Wednesday, September 05, 2018

Vallen Games








Asian Games 2018 telah berakhir manis untuk Indonesia sebagai tuan rumah. Perhelatan terbilang lancar, sukses, dan Indonesia menorehkan banyak pencapaian yang relatif luar biasa dan bersejarah. Yang memuji terus merapalkan pujian. Yang nyinyir terus menyonyorkan "bau anyir".

Perhelatan ini juga memunculkan fenomena menarik, yakni "menggusur" yang mapan, dan membintangkan yang debutan. Artis kelas tarkam (antarkampung) Via Vallen dengan gegas menjadi superstar di panggung terhormat ajang olahraga terbesar se-Asia. Bukan Raisa, Agnes Monica, Isyana Saraswati, Maudy Ayunda atau berderet nama bintang musik populer Indonesia jaman kiwari.

Nama dan reputasi Via Vallen kian melambung ketika dirinya menjadi penyanyi theme song Asian Games 2018. Unik. Lagu ciptaan Pay (mantan personil grup Slank) itu, "Meraih Bintang", dipopulerkan oleh penyanyi tarkam yang dibesarkan reputasinya dengan pentas dari kampung ke kampung. Bukan oleh diva anggun kinclong yang dibesarkan oleh sistem industri pasar musik yang begitu dominan di panggung hiburan musik Indonesia. Saya tak tahu, apakah ini juga sebuah dekonstruksi tentang proses kemunculan bintang pop yang kini tidak mesti melewati jalur standar yang telah mainstream dan beku. Via Vallen menerabas kebekuan itu, seperti halnya dulu Inul Daratista yang ngetop dengan goyang ngebornya.

Membintangnya Via Vallen sebetulnya telah tercium gelagatnya dalam setahun terakhir. Ya, (hanya) setahun! Kita bisa melacak jejak digitalnya. Tanggal 24 Februari 2017 lagu "Sayang"-nya Via terunggah di Youtube. Awal September ini, atau 1,5 tahun kemudian, lagu tersebut (dengan video clip yang sekadarnya) telah di-hit lebih dari 164 juta kali. Angka ini jauh melampaui jumlah hit pada lagu-lagunya para "artis top ibukota" semacam Agnez Mo a.k.a. Agnes Monica, Isyana Saraswati, Raisa, BCL, atau Tulus (yang menyanyikan "Indonesia Raya" pada pembukaan Asian Games lalu). Para bintang lama itu tergerus popularitasnya oleh sang bintang asal Sidoarjo, Jawa Timur, Via Vallen.

Kompetitor Via dalam setahun terakhir ini sebetulnya justru sesama penyanyi tarkam yang juga cihuy, Nella Kharisma. "Perseteruan" antar-"tifosi" keduanya pun tak kalah epik. Para Vianisty dan Nellalover begitu heroik juga fanatiknya seperti pendukung Barcelona dan Real Madrid, laiknya fans United dan Citizen di Liga Primer. Dengan lagu andalannya, "Jaran Goyang", video Nella di Youtube telah di-hit sebanyak 189,5 juta kali dalam rentang 15 bulan. Coba bandingkan dengan jumlah hit(s) pada lagu-lagu unggahan para artis lain yang lebih duluan top di Indonesia, seperti Agnes Monica dan lainnya. Hit(s) mereka kalah jauh di bawah duo debutan baru ini.

Zaman memang telah berubah dengan kepemilikan atas pola dan sistem yang juga berubah. Siapapun bisa menjadi apapun dengan cara, jalan dan modus yang berbeda dari zaman lampau. Pentas Asian Games kemarin menjadi wahana kecil atas perubahan atau pergeseran itu: perhelatan besar dibuka oleh presiden asal kampung dan "disinari" oleh vokal keren nan yahud dari "superstar" yang berproses antarkampung. Kerennya Indonesia! Yo yo ayo, yo ayo yo yo ayo!

Monday, September 03, 2018

Ora Umuk


Adagium Jawa versi suporter sepakbola di Yogya itu seperti sudah sublim di diri presiden Jokowi. "Menang ora umuk, kalah ora ngamuk". Di penutupan Asian Games ke-18, Minggu malam ini Jokowi absen, dan justru tinggal di antara kerumunan para pengungsi korban gempa bumi di Lombok.

Dia bisa umuk (sombong) ke dunia atau apa lagi lawan politiknya tentang pencapaian Indonesia dalam pesta olahraga se-Asia kali ini. Dia bisa menunggangi dengan seeksploitatif mungkin panggung upacara penutupan itu untuk forum kampanye dirinya (baik secara eufemistik atau pun sarkastik) demi pencapresannya tahun depan.

Tapi tidak. Jokowi sudah berhasil memenangkan pertarungan melawan dirinya sendiri. Dan itu, bagi saya, sudah separuh kemenangan pilpres tahun depan. Sepertinya dia sudah tanpa beban untuk tahun depan: menang ya syukur, dan kalaulah kalah tetaplah Indonesia akur. Damai.

Indonesia, tetaplah meraih sebanyak mungkin bintang! Siapa kita? Indonesia!

