Thursday, March 09, 2017

Seniman Bukan Tukang

Awal bulan Februari lalu saya bertemu dengan seniman China, Li Guangming, yang sedang ingin berlibur di Indonesia. Dalam peta seni rupa China barangkali nama dan reputasinya bukanlah bintang--atau apalagi megabintang yang sangat cemerlang seperti Qi Baishi, Ai Weiwei, Fang Lijun, Yu Minjun, dan sekian banyak nama tenar lain yang telah mengisi ruang penting seni rupa China dan dunia.

Tapi, bagi saya, Li Guangming tetaplah sosok seniman yang menarik. Saya percaya bahwa setiap orang adalah guru dan reputasi apapun yang telah dibangunnya adalah ilmu. Dalam percakapan sekitar 1,5 jam, Li mengisahkan tentang gerak karya-karya barunya yang telah dirintis sekitar 10-an tahun terakhir, dan terus dikerjakan hingga hari ini.

Dia sebenarnya termasuk seniman yang melukis lukisan khas China (China painting) yang cenderung dikelompokkan sebagai lukisan tradisional--yang penganutnya semakin banyak dan canggih kemampuannya. Guangming termasuk seniman yang sudah termasuk advance, jago dalam menaklukan tehnik tersebut. Dan inilah yang menggelisahkannya. Dia ingin keluar dari pola mainstream atas karya China painting yang sudah menjenuhkan baginya.
Bongkahan es batu yang besar yang ditemui di sekitarnya saat musim dingin menjadi sumber gagasan untuk memperbarui karya-karya seni rupanya. Ya, ide sederhana namun itulah yang membuatnya lumer dari kejenuhannya sebagai seniman yang menggeluti satu karakter karya, yakni karya dua dimensi.

Ide itu dimanifestasikannya (setidaknya) sebagai dua kemungkinan karya, yakni karya dua dimensi (berdasar artifak karya yang final), serta karya ephemeral art (seni sesaat, yakni berupa happening art) yang dilakukannya dalam ruang pameran atau di luar, sebagai bagian dari peristiwa seni. Ephemeral art yang ada dalam praktik seni Guangming adalah dengan membawa balok-balok es yang besar yang diberi warna-warna sesuai dengan keinginannya, lalu diletakkan persis di atas kertas atau kanvas yang tergelar di lantai. Proses pelelehan es berikut cat yang ada di dalamnya itulah yang menjadi momen estetik yang ditunggu karena kemudian secara pelahan akan membentuk citra visual di atas kertas atau kanvas. Citra visual yang menyeruak adalah bentuk-bentuk yang tak terduga, alamiah, bahkan kadang "accidental form" yang tak bisa diperkirakan (sepenuhnya) oleh sang seniman. Inilah nilai artistik yang tampaknya dicari oleh Li Guangming.

"Ice Ink World" adalah tajuk pameran tungal Li Guangming dengan karakter dan tema karya seperti itu. Pameran tersebut dihelat tahun 2016 lalu. Dalam pameran tersebut dia membawa bongkahan-bongkahan besar es yang ditata dalam ruang pameran dan, tentu, dibiarkannya meleleh hingga membentuk karya di atas kertas atau kanvas. Telah beberapa kali karya dengan karakter itu dipamerkan, termasuk pameran tunggalnya tahun 2011 di salah satu venue yang bergengsi di Beijing, yakni NAMOC (National Museum of China).

Li Guangming bukanlah anak muda. Usianya hampir menyentuh kepala 6. Namun spirit pencarian, kegundahannya untuk menemu kebaruan tetap dilakukannya. Bukankah semangat untuk mencari kebaruan menjadi etos kreatif seorang seniman? YA, Guangming tetap ingin menjadi seniman, bukan perajin yang cukup mengulang-ulang pekerjaan ketukangannya. Lalu, Anda siapa? ***


Friday, March 03, 2017

“Teloransi”, Seni yang (Boleh) Cerdas

Oleh Kuss Indarto

(Catatan ini dimuat dalam katalog pameran Komunitas Seni Bagelen, Purworejo yang bertajuk "Teloransi" di Bentara Budaya Yogyakarta, 3-10 Maret 2017)

       “Creativity takes courage.” ~ Henri Matisse
       “There is nothing more truly artistic than to love people.” ~ Vincent Van Gogh
  
POSISI geografis Purworejo memuat pertanyaan tersendiri ketika dihadapkan dalam perbincangan perihal dunia seni (rupa). Kabupaten ini berhimpitan langsung dengan propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, persisnya kabupaten Kulon Progo. Ibukota Purworejo hanya berjarak sekitar 66 kilometer dari kota Yogyakarta (bandingkan dengan jarak Yogyakarta-Solo yang berjarak sekitar 56 kilometer), namun perbedaan yang sangat kontras itu terasa tajam.

Tiap tahun, setidaknya dalam 2-3 tahun terakhir ini, Yogyakarta “dihujani” oleh sekitar 300-400an perhelatan seni rupa yang bertebar di seantero kawasan, di berbagai ruang seni yang dibuat dadakan, hingga yang sudah permanen dan mengantungi surat legal formal dari Negara. Mulai dari pameran yang diprakarsai oleh para mahasiswa yang baru memasuki studi di semester-semester awal hingga perhelatan yang dikelola oleh art management profesional dan kelompok seniman dengan jejaring kerja berlevel internasional.

Sementara di kabupaten Purworejo, dalam setahun hanya ada satu-dua pameran seni rupa yang dihelat oleh para seniman lokal—tentu dengan segala keterbatasannya. Keterbatasan itu meliputi problem kekaryaan yang masih terkendala oleh pencapaian kualitas khas seniman setempat—yang belum banyak bersentuhan dengan sistem pewacanaan seni rupa yang telah terbarukan atau yang mutakhir. Pameran tersebut juga masih terkendala oleh pola manajerial yang belum banyak tersentuh oleh pola yang terkini, sehingga—seperti diakui oleh para seniman setempat sendiri—perhelatan tersebut belum banyak meyakinkan publik untuk datang berduyun-duyun mengapresiasi. Atau juga belum mampu memberi keyakinan yang kuat kepada pemerintah daerah bahwa jagat seni berpotensi memiliki daya untuk memberikan nilai yang baik dan positif kepada masyarakat. Tak ayal, ihwal pendanaan pun akhirnya menjadi problem akut yang menahun dan kronis yang sulit dicarikan celah solusinya.

Posisi geografis tersebut di atas sangat bisa dimafhumi karena adanya problem lain yang diduga memberi titik pengaruh, yakni posisi historis yang memang tidak menempatkan kawasan Purworejo sebagai zona penting pertumbuhan dunia seni (rupa). Pada problem posisi geografis publik bisa bertanya-tanya, kenapa Purworejo tidak bisa tertular oleh daya dan kekuatan seni rupanya oleh sang tetangga, yakni Yogyakarta (yang menjadi salah satu kekuatan seni rupa Indonesia). Ini pertanyaan yang sama persis dilontarkan kepada kawasan Magelang atau Klaten yang juga dianggap stagnan. Namun pertanyaan ini menjadi penuh permakluman ketika hal yang disodorkan itu menyangkut posisi historis. Purworejo jelas tak bisa dibandingkan dengan Yogyakarta—sang tetangga itu. Yogyakarta memiliki sistem pemerintahan monarkhi yang berusia ratusan tahun dan masih bertahan hingga kini, yang membawa implikasi positif pada kelahiran dan pengembangan kulturalnya. Purworejo, jelas, jauh dari itu. Yogyakarta juga merupakan tempat awal bertumbuhnya kampus-kampus seni di Indonesia. Sementara Purworejo patut dibanggakan sebagai tempat kelahiran komponis Wage Rudolf Supratman—pencipta lagu kebangsaan Indonesia Raya—namun, maaf, tidak memiliki titik relasi dan signifikansi dengan pertumbuhan dan perkembangan seni (rupa) yang terus bergerak dinamis seperti sekarang ini.

