Saturday, June 30, 2018

Oom GM Sudarta, Selamat Jalan...

Sosok GM Sudarta. (foto: Kompas)

Damar, yang kini telah berkeluarga dan menetap di Yogyakarta, Jumat kemarin seharian pergi ke perumahan di bilangan Gemblengan, Kalikotes, Klaten, Jawa Tengah. Hampir sehari penuh dia membersihkan rumah besar milik orang tuanya yang telah bertahun-tahun dibiarkan kosong tanpa penghuni.

Tetangga rumah besar itu, seniman Karang Sasangka—yang juga anak pelukis senior almarhum Rustamadji—sempat menyapa dan menyatakan keheranannya karena tumben Damar datang dan bersih-bersih rumah. Rumah itu selama ini hanya dititipkan kepada salah seorang di kampung itu untuk dibersihkan sekadarnya, tapi tidak ada yang mendiaminya. “Iya, ini saya bersihkan, biar kelak anak-anak saya yang akan menempatinya,” tutur Damar seperti ditirukan oleh Karang Sasangka. Rumah dengan dua gapura khas Bali itu memang terasa wingit bila malam tiba karena bercahaya minim sementara ukuran rumah berikut pekarangannya terasa begitu besar dan luas ketimbang rumah-rumah lain di sekitarnya.


Uniknya, antara Damar dan Karang Sasangka saling menanyakan kabar ayah Damar. Dan mereka sama-sama tidak tahu karena belum meng-update berita dan kabar tentang sang ayah Damar. Damar sendiri memiliki saudara kembar perempuan (kembar dhampit) bernama Sekar—yang sama-sama tinggal di Yogyakarta. Dan ayah Damar-Sekar adalah: GM Sudarta.


Mungkin itu firasat indah yang disampaikan oleh Tuhan untuk Damar tentang kabar ayahnya. Sabtu pagi ini, 30 Juni 2018, pukul 08:25 WIB, sang ayah—GM (Gerardus Mayela) Sudarta—meninggal dunia di Bogor dalam usia 73 tahun (20 September 1945-30 Juni 2018). Penyakit gula, pengeroposan tulang dan beberapa penyakit lainnya dalam beberapa tahun terakhir telah menggerogoti tubuh laki-laki kelahiran Klaten, Jawa Tengah ini. GM Sudarta meninggalkan 2 perempuan yang pernah dinikahi, 2 putra-putri kembar dhampit dari istri kedua, dan beberapa cucu.


Selepas tidak lagi menetap di Klaten, GM Sudarta memilih tinggal di sebuah kampung di kawasan perbukitan di Bogor. Termpatnya relatif ngumpet, dan hanya segelintir sahabatnya yang diberi tahu letak persisnya rumahnya yang sekarang. Alasannya, dia betul-betul ingin menyepi di hari tuanya. Dalam tempat menyepinya itu, laki-laki yang pernah studi di ASRI (Akademi Seni Rupa Indonesia, sekarang Fakultas Seni Rupa, ISI Yogyakarta) tetap berkarya. Sesekali melukis, dan tetap menggambar karikatur atau editorial cartoon untuk harian Kompas hingga pensiun.


Buku “Berteriak dalam Bisikan” menjadi salah satu bukti terakhir dari kesetiaan dan kepiawaian sosok GM Sudarta dalam menggeluti dunia seni kartun atau karikatur. Dengan tebal hampir 400 halaman dan terbit akhir Mei 2018, buku tersebut telah memberi representasi yang begitu kuat tentang daya nalar dan daya kreatif seorang GM Sudarta yang mengabdi dunia seni dan jurnalistik lewat kembaga harian Kompas. Di situ terpapar ratusan karya karikatur GM Sudarta yang dibuat selama kariernya di harian Kompas, mulai tahun 1967 hingga resmi benar-benar pensiun pada akhir 2017. (Sebetulnya GM Sudarta sudah pamit pensiun lebih dini bertahun-tahun sebelumnya, namun oleh pendiri Kompas, Jacob Oetama, ditahan dan tidak diijinkan).


Karya-karya kartun editorialnya tidak saja memiliki karakter yang kuat, namun juga telah menambah salah satu kekuatan identitas harian Kompas. Terlebih dengan nama tokoh sentral rekaannya, yakni Oom Pasikom, yang secara jelas diambil dari kata Kompas (bacalah Pasikom beberapa kali: Pasikompasikompas…)


GM Sudarta mengaku kalau karier dan perjalanan hidupnya penuh ketakterdugaan. “Tetapi yang paling berpengaruh adalah kesempatan,” tulis GM Sudarta dalam kate pengantar buku “Berteriak dalam Bisikan”. Dia mengaku banyak kesempatan yang datang tidak terduga, dan dia dengan penuh perhitungan memanfaatkan kesempatan tersebut. Misalnya saat masih kuliah di ASRI di Yogyakarta. Ketika pihak kampus memilih dan menyertakan dirinya untuk menjadi anggota tim disainer diorama dalam pembangunan Monumen Nasional (Monas) dan Monumen Tujuh Pahlawan Revolusi di Lubang Buaya, Jakarta. Tanpa berpikir panjang, tawaran itu langsung disambarnya untuk menambah pengalaman.


Begitu pula ketika usai menuntaskan proyek diorama di Monas dan monumen di Lubang Buaya, harian Kompas menawarinya untuk bergabung sebagai ilustrator. Kesempatan itu pun langsung diambil, dengan risiko dia tidak pernah mampu menuntaskan studi formal di ASRI Yogyakarta. Risiko harus berani diambil, dan GM Sudata bisa lulus dalam “studi” di kehidupan yang sesungguhnya yang penuh tantangan dan pilihan profesi yang digelutinya hingga akhir hayat.

GM Sudarta telah berpulang, dengan meninggalkan banyak pencapaian. Dia, antara lain, menerima Hadiah Jurnalistik Adinegoro dan tropi dari PWI secara berturut-turut (1983, 1984, 1985, 1986, 1987), Best Cartoon of Nippon (2000), serta Gold Prize Tokyo No Kai (2004). Tahun 2008 berkesempatan menjadi staf pengajar tamu di Cartoon Department di Universitas Seika, Kyoto, Jepang. Tokoh ciptaannya pun pernah difilmkan. Tentu ini hanya sebagian, karena masih banyak prestasi dan pencapaian lain yang telah diraihnya.

Selamat jalan, Oom GM Sudarta! Ars Longa Vita Brevis. Engkau telah berpulang, tapi karyamu tetap terus dikenang.

Tuesday, June 26, 2018

Gomblang




Ini seperti blessing in disguise dalam bentuk yang berbeda. Liburan Lebaran ini rencananya ingin ke Curug (air terjun) Cipendok di kecamatan Cilongok, Banyumas, Jawa Tengah. Tapi sepertinya itu telah menjadi destinasi wisata favorit dan mainstream. Jadi terlalu riuh dan kurang nyaman. Apalagi Baturraden yang pasti lebih crowded karena terlalu banyak pengunjung.

