Sunday, December 04, 2016

Rismanto (Semoga) Tak Berhenti Lama…

"Perjalanan Malam", 2015, 150 x 250 cm, cat minyak di atas kanvas, karya Rismanto.

Oleh Kuss Indarto

(Catatan ini dimuat dalam buku Pameran Tunggal Rismanto: "Awas Spoor", Taman Budaya Yogyakarta, 3-12 Desember 2016)
 
Naik kereta api tut... tut... tut...
Siapa hendak turut?
Ke Bandung, Surabaya…
Bolehlah naik dengan percuma
Ayo, kawanku lekas naik
Kretaku tak berhenti lama

Lagu anak-anak judul “Kereta Apiku” atau “Naik Kereta Api” diperkirakan pertama kali dipopulerkan oleh RRI (Radio Republik Indonesia) pada awal dasawarsa 1960-an. Kini, puluhan tahun kemudian, lagu ciptaan Saridjah Niung Bintang Soedibio atau yang lebih karib dipanggil sebagai ibu Soed tersebut telah menjadi salah satu lagu anak-anak yang legendaris di Indonesia.

Ada nuansa kegembiraan dalam lagu tersebut. Dan kalau digali lebih jauh pada bait pertama lirik lagu ini mengisyaratkan sebuah ungkapan akan harapan dan cita-cita anak-anak Indonesia atas transportasi publik aatau massal di Indonesia. Penggalan lirik ‘bolehlah naik dengan naik percuma’ (percuma atau cuma-cuma) menunjukkan ekspektasi terhadap penyediaan transportasi yang terjangkau secara ekonomis oleh rakyat karena layanan transportasi bisa disediakan secara ‘percuma’ (gratis) atau setidaknya bertarif rendah. Tentu saja peluang ini hanya bisa direngkuh jika negara atau pemerintah memiliki paradigma pemenuhan hak rakyat, bukan paradigma penyediaan jasa, apalagi liberalisasi layanan publik.

Kemudian penggalan lirik ‘ayo kawanku lekas naik... keretaku tak berhenti lama’ seperti memberi isyarat tentang cita-cita akan adanya layanan transportasi yang efisien, tepat waktu, disiplin, sehingga masyarakat pengguna moda transportasi ini tidak perlu membuang-buang waktu karena keterlambatan armada. Lagu “Kereta Apiku” ini, menurut beberapa sumber, diciptakan oleh Ibu Soed berdasar pengalaman masa kecilnya ketika sesekali bepergian naik kereta api dari kota kelahirannya, Sukabumi, menuju ke Surabaya dengan melewati jalur tengah dan selatan (pulau Jawa). Maka tak heran bila lirik yang dibuat menunjukkan rute kereta api yang ditempuhnya waktu itu, yakni dari Bandung ke Surabaya. Mungkin itu begitu membekas pada Dan jalur yang dilewatinya itu, dulu, mesti melampaui sekian banyak stasiun kereta api yang jumlahnya jauh lebih banyak dibanding yang ada sekarang. Bahkan kini stasiun atau jalur rel kereta api banyak yang dimatikan karena berbagai faktor.

***

Jagad perkeretaapian sendiri, untuk konteks Indonesia, diawali sebagai sebuah gagasan yang bernuansa politis. Persisnya sebagai bagian dari strategi militer untuk memotong garis konflik yang telah membawa banyak korban dengan menguras berbagai sumberdaya. Ya, gagasan pembangunan rel kereta api justru diinisiatifi oleh Kolonel Van Der Wijk. Dia mengusulkan agar dibangun rel kereta api di Jawa antara Surabaya-Surakarta-Yogyakarta-Bandung-Batavia. Jalur ini dibangun untuk kepentingan militer sebagai siasat untuk mengantisipasi perlawanan susulan dari sisa-sisa pendukung Pangeran Diponegoro setelah Perang Jawa berakhir (1825-1830). Namun dalam gelombang pemikiran yang relatif sama, para pengusaha perkebunan di Jawa menginginkan adanya jalur rel kereta api untuk memudahkan pengangkutan komoditas hasil perkebunan menuju pelabuhan.

