Saturday, April 21, 2018

Perjalanan Lanjut Makhfoed






Karya-karya dan potret diri seniman Makhfoed (1942-2018).


PERJALANAN itu telah terhenti. Dan perjalanan di dunia yang berbeda segera dimulai. Seniman Makhfoed, Rabu, 18 April 2018, sekitar pukul 23.30 wib mengakhiri perjalanan hidupnya di dunia setelah menderita sakit beberapa waktu. Seniman lulusan Akademi Seni Rupa Surabaya (Aksera) tahun 1968 ini menghembuskan nafas yang terakhir dalam usia 76 tahun.

 Makhfoed lahir di kampung tua Peneleh, Surabaya, 10 Mei 1942. Dia merupakan anak tunggal dari pasangan Abdoel Sjoekoer dan Murtosiyah. Sang ibu hanya bisa memomongnya selama setahun karena ketika dalam proses persalinan anak kedua atau adik Makhfoed, ibunya tak tertolong nyawanya. Adiknya pun meninggal sebulan setelah persalinan tersebut.

Pilihannya untuk menjadi seniman terbilang aneh bagi keluarganya, dan tentu tak mudah untuk mewujudkannya. Menjadi seniman bukanlah pilihan yang lazim. Langkah awal untuk merunuti cita-citanya itu ketika Makhfoed masuk ke Aksera angkatan kedua. Setelah lulus tahun 1968, tak mudah baginya menggeluti profesi sebagai seniman. Tahun 1976 atau 8 tahun setelah lulus Makhfoed memutuskan untuk bekerja sebagai tenaga lay-outer (penata letak perwajahan) pada mingguan Liberty, Surabaya. Itu diputuskannya setelah menikah dengan seorang gadis Bandung, Ule Julaiha. Dari pernikahan ini, pasangan Makhfoed-Julaiha mendapatkan tiga anak: Putri Handini, Indah Rosarini, dan Nuari Bramasastri. Namun Indah Rosarini terlebih dulu meninggal.

Begitulah, sembari berkarier di media cetak, Makhfoed tetap meneruskan dasar utama cita-citanya sebagai seniman lukis. Nama dan reputasinya kokoh berdiri sebagai tokoh penting seni rupa di Jawa Timur setelah generasi yang lebih senior darinya, seperti M. Daryono, Krishna Mustadjab, Amang Rahman, dan sebagainya. Ketika tahun 1996 dia mengundurkan diri dari majalah Liberty, dunia seni rupa, khususnya lukis, makin digelutinya sebagai pilihan hidup.

Karya-karyanya yang mengarah pada abstrak figuratif memiliki kekhasan tersendiri. Pertama, mayoritas karyanya berjudul “Perjalanan”. Ya, sekian banyak karyanya diberi identifikasi yang serupa, hanya “nomer serinya” yang berbeda. Kata “perjalanan” itu sendiri, kemudian bisa bermakna bahwa Makhfoed amat menghargai sebuah proses, dan perjalanan adalah bagian penting dari mekanisme sebuah proses yang terus bergerak mendinamisasi diri. Dia seperti tak ingin berhenti pada satu titik dan menguncinya sebagai sebuah monumen pencapaian. Prosesnya terus berjalan, bergerak, dan terus mencari entah sampai dimana. Sampai di titik henti bernama kematian pun, mungkin Makhfoed tak menemu kata henti ada karya-karyanya, karena sebagian besar atau semua karyanya masih berupa “Perjalanan”.

Praktik berkaryanya Makhfoed pun unik. Dia mengaku sering menghadapi kanvas tanpa ide tertentu. Begitu kuas dan cat di tangannya, kanvas di depan tubuhnya, barulah kesadaran naluriahnya bergerak. Warna-warna dasar disaputnya, untuk kemudian mengalirlah bentuk-bentuk tertentu yang beruntun “lepas” dari ujung jemarinya. Semuanya bergerak dan berimprovisasi tanpa ada tujuan untuk melukis sesuatu. Bagai air yang menemu dataran yang merendah, bagai angin yang mengembus memeluk dataran tinggi.

Dengan menyimak karya-karya Makhfoed, sulit kiranya apresian berhenti memaknainya sebagai torehan cat yang sekadarnya. Betullah kata-katanya yang membilang bahwa semua karyanya adalah “perjalanan”: seperti perangkat atau pintu masuk bagi siapapun untuk menafsir dengan segala rupa makna. Di balik absurditas rupa yang ditawarkan, ada sekian banyak simbol, ikon atau lambang yang mengasosiasikan pada persoalan dan konteks tertentu. Pada titik inilah Makhfoed sering “menghentikan” proses pemaknaan atas karyanya dengan menyerahkan sepenuhnya pada apresian atau penonton. Ya, benarlah anggapan bahwa “the author was dead”. Pengarang telah “mati”. Seniman telah berkarya, dan ketika mengetengahkan kepada publik, maka ada kekebasan bagi publik untuk menafsir—dan bisa bebas dari kungkungan tafsir tunggal seniman. Di sinilah karya Makhfoed dikayakan oleh beragam tafsir.

Selamat menuju perjalanan berikutnya, pak Makhfoed.

*Catatan pendek ini banyak bersumber dari tulisan sahabat saya, mas Henri Nurcahyo dalam bukunya “Seni Rupa Pantang Menyerah” (Surabaya: Yayasan Mataseger, 2017)

Thursday, April 12, 2018

Novel Grafis






Clink! Akhirnya sekitar pukul 08.00 Minggu pagi saya sudah berada di pameran buku Big Bad Wolf di ICE, BSD (Bumi Serpong Damai). Seperti tahun-tahun sebelumnya, lautan buku itu bikin "ngilu nikmat" di hati. Ada yang beda kali ini. Porsi buku impor untuk anak-anak lebih banyak. Buku-buku lokal juga bertambah porsinya. Saya kurang tertarik masuk ke keduanya. Membelikan buku untuk anak tanpa mengajak mereka (untuk memilih) itu bentuk lain dari pemaksaan. Sementara kalau masuk di kerumunan buku lokal, untuk apa, kalau sudah acap kali disuguhi pameran buku lokal di Yogya? 

Di "Design & Photography" section, "Architecture & Arts" section, atau "Graphic Novel" section, bagi saya, selalu ada kejutan kalau mau telaten menyisir dan memilih keriuhan buku yang bejibun itu. Kejutan kali ini adalah graphic novel atau novel grafis karya Philippe Squarzoni. Karya Si Perancis ini berjudul "Climate Change, A Personal Journey Through The Science". Tebalnya 467 halaman, belum termasuk indeks, daftar pustaka dan para narasumber yang mengayakan novel grafis ini.

Ya, Squarzoni fokus membincangkan tema perubahan iklim global pada karyanya ini. Keterbatasan pengetahuan ilmiahnya tentang tema itu membuat dia harus mengayakan bahan untuk novel grafis ini dengan mewawancarai setidaknya 9 pakar dan akademisi yang sudah bertahun-tahun bergulat dengan problem iklim atau klimatologi.

