Thursday, March 14, 2019

Press Release Jokowi Akan Hadiri Deklarasi Alumni Jogja SATUkan Indonesia



Bak bola salju yang terus menggelinding, kini giliran Alumni Jogja SATUkan Indonesia, akan menyelenggarakan Deklarasi bertema "Mendukung Pemimpin yang Mempersatukan", pada hari Sabtu, 23 Maret 2019, di Stadion Kridosono, Yogyakarta. Acara berlangsung pagi hingga siang hari antara pukul 08.00-13.00 WIB.

Acara yang diperkirakan dihadiri sekitar 30-an ribu orang ini, akan dihadiri langsung oleh Presiden Jokowi. Mengapa alumni Jogja terinspirasi untuk mengadakan acara akbar ini? Karena, pertama, Jogja adalah kota atau locus yang merefkeksikan ke-Indonesia-an dengan relatif cukup lengkap. Pemuda dan pemudi dari Sabang sampai Merauke berbaur menempuh pendidikan di kota ini, untuk mengasah intelektualitas dan integritas.
Kedua, Jogja adalah oase bagi kehidupan yang beragam, bhineka, tetapi tetap satu dalam ikatan kebangsaan. 

Ketiga, Alumni Jogja adalah warga masyarakat yang sedang dan pernah merasakan dan mengalami perjuangan saat membangun karakter diri dan komitmen sosial, dalam dinamika keberagaman dan keharmonisan. Para alumni ini akan merekonstruksi memori, sekaligus mengkonversinya menjadi gerakan kebudayaan yang beradab.
Keempat, konkretisasi dari peneguhan gerakan kebudayaan yang beradab itu ada dalam diri sosok Jokowi, pemimpin yang sudah, sedang, dan akan terus merealisasikan cita2 negara yang berkebudayaan itu dalam program pembangunan yang bermanfaat bagi rakyat.

Dan poin kelima, deklarasi Alumni Jogja SATUkan Indonesia ini, adalah moment yang bertujuan menggaungkan spirit akan pentingnya kehadiran figur yang dapat mempersatukan dan menyejahterakan rakyat dalam perspektif kebudayaan: memanusiakan manusia dalam visi pembangunannya.

Ajar Budi Kuncoro selaku Ketua Panitia Alumni Jogja SATUkan Indonesia menjelaskan bahwa konsep tentang "Alumni Jogja" ini tidak secara ketat merujuk pada teks "alumni" dalam konteks akademis. Maka, mereka yang bisa ikut perhelatan ini semua lapisan masyarakat Daerah Istimewa Yogyakarta dan sekitarnya, atau kawasan lain, yang pernah/sedang memiliki persentuhan dengan Jogja atau Yogyakarta karena faktor pendidikan, domisili, perkawinan, urusan pekerjaan dan berbagai alasan lain. Maka, kepesertaan dalam acara ini memiliki kelenturan selaras dengan spirit Yogyakarta sebagai "Indonesia Mini" yang mampu mengakomodasi semua kalangan.

Prosesi kedatangan Presiden Jokowi akan unik dan berbeda dibanding ketika menghadiri deklarasi di kawasan atau kota lain. Begitu sampai di bandara Adisucipto, presiden Jokowi menuju Stasiun Lempuyangan naik KA Prameks.

Dari stasiun tertua di Yogyakarta itu, Presiden kemudian akan menaiki sepeda onthel bersama dengan ratusan anggota komunitas sepeda onthel menuju ke stadion Kridosono yang jaraknya kurang dari 500 meter. Di stadion akan disambut oleh 50 rangkaian kesatuan bregodo (brigade) seni keprajuritan rakyat, reog, dan kuda lumping. Uniknya, 100 seniman kuda lumping itu memakai topeng wajah Jokowi.

Budi Kuncoro menambahkan bahwa deklarasi ini juga akan disemarakkan dengan flashmob Juki Kill the DJ, orkestra gamelan Djaduk Ferianto, musisi Sri Krishna, Band Legendaris God Bless--yang dimotori oleh Ahmad Albar, Ian Antono dan lainnya. Juga ada grup NDX yang memiliki pangsa penggemar tersendiri di Yogyakarta dan sekitarnya.

Menjelang pidato puncak oleh Presiden Jokowi, akan disampaikan deklarasi dukungan yang diwakili oleh aktor kawakan Slamet Raharjo, dan Butet Kertarajasa didampingi oleh santriwati pemilih pemula. Figur-figur ini menjadi potongan representasi kekayaan dan keberagaman wajah Yogyakarta sebagai miniature Indonesia, rumah bagi semua.
Pendekatan seni dan budaya akan sangat kental dalam perhelatan ini. Para pengisi acara akan memadukan seni-budaya tradisonal dan seni-budaya modern sebagai potret keberagaman budaya yang ada di Yogyakarta. Di dalam dan sekitar stadion juga akan dikondisikan sebagai sebuah "pasar tiban" yang melibatkan para pelaku usaha ekonomi kecil dan mikro. Pendeknya, panitia Alumni Jogja Satukan Indonesia ini tidak menyeret publik pada satu pusaran pemahaman tentang berpolitik yang mengarah pada potensi konflik dan tegangan, namun lebih mengedepankan pada upaya memanusiakan manusia Indonesia lewat atmosfir seni budaya yang menghangatkan relasi antarwarga. 

Budi Kuncoro mengharapkan bahwa acara Deklarasi Alumni Jogja Satukan Indonesia terlaksana dalam suasana ceria, aman, damai, penuh dengan persaudaraan, kekeluargaan, dan persatuan. Demi keamanan, ketertiban dan lancarnya acara peserta diharapkan mematuhi tata tertib yang sudah dibuat oleh panitia. *

TATA TERTIB DEKLARASI ALUMNI JOGJA SATUKAN INDONESIA
STADION KRIDOSONO-YOGYAKARTA, 23 MARET 2019


- Peserta dilarang membawa anak-anak di bawah usia 17 tahun
- Peserta dilarang membawa drone, senjata api, senjata tajam, minuman keras, narkoba
- Peserta wajib memakai dress-code atau kaos komunitas atau SMA/Perguruan tinggi masing-masing atau kaos Alumni Jogja SATUkan Indpnesia
- Peserta wajib mendaftarkan kepada korlap komunitas/alumni masing-masing. Untuk peserta individual bisa mendaftarkan melalui internet https://alumnijogja.com
- Peserta wajib menjaga ketertiban, keamanan, dan kelancaran acara mulai dari keberangkatan, pelaksanaan, sampai dengan kepulangan

