Thursday, March 21, 2013

Pameran Nusantara 2013 Memanggil Seniman

KEMBALI, Galeri Nasional Indonesia (GNI) akan menghelat pameran dua tahunan, yakni Pameran Nusantara (PamNus) 2013, yang rencananya berlangsung bulan Mei 2013 mendatang. Seperti biasa, pameran ini terbuka bagi seniman dari mana saja di seantero wilayah Indonesia untuk mendaftar dan mengaplikasi, di samping tentu saja panitia juga memberi undangan khusus bagi beberapa seniman yang selama ini berkarya dengan kecenderungan karya yang pas dengan karakter tema kuratorial.

Adapun tema kuratorial PamNus kali ini adalah “Meta-Amuk”, yang secara harfiah kurang lebih berarti “melampaui aksi kekerasan amuk” (lihat detilnya di pengantar kuratorial di lampiran bawah). Tema ini dirasakan pas dengan kurun waktu sekarang ini ketika bangsa dan Negara Indonesia tengah masuk dalam masa peralihan kekuasaan dari presiden Susilo Bambang Yudhoyono ke pemimpin berikutnya tahun 2014 depan. Tema ini tentu tidak berarti ketat membincangkan perihal politik karena ada pendar-pendar persoalan sosial budaya kemasyarakatan yang berkait dengan soal tersebut. Di sinilah peran seniman peserta diharapkan bisa memberi pengayaan tafsir atas tema ini, yang berkaitan dengan budaya kritik, protes serta perlawanan dalam tradisi di banyak kalangan di Nusantara.

Tim kurator yang bekerja bagi PamNus kali ini adalah Kuss Indarto dan Asikin Hasan, keduanya kurator Galeri Nasional Indonesia. PamNus sebelumnya, yakni tahun 2011 bertema “Imaji Ornamen” dan tahun 2009 bertajuk “Menilik Akar”. Berikut detil dari ketentuan Pameran Nusantara 2013:

Pengantar Kuratorial Pameran Nusantara 2013:
Meta-Amuk


SECARA historis, “tradisi” mengritik, atau protes sebagai bagian dari sebuah perlawanan telah muncul sejak lama. Tapa pepe atau bertapa dengan jalan berjemur diri di bawah panas sinar matahari adalah contoh kasus yang pernah terjadi pada zaman Majapahit. Dalam novel “Gajah Mada”, penulis Langit Kresna Hariadi mengisahkan bahwa Raja Majapahit kala itu, Ra Kuti, mendapatkan tampuk kekuasaan dengan cara-cara yang dianggap rakyat tidak sah. Lewat intrik dan jalan kelicikan, Ra Kuti merebut kursi kerajaan dari Raja Jayanegara. Ra Kuti memang bukan orang lama dalam pemerintahan. Dia memiliki jabatan elit di kerajaan, yakni sebagai anggota Dharmaputera.

Kenyataan itu membuat geram rakyat. Selain meraih kekuasaan dengan cara yang tidak sah, kebijakan yang dibuatnya juga merugikan rakyat. Sistem ekonomi kacau balau dan terjadi krisis pangan yang luar biasa. Maka, rakyat memberontak dengan menggelar aksi tapa pepe. Sayang, ketika tapa pepe digelar, Ra Kuti mengerahkan pasukan dan menyapu demonstran dengan kekerasan. Namun sejarah mencatat, tak lama setelah itu, Ra Kuti berhasil digulingkan. Inilah gambaran kecil betapa tapa pepe sebagai bentuk perlawanan rakyat telah ada dalam sejarah kultur demokrasi ala Nusantara.

Tapa pepe ini juga terjadi atau berlanjut sebagai kebiasaan yang muncul di bentang waktu berikutnya dan di kawasan lain, seperti di masa pemerintahan kerajaan Mataram (Islam) hingga pecah menjadi Keraton Surakarta dan Keraton Yogyakarta.

Di Keraton Surakarta dan Keraton Yogyakarta, tradisi dan kegiatan protes tidak hanya dilakukan secara berkelompok, tetapi juga secara perorangan. Tempat untuk menggelar aksi protes pun sudah disiapkan secara khusus. Tempat aksi protes acap kali dilakukan di alun-alun keratin, atau halaman depan istana raja.

