Thursday, April 28, 2016

“Journey”, Kebersamaan Bob dan Widi

Oleh Kuss Indarto

PERUPA Bob Yudhita Agung yang mempopulerkan diri sebagai Bob Sick kembali akan menghelat sebuah pameran seni rupa. Kali ini bersama Widi Benang, istri ketiganya yang telah memberi Bob dua anak perempuan cantik. Pameran yang dikurasi oleh A. Anzieb ini berlangsung di Green Art Space, Greenhost Boutique Hotel, Jl. Prawirotaman II No. 629, Yogyakarta, 5 hingga 16 April 2016. Inu Wicaksono—dokter spesialis ahli kejiwaan yang telah puluhan tahun memiliki banyak pasien dari kalangan seniman di kawasan Yogyakarta—didaulat untuk membuka pameran ini.

Kata “Journey” dipilih sebagai judul kuratorial pameran. Ya, perjalanan. Ini lebih membincangkan pada perjalanan hidup dan kesenimanan pasangan Bob-Widi. Terkhusus pada Bob Sick yang telah membentangkan rute perjalanan kreatifnya sekitar 25 tahun—kalau awal masuk studi di kampus Fakultas Seni Rupa Institut Seni Indonesia Yogyakarta sebagai titik pijaknya.

“Karya-karya yang akan kupamerkan ya lahir seperti biasanya. Mengalir begitu saja tanpa bisa kubendung,” tutur Bob dalam sebuah perbincangan pada suatu siang di studionya di bilangan sekitar Jalan Godean, Sleman, Yogyakarta. Hanya sedikit perbedaannya pada aspek teknis, persisnya ukuran karya lukisnya yang tak terlalu besar. Ini mengingat ruang pameran yang tak terlalu besar. Tentu berbeda dengan karya-karyanya yang—ketika perbincangan ini berlangsung—tengah dipamerkan oleh sebuah galeri di Hongkong dalam perhelatan Art Basel Hongkong 2016. Di situ karya-karya barunya berukuran jauh lebih besar.

Menariknya, Bob tetap membuat karya baru sama sekali untuk pameran bersama Widi di Greenhost tersebut. Ini bagian penting dari kesadarannya sebagai seniman yang selalu ingin membuat karya baru, dan “penyakitnya” yang tak bisa menghentikan tangan serta gerak kreatifnya bila menghadapi kertas, kanvas dan perangkat praktik seni rupa lainnya. “Kalau aku disediakan kanvas 20 lembar di depan mataku, aku ya bisa ‘menghabiskan’ semuanya hanya dalam sehari,” ucapnya dengan wajah menunduk karena mata dan tangannya sibuk menggumuli kanvas demi karya baru. Kalimat-kalimatnya terlontar dengan dingin, sepi ekspresi—berbeda dengan bertahun-tahun lalu ketika masih cukup muda. Mungkin juga karena satu-dua gigi depannya telah rompal karena kecelakaan sehingga tak mampu menopang penuh gerak ekspresi lidahnya.

Bob belumlah uzur. Usianya baru akan menapak di angka 45 pada pertengahan tahun ini (kelahiran 26 Mei 1971). Namun perjalanan hidup dan kesenimanan Bob relatif menarik dan cukup kaya. Sekaya goresan tattoo yang membujur hampir di sebagian tubuhnya—termasuk wajahnya. Ini yang ingin dicuplik sebagai bagian dari narasi dalam lukisan yang dipamerkan. Dan mungkin narasi-narasi tentang dirinya itu akan terus mengalir tanpa bisa dihentikan. Garis-garisnya yang lentur keluar dari tangan dan imajinasinya selalu lancar tertoreh di atas kanvas dan kertas atau media apapun. Andaikan sejarah mempertemukan Bob Sick dan Keith Haring—salah satu bintang Pop Art Amerika Serikat setelah Andy Warhol, mungkin keduanya bisa saling bersaing meliukkan garis-garis masing-masing yang liar, kaya, dan imajinatif. Tapi mungkin dunia akan sedikit lebih membelalakkan mata pada Bob karena keunikan personalitasnya, kisah-kisah “kengawuran”-nya dalam berproses kesenian juga dalam melakoni hidup.