PENDAFTARAN PESERTA DEKLARASI ALUMNI JOGJA SATUKAN INDONESIA
STADION KRIDOSONO-YOGYAKARTA, 23 MARET 2019

Open Registration
Pendaftaran Alumni Perseorangan
Peserta Deklarasi Alumni Jogja Satukan Indonesia bersama Jokowi

Stadion Kridosono, Sabtu, 23 Maret 2019, pukul 08.00-13.00
melalui link ini:
https://alumnijogja.com
Informasi kegiatan dapat diikuti melalui fb fanpage: Alumni Jogja Bersatu: https://www.facebook.com/Alumni-Jogja-Bersatu-315460812662295/
Twitter: @Jogja_BerSATU
IG: alumnijogjabersatu

CP sekretariat Alumni Jogja Satukan Indonesia
Aji (081328090937),
Retno (085742462478) - WA only,

Email: alumnijogja.1ndonesia@gmail.com
*untuk pendaftaran alumni berbasis komunitas/kelompok relawan dipersilakan menghubungi CP sekretariat.

Wednesday, February 13, 2019

Mural KPU DIY II


"Tunggal Sedulur, Sing Padha Akur". Satu saudara, tetaplah rukun. Kalimat kunci ini meƱjadi pesan utama dari karya mural yang dikerjakan oleh komunitas seni mural Seuni, Yogyakarta.

Karya ini berukuran 4 x 4 meter dan menempel di dinding sisi utara stadion Kridosono Yogyakarta. Ini dibuat sebagai partisipan dalam Lomba Mural Pemilu 2019 yang diadakan oleh KPU DIY. Tim juri yang terdiri dari Ong Hari Wahyu (seniman), Ahmad Shidqi (komisioner KPU DIY), dan Kuss Indarto (kurator seni rupa) menempatkan karya komunitas Seuni ini sebagai peraih Juara Harapan I. Lomba berlangsung 9-10 Februari 2019, dan mural terpajang untuk publik hingga tanggal 28 Februari 2019.

Mural Pemilu


Minggu sore, 10 Feb 2019, lomba mural yang dihelat oleh KPU DI Yogyakarts diumumkan para juaranya. Saya bersama mas Ong Harry Wahyu dan salah satu komisioner KPU DIY menjadi juri.

Proses penjurian diawali dengan menyeleksi disain dan konsep yang diajukan oleh para seniman peserta. Pada tahap ini terseleksi menjadi 30 kelompok seniman. Berikutnya juri berdiskusi dan memberi masukan pada disain mural yang diajukan. Dalam proses ini ada penajaman gagasan, juga penguatan korelasi karya dengan visi dan misi KPU. Lalu, selama 2 hari para seniman berkarya. Ada kebebasan dalam mengekspresikan karya, meski tentu tak lepas dari disain yang telah dibuat dan disepakati.

Saya berpotret bersama kelompok SMART dari Magelang yang berhasil menggaet juara 3. Lomba mural ini dihelat di tembok sisi luar stadion Kridosono, Yogyakarta.

Tuesday, January 08, 2019

Pameran Seni Rupa "Titik Balik" Dibuka






Dekan Fakultas Teknologi Pertanian UGM Yogyakarta, Prof.Dr.Ir. Eni Harmayanti, M.Sc., mewakili Rektor UGM, membuka resmi pameran seni rupa "Titik Balik", Sabtu siang, 5 Januari 2019. Pameran yang menggelar 90 karya Putri Pertiwi ini berlangsung di Bentara Budaya Yogyakarta (BBY), 5-13 Januari 2019.

Lebih dari 200-an orang memadati ruang pameran BBY, kemarin. Ini di luar dugaan karena pada umumnya pembukaan pameran di BBY berlangsung malam hari. Ternyata Putri Pertiwi, anak dengan down syndrome ini punya komunitasnya sendiri yang tidak sedikit. Memang tak banyak terlihat seniman dalam acara pembukaan (karena mereka sudah terbiasa datang di acara malam hari), namun banyak wajah baru yang berpotensi menjadi komunitas tetap BBY.

Pembukaan pameran ini dimeriahkan oleh 2 tarian dari para penampil yang semuanya anak-anak dengan down syndrome. Semua memiliki keunikan tersendiri. Juga ada Vari yang nyanyi dengan ciamik, diiringi Bagus Mazasupa.

Kolektor seni rupa kawakan dari Magelang, dr. Oei Hong Djien (OHD) hadir untuk memberi orasi seni sebelum pembukaan. Dalam kapasitasnya sebagai seorang dokter (yang tidak punya klinik, haha...) dan telah mengoleksi ribuan karya seni, sosok OHD terasa tepat berbicara tentang relasi antara down syndrome dan seni rupa dalam momen tersebut.
Selamat untuk mbak Putri Pertiwi. Terima kasih untuk tetamu yang telah mengikhlaskan sebagian waktunya untuk hadir di acara pembukaan pameran "Titik Balik".

Oya, pameran masih berlangsung hingga tanggal 13 Januari 2019. Di sela acara pameran, ada agenda melukis bersama bagi ABK (anak berkebutuhan khusus) & ODS (orang dengan down syndrome). Jadwal kegiatan mewarnai dan melukis itu sebagai berikut:
1. Senin, 7/1/19:
SLB MINGGIR.
2. Selasa, 8/1/19:
SLB N 1 BANTUL
3. Rabu, 9/1/19:
SLBN PEMBINA
4. Jum'at, 11/1/19:
SLB BINTARAN
5. Sabtu, 12/1/19:
POTADS.
 

Kegiatan ini berlangsung sekitar 2 jam, mulai pukul 09.00 hingga 11.00 wib. Kami tunggu Anda di Bentara Budaya Yogyakarta.

Putri Pertiwi di Kompas


Mbak Putri Pertiwi tengah berpose di depan 24 karya dari 90 karya yang terpajang. Potret ini dimuat harian Kompas, edisi Minggu, 6 Januari 2019, halaman 8. Terima kasih untuk respons dari teman-teman media, juga masyarakat umum pada Pameran Seni Rupa "Titik Balik" yang berlangsung di Bentara Budaya Yogyakarta, 5-13 Januari 2019. Pameran ini memiliki pengharapan yang lebih meluas agar publik bisa mengapresiasi karya seni, termasuk memiliki perspektif yang lebih familiar, hangat terhadap ODS (orang dengan down syndrome) seperti Putri Pertiwi.