Protes ini tidak dianggap “pembangkangan” terhadap raja. Sebab, dengan posisi raja sebagai “pengembang keadilan”—perwujudan Ratu Adil, maka aksi protes atau tapa pepe itu dianggap sah dan diakui sebagai hak dasar rakyat. Menariknya, sekalipun pelaku tapa pepe hanya perorangan, tak jarang raja langsung merespons dengan memanggil dan menanyakan maksudnya.

Selain di Jawa, tradisi protes dan kebebasan berpendapat juga dikenal oleh masyarakat Bugis di Sulawesi Selatan. Sejarawan Bugis, Prof. Dr. Mattulada bahkan mencatat bahwa hak protes dalam masyarakat Bugis sudah diatur dalam sistem dan norma. Salah satu prinsip demokrasi Bugis, yang sudah dijalankan jauh sebelum Eropa mengenal terminologi demokrasi, adalah konsep “kedaulatan rakyat”, seperti tersirat di bawah ini:

Rusa taro arung, tenrusa taro ade,
Rusa taro ade, tenrusa taro anang,
Rusa taro anang, tenrusa taro tomaega.
(Batal ketetapan raja, tidak batal ketetapan adat; Batal ketetapan adat, tidak batal ketetapan kaum; Batal ketetapan kaum, tidak batal ketetapan Rakyat banyak)

Orang Bugis juga sudah mengenal konsep “kemerdekaan manusia” (amaradekangeng). Ini ditulis dengan jelas dalam Lontarak, naskah kuno beraksara Bugis-Makassar. Di situ sudah tertulis prinsip berikut:

Niaa riasennge maradeka, tellumi pannessai:
Seuani, tenrilawai ri olona.
Maduanna, tenriangkai’ riada-adanna.
Matellunna, tenri atteanngi lao ma-niang,
lao manorang, lao orai, lao alau, lao ri ase, lao ri awa.
(Yang disebut merdeka (bebas) hanya tiga hal yang menentukannya: pertama, tidak dihalangi kehendaknya; kedua, tidak dilarang mengeluarkan pendapat; ketiga tidak dilarang ke Selatan, ke Utara, Ke Barat, ke Timur, ke atas dan ke bawah. Itulah hak-hak kebebasan)

Dalam pengakuan mengenai “Hak Protes”, masyarakat Bugis sudah mengaturnya dalam sistim adat. Ada lima bentuk aksi protes yang dikenal oleh masyarakat Bugis:

1. Mannganro ri ade’: hak mengajukan petisi atau permohonan kepada raja untuk mengadakan suatu pertemuan tentang hal-hal yang mengganggu kehidupan rakyat. Ini adalah model aksi yang mirip dengan pengajuan petisi, pernyataan sikap, atau konferensi pers di jaman sekarang.

2. Mapputane‘: hak untuk menyampaikan keberatan atau protes atas perintah-perintah yang memberatkan rakyat dengan menghadap raja. Jika itu menyangkut kelompok, maka mereka diwakili oleh kelompok kaumnya untuk menghadap raja, tetapi jika perseorangan, langsung menghadap raja. Ini model aksi yang mirip dengan metode negosiasi di jaman sekarang.

3. Mallimpo-ade’: protes yang dilancarkan kepada raja yang bertindak sewenang-wenang atau pejabat kerajaan lainnya. Biasanya, jalan ini ditempuh setelah metode Mapputane’ menemui kegagalan. Pelaku protes Mallimpo-ade’ tidak akan meninggalkan tempat protes sebelum permasalahannya selesai. Ini hampir mirip dengan model-model aksi pendudukan yang menginap berhari-hari bahkan berbulan-bulan di lokasi aksi.

4. Mabbarata, hak protes rakyat yang sifatnya lebih keras, yang biasanya dilakukan dengan berkumpul di balai pertemuan (barugae). Aksi protes ini biasanya akan meningkat menjadi perlawanan frontal (pemberontakan) andaikan raja tidak segera menyelesaikan tuntutan rakyat. Ini mirip dengan rapat akbar atau vergadering yang sudah dikenal sejak jaman pergerakan anti-kolonial.