***

Kalau kali ini ada sekelompok seniman atau perupa yang bergerak masuk ke Yogyakarta untuk mempertontonkan pencapaian visualitasnya, tentu mereka menggenggam kenekatan tersendiri. Ya, nekat. Masuk ke kawasan Yogyakarta, seperti diakui oleh seniman atau kelompok seniman tertentu, seperti masuk ke dalam kawah candradimuka—kawah penggodogan seniman yang penuh spirit kompetisi sangat tinggi.

Kelompok seniman yang “nekat” ini berlabel Komunitas Pelukis Bagelen. Komunitas ini sama sekali tidak berambisi menjadi representasi atas wilayah bernama Purworejo. Meeka masih masuk dalam tahap belajar berkarya dan berorganisasi. Oleh karenanya tak ingin bergegabah seolah menjadi komunitas yang terbaik yang ada di Purworejo.

Komunitas ini masih belia, didirikan oleh Bramantyo Astadi pada tanggal 24 Maret 2016. Tujuan pendiriannya untuk mengakomodasi keberadaan para pelukis yang datang dari berbagai usia dan latar belakang yang ada di Purworejo agar dapat saling memotivasi dan berkarya bersama dan berusaha memberikan warna pada dunia seni rupa di Purworejo. Sebagai dasar obsesi, seperti dinyatakan oleh ketuanya, Komunitas Pelukis Bagelen ini berkeinginan dan berhasrat untuk mengangkat dunia seni rupa Purworejo agar setara dengan dengan kota-kota lain di sekitar seperti Wonosobo, Magelang, atau bahkan kalau mungkin sedikit mengejar keterpautan yang jauh dari perkembangan di Yogyakarta.

Seperti halnya kelompok seni yang heterogen, komunitas ini memiliki latar belakang yang heterogen dalam keanggotaannya, seperti orang-orang yang memasuki masa pensiunan, mahasiswa, guru, wiraswasta, karyawan hingga wartawan. Ini relatif membuat komunitas bergerak dengan cukup dinamis. Mayoritas anggota komunitas ini belajar melukis secara otodidak (self taught), dan selebihnya (ada empat orang) yang menempa kemampuan kesenirupaannya di jalur akademik di UNS (Solo) dan UNY (Universitas Negeri Yogyakarta).

Bagi ketuanya, Bramantyo, Komunitas Pelukis Bagelen ini bukanlah komunitas yang pertama kali didirikannya. Pada awal tahun 2014, Bram pernah mendirikan Sanggar Perupa Bagelen dengan anggota 15 pelukis yang relatif sudah cukup senior di Purworejo—senior dari tilikan usia fisik dan usia sejarah berkecimpungnya di dunia seni rupa. Seperti halnya banyak komunitas lain, komunitas tersebut bubar setelah menghelat sebuah pameran seni rupa. Perbedaan visi internal angota yang menjadi pangkal masalah.

Itu merupakan pengalaman yang mahal. Maka, kini, komunitas ini menyemai kekuatan antar-anggota dengan berbagai aktivitas. Diskusi seni rupa dan berkarya bersama merupakan agenda rutin bagi komunitas yang beralamatkan di Jalan WR Soepratman No 41 Baledono, Purworejo tersebut. Komunitas Pelukis Bagelen ini juga pernah menggelar pameran dengan tajuk Beautiful of Bagelen: 'Salon des Refuses II' di pengujung tahun 2016 lalu.

Komunitas Pelukis Bagelen ini juga memiliki visi lain untuk memajukan dunia seni rupa di Purworejo, yakni dengan menggagas proyek sosial Gerakan Purworejo Menggambar. Kegiatan ini konkretnya adalah berkeliling ke desa-desa dan mengajari anak-anak menggambar dengan tujuan untuk mengembalikan dunia anak-anak kepada “khittahnya”. Aktivitas ini sebenarnya, sedikit banyak, juga memberi arah kepada para anggotanya bahwa dunia seni itu bukanlah jagat yang bersih dari problem sosial kemasyarakatan di sekitarnya. Seni yang mampu menengok dan melibatkan dengan diri dengan dunia di luar dirinya, diidealkan akan mengayakan dunia seni itu sendiri.

***

Upaya pengayaan atas pemahaan dunia seni rupa itu juga dimanifestasikan dalam pameran ini. Dengan menorehkan tajuk “Teloransi”, perhelatan ini digagas untuk berkarya sekaligus beropini tentang riuhnya persoalan sosial politik kemasyarakatan yang aktual dewasa ini. Kata “teloransi” sudah barang pasti merupakan “plesetan” dari kata “toleransi”. Unsur pembentuk plesetan itu adalah kata “telo” atau ketela. Ya, ada pembalikan huruf vokal “e” dan “o” yang menjadikan makna atau nilai rasanya berbeda.

Terminologi “tela” atau “telo” tidak sekadar merujuk pada benda berupa umbi-umbian, namun dalam konteks peristilahan di Jawa Tengah telah menjadi kata umpatan halus ketika seseorang merasakan atau mengalami sesuatu yang mengecewakan atau kurang pas dalam perasaannya. Teriakan “telo” tidak jarang dikatakan oleh seseorang kepada lawan bicaranya yang biasanya memiliki relasi relatif dekat. Umpatan ini relatif halus ketimbang kata-kata lain yang terasa lebih kasar atau vulgar seperti dengan menyebut organ tubuh manusia: dhengkulmu, matamu, dhapurmu, rupamu, dan sebagainya. Atau menyebut nama hewan, mulai dari asu, wedhus, munyuk, kampret, dan semacamnya.

Maka, ketika “toleransi” dibelokkan menjadi “teloransi”, jelas ada indikasi kekecewaan, ketaksukaan atau ketidaktepatan dalam menerima fakta perihal “toleransi”. Para seniman ini seperti sedang gundah mempersoalkan wacana tentang toleransi yang tergerus oleh berbagai persoalan. Agama, misalnya, yang potensial dan digadang-gadang mampu membawa nilai-nilai toleransi, kebersamaan, sikap tenggang rasa, namun faktanya justru sebaliknya. Agama masuk dalam pusaran persoalan yang merobohkan nilai-nilai toleransi. Agama telah diserobot dan digadaikan oleh sekelompok orang menjadi “telo” yang mereduksi nilai-nilai luhur toleransi.

Catatan pendek yang bukan kuratorial ini ingin menengarai adanya upaya para seniman Purworejo pada komunitas ini dalam memberi sikap, ilustrasi, eksplanasi, atau sekadar opini ringan tentang gejala sikap intoleran atau toleransi yang “telo” dalam dinamika kerumun masyarakat saat ini. Nilai-nilai kenusantaran dalam perikehidupan beragama kita kita terancam oleh gelagat intoleransi yang telah akut, menyimpan bara api, atau mesiu sulut dengan sumbu yang pendek.

Manifestasi dari kegundahan atas tema ini, antara lain, tampak pada karya Muhammad Dian Perjuangan, berupa disain grafis yang diekspreaikan dalam digital print. Karya ini sebetulnya sederhana, namun secara simbolik memberi pesan yang cukup dalam. “Sensitive” judul karya ini. Terpapar dalam karya tersebut sebentuk bibir warna abu-abu dengan beberapa bagian di tepiannya meleleh. Bibir ini tidak biasa karena pada bagian batas-batas dalam bibir, yakni antara bagian bibir atas dan bawah, terbentuk celah berupa lekuk-liku yang telah popular ditengarai sebagai celah atau lubang dalam pisau cukur (= silet). Visualitas ini dengan cukup cerdas memberi penegasan yang menukik atas atas peribahasa Melayu yang telah mengindonesia, yakni: “mulutmu harimaumu”. Ini seolah menjadi “mulutmu adalah pisaumu”. Dan pisau itu siap melukai siapapun: orang lain, atau orang yang bersangkutan, si pemilik mulut tersebut.