Monday, December 31, 2018

Press Release – Pameran Seni Rupa “Titik Balik”



 
Putri Pertiwi, seorang anak down syndrome, akan menggelar karya-karya seninya mulai hari Sabtu, 5 Januari 2019 mendatang di gedung Bentara Budaya Yogyakarta (BBY), Jl. Suroto 2, Kotabaru, Yogyakarta. Karya-karya seni rupa yang dipamerkan itu terdiri dari lukisan di atas kanvas dan kertas, serta sketsa-sketsa di atas kertas. Ada sekitar 85 karya yang siap dipertontonkan ke hadapan publik. Sebagian besar karya itu dibuat dalam rentang waktu 2 tahun terakhir.

Rencananya, pameran dengan tajuk “Titik Balik” ini dibuka oleh Rektor Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, Prof. Ir. Panut Mulyono, M.Eng., D.Eng. dan dilengkapi dengan orasi seni bersama dr. Oei Hong Djien—seorang kolektor seni rupa kenamaan dari Magelang, Jawa Tengah. Juga penampilan vokalis muda, cantik penuh talenta, Vari, yang diiringi Bagus Mazasupa. Berbeda dengan kebiasaan perhelatan pameran seni rupa di Yogyakarta, kali ini pameran akan dibuka pada siang hari pukul 12.00 WIB.

Pameran seni rupa ini bertajuk “Titik Balik”, yang diandaikan sebagai upaya penting bagi Putri Pertiwi untuk bisa memperkenalkan diri sebagai anak yang berkebutuhan khusus agar bisa diapresiasi lebih jauh oleh masyarakat. Bukan saja diapresiasi karya-karyanya, namun juga keberadaannya sebagai anak down syndrome yang membutuhkan rasa empatik dari kehangatan bermasyarakat. Putri Pertiwi sendiri menjadi anak dengan down syndrome sejak lahir, dan saat ini telah berusia 27 tahun.

Sang ibu, Titiek Broto, menjadi sosok paling penting yang selama ini merawat, membimbing, dan mendampingi Putri—termasuk menggali ketertarikan anak ketiganya itu pada dunia seni rupa. Bahkan kariernya yang tengah menanjak sebagai Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kota Surabaya pun ditinggalkan. Dia memilih untuk pensiun dini, untuk kemudian merawat anak perempuan satu-satunya ini.

Sementara sekitar 1,5 tahun terakhir ini, aktivitas Putri dalam dunia gambar-menggambar lebih intensif. Seorang guru melukis yang alumnus FSRD ISI (Fakultas Seni Rupa Institut Seni Indonesia) Yogyakarta, Joelya Nurjanti (Lia) membimbing Putri seminggu dua kali. Lia mengakui bahwa dalam rentang waktu 1,5 tahun, lambat-laun sudah terasa perkembangannya. Setidaknya sensor motorik dalam diri Putri bisa aktif dengan relatif baik. “Dia bisa membuat outline sebuah obyek gambar dengan telaten dan baik hasilnya,” tutur Lia. Meski demikian, aspek penting dalam ekspresi seni, yakni spontanitas, tidak menutup kemungkinan untuk tetap dieksplorasi dalam aktivitas melukis Putri.

Menurut ibunya, Titiek Broto, Putri Pertiwi sangat terpukul saat sang ayah, Drs. Maryadi Broto S, MS meninggal dunia karena kanker tahun 2013. Putri sempat sakit dan beberapa kali opname di rumah sakit. Semangatnya untuk menggambar, terutama mewarnai, sempat mengendur. Setelah itu Putri justru menyukai untuk membuat sketsa atau melukis untuk menggambarkan realitas yang bergayut dalam imajinasinya. Misalnya, dia menggambar suasana menjelang pemakaman ayahnya. Sketsa itu sederhana namun begitu dramatis, apalagi Puteri mampu mengingat satu persatu figur yang digambarkannya—selaras dengan kemampuan artistiknya. Karya tersebut juga akan dipamerkan dalam pameran “Titik Balik” ini.

Sang ibu, Titiek Broto mengakui bahwa Puteri memiliki keterbatasan. Misalnya, bila berlatih melukis bersama pembimbingnya. “Dia hanya akan fokus dan bertahan selama satu jam. Setelah itu, konsentrasinya sudah berpindah pada yang lain. Maka, kegiatan melukis tak lagi bisa dipaksakan,” tutur Titiek. Maka, untuk sebuah lukisan kanvas berukuran sekitar 40 x 60 cm, Puteri memerlukan waktu untuk menyelesaikannya hingga 3-4 kali pertemuan.

Salah satu dosen senior di Fakultas Teknlogi Pertanian UGM, Prof. Dr. Ir. Sigit Supadmo Arief, M.Eng yang menjadi penggagas pameran ini juga menyatakan bahwa salah satu karya yang sangat menarik dari Puteri adalah sketsa tentang suasana pemakaman jenazah ayahnya. Lebih jauh dinyatakannya bahwa, “Salah satu ciri karya Putri khas adalah selalu ada garis-garis horisontal tegas dan kemudian diisi dengan warna-warna ceria.”

Sementara itu, Rektor UGM, Prof. Ir. Panut Mulyono, M.Eng., D.Eng. menyatakan simpatinya atas pameran ini. “Saya berharap pameran ini tidak hanya menjadi titik balik bagi Putri Pertiwi, namun juga menjadi momen titik balik bagi lingkungannya. Semoga karya-karya yang dipamerkan dapat memberikan inspirasi dan meningkatkan semangat juang untuk terus berkarya. Bukan hanya bagi anak-anak berkebutuhan khusus, namun juga bagi masyarakat luas,” ulas Panut.

Pameran ini rencananya berlangsung mulai tanggal 5 hingga 13 Januari 2019, terbuka dan gratis bagi masyarakat umum yang ingin menyaksikannya. Selama pameran, yakni mulai hari Senin, tanggal 7 Januari juga akan diadakan aktivitas lain seperti belajar menggambar bagi anak berkebutuhan khusus, dan kegiatan lainnya. ***

Monday, December 17, 2018

"Monumen"


NYARIS tiap kota atau kawasan di dunia—termasuk di Indonesia—berambisi memiliki identitas yang melekat. Identitas itu bisa beragam, dari yang tangible dan intangible. Keberadaan identitas itu bertalian dengan kekuasaan, baik langsung atau tak langsung. Kita paham, setiap kekuasaan membutuhkan media untuk merepresentasikan kekuasaannya. Dan bentuk-bentuk dari identitas itu—dalam konteks perbincangan ini—menjadi simbol kota atau kawasan yang koheren sebagai salah satu media yang digunakan untuk kepentingan kekuasaan tersebut.