Kendaraan kuarahkan mencari kawasan ketinggian yang mungkin ada panorama bagus. Pada sebuah persimpangan, oh, ada banner kecil yang menawarkan sebuah tempat bernama "Curug Gomblang". Ah, ternyata aku kurang gaul, ada banyak tempat wisata di Banyumas atau sekitar kota Purwokerto.

Kendaraan kupacu pelahan karena jalan tak terlalu lebar dan cukup ramai situasinya. Dari kota kecamatan Kedungbanteng ke arah utara. Desa di utara Kedungbanteng yang pernah kudatangi beberapa tahun lalu adalah desa Windujaya. Sekarang kondisi jalannya bagus tapi tetap harus hati-hati karena sempit dengan salah satu sisinya jurang sedalam belasan hingga puluhan meter.

Setelah melewati desa Windujaya, jalan makin menanjak. Sangat terjal. Kendaran dengan mesin kurang beres mungkin akan berisiko tinggi melewati kawasan ini. Mobil dengan double gardan sangat disarankan. Sepeda motor matic kurang disarankan menempuh kawasan ini karena bila turun akan berisiko dengan rem yang bisa panas dan tidak berfungsi lagi. Bisa celaka.

Batas akhir desa Windujaya sudah kami lewati. Kini jejalanan tidak lagi mulus aspalnya. Bahkan terbilang buruk karena penuh lubang dan aspal banyak terkelupas. Sesekali jalan agak membaik, tapi berganti lagi dengan jalan berkerikil dan bebatuan. Kendaraan tak mungkin dipacu lebih kencang karena pasti penuh guncangan yang tak nyaman.

Kalisalak, nama desa yang kini kami lalui. Kami sempat melewati pertigaan jalan. Bila belok ke kanan atau timur menuju tempat wisata Ketenger. Sepertinya kondisi jalan lebih buruk. Maka tetap kami putuskan untuk belok kiri/barat ke arah Curug Gomblang. Jalan agak membaik. Tapi lama karena jalan bebatuan harus dilewati hingga kemudian sampailah di gerbang masuk lokasi wisata Curug Gomblang. Kawasan itu adalah hutan lindung milik Dinas Perhutani. Mobil diparkir di situ. Ada camp area atau tempat berkemah di seputaran tempat parkir.

Berikutnya petugas menyilakan kami untuk menumpang mobil Hiace dengan bak terbuka untuk menuju lokasi Curug Gomblang. Ada jarak sekitar 1 km yang masih terentang. Jalan bebatuan dengan tanjakan dan kelokan tajam memang sulit ditempuh dengan kendaraan biasa.

Setelah sekitar 10 menit perjalanan, sampailah kami di lokasi Taman Curug Gomblang. Saya menduga ketinggian kawasan ini sama dengan daerah Baturraden, yakni sekitar 650 mdpl (meter di atas permukaan laut). Sementara lokasi air terjun Gomblang-nya sendiri masih berada sekitar 250 meter dari taman atau gardu pandang dengan berjalan turun melewati jalan setapak yang sebagian telah ditata dengan baik. Ya, tidak mudah untuk menemu tempat yang indah.

Sayang kami datang saat senja hampir tiba. Petugas tidak menyarankan kami untuk turun mendekati curug karena cahaya matahari segera melenyap, lokasi pasti segera gelap. Tak ada listrik di situ.

Panorama di sekitar Curug Goblang sangat indah. Pun dengan curug berikut sungainya yang berair sangat jernih. Mandi di sungai atau sekitar bawah curug tentu sangat segar. Tapi pasti sangat berbahaya bila masih musim penghujan. Air sungai bisa tiba-tiba meluap karena hujan jauh di hulu sungai.

Apapun, Curug Gomblang sangat menarik untuk dikunjungi bila Anda cukup waktu untuk bertandang di kabupaten Banyumas atau sekitar Purwokerto, Jawa Tengah.

Pangan(an)


Kue clorot atau dhumbeg.

Lebaran sudah berakhir meski atmosfirnya masih sedikit berpendar seminggu setelah tanggal 1-2 Syawal. Atmosfir itu dibangun, antara lain, oleh makanan yang masih tersaji di meja-meja tamu di banyak rumah yang merayakan Idul Fitri atau lebaran.

Banyaknya makanan atau kuliner yang tersaji di rumah-rumah memang menjadi salah satu penanda penting datangnya lebaran--hari istimewa orang muslim (di Indonesia). Kekayaan dan keragaman kuliner di pelbagai kawasan di Nusantara kembali (di)muncul(kan) pada momentum itu, meski mungkin lambat laun mulai surut aneka ragamnya.

Makanan lokal secara pelahan digeser oleh makanan dari luar yang dianggap mudah cara pembuatannya, awet hingga bertahan beberapa minggu, dan mudah mencari bahan bakunya. Misalnya kastengel. Kini camilan ringan asal negeri kafir Belanda ini sudah sangat populer sebagai hidangan khas lebaran.

Di meja-meja tamu masyarakat Jawa, camilan lokal sebenarnya masih cukup banyak tersedia, tapi--sekali lagi--mulai berkurang macamnya. Makanan yang seperti wajib adalah kacang bawang atau kacang telur dan kue bolu. Kadang ada pula kacang mete, tapi kini tak begitu banyak karena harga relatif tinggi juga kandungan kolesterol pun tinggi. Baru kemudian penyertanya berupa kue wajik, jenang, krasikan, tape ketan, dan beragam penganan lainnya. Ini akan beragam.

Sajian di meja orang Yogya akan berbeda ketimbang mejanya orang Solo, Semarang, Wonosobo, Pekalongan, hingga Banyumas, atau apalagi di Jawa Timur, mulai dari Pacitan, Magetan, Jember, Surabaya hingga Banyuwangi. Semua punya kekhasan tersendiri.

Zaman yang terus berputarlah yang kemudian ikut menggeser citarasa lidah orang Indonesia atau khususnya di Jawa. Pergeseran itu menguak karena berbagai musabab. Mulai dari soal kepraktisan, kemudahan, hingga prestise atau sistem pengetahuan yang mengikuti zaman itu.

Membuat dan menyantap kastengel mungkin karena faktor kemudahan membuatnya, namun juga karena prestise agar kita dianggap satu kotak nilai "modernitas"-nya dengan tetangga atau "orang kota", atau "orang londo" nun di sana.

Cara pandang yang terakhir inilah yang turut menyumbang tergeser hingga "nyumpetnya" kekayaan kuliner lokal yang telah ada berabad-abad sebelumnya. Dalam Serat Centhini yang disusun secara kolektif (mulai) tahun 1814 antara lain oleh Ranggawarsita dan dipimpin oleh seorang pangeran yang kelak menjadi Sunan Pakubuwana V, juga sekilas menyinggung soal jagat kuliner di Jawa. Meski Serat Centhini banyak dieksploitasi oleh beberapa pihak pada sisi muatannya tentang seks, namun bahasan perihal kuliner ini cukup kaya.

Singkatnya, dalam Serat Centhini dinarasikan sosok-sosok keturunan Sunan Giri di Gresik yang memilih keluar dari kenyamanan kraton akibat Adipati Surabaya telah tunduk pada kerajaan Mataram. Para keturunan Sunan Giri itu melakukan "jajah desa milangkori", melakukan perjalanan ke berbagai tempat.