Gejala tentang “mulutmu adalah pisaumu” ini, seperti yang dikonsepkan oleh Muhammad Dian Perjuangan, banyak terjadi di dunia nyata dan atau apalagi di dunia maya—khususnya bagi sesama masyarakat penghuni media sosial (medsos). Tulisan atau “ucapan” seperti dengan mudah terlontar untuk mem-bully, menghardik, menghina, memojokkan, dan lain sebagainya ketika dua (atau lebih) kubu saling berseteru karena sebuah pilihan (atas sesuatu hal) berbeda. Titik beda itulah yang dieksploitasi (bukan dieksplorasi) untuk kemudian menghantam satu sama lain dengan semangat saling menjatuhkan. Inilah potongan kecil dari gerak intoleransi atau “teloransi” alias toleransi yang “telo”. Ya, kasihan juga sih makanan nikmat bernama telo ini telah berpindah ruang dengan konteks yang berbeda dan terjadi penurunan nilai rasa kebahasaan.

Secara umum pameran ini memang masih menyimpan persoalan. Lagi-lagi saya mesti mengutarakan hal penting dalam dunia seni rupa, yakni adanya dua hal penting: dunia bentuk dan dunia gagasan. Dunia bentuk itu menyangkut problem teknis dalam praktik kekaryaan seni rupa, yakni bagaimana seorang seniman itu memperhatikan aspek teknis menggambar yang baik dan terampil. Sementara dunia gagasan lebih menyangkut pada soal bagaimana seorang seniman memiliki kepekaan atau sensisbilitas dalam mengisi karyanya lewat gagasan dan konsep yang jelas, tegas, syukur cerdas. Problem bentuk itu menyoal dunia visual, sedangkan problem gagasan itu menyoal tentang dunia substansial. Inilah yang mesti menjadi persoalan besar yang sebaiknya diagendakan untuk ditingkatkan juga diperbarui terus-menerus oleh para anggota komunitas ini. Saya paham bahwa seni itu bebas, namun hal yang lebih mendasar dari tuntutan atas kebebasan adalah bahwa seni itu ya sebaiknya cerdas. Bisa cerdas visual, pun cerdas substansial. Semoga ini bisa diperjuangkan untuk dunia seni masing-masing. Bersiaplah untuk maju! *** 

Kuss Indarto, penulis seni rupa.

Tuesday, February 28, 2017

Bean


DALAM sebuah wawancara yang cukup panjang dengan Nickolas Baume pada tahun 2008, perupa Anish Kapoor menyatakan bahwa “artist don’t make objects. Artist make mythologies”. Seniman bukan (sekadar) membuat objek karya seni, namun juga menciptakan mitologi. Hasil wawancara—yang dimuat dalam katalog pameran tunggal Kapoor di ICA, Boston, Amerika Serikat tahun 2008, bertajuk “Anish Kapoor: Past, Present, Future”—itu mengisyaratkan kegelisahannya sebagai seorang seniman yang ingin melakukan lompatan besar dalam proses kreatifnya. Juga ingin keluar dari arus utama (mainstream) dalam dunia seni patung dan menciptakan karya melewati cara berpikir out of the box. Latar belakangnya bisa sedikit dilacak bahwa dia berasal dari India, lalu berkehendak untuk masuk di akademi seni rupa di London, Inggris, dan ingin menjadi seniman berlevel dunia. Tentu bukan perkara mudah ketika seniman Asia ingin merangsek ke jenjang penting seni rupa dunia karena Barat juga tetap punya kepentingan untuk menentukan dan menguasai jagat seni rupa dunia. Kapoor dianggap bagian dari the other, liyan.

Perlu waktu bertahun-tahun bagi Anish Kapoor untuk masuk ke pusaran seni rupa dunia setelah dia menyelesaikan studinya di kota London dan Chelsea—salah satu “situs” penting yang menganggap sebagai salah satu “pusat” seni rupa dunia. Hasilnya, antara lain, bisa kita lihat pada “Cloud Gate”, sebuah patung karya Kapoor yang dipajang sejak tanggal 15 Mei 2006 di Millenium Park, Chicago, Illinois, Amerika Serikat. Patung stainless steel berukuran 10 m x 13 m x 20 m tersebut selama satu dasawarsa ini, secara pelahan, telah menyulap diri sebagai ikon visual penting bagi kota Chicago. Masyarakat dunia mendapatkan perbendaharaan identitas baru atas kota Chicago setelah kehadiran patung “Cloud Gate” itu—yang sekarang mendapat julukan sebagai “The Bean”.

Anish Kapoor telah membuktikan ujarannya sendiri bahwa “seniman bukan (sekadar) membuat objek karya seni, namun juga menciptakan mitologi”. Dalam skala tertentu, karya Anish di kota Chicago itu tidak sekadar berdiri sebagai patung, namun telah menjelma sebagai monumen penanda ruang. Identifikasi yang dibangun oleh publik terus melekat atas diri “The Bean”, yang lama-kelamaan juga berpotensi menciptakan bangunan mitos-mitos tersendiri .

Hal penting yang bisa dikatakan dari kasus Anish Kapoor ini, saya kira, adalah upayanya yang keras untuk keluar dari perspektif umum. Visinya tentang (ber)karya seni dengan mengembangkan ide yang berasal dari akar kulturalnya, India, lalu persentuhannya dengan dunia baru (Eropa) dan modernitas, membuat artifak karya-karyanya menjadi kaya dan khas. Perspektif dan visi seperti inilah yang layak untuk ditularkan dan dibenamkan dalam pikiran banyak seniman di berbagai kawasan—meski saya yakin di Indonesia juga tidak sedikit seniman yang berupaya seperti yang telah Anish Kapoor lakukan. ***

Turis Manca

Berapa jumlah wisatawan asing yang berkunjung ke Indonesia dalam 7 tahun terakhir?
Tahun 2010 = 7,00 juta
tahun 2011 = 7,65 juta
Tahun 2012 = 8,04 juta
Tahun 2013 = 8,80 juta
Tahun 2014 = 9,44 juta
Tahun 2015 = 10,41 juta
Tahun 2016 = 11,52 juta


Apa yang bisa dibaca? Selama masa pemerintahan SBY, kenaikan jumlah wisatawan asing tiap tahun di bawah 10%. Sementara sejak masa Jokowi naik di atas 10%. Jumlah dan persentasenya bisa kian melonjak kalau bandara-bandara baru berskala internasional sudah jadi dan melayani rute internasional.

Dunia seni (rupa) juga bisa ikut berperan atau mengambil peluang dari fakta ini. Misalnya dengan menghelat peristiwa seni di banyak kota di Indonesia yang berskala internasional. Ini lebih konkret dan kontributif daripada ribut soal agama yang dipolitisasi, misalnya. Mari bergerak! ***

Tuesday, February 07, 2017

Cium Kaki


Perupa Heri Dono dengan takzim mencium kaki kiri perupa Tisna Sanjaya. Tisna cukup kaget, lalu dengan segera menangkupkan kedua tangan di depan dadanya. Adegan ini terjadi di Breeze Art Space, BSD, Tangerang, ketika Tisna melakukan performance art yang melibatkan Heri Dono. Tisna menyiapkan setengah toples air yang digunakannya untuk menyuci kaki kiri Heri Dono. Lalu, sebaliknya, setengah toples air yang lain dipakai oleh Heri Dono untuk menyuci kaki kiri Tisna.