Friday, August 31, 2018

emiria soenassa



Tak banyak diketahui bahwa dalam sejarah seni rupa modern Indonesia kurun 1930-an hingga 1960-an ada sosok perempuan yang namanya agak tercecer dalam perbincangan. Emiria Sunassa namanya. Dia lahir di Sulawesi Utara tahun 1895 dan meninggal tahun 1964 di Lampung. Darah ningrat mengalir dalam tubuhnya karena ayahnya adalah Sultan Tidore (Maluku Utara) pada masanya.

Emiria seorang bohemian. Dia melanglang kemana-mana hingga pada satu kurun waktu menetap dan belajar di Eropa, yakni di Belgia. Dia juga pernah aktif di Persagi (Persatoean Achlie Gambar Indonesia) bersama S. Sudjojono dan para seniman senior lainnya.
Foto ini adalah salah satu karya Emiria Sunassa. Dibuat tahun 1951 dan bertajuk "Pemanah Papua/Papuan Archer". Kini menjadi salah satu koleksi perupa Nasirun, dan sedang dipamerkan di Pameran Koleksi Seni Perjuangan "Jasmerah" di Indieart House, Jl. As Samawaat no. 99, Bekelan, Tirtonirmolo, Kasihan, Bantul, Yogya, antara tanggal 17 hingga 31 Agustus 2018. Dua tahun lalu, karya ini juga pernah dipamerkan di Belgia dalam rangkaian program Europhalia.

mural



Upaya estetisasi ruang publik tidak selamanya berhasil. Dan keberhasilannya pun bisa memiliki tingkat yang berbeda-beda. Mural karya Bambang Nurdiansyah di dusun Jeblog, Tirtonirmolo, Bantul, Yogyakarta ini menurut saya merupakan salah satu karya yang berhasil. Dia membeberkan citra visual yang sederhana namun mengena. Juga menawarkan narasi yang cukup enigmatik (mengusung teka-teki), bukan membopong keasingan yang kurang relevan dengan lingkungannya (misalnya citra sosok Che Guevara yang dipaksa masuk kampung). Public art semacam mural memang idealnya mampu memeluk dan menggugah publik di sekitarnya.

Thursday, August 30, 2018

Piring Asian Games



56 tahun lalu, ya, lebih dari setengah abad lalu, Indonesia menjadi tuan rumah perhelatan besar olahraga berlevel Asia: "Asian Games" ke-9. Presiden Soekarno memerintahkan membangun sarana pendukung untuk itu, seperti stadion olahraga yang megah. Arsitek Uni Sovyet (sekarang Rusia) merancang stadion tersebut. Stasiun televisi pun dibuat dengan begitu ambisius di tengah kondisi perekonomian yang masih belum stabil.
Asian Games pun akhirnya berlangsung tahun 1962 itu. Indonesia meraih posisi 2 dalam klasemen perolehan medali. Ini pencapaian sekaligus beban sejarah yang berat dan sulit diraih kembali saat ini.

Plate atau piring bewarna dasar pink ini menjadi artifak unik untuk menengok kembali pencapaian yang pernah diraih oleh Soekarno dan bangsa Indonesia saat itu. Piring ini menjadi salah satu bagian dalam etalase dokumentasi yang ada di pameran seni rupa koleksi istana kepresidenan bertajuk kuratorial "Semangat Dunia" di Galeri Nasional Indonesia. Pameran berlangsung anyara 3-31 Agustus 2018.

Asian Games 2018 akan diikuti oleh sekitar 16.000 atlet dari sekitar 54 negara Asia. Hal baik atau buruk, positif atau negatif, yang terjadi di negeri ini selama perhelatan Asian Gsmes, niscaya akan membekas dan diingat begitu lama oleh dunia. Selamat menjadi tuan dan nyonya rumah yang baik bagi para duta olahraga se-Asia itu!

Bonjol



Lukisan "Imam Bonjol" ini dilukis oleh seniman Yogyakarta asal Kutoarjo, Jateng, Harijadi Sumadidjaja (1919-1997). Diduga karya ini dibuat "by order" atau atas pesanan presiden Soekarno yang ingin menghimpun lukisan sosok-sosok pahlawan nasional.

Sosok Imam Bonjol atau Muhammad Syahab ini dilukis oleh Harijadi tahun 1951, dengan ukuran kanvas 120 x 90,5 cm. Ulama besar dari daerah Bonjol, Sumatera Barat ini bergelar Peto Syarief Ibnu Pandito Buyanudin. Karena Imam Bonjol hidup di Sumatera Barat antara tahun 1772-1864 dan belum ada teknologi fotografi, Harijadi mengandalkan proses visualisasi sosok kiai kharismatik tersebut lewat sebuat sketsa. Sketsa itu dibuat oleh residen atau semacam walikota Padang waktu itu, Hubert de Steurs. Tahun pembuatan sketsa itu tertera: 1826, atau ketika Imam Bonjol berusia 54 tahun.

