik yang dianggap menjauhi logika. Namun justru di sini letak titik menariknya. Di Jawa, orang yang sedang “nglakoni”, misalnya dengan melakukan “laku” prihatin, bermeditasi, membiasakan diri berkonsentrasi di tempat sepi sering mendapatkan pengalaman atau firasat akan kehadiran (“dzat”) yang Ilahi. Kehadiran “dzat” yang menyapa orang Jawa itu bukan muncul melalui akal budi dan pancaindera manusia, melaui rasa, sebagai indera keenam. Masyarakat Jawa tradisional memberi tempat begitu penting atas kehadiran rasa. Indera rasa ini sungguh-sungguh sangat dilibatkan dalam kepribadian Jawa, tidak kalah pentingnya dengan pikiran, sehingga ia sangat berperan untuk melihat laku  dan perilaku orang Jawa secara umum. Seseorang bisa disebut sebagai sudah dewasa ketika ia mampu mengendalikan dan menghadikan rasa dalam berkomunikasi dengan orang lain, dalam mengungkapkan dirinya dan dalam komunikasi dengan Gusti Allah, sebagai Rasa Sejati. Tak heran bila ada frasa yang cukup populer bagi orang Jawa, yakni “… yen tak rasak-rasakke..”, sebagai alternatif dari frasa “…yen tak pikir-pikir…”—yang lebih berorientasi pada aspek logika saja. Clifford Geertz dalam Abangan, Santri, Priyayi dalam Masyarakat Jawa (1981) juga memberi penegasan bahwa “makin halus rasa seseorang, makin mendalam pengertiannya, makin luhur sikap moralnya, dan indah segi luarnya”. Dugaan-dugaan atas dunia batin orang Jawa inilah yang kemudian dikorelasikan oleh realitas pada hasil proses penghalusan dunia lahir seperti tarian klasik, music gamelan, tembang macapat, batik dan lainnya. Itu semua adalah artifak penting yang lahir dari dunia batin orang Jawa dengan kepemilikan atas rasa yang telah mendewasakan mereka. Dan rasa itu merupakan hasil dari upaya “lelaku”.

*** 

Gunung di Kanvas Astuti 

Ada sepuluhan karya lukis Astuti Kusumo yang menggambarkan gunung. Bagi orang Jawa seperti Astuti, citra gunung memiliki makna yang mendalam. Kerajaan Mataram Hindhu dulu hidup di sekitar gunung Merapi, membangun peradaban dan kebudayaannya bersama gunung. Ketika terdesak, mereka lari ke arah timur, dan lalu berdiam di kawasan pegunungan Tenggerlah. Atau sebagian lagi berpindah ke pulau Bali dan menjadikan gunung Agung sebagai bagian penting dari perikehidupan spiritualnya. Demikian pula dengan kerajaan Mataram Islam, posisi gunung Merapi menduduki garis penting dalam laku spiritual para pendirinya, dan diyakini sebagai satu kesatuan alam yang tak bisa diceraikan sebagaimana posisi laut atau segara kidul di sisi selatan.

Ketika Mataram Islam telah pecah dan salah satunya menjadi Ngayogyakarta Hadiningrat, kini, keberadaan gunung (Merapi) juga masih menjadi situs penting. Gunung Merapi yang merupakan gunung berapi paling aktif di dunia, dan tentu membahayakan bagi manusia ketika terjadi eksplosi, ternyata ta menyurutkan jutaan manusia di sekitarnya untk beranjak pergi. Kawasan sekitar gunung Merapi justru teramat subur dengan perkembangan peradaban dan kebudayaannya. Tidak sekadar tumbuh merayap namun senantiasa terjadi dinamika di sana. Gunung ternyata menjadi energi positif yang bisa berdiam bersama manusia, apalagi ketika manusia mampu menghormatinya. Itulah yang terjadi kenapa kemudian sesepuh penjaga Merapi, dulu, menyebut Merapi sebagai “kiai”—sebutan yang memuliakan sesosok apappun, termasuk gunung.

Dalam dunia pewayangan—salah satu pencapaian kultural masyarakat Jawa—representasi atas gunung digambarkan lewat bentuk gunungan. Secara visual, dalam gunungan terdapat banyak secara figur satwa dan flora yang semuanya mewakili banyak perikehidupan alam. Gunungan sangat penting kehadirannya karena dia selalu muncul pada awal (bedhol kayon) dan ujung dari cerita wayang (tancep kayon). Gunungan juga dihadirkan sebagai pembatas antaradegan, sekaligus untuk penggambar(an) situasi seperti datangnya hujan, badai, air, hingga mewakili daya kesaktian tokoh tertentu. Dengan demikian gunungan dalam wayang begitu vital untuk menghidupkan narasi pada wayang, kisah dalam kehidupan.

Astuti, yang mengkreasi banyak karya berwujud gunung ini pantas untuk diapresiasi lebih jauh. Dia menyatakan bahwa: “Gunung-gunung merupakan anganku, yaitu tercapainya titik yang tertinggi, juga sebagai instrumen dalam rangka mengintropeksi diri, dalam hal ini gunung ibarat hati, ketinggian gunung tak ada yang bisa menandingi. Di kala Sang Ego sedang melanda manusia, seperti kemarahan luapan emosi atau apapun bentuk perilaku negatif, akan menghancurkan manusia itu sendiri.”

Lebih jauh seniman ini membilang bahwa “Beberapa makhluk adalah jiwaku juga raos-ku sendiri yang kadang tidak stabil, kadang juga belum pernah kujumpai. Warna kesempurnaan pun sedang kucari melalui instrumen raos-ku. Aku tetap luru raos lewat kawruh dan luru kawruh tentang dunia, alam dan kehidupan  melalui raos-ku.” Bahkan problem ini dikaitkan lebih jauh dengan relasinya pada anak-anak atau dengan sosok ibu: “Dalam karyaku yang lain aku luru spirit perjuangan wanita pun ketika saat kutemui sosok wanita, yaitu ibuku, kucoba raos-ku membaca raos ibu karena aku juga seorang ibu yang harus memberi raos kepada anak-anakku.”

Pameran tunggal yang pertama bagi Astuti ini, merupakan momentum sekaligus pencapaian yang penting, monumental, layak untuk ditegaskan dengan statemen yang menguatkan makna berkeseniannya. Astuti menyatakan bahwa “Momentum tanggal 21 April 2017 ini, aku mencoba membaca sosok wanita melalui raos, dengan spirit perjuangannya. Dan dengan lukisan ini pula ingin kubeberkan raos: raos angan, raos sedih, raos gembira/suka maupun raos kegelisahan. Semoga raos-ku bisa kubaca sendiri sebagai refleksi atas hidupku. Kucoba juga temui Gusti melalui raos.”

Selamat datang di medan seni rupa (Yogyakarta), Astuti! Siaplah masuk dalam ruang pertarungan yang penuh kompleksitas. Ada banyak pujian yang tulus, ada pula yang bisa menyungkurkanmu. Ada kritik yang menyehatkan laju kreativitasmu, ada pula yang membuatmu gagu tak mampu mengisi relung daya ciptamu. Ada peluk erat yang lalu membetahkanmu, ada pula pelukan sayang namun membuatmu bisa terjengkang. Maka, selamat pula untuk mengelola sensivitasmu! Salam! *** 

Kuss Indarto, penulis seni rupa, tinggal di Yogyakarta.