Hasilnya memang keren. Sebuah novel grafis ( = komik) yang cukup komprehensif berbicara perihal cuaca atau iklim global. Kemampuan teknis menggambar manual dari Squarzoni mampu melipatgandakan kemenarikan buku ini. Ya, komik ini manual penggarapannya, dengan sedikit campur tangan komputer.
Karya ini membedakan dari komik atau novel grafis produksi Marvel yang berjejer mengepungnya. Karya Squarzoni tampak bersahaka, cover yang terlalu lugu untuk ukuran sebuah novel grafis. Sementara komik atau novel grafis garapan grup Marvel begitu kinclong, colourful, penuh bantuan komputer yang perfeksionis, namun (bagi saya) terasa kering aspek "humanisme"-nya, apalagi temanya terus bersetia dengan heroisme para manusia super (super hero) antah berantah, ada darah, dan sesekali sadisme di sana.

Novel grafis "Climate Change"-nya Squarzoni yang berbahasa Inggris ini terbitan tahun 2014. Dua tahun sebelumnya terpilih sebagai juara dalam Festival Novel Grafis Lyon (Perancis) 2012. Sebuah karya yang layak diapresiasi, dan patut ditiru cara kerjanya oleh para komikus, juga para seniman.

Friday, March 30, 2018

Three "Mengurai" Sampah








SAYA berhenti cukup lama di booth Standing Pine, sebuah galeri komersial dari Nagoya, Jepang, yang ikut berpartisipasi di ArtStage 2018 Singapura, 27 Januari lalu. Bersama hampir seratusan galeri atau ruang seni dari berbagai negara di dunia, Standing Pine terlibat “menjajakan karya” dalam pasar seni yang makin marak di dunia—meski ArtStage Singapura tahun kini mulai berkurang crowded-nya dibanding tahun-tahun sebelumnya. Ada yang membilang bahwa banyak galeri memilih menyewa booth di Hongkong Art Fair yang lebih riuh dan waktunya tak jauh dari perhelatan ArtStage Singapura. Pun ada yang mengatakan bahwa pihak ArtStage yang bikin blunder karena membuat ArtStage Singapura di bulan Januari dan sekarang juga menghelat ArtStage Jakarta tiap bulan Juli atau Agustus. Tak heran bila galeri di Indonesia memilih untuk menyewa booth di ArtStage Jakarta ketimbang di Singapura yang relatif jauh lebih mahal. Tahun ini, hanya ada 3 atau 4 galeri yang ikut ArtStage Singapura, jauh berkurang dari tahun-tahun sebelumnya.

Standing Pine—seperti halnya segelintir galeri lain—fokus hanya memajang karya dari satu komunitas seni, yakni Three. Seperti namanya, Three memang dibentuk oleh 3 seniman muda Nagoya dengan pilihan kreatif unik. Mereka masih muda, belum cukup memuncak nama dan reputasinya, namun gelagat kreativitasnya tampak mencoba mencari jejak lain di luar garis jalan mainstream. Ada upaya eksperimentasi dalam karya-karyanya.

Output karyanya ada yang 3 dimensi meski dalam booth kali ini dominan karya dua dimensi. Itu pun tidak dua dimensi yang konvensional karena sebagian (besar) serupa karya relief yang bisa ditonton dengan cara memandang 2 dimensi. Menurut Hironori Kawasaki, salah satu personil komunitas Three yang sempat saya temui di booth, karya kreasi tersebut mereka “temukan” setelah melewati proses yang cukup panjang, dilewati berbagai eksperimen, uji coba, dengan beragam material. Sayang Kawasaki tidak menyebutkan secara detil berapa lama proses penemuan itu dilakukan. Hasil “temuan” yang dipamerkan dan menarik minat banyak pihak ini bermaterikan toys atau mainan anak-anak di Jepang yang terbuat dari karet dan bahan lain. Toys itu berujud macam-macam, tapi rata-rata tokoh manga (kartun khas Jepang) yang ditigadimensikan, atau dibonekakan. Bentuknya mungil dan lentur—bisa diremas atau dilekuk semau-mau kita, dan dia akan kembali ke bentuk semula setelah diremas atau dilekuk.

Karakter inilah yang dimanfaatkan oleh Hironori Kawasaki dan teman-temannya di komunitas Three. Caranya, mereka mengumpulkan sebanyak mungkin toys, lalu memasukkan dalam mesin press, dan menekan sekuat mungkin. Hironori mengaku tidak menggunakan bahan perekat dalam proses tersebut (meski saya ragu dengan keterangannya itu). Setelah di-press, hasilnya: semua toys yang berkerumun tadi melekat, menyatu sama lain dengan permukaan yang sama. Kemudian, eksekusi terakhir sebelum menjadi karya seni beragam cara dan bentuknya. Ada hasil press yang dikepras atau dipotong pada semua sisi samping juga belakang, dan membiarkan bagian depan. Ada pula yang semua sisi dikepras habis hingga tak kelihatan bentuk asli toys-nya, namun tinggal sisa warna “tubuh” yang sudah melekat satu sama lain. Di situlah tampak alur warna-warni yang beragam, meliuk dan menerbitkan citra artistik. Dan di sinilah salah satu capaian komunitas Three menghasilkan karya seni.

Bagi saya, ini bukan sekadar pencapaian kreatif saja, namun Three seperti mengili-ngili kesadaran masyarakat di sekitarnya perihal lingkungan hidup. Kawasaki bilang bahwa sebagian materi karya komunitasnya tersebut berasal dari limbah. Mainan bagi anak-anak tersebut tak berusia lama dalam genggaman anak-anak. Karena rusak atau rasa bosan, mainan dari karet itu kemudian menghuni bak sampah—tak terpakai lagi. Toys itu bukanlah sampah yang mudah diurai oleh bumi.

Maka, ketika “sampah masyarakat” itu dimanfaatkan kembali sebagai artifak yang bermanfaat, dan berlabel sebagai karya seni, maka karya anak-anak Three menjadi penting dan memuat makna sosial yang jauh lebih penting. Ditilik dari materialnya, karya ini bisa muncul di Jepang. Toys ini tidak cukup popular di Indonesia. Lalu, apakah para perupa di Indonesia juga berpeluang menciptakan karya sejenis ini yang memiliki kemampuan untuk membincangkan tentang lingkungan dan secara praksis mencarikan solusi (kecil-kecilan) dalam mengatasi sampah, misalnya? Mari kita tunggu saja. ***

Wednesday, March 28, 2018

Pameran Seni Rupa "Imajinesia"



Halo para pecinta seni! Jangan lewatkan agenda besar kebudayaan di kota Semarang ini:
“Graha Padma Art Project”

Untuk memarakkan rangkaian grand launching Cluster Taman Anggrek,
PT. Graha Padma Internusa dengan bangga mempersembahkan:

PAMERAN SENI RUPA “IMAJINESIA”

Pembukaan Pameran
Hari Sabtu, 7 April 2018
pukul 18.00 sd selesai
Oleh Bapak Hendrar Prihadi (Walikota Semarang)