Sejimpit air hasil cucian kaki itu dicipratkan ke atas kanvas. Lalu, tiga jenis serbuk disebarkan di atas kanvas yang basah oleh air basuhan kaki. Ada serbuk kunyit atau kunir, serbuk ketumbar, dan serbuk hasil bakaran buku. Hasilnya seperti tampak dalam foto. 

Performance art seperti telah dilakukan oleh Tisna beberapa kali dengan melibatkan banyak orang yang terpilih oleh seniman yang juga dosen FSR ITB ini. Orang penting yang diajaknya untuk performance art ini adalah ibunya sendiri. Ya, surga berada di telapak kaki ibu. Tisna seolah beranggapan bahwa ketika seseorang dengan tulus membersihkan kaki orang lain, maka seseorang itu telah mampu menyerap energi positif dari titik yang dianggap paling kotor dari orang lain tersebut. Ini seperti sebuah kedewasaan sikap seseorang untuk mampu menerima kelemahan orang lain. Wah, aksi seni yang "relijius" dan menarik.

Performance art ini berlangsung sore hari sekitar pukul 18.00-an setelah kedua seniman tersebut menjadi narasumber dalam diskusi seni "Seni, Penggalian Gagasan, dan Jejaring Kerja". Diskusi itu sendiri berlangsung seru, serius tapi santai dan berdurasi sekitar 2,5 jam. ***

Tuesday, January 31, 2017

Kuda


Equus Caballus atau kuda menjadi satwa yang menarik perhatian bagi perupa Operasi Rachman Muchamad. Kuda Sumbawa, kali ini menjadi pilihannya untuk dimuntahkan dalam kanvas. Seperti ada derap kaki dan tubuh kuda yang melesat kencang dalam karya ini, dari arah kiri ke kanan. Namun perupa kelahiran Jember, Jawa Timur ini tidak membuat visualisasi kuda yang rinci dengan penuh kecermatan. Cipratan beragam warna yang kaya dihempaskan (seperti) penuh emosi—dan aristik hasilnya. Ada yang mengotakkan corak karya seperti ini sebagai abstrak figuratif atau abstrak morfik karena seniman menyisakan citra benda atau sosok yang bisa ditemui dalam alam nyata yang rasional. Sementara dalam “Painting Today” (2014), kritikus Tony Godfrey menyebutnya sebagai “ambiguous abstract”. Seniman seolah mencoba mengulang-alik kesadarannya dalam menghadapi subyek karyanya antara kelebat fantasi, sublimasi atas fakta-fakta, atau bangunan “dunia baru” yang datang mengalir dari rasa dan logika seniman.

Karya berukuran 200 x 280 cm ini dieksposisikan dalam pameran seni rupa “Art-Tivities Now” di Breeze Art Space, Green Office Park Sinar Mas Land BD, Tangerang, Banten, yang dibuka pada hari Sabtu, 4 Februari 2017, pukul 18.30 WIB. Pameran dibuka oleh Bapak Sumantri Widagdo, Chairman of the advisory board, Titian Bali Foundation. Pamerannya sendiri berlangsung hingga 5 Maret 2017.
_________
Hari Minggu, 5 Februari 2017, pukul 15.00 WIB ada diskusi seni bertema, “Seni, Penggalian Gagasan, dan Jejaring Kerja”, dengan narasumber: Heri Dono (Yogyakarta) dan Tisna Sanjaya (Bandung), dengan moderator Kuss Indarto.
_________
73 seniman peserta pameran “Art-Tivities Now” adalah:
Agapetus Kristiandana, Agung Mangu Putra, Agus Putu Suyadnya, Agus Triyanto BR, Agustan FDSK, Ahmad Sobirin, Andi Wahono, Anggar Prasetyo, Anthonius Kho, Bambang Pramudiyanto, Budi Kustarto, Dadi Setiadi, Deddy Sufriadi, Dhanoe, Dicky Takndare, Djoeari Soebardja, Edi Sunaryo, Emmy Go, Galuh Tajimela, Gatot Indrajati, Gusmen Heriadi, Heri Dono, Hono Sun, Hudi Alfa, Isa Ansory, Ida Bagus Putu Purwa, Ipong Purnama Sidhi, Jeihan Sukmantoro, Joni Ramlan, Jopram, Justian Jafin Rocx W, Ketut Sugantika, Klowor Waldiyono, Laksmi Sitharesmi, Lenny Ratnasari W, Lugas Sylabus, Made Djirna, Made Sumadiyasa, M. Irfan (Ipan), Made Toris Mahendra, Made Wiradana, Mahdi Abdullah, Manuela Wijayanti, Masagoeng, Melodia, Michael Maxon, Michael Timothy S, Monika Ary Kartika, Nasirun, Ngakan Putu Agus Wijaya, Niko Siswanto, Nisan Kristiyanto, Nyoman Darya, Oktaviyani, Operasi Rachman Muchamad, Putu Adi Gunawan, Putu Sutawijaya, RE Hartanto, Rendra Santana, Rismanto, Robi Fathoni, Ronald Apriyan, Ruayyah Diana, Safrie Effendi, Samuel Indratma, Seno Andrianto, Surya Darma, Suroso Isur, Tiarma Sirait, Tisna Sanjaya, Tommy Wondra, Ugy Sugiarto, Zirwen Hazry

Nonton yuks!

Sunday, January 29, 2017

Cita-cita

(Status Facebook pada 29 Januari 2015)

Malam itu, sekitar tiga puluhan tahun lalu, aku menguping pembicaraan ayah dan dua tetanggaku (sebut saja J dan K) yang datang “ngendhong” (menamu) untuk sebuah keperluan. Sebagai orang/keluarga yang baru pindah dari kota, ayahku dianggap oleh tetangga punya secuil pengalaman yang berbeda sehingga perlu untuk berbagi. Tapi, kukira, itu juga lebih karena karakter tetangga kami di dusun yang lebih toleran, semanak, dan ingin menjaga silaturahmi, sehingga praktik bertetangga menjadi penuh kekeluargaan.

Dua tamu ayahku tadi semuanya berusia sekitar 27 tahun dan sudah menikah (muda) dengan masing-masing memiliki dua orang anak (mereka, kelak sama-sama punya 5 orang anak). Mereka hidup dalam belitan ekonomi keluarga yang pas-pasan karena hanya menjadi petani penggarap tanpa memiliki lahan sendiri. Latar pendidikan yang dilakoninya hanya sampai tamat SMP. Tanah warisan sebetulnya punya meski tak seberapa (seperti pengakuan mereka), tapi belum dibagi.

Maka, maksud kedatangan mereka ini untuk curhat kepada ayahku, sekaligus mencari peluang pekerjaan yang mungkin bisa diraih untuk mengubah nasib. Mereka ingin menjadi polisi, karena sadar yang mereka datangi adalah seorang mantan anggota Polri. Siapa tahu bisa memberi jalan, bahkan mungkin peluang. Sebagai seorang pensiunan perwira pertama (pama), bukan orang penting dalam struktur besar lembaga polri, ayahku hanya bisa memberi petuah, petunjuk praktis, dan perkara teknis pendaftaran masuk polri seperti yang diketahuinya. Tak bisa memberi anjuran yang lebih konkret dan sok kuasa seperti “temuilah pak X, bilanglah kalau anda saudara saya”, karena ayahku bukan siapa-siapa. Di antara keriuhan perbincangan itu, ayah berpesan pada dua tamu muda waktu itu: “Umur panjenengan berdua sudah mepet sebenarnya untuk masuk jadi anggota polri. Tapi cobalah, siapa tahu ada keajaiban.”