Bob telah menenggak atau merasai segala jenis narkoba atau bahan adiksi lain yang dalam jangka panjang telah berperan merontokkan sistem metabolisme dalam tubuhnya. Ruang-ruang penjara yang dingin telah pula dicicipi setelah disergap aparat karena barang-barang terlarang tersebut.

Pengalaman lain yang tak mengenakkan pun juga dialami. Misalnya, pada tahun 2005 ketika Bob hendak menghelat pameran tungalnya yang bertajuk “Di Bawah Pohon Ketapang, Di Atas Spring Bed” di Kedai Kebun Forum (KKF), Yogyakarta. Karya-karya sudah dipersiapkan semua. Katalog telah beres tercetak. Namun sehari menjelang upacara pembukaan berlangsung, peristiwa mengenaskan itu datang. Di tengah malam yang dingin, tubuhnya tergeletak bersimbah darah di sekitar kawasan Gowongan Lor, Yogyakarta. Wajahnya lebam di sana-sini. Uniknya, Bob tak ingat sama sekali dengan kejadian yang dialaminya. Perlu waktu yang lama untuk kemudian dia mampu merunut peristiwa tersebut. Memorinya terbuka dan dia mengakui bahwa malam itu dia menonton pertunjukkan musik di sebuah kampus dalam keadaan mabuk, lalu berteriak dan mengacaukan situasi. Perilaku inilah yang diduga tak dikehendaki oleh panitia yang kemudian menghajarnya seusai pertunjukan.

Berkebalikan dengan pengalaman itu, Bob juga telah melakoni salah satu mimpi indah masa kecilnya, yakni pergi ke Tanah Suci. Ya, dia berangkat sendiri untuk beribadah umroh sekitar tahun 2011. Tidak mudah baginya menuju ke sana. Ada halangan psikologis dalam dirinya karena tubuh dan wajahnya penuh tattoo sehingga—bagi sebagian muslim yang percaya—seluruh ibadahnya akan mubazir. “Tapi aku punya keyakinan bahwa Tuhan kan punya ukuran tersendiri yang berbeda dengan ukuran buatan manusia,” ungkap Bob mengenang. Akhirnya dia memang betul-betul pergi ke Tanah Suci. Tak sedikit orang yang sesama beribadah umroh memandangnya penuh keanehan ketika bersitatap dengannya. Ya, wajah penuh tattoo. Di sana, dia juga menemu kejadian yang ganjil: ada seseorang yang mencegatnya dan memperkenalkan diri sebagai Syekh Maulana Ibrahim. Bagi sebagian masyarakat di kawasan Yogyakarta atau Jawa tengah tentu tahu bahwa sosok itu adalah seorang penyebar agama Islam yang hidup beberapa abad lalu, dan makamnya ada di di perbukitan di sebelah utara pantai Parangtritis, Bantul, Yogyakarta.

Pengalaman spiritual itu begitu berarti bagi Bob hingga kemudian cukup menginspirasi karya-karya seni rupanya yang lahir setelah kembali ke tanah air. Pengalaman itu juga seperti memberi penyadaran baginya bahwa dalam hidup itu selalu penuh dinamika, termasuk ketidakmungkinan yang bisa hadir sebagai realitas-kemungkinan yang tak terduga. Apalagi bila dikaitkan dengan perjalanannya sebagai seniman, pengalaman spiritual itu bisa menambah keyakinan bahwa semua bisa berubah. Semua taka da yang tak mungkin. Sebagai seniman, Bob sempat merasakan dengan kental betapa finansial dan materi bisa relatif dengan mudah didapatkan ketika booming tiba. Namun dengan mudah pula situasi dijungkirbalikan tanpa dinyana. “Journey” bagi Bob adalah sebuah cermin untuk kembali mengilas-balik sebagian dari perjalanan hidup dan kesenimanannya.