Di balik menariknya karya ini sebetulnya ada hal yang mengkhawatirkan. Kondisi lukisan sudah penuh retak dan bercak jamur ada di sebagian karya. Ini juga terjadi pada karya lain yang menjadi koleksi istana kepresidenan termasuk karya-karya Raden Saleh Sjarief Boestaman. Jamur dan retak bertebaran di sana. Kemungkinan karena perawatan dan penyimpanannya kurang memadai. Suhu ruangan terlalu panas juga kelembaban terlalu tinggi menyebabkan proses penjamuran dan peretakan berlangsung cepat.

Saya terpaksa harus membandingkan dengan karya Raden Saleh yang lain, yakni "Javanese Temple in Ruins" yang saya saksikan di National Gallery Singapore, akhir Januari lalu. Karya itu dibuat tahun 1860, dan 90 tahun terakhir disimpan di Smithsonian Museum, Washington, AS. Tapi kondisinya nyaris seperti baru. Kinclong, warnanya masih cemerlang, dan bersih dari retak serta jamur. Ini sebuah warning yang perlu perhatian serius!

Karya "Imam Bonjol" ini sedang dipamerkan dalam pameran koleksi istana kepresidenan RI bertajuk "Semangat Dunia", di Galeri Nasional Indonesia, 3-31 Agustus 2018.

Sunarto untuk Saptoto


Potret diri pendiri Sanggar Bambu, Sunarto PR ini memuat kisah cinta yang patah. Kalau tak salah, ada dua orang seniman muda mencintai satu gadis. Dalam helaan waktu berikutnya, sang gadis memilih satu di antara dua jejaka yang seniman itu. Pilihan jatuh pada jejaka bernama Saptoto. Dan yang tertampik cintanya bernama Sunarto.

Saptoto pun menikahi gadis itu. Suatu ketika, saat Saptoto berulang tahun (kemungkinan besar tahun 1956), sahabatnya, Sunarto memberikan kado ultah. Anehnya, kado itu lukisan crayon potret diri Sunarto. Bukan potret yang diberi kado.

Tampaknya Saptoto paham maksud kado tersebut. Sunarto masih menyimpan bara cinta dan ingin potret dirinya bisa sering ditatap oleh perempuan yang sudah jadi istri Saptoto. Apa lagi dalam lukisan tertulis teks, antara lain:

kerinduan
kelahiran
ooo... terlalu lengang
terlalu lengang

kapan...
kapan. kapan
kan kusambut kata
tangan-tangan sayang

jangan keburu
jangan keburu terbang, njawa

seribu blatju akan mendapat tempat di hati
seribu batu akan mendapat tempat di hati


Karya yang dibuat tanggal 8 Februari 1956 itu akhirnya tetap diterima Saptoto, tapi disingkirkan di tempat yang tersembunyi. Saptoto kelak sempat menjadi Dekan Fakultas Seni Rupa dan Disain (FSRD) ISI Yogyakarta di awal dasawarsa 1990-an.

Bertahun-tahun kemudian seniman Nasirun dikontak oleh seorang ibu yang telah sepuh. Beliau ingin menjual sebagian karya seni yang ada di rumahnya. Ibu sepuh itu adalah istri Saptoto. Dan lukisan yang hendak dilego itu adalah karya Sunarto yang jadi kado ulang tahun untuk almarhum suaminya, Saptoto.

Potongan artifak kisah cinta itu, lukisan potret diri Sunarto PR itu, kini tengah dipamerkan di Indieart House, dari 17-31 Agustus 2018. Alamat Indieart House ada di Jl. As Samawaat Barat no. 99, dusun Bekelan RT 001, Tirtonirmolo, Bantul, Yogyakarta.

Friday, August 24, 2018

“Jasmerah”: Kesaksian dan Interpretasi

Sebuah karya Agoes Djaja, koleksi Nasirun.
Oleh Kuss Indarto 

PAMERAN seni rupa “Jasmerah” ini memuat banyak makna. Pertama, ditinjau dari materi karya dan substansinya, sedikit banyak memuat potongan peristiwa yang bertalian dengan sejarah tertentu. Entah itu sejarah perjuangan bangsa, sejarah sosial sebuah kawasan, sejarah personal dan komunal, dan lainnya. Pada konteks ini, artifak dan konten karya seni bisa dibaca sebagai perangkat dokumentasi, juga sebagai sebuah kemungkinan alternatif “alat baca sejarah” di luar bentuk artifak sejarah yang lain dan mainstream. 

Kedua, pameran ini menyadarkan kembali kepada publik seni rupa akan betapa pentingnya sebuah dokumentasi. Dokumentasi tak bisa dilihat sebagai sekumpulan benda-benda lawas, lama dan mungkin kuno, namun sebagai segepok sejarah yang bisa dihidupkan kembali untuk membaca gerak peradaban dan kebudayaan pada kurun waktu jauh di belakang. Ketiga, pameran “Jasmerah” juga mengingatkan kembali pentingnya budaya pengkoleksian karya seni. Ini sebuah hobi, passion, hasrat yang belum banyak dilakukan oleh banyak orang, termasuk dalam dunia seni rupa, ketika seorang seniman menjadi kolektor karya seni rupa. Nasirun dengan kepemilikan hasrat dan modal mampu melakukannya hingga mengoleksi sekian banyak karya seni yang tak ternilai bobot sejarahnya.