5. Mallekke’ dapureng, aksi protes rakyat yang dilakukan dengan cara berpindah ke negeri lain. Hal ini dilakukan jikalau empat metode aksi di atas gagal menghentikan kesewenang-wenangan sang Raja. Ini mirip dengan gerakan protes sekarang yang disebut “suaka politik” ke negara lain.

Dengan melihat sekelumit sejarah di atas, adalah sangat naïf, bahkan memalukan, jikalau pemerintah sekarang alergi dengan aksi protes. Sebab, aksi protes bukanlah sesuatu yang buruk, justru dipandang perlu untuk “menyehatkan pemerintahan”.

***

KIRANYA, perca-perca contoh sederhana di atas bisa memberi gambaran betapa masyarakat telah lama memiliki tradisi untuk bersuara memberi masukan, kritik bahkan protes terhadap penguasa. Dan ruang atau sistem untuk itu juga tersedia.

Dalam dunia kreatif seni rupa, tradisi kritik, protes, atau pun perlawanan juga mendapat tempat. Kita bisa mencomot sedikit contoh untuk ditampilkan sebagi deret kecil representasi atas kecenderungan itu. Lukisan “Penaklukan Diponegoro” (1857) karya Raden Saleh Sjarief Boestaman adalah contoh legendaris betapa sang seniman sebagai nasionalis ingin memberi perlawanan kultural dengan memberi perspektif bandingan atas lukisan “Penyerahan Diri Diponegoro kepada Kapten De Kock” (1830) karya Nicolaas Pieneman.

Lebih dari seabad setelah itu, muncul karya serigrafi karya Hardi, “Presiden R.I. 2001” yang menjadi salah satu ikon Gerakan Seni Rupa Baru (GSRB) sekitar tahun 1974. Karya ini telah memberi sinyal tentang otoritarianisme Soeharto yang perlu dikritisi dengan munculnya para pemimpin baru. Sosok Hardi dalam karya tersebut seperti sebuah personifikasi masyarakat yang mulai butuh pemimpin alternatif yang tidak tiranik. Sinyal itu ternyata menemu pembenaran dalam realitas politik karena Soeharto baru jatuh 24 tahun setelah karya itu dibuat, yakni tahun 1998.

Dan dalam ranah seni rupa, salah satu penanda penting dari kejatuhan rezim Soeharto dua tahun sebelum pergantian milenium itu adalah kelahiran lukisan “Berburu Celeng” gubahan Djoko Pekik. Karya tersebut menjadi penanda, komentar, sekaligus kritik betapa kepemimpinan yang lalim telah dibiarkan bertahun-tahun lamanya berkuasa dan menghabiskan sekian banyak nilai-nilai mulia yang berkembang dalam perikehidupan berbangsa.

Kuratorial pameran ini kiranya mencoba menyoal perihal persoalan mendasar dari fungsi seni rupa selain sebagai ekspresi pribadi, yakni sebagai memiliki fungsi sosial dengan menggagas perkara sosial kemasyarakatan dalam cakupan yang lebih luas. Tajuk “Meta-Amuk” dihasratkan menjadi gambaran bagi seniman untuk mengurai persoalan tentang dunia dan tradisi kritik, protes, atau perlawanan sebagian yang melekat dalam budaya di Nusantara. Kata “meta” (melampaui) dan “amuk” (perilaku mengamuk untuk melakukan praktik kekerasan fisik) memberi semacam landasan bahwa karya-karya yang diharapkan lahir lewat tema ini telah melampaui masalah-masalah fisik, namun diandaikan begitu simbolik. Membincangkan sebuah perubahan kekuasaan, misalnya, tak harus digambarkan dengan darah, pedang terhunus, dan sebagainya.