Dua orang tetangga itu memang kemudian mencoba beradu nasib dengan mendaftarkan diri masuk Polri. Namun akhirnya nasib belum berpihak pada kehendak yang dibayangkannya. Mereka kembali bertani dengan seadanya, bertaruh dengan roda nasib yang terus bergulir. Aku tak banyak tahu perkembangan mereka, apalagi ketika aku juga harus mengadu nasib jauh dari kampung.

Cita-cita dua tamu ayahku tiga puluhan tahun lalu itu, tiba-tiba terbuka dari dokumentasi ingatanku ketika kemarin malam aku mendapat panggilan telepon. Panggilan itu dari sahabat dari masa kecilku di kampung. Dia sekitar 6-7 tahun lebih muda usianya ketimbang aku. “Ingat aku kan, mas? Aku T, anak pak J, tetanggamu!” Dalam puluhan detik itu aku berusaha keras mengingat sosoknya yang kurus saat kanak-kanak dulu, sesekali sulit bergabung untuk bermain karena harus menggembala kambing keluarganya, dan tak jarang dicemooh teman sepermainan karena kelemahan fisiknya.

“Ya, ya, ya, aku ingat kamu, T…!” sambungku menjawab pertanyaannya. “Sekarang kerja dimana?” balik kubertanya. “Aku sekarang di daerah terpencil di Kalimantan Barat, berbatasan dengan Malaysia. Alhamdulillah, aku jadi Kapolsek di sana, mas!” Gleekkk!! Perbincangan kami lewat telepon terus bergulir. Tapi ada poin penting terus kuingat: cita-cita besar dan mulia pun bisa digetarkan hingga ke anak cucu, atau lingkungan sekitar.

“Lalu, empat adik-adikmu dimana sekarang, T?” tanyaku kembali. “Tiga adikku di Kalbar juga, mas, jadi polisi dan polwan. Satu lainnya tetap di kampung, jadi guru.” Gleekkk!! (lagi). Aku yakin, cita-cita pak J—tetanggaku yang ingin jadi polisi itu—pasti telah terlampaui begitu dalam. Dan profesi yang tumbuh dari sebuah cita-cita mulia, semoga, bisa memanusiakan dirinya. Aku berharap tetanggaku itu jadi polisi yang baik, polisi yang (mendekati) paripurna. Semoga. ***

Tuesday, January 24, 2017

Lelaku: Menggali Rasa

Salah satu karya S.Priadi atau Supriadi yang dipajang dalam pameran "Lelaku: Menggali Rasa"

Oleh Kuss Indarto 

(Catatan ini telah dimuat dalam katalog pameran tunggal S.Priadi, "Lelaku: Menggali Rasa", di Taman Budaya Yogyakarta, 14-24 Januari 2017)

SUPRIYADI atau S. Priadi, saya kira, sedang masuk dalam fase yang penting pada perjalanan kesenirupaannya. Bagi sebagian seniman, pameran tunggal adalah momentum untuk menunjukkan setidaknya dua hal mendasar. Pertama, kepada publik atau masyarakat seni yang menopangnya, ini menjadi forum bagi seniman untuk melakukan “absensi diri” bahwa dirinya masih atau pantas masuk sebagai bagian dari seniman yang aktif. Ini problem eksistensi(al) yang memang selayaknya harus terus diketengahkan kepada publik. Bukan sekadar eksistensi personal, namun lebih pada eksistensi yang bertumbuh dari pencapaian kekaryaan. Eksistensial yang dilambari oleh problem estetik. Dari problem eksistensial ini kelak akan dibaca oleh publik dengan pemberian identifikasi dan bahkan labeling (pelabelan)—semua itu tergantung pada segenap kode dan tanda yang dihadirkan oleh sang seniman. 

Kedua, kepada dunia internal seniman sendiri, sebuah pameran penting kehadirannya untuk memberi jejak tanda atas fase-fase, tahap-tahap atau periode-periode yang pernah ditorehkannya dalam perjalanan kreatif dan kesenimanannya. Dalam pembacaan internal seniman, seyogyanya, dia bisa memberi pemetaan atas dunia gagasan dan pencapaian teknis yang ada dalam perjalanan kekaryaan tersebut. Apakah dunia gagasan dalam benak dan imajinasinya itu bergerak lambat, mentok, mampat, atau malah berjalan terlalu cepat beriringan dengan dunia teknis kekaryaannya yang entah cepat penguasaannya, fasih menghadapi beragam mediam dan teknis, atau sebaliknya justru sang seniman kurang adaptif dengan masalah teknis tersebut. Dengan pameran (tunggal), seniman bisa memberi tengara atau tanda atas perjalanan fase-fase kekaryaannya (kalau ada) sehingga bisa menjadi masukan baginya dan menjadi bahan hendak kemana kreativitas diarahkan.

S. Priadi sendiri, sebelum ini, pernah menghelat pameran yang cukup penting bagi kesenimanannya di tempat yang sama, di Taman Budaya Yogyakarta, pada 18-24 April 2009 lalu. Waktu itu dia pameran bertiga bersama Risdianto dan Yusuf Santosa dengan tajuk “Sebuah Proses”. Trio seniman itu belum pernah melanjutkan untuk berpameran lagi. Kedua rekan S. Priadi bahkan “tumbang” oleh keadaan dan situasi di dalam dan di luar dirinya, yang memaksanya untuk tidak lagi bersikukuh dengan pilihan hidup menjadi seniman. Risdianto terbang ke mancanegara untuk bekerja yang sama sekali tidak bersentuhan dengan dunia seni rupa. Demikian pula dengan Yusuf Santosa yang memilih berbisnis yang tak memiliki relasi dengan seni rupa—tentu demi alasan survival menghadapi kerasnya hidup. S. Priadi-lah yang bertahan. Setidaknya setelah tujuh tahun berselang dari pameran “Sebuah Proses”, rute proses yang sesungguhnya betul-betul masih dijalani dan dihayati oleh S. Priadi. Saya tak ingin berkesimpulan bahwa S. Priadi menjadi “pemenang” di antara ketiga trio tersebut, namun kita bisa memberi penilaian awal bahwa ada upaya keras,  konsistensi dan kegigihan pada diri S. Priadi untuk terus merunuti pilihan hidupnya sebagai seniman. Ini tentu tidak mudah.

Pameran bertiga “Sebuah Proses” waktu itu, sebenarnya, sudah terlihat momentumnya yang kurang tepat. Tahun itu gejolak pasar yang ditengarai sebagai booming seni rupa sudah redup, kehilangan gemuruh dan hiruk-pikuknya. Pelaku pasar seni rupa, mulai dari kolekdol, kolektor sejati, galeri, rumah lelang dan semacamnya, sudah beringsut meninggalkan “medan pertarungan pasar” yang sempat terguyur oleh efek domino dari “Asian art buble” yang diawali di negeri Tirai Bambu, China, pada akhir paruh pertama dasawarsa 2000-an.