Mengurai kembali poin pertama di atas, materi karya seni rupa yang berkaitan dengan sejarah dapat dicermati dalam beberapa hal. Antara lain, seniman menjadikan karya seni itu sebagai alat perekam peristiwa, sebagai saksi, dan bisa juga sebagai perangkat opini dengan segala interpretasinya. Dalam karya klasiknya The Interpretation of Culture (1973), antropolog Clifford Geertz mengatakan bahwa interpretasi adalah cara seseorang untuk memberi makna pada dunia di sekelilingnya. Dalam kajian antropologi dapat dinyatakan bahwa interpretasi selalu menjadi bagian dari praktik kebudayaan, dan setiap praktik kebudayaan adalah kegiatan sosial yang melibatkan relasi antara dua orang atau lebih. Makna tentang sebuah peristiwa yang terjadi dalam suatu ruang waktu dan tempat yang khusus merupakan negosiasi antara berbagai macam kemungkinan interpretatif yang dilakukan oleh aktor sosial.

Keterangan Geertz tersebut seperti mengonfirmasi posisi seniman dan karyanya yang pada sebagian karyanya—seperti yang terpapar dalam pameran ini—mengindikasikan ke arah itu. Seniman menjadi saksi atas sebagian peristiwa sosial dan kemudian lewat karyanya melakukan interpretasi atas persitiwa tersebut. Ada banyak sekali seniman yang melakukan hal itu, dan sebagian karyanya ada dalam pameran “Jasmerah” ini. 

Penangkapan Diponegoro 

SALAH satu karya yang secara kuat terindikasi melakukan upaya interpretasi itu adalah pada sebuah sketsa menarik. Sketsa itu dibuat dengan perspektif, kalkulasi, dan komposisi yang begitu terukur. Raden Saleh Sjarief Boestaman membuat sketsa tersebut dari pensil dengan medium kertas berukuran 24 x 31,5 cm. Tidak jelas persisnya tanggal dan bulan pembuatan sketsa itu. Tapi dipastikan pada tahun 1857, sama persis dengan tahun pembuatan karya lukisan yang menjadi karya puncak Raden Saleh: “Penangkapan Diponegoro”. Sketsa itu memang sebuah rancangan karya untuk lukisan “Penangkapan Diponegoro”.

Lukisan tersebut secara umum menggambarkan pemandangan sebuah peristiwa dramatis, yakni penangkapan oleh Kapten de Kock yang mewakili pemerintah Hindia yang menimpa diri Pangeran Diponegoro. Ada satu-dua perbedaan antara sketsa sebagai rancangan lukisan dengan lukisan yang akhirnya dibuat oleh seniman keturunan Arab kelahiran Terboyo, Semarang tahun 1911 tersebut. Pada sketsa terlihat ada sosok perempuan yang bersimpuh di kaki kiri Diponegoro. Namun dalam lukisan posisi perempuan itu berpindah di kaki kanan Diponegoro. Saya menduga ini bagian dari upaya menyempurnakan aspek “dramaturgi” dari lukisan tersebut. Kalau perempuan itu berada di kaki kiri seperi dalam sketsa, maka adegan dramatis antara Pangeran Diponegoro dan Kapten de Kock pasti terkurangi karena keberadaan sosok perempuan di antara dua lelaki yang tengah bersitegang.

Karya sketsa dan lukisan “Penangkapan Diponegoro” ini—menurut analisis kurator Werner Krauss dalam Raden Saleh, Awal Seni Lukis Modern Indonesia (2012)—memiliki acuan pada lukisan karya Louis Gallait yang bertajuk “Pengunduran Diri Kaisar Charles V Demi Putranya Philippe II Menuju Brussel pada 25 Oktober 1555”. Hal yang diacu oleh Raden Saleh itu berdampak pada kemiripannya, terutama menyangkut susunan lukisan diagonal yang meningkat bertahap, pada kelompok orang di sebelah kanan dan kiri garis diagonal, pada pembukaan peristiwa dramatis di kanan atas dan—ini yang paling penting—berdasarkan spirit lukisan Gallait. Seperti hanya semangat kebangkitan nasional yang digambarkan pada lukisan Belgia tersebut, Raden Saleh juga menggambarkan kemarahan terhadap pengkhianatan Belanda.

Dalam konteks laku kreatif sekarang ini, karya sketsa Raden Saleh bisa menjadi contoh menarik tentang metode atau metodologi kerja kreatif yang melewati tahapan yang tidak sederhana. Saleh terlihat sangat serius menyiapkan sebuah sketsa dengan pertimbangan visual berikut ukuran-ukuran yang sangat rigid, penuh kalkulatif, dan penuh detail. Dewasa ini, kerja kreatif Raden Saleh berikut pembuatan sketsa atau rancangan kerja ini sudah tidak banyak dilakukan lagi oleh seniman. Mereka ada yang lebih mengedepankan kerja penuh spontanitas yang penuh surprised. Mungkin ada yang melakukan hal tersebut, namun modus dan caranya berbeda. Mungkin memanfaatkan bantuan teknis perangkat teknologi. 