Pameran berlangsung pada:
7 – 15 April 2018


Waktu:
Buka mulai jam 10.00 sd 20.00 WIB


Tempat:
Cluster Taman Anggrek
Jl Boulevard,

Perumahan Graha Padma,
Semarang, Jawa Tengah

PERUPA:
Ambara Liring
• Ambrosius Edi Priyanto
• Angga Yuniar Santosa
• Bambang Pramudyanto

• Basrizal Albara
• Budi Ubrux Haryono
• Chandra Rosellini
• Danni Febriana
• Dewa Mustika

• Dunadi
• Eddy Sulistyo
• Galuh Tajimalela
• Gatot Indrajati
• Guruh Ramdani

• Hedi Hariyanto 
• Indarto Agung Sukmono
• M. Irfan Ipan

• Nasirun
• Ngakan Putu Agus Arta Wijaya
• Oetje Lamno
• Operasi Rachman Muchamad

• Putut Wahyu Widodo
• Ridho Rizki
• Rismanto
• Robi Fathoni

• Rustamadji (alm.)
• Seno Andrianto
• Suitbertus Sarwoko
• Toris Mahendra
• Ugy Sugiarto

• Wahyu Santosa
• Win Dwi Laksono
• Yuswantoro Adi
 

Kurator:
• Kuss Indarto
• Tarsisius Wintoro


SARASEHAN SENI RUPA:
Tema: Down to Art, Down to Earth
Pembicara: Dr. Suwarno Wisetrotomo, M. Hum ( ISI Yogyakarta)
Moderator: Kuss Indarto
Hari/tanggal: Sabtu, 14 April 2018
Pukul: 18.00 – 21.00 WIB


Terimakasih atas perhatiannya.
Jika berkenan, monggo di share kepada teman, sahabat dan komunitas pecinta seni.

Salam.

Friday, March 16, 2018

Re-Kreasi Bersama Kartun



Komik pendek karya Kuss Indarto

Oleh Kuss Indarto 

"I’m sorry. beggar is over Excessive demands. I was heat up. but now cooldown."

"Mr. president JOKOWI and Indonesian everyone, and Indonesia gov I'm Really sorry. I am shame. I take back picture, I'm sorry."

Minggu siang, 25 Februari 2018, seseorang yang mengaku bernama Onan Hiroshi meminta maaf secara terbuka kepada Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) dan seluruh rakyat Indonesia—seperti tertulis sebagai dua kutipan di atas. Permintaan maaf ini disampaikan lewat akun medsos Twitter dan Facebook-nya. Pasalnya, dia telah membuat sebuah gambar kartun satir yang memojokkan, bahkan cenderung menghina Indonesia. Dalam gambarnya tersebut terdapat teks (dalam huruf Kanji dan berbahasa Jepang, tentu saja) yang berbunyi: "Pengemis Kereta Berkecepatan Tinggi." Laki-laki berusia 30 tahunan itu membuat visualisasi yang menggiring kesan kuat bahwa rencana kerjasama antara China-Indonesia bermasalah. Dana yang dijanjikan dari pemerintah China untuk proyek kereta cepat Jakarta-Bandung tidak kunjung dicairkan, pekerjaan megaproyek itu jadi tersendat, sehingga berakibat pada dugaan bahwa Indonesia tampak ingin melirik minta bantuan pada Jepang untuk membantu penyelesaian proyek kereta api Jakarta-Bandung kembali.

Gambar kartun ini sempat jadi viral pada Kamis-Jumat, tanggal 22-23 Februari 2018, yang kemudian melambungkan (secara negatif) nama Onan Hiroshi karena banyak komentar dan serangan balik bermunculan untuk merespons kartun tersebut. Tak kurang dari anggota DPR, Khatibul Umam Wuranu dari Partai Demokrat berang atas kartun tersebut. "Saya mengecam, karena penggambaran kartun tersebut merendahkan martabat Presiden Jokowi dan bangsa Indonesia. Padahal, dalam hubungan diplomasi antara negara banyak aspek yang intinya harus saling menghargai," kata Khatibul seperti yang dikutip oleh beberapa media online.

Akhirnya Onan Hiroshi betul-betul minta maaf meski lewat akun medsosnya, dan disertai dengan gambar sesosok tubuh yang menelungkup ke lantai, seolah memberi isyarat bahwa permintaan maaf itu dilakukan dengan serius. Tampaknya Onan juga ketakutan kalau ulahnya itu akan berkepanjangan dan berdampak buruk bagi masa depan hidupnya. Maka, tak lama kemudian akun medsosnya di Twitter dan Facebook ditutup, seolah seperti berhasrat memendam dalam-dalam kasus yang mempermalukan diri dan negaranya tersebut.

Di luar persoalan siapa benar siapa salah, kasus ini mengingatkan kembali kepada publik bahwa karya kartun masih menjadi salah satu karya seni rupa—atau karya jurnalistik—yang masih efektif untuk mencuatkan kasus tertentu. Onan yang dikatakan oleh beberapa sumber hanya sebagai “tukang gambar” yang kurang profesional—bukan kartunis atau komikus jagoan—dianggap mampu memanfaatkan kekuatan kartun untuk mengutarakan opini personalnya secara satiris, tajam hingga diasumsikan sebagai menghina pihak lain.

Menyoal tentang cara ungkap (karya kartun) yang kemudian bisa menimbulkan persepsi yang berbeda-beda bagi tiap apresiannya, memang rumit karena hal ini tak lepas dari problem yang jauh lebih luas dari sekadar selembar kartun. Ada problem kultural, sosiologis, historis, dan sebagainya yang pasti beda pada tiap personal atau kelompok masyarakat, sehingga respons yang timbul pun juga akan bervariasi. Meskipun secara kultural nyaris berbeda antara Jepang dan Indonesia, sebagai contoh, namun pada satu hal tertentu akan bertemu pada satu titik yang menjadi dalih untuk tidak bisa menerima kritik satirik yang vulgar atau sarkastik dalam sebuah karya kartun, yakni dalih “budaya ketimuran”. “Budaya ketimuran” yang dibayangkan di sini adalah sebuah situasi atau kebiasaan bagi seseorang untuk (antara lain) menyampaikan atau mengekspresikan sesuatu dengan mengedepankan cara ungkapnya yang eufemistik atau dengan cara yang halus, bukan sarkastik.

