Thursday, July 30, 2015

Jejaring Kerja Tanpa Negara

Suasana ruang workshop seni rupa di Kindlemajor, di dusun Kisrecse, Nagykanizsa, Hongaria. (foto: kuss)
 
Oleh Kuss Indarto

BERSAMA perupa Yogyakarta, Valentinus Rommy Iskandar, saya memenuhi undangan simposium dan workshop seni rupa di ruang seni Kendlimajor, di Kisrecse, Nagykanizsa, Hongaria, 30 Mei hingga 14 Juni 2015 lalu. Perhelatan yang berlangsung di sebuah desa yang indah dan sunyi itu dihadiri oleh 32 seniman dari 12 negara, yakni Hongaria (tuan rumah), lalu Austria, Jerman, Rusia, Belgia, Bulgaria, Italia, Spanyol, Irak, Kuwait, Oman, dan Indonesia. Acara serupa di tempat itu—yang jaraknya 200-an kilometer dari ibukota Budapest—sudah dihelat 23 kali dalam 16 tahun terakhir. Untuk pertama kalinya, tahun ini, ada seniman dari Indonesia sebagai peserta.

Saya merasa perlu untuk hadir karena Hongaria sendiri merupakan salah satu negara dengan suprastruktur dan infrastruktur seni rupa yang relatif kuat—meski mungkin masih berada di bawah bayang-bayang dominannya Eropa Barat seperti Perancis, Inggris, Jerman dan lainnya. Secara historis pun negeri ini memiliki nama-nama penting dalam perkembangan seni rupa, mulai dari era renaisans, barok, hingga art nouveau, art brut dan seterusnya hingga kini.

Motor penyelenggara perhelatan ini adalah pasangan suami-istri, Zoltan dan Klara Ludvig, seniman sekaligus pemilik ruang seni Kendlimajor. Mereka memiliki tanah sekitar satu hektar yang dikepung ladang gandum nan menghijau, berikut beberapa bangunan yang bisa menampung tiga puluhan seniman untuk kepentingan tinggal, berkarya, dan berpameran.

Dalam acara tersebut semua peserta dihimpun untuk melakukan diskusi non-formal tentang seni rupa, berkarya bersama, dan kemudian diakhiri dengan pameran karya yang dibuat selama workshop. Dalam rentang waktu dua pekan itu para seniman berkarya (seni rupa) antara 2-6 karya—tergantung kemampuan tiap seniman. Pembukaan pameran dihadiri oleh sekitar 200-an tamu. Untuk ukuran Eropa, jumlah tetamu itu sudah masuk kategori perhelatan yang relatif meriah dan besar.

Dari pengalaman mengikuti perhelatan tersebut, saya menimba beberapa persoalan yang mendasar namun penting untuk ditularkan lebih meluas. Pertama, acara (seni) berlabel internasional tidak mesti berformat gigantik dan mementingkan aspek seremonial saja, namun lebih menyusur pada aspek substansial. Ini dapat dirasakan di semua aktivitas dari hari ke hari selama dua pekan. Tak ada upacara megah dengan menghadirkan pejabat untuk menandai perhelatan. Tak ada tebaran sampah visual di sekitar venue untuk merayakan perhelatan. Semuanya tampil wajar. Semua peserta saling ditempa untuk berkomunikasi dan berdiskusi dengan intensif, meski informal, dan berkarya seni dengan kedisiplinan tinggi.

Kedua, ada pola manajemen perhelatan yang memanfaatkan kebersamaan sebagai basis pendukungan atau sponsorship. Meskipun penyelenggara memiliki sponsor utama untuk menggerakkan kegiatan, namun ada pendukung tambahan yang datang dari kolektor, sesama seniman hingga simpatisan yang menetap di kota itu. Dukungan itu kecil namun sangat berarti dan mengesankan. Misalnya, pengadaan makan malam. Pada kesempatan makan tersebut para donator diundang dan diperkenalkan kepada semua peserta. Ini hal sederhana, namun mampu memberi tambahan amunisi bagi suasana kekariban satu sama lain. Di sini, pengertian sponsorship bukanlah sesuatu yang besar, selalu berarti uang, dan tidak berakhir dengan pola relasi patron-klien antara pihak sponsor dan yang disponsori.

Ketiga, durasi dua pekan memungkinkan interaksi yang intensif antarseniman. Dari sinilah muncul persebaran ide baru, unik, dan menarik yang bisa ditularkan ke seniman berikut komunitas di negaranya masing-masing. Di samping itu, tentu, jejaring kerja (networking) baru dengan sendirinya meruyak meluas, seperti rhizoma yang terus bergerak membuat cabang, ranting dan dahan yang berlapis-lapis.