Dari sanalah mereka menyerap setiap hal yang belum diketahui untuk kemudian diingat dan dicatat menjadi sumber pengetahuan baru. Kesempatan menimba pengetahuan itu ketika mereka melakukan perjalanan dan kemudian kemalaman di jalan. Saat itulah mereka menumpang menginap ke rumah penduduk atau rakyat biasa. Suguhan makanan pun dihidangkan untuk menyambut para tamu tersebut. Dialog pun terjadi, dan di situlah transfer pengetahuan menjadi momen penting.

Pengetahuan yang ditularkan oleh tuan dan nyonya rumah itu antara lain adalah tentang makanan yang disuguhkan. Tentang bahan dan cara memasaknya, untuk kepentingan apa makanan itu dibuat hingga filosofinya.

Dalam Serat Centhini disebutkan banyak makanan yang sudah begitu asing di telingga dan lidah orang Jawa sekalipun. Terlebih bagi generasi now. Misalnya: untub-untub, galemboh, jenang blowok, entul-entul, lodhoh ayam, pindhang sungsum, atau legandha. Atau ada pula makanan minim keberadaannya semisal clorot, pelas, bongko, gandhos, awug-awug, cothot dan lainnya.

Belum lagi mengenai bahan baku berbagai makanan. Kini di Indonesia banyak makanan yang didominasi oleh tepung terigu atau gandum sebagai bahan bakunya. Alhasil tepung beras relatif jadi minoritas. Dan varietas padi lokal pun secara evolutif ikut lenyap karena tak lagi banyak dikonsumsi, seperti varietas tambakmenur, jakabonglot, cendhani, juga randhamenter. Yang masih ada di pasaran kini antara lain rajalele atau menthikwangi.

Belum lagi jenis-jenis pisang yang makin sulit dicari seperti pisang becici, sidak, walingi, atau maraseba. Kita mulai menyempit pengetahuan tentang pisang, sekadar pada pisang ambon, raja, emas, kluthuk atau rajabandung.

Momentum lebaran sebenarnya bisa dijadikan sebagai upaya kultural kita untuk menghimpun kembali kosa kekayaan Nusantara pada jagat kuliner dan segala bahan pangan yang kita miliki. Kenapa tidak kita mulai hal ini sebagai gerakan nasional mulai sekarang?

Tuesday, June 12, 2018

Cinta Christo

Legenda itu bernama Christo. Lengkapnya: Christo Vladimirof Javacheff. Laki-laki sepuh yang pada 13 Juni 2018 berusia 83 tahun ini tidak menghentikan jejak kelegendaannya dengan karya-karya kolosal yang telah dibuatnya puluhan tahun lalu. Christo terus bergerak melampaui detak-detak jantungnya yang mulai melemah karena kerentaannya. Karya “seni membungkus” (sebagian kritisi seni menyebutnya sebagai seni instalasi, atau sebagaian karya lainnya diidentifikasi sebagai land art, atau environmental art) yang telah dikreasi kini menjadi jejak penting sejarah seni rupa dunia.

Karya-karyanya terasa melegenda karena sering dibuat antara lain dengan aspek kolosalitasnya yang luar biasa, anggarannya yang jumbo, dan proses pembuatan yang penuh kompleksitas. Tahun 1995, misalnya, Christo bersama istrinya Jeanne-Claude membungkus gedung parlemen Jerman (Reichstag) di Berlin. Proses membungkus gedung itu memakan waktu hingga 8 hari, 17-24 Juni 1995. Maklum, seniman kelahiran Gabrovo, Bulgaria ini mesti membungkus Reichstag dengan kain polypropylene yang tahan api seluas 100.000 meter persegi, ditambah tali sepanjang 15 kilometer untuk menjaganya agar kain tidak kabur dari posisinya. Hal yang tak kalah melelahkan dalam proyek seni ini adalah proses perijinan yang harus dilakukan oleh Christo dengan menelepon atau mengirimkan surat resmi satu persatu kepada 662 anggota parlemen, ditambah lagi dengan debat terbuka selama 70 menit di depan parlemen pada 25 Februari 1995—meski sejak awal rencana Christo sudah didukung penuh oleh Ketua Parlemen Jerman waktu itu, Rita Süssmuth.

Kemudian proyek seni Christo dan Jeanne-Claude bertajuk “The Umbrellas” yang dibuat dalam rentang waktu nyaris bersamaan, yang berlokasi di Tejon Ranch, California, Amerika Serikat (dengan memasang 1.760 payung warna kuning), dan di Ibaraki, Jepang dengan memasang 1.340 payung warna biru. Perhelatan itu berlangsung di paruh kedua tahun 1991—dan dibuka resmi pada 9 Oktober 1991.

Proyek seni Christo yang tak kalah kolosal dan menyita perhatian publik seni dunia adalah “Floating Piers”. Proyek ini telah digagas bersama sang istri—yang kebetulan tanggal, bulan dan tahun kelahirannya sama dngan sang suami—sejak tahun 1970-an. Awalnya mereka merancang karya itu untuk diterapkan di Rio de la Plata, sebuah kawasan di perbatasan antara Argentina dan Uruguay. Tapi rencana itu tertumpuk oleh berbagai proyek lain yang lebih diprioritaskan. Sayangnya, Jane-Claude meninggal pada 18 November 2009 dalam usia 74 tahun—dan proyek itu belum kunjung direalisasikan.
Impian sejoli itu berusaha tetap diwujudkan oleh sang suami meski kini memperjuangkannya sendirian. “Floating Piers” adalah proyek seni besar Christo yang dikerjakan setelah kematian sang istri. Pilihan tempatnya diubah. Tak lagi di Rio de la Plata, tapi di danau Iseo, tak jauh dari kota Brescia, Italia.

Christo merelakan dirinya tinggal di sekitar danau Iseo mulai akhir 2013 atau 4 tahun setelah kematian Jane-Claude. Sasaran proyek seni ini adalah membungkus seluruh tepian pulau mungil bernama San Paolo yang ada di tengah danau Iseo. (Mungkin seperti pulau Sibandang di tengah danau Toba di Sumatera Utara. Kalau pulau Samosir terlalu besar). Dari pulau San Paolo itu kemudian Christo membuat semacam titian panjang berbentuk cawang yang menghubungkan pada dua kawasan daratan, yakni Sulzano dan Monte Isola.
Pembungkus tepian pulau San Paolo dan jalur cawang menuju Sulzano dan Monte Isola terbuat dari bahan semacam nylon tahan air berwarna oranye kunyit. Ada 70.000 meter persegi nylon di sana. Di bawahnya terentang kotak kubus pelampung berukuran besar. Christo membutuhkan 226.000 kotak kubus, dan 220 jangkar untuk menahan ratusan ribu kotak kubus pelampung itu. Jangkar itu sendiri teronggok di dasar danau sedalam sekitar 92 meter. Proyek ini dikerjakan dengan bantuan sekitar 600 pekerja.