Tema tersebut kiranya sangat relevan dengan kondisi sosial kemasyarakatan akhir-akhir ini yang hendak menjemput datangnya pemerintahan dan sosok pemimpin baru tahun depan. Ada sekian banyak kasus anarkhisme dan situasi khaotik/khaos (kacau), namun diharapkan justru akan melahirkan karya-karya yang mampu melampaui anarkhisme tersebut dalam penggambaran dan penyampaian lewat sistem representasinya. ***

Tim Kurator:Kuss Indarto
Asikin Hasan

A. CATATAN BAGI PESERTA PAMERAN
• Calon peserta terdiri dari para perupa perorangan atau kelompok dari berbagai  wilayah di Indonesia, berdasarkan proses seleksi tim kurator dan juga berdasarkan undangan khusus dari pihak Galeri Nasional Indonesia.
• Setiap calon peserta WAJIB MENDAFTARKAN DAN MENGISI FORMULIR yang disediakan panitia PALING LAMBAT tanggal 10 April 2013, melalui email pameran.nusantara2013@gmail.com

Alamat pengembalian Formulir Pendaftaran/Kesediaan calon peserta adalah:

Panitia Pameran Seni Rupa Nusantara 2013 “Meta-Amuk”
Galeri Nasional Indonesia
Jl. Medan Merdeka Timur no. 14
(depan Stasiun KA. Gambir)
Jakarta Pusat
TEL/ FAX    : 021 - 34833954 / : 021 - 3813021
Email        : pameran.nusantara2013@gmail.com

u.p. Zamrud Setya Negara (081314821331)
       Tunggul Setiawan (HP : 085780825275 )

• Setiap peserta WAJIB menyertakan keterangan CV/Biodata dan konsep karya dalam BAHASA INDONESIA sebagai DATA FILE (Word Document). Biodata terdiri dari: data diri, alamat lengkap, prestasi, dan photo diri serta image karya yang akan dipamerkan (high resolution).
• Bagi Peserta yang belum melengkapi data guna keperluan cetak katalog pada waktu yang telah ditentukan panitia, maka panitia akan menggunakan data seadanya.

B. CATATAN TENTANG KARYA          
• Pengerjaan dan penyiapan karya adalah tanggung jawab peserta
• Karya yang diajukan untuk dipamerkan merupakan karya yang dibuat dalam rentang waktu dari tahun 2012 hingga 2013 serta milik masing-masing peserta.
• Karya yang dipamerkan merupakan hasil tanggapan terhadap tema “Meta-Amuk”.
• Karya peserta berupa: lukisan, patung, seni cetak, fotografi, video art, object, instalation art
• Media dan teknik pembuatan karya tidak mengikat/BEBAS.
• Setiap peserta kengirimkan dua buah karya dalam bentuk image/foto ukuran 10 R (dikirim via pos) atau dalam bentuk soft data image resolusi minimal 500 kb dan maksimal 4 mb (dikirim via email) untuk bahan seleksi tim kurator.

• Ukuran karya:
Karya 2 dimensi (minimal 1x1 m dan maksimal lebar 3x4m)
Karya 3 dimensi (minimal 50 cm3 dan maksimal 3 m3)
Karya instalasi (maksimal 3 m3)
Dengan diperbolehkan pilihan formatnya, yakni secara vertikal ataupun horisontal.
• Pilihan ukuran, materi dan bentuk karya yang bersifat khusus harus dibicarakan dengan pihak kurator.

C. PENGEPAKAN DAN PENGIRIMAN KARYA• Pengepakkan dan pengiriman karya ke Galeri Nasional Indonesia (Jakarta) adalah tanggung jawab peserta pameran.
• Masing-masing perserta disarankan menyiapkan kemasan bungkus atau kotak karya yang memadai sehingga tidak akan mengakibatkan kerusakan karya saat proses pengiriman karya
• Peserta wajib mengirimkan karyanya dalam kondisi finish siap pajang/displai.
• Bagi karya peserta yang menggunakan pigura, maka peserta WAJIB mengirimkan karyanya dalam kondisi SUDAH DIPIGURA (frame)/finish.
• Karya paling lambat diterima di Galeri Nasional Indonesia tanggal 30 April 2013
• Alamat pengiriman karya:

Panitia Pameran Seni Rupa Nusantara 2013 “Meta-Amuk”
Galeri Nasional Indonesia
Jl. Medan Merdeka Timur no. 14
(depan Stasiun KA. Gambir)
Jakarta Pusat
TEL/ FAX    : 021 - 34833954 / : 021 - 3813021
Email        : pameran.nusantara2013@gmail.com

u.p. Zamrud Setya Negara (081314821331)
       Tunggul Setiawan (085780825275)

• Pengepakkan kembali dan pengiriman ulang karya kepada perupa/peserta adalah tanggung jawab pihak Galeri Nasional Indonesia.