Begitulah. Sejarah awal dunia perkeretaapian di Indonesia (Hindia Belanda) pun bergulir. Pada tanggal 17 Juni 1864 Gubernur Jenderal Hindia Belanda waktu itu, LAW Baron Sloet van den Beele (1861-1866) melakukan upacara pencangkulan pertama pembangunan jalur rel di desa Kemijen, Semarang. Pembangunan rel pertama ini membutuhkan waktu 3 tahun, hingga kemudian perjalanan kereta api di bumi Nusantara terjadi untuk pertama kalinya pada tanggal 10 Agustus 1867 dengan menempuh jarak sekitar 24,7 km antara stasiun Samarang (Semarang) dan halte Tangoeng (Tanggung) di sebelah selatan. Kala itu, kereta api terdiri dari beberapa gerbong yang difungsikan untuk mengangkut hasil perkebunan.

Sementara untuk konteks Yogyakarta, stasiun tua yang ada di walayah ini, yakni stasiun Tugu didirikan tahun 1887. Kini menjadi salah satu stasiun terbesar di kawasan jalur selatan pulau Jawa. Pendirian stasiun tersebut, berikut jalur rel yang membelah kota Yogyakarta, juga disebut-sebut memiliki tendensi politis. Meski pendirian stasiun dan rel di situ telah melampaui sekitar 50 tahun dari berakhirnya Perang Jawa atau Perang Diponegoro, namun posisi rel yang melintang di atas kota itu seperti menjadi “pagar” bagi kediaman Pangeran Diponegoro di kawasan Tegalrejo. Kediaman Diponegoro seperti “dibuang” di utara rel, sementara kawasan pemerintahan yakni Kraton Ngayogyakartahadiningrat, Gedung Agung, dan kawasan ekonomi yaitu Jalan Malioboro berada di selatan rel. Pemerintah Hindia Belanda menganggap bahwa sisa-sisa laskar, anak buah, dan kerabat Diponegoro masih memiliki kekuatan yang bisa sewaktu-waktu memberi perlawanan dan pemberontakan.
               
***

Rel, kereta api, stasiun, dan segenap kompleksitas persoalan fisik pada jagad perkeretaapian menjadi pokok soal utama dalam karya-karya seniman Rismanto. Ini adalah kesempatan pertama baginya untuk berpameran tunggal. Menyimak aspek fisikalitas yang digarapnya dengan serius, tampak ada kesan beragam yang bisa dikemukakan di sini. Pertama, tak banyak seniman di Indonesia yang menentukan pilihan tema perihal perkeretaapian sebagai basis utama imajinasinya dalam berkarya. Maka, pilihan Rismanto untuk mencoba fokus pada satu tema ini memberi tantangan strategis dalam penciptaan karya. Dia masih begitu berpotensi untuk mengeksplorasi sebanyak mungkin aspek fisik dan aspek yang melampaui problem fisikalitas dunia kereta api. Namun, sebaliknya, juga berpeluang untuk melakukan gerak produktivitas yang repetitif dan menjemput monotonitas. Inilah tantangan yang mesti dipecahkannya segera.

Kedua, ada upaya sublimasi atas beragam persoalan sosial, politik, sejarah, (agri)kultural, filsafat, dan lainnya, yang dibenamkan dalam cara yang eufemistik dan sederhana dalam karya. Rismanto, dengan pengalamannya di dunia audio visual mencoba menyarikan atau memadatkan berbagai narasi yang ada dalam dunia perkeretaapian, meski mungkin tidak sangat detail seperti ilmuwan sosial yang lengkap dengan perangkat dokumentasi dan data.

Ketiga, kuatnya kemampuan dan kepiawaian teknis seniman dalam menaklukan material karya telah memberikan gambaran tentang praktik kerja artistik sebagai upaya untuk “memuliakan” kembali karya seni. Poin ini berangkat dari kecenderungan praktik kerja kreatif seniman yang akhir-akhir ini terkadang (pada sebagian seniman) kurang memberi titik keseimbangan yang proporsional antara kemampuan dalam membangun gagasan dan kemudian mengoperasionalkan gagasan tersebut di tingkat praksis. Rismanto berupaya keras untuk melakukan dua hal penting itu—menggagas dan mengoperasionalkan gagasan—ke dalam semua karyanya. Dengan demikian, semua karya yang dari awal digagasnya terus saja berada dalam garis kendali imajinasi dan kemampuan teknisnya. Pada titik ini, bisa saja pendapat ini memicu debat yang berkepanjangan—dan belum tentu berkesudahan. Namun, ketika seorang seniman memahami dunia gagasan dan hingga dunia bentuk atas karya-karyanya, mulai dari yang membayang hingga mewujud, maka “nilai rasa” atas karya relative akan kuat terasa. Ada kekariban personal dalam karya tersebut, terutama karakter karya seperti yang dibuat oleh Rismanto dalam pameran kali ini.