Khusus bagi orang Jawa, ada siasat atau semacam strategi untuk memberi porsi yang lebih bagi bungkus sebuah bentuk ekspresi demi tersampaikannya muatan atau isi ekspresi itu sampai dengan baik kepada sasarannya. Terasa kuat bahwa gejala ini disebut sebagai eufemisme atau kramanisasi yang bertolak dari ungkapan dalam bahasa Jawa sebagai titik pijak ketika berolah kritik: Ngono ya ngono, ning aja ngono. Begitu ya begitu, tapi jangan begitu. Ungkapan ini, yang telah mengental sebagai ideologi, memberi semacam garis demarkasi bagi hadirnya sebuah kritik. Dua kata ngono pada bagian awal mengindikasikan kemungkinan dan peluang akan hadirnya sebuah kritik dalam pergaulan sosial kemasyarakatan. Di sini tersirat kemampuan manusia dan atau kultur Jawa untuk mengakomodasi datangnya kritik. Sedangkan kata ngono yang ketiga seolah menjadi kunci pokok yang menyiratkan pentingnya etika dan moralitas dalam tiap kritik yang muncul, tentu dengan subyektivitas khas Jawa. Artinya ada relasi yang komplementatif atas hadirnya kritik yang berpeluk erat dengan pentingnya aspek format, bentuk, dan kemasan kritik. Sehingga dalam mencermati kenyataan di atas, terlihat menyeruaknya pemaknaan wacana kritik (khas Jawa) yang bisa ditafsirkan sebagai paradoksal dan mendua. Pentingnya kritik (seolah hanya) ada pada kemasannya.

Ideologi kritik semacam ini kian menguat dan strategis untuk dihadirkan ketika kuatnya kuku kekuasaan otoritarianisme Orde Baru pimpinan Soeharto dulu. Pemerintahan militeristik yang cenderung antikritik waktu itu bagai mengalih-ubah ideologi ngono ya ngono ning aja ngono secara eksploitatif menjadi “ngritik ya ngritik ning aja ngritik” atau “protes ya protes ning aja protes”. Situasi represif inilah yang kemudian memberi celah kemungkinan bagi para kelompok kritis, termasuk kartunis atau komikus di dalamnya dalam bersiasat membangun kreativitas dengan karya kritis semacam karikatur, kartun, dan lain-lain di forum publicum.

Siasat seperti ini, meminjam paparan Magnis Suseno dalam Etika Jawa: Sebuah Analisa Falsafi tentang Kebijakan Hidup Orang Jawa (1993), mengedepankan dua kaidah penting dalam relasi sosial manusia Jawa, yakni “prinsip kerukunan” dan “prinsip hormat”. Kaidah pertama menentukan bahwa dalam setiap situasi manusia hendaknya bersikap sedemikian rupa agar terhindar dari konflik. Sedang kaidah kedua menuntut agar cara berkomunikasi dan membawa diri selalu disertai sikap hormat yang ditunjukkan terhadap orang lain sesuai dengan derajat dan kedudukannya. Keduanya merupakan kerangka normatif yang menentukan semua interaksi dalam masyarakat Jawa. Tujuannya jelas, memelihara harmoni atau keselarasan. Di selinap dua prinsip tersebut, ada “prinsip humor” menjadi ruh penting pada tiap karya kartun dan komik atau semacamnya.

Maka, kalau beberapa waktu lalu ada kartun karya Onan Hiroshi yang sempat viral dan direspons dengan persepsi yang berbeda di Indonesia—termasuk ada yang marah—bisa jadi karena ada problem “prinsip kerukunan” dan “prinsip hormat” yang tersenggol sehingga riuhlah situasinya. Bahkan pembuat kartun tersebut sampai harus menutup akun medsosnya sendiri.

***

Pameran “Stand Up Cartoon” ini, ditilik dari judulnya, memberi pesan simbolik kepada publik bahwa aspek rekreatif menjadi hal yang mendasar untuk diketengahkan. Kata-kata “stand up” mengarahkan dan mengingatkan kita pada sebuah bentuk ekspresi (seni) pertunjukan yang populer dewasa ini, yakni melawak secara tunggal mirip seperti monolog di depan khalayak. Tak jarang mengetengahkan tema yang fokus dan pendek durasinya. Pada umumnya para comic (pelaku stand up comedy itu) menyampaikan narasi singkat sebagai prolog, lalu melakukan punch, dan klimaks. Kalau berhasil ya akan membuat penonton tergelak. 

“Stand Up Cartoon” tentu beda karakternya dibanding “stand up comedy”. Namun spiritnya kurang lebih sama. Para kartunis yang tergabung dalam komunitas kartunis ini, yakni PAKYO (Paguyuban Kartunis Yogyakarta), secara kolektif masing-masing menghadirkan satu atau lebih karya kartun, karikatur, komik, satiric visual, dan lainnya, yang dihasratkan untuk memberi rekreasi pada masyarakat. Kata rekreasi tentu bisa dimaknai dalam dua hal. Pertama, rekreasi dalam pengertian penghiburan. Kartunis perlu menginisiasi untuk memberi tambahan hal yang rekreatif, bersifat menghibur bagi publik—di tengah kondisi yang sosial politik ekonomi kemasyarakatan yang penuh keriuhan yang memanaskan situasi. Kedua, rekreasi yang secara etimologis berasal dari kara “re” (kembali) dan “kreasi”, “creation”, yang berarti kreasi atau berdaya cipta. Pemahaman atas kata rekreasi dalam konteks ini adalah upaya para kartunis untuk melakukan persuasi kepada publik agar mampu memberdayakan diri, mampu berdaya cipta, atau berkehendak melakukan bentuk kreatif kembali setelah menyaksikan pameran ini.

Pameran ini, dengan menempati venue sebuah mall, juga akan berpotensi memberi nilai yang berbeda. Meski pameran semacam ini mungkin bukanlah yang pertama, namun perlu ditekankan kembali relasi antara karya seni kartun dan locus pamerannya, yakni sebuah pasar modern. Mall adalah ruang pertemuan publik temuan akhir abad 20 yang telah dicap dan diidentikkan sebagai “katedral” konsumtivisme dan hedonisme. Orang datang berhambur ke mall diasumsikan secara menguat hanya untuk mempraktikkan laku konsumtivisme dan hedonisme tersebut.

Maka ketika sebuah pameran seni kartun dihadirkan dalam mall seperti “Stand Up Cartoon” ini, sebuah konstruksi pemahaman berbeda secara pelahan coba dibangun. Dari sisi para seniman kartunnya, ini adalah upaya untuk melakukan popularisasi karya seni seluas mungkin, termasuk ke ruang-ruang “katedral” hedonisme. Ruang-ruang seni mainstream seperti galeri, museum dan semacamnya bisa sekali-kali ditinggalkan, dan lalu beranjak ke mall untuk “menjajakan” gagasan kreatif yang ditimbun dalam karya kartun. Pada titik ini, sejatinya, karya kartun relatif bisa adaptif. Dengan sentuhan perangkat teknologis, karya kartun telah mampu menyesuaikan atau beradaptasi dalam hal penyajiannya di tengah publik. Tak heran bila dalam pameran ini ditemui karya-karya yang dibuat dengan melewati proses computerized yang bisa mendekatkan karya dengan publik atau “masyarakat mall”.

Di samping sebagai upaya popularisasi karya seni, di venue seperti inilah seniman kartun berpotensi besar untuk memberi tawaran berbagai nilai (value) yang bisa disodorkan lewat sekian banyak karya kartun. Kalau disimak lebih dalam—lewat karyanya—para kartunis ini tidak sekadar menggambar dan berupaya melucu lewat gambar. Tapi juga membenamkan nilai-nilai dalam gambar yang bisa dipahami kalau menyimak dengan lebih seksama. Di balik gurauan atau kelucuannya, karya kartun juga menyelipkan banyak pesan etika dan moral yang bisa memberi warna dalam perikehidupan. Dalam konteks inilah sebenarnya kita bisa membilang bahwa karya kartun ini sudah jauh melepaskan diri dari kerangkeng l’art pour l’art atau “seni (hanya) untuk seni”. Seni bisa diberdayakan untuk memberi pencerahan bagi masyarakat—sekecil apapun itu kontribusinya.