“Floating Piers” secara resmi dibuka dan dinikmati untuk umum pada 18 Juni, dan ditutup 3 Juli 2016. Ya, proyek seni yang dikonsep sejak hampir setengah abad lalu, menghabiskan dana hingga sekitar $17 juta dolar, mulai dikerjakan lebih dari 2 tahun, tapi “hanya” digelar selama 17 hari! Selama kurun 17 hari itu, karya Christo telah dijejaki, dikunjungi oleh sekitar 1,2 juta orang atau rata-rata 72.000 pengunjung tiap hari.

Lalu, kini, di usianya yang telah menginjak 83 tahun, apa yang sedang dilakukannya? Christo pensiun dan duduk, lalu mendongeng dengan ceriwis masa lalunya? Sibuk mengeluh atau menggunjing? Tidak. Akhir-akhir ini eyang sepuh tersebut tengah ngebut—lagi-lagi—mewujudkan mimpi lamanya. Ya, mimpi besarnya bersama bersama mendiang istri tercinta yang berasal dari Maroko, Jane-Claude. Proyek seni itu bertajuk: “The Mastaba”.

Mastaba adalah bentuk bangunan kuno serupa piramida yang belum sempurna yang diduga berawal dari budaya Mesir Kuno. Persisnya, mengikuti istilah geometrika, berbentuk prisma trapezoida. Christo sendiri menduga bangunan ini berasal dari Mesopotamia (kini Irak). Sama halnya dengan piramid, mastaba kemungkinan adalah sebentuk makam. Lagi-lagi, proyek seni ini merupakan buah dari imajinasi pasangan Christo dan Jeanne-Claude. Mereka telah menggagas 41 tahun lalu atau tahun 1977. Ini sebuah proyek seni yang dipersembahkan untuk Abu Dhabi. Maka Christo menginginkan karya ini ada di jazirah Arab. Tempat pun sudah ditentukan kala itu, setelah setidaknya dua kali survey lapangan, yakni di kawasan Al Gharbia, dekat oasis bernama Liwa, yang jaraknya berkisar 160 km dari kota Abu Dhabi.

Tapi tampaknya rencana itu tak semua mulus. Kalau memaksakan diri menempatkan karya di situs Al Gharbia, banyak kompleksitas masalah yang tak mungkinbisa tertangani semua. Mulai dari penyediaan material berikut proses pendistribusiannya ke lapangan yang jau dari permukiman, pembiayaan yang sangat mahal, hingga bertautan dengan kondisi fisik Christo yang makin menua. Maka, proyek “The Mastaba” direalisaskan di danau Serpentine, di Hyde Park, kota London, Inggris.

Ada kondisi yang jauh berbeda antara disain yang telah dirancang selama puluhan tahun oleh Christo dan situasi ketika yang tengah diwujudkan saat ini. The Mastaba akhirnya tidak akan dibuat di tengah gurun pasir, namun akan terapung di atas air danau. Awalnya diancang-ancang materi karyanya akan memakai sekitar 410.000 drum minyak, tapi pada akhirnya akan jauh drastis berkurang, yakni “hanya” memakai 7.506 drum. Besaran fisik The Mastaba tak lagi seperti disain semua yang direncanakan setinggi 150 meter, dengan panjang 300 meter dan lebar 225 meter, dan akan menjadi salah satu karya patung terbesar di dunia. Tidak. The Mastaba mungkin “hanya” akan setinggi sekitar 25 meter dengan panjang dan lebar tubuh menyesuaikan dengan besaran disain prisma trapezoida.

Tak lama lagi “The Mastaba” akan menghiasi danau Serpentine di kota London, dan kita akan mengenangnya sebagai karya seni kreasi seorang eyang sepuh yang gigih mewujudkan cintanya pada jagad seni rupa sebagai pilihan hidupnya. Kita akan mengenang Christo yang begitu mencintai dengan keras kepala pada pasangannya, Jeanne-Claude, yang bersama-sama menabur ide bersama untuk hampir semua karya-karya seni yang pernah bertebar di banyak negara dan mengukuhkan kebesaran nama dan reputasi mereka berdua.

Dan, apakah “The Mastaba” yang sejarahnya diduga adalah bangunan makam itu juga menjadi sebuah petanda bagi Christo? Saya harus menyeret nama Tuhan di sini karena Dia-lah Yang Maha Sutradara. ***

Yustoni Volunteero Berpulang

Bersama teman-teman seniman Yogya, paruh kedua 1998, Yustoni Volunteero mendirikan Taring Padi, sebuah komunitas seni rupa kerakyatan. Garis orientasi estetikanya kurang lebih berupaya menngeluti seni rupa realisme sosial yang kekiri-kirian haluan politiknya. Ya, kira-kira seperti komunitas serupa yang hidup sekitar 1950-1960-an, yakni Bumi Tarung. Komunitas Taring Padi diresmikan pendiriannya pada sebuah sore, di halaman kantor LBH (Lembaga Bantuan Hukum), bilangan Kadipaten, Yogyakarta.

Taring Padi menjadi ruang ekspresi penting seorang Yustoni. Aktivitas seninya adalah juga aktivitas politik yang cukup relevan untuk mengisi masa pancaroba setelah jatuhnya rezim Orde Baru untuk memasuki era Reformasi. Itu masa-masa penting ketika masyarakat yang telah 3 dasawarsa dikungkung oleh pemerintahan yang totaliter di bawah Soeharto, tiba-tiba menikmati kebebasan penuh. Toni dan Taring Padi bisa dibilang sebagai "art-tivist" karena beberapa aktivitas seninya dipraktikkan secara langsung dengan publik sebagai kolaboratornya. Salah satu contoh penting adalah aktivitas Festival Memedi Sawah di desa Polanharjo dan Delanggu, kabupaten Klaten pada tahun 1999. Aktivitas ini di luar gerak maintream seni rupa waktu itu karena tidak berlangsung di ruang seni yang standar, tidak berorientasi pada pasar (padahal ketika itu masih "bau-bau" booming seni rupa yang dimulai tahun 1997.

Ya, tentu itu hanya salah satu contoh kecil dari gerak Taring Padi dengan Toni sebagai salah satu motor penggerak di dalamnya. Masih banyak aktivitas lain yang menjadikan komunitas ini dianggap eksotik bagi sebagian kalangan pengamat seni budaya di mancanegara. Itulah yang memungkinkan Toni kemudian banyak menerima undangan untuk bicara dan beraktivitas di luar, seperti di Finlandia, Australia, dan lainnya.

Toni sendiri sejak masuk kuliah di Prodi Seni Lukis, ISI Yogyakarta tahun 1991, sudah aktif di pergerakan mahasiswa. Saya sebagai salah satu kakak kelasnya juga sesekali berbaur dengannya untuk kepentingan yang sama. Misalnya tahun 1992 membuat demonstrasi di halaman dan persimpangan jalan depan IAIN (sekarang UIN) Sunan Kalijaga, Yogyakarta. Teman-teman aktivis kampus lain selalu senang terlibat dalam kolaborasi ketika berdemonstrasi dengan anak-anak ISI Yogya. Pasti penuh kelucuan dan kekonyolan yang tak terpikirkan oleh mereka. Demo menjadi tidak tegang, tapi malah penuh canda. Bahkan polisi yang menjagai demonstrasi pun kadang senyam-senyum menahan tawa karena kelucuan anak-anak ISI.