D. DISPLAI KARYA• Displai karya adalah hak dan tanggung jawab kurator pameran dan Galeri Nasional Indonesia.
• Pemasangan atau display karya yang bersifat khusus akan didiskusikan oleh kurator dengan pihak perupa/peserta yang bersangkutan.
• Pengadaan alat yang digunakan untuk presentasi karya adalah tanggung jawab masing-masing peserta yang menggunakannya.

E. PUBLIKASI• Galeri Nasional Indonesia akan memproduksi katalog pameran.
• Publikasi kegiatan akan dilakukan melalui berbagai saluran promosi dan interaksi elektronik.
• Undangan dan poster pameran akan diproduksi Galeri Nasional Indonesia.
• Galeri Nasional Indonesia akan menyelenggarakan kegiatan press conference dan menyebarkan press release menjelang pelaksanaan kegiatan.

F. RANGKAIAN KEGIATAN• Kegiatan pameran akan dilengkapi oleh rangkaian kegiatan :
1.    Diskusi/Sarasehan mengenai Seni Rupa Nusantara

CATATAN : TENGGAT WAKTU PENTING (TIME FRAME)1. Pendaftaran Kesertaan Peserta Pameran,Pengumpulan Biodata Seniman dan Pengumpulan Image/photo karya, Proses berkarya
14 Maret - 10 April 2013  

2. Proses seleksi tim kurator
15 - 16 April 2013

3. Pengumuman Karya/Peserta terpilih
17 April 2013

4. Pengiriman Karya ke GNI
18 - 30 Mei 2013

5. Displai Karya
3 - 7 Mei 2013

6. Pembukaan Pameran
8 Mei 2013

7. Pameran Seni Rupa Nusantara 2011 “Imaji Ornamen”
8 - 24 Mei 2013

8. Pembongkaran Display Karya
25 - 26 Mei 2013

9. Pengembalian Karya pada Peserta
29 Mei – 29 Juni 2013


LEMBAR KESEDIAAN PESERTA*)
Pameran Seni Rupa Nusantara 2013 “Meta-Amuk”
GALERI NASIONAL INDONESIA  8 - 24 MEI 2011
Setelah membaca dan memahami butir-butir keterangan penyelengaraan kegiatan,
maka dengan ini:
Nama        :   __________________________________________________________________________
Alamat        :   _________________________________________________________________________
           ______________________________________________________________________________
           ______________________________________________________________________________
Tel/Fax    :  ___________________________________________________________________________

email        :  ___________________________________________________________________________

menyatakan bersepakat dengan seluruh ketetapan yang telah ditentukan dan bersedia menjadi peserta pameran dan akan menyertakan foto/image karya dengan data sebagai berikut:
Judul Karya        :   __________________________________________________________________________
Tahun            :   _______________________________________________________________________
Medium/Teknik    :   ____________________________________________________________________
Ukuran            :  _______________________________________________________________________
Konsep karya (bisa dalam bentuk lampiran word dokumen)        : _________________________________________________________________________________
_________________________________________________________________________________
_________________________________________________________________________________

Demikian pernyataan dan keterangan yang dapat saya sampaikan.

Terima kasih.

_______________________________ , 2013

[ _______________________________ ]


*) Formulir Kesedian Peserta PALING LAMBAT DIKEMBALIKAN TANGGAL 10 APRIL 2012

Wednesday, March 20, 2013

Djon, Affandi, dan "Maestro Hati"

Pak Djon, mantan sopir dan asisten pribadi maestro Affandi di depan rumahnya di bilangan Pingit, Yogyakarta. Tanggal 8 Maret kemarin usianya menginjak 78 tahun. (foto: kuss indarto)

Oleh Kuss Indarto 
MAESTRO Affandi sudah berpulang ke haribaan pada 23 Mei 1990, atau hampir 23 tahun lalu. Jasadnya dimakamkan di halaman museum yang didirikannya, Museum Affandi, di Jalan Laksda Adisucipto 167, Yogyakarta. Pemikiran-pemikiran tentang seniman kelahiran Cirebon tahun 1907 ini telah banyak digaungkan oleh kalangan seniman, sejarawan, kritikus, atau para intelektual lain yang pernah bersentuhan dengan dunia gagasan dan jagad kreatif Affandi.