Simbol kota juga menjadi perangkat untuk melihat relasi sosial dalam masyarakat. Pada umumnya, simbol dapat dipahami sebagai sesuatu yang bisa memberikan narasi tertentu atas sesuatu hal yang berkaitan dengan kota atau kawasan tertentu. Dalam Patches of Padang: The History of an Indonesia Town in the Twentieth Century and the Use of Urban Space (1994), Freek Colombijn mendefinisikan simbol sebagai sebuah perwujudan dengan makna tertentu yang dilekatkan padanya. Sifat-sifat dari perwujudan tersebut berhubungan dengan pengalaman-pengalaman keseharian yang berada di luar perwujudan itu sendiri. Kajian tentang simbol kota menarik dan penting untuk dilakukan dengan tiga pertimbangan. Pertama, sebagian simbol menggunakan ruang fisik, misalnya monument, tugu, patung, dan tempat ibadah. Kedua, simbol-simbol berpengaruh terhadap penggunaan ruang lainnya, dan sebaliknya dipengaruhi oleh penggunaan ruang yang lain. Ketiga, dinamika simbol-simbol kota merefleksikan perubahan dalam struktur kekuasaan.

Dalam penerapannya, politik simbolisme itu berubah dari waktu ke waktu. Dulu, pada zaman kolonialisme Hindia Belanda, simbol-simbol yang bertebaran pada sebuah kota seperti misalnya monumen, patung, nama jalan, pemakaman, tempat-tempat peribadatan, dan lainnya, dibangun mengikuti alur tempat konsentrasi mereka. Perkembangan berikutnya, pemerintah pendudukan Jepang menghancurkan satu persatu simbol-simbol tersebut dengan segera. Secara simbolik, ini juga berarti sebagai sebuah penghilangan jejak kekuasaan Hindia Belanda sebelumnya. Namun waktu itu Jepang tidak menganti patung-patung Hindia Belanda yang dihancurkannya dengan patung buatan penguasa dari Negeri Matahari Terbit. Bukti kekuasaannya disimbolkan antara lain melalui keharusan mengibarkan bendera Jepang, Amaterazu Omikami, pada hari Meizi-Setu, pemberian salam untuk menghormati prajurit Jepang dan kewajiban membungkukkan badan ke arah (kira-kira) kaisar Jepang (berada).

Ketika pemerintah pendudukan Jepang pergi dan Indonesia memerdekakan diri, situasi pun berubah. Ir. Soekarno tidak saja berperan sebagai presiden dan pemimpin Republik Indonesia, namun juga menjadi arsitek penting untuk menggeser sisa-sisa simbol-simbol kekuasaan pemerintahan Hindia Belanda (dan Jepang) yang banyak terserak di berbagai kota di Indonesia.

Kota Jakarta menjadi contoh sangat penting untuk memberi gambaran betapa simbol dan identitas kota itu merupakan representasi atas garis-garis kekuasaan yang tengah ditangani oleh Bung Karno. Simbol atas titik-titik pusat kekuasaan yang pernah ada sebelumnya seperti didekonstruksi, diubah, dan diperbarui sama sekali—menjadi gambaran simbol kekuasaan yang khas Republik Indonesia (baca” khas Soekarno). Berbeda dengan apa yang telah dilakukan oleh pemerintahan kolonial sebelumnya.

Maka, didirikanlah tugu Monas (Monumen Nasional) persis di tengah tanah lapang yang dulu diberi tetenger sebagai lapangan Ikada. Sekian banyak patung besar pun ditancapkan di situs lain sebagai bagian dari titik-titik penting atas “perancangan” kembali kota Jakarta yang berbeda dari yang telah didisain oleh pemerintah Hindia Belanda. Ada patung Selamat Datang, Tugu Dirgantara, Tugu Tani, stadion Senayan (GBK, Gelora Bung Karno), dan sekian banyak patung serta petanda lain yang menjelma menjadi landmark baru. Landmark itu seolah menjadi simbol penting untuk mengiringi praktik kekuasaan presiden Soekarno.

Dalam spirit yang kurang lebih serupa, bertahun-tahun berikutnya, Soeharto dan aparatusnya sebagai perangkat kekuasaan Orde Baru pun memproduksi simbol-simbol kekuasaannya lewat bentuk fisik seperti patung. Mereka menyusupkan simbol-simbol tersebut ke kampung-kampung di sekujur negeri. Ada misalnya “patung KB (Keluarga Berencana)” sebagai simbolisasi atas kuatnya kuku kuasa negara atas beberapa kelompok yang melakukan resistensi terhadap program KB—termasuk dari kelompok agama. Bisa jadi, ini juga menjadi simbol domestifikasi atau penjinakan negara atas masyarakat yang dikuasainya. Tetenger lainnya yang sempat tumbuh pada saat Orde Baru antara lain patung-patung polisi lalu lintas di persimpangan jalan. Mungkin ini juga bagian dari praktik kuasa panoptikon yang dipraktikkan oleh negara atas warganya. Tentu masih banyak patung lain yang bertebar di banyak kawasan di Indonesia, mulai dari patung satwa yang khas dan banyak dikembangbiakkan di pedesaan—seperti patung sapi, patung kambing, kuda, dan lain-lain. Pun ada patung atau relief durian, singkong, manggis, pisang, tembakau, dan sekian banyak tanaman pangan lainnya yang mengiringi kekhasan kawasan-kawasan tertentu.

Mata Jendela edisi kali ini mencoba membincangkan tema tentang monumen dengan segenap dinamika dan kompleksitasnya. Catatan perihal monument yang terpampang dalam edisi kali ini, setidaknya merupakan perluasan atau turunan konkret atas teori Henri Lefebvre tentang “Production of Space” yang pernah digagasnya sekitar tahun 1974. Kita tahu, Lefebvre mendedahkan setidaknya dalam tiga tema besar, yakni perihal praktik spasial (spatial space – perceived space), tentang representasi ruang (representations of space – conceived space), dan tentang ruang representasional (representational space – lived space). Sudah barang pasti, bahasan tentang monument yang ada dalam edisi ini masih jauh dari komprehensif. Namun setidaknya, semoga, bisa memberi acuan awal untuk bisa dikembangkan lebih lanjut dalam pencatatan atau kajian yang lebih serius. Siapa tahu. ***