Jaman kuatnya rezim Soeharto itu demonstrasi mahasiswa mulai sering dilakukan sekitar tahun 1995 hingga 1998 saat Soeharto tumbang. Tahun 1995 saya mengajak Toni, S. Teddy D., Arie Dyanto, Edo Pilu, dan Kipli (sekarang dosen ISI Surakarta) untuk ikut demo di Jepara dengan para aktivis perempuan. Ada juga seniman Dadang Christanto di rombongan. Kalau tak salah waktu itu Hari Kartini, dan tema demonya tentang dekonstruksi nilai-nilai perempuan. Alun-alun tempat upacara Hari Kartini geger. Dandim setempat marah besar dan membubarkan upacara. Kami yang berdemo dengan bertelanjang dada, hanya bercelana dalan dan tubuh penuh cat putih, diusir oleh aparat. Untung tak ada penahanan pada para demonstran.

Dalam banyak demonstrasi berikutnya Toni banyak mengambil bagian. Dan anak-anak ISI Yogyakarta selalu mencuri perhatian di antara demonstran dari kampus lain. Pusat demonstrasi biasanya di Bunderan UGM, atau UNY. Rombongan mahasiswa ISI biasanya konvoi dengan sepeda motor beserta bus kampus dan mobil pick up yang berpelat merah. Ya, mobil negara dipakai untuk mendemo pemerintah. Itu menerbitkan rasa heran mahasiswa dari kampus negeri yang lain. Kok bisa? "Ya, bisa. ISI gitu loch...", kira-kira begitu "kesombongan" kami anak-anak ISI.

Dengan kreativitas seni pula, sebagian anak-anak ISI Yogya membuat sosok patung besar dari kerangka bambu. Kemudian di bagian wajah ditempeli poster Soeharto. Patung itu dibawa ke utara gedung Balairung UGM pada tanggal 11 Maret 1998. Saat itu ada semacam apel besar untuk menolak Soeharto yang pada saat bersamaan dilantik kembali oleh Harmoko (sebagai Ketua MPR) menjadi presiden RI.

Di tengah-tengah acara yang dihadiri puluhan ribu massa, Toni dengan terbuka membakar patung itu. Wajah patung Soeharto disiram minyak dan disulutlah dengan api. Massa bertepuk tangan.

Setelah momen itu, Toni "hilang". Dia tidak ada di rumah orang tuanya di daerah Kadipiro, tidak juga di kos-kosannya. Dengar-dengar, dia ngumpet setelah pihak intel mengejarnya. Tapi untunglah dia selamat, tidak tertangkap atau terculik seperti beberapa aktivis mahasiswa lain.

Dia muncul kembali antara lain ketika kami rapat merancang aksi demonstrasi dingedung Sasana Ajiyasa di ISI Yogya kampus Gampingan. Kami kemudian bersepakat untuk berdemondi utara perempatan Wirobrajan, Yogyakarta. Nama komunitas aksi kami pun "njelehi" dan tidak heroik sama sekali. Kalau para aktivis kampus lain memberi nama dengan, misalnya "Front Mahasiswa" ini-itu, "Gabungan mahasiswa" ini-itu yang terkesan gagah, maka anak-anak ISI membentuk komunitas aksinya dengan nama "Mas Wiranto". Ini singkatan dari "Masyarakat Wirobrakan Anti Soeharto". Sangat asu, ngehek, dan tak ada heroik-heroiknya blas! Tapi terasa dekonstruktif karena demonstrasi kan bukan menakut-nakuti rakyat, tapi mengajak mereka untuk bersama-sama kritis dan tetap bisa ndhagel (jenaka).

Begitulah. Yustoni Volunteero adalah bagian dari makhluk yang kreatif, heroik tapi tetap ndhagel yang saya kenal. Senyum simpulnya lebih sering saya lihat ketimbang cemberut njaprut di wajahnya. Awal bulan Ramadan ini kami sempat terlibat dalam proyek pameran bersama dengan seniman lain di Bentara Budaya Jakarta. Ada dua karya Toni terpampang dalam pameran "Tong Edan" ini. Sayang dia tak bisa datang saat pembukaan karena masih sakit. Beberapa waktu ini Toni sering nyeletuk dan memposting sesuatu di sebuah grup WA yang saya ikuti. Saya kira sudah sehat. Tapi ternyata belum sepenuhnya sehat dari penyakit asma yang terbilang akut. Dan Tuhan memanggilnya Sabtu malam, 9 Juni 2018 sekitar pukul 23.30 WIB. Toni meninggalkan istri tercinta, Leli. Sebelumnya Toni pernah menikah dengan wanita Australia, Heidi Arbuckle.

Selamat jalan, Toni. Semoga Tuhan memuliakanmu dibtempat terindah di sisiNya. ***

Tuesday, May 29, 2018

Lapang


Saya lahir dan melewati sebagian masa kanak-kanak di asrama Brimob Baciro, kecamatan Gondokusuman, Yogyakarta. Perihal nama-nama tempat tersebut baru saya ketahui bertahun-tahun kemudian.

Kata Yogyakarta, menurut sebagian orang, berarti kota yang baik. Karta berarti kota. Yogya, sesekali dipakai untuk menyepadankan dengan kata baik, yakni "seyogyanya" yang berarti "sebaiknya". Secara subyektif saya setuju dengan pendapat tersebut. Setidaknya saya jauh lebih betah menetap di Kota Baik ini ketimbang kota lain. Untuk nama kecamatan Gondokusuman, mungkin memiliki asal-usul menarik meski sayang tak saya ketahui. Secuil yang saya ketahui, "gondo" itu aroma dan "kusuma" itu bunga atau bebungaan. Mungkin di salah satu kawasan di situ, dulu, ada sebuah lahan luas yang penuh tanaman bunga dengan penuh aroma.

Lalu, apa itu arti kelurahan Baciro? Setelah puluhan tahun, baru saya ketahui ada satu kata Jawa Kuno atau Kawi yang dugaan kuat saya mengarah ke nama kelurahan saya itu, yakni kata "bacira" yang artinya tanah lapang. Adakah relasi faktual atas kata itu? Saya hanya bisa mengingat masa kecil dulu, dasawarsa 70-an, yang sesekali bermain sepakbola di sebuah pelataran luas bertanah rata. Pelataran itu berbataskan pemakaman dan dua atau tiga jelujur jalan tanah yang kerontang dan berdebu bila kemarau.

Bertahun-tahun kemudian, setelah berpindah ke kota lain, dan sempat menengok kembali masa kecil, pelataran luas itu sudah berubah. Di situ telah berdiri stadion Mandala Krida, stadion terluas dan termegah di Yogyakarta waktu itu--mungkin juga hingga kini. Saya ingin mencoba mengonfirmasi bahwa pelataran luas itu adalah tanah yang begitu lapang yang diduga membuat daerah itu kemudian diberi identitas sebagai Baciro, dari kata Bacira.