Keempat, seringnya ruang seni Kendlimajor membuat perhelatan tersebut, lambat laun telah menciptakan ikon kawasan tersebut sebagai kawasan seni, yang sebelumnya jauh dari identitas seperti itu. Maka, sebenarnya, problem ikon atau identitas kawasan tertentu pun bisa dikonstruksi oleh kedisiplinan dan keajegan melakukan sebuah peristiwa.

Akhirnya, kita bisa becermin dari sini bahwa perhelatan seni berskala internasional pun bisa dilakukan dengan mandiri tanpa ketergantungan dengan negara dari segi pendanaan atau regulasi sekalipun. Namun, sebaiknya, negara berkewajiban untuk membuat kebijakan yang bias menyamankan dunia kreatif. Dan seniman pun idealnya terus bergerak tanpa harus selalu merengek pada negara. ***

Kuss Indarto, kurator seni rupa, tinggal di Yogyakarta.(Catatam ini telah dimuat di harian Kedaulatan Rakyat, Yogyakarta, edisi Minggu, 19 Juli 2015)

Friday, July 24, 2015

Cumil


Apakah sebuah karya patung bisa ditempatkan di trotoar? Tentu bisa, tapi tetap dengan menyelaraskan konteksnya. Salah satu contoh menarik adalah patung "Man at Work" yang berada di kawasan kota tua di Bratislava, ibukota Slovakia.

Patung itu ditempatkan di atas penutup gorong-gorong, persis di depan pintu sebuah toko di sebuah perempatan jalan. Tapi jalan di depannya bukan lagi jalan untuk kendaraan bermotor, melainkan khusus untuk pejalan kaki (pedestrian). Area itu adalah kawasan wisata yang jadi andalan pemerintah kota Bratislava.

Oleh pematungnya, Victor Hulík (kelahiran 1949), patung itu diberi nama Cumil. Sosok tersebut menggambarkan seorang pekerja kebersihan yang usai kencing di di gorong-gorong, sekaligus bersantai sambil usil mengintip rok-rok perempuan yang memakai rok (tinggi).

Patung berbahan perunggu itu mulai ditempatkan di kawasan kota tua tersebut tahun 1997. Ya, baru 18 tahun lalu. Tapi, uniknya, ada upaya untuk mengonstruksi mitos demi mengukuhkan keunikan patung tersebut. Saya belum tahu dari mana mitos itu dimunculkan. Namun, saat saya menyaksikan patung itu, 17 Juni 2015 lalu, ada seorang pemandu wisata (yang membawa belasan rombongan turis berkebangsaan China) yang menyatakan bahwa kalau seseorang mengelus topi si Cumil, maka dia akan mendapatkan keberuntungan. Dan bila seseorang mengelus hidungnya, maka anak-anaknya akan menjadi orang-orang yang beruntung.

Maka, lihatlah, bagian topi dan hidung dari patung itu kini terlihat begitu mengkilap karena sering dielus, ketimbang bagian lain. Dan saya pun ikut mengelus keduanya. Lha nggo tamba kecut jé, buuunngg...! Hahaha... asemik! *kemakan mitos*

Friday, July 10, 2015

Reproduksi


 

Anna Maria, nama si mbak manis ini. Dia sedang sibuk di depan kanvas dengan sesekali menengok smartphone di tangan yang bisa meng-close up sebuah citra/gambar hingga ratusan kali lebih besar. Di seberangnya tampak lukisan Pieter Brueghel der Elder bertajuk “Massacre of the Innocents” (1565-7). Ya, Ana sedang membuat reproduksi lukisan Bruegel tersebut. Praktik ini sudah dilegalkan sejak lama, setidaknya di Kunst Historiches Museum, Vienna, Austria ini.

Saat saya berkunjung di museum ini pertengahan Juni lalu, ada 3 orang yang sedang melakukan reproduksi karya—yang berbeda. Ana sendiri adalah karyawan museum itu yang tugasnya memang membuat lukisan reproduksi. Sedang satu yang lainnya, adalah siswi (semacam) sekolah seni rupa yang sedang magang di situ—dengan seleksi yang sangat ketat untuk masuk di situ.

Lho, apa karya itu nanti apa tidak diselewengkan oleh pemiliknya kelak—dengan diklaim sebagai karya asli? Menurut Anna, museum itu sudah punya sistem yang sangat mungkin bisa mencegah hal itu. Ada sertifikat (sebagai karya reproduksi), ada tulisan di balik kanvas yang menyatakan bahwa lukisan itu hanya reproduksi, dan tulisan itu tertoreh dari cat berbahan khusus yang relatif sangat sulit dihapus. Ditambah lagi ada sedikit serbuk metal yang ditabur di bagian tertentu di kanvas yang hanya diketahui oleh pihak museum.