Namun di celah pendapat dan pemikiran mereka yang mengonstruksi kebesaran Affandi, tak banyak muncul di permukaan orang-orang kecil yang berperan besar bagi perjalanan hidup Affandi. Djon adalah salah satu dari sekian banyak orang yang berada di lingkar kehidupan dan lingkup dunia kreatif sang maestro. Suhardjono, nama lengkapnya. Dia lahir di bilangan Pingit, Yogyakarta, 8 Maret 1935. Hingga di usianya yang ke-78 tahun, tubuhnya relatif masih sehat. Giginya masih utuh. Bersepeda adalah aktivitas olahraga yang acap dilakukannya hingga kini. Bahkan, belum lama ini pak Djon mengaku mengunjungi salah satu anaknya yang menetap di Salatiga, yang berjarak lebih dari 80 km dari Yogyakarta, dengan bersepeda. Tampaknya, pada bentang usianya yang jauh dari muda masih menyisakan kegesitannya seperti tatkala dia menjadi asisten pribadi seniman besar Affandi.

Laki-laki yang murah senyum ini memiliki peran yang tak bisa diabaikan begitu saja dalam perjalanan karier Affandi sebagai seniman yang “banyak maunya”. Ya, Affandi termasuk sosok manusia yang begitu impulsif, mudah mengubah keputusan-keputusan dalam aktivitasnya sehari-hari berdasarkan suara hatinya yang datang tiba-tiba. Kondisi psikologis seperti ini tentu tak mudah untuk diikuti oleh orang yang ada didekatnya. Namun tidak demikian dengan Djon. Dia mampu mengakomodasi hampir tiap kemauan Affandi yang sering di luar dugaan dan rencana.

Awalnya, Djon didaulat untuk menjadi sopir pada tahun 1962 setelah sopir Affandi sebelumnya, Yitno, telah uzur. Bapak 5 anak yang sebelumnya menjadi sopir truk ini langsung menerima tawaran tersebut. Namun justru Affandi yang hati-hati. Maklum, kala itu, seniman flamboyan ini baru membeli mobil sport baru: Impala, keluaran pabrikan Chevrolet, Amerika Serikat. Tentu dia tak ingin mobil kebanggaannya tersebut dikendarai dengan sembrono oleh sopir muda yang waktu itu baru berusia 27 tahun.

“Testing” mengemudi bagi Djon dilakukan secara tak sengaja dan mendadak oleh Affandi. Dia tiba-tiba, nyaris tanpa persiapan, langsung bilang: “Ayo, kita ke Bandung!” Setelah ke kota Kembang mengunjungi keluarga dan sahabat-sahabatnya, tanpa direncana lebih dahulu, Djon diminta untuk mengarahkan mobil menuju Jakarta. Demikian juga ketika sampai di ibukota seusai mendatangi koleganya, Affandi secara tiba-tiba ingin bersilaturahmi ke keluarganya di Semarang. Baru setelah itu kembalilah ke Yogyakarta. Perjalanan yang memakan waktu beberapa hari itu memberi keyakinan kepada sang maestro bahwa Djon memang pantas untuk mendampinginya sebagai sopir.

Keduanya saling menemukan kecocokan secara psikologis. “Berjodoh”. Lama kelamaan persenyawaan kejiwaan antara Affandi dan Djon seperti menemukan garis “kesetaraan” karena saling membutuhkan. Affandi begitu percaya pada Djon. Maka, kemudian Djon seperti diposisikan dalam tiga hal: sebagai sopir pribadi, sebagai juru masak, dan sebagai asisten. Ini yang bisa dibahasakan sebagai “asisten pribadi” oleh Djon. Affandi juga merasa beruntung karena mempekerjakan Djon sudah seperti mengkaryakan tiga orang sekaligus.