Kenapa jadi Baciro, dan bukan Bacira? Nah, kemungkinan ini menyangkut "kearifan lokal" dari problem lidah orang Yogya "asli" (kata asli pasti akan debatable). Orang Yogya memiliki kekhasan tersendiri untuk mengucapkan huruf vokal antara A dan O. Huruf A kedua pada kata "Bacira" tidak diucapkan sebagai A yang tegas, tapi berbunyi antara A dan O. Dari sinilah, mungkin, kata Bacira lama kelamaan dituliskan secara "keliru" menjadi "Baciro". Ini seperti kata (kota) Sala yang kini lebih populer menjadi Solo. Atau kata-kata "landa" menjadi "londo" untuk menyebut orang bule atau "belanda".

Perihal penulisan A jadi O itu pasti akan menemui masalah pada kata-kata tertentu. Misalnya bila kata "lara" (artinya sakit) dituliskan sebagai "loro" (artinya dua). Atau kata "bada/bakda" (lebaran) dituliskan "bodo/bodho" yang artinya bodoh. Begitu seterusnya.
Jadi begitulah. Nama sebuah kawasan di Yogyakarta atau di daerah lain relatif bertumpu pada fakta atau realitas yang ada di dalamnya. Dinamakan kampung Gayam karena dulu di situ banyak tumbuh pohon Gayam. Bernama kampung Klitren karena di situ dulu menjadi tempat tinggal para pekerja atau kuli train (kereta api). Dan bernama Baciro karena di situ ada tanah lapang. Atau penduduknya berhati lapang seperti yang nulis setatus ini? Boleh, boleh! 😃 

**Selo, eh sela nunggu buka puasa.**

Bintang

Dengan tergesa-gesa, seorang ibu muda menaiki taksi online yang menjemput setelah beberapa menit sebelumnya dia pesan. "Bandara, pak! Cepat ya! Flight saya 1,5 jam lagi!" tukang ibu muda itu. Sopir taksi online itu pun bergegas.

Baru beberapa menit berjalan, sang penumpang setengah berteriak dari bangku tengah mobil itu. "Ngebut dikit ya, pak!" pintanya dengan cemas. "Baik, bu!"

Mobil itu pun melaju kencang. Begitu kencang. Si sopir terus menekan gas. Di sebuah tikungan, tiba-tiba ada seseorang menyeberang. Sopir kaget. Dia sudah tak kuasa mengerem dalam kecepatan sangat tinggi. Akhirnya kendaraan dibelokkan ke kiri, dan brraaakkkgghhzz...!!! 

Mobil menabrak pohon asam besar di pinggir jalan. Bagian depannya rusak berat. Tubuh sopir tergencet antara jok dan bodi depan mobil yang penyok. Wajahnya penuh darah terkena pecahan kaca.

Ibu muda di bangku tengah pucat pasi. Dia selamat meski begitu shock dengan kecelakaan tersebut. Dengan pelahan ditengoknya si sopir. "Pak, bapak gimana? Maafkan saya!" kata ibu muda itu. "Yaaa..." jawab sopir. Ah, tampaknya masih hidup tapi mungkin sekarat.

"Pak, apa yang harus saya lakukan?" ibu muda itu tampak bingung. Rambutnya diacak-acaknya sendiri. "Apa yang harus saya lakukan?" tanyanya lagi.

"Tolong beri saya bintang 5, bu!" jawab sopir dengan sisa kekuatannya. ***

Tijitibeh


Dua puluh tahun lalu, mulai 21 Mei 1998, Prof. Dr. B.J. Habibie menjadi Presiden ketiga Republik Indonesia. Itu kejutan sejarah yang mungkin tak pernah disangka bahkan oleh Habibie sendiri. Menjadi wakil presiden seolah adalah puncak karier politik manusia Indonesia di masa rezim Orde Baru. Presidennya “harus” Soeharto, dan wakil boleh siapa saja.

Habibie naik menjadi presiden untuk menggantikan Soeharto yang mengundurkan diri pada 21 Mei 1998 sekitar pukul 10.00 wib. Tapi tak disangka juga, itulah titik penting buyarnya hubungan personal antara Soeharto dan Habibie yang telah dibangun selama setengah abad. Soeharto pertama kali mengenal Rudy (sebutan Habibie) ketika dia berpangkat letnan kolonel dan bertugas di Makassar, Sulawesi Selatan, tahun 1948. Kala itu Rudy berusia 12 tahun dan Soeharto 27 tahun. Sang letkol saat itu tergabung dalam Brigade Mataram dan bertugas di Makassar, yang markasnya di Jalan Maricaya berseberangan dengan rumah dinas ayah Habibie.

Soeharto, pada puluhan tahun berikutnya selalu disebut sebagai profesor oleh Habibie. Ini bagian dari penghormatan dan kekaguman anak asal Pare-pare, Sulsel itu. Sementara Soeharto menganggap Habibie seperti anak emas (di luar anak biologisnya) karena kecerdasannya. Maka secara pelahan posisi strategis diberikan untuk Habibie, hingga puncaknya ketika jabatan wakil presiden disampirkan di pundaknya.

21 Mei 1998 adalah kekecewaan terbesar dalam sejarah hubungan Soeharto dengan Habibie. Dia mengundurkan diri sebagai presiden, namun Habibie dengan tenang tetap menggantikannya. Padahal sang Smilling General itu berharap Habibie juga mundur sekaligus—bagian dari keutuhan paket Dwi Tunggal Orde Baru yang pungkasan. Soeharto berharap prinsip “kebersamaan” dalam khasanah budaya Jawa, yakni tijitibeh juga berlaku pada Habibie. Tijitibeh itu mati siji mati kabeh, mati satu mati semuanya, atau mundur satu ya mundur semuanya.

Kemarahan itu diterapkan Soeharto dengan tidak pernah lagi menemui Habibie. Bahkan telpon pun berusaha terus untuk ditolak. Saat menjelang meninggalnya tahun 2008, saat di ruang ICU sebuah rumah sakit, bahkan pihak keluarga Soeharto konon menolak kunjungan Habibie untuk menjenguk langsung. Pencipta pesawat CN 235 itu hanya sampai di ruang tunggu VIP dan tidak diperkenankan untuk bertemu langsung dengan Sang Profesornya. Rupanya Soeharto (dan keluarganya) begitu sakit hati dan mungkin dendam atas keputusan Habibie yang tidak mau tijitibeh.

Dari kabar angin, saya pernah mendengar cerita bahwa konon akhirnya Habibie bisa menelpon Soeharto meski sebentar. Dan salah satu kalimat Soeharto begitu menusuk nuraninya: “Habibie, suatu ketika kamu akan menjadi orang yang kesepian di dunia”. Ya, seperti sebuah kutukan atau ancaman.