Kalau S. Priadi relatif “selamat” meniti waktu dan masalah ketimbang dua rekan lainnya itu, apa yang bisa dibawanya dalam pamerannya kali ini? Itulah yang saat ini, dan terus dilakukan olehnya: meniti proses. Kalau tema kuratorialnya kali ini mengambil tema besar tentang “Lelaku”, kiranya hal itu merupakan pertautan atas tema pamerannya saat bertiga tahun 2009, “Sebuah Proses”. Ini menjadi “lelaku” bagi dirinya sebagai manusia dan seniman untuk menyadari bahwa seluruh perjalanan kemanusiaannya berisi proses terus-menerus. Proses mencari sesuatu yang tak berkesudahan. Dalam terminologi Jawa ada kata “laku” yang secara sederhana diartikan sebagai “cara hidup”, dan bentuk “perluasan” kata tersebut menjadi “lelaku” yang kurang lebih dimaknai sebagai “perjalanan menempuh hidup dengan cara, lewat, dan menuju titik kebenaran”. Pemahaman ini terkadang akan memberi titik beda antara nilai-nilai relijiusitas dan spiritualitas. Karen Amstrong dalam “Sejarah Tuhan” (2013) memberi gambaran yang agak sepadan dengan hal itu dengan menyatakan bahwa orang-orang beriman tahu secara teoritis Allah itu sama sekali di luar jangkauan, bersifat transenden (berjarak dengan manusia), namun manusia berasumsi bahwa manusia itu tahu persis siapa “Dia”, seolah tahu persis apa yang dipikirkannya, apa yang dicintainya, dan yang diharapkannya, dan seterusnya.

Menariknya, bagi masyarakat Jawa, kata “lelaku” itu menjadi kata kerja aktif ketika tertulis sebagai “nglakoni”, dan ini—bagi masayarakat mdern dewasa ini—terasa menjadi sebuah praktik mistik yang dianggap menjauhi logika. Namun justru di sini letak titik menariknya. Di Jawa, orang yang sedang “nglakoni”, misalnya dengan melakukan “laku” prihatin, bermeditasi, membiasakan diri berkonsentrasi di tempat sepi sering mendapatkan pengalaman atau firasat akan kehadiran (“dzat”) yang Ilahi. Kehadiran “dzat” yang menyapa orang Jawa itu bukan muncul melalui akal budi dan pancaindera manusia, melaui rasa, sebagai indera keenam. Masyarakat Jawa tradisional memberi tempat begitu penting atas kehadiran rasa. Indera rasa ini sungguh-sungguh sangat dilibatkan dalam kepribadian Jawa, tidak kalah pentingnya dengan pikiran, sehingga ia sangat berperan untuk melihat laku  dan perilaku orang Jawa secara umum. Seseorang bisa disebut sebagai sudah dewasa ketika ia mampu mengendalikan dan menghadikan rasa dalam berkomunikasi dengan orang lain, dalam mengungkapkan dirinya dan dalam komunikasi dengan Gusti Allah, sebagai Rasa Sejati. Tak heran bila ada frasa yang cukup populer bagi orang Jawa, yakni “… yen tak rasak-rasakke..”, sebagai alternatif dari frasa “…yen tak pikir-pikir…”—yang lebih berorientasi pada aspek logika saja. Clifford Geertz dalam Abangan, Santri, Priyayi dalam Masyarakat Jawa (1981) juga memberi penegasan bahwa “makin halus rasa seseorang, makin mendalam pengertiannya, makin luhur sikap moralnya, dan indah segi luarnya”. Dugaan-dugaan atas dunia batin orang Jawa inilah yang kemudian dikorelasikan oleh realitas pada hasil proses penghalusan dunia lahir seperti tarian klasik, music gamelan, tembang macapat, batik dan lainnya. Itu semua adalah artifak penting yang lahir dari dunia batin orang Jawa dengan kepemilikan atas rasa yang telah mendewasakan mereka. Dan rasa itu merupakan hasil dari upaya “lelaku”.

Saya kira S. Priadi tidak secara ekstrem sedang mempraktikkan lelaku seperti yang saya gambarkan di atas. Atau apalagi melakukan praktik lain dari upaya nglakoni yang dalam kepercayaan orang Jawa banyak sekali ragamnya. Kita tahu ada praktik nglakoni dengan puasa yang tujuannya dipercaya untuk membersihkan diri dan batin seseorang. Praktik nglakoni itu antara lain: mutih, yakni puasa dengan tidak makan apa-apa kecuali hanya nasi putih dan air putih saja. Lalu ada ngeruh (puasa dengan hanya memakan sayuran atau buah-buahan saja), ngebleng (menghentikan segala aktifitas normal sehari-hari, tanpa makan, minum, keluar dari rumah atau kamar, tanpa seksual, hingga 24 jam), patigeni (hampir sama dengan ngebleng, tapi tidak boleh keluar kamar dengan alasan apapun, tidak boleh tidur sama sekali selama sehari semalam), ngelowong (puasa tanpa makan dan minum dalam kurun waktu tertentu. Hanya diperbolehkan tidur 3 jam saja dalam sehari semalam, tapi diperbolehkan keluar rumah), ngrowot (puasa yang dilakukan dari subuh sampai maghrib dan hanya boleh makan buah-buahan, misalnya pisang 3 buah saja).

Ada pula nganyep (puasa yang hanya memperbolehkan memakan yang tidak ada rasanya), ngidang (hanya diperbolehkan memakan dedaunan dan air putih), ngepel (puasa ini mengharuskan seseorang untuk memakan dalam sehari satu kepal nasi saja), ngasrep (hanya diperbolehkan makan dan minum yang tidak ada rasanya, minumnya hanya diperbolehkan 3 kali saja sehari), nyenin-kemis (puasa ini dilakukan hanya pada hari Senin dan Kamis, seperti anjuran rasul Muhammad SAW), wungon (puasa tidak dibolehkan makan, minum dan tidur selama 24 jam), tapa jejeg (tidak duduk selama 12 jam), lelono (melakukan perjalanan dengan berjalan kaki dari jam 12 malam sampai jam 3 subuh), kungkum (bugil dan berendam dalam air dengan posisi bersila dengan kedalaman air setinggi leher, biasanya dilakukan dipertemuan dua buah sungai), ngalong (tapa dengan posisi tubuh kepala di bawah dan kaki di atas seperti kalong/kelelawar), ngeluwang (tapa dengan menguburkan diri di pekuburan atau tempat yang sangat sepi).

***

Pameran kali ini S. Priadi mengetengahkan visualitas yang beragam meski kalau dicermati dengan seksama, sebenarnya, bertumpu pada satu titik persoalan yang ingin diperbincangkan, yakni spiritualitas. Dikatakan ada keberagaman visualitas karena setidaknya ada tiga gaya pelukisan atas karya-karya yang ditorehkan di atas kanvas.

Pertama, ada satu karya yang menggambarkan kebanggaan bangsa Indonesia, candi Borobudur, yang diekspresikan dengan penyusunan struktur blok-blok warna secara acak namun ritmis. Karya ini merupakan “warisan” yang tersisa dari kecenderungan karya S. Priadi yang dipresentasikan dalam pameran “Sebuah Proses” tahun 2009 lalu. Berikutnya, kedua, ada karya ekspresif semi-abstrak. Satu karya jenis ini terdiri dari gabungan sekian banyak kanvas kecil. S. Priadi mengawali proses karya ini dengan torehan, guratan, dan cipratan warna yang ekspresif sesuai rasa yang dikehendakinya. Kadang bahkan memunculkan accidental form karena memang tidak dirancang untuk menggambar(kan) sebuah bentuk apapun. Baru pada akhir dari proses tersebut, citra bentuk yang dibuat dengan membuat cetakan gambar lalu menyemprotkannya dengan cat kaleng—seperti yang lazim dilakukan oleh para stencil artist(s). Bentuk-bentuk yang dibuat dengan teknik semprot itu adalah citra tentang masjid, pura, kuil, vihara, dan lainnya. Lalu yang ketiga, seniman asal Lumajang, Jawa Timur ini melukisi kanvas dengan teknik saputan langsung yang agak kasar. S. Priadi melukiskan subyek benda yang ada dalam kanvas dengan realitistik, namun sengaja tidak dengan sangat detil. Usapan dan guratan kuas yang dilakukannya pun seperti sengaja tidak dengan saputan halus atau apalagi dengan teknik chiaroscuro—sebuah teknik untuk mendatangkan efek pencahayaan dan volume yang detil yang dikembangkan pada jaman renaisans.