Sunday, November 25, 2018

Haul Freddie

Wajah-wajah Freddie Mercury a.k.a. Farroukh Bulsara

27 tahun lalu, 24 November 1991, Farroukh Bulsara—yang kemudian lebih menjulang namanya sebagai Freddie Mercury—meninggal dunia. Tubuhnya digerogoti oleh salah satu penyakit yang mematikan waktu itu, yakni HIV AIDS. Dunia musik populer begitu kehilangan nama besar. Bersama Queen, Freddie Mercury telah memberi warna penting bagi dunia musik.
Setidaknya dalam sebulan terakhir nama Freddie Mercury kembali mencuat dalam medan perbincangan. Tak pelak, ini karena kehadiran film “Bohemian Rhapsody” yang tengah diputar di berbagai bioskop di seluruh dunia. Film itu tidak saja kembali mengangkat popularitas Freddie dan Queen, namun juga menjadi salah satu film laris dunia. Menurut catatan situs boxofficemojo.com dalam 21 hari pemutarannya di seluruh dunia, “Bohemian Rhapsody” diperkirakan telah menangguk keuntungan hingga $ 138,247,250 (sekitar Rp 2 triliun, dengan kurs sekarang).
Tentang film “Bohemian Rhapsody”, mungkin sudah banyak yang menyimak dan membaca ulasannya. Saya hanya ingin mengunggah sebuah reportase yang ditulis di harian “The Sun”, Inggris, yang dimuat pada tanggal 19 Juli 1985. Ya, dimuat 33 tahun lalu, persisnya 6 hari setelah berlangsungnya konser Live Aid 85 yang digagas oleh rocker Inggris Bob Geldof. Konser besar yang diduga dihadiri oleh sekitar 125.000 penonton di stadion Wembley, London ini dianggap melambungkan kembali pamor Queen dan Freddie Mercury.
Queen dianggap telah retak bahkan di ujung perpecahan setelah Freddie Mercury “dibajak” untuk membuat album solo dengan meninggalkan keterlibatan teman-temannya—Brian May, Roger Tyalor dan John Deacon. Konser Live Aid 85 mampu menguatkan kembali soliditas kelompok, dan menyadarkan Freddie sebagai bagian penting dari keluarga Queen.
Menjelang Konser Live Aid 85 juga menjadi momen penting ketika untuk pertama kalinya Freddie memperkenalkan pasangan gaynya--bernama Jim Hutton--pada ayah, ibu dan adik Freddie. Kepada sang ibu, Jer Bulsara, Freddie berpesan untuk menonton konser lewat televisi yang menyiarkan secara langsung. Freddie akan mengirim kecupan sayang pada sang ibu saat pentas. Perhatikan video tentang pentas Queen di Live Aid Concert saat lagu "Bohemian Rhapsody" dilantunkan Freddie.
Berikut terjemahan bebas dari catatan tersebut:

Akulah Sang Juara,
Mengapa Penampilan Fantastis Freddie Mencuri Perhatian di Konser Live Aid
Harian “The Sun”, 19 Juli 1985
Penggemar music rock telah bersepakat bahwa dalam beberapa tahun terakhir ini Freddie Mercury adalah yang terbesar di dunia. Dunia kini tahu persis betapa mereka—Freddie dan bandnya, Queen—telah mencuri perhatian dalam konser Live Aid yang bertabur bintang. Pertunjukan Queen itu begitu “panas”, dan berakhir menggetarkan, membuat para bintang pop hebat lainnya berdiri terpaku.
Freddie, yang begitu energik dalam usianya yang ke-38, memberikan semua kemampuan yang dimilikinya tatkala dia berada di atas panggung.
Dia berujar: "Aku mesti memenangkan hati banyak orang. Jika tidak, itu bukan pertunjukan yang sukses. Tugas sayalah untuk memastikan orang-orang memiliki kesempatan yang baik untuk menikmati pertunjukan. Itu bagian dari tugasku. Semua ini bertalian dengan pengendalian perasaan. Lagu We Are The Champions telah begitu populer bagi para penggemar sepak bola karena itu adalah lagu pemenang.
"Aku tidak percaya bahwa orang lain belum ada yang menulis lagu baru semacam itu untuk menggantikan We Are The Champion."
Pada beberapa kesempatan wawancara, Freddie dengan lepas dan lugas membincangkan tentang teman-teman sesama superstar, perihal hasil penulisan lagu yang mengeruk keuntungan mencengangkan, serta kehidupan cintanya yang menyedihkan.
Terkejut
Komposisi lagu-lagunya telah membuat Freddie sejajar keberadaannya dengan Elton John, Rod Stewart dan Michael Jackson—yang suka menyendiri.
"Saya merekam sekitar dua atau tiga lagu bersama Michael, tetapi belum ada yang perlu diungkapkan saat ini,” kata Freddie. Kedua bintang itu, Freddie dan Michael Jackson, mulai berkolaborasi merekam album “State of Shock”. Tetapi tampaknya dia (Michael) tidak punya waktu untuk menuntaskannya.
Duo Mercury-Jackson merencanakan agar album Thriller bisa sukses besar, tapi faktanya hal itu tidak kunjung datang. Bukan berarti Freddie khawatir akan beban tersebut. Toh karir bermusiknya sangat bagus, termasuk ketika ia meluncurkan album solonya, Mr Bad Guy.
"Aku senang dengan itu," katanya. "Saya senang dengan suaraku. Itu juga karena merokok. Karena merokok, aku mendapatkan sedikit suara serak itu."
Tentang salah satu lagu di album baru Freddie yang berjudul “Love Is Dangerous”, apa pandangannya? Ujarnya: "Aku bisa menjadi seorang kekasih yang baik. Tapi setelah kupikir sekian lama, sepertinya aku bukan pasangan yang sangat baik bagi siapa pun. Barangkali cintaku berbahaya, namun siapa sih yang ingin memiliki rasa cinta dengan aman?"
Tragis
"Aku dikuasai oleh cinta. Tetapi bukankah semua orang juga demikian? Sebagian besar laguku adalah lagu balada cinta dan hal-hal yang berkaitan dengan kesedihan, penyiksaan, dan rasa sakit.”
"Dalam persoalan cinta, niscaya kamu sulit mengendalikan, dan aku benci perasaan semacam itu. Aku menulis begitu banyak lagu tentang kesedihan karena aku orang yang (bernasib) sangat tragis. Namun selalu ada unsur humor pada akhirnya." Betatapun, atas semua ketenaran dan sanjungan padanya, sosok Freddie tetaplah seorang pria yang kesepian.
Dia mengatakan: "Album lagu “Living on My Own” itu sangat mewakili diriku. Aku harus pergi keliling dunia dan tinggal di hotel. Anda dapat memiliki komunitas orang yang Anda kenal yang mampu menjaga Anda. Namun pada akhirnya mereka semua pergi. Aku tidak bisa mengeluh. Aku memang harus hidup sendiri."
Freddie—pria dengan jutaan penggemar di seluruh dunia—ini mengaku memiliki beberapa sahabat. Katanya: "Ketika Anda menjadi seorang selebritas, sulit untuk mendekati seseorang dan berkata: 'Lihat, bagian bawah saya normal.' Kemudian hal yang terjadi adalah orang-orang itu menginjak harga diriku karena dengan mencoba menjadi normal pada seseorang, tiba-tiba aku bagai keluar dari cangkang diriku sendiri, lepas dari kepribadianku, dan ini menjadi begitu rentan posisinya ketimbang orang kebanyakan."
Senang-senang
"Karena aku sukses dan berlimpah uang, maka banyak orang serakah mencoba memangsa diriku. Dari hal seperti itulah aku belajar. Diriku penuh gurat-gurat luka yang mendalam, dan aku tidak mau lagi." Pengalaman itu membuat Freddie ingin beralih kembali pada para fans. Katanya: "Aku menemukan kenyataan bahwa ada orang yang membiarkan aku jatuh, namun banyak pula yang menginginkan aku kembali ke panggung. Begitu menyenangkan mengetahui bahwa begitu banyak orang menginginkan aku kembali."
Freddie juga belajar betapa nikmatnya ketenarannya itu. Dia menuturkan bahwa: "Aku dilambungkan menjadi bintang dan kupikir, ah, inilah cara seorang bintang berperilaku. Sekarang aku tidak peduli pada para bedebah itu. Aku ingin melakukan banyak hal dengan caraku sendiri, dan dengan penuh kesenangan."
"Andaikan semua uangku ludes besok, aku akan tetap merasa seperti punya uang melimpah karena (dengan kesederhanaan) itulah yang biasa kulakukan sebelumnya. Aku akan selalu berjalan seperti Poppinjay Persia dan tidak ada yang akan menghentikanku."
"Aku mencintai hidupku yang penuh liku. Inilah sifatku. Tidak ada seorang pun yang mampu mengendalikan apa yang harus aku lakukan."
Sosok Freddie adalah pengagum musik modern, dan musik modern yang luar biasa itu telah digelutinya selama bertahun-tahun. Dia mengatakan: "Saya suka grup-grup Tears For Fears, Wham!, dan Culture Club—mereka semua sangat bagus. Tapi kelompok Tears For Fears adalah favorit saya karena mereka banyak menciptakan lagu yang betul-betul sangat saya sukai."
Mimpi
"Mereka punya banyak irama yang mendayu-dayu, dan pada tempo yang berbarengan mereka memiliki banyak “daya serang”. Mereka juga punya banyak lagu sangat bagus. Saya suka Queen of Soul, Aretha Franklin, yang kemampuannya di atas rata-rata penyanyi lain. Dia memiliki suara terbaik yang pernah ada. Dia bernyanyi seperti mimpi. Aku berharap bisa bernyanyi separuh saja dari kemampuannya yang begitu alami itu.
"Dia menempatkan seluruh emosinya ke titik terdalam. Setiap kata yang dia nyanyikannya penuh makna dan ekspresi. Aku bisa mendengarkan hal itu selamanya."
Freddie mengungkapkan cintanya yang mendalam terhadap dunia opera. Inilah yang ikut mengilhami lagu legendarisnya, “Bohemian Rhapsody”. Dia mengatakan: "Montserrat Cabelle itu begitu sensasional. Emosi yang dimilikinya serupa seperti Aretha Franklin. Cara dia mengekspresikan sebuah lagu begitu alami. Ini merupakan hadiah yang sangat berbeda."
Namun band favorit Freddie tetaplah Queen yang telah menjalin kebersamaan dengannya hingga 13 tahun (pada tahun 1985). Dengan sangat keras dia menyangkal bahwa upayanya untuk membuat album solo telah mengancam masa depan salah satu band rock terbesar di dunia tersebut. Freddie berkilah: "Inilah titik penting yang mungkin akan membawa kami menjadi lebih dekat kembali demi meningkatkan karier kami di musik."
Lebih Dekat
"Hubungan saya dengan Queen seperti ketika melukis sebuah gambar. Anda harus sesekali membuat jarak dan menjauhinya untuk melihat seperti apa (kondisinya dari jauh). Saya melangkah menjauh dari Queen dan saya pikir itu akan memberi kesempatan pada setiap orang (untuk melemahkan kami dengan) tembakan di lengan.”
"Aku akan kembali berkarya dengan Queen. Tak perlu diragukan lagi. Queen akan kembali lebih besar." ***

Wednesday, November 14, 2018

Stan Lee Is Dead at 95; Superhero of Marvel Comics



By Jonathan Kandell and Andy Webster

Published On Nov. 12, 2018

If Stan Lee revolutionized the comic book world in the 1960s, which he did, he left as big a stamp — maybe bigger — on the even wider pop culture landscape of today.

Think of “Spider-Man,” the blockbuster movie franchise and Broadway spectacle. Think of “Iron Man,” another Hollywood gold-mine series personified by its star, Robert Downey Jr. Think of “Black Panther,” the box-office superhero smash that shattered big screen racial barriers in the process.

And that is to say nothing of the Hulk, the X-Men, Thor and other film and television juggernauts that have stirred the popular imagination and made many people very rich.
If all that entertainment product can be traced to one person, it would be Stan Lee, who died in Los Angeles on Monday at 95. From a cluttered office on Madison Avenue in Manhattan in the 1960s, he helped conjure a lineup of pulp-fiction heroes that has come to define much of popular culture in the early 21st century.

Mr. Lee was a central player in the creation of those characters and more, all properties of Marvel Comics. Indeed, he was for many the embodiment of Marvel, if not comic books in general, overseeing the company’s emergence as an international media behemoth. A writer, editor, publisher, Hollywood executive and tireless promoter (of Marvel and of himself), he played a critical role in what comics fans call the medium’s silver age.
Many believe that Marvel, under his leadership and infused with his colorful voice, crystallized that era, one of exploding sales, increasingly complex characters and stories, and growing cultural legitimacy for the medium. (Marvel’s chief competitor at the time, National Periodical Publications, now known as DC — the home of Superman and Batman, among other characters — augured this period, with its 1956 update of its superhero the Flash, but did not define it.)