Pada sisi yang lain, di mata para pengelola mall, dengan mengetengahkan pameran kartun kiranya mampu menjadi alternatif atau jeda yang menyegarkan untuk kemungkinan bisa meraih pangsa pasar yang sedikit berbeda. Apalagi untuk konteks Yogyakarta yang dewasa ini makin banyak tumbuh mall yang satu sama lain saling berkompetisi, maka kreativitas dalam memunculkan program berbeda perlu diadakan. Pameran kartun adalah salah satu yang memungkinkan ke arah pemberian jeda yang berbeda tersebut.

Akhirnya, selamat berpameran untuk teman-teman kartunis PAKYO (Paguyuban Kartunis Yogyakarta)! Teruslah lucu, menghibur, dan memberi nilai untuk masyarakat di sekitar. Ngelmu iku kalakone kathi laku. (Me)lucu itu juga laku. *** 

Kuss Indarto, kartunis, kurator seni rupa, dan pengelola situs www.indonesiart.id

Monday, March 12, 2018

Jupri Abdullah: Rhythm of Freedom

Keragaman Antar Bangsa 2, (150 x 385 CM), akrilk pada kanvas, 2017
Membaca Tanda Tanda, (140 X 160 CM, 2 panel), akrilik pada kanvas, 2016

Oleh Kuss Indarto 

LEWAT buku “Painting Today” (2009), Tony Godfrey membuat 16 pilahan kecenderungan seni lukis berdasarkan penelitiannya terhadap perkembangan gerakan dan tema seni rupa yang bergerak selama sekitar 40 tahun terakhir—sejak dasawarsa 1970-an. Dia mendasarkan diri pada pengamatan atas ratusan karya para seniman di lebih dari 30 negara. Dua di antara 16 pilahan itu disebutnya sebagai “pure abstraction” dan “ambiguous abstraction”. Pada “pure abstraction” Godfrey mendasarkan dan mencontohkan karya para seniman seperti Ian Davenport, Helmut Federle, Bernard Frize, Ha Chong-Hyun, Peter Halley, Alexis Harding, Callum Innes, Yves Klein, Jane Lee, Lee Ufan, Tim Maguire, Robert Mangold, Joseph Marioni, Sarah Morris, hingga nama-nama yang lebih populer seperti Gerhard Richter, Bridget Riley, Robert Ryman, Sean Scully, Dan Sturgis, Estelle Thompson, serta Dan Walsh. Sementara ketika membuat pilahan “ambiguous abstraction”, guru besar pada Plymouth University ini memberikan contoh pada kecenderungan karya para seniman semacam Tomma Abts, Mark Bradford, Ingrid Calame, Ding Yi, Lydia Dona, Stephen Ellis, Caio Fonseca, Ellen Gallagher, Mark Grotjahn, Emily Kame Kngwarreye, Udomsak Krisanamis, Yayoi Kusama, Jonathan Lasker, Liu Kuo-sung, Fabian Marcaccio, Brice Marden, Thomas Nozkowski, Monique Prieto, David Reed, Thomas Scheibitz, Jose Maria Sicilia, Fred Tomaselli, dan Terry Winters.

Godfrey sebetulnya tidak memberi batasan atau definisi yang sangat tegas antara kedua jenis pilahan tersebut, namun “perca-perca” pemahaman tersebut dibangun dari konsep atau artist statement para seniman yang ditampilkan sekilas dalam ulasan tersebut. Pada “pure abstraction” ditengarai banyak memunculkan karya-karya abstrak yang dilandasi oleh kekuatan dunia-dalam seniman yang tak peduli dengan problem muatan atau konten karya. Di sini muncul karya-karya yang kemudian—gejalanya—ditandai dengan penjudulan yang “sekadar” identitas, seperti misalnya serial “komposisi 1, komposisi 2, komposisi 3” dan seterusnya. Sudah barang pasti ini hanya salah satu gejalanya, karena masih ada beragam tanda yang ditandai oleh Godfrey berdasar konsep dan artist statement para seniman. Sementara “ambiguous abstraction”, seperti halnya istilah yang diberikan oleh Godfrey, memang memiliki potensi ambiguitas. Karya-karya dalam pilahan “ambiguous abstraction” ini bisa mendua, tak sekadar menjadi medium/artifak ekspresi seniman, namun juga tendensi dan muatan yang cukup memberi isi di luar problem teknis dan artistik karya. Kira-kira seperti itu.

Lebih dari itu, hal penting yang bisa diserap adalah realitas obyektif bahwa seni lukis abstrak masih mendapatkan tempat yang penting dalam dinamika seni rupa di dunia—termasuk juga di Indonesia. Pembaruan praktik kreatif dan cara pandang baru terhadap seni rupa abstrak inilah yang perlu dilakukan secara simultan.

***

SEPERTI halnya pendapat Tony Godfrey, pemahaman dan “konsensus” umum yang selama ini beredar dalam masyarakat seni pun kurang lebih cukup setara. Ya, abstrak. Kata abstrak ini, kalau dimasukkan dalam konteks gejala seni rupa, dan dalam pemahaman yang lain—setidaknya terpilah dalam dua hal yang cukup “berseberangan”, yakni abstrakisme dan abstraksionisme. Hal pertama, abstrakisme—pengertian sederhananya—adalah gaya dalam lukisan yang meniadakan ilusi-ilusi bentuk dalam kanvas, sementara abstraksionisme lebih mengacu pada karya seni abstrak yang masih menyisakan citra obyek yang menjadi titik berangkat karya lukisan.

Karya-karya Jupri Abdullah sebagian besar lebih mendekati sebagai abstrakisme. Pilihan kecenderungan visual seniman ini tampaknya cukup dikukuhi, setidaknya dalam pameran berdua tunggal kali ini, sehingga publik bisa dengan tegas memberi batas-batas identitas visual yang kentara—sekaligus berbeda dengan pilahan karya-karyanya yang lain yang sesekali dimunculkannya, seperti karya-karya yang figuratif atau realistik. Tampaknya, ini bisa dikatakan sebagai pameran tunggal yang fokus karena Jupri mampu memberi perhatian yang penuh pada pilihan kreatif abstrakisme dengan disiplin dan “patuh”.