Koleksi Karya, Koleksi Cerita 

SEKUMPULAN karya dalam pameran ini hanya sebagian kecil dari segunduk koleksi karya seni Nasirun yang dikumpulkan sekian tahun. Di balik karya-karya tersebut, ada sekian banyak narasi, atau kisah yang menggelayuti dan memiliki titik relevansi dengan beragam hal, banyak orang, komunitas, kelompok, atau generasi tertentu. Ada yang bisa dikuak dan dibagi sebagai kisah yang menarik dan layak ditimba sebagai sumber pengalaman dan pengetahuan. Ada pula yang terpaksa off the record, tak layak untuk disebarluaskan, karena menyangkut problem yang mesti dirahasiakan, menjadi wadi atau pamali bagi sebagian yang lain, dan sebagainya.

Seperti kisah sketsa karya Raden Saleh yang seperti “datang sendiri” ke rumahnya, yakni ketika sang kurator pameran tunggal Raden Saleh, Werner Krauss yang berkunjung ke rumah Nasirun khusus untuk mengantarkan sktesa penuh sejarah itu. Itu terjadi setelah Werner Krauss selesai menghelat pameran tunggal dalam kerangka peringatan 200 tahun lahirnya Raden Saleh yang berlangsung di Galeri Nasional Indonesia, Jakarta, tahun 2011.

Ada pula kisah tentang karya-karya (almarhum) Ahmad Sadali, seorang pelukis abstrak asal Bandung yang namanya kini menyejarah. Nasirun mengaku seperti mendapatkan durian runtuh ketika pada suatu waktu ditelepon oleh seseorang yang merasa simpatik dengan Nasirun karena telah sanggup menghibahkan sebagian dananya untuk mengoleksi karya seni—termasuk seniman yang tidak cukup mendapatkan nama terhormat dalam panggung seni rupa Indonesia. Kisah berlanjut dengan manis ketika orang yang menelpon dan telah sekian tahun tinggal di New Zealand itu kemudian menghibahkan sekian banyak karya Ahmad Sadali. Sebuah hal yang luar biasa bagi Nasirun, tentu juga bagi potongan sejarah seni rupa Indonesia.

Dalam prosesnya, pameran ini juga berpotensi menguak narasi-narasi kecil dan tersembunyi yang layak untuk dibuka lebar-lebar sebagai perca informasi untuk kepentingan sejarah seni rupa di Indonesia. Misalnya, tentang karya patung Gatot Subroto. Dalam pameran ini ada replika patung Jenderal Gatot Subroto tersebut. Replika tersebut adalah “rancangan” yang kemudian betul-betul dibuat sebagai patung berukuran besar dan diletakkan di pertigaan Berkoh, di depan Rumah Sakit Margono, kota Purwokerto. Awalnya, saya meyakini bahwa patung itu karya seniman lulusan ITB yang juga kelahiran Kober, Purwokerto, yakni Sunaryo. Namun beberapa seniman lain menolak keyakinan saya itu, dan menyebut bahwa Sunarto PR (almarhumlah) yang membuat patung itu. Kemudian saya berinisiatif mengontak pak Sunaryo yang juga pemilik ruang seni Selasar Sunaryo untuk mempertanyakan duduk persoalan tersebut.

Lewat pesan Whatsapp saya mendapatkan jawaban yang jernih dan bijak: “Halo.. mas Indarto yg aik, Sejak menjadi mahasiswa SR sy bercita cita bikin patung (monumen) sosok tokoh Banyumas, putera daerah. Dan pak Bupati (waktu itu bupati Rudjito. ~ kuss) pas menunjuk saya untuk bikin patung pak Gatot. Segera kubuat konsep dan modelnya sekaligus. Serta merta bupati setuju, dan kutentukan lokasinya di Berkoh. Kubuat maket dgn usul jalan yang dilebarkan  (skala urban). Waktu itu jalan yang menghubungkan Purwokerto-Sokaraja teramat sempit… shg akan lebih teras dignity pak Gatot di simpang 3 jalan yang dilebarkan cukup besar itu. Dan ini kutekankan ke pak Bupati sbg syaratnya. Krn dana tidak cukup tersedia, saya 2x diminta pak Bupati untuk presentasi dlm rangka fundrising di depan public pengusaha di pendipo kabupaten Purwokerto. Setelah goal kuminta bantuan pak Narto (Sunarto PR) sg kebanggaan rekan putra daerah untuk bikin skala 1:1 sesuai yang kubayangkan. Prosesnya di Kebonjeruk, Jkt, di pak Narto. Krn sy tahu dan percaya pada mas Narto, sy cuma 2 x meng asistensi pelaksanaannya, antara lain: gesture, teksture, proporsinya.. Kerjasama sangat baik. Mas Narto pun sangat proaktifsering ke Bandung. Dan begitu selesai kumintakan mas Gardono ngecor perunggu, installationnya pun beberapa hr kutungguin di lokasi untuk menentukan posisi/arahnya. Dan di bawah sempat kutulis pematung: Sunaryo bersama tim Sunarto PR. Semoga penjelasan ini jelas ya. Matur nuwun. Salam.” 