Dengan pemahaman pada poin ketiga tersebut di atas, publik akan bisa segera merasakan betul “ruh” karya dan diri Rismanto dalam pameran ini. Misalnya, ketika publik menyaksikan miniatur jembatan berwana merah kusam. Jembatan tersebut—yang terbuat “hanya” dari tripleks—terasa sudah renta, tersaput lapisan-lapisan waktu yang begitu lama, dan seperti tak lama lagi tidak sanggup terbeban banyak memori. Dalam tubuh jembatan itu, secara teknis Rismanto sanggup untuk menelisik secara detail. Ada sekitar 6.000 (enam ribu) mur yang tertata dalam tubuh miniatur jembatan, dengan penataan yang sistematis dan terjaga. Bukan asal menempel.

Di sisi lain, aspek-aspek renik namun punya nilai, dibenamkan pada sekian banyak karyanya. Salah satunya, penonton bisa menyimak sebentang kanvas berukuran 3 x 8 meter yang mengetengahkan 9 (Sembilan) kepala okomotif dengan beragam variasinya. Ada yang “dimain-mainkan” pada soal angka 9 ini. Menurut Rismanto, dalam kepercayaan masyarakat Jawa (seperti halnya masyarakat Tionghoa) meyakini  angka 9 merupakan angka keberuntungan. Lalu, dalam beberapa tubuh bagian depan lokomotif itu ada angka-angka: 57 58 (lima tujuh lima delapan) yang bisa disingkat pengucapannya menjadi “maju mapan”. Ini mengisyaratkan sebuah ekspektasi bagi dirinya, bagi perjalanan karier kesenimanannya, sebuah proyeksi bagi dirinya agar bisa segera dalam posisi maju dan mapan, progresif dan establish—mungkin tepatnya meraih eksistensi dalam medan sosial seni rupa. Ada pula angka 55 (lima lima) yang pengucapannya pun bisa sebagai “mama” atau ibu. Rismanto mengakui bahwa peran sosok ibunya begitu penting dalam perjalanan hidup, karier, dan kesenimanannya. Ibunya tak memberi ekspektasi yang begitu melambung pada dirinya dalam berbagai persoalan, seperti soal karier, pencapaian finansial atau hal-hal yang berkaitan dengan dunia material. Dan itu memberi spirit besar bagi proses kreatifya, dulu dan kini.

Saya kira, kereta api dan perkeretaapian serta berbagai problemnya tengah digelar oleh Rismanto sebagai alat baca untuk menyimak berbagai hal yang melampaui masalah fisik semata. Karena tubuh fisik kereta adalah juga tubuh sosial, tubuh sejarah, tubuh antropologi, tubuh filsafat, tubuh estetika, dan lainnya, yang semuanya mampu membangun narasi-narasi besar yang melampaui tubuh kereta itu sendiri. Dan, Anda penonton atau siding pembaca, memiliki hak juga untuk menafsir narasi-narasi yang berawal dari kereta tersebut.

Sementara bagi senimannya sendiri, Rismanto—bagi saya—justru diandaikan segera “melupakan” narasi-narasi yang bertebar dalam pameran tunggalnya kali ini, dan lalu segera bergerak mencari narasi dan pencapaian yang berbeda ke depan. Tak perlulah kereta imajinasi dan estetikamu terlalu lama berhenti di stasiun ini. Ya, tak perlu berhenti lama di sini ya… ***

Kuss Indarto, penulis dan kurator seni rupa.

Wednesday, November 16, 2016

Apa Itu Maestro?

Apa itu "maestro"? Kata ini kemungkinan besar diserap dari bahasa Italia yang arti sederhananya adalah "guru". Dalam bahasa Inggris berarti "master". Saya kurang tahu persis sejak kapan persisnya kata/lema maestro ini diserap ke dalam bahasa Indonesia. Secara historis bangsa kita tidak banyak berhubungan erat dengan bangsa Italia yang memungkinkan pertukaran atau penyerapan bahasa itu terjadi, kecuali kisah besar tentang kedatangan pelaut Italia, Marco Polo tahun 1292 ke Perlak, Aceh. Beda dengan bangsa lain seperti Belanda, Portugis, Perancis, India, Arab dan lainnya yang lebih lama bersentuhan sehingga berdampak pada masuknya bahasa bangsa tersebut ke dalam bahasa Indonesia.