Under Mr. Lee, Marvel transformed the comic book world by imbuing its characters with the self-doubts and neuroses of average people, as well an awareness of trends and social causes and, often, a sense of humor.

In humanizing his heroes, giving them character flaws and insecurities that belied their supernatural strengths, Mr. Lee tried “to make them real flesh-and-blood characters with personality,” he told The Washington Post in 1992.
“That’s what any story should have, but comics didn’t have until that point,” he said. 
“They were all cardboard figures.”

Energetic, gregarious, optimistic and alternately grandiose and self-effacing, Mr. Lee was an effective salesman, employing a Barnumesque syntax in print (“Face front, true believer!” “Make mine Marvel!”) to market Marvel’s products to a rabid following.

He charmed readers with jokey, conspiratorial comments and asterisked asides in narrative panels, often referring them to previous issues. In 2003 he told The Los Angeles Times, “I wanted the reader to feel we were all friends, that we were sharing some private fun that the outside world wasn’t aware of.”

Though Mr. Lee was often criticized for his role in denying rights and royalties to his artistic collaborators , his involvement in the conception of many of Marvel’s best-known characters is indisputable.

Reading Shakespeare at 10

He was born Stanley Martin Lieber on Dec. 28, 1922, in Manhattan, the older of two sons born to Jack Lieber, an occasionally employed dress cutter, and Celia (Solomon) Lieber, both immigrants from Romania. The family moved to the Bronx.

Stanley began reading Shakespeare at 10 while also devouring pulp magazines, the novels of Arthur Conan Doyle, Edgar Rice Burroughs and Mark Twain, and the swashbuckler movies of Errol Flynn.

He graduated at 17 from DeWitt Clinton High School in the Bronx and aspired to be a writer of serious literature. He was set on the path to becoming a different kind of writer when, after a few false starts at other jobs, he was hired at Timely Publications, a company owned by Martin Goodman, a relative who had made his name in pulp magazines and was entering the comics field.

Mr. Lee was initially paid $8 a week as an office gofer. Eventually he was writing and editing stories, many in the superhero genre.

At Timely he worked with the artist Jack Kirby (1917-94), who, with a writing partner, Joe Simon, had created the hit character Captain America, and who would eventually play a vital role in Mr. Lee’s career. When Mr. Simon and Mr. Kirby, Timely’s hottest stars, were lured away by a rival company, Mr. Lee was appointed chief editor.

As a writer, Mr. Lee could be startlingly prolific. “Almost everything I’ve ever written I could finish at one sitting,” he once said. “I’m a fast writer. Maybe not the best, but the fastest.”

Mr. Lee used several pseudonyms to give the impression that Marvel had a large stable of writers; the name that stuck was simply his first name split in two. (In the 1970s, he legally changed Lieber to Lee.)

During World War II, Mr. Lee wrote training manuals stateside in the Army Signal Corps while moonlighting as a comics writer. In 1947, he married Joan Boocock, a former model who had moved to New York from her native England.

His daughter Joan Celia Lee, who is known as J. C., was born in 1950; another daughter, Jan, died three days after birth in 1953. Mr. Lee’s wife died in 2017.

A lawyer for Ms. Lee, Kirk Schenck, confirmed Mr. Lee’s death, at Cedars-Sinai Medical Center in Los Angeles.

In addition to his daughter, he is survived by Ms. Lee and his younger brother, Larry Lieber, who drew the “Amazing Spider-Man” syndicated newspaper strip for years.

In the mid-1940s, the peak of the golden age of comic books, sales boomed. But later, as plots and characters turned increasingly lurid (especially at EC, a Marvel competitor that published titles like Tales From the Crypt and The Vault of Horror), many adults clamored for censorship. In 1954, a Senate subcommittee led by the Tennessee Democrat Estes Kefauver held hearings investigating allegations that comics promoted immorality and juvenile delinquency.

Feeding the senator’s crusade was the psychiatrist Fredric Wertham’s 1954 anti-comics 
jeremiad, “Seduction of the Innocent.” Among other claims, the book contended that DC’s “Batman stories” — featuring the team of Batman and Robin — were “psychologically homosexual.”

Choosing to police itself rather than accept legislation, the comics industry established the Comics Code Authority to ensure wholesome content. Gore and moral ambiguity were out, but so largely were wit, literary influences and attention to social issues. Innocuous cookie-cutter exercises in genre were in.

Many found the sanitized comics boring, and — with the new medium of television providing competition — readership, which at one point had reached 600 million sales annually, declined by almost three-quarters within a few years.

With the dimming of superhero comics’ golden age, Mr. Lee tired of grinding out generic humor, romance, western and monster stories for what had by then become Atlas Comics. Reaching a career impasse in his 30s, he was encouraged by his wife to write the comics he wanted to, not merely what was considered marketable. And Mr. Goodman, his boss, spurred by the popularity of a rebooted Flash (and later Green Lantern) at DC, wanted him to revisit superheroes.

Mr. Lee took Mr. Goodman up on his suggestion, but he carried its implications much further.

Enter the Fantastic Four

In 1961, Mr. Lee and Mr. Kirby — whom he had brought back years before to the company, now known as Marvel — produced the first issue of The Fantastic Four, about a superpowered team with humanizing dimensions: nonsecret identities, internal squabblesand, in the orange-rock-skinned Thing, self-torment. It was a hit.

Mr. Lee in 2012 at New York Comic Con. A writer, editor, publisher, Hollywood executive and tireless promoter (of Marvel and of himself), he played a critical role in what comics fans call the medium’s silver age.CreditMarion Curtis/STARPIX, via Associated Press
Other Marvel titles — like the Lee-Kirby creation The Incredible Hulk, a modern Jekyll-and-Hyde story about a decent man transformed by radiation into a monster — offered a similar template. The quintessential Lee hero, introduced in 1962 and created with the artist Steve Ditko (1927-2018), was Spider-Man.

A timid high school intellectual who gained his powers when bitten by a radioactive spider, Spider-Man was prone to soul-searching, leavened with wisecracks — a key to the character’s lasting popularity across multiple entertainment platforms, including movies and a Broadway musical.

Mr. Lee’s dialogue encompassed Catskills shtick, like Spider-Man’s patter in battle; Elizabethan idioms, like Thor’s; and working-class Lower East Side swagger, like the Thing’s. It could also include dime-store poetry, as in this eco-oratory about humans, uttered by the Silver Surfer, a space alien:

“And yet — in their uncontrollable insanity — in their unforgivable blindness — they seek to destroy this shining jewel — this softly spinning gem — this tiny blessed sphere — which men call Earth!”