Pesan dari pak Sunaryo itu kiranya bagian dari narasi kecil yang mungkin selama ini kita abai untuk hal-hal yang akan bermasalah di kemudian hari. Ini bukan hanya menyangkut masalah karya patung pak Sunaryo atau pak Sunarto PR, namun juga menyoal pada narasi sejarah lain yang masih bejibun tenggelam dalam rasa lupa dan abai kita akan pentingnya sejarah, pendokumentasian, dan tradisi pengkoleksian karya seni yang relatif masih sangat miskin. Apa akan terus dibiarkan seperti ini? *** 

Kuss Indarto, kurator seni rupa.

Wednesday, August 22, 2018

Garuda Journey: Menguji Kepekaan, Menakar Kesetiaan




SECARA historis, perjalanan seni rupa Indonesia banyak berhimpitan dengan konteks sosial politik yang tengah terjadi di sekitarnya. Ini dapat dibaca dan disimak dari artifak karya seni yang ada dari waktu ke waktu, dari zaman ke zaman. Kalau kita bersepakat bahwa seni rupa modern Indonesia bertitik pijak dari munculnya seniman Raden Saleh Sjarief Boestaman (1811-1880), dari sanalah kita bisa menemukan sekian banyak karya seniman asal Terboyo, Semarang ini yang menyoal tentang dunia keterkaitan karya seni rupa dan konteksnya dengan kondisi sosial politik yang terjadi (waktu itu). Kita bisa melihat, misalnya, karya puncak Raden Saleh, “Penangkapan Diponegoro” (1857). Karya ini menjadi antitesis terhadap karya Nicolaas Pieneman yang dibuat 22 tahun sebelumnya, bertajuk “Penaklukan Diponegoro” (1835). Karya Raden Saleh tersebut oleh banyak kalangan disebut menjadi masterpiece dari seluruh karya yang pernah diciptakannya karena secara substansial memuat gagasan dan persoalan yang kuat. Karya itu bukan saja sebagai lukisan, namun juga sebagai sebuah perlawanan kultural dari seorang anak jajahan terhadap pemerintah kolonial Belanda yang telah menjajah selama berabad-abad.

Dalam perjalanan sejarah seni rupa berikutnya, tak pelak, kita akan menyaksikan rentetan catatan yang setara dengan apa yang dilakukan oleh Raden Saleh, meski dengan gradasi dan perspektif yang berbeda. Pada masa perjuangan kemerdekaan, banyak seniman Hindia Belanda (sebelum bernama Indonesia) yang turut memberi kontribusi atas perjuangan bangsanya lewat karya seni. Mereka yang tergabung dalam Persagi (Persatoean Achlie Gambar Indonesia) atau di luar organisasi tersebut banyak menghasilkan karya-karya seni rupa yang memiliki bobot perjuangan untuk mencapai kemerdekaan Indonesia. Ada Affandi, S.Soedjojono, Hendra Gunawan, Emiria Soenasa, dan sekian banyak nama lain yang terlibat dalam gerak perjuangan lewat karya seni.

Pada kurun waktu berikutnya, setelah Indonesia merdeka, kepekaan banyak seniman Indonesia terhadap segenap persoalan di lingkungannya diungkapkan kembali lewat karya seni. Bentuk ungkap lewat ekspresi seni rupa itu beragam modus dan motivasinya. Ada yang secara tegas memotret sisi-sisi yang bersahaja namun menghadirkan kondisi yang memprihatinkan dari kondisi Indonesia di awal kemerdekaan. Banyak seniman dari sanggar Pelukis Rakyat yang secara kritis mempresentasikan keadaan sosial politik Indonesia senyatanya. Pun dengan kelompok atau komunitas lain, seperti Lekra, dan sebagainya. Tentu saja ada pula sekelompok seniman yang memiliki perspektif sendiri dalam berkarya seni, yang dianggap tidak memiliki sensibilitas sosial sehingga karyanya terasa turistik, cosmetically, dan hanya mengeksploitasi dimensi keindahan semata. Pada masa menjelang kemerdekaan Indonesia, karya seniman yang yang masuk dalam kategori demikian diasumsikan dengan olok-olok sebagai karya “mooi indie” atau Indie (Indonesia) yang molek, yang hanya memotret sisi kecantikan alam Indonesia saja.

Demikian seterusnya. Pada kurun dasawarsa 1970-an ada “geger” Gerakan Seni Rupa Baru di Indonesia yang salah satu intinya adalah menghasratkan karya seni rupa bisa dijadikan perangkat penting untuk mengemukakan substansi persoalan yang bertalian dengan geliat dan dinamika kehidupan sosial politik. Spirit pencarian estetik dan artistik pun juga dieksplorasi lebih jauh dan radikal pada masa itu. Dan itu memberi sumbangan penting bagi perjalanan kreatif dunia seni rupa Indonesia.