Sebagai sopir, Djon bisa berhati lapang dan sabar untuk menghadapi Affandi yang sangat impulsif. Misalnya, ketika mobil melaju dengan kencang di kawasan Jawa Timur (hendak menuju Bali), ayahanda pelukis Kartika Affandi itu bisa dengan tiba-tiba minta berhenti untuk makan setelah melihat sekilas bangunan warung makan yang unik. Atau, dalam kasus serupa, tiba-tiba Djon diminta untuk berhenti di suatu tempat yang lanskapnya dianggap bagus, dan melukislah di tempat “temuan” dadakan tersebut. “Temuan” itu, sudah barang pasti, menghapuskan rencana-rencana yang sudah disusun sebelumnya. Sikap Djon yang akomodatif inilah yang membuat Affandi merasa nyaman.

Lalu, dalam kapasitas sebagai juru masak, tak pelak, memberi sumbangan bagi rasa aman Affandi ketika harus menghadapi lingkungan baru dalam perjalanan di dalam dan di luar negeri, atau setidaknya saat Sang Sukrasana ini berada di luar rumah. Dalam perjalanan ke kawasan favorit, Pulau Dewata, kehadiran Djon di sekitar Affandi sangat membantu untuk menyelamatkan gairah makan yang sedikit banyak akan berpengaruh pada hasratnya untuk merampungkan tugas estetiknya di depan kanvas demi kanvas sebagai seniman. Djon paham betul dengan makanan kesukaan sang maestro, seperti tempe bakar, sayur asem, sayur ca tahu putih campur tauge, ditambah sambal terasi.

Dan sebagai asisten seniman, porsi tugas Djon nyaris tanpa batas. Semua hal yang bersinggungan dengan aktivitas kreatif Affandi, banyak dikerjakan oleh Djon. Mulai dari membuat spanram berikut tingkat presisinya yang akurat, memasang kanvas dengan kekencangannya yang tepat, menyediakan tube-tube warna cat minyak saat melukis, dan sebagainya, semua dikerjakan juga oleh Djon. Dalam kasus-kasus tertentu, saking melarutnya perasaan terhadap “dunia batin” Affandi, Djon bahkan hafal betul warna-warna apa yang dibutuhkan saat melukis. Umpamanya, saat Affandi menginginkan cat warna “biru bagus”, maka yang dimaksudkan adalah “ultramarine blue”, dan bukan “Prussian blue”. Bila sang pelukis membutuhkan “kuning bagus”, maka diberikannya “Indian yellow”, bukan “Lemon Yellow” atau “Chrome yellow”. Semuanya telah berlangsung secara reflektif karena saking sering mengiringi kebiasaan Affandi. Bahkan, terkadang, Djon juga memutuskan untuk memilih warna tertentu untuk bidang gambar yang belum tersentuh cat. Dan Affandi mengiyakan tanpa banyak alasan.

“Jodohnya” batin Affandi dan asisten pribadinya Djon membuat mertua seniman Sapto Hudoyo (almarhum) itu begitu bermurah hati dalam memberikan fasilitas—sejauh itu juga untuk kepentingan Affandi sendiri. Tak tanggung-tanggung. Dalam berbagai kesempatan melawat ke mancanegara, Djon banyak diikutkan dalam rombongan. Affandi pertama kali mengajak Djon ke Expo 70 di Osaka, Jepang, tahun 1970. Setelah itu, berbagai kota di dunia masuk dalam pengalaman batin Djon karena betul-betul disambanginya atas ajakan sang juragan. Djon mengenyam pengalaman di Mesir, Paris, Venesia, Bangkok, New Delhi, hingga kira-kira ada 30 kota disinggahi Djon.

Bahkan, pengalaman yang tak pernah dilupakannya adalah ketika Affandi menerima penghargaan dari Yayasan Dag Hammerskoeld di kota Florence, Italia, tahun 1977. Ketika ada pembicaraan penting dalam sebuah ruang antara Affandi dengan Dr. Stifano, petinggi Yayasan Dag Hammerskoeld, Affandi merasa perlu membawa masuk Djon dan memperkenalkan pada pejabat tersebut. Justru bukan Duta Besar Indonesia untuk Italia waktu itu, Sumarya Sastrowardoyo.