Mr. Lee practiced what he called the Marvel method: Instead of handing artists scripts to illustrate, he summarized stories and let the artists draw them and fill in plot details as they chose. He then added sound effects and dialogue. Sometimes he would discover on penciled pages that new characters had been added to the narrative. Such surprises (like the Silver Surfer, a Kirby creation and a Lee favorite) would lead to questions of character ownership.

Mr. Lee was often faulted for not adequately acknowledging the contributions of his illustrators, especially Mr. Kirby. Spider-Man became Marvel’s best-known property, but Mr. Ditko, its co-creator, quit Marvel in bitterness in 1966. Mr. Kirby, who visually designed countless characters, left in 1969. Though he reunited with Mr. Lee for a Silver Surfer graphic novel in 1978, their heyday had ended.

Many comic fans believe that Mr. Kirby was wrongly deprived of royalties and original artwork in his lifetime, and for years the Kirby estate sought to acquire rights to characters that Mr. Kirby and Mr. Lee had created together. Mr. Kirby’s heirs were long rebuffed in court on the grounds that he had done “work for hire” — in other words, that he had essentially sold his art without expecting royalties.

In September 2014, Marvel and the Kirby estate reached a settlement. Mr. Lee and Mr. Kirby now both receive credit on numerous screen productions based on their work.

Turning to Live Action

Mr. Lee moved to Los Angeles in 1980 to develop Marvel properties, but most of his attempts at live-action television and movies were disappointing. (The series “The Incredible Hulk,” seen on CBS from 1978 to 1982, was an exception.)

Avi Arad, an executive at Toy Biz, a company in which Marvel had bought a controlling interest, began to revive the company’s Hollywood fortunes, particularly with an animated “X-Men” series on Fox, which ran from 1992 to 1997. (Its success helped pave the way for the live-action big-screen “X-Men” franchise, which has flourished since its first installment, in 2000.)

In the late 1990s, Mr. Lee was named chairman emeritus at Marvel and began to explore outside projects. While his personal appearances (including charging fans $120 for an autograph) were one source of income, later attempts to create wholly owned superhero properties foundered. Stan Lee Media, a digital content start-up, crashed in 2000 and landed his business partner, Peter F. Paul, in prison for securities fraud. (Mr. Lee was never charged.)

Chadwick Boseman, left, as T’Challa/Black Panther and Michael B. Jordan in “Black Panther.” It was the first Marvel movie directed by an African-American (Ryan Coogler) and starred an almost all-black cast.CreditMatt Kennedy/Marvel, Disney
In 2001, Mr. Lee started POW! Entertainment (the initials stand for “purveyors of wonder”), but he received almost no income from Marvel movies and TV series until he won a court fight with Marvel Enterprises in 2005, leading to an undisclosed settlement costing Marvel $10 million. In 2009, the Walt Disney Company, which had agreed to pay $4 billion to acquire Marvel, announced that it had paid $2.5 million to increase its stake in POW!

In Mr. Lee’s final years, after the death of his wife, the circumstances of his business affairs and contentious financial relationship with his surviving daughter attracted attention in the news media. In 2018, Mr. Lee was embroiled in disputes with POW!, and The Daily Beast and The Hollywood Reporter ran accounts of fierce infighting among Mr. Lee’s daughter, household staff and business advisers. The Hollywood Reporter claimed “elder abuse.”

In February 2018, Mr. Lee signed a notarized document declaring that three men — a lawyer, a caretaker of Mr. Lee’s and a dealer in memorabilia — had “insinuated themselves into relationships with J. C. for an ulterior motive and purpose,” to “gain control over my assets, property and money.” He later withdrew his claim, but longtime aides of his — an assistant, an accountant and a housekeeper — were either dismissed or greatly limited in their contact with him.

In a profile in The New York Times in April, a cheerful Mr. Lee said, “I’m the luckiest guy in the world,” adding that “my daughter has been a great help to me” and that “life is pretty good” — although he admitted in that same interview, “I’ve been very careless with money.”

Marvel movies, however, have proved a cash cow for major studios, if not so much for Mr. Lee. With the blockbuster “Spider-Man” in 2002, Marvel superhero films hit their stride. Such movies (including franchises starring Iron Man, Thor and the superhero team the Avengers, to name but three) together had grossed more than $24 billion worldwide as of April.

“Black Panther,” the first Marvel movie directed by an African-American (Ryan Coogler) and starring an almost all-black cast, took in about $201.8 million domestically when it opened over the four-day Presidents’ Day weekend this year, the fifth-biggest opening of all time.

Many other film properties are in development, in addition to sequels in established franchises. Characters Mr. Lee had a hand in creating now enjoy a degree of cultural penetration they have never had before.

Mr. Lee wrote a slim memoir, “Excelsior! The Amazing Life of Stan Lee,” with George Mair, published in 2002. His 2015 book, “Amazing Fantastic Incredible: A Marvelous Memoir” (written with Peter David and illustrated in comic-book form by Colleen Doran), pays abundant credit to the artists many fans believed he had shortchanged years before.

Recent Marvel films and TV shows have also often credited Mr. Lee’s former collaborators; Mr. Lee himself has almost always received an executive producer credit. His cameo appearances in them became something of a tradition. (Even “Teen Titans Go! to the Movies,” an animated feature in 2018 about a DC superteam, had more than one Lee cameo.) TV shows bearing his name or presence have included the reality series “Stan Lee’s Superhumans” and the competition show “Who Wants to Be a Superhero?”

Mr. Lee’s unwavering energy suggested that he possessed superpowers himself. (In his 90s he had a Twitter account, @TheRealStanlee.) And the National Endowment for the Arts acknowledged as much when it awarded him a National Medal of Arts in 2008. But he was frustrated, like all humans, by mortality.

“I want to do more movies, I want to do more television, more DVDs, more multi-sodes, I want to do more lecturing, I want to do more of everything I’m doing,” he said in “With Great Power …: The Stan Lee Story,” a 2010 television documentary. “The only problem is time. I just wish there were more time.”

Correction: November 12, 2018
An earlier version of this obituary misstated the amount of money the Marvel movie 
“Black Panther” has made worldwide. It is more than $1.3 billion, not $426 million.

Correction: November 12, 2018
An earlier version of this obituary misstated the last year of the animated “X-Men” series that made its debut on Fox in 1992. It lasted until 1997, not 1995.

Daniel E. Slotnik contributed reporting.

https://www.nytimes.com/2018/11/12/obituaries/stan-lee-dead.html?action=click&module=Well&pgtype=Homepage&section=Television