PAMERAN “Garuda Journey” ini berupaya untuk mengingatkan kembali kepada publik bahwa salah satu substansi penting dari kehadiran karya seni rupa adalah problem sensibilitasnya dalam meneropong gejala dan dinamika sosial yang tengah terjadi di lingkungan sekitarnya. Bagi sementara seniman, juga yang ada dalam pameran ini, desakan untuk mengekspresikan tema-tema sosial politik dalam karya seni tampaknya keluar dari problem internal dan eksternal. Problem internal karena dari dalam diri seniman seperti memiliki antena yang memantau dan memberi sinyal kreatif ketika menyaksikan kondisi sosial di luar dirinya dianggap bermasalah. Problem eksternal karena kondisi dan situasi pada realitas sosial yang ada memang bermasalah dan tepat untuk dijadikan subyek kreatif bagi karya seni.

Subtema “Menakar Cinta Terhadap NKRI” memberi penegasan atas tema “Garuda Journey” bahwa tampaknya ada persoalan yang mesti dikemukakan. Garuda, kita tahu, menjadi simbol negara setelah “komunitas yang terbayang” ini (imagined community, meminjam istilah Indonesianis Ben Anderson) bersepakat menyatu dengan identitas bersama bernama Indonesia. Tak mudah menyatukan ratusan suku dengan sekian ratus dialek bahasa yang berbeda yang dimiliki oleh (kini) sekitar 260 juta manusia. Secara geografis pun tak terbayangkan bisa memiliki rasa yang sama sebagai satu komunitas. Ini berbeda dengan, misalnya, India, Rusia atau China yang jauh lebih banyak populasinya, namun secara geografis terkumpul dalam satu kontinen yang menyatu. Tantangan dan potensi untuk pecah jauh lebih besar bila melihat fakta geografis yang ada di Indonesia. Namun nyatanya hingga masuk ke dasawarsa 70 usia Republik Indonesia, keutuhan wilayah masih terjaga—kecuali Timor Timur yang “hilir mudik” masuk menjadi bagian dari Indonesia tahun 1975, dan memisahkan diri menjadi Negara Timor Leste tahun 1999. Berbeda dengan Rusia yang 30 tahun lalu masih bernama Uni Sovyet dan lalu buyar berkeping-keping menjadi puluhan Negara kecil dengan Rusia sebagai negara paling besar wilayah geografisnya. Pun dengan India yang setelah merdeka dari Inggris, tak lama kemudian ada bagian dari “tubuhnya” yang memisahkan diri menjadi Pakistan dan Bangladesh.

Indonesia masih utuh. Namun di era teknologi informasi yang luar biasa cepat perkembangannya seperti sekarang ini memiliki tantangan tersendiri. Ada gelagat gerakan trans-nasional yang menggerakkan sentimen agama sebagai potensi untuk mengeroposkan sendi bahkan tulang punggung kesatuan Indonesia. Ada kemajuan teknologi internet yang bisa menjadi pisau bermata dua yang positif dan negatif bahkan fatalistik.

Ini semua merupakan hal yang tengah dicermati sebagai subyek pameran seni rupa. Pada titik ini pameran “Garuda Journey” seperti sedang (1) melakukan rememorasi atau memberi pengingatan ulang tentang simbol pemersatu, dan (2) memetakan dan mengagendakan persoalan tentang kekayaan kosa simbol pemersatu Indonesia berikut implementasinya dalam konteks ekspresi seni rupa kekinian. ***

Kuss Indarto, kurator seni rupa.

Saturday, June 30, 2018

Oom GM Sudarta, Selamat Jalan...

Sosok GM Sudarta. (foto: Kompas)

Damar, yang kini telah berkeluarga dan menetap di Yogyakarta, Jumat kemarin seharian pergi ke perumahan di bilangan Gemblengan, Kalikotes, Klaten, Jawa Tengah. Hampir sehari penuh dia membersihkan rumah besar milik orang tuanya yang telah bertahun-tahun dibiarkan kosong tanpa penghuni.

Tetangga rumah besar itu, seniman Karang Sasangka—yang juga anak pelukis senior almarhum Rustamadji—sempat menyapa dan menyatakan keheranannya karena tumben Damar datang dan bersih-bersih rumah. Rumah itu selama ini hanya dititipkan kepada salah seorang di kampung itu untuk dibersihkan sekadarnya, tapi tidak ada yang mendiaminya. “Iya, ini saya bersihkan, biar kelak anak-anak saya yang akan menempatinya,” tutur Damar seperti ditirukan oleh Karang Sasangka. Rumah dengan dua gapura khas Bali itu memang terasa wingit bila malam tiba karena bercahaya minim sementara ukuran rumah berikut pekarangannya terasa begitu besar dan luas ketimbang rumah-rumah lain di sekitarnya.