Kedekatan sang maestro juga dikisahkan oleh Djon dengan penghormatannya pada posisinya sebagai “asisten pribadi” itu. Affandi memberi gaji yang sangat cukup. Bahkan lebih tinggi bila dibandingkan dengan gaji rata-rata sopir pribadi di Yogyakarta waktu itu. Belum lagi pada kebaikan hati yang lain yakni dengan memberikan tambahan gaji berupa lukisan. Bagi Djon itu sangat berharga dan untuk bekal pensiun. Sayang memang, tambahan gaji berupa lukisan itu sekarang telah habis dijual ke beberapa kolektor ataupun kolega Affandi, di antaranya menjadi koleksi Soenaryo (Surabaya), Dicky Tjokrosaputro, Agung Tobing, dan di beberapa kolektor lain yang merupakan kolega Affandi.

Narasi tentang kedekatan Affandi dan Djon kiranya bisa menjadi inspirasi yang bagus bagi masyarakat seni rupa—atau masyarakat umum—dalam membangun relasi kemanusiaan antara “juragan dan pekerja”. Sang maestro telah menunjukkan kemaestroannya tidak hanya pada dunia kreatif saja, namun juga dalam dunia sosial kesehariannya. Ada aspek kemanusiawian yang melekat pada Affandi ketika dia membutuhkan bantuan orang lain untuk mendukung daya hidup dan spirit kreatifnya pada satu sisi. Dan di sisi lain, ada sosok Djon yang tak memiliki kemampuan kreatif dan intelektualitas yang sepadan dengan Affandi, namun mampu mengimbangi kekuatan sang maestro lewat kesetiaan dan pengabdiannya yang besar. Pertemuan dua jiwa dengan kesetaraan karena pembagian peran ini sungguh sangat sulit ditemui sekarang, termasuk di dunia seni rupa. Kini, pola patron-klien yang memberi batas tegas atas kelas sosial tampak begitu jelas.

Perjalanan Djon selama puluhan tahun mendampingi Affandi sebagai “aspri”, sesungguhnya, saat ini bermanfaat bagi dunia seni dan pendidikan seni. Konkretnya, Djon bisa diposisikan sebagai salah satu saksi yang tahu banyak tentang potongan sejarah tentang lukisan Affandi. Setelah Affandi wafat, sebenarnya Djon masih sering membantu Museum Affandi. Namun hanya bertahan beberapa tahun saja, dan memilih pensiun. Djon memilih datang bila dirinya diperlukan oleh Musium Affandi. Misalnya, ketika suatu kali dipanggil oleh Kartika Affandi untuk diajak membicarakan dan melihat keaslian lukisan “Affandi”. Menurut Djon lukisan itu sangat bagus, tapi ternyata bukan karya Affandi. Dan Kartika percaya pada pendapat Djon.

Kedekatan sang maestro juga dikisahkan oleh Djon dengan penghormatannya pada posisinya sebagai “asisten pribadi” itu. Affandi memberi gaji yang sangat cukup. Bahkan lebih tinggi bila dibandingkan dengan gaji rata-rata sopir pribadi di Yogyakarta waktu itu. Belum lagi pada kebaikan hati yang lain yakni dengan memberikan tambahan gaji berupa lukisan. Bagi Djon itu sangat berharga karena itu bisa untuk memberi bekal hidup bagi kelima anaknya.

Tak heranlah kalau Affandi suatu ketika, seperti dituturkan dengan penuh haru oleh Djon, memeluk “aspri”-nya itu sambil berujar: “Djon, kita seperti dua jiwa dalam satu tubuh. Aku adalah Bethara Kresna yang memiliki kepala dan tangan, sementara kamu adalah Arjuna yang memiliki badan dan kaki.” Pengakuan itu, bagi Djon, adalah pengakuan Affandi untuk menyetarakan nilai-nilai kemanusiawian orang lain, apapun kelas sosial ekonominya. Kini, masih adakah Affandi-Affandi lain yang maestro pada karya dan hatinya? ***

*) Kurator seni rupa, tinggal di Yogyakarta.