Jadi, kalau ada yang mencoba mengklaim bahwa itu karya asli, pihak museum bisa mengujinya lewat beberapa cara. Entah dari torehan cat di belakang kanvas, juga memakai detektor yang apabila didekatkan di bagian tertentu yang ada serbuk metalnya, maka detektor akan bunyi dan menyala. Di luar hal itu, ukuran kanvas dari lukisan reproduksi itu berbeda. Sedikit lebih kecil dari karya asli yang ditiru.

Thursday, July 09, 2015

Promo Awal



SAKING banyaknya karya seni rupa yang menyerbu memori hari itu, 16 Juni 2015, aku lupa nama seniman yang karya lukis abstraknya terpampang angkuh ini. Seingatku, kalau tak salah, lukisan ini dibuat oleh salah satu pelopor seni lukis abstrak Austria di dekade 1960-an.

Tapi hal yang menggangguku ketika masuk di ruangan ini (juga beberapa ruangan lain) adalah tergeletaknya beberapa kertas seukuran folio di lantai kayu. Kertas itu yersimpan dalam sampul plastik bening yang rapi. Kuamati, di sana ada foto karya seniman legendaris Austria (yang mati muda), Egon Schiele (1890-1918).

Menurut salah satu petugas yang kutanyai, lembar-lembar kertas itu adalah bagian dari promosi awal atas pameran berikutnya yang akan berlangsung di situ, di Museum Albertina, Vienna/Wina, Austria. Bahkan tata letak karya yang akan dipamerkan pun sudah disusun jauh-jauh hari. Jadi, foto karya yang ada dalam lembar kertas di lantai itu, kelak beberapa minggu lagi, karya aslinya ya akan didisplai di tembok di atasnya.

Kukira, ini bentuk promosi awal yang unik. Memang cukup mengganggu peletakannnya. Dan itu "meneror" pengunjung hingga jadi penasaran--seperti saya. Hanya sayang aku belum cukup punya uang untuk bisa datang ke museum itu beberapa pekan ke depan. Kecuali ada keajaiban. Siapa tahu, hahaha! Oh, Egon Schiele! ***

Thursday, July 02, 2015

Mural di Stasiun Bratislava


Dari catatan sejarah, stasiun kereta api Bratislava Hlavná Stanicá di Slovakia resmi dibuka mulai 20 Agustus 1848. Pemugaran besar dilakukan tahun 1850, dan 1988--saat-saat terakhir sebelum Cekoslovakia bubar tahun 1992, terbelah menjadi dua republik, Ceko dan Slovakia.

Mural atau lukisan dinding menjadi bagian interior dari stasiun Bratislava ini sejak tahun 1960. Sayang tak begitu jelas siapa seniman pembuatnya. Sementara ini belum kutemukan situs yang membahas ihwal karya tersebut. Namun, dugaan yang bisa dikaitkan dengan tradisi "seni rupa propaganda" yang terjadi di negara-negara Blok Komunis dengan Uni Soviet sebagai patron utamanya, dan negara-negara Eropa Timur yang berperan menjadi satelit dan subordinatnya. Tradisi membuat lukisan dinding sudah cukup lama di Eropa Timur, dan makin menemukan muaranya ketika di Polandia, tahun 1950 didirikan Polish Poster School. Ini makin menguatkan tradisi estetika poster dan dinding karena dalam kurikulumnya menjadikan dinding sebagai salah satu subyek dalam praktik estetika.

Mural di stasiun Bratislava kukira tak lepas dari arus besar estetika dinding dan poster yang berkembang pesat di negara tetangganya, Polandia, serta arus besar ideologi komunis yang ingin terus mendistribusikan gagasan politiknya di semua lini, di segala jejaring masyarakatnya--antara lain lewat seni. Dan stasiun kereta api adalah salah satu subyeknya.

Secara visual, mural di stasiun ini kurang bisa aku pahami. Lagi-lagi hanya bisa menduga. Tema tentang rasionalitas atau pencerahan lewat ilmu pengetahuan tampaknya menjadi gagasan dasar karya ini. Tampak ada citra tentang roket yang siap meluncur, atau beberapa sosok membawa buku. Cecitraan tersebut seperti mengarahkan pada sebuah kemungkinan bahwa dunia ilmu pengetahuan begitu penting sehingga bisa membuat orang bergerak, "move on", seperti tiga sosok yang bergerak si sebelah (paling) kiri, meninggalkan satu orang yang terduduk di tempat. Entahlah. Selamat berpuasa, bebaskan imajinasimu!