Soeharto akhirnya meninggal pada 27 Januari 2008 atau hampir 10 tahun setelah turun tahta. Dua tahun berikutnya, tahun 2010, sang istri tercinta, Ainun Habibie juga meninggal. Itu menjadi pukulan psikologis yang begitu dahsyat bagi Habibie. Ainun yang telah mendampingi dengan setia dan bersama dalam suka dan duka selama 45 tahun akhirnya berpulang dan meninggalkannya dalam kesepian. Mungkin benar Soeharto, saat ini Habibie tengah menyusuri ujung kehidupan dengan melewati pematang kesepian yang menusuk batinnya.

Hal yang juga menusuk batin kita, minimal saya, adalah betapa politik bisa merubuhkan bangunan hubungan persahabatan dengan keji—meski bangunan itu telah ditanam lima puluh tahun sebelumnya. Hubungan Soeharto dan Habibie adalah pengalaman pahit yang bisa menjadi buku pelajaran penting bagi kehidupan kita. ***

Saturday, April 21, 2018

Perjalanan Lanjut Makhfoed






Karya-karya dan potret diri seniman Makhfoed (1942-2018).


PERJALANAN itu telah terhenti. Dan perjalanan di dunia yang berbeda segera dimulai. Seniman Makhfoed, Rabu, 18 April 2018, sekitar pukul 23.30 wib mengakhiri perjalanan hidupnya di dunia setelah menderita sakit beberapa waktu. Seniman lulusan Akademi Seni Rupa Surabaya (Aksera) tahun 1968 ini menghembuskan nafas yang terakhir dalam usia 76 tahun.

 Makhfoed lahir di kampung tua Peneleh, Surabaya, 10 Mei 1942. Dia merupakan anak tunggal dari pasangan Abdoel Sjoekoer dan Murtosiyah. Sang ibu hanya bisa memomongnya selama setahun karena ketika dalam proses persalinan anak kedua atau adik Makhfoed, ibunya tak tertolong nyawanya. Adiknya pun meninggal sebulan setelah persalinan tersebut.

Pilihannya untuk menjadi seniman terbilang aneh bagi keluarganya, dan tentu tak mudah untuk mewujudkannya. Menjadi seniman bukanlah pilihan yang lazim. Langkah awal untuk merunuti cita-citanya itu ketika Makhfoed masuk ke Aksera angkatan kedua. Setelah lulus tahun 1968, tak mudah baginya menggeluti profesi sebagai seniman. Tahun 1976 atau 8 tahun setelah lulus Makhfoed memutuskan untuk bekerja sebagai tenaga lay-outer (penata letak perwajahan) pada mingguan Liberty, Surabaya. Itu diputuskannya setelah menikah dengan seorang gadis Bandung, Ule Julaiha. Dari pernikahan ini, pasangan Makhfoed-Julaiha mendapatkan tiga anak: Putri Handini, Indah Rosarini, dan Nuari Bramasastri. Namun Indah Rosarini terlebih dulu meninggal.

Begitulah, sembari berkarier di media cetak, Makhfoed tetap meneruskan dasar utama cita-citanya sebagai seniman lukis. Nama dan reputasinya kokoh berdiri sebagai tokoh penting seni rupa di Jawa Timur setelah generasi yang lebih senior darinya, seperti M. Daryono, Krishna Mustadjab, Amang Rahman, dan sebagainya. Ketika tahun 1996 dia mengundurkan diri dari majalah Liberty, dunia seni rupa, khususnya lukis, makin digelutinya sebagai pilihan hidup.

Karya-karyanya yang mengarah pada abstrak figuratif memiliki kekhasan tersendiri. Pertama, mayoritas karyanya berjudul “Perjalanan”. Ya, sekian banyak karyanya diberi identifikasi yang serupa, hanya “nomer serinya” yang berbeda. Kata “perjalanan” itu sendiri, kemudian bisa bermakna bahwa Makhfoed amat menghargai sebuah proses, dan perjalanan adalah bagian penting dari mekanisme sebuah proses yang terus bergerak mendinamisasi diri. Dia seperti tak ingin berhenti pada satu titik dan menguncinya sebagai sebuah monumen pencapaian. Prosesnya terus berjalan, bergerak, dan terus mencari entah sampai dimana. Sampai di titik henti bernama kematian pun, mungkin Makhfoed tak menemu kata henti ada karya-karyanya, karena sebagian besar atau semua karyanya masih berupa “Perjalanan”.

Praktik berkaryanya Makhfoed pun unik. Dia mengaku sering menghadapi kanvas tanpa ide tertentu. Begitu kuas dan cat di tangannya, kanvas di depan tubuhnya, barulah kesadaran naluriahnya bergerak. Warna-warna dasar disaputnya, untuk kemudian mengalirlah bentuk-bentuk tertentu yang beruntun “lepas” dari ujung jemarinya. Semuanya bergerak dan berimprovisasi tanpa ada tujuan untuk melukis sesuatu. Bagai air yang menemu dataran yang merendah, bagai angin yang mengembus memeluk dataran tinggi.

Dengan menyimak karya-karya Makhfoed, sulit kiranya apresian berhenti memaknainya sebagai torehan cat yang sekadarnya. Betullah kata-katanya yang membilang bahwa semua karyanya adalah “perjalanan”: seperti perangkat atau pintu masuk bagi siapapun untuk menafsir dengan segala rupa makna. Di balik absurditas rupa yang ditawarkan, ada sekian banyak simbol, ikon atau lambang yang mengasosiasikan pada persoalan dan konteks tertentu. Pada titik inilah Makhfoed sering “menghentikan” proses pemaknaan atas karyanya dengan menyerahkan sepenuhnya pada apresian atau penonton. Ya, benarlah anggapan bahwa “the author was dead”. Pengarang telah “mati”. Seniman telah berkarya, dan ketika mengetengahkan kepada publik, maka ada kekebasan bagi publik untuk menafsir—dan bisa bebas dari kungkungan tafsir tunggal seniman. Di sinilah karya Makhfoed dikayakan oleh beragam tafsir.

Selamat menuju perjalanan berikutnya, pak Makhfoed.

*Catatan pendek ini banyak bersumber dari tulisan sahabat saya, mas Henri Nurcahyo dalam bukunya “Seni Rupa Pantang Menyerah” (Surabaya: Yayasan Mataseger, 2017)

Thursday, April 12, 2018

Novel Grafis






Clink! Akhirnya sekitar pukul 08.00 Minggu pagi saya sudah berada di pameran buku Big Bad Wolf di ICE, BSD (Bumi Serpong Damai). Seperti tahun-tahun sebelumnya, lautan buku itu bikin "ngilu nikmat" di hati. Ada yang beda kali ini. Porsi buku impor untuk anak-anak lebih banyak. Buku-buku lokal juga bertambah porsinya. Saya kurang tertarik masuk ke keduanya. Membelikan buku untuk anak tanpa mengajak mereka (untuk memilih) itu bentuk lain dari pemaksaan. Sementara kalau masuk di kerumunan buku lokal, untuk apa, kalau sudah acap kali disuguhi pameran buku lokal di Yogya? 