Pilihan kreatif abstrakisme yang dibawanya ini, di sisi lain, setidaknya dalam tiga-lima tahun terakhir mulai kembali lagi bergerak populer di hiruk-pikuk gelanggang seni rupa (kontemporer) di Indonesia. Ini tak lepas dari perkembangan dan dinamika seni rupa dunia yang juga kembali mengapresiasi dengan kuat seni rupa/lukis abstrak. Saya tidak hendak mengatakan bahwa Jupri mencoba menghanyutkan diri pada pilihan kreatif yang bergeliat lagi dan strategis dalam meraup pangsa pasar seni rupa dewasa ini. Tetapi, saya ingin memberi tengara bahwa gejala visual yang dipampangkan Jupri di ruang pameran ini kembali mencuatkan kekayaan kosa rupa yang beberapa tahun terakhir ini terkadang terasa menunggal, monoton, dan masuk dalam kebuntuan kreatif.

Kita bisa melihat, seusai dasawarsa 1990-an kanvas seni lukis (= rupa) Indonesia digempur oleh booming seni lukis abstrak ekspresionisme, di ujung dasawarsa itu—atau awal 2000-an hingga nyaris satu dasawarsa berikutnya—kecenderungan visual dalam kanvas seni rupa Indonesia dibombardir oleh gejala “impor” yang datang dari belahan jagat utara, yakni gejala pemiripan dengan “seni rupa kontemporer China”. Fenomena jenis ini banyak mengetengahkan karya-karya dengan pendekatan visual realisme atau hiper-realisme yang bermuatan sinical themes (tema-tema sinisme politis). Selanjutnya, yang hingga kini sesekali masih cukup banyak menyeruak dalam kanvas adalah karya-karya lukis “Juxtapoze-ian”. Saya sebut demikian karena subject matter karya-karya ber-genre ini banyak mengacu pada kecenderungan visual yang muncul secara dominan dalam majalah seni rupa (kontemporer) Amerika Serikat: Juxtapoze. Di situ sedikit banyak dapat terlacak gejala visual yang ilustratif dengan pendekatan pada karya seni komik dan Neo Pop Art. Diseminasi atau persebaran bentuk-bentuk kreatif itu begitu cepat bergerilya ke segala penjuru angin karena didukung secara kuat oleh teknologi informasi dan internet, sehingga dengan lekas bisa mendunia. (Website majalah Juxtapoze menjadi salah satu website majalah seni rupa yang paling banyak dikunjungi oleh para perupa muda sedunia). Maka, sekarang ini, kadang sangat sulit untuk membedakan mana karya Wedhar Riyadi, Uji Hahan Handoko, Iwan Efendi, atau Hendra Hehe yang berproses kreatif di Yogyakarta, Mukhlis di Jakarta, dengan karya-karya dari seniman dari Meksiko, Ukraina, atau Aljazair yang memiliki kecenderungan visual serupa. Inilah sisi lain yang tak mungkin terelakkan dari powerfull-nya pengaruh teknologi internet.

Oleh karena itu, ketika gejala “Juxtapoze-ian” dalam seni rupa itu menggejala begitu dahsyat, atau “badai” kecenderungan pemiripan karya “seni rupa kontemporer China”, maka kelugasan kehadiran kembali karya-karya abstrak yang diketengahkan sekian banyak pelukis abstrak bisa memberi keseimbangan kosa visual dalam belantara seni rupa Indonesia. Sudah barang pasti para seniman yang berbasis kreatif abstrakisme ini belum banyak memberi asupan yang menonjol, penting dan berpengaruh, namun setidaknya bisa memberi jeda (interlude) yang menarik. Publik seni rupa tentu juga tak menutup mata pada kehadiran karya-karya Hanafi (berikut para epigon atau para penirunya) yang masih konsisten pada karya-karya abstrak, atau bahkan ada sekelompok seniman yang selama ini menjadi spesialis melukis lukisan abstrak dan membuat komunitas (dimotori oleh Sulebar Soekarman dan istrinya Nunung WS., Rusnoto, Dedy Sufriadi, dan beberapa seniman lain) dan sesekali berpameran antarkota.

***

JUPRI ABDULLAH hadir dalam kapasitas sebagai seniman otodidak. Sebetulnya kurang adil untuk memberitahukan hal ini karena kemudian—kadang—publik langsung memberi perbandingan atas oposisi binernya, yakni seniman akademik. Ini isu lama yang sebenarnya kurang menarik untuk diperpanjang dan dipertajam. Tapi sekadar mendudukkan pada konteks identitas personal yang justru diajukan sejak awal oleh Jupri sendiri.

Proses kreatif Jupri dalam berkarya seni rupa tidak berangkat dari ruang kosong. Meski bentuk ungkapnya berupa seni lukis abstrak, namun itu tak mengurangi niatan dasarnya bahwa karya seni merupakan medan ekspresi dan medan opini personalnya atas berbagai persoalan yang melingkupi diri dan lingkungannya. Petikan pendek dari konsep berkaryanya bisa menjadi cermin: “Dalam proses berseni dan proses kreatif melukis terlebih dahulu saya ngobrol dengan masyarakat lingkungan dan kawan-kawan seniman, mendengarkan dan menyaring obrolan-obrolan mereka. Terkadang saya mengundang kesenian tradisi untuk memainkan atraksinya, seperti kesenian reog, bantengan dan mendengarkan alunan musik gamelan yang dimainkan masyarakat di lingkungan saya. Konsep kreatif yang saya lakukan ini lantas saya tuangkan dalam lukisan-lukisan saya tentang sosial budaya, ke-Tuhan-an/religiusitas, politik dan ke-Tokoh-an.

Petikan konsep berkarya Jupri di atas telah cukup memberi gambaran kepada apresian bahwa ada upaya yang jelas dalam kerja kreatifnya untuk melepaskan diri dari perangkap adagium l’art pour l’art atau “seni untuk seni saja”. Seni mampu diberdayakan lebih jauh dan efektif oleh senimannya, antara lain dengan mencoba meluaskan cakupan karya-karya seninya untuk terlibat secara langsung atau tidak langsung dengan dunia di sekitarnya. Itu bisa beragam cara dan modus operandinya. Cara yang dilakukan oleh Jupri mungkin tak harus meleburkan diri sebagian hidup dan kesehariannya dengan kelompok masyarakat tertentu dengan segenap empati dan praktik langsung di dalamnya. Ya, dia tak menjadi bagian di dalamnya yang kemudian, oleh sebagian pengamat, yang kurang lebih disebut sebagai seni partisipatoris. Bukan. Tapi lebih sebagai upaya kecil Jupri untuk mengayakan ide dasar yang sudah ada dalam kepalanya, dan kemudian perlu perangkat lain untuk mendukungnya. Maka kalau dia, antara lain, mengundang atau nanggap kelompok kesenian tradisional dan dijadikannya sebagai medium peletup atau sumber gagasan tambahan bagi karya yang hendak dilahirkannya, maka di situlah sebenarnya Jupri tengah “merekayasa” karya seninya agar tidak betul-betul dihadirkan dari ruang kosong.

Pada titik inilah kemudian apresian bisa melihat atau menduga tentang karya seninya, baik secara visual atau pun substansial, dari dunia bentuk dan dunia gagasannya. Seperti halnya yang saya singgung di bagian atas tadi, yakni tentang “pure abstraction” yang output karya-karyanya—gejalanya—ditandai dengan penjudulan yang “sekadar” identitas, seperti misalnya serial “komposisi 1, komposisi 2, komposisi 3” dan seterusnya, karya Jupri tampak terbebas dari dugaan seperti ini. Meski bentuk ungkapnya abstrak, dia mencoba menyelinapkan banyak narasi bahkan gagasan di dalamnya.