Uniknya, antara Damar dan Karang Sasangka saling menanyakan kabar ayah Damar. Dan mereka sama-sama tidak tahu karena belum meng-update berita dan kabar tentang sang ayah Damar. Damar sendiri memiliki saudara kembar perempuan (kembar dhampit) bernama Sekar—yang sama-sama tinggal di Yogyakarta. Dan ayah Damar-Sekar adalah: GM Sudarta.


Mungkin itu firasat indah yang disampaikan oleh Tuhan untuk Damar tentang kabar ayahnya. Sabtu pagi ini, 30 Juni 2018, pukul 08:25 WIB, sang ayah—GM (Gerardus Mayela) Sudarta—meninggal dunia di Bogor dalam usia 73 tahun (20 September 1945-30 Juni 2018). Penyakit gula, pengeroposan tulang dan beberapa penyakit lainnya dalam beberapa tahun terakhir telah menggerogoti tubuh laki-laki kelahiran Klaten, Jawa Tengah ini. GM Sudarta meninggalkan 2 perempuan yang pernah dinikahi, 2 putra-putri kembar dhampit dari istri kedua, dan beberapa cucu.


Selepas tidak lagi menetap di Klaten, GM Sudarta memilih tinggal di sebuah kampung di kawasan perbukitan di Bogor. Termpatnya relatif ngumpet, dan hanya segelintir sahabatnya yang diberi tahu letak persisnya rumahnya yang sekarang. Alasannya, dia betul-betul ingin menyepi di hari tuanya. Dalam tempat menyepinya itu, laki-laki yang pernah studi di ASRI (Akademi Seni Rupa Indonesia, sekarang Fakultas Seni Rupa, ISI Yogyakarta) tetap berkarya. Sesekali melukis, dan tetap menggambar karikatur atau editorial cartoon untuk harian Kompas hingga pensiun.


Buku “Berteriak dalam Bisikan” menjadi salah satu bukti terakhir dari kesetiaan dan kepiawaian sosok GM Sudarta dalam menggeluti dunia seni kartun atau karikatur. Dengan tebal hampir 400 halaman dan terbit akhir Mei 2018, buku tersebut telah memberi representasi yang begitu kuat tentang daya nalar dan daya kreatif seorang GM Sudarta yang mengabdi dunia seni dan jurnalistik lewat kembaga harian Kompas. Di situ terpapar ratusan karya karikatur GM Sudarta yang dibuat selama kariernya di harian Kompas, mulai tahun 1967 hingga resmi benar-benar pensiun pada akhir 2017. (Sebetulnya GM Sudarta sudah pamit pensiun lebih dini bertahun-tahun sebelumnya, namun oleh pendiri Kompas, Jacob Oetama, ditahan dan tidak diijinkan).


Karya-karya kartun editorialnya tidak saja memiliki karakter yang kuat, namun juga telah menambah salah satu kekuatan identitas harian Kompas. Terlebih dengan nama tokoh sentral rekaannya, yakni Oom Pasikom, yang secara jelas diambil dari kata Kompas (bacalah Pasikom beberapa kali: Pasikompasikompas…)


GM Sudarta mengaku kalau karier dan perjalanan hidupnya penuh ketakterdugaan. “Tetapi yang paling berpengaruh adalah kesempatan,” tulis GM Sudarta dalam kate pengantar buku “Berteriak dalam Bisikan”. Dia mengaku banyak kesempatan yang datang tidak terduga, dan dia dengan penuh perhitungan memanfaatkan kesempatan tersebut. Misalnya saat masih kuliah di ASRI di Yogyakarta. Ketika pihak kampus memilih dan menyertakan dirinya untuk menjadi anggota tim disainer diorama dalam pembangunan Monumen Nasional (Monas) dan Monumen Tujuh Pahlawan Revolusi di Lubang Buaya, Jakarta. Tanpa berpikir panjang, tawaran itu langsung disambarnya untuk menambah pengalaman.


Begitu pula ketika usai menuntaskan proyek diorama di Monas dan monumen di Lubang Buaya, harian Kompas menawarinya untuk bergabung sebagai ilustrator. Kesempatan itu pun langsung diambil, dengan risiko dia tidak pernah mampu menuntaskan studi formal di ASRI Yogyakarta. Risiko harus berani diambil, dan GM Sudata bisa lulus dalam “studi” di kehidupan yang sesungguhnya yang penuh tantangan dan pilihan profesi yang digelutinya hingga akhir hayat.

GM Sudarta telah berpulang, dengan meninggalkan banyak pencapaian. Dia, antara lain, menerima Hadiah Jurnalistik Adinegoro dan tropi dari PWI secara berturut-turut (1983, 1984, 1985, 1986, 1987), Best Cartoon of Nippon (2000), serta Gold Prize Tokyo No Kai (2004). Tahun 2008 berkesempatan menjadi staf pengajar tamu di Cartoon Department di Universitas Seika, Kyoto, Jepang. Tokoh ciptaannya pun pernah difilmkan. Tentu ini hanya sebagian, karena masih banyak prestasi dan pencapaian lain yang telah diraihnya.

Selamat jalan, Oom GM Sudarta! Ars Longa Vita Brevis. Engkau telah berpulang, tapi karyamu tetap terus dikenang.