Sementara secara tematik karya-karya tersebut—seperti diinginkan oleh senimannya—mencoba menarasikan tentang hal yang berkait dengan spiritualitas. Ini memang cukup berisiko akan menjebak karena pada beberapa karyanya S. Priadi menggambarkan lanskap perihal rumah ibadah seperti masjid, pura, vihara dan lainnya. Juga ada panorama tentang suasana keriuhan manusia yang dicitrakan sedang melakukan prosesi ibadah pada agama atau kepercayaan tertentu. Kalau dipahami secara “tekstual” mungkin ada benarnya dugaan tentang penggalian atas tema relijiusitas atau perihal agama dalam karya-karya seniman otodidak ini. Namun, lebih jauh dari itu, S. Priadi seolah ingin menekankan bahwa nilai-nilai spiritualitas itu lebih luas cakupannya ketimbang relijiusitas atau hal yang berkait dalam agama. Relijiusitas dirasakannya sebagai sebuah kotak-kotak yang bisa berlainan “standarnya” ketika berhadapan dengan agama yang berbeda. Sementara nilai-nilai spiritualitas melampui kotak-kotak agama tersebut. Dan seperti secuil disinggung di atas—bagi orang Jawa—nilai spiritualitas tersebut adalah siasat atau cara untuk mencari dan mendekatkan kehidupan seseorang manusia pada kebenaran—salah satu nilai hakiki dalam hidup. Atas tema ini, S. Priadi berupaya untuk menampilkan potongan panorama yang menggambarkannya sebagai peristiwa yang bersifat kultural, bukan rigid menyorot aspek ritual keagamaannya.

Kita bisa menyimak salah satu karya untuk sedikit kita kuliti. Misalnya lukisan yang mempertontonkan upacara melasti yang berlangsung di sekitar Tanah Lot, salat satu ikon penting dari pulau Bali. Melasti atau makiyis adalah upacara yadnya yang memilki makna untuk menyucikan diri secara lahir dan batin. Dengan proses penyucian itu maka manusia akan mampu membangun kualitas meningkatkan keheningan pikiran yang lebih baik.  Ritual ini juga dihelat untuk memberi kesucian atas jagat raya ini, yang dilakukan dengan prosesi simbolik lewat labuh gentuh dengan labuhan sesaji ke laut. Upacara melasti bagi penganut agama Hindhu di Bali secara umum juga dilakukan dengan cara menyucikan seluruh arca, pratima, nyasa, pralingga. Ini sebagai wujud atau sthana Ida Sang Hyang Widi Wasa, Tuhan Yang Maha Esa dengan segala manifestasiNya. Acara ini berlangsung setahun sekali, sebagai bagian dari acara peringatan Nyepi.

S. Priadi menggambarkan orang-orang yang terlibat dalam upacara melasti itu sebagai sekumpulan manusia yang bergerak di pantai yang segera menyucikan diri dan bumi dengan membuang kotoran ke laut. Lelaku kumpulan manusia ini tergambar berarak dengan berbagai asesoris pelengkapnya yang khas: umbul-umbul, panji-panji, penjor, leak, ikat kepala pada tiap sosok laki-laki, beragam sesaji yang disunggi di kepala para perempuan, dan sebagainya. Seniman ini, sebagai orang Jawa Timur, pernah beberapa kali secara langsung menyimak peristiwa melasti dengan dengan mata kepala sendiri. Karya ini adalah kesaksian visual S. Priadi atas momen sosial-religi yang kemudian dipindahkan dalam kanvas dalam momen artistik. Pandangan artistiknya mungkin saja masih terbilang turistik dan belum memiliki banyak pendalaman seperti hanya peneliti sosial atau warga setempat. Namun, itulah kerangka dan konsep tentang lelaku yang dimiliki oleh S. Priadi ketika menyaksikan peristiwa di Pelau Dewata tersebut.

Karya-karya lain mengisahkan tentang kuil, pulau sunyi dengan vihara di dalamnya, pemandangan sebuah kawasan kota tua dengan arsitektur kuno khas China atau Asia Timur. Seniman kelahiran Jakarta ini melukiskan panorama-panorama tersebut dengan modal dasar dari pengalamannya menonton film atau youtube tentang subyek itu. Sejauh ini, dia belum pernah sekalipun menginjakkan kakinya ke daratan China atau kawasan Asia Timur—seperti subyek yang dilukisnya. Fakta seperti ini memang unik, sekaligus aneh meski bisa berisiko ketika dihadapkan atas persoalan detail. Misalnya tentang detail pada sebuah bangunan atau arsitektur lokal, karakter flora yang berkembang di kawasan tersebut, pola bukit atau gunung, dan sebagainya. Ini tak beda jauh dengan contoh yang cukup monumental, yakni sastrawan Asmaraman Kho Ping Ho dari Solo, Indonesia. Pengarang cerita silat terkenal di tanah air ini selalu mengambil pengisahan dalam lakonnya dengan setting di negeri China. Hampir semua tokoh dalam lakon yang diangkatnya memiliki nama Tionghoa—yang kadang sulit dihafalkan oleh orang Indonesia. Namun, anehnya, Kho Ping Ho sama sekali tidak pernah pergi ke tanah leluhurnya tersebut—bahkan hingga wafat dan menutup semua lakon silat yang ditulis dan membesarkan reputasinya.

Dengan demikian, maka karya-karya S. Priadi yang bersubyek visual tentang bangunan dan lanskap tentang negeri China tak bisa sepenuhnya dinilai dari masalah kemampuannya mengarap secara detil, atau apalagi aspek filosofis yang ada di dalamnya. Namun kita bisa menyimak aspek lain di luar problem detil visualnya, yakni soal nilai-nilai spiritual yang mungkin bisa ditangguknya. Atau mudahnya, aspek spirit (semangat) yang ada dalam karya tersebut. Misalnya spirit tentang kebersamaan, tentang unity pada sekumpulan bangunan yang dikurung secara ritmis dan harmonis oleh bebukitan, dan lainnya.

***

Sampai di titik ini, perbincangan bisa berlanjut dengan pertanyaan: pada problem apakah tema tentang lelaku ini memiliki relevansi? Dugaan pun akan bertumbuk pada realitas personal sang perupa sendiri. Tentu saja dugaan ini bisa ditampik sama sekali, atau sebaliknya, bisa dijadikan landasan atas kemungkinan yang berkait dengan tema itu.

S. Priadi, lelaki kelahiran 12 Juli 1975 ini mengaku bahwa nama yang menempel sebagai identitas diri sekarang ini sedikit berbeda dengan nama yang awal diberikan oleh orang tuanya. Tahir Supriyadi, nama pertama yang diberikan. Setelah menginjak usia beberapa tahun, kondisi kesehatannya tidak sangat sempurna. Supriyadi kecil tidak jarang sakit-sakitan. Kondisi ini meresahkan kedua orang tuanya. Oleh salah satu tetua di lingkungannya, disarankan agar nama anak kecil itu perlu diubah karena dianggap terlalu “membebani” si anak. Kata “tahir” berarti bersih, suci atau murni. Sementara kata “su” berasal dari bahasa Jawa yang berarti baik, dan kata priya atau priyadi mengindikasikan sebagai pria atau laki-laki. Kata atau nama Supriyadi kiranya telah cukup kalau anak ini kelak diekspektasikan sebagai “pria yang baik”. Kata “tahir” tampaknya terlalu superlative, berlebihan, maka terlalu memberatkan si bocah. Dan dengan demikian perlu dikoreksi.