Apakah spontanitas pada karya-karya Jupri betul-betul total? Inilah pertanyaan yang gelagat jawabannya sudah bisa diraba dari secuil paparan konsep karyanya. Ada proses yang tidak sederhana dalam pemunculan karya seperti dalam pameran ini. Ada upaya “perekayasaan” dalam proses kreatif yang sejatinya telah banyak dilakukan oleh banyak seniman—entah disadari atau tidak disadarinya. Jupri tampaknya menyadari proses ini sebagai sebuah keniscayaan. Maka, dalam eksekusinya pun memerlukan “orkestrasi” yang diharapkan bisa mendukung seluruh proses kreatif hingga selesai. Misalnya, menciprat cat warna kuning pun mesti mempertimbangkan seluas apa warna kuning itu mesti dicipratkan sehingga akan mendukung komposisi dalam keseluruhan lukisan, bukan malah mengganggu komposisi. Perimbangan antara warna panas dan warna dingin dalam sebentang kanvas bisa jadi tetap menjadi agenda dalam benaknya untuk terus diatur agar tidak timpang antara keduanya. Begitu seterusnya.

Semuanya ada dan membutuhkan irama, ritme, yang akan menjalin segenap unsur visual sehingga menyatu, membentuk harmoni, mengundang tafsir yang kaya. Karya seni lukis abstrak, bila ditilik dari fakta seperti ini, jelas tak seutuhnya dibilang membebaskan seniman untuk mempraktikkan semuanya. Ya, dari sini kita akan mejadi paham bahwa salah satu kebebasan adalah keterbatasan. Ini rumit rumusannya. Namun di situlah kita akan menemukan rime yang menarik karena kebebasan dalam kanvas mampu dikontrol oleh senimannya. Jupri membangun karya kreatifnya dengan kebebasan yang dikontrolnya untuk mendapatkan irama visual seperti yang dihasratkannya. Rhythm of Freedom, irama dalam kebebasan seperti menyublim dalam karya-karya Jupri. *** 

Kuss Indarto, kurator seni rupa, dan pendiri situs www.indonesiart.id

Thursday, March 01, 2018

Bernas Berpulang

Berita duka itu datang. Surat kabar harian Bernas—awalnya bernama Berita Nasional—yang lahir dan tumbuh di Yogyakarta, akhirnya menemui ajal dalam usia 72 tahun. 1 Maret 2018 ini Bernas resmi tutup usia, dan secara pelahan beralih ke format digital. Gerak zaman dengan segenap kebaruan dan dinamikanya telah mengeremus segala hal yang dianggap lampau. Dan kematian, seperti yang terjadi pada harian Bernas—apa boleh buat—adalah sebuah keniscayaan yang tak terelakkan. Semua media cetak di dunia, tak terkecuali, mengalami guncangan berat setelah era internet muncul dengan segala kepraktisan dan kelekasannya dalam mengirim informasi—jauh lebih lekas ketimbang media cetak konvensional.

Harian Bernas, bagi saya, meninggalkan jejak ingatan yang tak lekang oleh sekian banyak gulungan waktu. Saya pernah bergabung di dalamnya selama 10 tahun—resmi masuk mulai 10 Juni 1991 hingga mengundurkan diri pada 1 April 2001. Ketika itu saya menjadi editorial cartoonist dan ilustrator yang setidaknya seminggu 2 kali membuat editorial cartoon (lebih populer sebagai karikatur) dan sekali membuat ilustrasi cerpen untuk edisi Minggu. Sebetulnya malah lebih dari itu karena ada beberapa rubrik yang menuntut ada ilustrasi manual sehingga saya harus stand by tiap hari di kantor, terutama mulai sore hingga tengah malam sebelum disain koran difilmkan lalu dicetak.

Dengan aktivitas dan rutinitas itu, pasti, risiko muncul. Saya mengawali bekerja di Bernas saat masih duduk di semester 3 Fakultas Seni Rupa, ISI Yogyakarta. Masih imut-imut. Masih nggaya dengan tampilan sok seniman: rambut gondrong awut-awutan, celana jins belel dan di bagian lutut sengaja disobek hingga bolong tak beraturan, dan memakainya hingga berminggu-minggu tanpa dicuci. Pun dengan kaos yang dipotong sekenanya di bagian lengan dan kerah. Pokmen njijiki pol kae, hahaha...

Risiko yang muncul ketika memutuskan bekerja saat itu adalah kesulitan untuk berbagi waktu antara bekerja dan kuliah. Itu problem klasik. Beberapa minggu setelah bekerja, saya diminta oleh salah seorang dosen senior, pak Drs. Sun Ardi SU (almarhum), untuk datang ke rumah beliau di bilangan Parangpuluhan. Dari perbincangan berjam-jam itu, kalimat menohok yang dilontarkannya masih kuingat, kurang lebih seperti ini: “Kuss, pasti kamu akan terlambat merampungkan kuliah. Tak mungkin tidak. Tapi pastikan bahwa kamu harus bisa lulus.” Benar kata-kata beliau. Akhirnya saya baru lulus setelah kartu mahasiswa saya berjumlah 20 buah, atau setelah 10 tahun. Itu pun lulus Ph.D (Pas hampir Di-DO).

Risiko yang lain pasti banyak. Tapi saya berusaha keras untuk memberinya dengan kerangka positif karena pasti tak ada yang sempurna di dunia. Bagi saya yang waktu itu masuk kerja tapi masih berstatus mahasiswa juga nyaris tanpa banyak beban. Hobi dan minat saya tersalurkan dengan relatif baik. Apalagi dapat upah. Gaji pertama saya Rp 180.000 plus uang makan Rp 900/hari, ya, sebulan dapat sekitar Rp 200.000,-, sudah cukup untuk ukuran mahasiswa miskin seperti saya yang hidup di Yogyakarta kala itu. Uang SPP Rp 90.000/semester, sekali makan sekitar Rp 1.000-Rp 1.500 (sudah dapat telur plus teh manis), gaji itu sudah cukup. Malah bisa kemlinthi beli beberapa buku atau pil koplo, hahaha…

Lebih dari soal angka-angka rupiah itu, ada banyak pembelajaran dan pengalaman hidup yang saya dapatkan di situ. Di kantor, rekan-rekan kerja datang dari berbagai latar belakang yang sangat beragam, entah suku, agama, geografis, hingga latar belakang pendidikan dan disiplin ilmunya. Ini sangat menguntungkan bagi pengayaan batin. Dalam praktik menggambar pun saya tak bisa gegabah membuat visualisasi tanpa mengerti atau memahami latar belakang persoalan. Maka, ketika menghadapi kasus tertentu yang akan digambar, mau tak mau saya harus berdiskusi dengan teman sekantor yang latar belakangnya pas dengan suatu kasus tersebut. Setelah cukup paham, barulah saya menggambar. Begitu seterusnya.