Dugaan saya, kata maestro mulai diserap dan populer pada paruh kedua dasawarsa 1970-an. Momentum pemicunya adalah ketika seniman Indonesia, Affandi Koesoemah menerima dua penghargaan di Italia pada 19 Maret 1977. Ketika itu, dalam satu kesempatan upacara penuh hikmat di Castello, Sammezano, Firenze, Italia, beliau menerima (1) Hadiah Perdamaian Internasional dari Yayasan Dag Hammarskjöld dan (2) gelar Grand Maestro (Maestro Grande?)

Gelar Grand Maestro inilah yang diduga menjadi titik penting perbincangan dalam pergaulan dunia seni waktu itu. Dunia, dalam hal ini Italia, memberi pengakuan kepada pencapaian kesenimanannya yang layak diberi level Grand Maestro. Publik dan media kemudian menyingkat sebutan itu, antara lain, dengan perkataan bahwa Affandi adalah seniman berlevel maestro. Kata maestro seolah bergeser menjadi punya "nilai rasa" yang berbeda. Bukan sederhana berarti "guru" saja. Dalam situs Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Online, kata/lema maestro diartikan sebagai "orang yang ahli dalam bidang seni, terutama bidang musik, seperti komponis, konduktor; empu". Kata maestro dalam KBBI terasa lebih "tinggi" dibanding arti kata asalnya.

Kalau sekarang ada sebagian orang yang dengan ringan menyebut atau membilang orang lain sebagai "maestro", saya secara otomatis berpaling pada ingatan tentang sosok Affandi yang tidak dengan mudah mendapatkan gelar Grand Maestro. Jadi maestro itu tidak ecek-ecek lho. Ah, pasti Anda punya argumentasi yang berbeda dengan saya. Monggo, silakan…

Tuesday, November 15, 2016

Keajaiban Subuh dari Syafi'i

Awal dasawarsa 2000-an, seorang sahabatku mengontrak rumah di kawasan perumahan Nogotirto, Sleman, Yogyakarta. Sebagai keluarga dengan satu anak belia, hidupnya relatif cukup berat. Apalagi dia masih merintis usaha yang tidak biasa dijalankan oleh banyak orang, lahan tersebut terasa berat untuk bisa mendapatkan reward ekonomis dengan cepat dan membanjir.

Bank sudah disambanginya untuk menambal kebutuhan hidup dan usahanya. Teman-teman dekatnya pun beberapa sudah dimintai bantuan keuangan ketika dia menemui kesulitan. Ini memang gejala lumrah yang akan menimpa banyak orang.

Suatu ketika dia betul-betul menemui ujian berat. Dia butuh uang cash Rp 15 juta untuk meneruskan usahanya yang belum berkembang itu, juga untuk menambal cicilan utang. Namun seperti ada tembok kokoh, besar dan kuat persis di hadapannya. Dia sulit menembus, menemukan solusi.

Maka, jadwal rutinnya untuk sholat berjamaah di masjid di dekat rumah pun makin rajin dilakukannya. Ini antara tindakan ritual relijius dan aksi berpikir keras menemukan cercah solusi. Dia betul-betul ingin deraan dan jeratan masalah keuangannya segera teratasi. Dia merasa telah berusaha keras dengan bisnisnya namun belum kunjung melampaui masalah.

Hingga kemudian, di hari yang genting bagi masalahnya, sahabat saya itu mendapatkan jawaban dari Tuhan. Pagi-pagi, dia sholat subuh berjamaah di masjid. Selesai sholat, dengan jantung yang berdegup sangat kencang dan pikiran penuh kecamuk kekacauan, dia pelahan berjalan membuntuti salah seorang tetangganya. Dia bukan barisan orang kaya di perumahan itu, tapi sahabat saya menduga-duga dia bisa menjadi pangkal pemecahan masalahnya.

Sahabat saya membuntuti hingga tetangga itu membuka pagar rumahnya. Merasa bahwa proses membuntuti itu tercium oleh sang tetangga, dia lalu menyapa terlebih dahulu, "Selamat pagi, pak!"

Karena merasa aneh dan kaget ada tamu pagi-pagi, dia menjawab dengan agak keras, "Ya, selamat pagi. Ada apa, mas? Maaf, saya tak bisa lama-lama menemui Anda karena harus ke airport pagi ini!"

Dengan segera sahabat saya mengutarakan maksudnya untuk meminjam uang Rp 15 juta. Dia sadar bahwa dia adalah orang baru di lingkungan perumahan itu, mengontrak lagi, dan belum lama menetap di situ. Bahkan dengan tetangga yang disambanginya pagi itu, dia malah belum pernah berkenalan. Hanya sebatas berjabat tangan seusai sholat. Maka tindakan meminta bantuan itu terasa sebuah kengawuran yang kurang berdasar.