Demikianlah, anak ketiga dari empat bersaudara keturunan pasangan Slamet Sumaryo dan Indun ini awalnya bertumbuh di sekitar Menteng, Jakarta—bersama dua kakaknya: Hendra dan Sri Sumarni, serta seorang adik laki-laki bernama Irfan. Namun masa kanak-kanaknya di metropolitan tidak genap karena kemudian kawasan mereka tinggal (di bantaran sungai) itu terkena banjir besar. Pemerintah daerah tak mengizinkan lagi untuk tinggal di kawasan tersebut. Maka, pulanglah keluarga Slamet Sumaryo yang sehari-hari menjai seorang sopir taksi itu ke Klakah, Lumajang, Jawa Timur.

Saat S. Priadi menginjak kelas I SMP, hempasan masalah pun mendera. Kedua orang tuanya berpisah. Anak-anak mengikuti sang ibu, sementara ayah mereka berdiam di kecamatan berbeda. Beruntunglah bahwa semua anak ini mampu menyelesaikan studi hingga di sekolah menengah atas—sama dengan rata-rata anak di lingkungannya. Pilihan S. Priadi adalah masuk di Jurusan Otomotif di STM Negeri Klakah, Lumajang, dan diselesaikannya pada tahun 1993. Usai itu, sebagai anak yatim, tuntutan untuk hidup mandirilah yang membuatnya harus secepatnya mencari penghidupan sendiri, yang tak lagi merepotkan orang tua, khususnya sang ibu.

Dia bekerja di kotanya, Lumajang, juga di kota yang lebih besar, Surabaya. Lelaku sebagai buruh dialami sejak lulus sekolah. Tahun 1997 garis nasib pun dilengkapinya dengan merantau menjadi seorang TKI (tenaga kerja Indonesia) di negeri jiran, Malaysia. Pengalaman jauh di rantau dilakoni hingga tahun 2000 setelah dia memutuskan untuk pulang. Dan pilihan sementara adalah menjadi buruh serabutan/pocokan yang mengerjakan apapun.

Tahun 2001 adalah tahun penting baginya ketika memutuskan untuk pergi ke Yogyakarta untuk bekerja pada seseorang yang mempekerjakan sebagai penggarap kerajinan figura cermin. Dari situlah kemudian laju naik-turun, zigzag dan lompatan-lompatan perjuangan dan nasibnya bergerak mengikuti waktu. Ada suatu masa ketika dia tinggal di kawasan Nitiprayan, Kasihan, Bantul, yang membuatnya kenal dengan dunia seni rupa. Tembok keterbatasan awalnya tampak besar karena dia tidak pernah mengenyam pendidikan seni rupa. Itu tak menyurutkan dirinya yang secara pelahan masuk di dunia tersebut. Semuanya datang tanpa diduga.

S. Priadi sesekali main ke sebuah studio yang tak jauh dari rumah kontrakannya, dan melihat beberapa pekerja seni sedang menuntaskan lukisan orderan. Setelah sering main, sedikit demi sedikit dia memperhatikan orang-orang di ruang kerja itu yang bekerja mengecat, memberi warna tertentu pada kanvas, ada yang memasang kanvas pada spanram, ada yang membuat packing untuk lukisan yang telah dipesan pencinta seni, dan lainnya. Lama-lama, pemilik studio tersebut—Chusing namanya—menawarkan padanya untuk bekerja di situ. S. Priadi pun menerima. Dan pergulatan di dunia seni rupa pun diawalinya dari menjadi seorang tukang yang membantu mengerjakan hal mendasar dalam praktik kerja seni rupa. Tentu banyak hal yang dikerjakan di situ masih jauh dari kapasitasnya sebagai seniman. Dia merasakan betul sebagai tukang yang mendukung jadnya lembaran-lembaran lukisan pesanan yang kemudian beredar kemana-mana.

Sosok S. Priadi masih mengingat betul betapa dia melakukan kerja awal di situ sebagai tukang mengeblok warna pada sebuah kanvas sebelum akhirnya hasil blok-blokan warnya itu diteruskan oleh orang lain yang lebih piawai untuk dibentuk menjadi lukisan yang lebih kompleks, kaya warna, dengan bentuk-bentuk yang juga beragam. Baginya, di situlah “sekolahan” yang turut menyumbang kemampuannya. Ada rekan-rekan yang sangat diingatnya yang menjadi seniornya di situ, seperti: Sarindi, Slamet, Heri Tarjo, Boeyan, Yusuf, dan lainnya. Masih pula diingatnya lukisan pertama yang dibenahinya karena ada kerusakan, yakni lukisan seniman Dipo Andy—yang sekarang menjadi salah satu perupa cukup ternama di negeri ini.

Pengalaman inilah yang secara pelahan memberikan nyali dan semangat untuk menjadi seniman. Tentu upaya ini tak mudah, karena dia harus melewati sekian banyak proses dan lelaku yang kompleks dan penuh masalah. Ketika dia mulai lancer melukis dengan ide sendiri pun, tantangan untuk berani memutuskan menjadi seniman seutuhnya tidak bisa langsung dilakoni dengan konsisten dan keteguhan hati. Apa boleh buat, ada banyak problem mendasar yang mesti dia penuhi sebagai orang perantauan. Misalnya, pada tahun-tahun sebelum dan sesuah berpameran bertiga di  Taman Budaya Yogyakarta, dia membantu sebagai artisan bagi Butet Kertaradjasa yang juga rajin melukis. Sebagai artisan, dia banyak menimba pengetahuan atas kemampuan Butet yang masih piawai melukis meski waktunya kini banyak tersita di luar dunia seni rupa. Bertahun-tahun kemudian S. Priadi membantu proses kelahiran karya seniman lain seperti Nasirun juga Faizal. Semua itu dilakukan dengan kesadaran bahwa itulah bagian dari lelaku-nya sebagai manusia yang ingin melabeli diri dengan sebutan seniman. Sungguh tak mudah.

Kalau kali ini dia tampil dengan identitas diri S. Priadi sebagai seniman, dia mengakui masih memiliki banyak bopeng yang perlu ditambal dan diparipurnakan di sana-sini. Dia paham dengan adanya batas-batas yang pasti dimiliki oleh setiap seniman—apapun kualitas dan levelnya. Kesadaran bahwa dirinya berangkat sebagai seniman bukan dari jalur akademik, tapi dari jalur otodidak, tentu, akan membawa konsekuensi dan risiko tersendiri. Meski sudah barang pasti dualisme antara akademik-otodidak ini terkadang pada satu dua kesempatan mulai basi dan kurang menemukan relevansinya. Seni rupa, atau publik seni rupa, tetap menantikan kualitas pencapaian karya seniman, bukan berdasar dari mana dia berasal. Tapi kalimat tadi bukan “pil penenang” yang meninabobokan karena seniman seperti S. Priadi memang harus bekerja lebih keras lagi. Ada banyak pekerjaan rumah yang harus dicermati: mulai dari menyeimbangkan antara kemampuan teknisk berkarya dan kepiawaian dalam menglah dunia gagasan bagi karyanya. Kemudian ada tuntutan secara langsung atau tak langsung untuk membangun jejaring kerja agar keberadaan diri dan karyanya bisa lebih luas cakupannya, kemampuan untuk melakukan pricing management yang baik, dan sekian banyak persoalan yang lain. Jadi seniman memang tidak mudah, bung. Ini perlu lelaku yang secara terus-menerus, konsisten, proporsional dalam bersikap, dan lainnya. Tapi tetaplah optimis! *** 

Kuss Indarto, kurator seni rupa.