Lama kelamaan, lingkungan dan atmosfir kantor mempersuasi saya untuk terus nge-charge otak. Sebagai tukang nggambar, saya tak bisa hanya waton (asal) nggambar, tapi harus memiliki visi atas apa yang harus digambar. Maka muatan dalam gambar sebisa mungkin ada, bahkan bervisi dan bermisi. Tuntutan itu menggiring saya untuk banyak-banyak membaca. Apapun taka da salahnya untuk dilahap. Yang penting minat dan ada rasa senang atas bacaan-bacaan itu. Bahwa itu tidak sesuai dengan disiplin ilmu yang saya tuntut, ya prek-lah, itu tidak penting.

Di kantor saya juga cukup rajin nimbrung dalam diskusi atau obrolan tidak formal atas berbagai isu yang tengah aktual. Entah dengan sesama rekan sekantor, atau sesekali bersama para intelektual atau penulis yang datang ke kantor untuk mengirimkan tulisan opininya. Para penulis itu kadang menyempatkan diri untuk ngobrol berlama-lama, dengan segala persoalan yang menjadi disiplin ilmu mereka. Lagi-lagi, itu secara pelahan, meski sedikit, mampu menjadi asupan nutrisi pengetahuan bagi saya. Itu keberuntungan yang tak ternilai ketika saya ngantor di Bernas.

Satu persatu saya jadi tahu atau kenal dengan para intelektual dan penulis muda atau cukup muda (waktu itu) yang sesekali membagi pencerahan lewat kiriman tulisan opininya ke Bernas, mulai dari Faruk HT, Heru Nugroho, Pujo Semedi, Nirwan Ahmad Arsuka, Budiawan, Made Toni Supriatma, Ngatawi Al Zastrouw, Aprinus Salam, Kris Budiman, Hairussalim, Yayan Sopyan, Adi Wicaksono, Agus Noor, Arie Sudjito, Arie G. Dwipayana, Aloysius Wisnuhardhana, Nadjib Azca, dan sekian banyak nama lain. Pun dengan banyak sosok yang menjadi punggawa di internal Bernas, mulai dari yang menjadi redaktur tamu seperti Butet Kertaradjasa, Indra Tranggono, Emha Ainun Nadjib, Rizal Mallarangeng, hingga mereka yang sempat jadi karyawan tetap, mulai dari para senior: Kuskrido Ambardi, Anggit Nugroho, Agoes Widhartono, Krisno Wibowo, Farid Wahdiono, Herry Varia, hingga yang masuk belakangan setelah saya: R. Toto Sugiharto, Dwi Kusnanto, Soni Rosari, Susi Ivvaty, dan lainnya. Lewat tulisan atau berdikusi langsung, sedikit banyak mengetahui pikiran-pikiran mereka yang menambal pengetahuanku.

Banyak pengalaman saya dapatkan di Bernas, saat kantor redaksi harian ini berada di pusat kota Yogyakarta, yakni di Jalan Jendreal Sudirman no. 52, persis bersebelahan dengan toko buku Gramedia. Terlebih lagi ketika harian ini berjaya ketika rezim Orde Baru sedang kuat-kuatnya menguasai republik ini. Bernas terbilang sebagai koran yang berani menampilkan berita atau opini yang cukup keras untuk ukuran waktu itu. Mungkin itu bagian dari kanalisasi atas kebijakan internal harian Kompas yang relatif konservatif, maka “anaknya”, ya harian Bernas, menjadi saluran atau ruang untuk meneriakkan suara kritis terhadap penguasa dengan lebih lantang. Apalagi di jajaran redaksinya banyak diawaki oleh orang-orang yang cukup muda, idealis, maka content Bernas kala itu relatif lebih galak, kritis, dan berani—misalnya bila dibandingkan dengan kompetitornya yang satu kota, yakni harian Kedaulatan Rakyat yang dianggap konservatif dan cari aman.

Jadi tak heran kalau para petinggi Bernas waktu itu tidak jarang mendapatkan telpon atau panggilan oleh penguasa di wilayah Yogyakarta dan Jawa Tengah karena memuat berita atau opini yang dianggap rezim Orde Baru telah “berpotensi mengganggu ketertiban dan ketenangan masyarakat”. Misalnya, karena Bernas memuat berita tentang pesawat latih TNI AU. Itu dianggap sebuah “pelanggaran” meski faktanya memang pesawat yang dibeli dengan uang rakyat itu betul-betul jatuh saat berlatih. Atau demo sekelompok petani yang tanahnya diserobot paksa oleh militer untuk perluasan pangkalan. Ketika ditulis sebagai berita, meski hanya satu-dua alinea, langsung membuat penguasa militer di Jawa Tengah marah besar. Pimpinan redaksi Bernas dipanggil dan diinterogasi seharian penuh seperti laiknya pelaku kriminal yang kepergok melakukan kejahatan.

Begitulah. Bernas pada zamannya sempat menjadi teman seiring bagi para aktivis kampus, pegiat LSM dan para intelektual muda idealis untuk menyuarakan pentingnya demokratisasi dalam perikehidupan berbangsa. Secara mutualistik mereka menyadari bahwa gerakan rakyat juga butuh corong penting bernama media massa, dan Bernas menjadi salah satu corong penting untuk itu di kawasan Yogyakarta.

Di sisi lain, Bernas juga menjadi salah satu ruang penting untuk menyemai bibit pikiran penting dari para intelektual muda dan menyebarkannya pada publik. Ketika menulis di harian Kompas sangat selektif, mengirim ke harian Kedaulatan Rakyat redaksinya tidak berani memuat, maka salah satu solusinya solusinya pikiran progresif para intelektual muda itu disemai lewat halaman opini harian Bernas. Salah seorang di antara mereka adalah mas Budiawan (yang kini telah menjadi doktor sejarah lulusan National University of Singapore). Dengan nada bergurau dia pernah bilang bahwa: “Aku ini termasuk Angkatan 75 Bernas. Maksudnya deretan penulis yang honornya Rp 75.000,-).

Meski secuil, harian Bernas telah ikut menandai zaman di lingkungannya sejak 72 tahun lalu. Saya pernah ikut menjadi sekrup kecil di dalamnya—dengan segala dinamikanya—tahun 1991, setahun setelah harian ini masuk dalam manajemen harian Kompas. Kalau hari ini, 1 Maret 2018, para ahli waris dan pengelolanya telah melempar handuk putih untuk menyerah pada kehendak zaman, itu juga bagian dari tanda zaman yang tak lagi “mengizinkan” surat kabar harian untuk bertahan dengan manajemen yang ala kadarnya, dan tentu, oleh karena sergapan teknologi informasi yang mematikannya.

Sugeng tindak. Sejalan jalan. Terima kasih, Bernas, yang telah menjadi bagian dari perjalanan saya untuk berproses. Semoga menemu ketenangan dan kemuliaan di haribaanmu. Kalau toh berniat mereinkarnasi, hiduplah dalam keseriusan ya! ***