Di "Design & Photography" section, "Architecture & Arts" section, atau "Graphic Novel" section, bagi saya, selalu ada kejutan kalau mau telaten menyisir dan memilih keriuhan buku yang bejibun itu. Kejutan kali ini adalah graphic novel atau novel grafis karya Philippe Squarzoni. Karya Si Perancis ini berjudul "Climate Change, A Personal Journey Through The Science". Tebalnya 467 halaman, belum termasuk indeks, daftar pustaka dan para narasumber yang mengayakan novel grafis ini.

Ya, Squarzoni fokus membincangkan tema perubahan iklim global pada karyanya ini. Keterbatasan pengetahuan ilmiahnya tentang tema itu membuat dia harus mengayakan bahan untuk novel grafis ini dengan mewawancarai setidaknya 9 pakar dan akademisi yang sudah bertahun-tahun bergulat dengan problem iklim atau klimatologi.

Hasilnya memang keren. Sebuah novel grafis ( = komik) yang cukup komprehensif berbicara perihal cuaca atau iklim global. Kemampuan teknis menggambar manual dari Squarzoni mampu melipatgandakan kemenarikan buku ini. Ya, komik ini manual penggarapannya, dengan sedikit campur tangan komputer.
Karya ini membedakan dari komik atau novel grafis produksi Marvel yang berjejer mengepungnya. Karya Squarzoni tampak bersahaka, cover yang terlalu lugu untuk ukuran sebuah novel grafis. Sementara komik atau novel grafis garapan grup Marvel begitu kinclong, colourful, penuh bantuan komputer yang perfeksionis, namun (bagi saya) terasa kering aspek "humanisme"-nya, apalagi temanya terus bersetia dengan heroisme para manusia super (super hero) antah berantah, ada darah, dan sesekali sadisme di sana.

Novel grafis "Climate Change"-nya Squarzoni yang berbahasa Inggris ini terbitan tahun 2014. Dua tahun sebelumnya terpilih sebagai juara dalam Festival Novel Grafis Lyon (Perancis) 2012. Sebuah karya yang layak diapresiasi, dan patut ditiru cara kerjanya oleh para komikus, juga para seniman.

Friday, March 30, 2018

Three "Mengurai" Sampah








SAYA berhenti cukup lama di booth Standing Pine, sebuah galeri komersial dari Nagoya, Jepang, yang ikut berpartisipasi di ArtStage 2018 Singapura, 27 Januari lalu. Bersama hampir seratusan galeri atau ruang seni dari berbagai negara di dunia, Standing Pine terlibat “menjajakan karya” dalam pasar seni yang makin marak di dunia—meski ArtStage Singapura tahun kini mulai berkurang crowded-nya dibanding tahun-tahun sebelumnya. Ada yang membilang bahwa banyak galeri memilih menyewa booth di Hongkong Art Fair yang lebih riuh dan waktunya tak jauh dari perhelatan ArtStage Singapura. Pun ada yang mengatakan bahwa pihak ArtStage yang bikin blunder karena membuat ArtStage Singapura di bulan Januari dan sekarang juga menghelat ArtStage Jakarta tiap bulan Juli atau Agustus. Tak heran bila galeri di Indonesia memilih untuk menyewa booth di ArtStage Jakarta ketimbang di Singapura yang relatif jauh lebih mahal. Tahun ini, hanya ada 3 atau 4 galeri yang ikut ArtStage Singapura, jauh berkurang dari tahun-tahun sebelumnya.

Standing Pine—seperti halnya segelintir galeri lain—fokus hanya memajang karya dari satu komunitas seni, yakni Three. Seperti namanya, Three memang dibentuk oleh 3 seniman muda Nagoya dengan pilihan kreatif unik. Mereka masih muda, belum cukup memuncak nama dan reputasinya, namun gelagat kreativitasnya tampak mencoba mencari jejak lain di luar garis jalan mainstream. Ada upaya eksperimentasi dalam karya-karyanya.

Output karyanya ada yang 3 dimensi meski dalam booth kali ini dominan karya dua dimensi. Itu pun tidak dua dimensi yang konvensional karena sebagian (besar) serupa karya relief yang bisa ditonton dengan cara memandang 2 dimensi. Menurut Hironori Kawasaki, salah satu personil komunitas Three yang sempat saya temui di booth, karya kreasi tersebut mereka “temukan” setelah melewati proses yang cukup panjang, dilewati berbagai eksperimen, uji coba, dengan beragam material. Sayang Kawasaki tidak menyebutkan secara detil berapa lama proses penemuan itu dilakukan. Hasil “temuan” yang dipamerkan dan menarik minat banyak pihak ini bermaterikan toys atau mainan anak-anak di Jepang yang terbuat dari karet dan bahan lain. Toys itu berujud macam-macam, tapi rata-rata tokoh manga (kartun khas Jepang) yang ditigadimensikan, atau dibonekakan. Bentuknya mungil dan lentur—bisa diremas atau dilekuk semau-mau kita, dan dia akan kembali ke bentuk semula setelah diremas atau dilekuk.

Karakter inilah yang dimanfaatkan oleh Hironori Kawasaki dan teman-temannya di komunitas Three. Caranya, mereka mengumpulkan sebanyak mungkin toys, lalu memasukkan dalam mesin press, dan menekan sekuat mungkin. Hironori mengaku tidak menggunakan bahan perekat dalam proses tersebut (meski saya ragu dengan keterangannya itu). Setelah di-press, hasilnya: semua toys yang berkerumun tadi melekat, menyatu sama lain dengan permukaan yang sama. Kemudian, eksekusi terakhir sebelum menjadi karya seni beragam cara dan bentuknya. Ada hasil press yang dikepras atau dipotong pada semua sisi samping juga belakang, dan membiarkan bagian depan. Ada pula yang semua sisi dikepras habis hingga tak kelihatan bentuk asli toys-nya, namun tinggal sisa warna “tubuh” yang sudah melekat satu sama lain. Di situlah tampak alur warna-warni yang beragam, meliuk dan menerbitkan citra artistik. Dan di sinilah salah satu capaian komunitas Three menghasilkan karya seni.

Bagi saya, ini bukan sekadar pencapaian kreatif saja, namun Three seperti mengili-ngili kesadaran masyarakat di sekitarnya perihal lingkungan hidup. Kawasaki bilang bahwa sebagian materi karya komunitasnya tersebut berasal dari limbah. Mainan bagi anak-anak tersebut tak berusia lama dalam genggaman anak-anak. Karena rusak atau rasa bosan, mainan dari karet itu kemudian menghuni bak sampah—tak terpakai lagi. Toys itu bukanlah sampah yang mudah diurai oleh bumi.

Maka, ketika “sampah masyarakat” itu dimanfaatkan kembali sebagai artifak yang bermanfaat, dan berlabel sebagai karya seni, maka karya anak-anak Three menjadi penting dan memuat makna sosial yang jauh lebih penting. Ditilik dari materialnya, karya ini bisa muncul di Jepang. Toys ini tidak cukup popular di Indonesia. Lalu, apakah para perupa di Indonesia juga berpeluang menciptakan karya sejenis ini yang memiliki kemampuan untuk membincangkan tentang lingkungan dan secara praksis mencarikan solusi (kecil-kecilan) dalam mengatasi sampah, misalnya? Mari kita tunggu saja. ***