"Mas, nama Anda siapa?" tanya sang tetangga. "Saya X, pak!" jawab sahabat saya.

"Begini, mas. Saya akan penuhi permintaan Anda. Tapi karena saya harus ke Jakarta pagi ini, dan tak punya ATM, maka saya akan membuat surat kuasa yang harus kita tanda tangani untuk pengambilan uang di bank nanti. Silakan. Jangan pikirkan kapan Anda akan mengembalikan uang itu. Terserah, kapan Anda merasa sudah mampu untuk itu. Okey?"

Sahabat saya gembira tapi juga bergetar. Perjalanan pulang menuju rumah yang hanya puluhan meter dari rumah tetangga pagi itu terasa penuh cahaya keajaiban. Langkahnya gontai karena tak percaya dengan keajaiban subuh itu. Solusi kesulitan hidupnya kala itu adalah tetangga yang selama itu dirasakan sulit untuk ditemuinya.

Sang tetangga dari sahabat saya itu adalah Prof. Dr. Syafi'i Ma'arif, yang kala itu menjabat sebagai Ketua Umum Muhammadiyah. Panjang umur dan sehatlah selalu, Buya. Doa terbaik untuk Anda. ***

Wednesday, November 02, 2016

Brunei, Cuilan Eropa

Bandara Bandar Seri Begawan, Brunei Darussalam, 2015.

Secuil Catatan Kuss Indarto
 
MENYUSURI kota Bandar Seri Begawan, Brunei, di Minggu pagi terasa terlalu lengang. Apalagi bagi aku yang datang dari negeri yang penuh dengan hiruk-pikuk manusia. Tak ada crowd jadi terasa tak begitu asyik. Mobil sesekali meluncur di jalur aspal hotmix yang mulus dan lapang. Mereka rata-rata melaju dengan kecepatan tinggi, sekitar 60 km/jam ke atas.

Jalan kaki hingga satu jam-an dan menempuh jarak kira-kira 3 km dari hotel, aku hanya berpapasan dengan mobil, mobil dan mobil lagi. Hanya 2 sepeda motor kulihat melintas: satu dikendarai oleh petugas delivery makanan, dan lainnya anak muda yang tampaknya menjajal racing motor yang ber-cc tinggi. Hanya bertemu dengan 4 manusia di halte yang menanti bas awam (bus umum) yang durasi kedatangannya sangat jarang. Sementara pejalan kaki ya hanya aku. Makanya jejalanan di Bandar kurang nyaman bagi pejalan kaki karena tak banyak difasilitasi trotoar.

Brunei memang kaya, tapi negeri ini sepertinya kurang orang. Dengan luas tanah 5.765 km persegi, wilayah Sultan Hassanal Bolkiah ini hanya dihuni 415.000 penduduk. Bahkan sekitar 40% di antaranya atau 150.000 orang menggerombol di ibukota, Bandar Seri Begawan. Coba bandingkan dengan propinsi D.I. Yogyakarya yang lebih sempit, yakni seluas 3.185 km persegi tapi dipadati oleh 3.452.390 orang (8,5 kali lipat penduduk Brunei).

Tapi Brunei ini menjadi salah satu negara dengan kepemilikan kendaraan tertinggi nomor 5 di dunia. Rasionya 1: 2,65. Gampangnya, tiap 3 orang akan ditemui 1 buah mobil. Indonesia? Jangan tanya deh! Angka-angka itu tampaknya juga didukung oleh disain kota yang penuh jalan besar dan luas. Gedung-gedung pun agak menjauh dari jejalanan, kecuali kawasan-kawasan lama/tua. Permukiman penduduk pun banyak yang tersembunyi. Keadaan ini persis seperti kota-kota di Eropa.

Dengan desain kawasan seperti itu, Brunei menjadi rapi dan indah. Tapi terasa kurang ramah dan friendly. Aku tak bisa lihat jemuran, kilasan ruang tamu, atau warung kopi ala Nusantara yang akrab di sini. Tak tampak rumah panggung dengan sapi dan kambing kandang karena konon nyaris semua daging hewan itu didatangkan dari Australia, dari ranch luas milik kerajaan Brunei. Ah, Brunei seperti sepotong kuku Eropa di ujung utara Borneo. Brunei adalah titik kontras dari tanah Kalimantan bila ingatan mainstream kita adalah kekumuhan dan kemacetan Pontianak, Palangkaraya atau Balikpapan. Brunei memang makmur. Tapi maaf, aku tetap cinta Indonesia...