Bagi Wiwid, perhelatan ini juga penting artinya. Ini adalah kesempatan pertama dirinya bersanding bersama Bob dalam sebuah pameran seni rupa, meski—sayangnya—keduanya kali ini sudah tidak dalam relasi sebagai pasangan suami-istri. Ya, Bob dan Widi hadir sebagai sahabat, setelah beberapa waktu sebelum ini memutuskan untuk berpisah. Mereka tetaplah ayah-ibu bagi kedua anak putrinya yang imut. Widi yang 16 tahun lebih muda dari Bob itu merasakan bahwa, “sebenarnya tak banyak yang berubah pada hubungan kami. Aku tetap kagum dan mengidolakan mas Bob sebagai seniman yang karya-karyanya keren dan menginspirasi saya,” tegas Widi.

Pada titik inilah Widi merasakan kuatnya titik relevansi antara tema kuratorial dengan salah satu karya yang dipamerkan, yang bertajuk “Fragment”. Karya itu bermaterialkan papan kayu mahoni (swietenia macrophylla) yang dipotong dengan diameter sekitar 30 cm—dengan variasi ukuran yang sedikit lebih besar atau kecil. Ada 38 papan bulat mahoni yang di salah satu permukaannya diterakan serigrafi atau sablon bergambar potret-potret wajah keluarga, kerabat dan teman-teman terdekat. Semua gambar itu dipilah oleh Widi dari potongan-potongan potret dokumentasi pribadinya. Ada potret dirinya dan anak-anak. Ada Bob dan teman karibnya seperti Ugo Untoro, S. Teddy D., juga Yustony Volunteero.

Bulatan papan-papan mahoni diandaikan serupa deretan potongan narasi yang mengisi perjalanan hidup dan kebersamaan Widi bersama Bob Sick dan pertautannya dengan sosok-sosok lainnya. Ada banyak kisah yang terbenam dalam potret-potret itu—dan Widi menjadi subyek yang menyutradarai dan paling paham atas semua kisah tersebut.

Dan Bob, yang lebih banyak tinggal sendiri di studio sekaligus rumahnya di Jalan Godean itu, kini seperti kembali menuliskan lembar-lembar baru dalam hidupnya. Ini, mungkin, tak beda jauh dengan esai pendek bertajuk “My Shadow Want To Kill Me!” yang pernah dituliskan oleh Bob dan termuat dalam buku “Bob Sick, Indonesia Raw Art Artist” (2007): Aku harus mulai menulis lagi… ya, aku harus mulai menulis lagi. Seperti diburu oleh bayangan sendiri… dimana bayangan itu mengikuti aku dengan belati terhunus, siap menikam dari belakang… seperti juga pengkhianatan teman atas teman… dan ini yang dicoba dilakukan oleh bayanganku sendiri. Aku bukan dictator atas diriku sendiri, aku adalah boneka, bukan mesin… tapi pada momen-momen tertentu aku adalah mesin pembunuh yang cukup mengkhawatirkan karena metode membunuh yang ngawur…” ***

Kuss Indarto, penulis seni rupa, tinggal di Yogyakarta.

Saturday, April 16, 2016

Patung József di Ruang Publik

Aku dan Moosa Omar, seniman asal Oman, di Kaposvar, Hongaria, Juni 2015.

Di kota kecil Kaposvar, sekitar 187 km ke arah barat daya ibukota Hongaria, Budapest, saya menghirup suasana kota lama Eropa Timur yang khas: bangunan kuno, beberapa moda transportasi tinggalan zaman komunis, dan penduduk yang tak banyak. Kota yang tertib, bersih, namun sepi karena sedikit penduduk.
Di salah satu plaza kota kujumpai sebuah patung sosok laki-laki mengendarai kereta mungil yang ditarik oleh keledai. Kenapa sih bentuk patungnya seperti ini? Mengapa memfigurkan bapak tua ini? Aku cek di sekujur tubuh karya patung berbahan perunggu ini. Ah, kutemui secuil keterangan yang membantu. Ternyata sosok ini adalah: József Rippl-Rónai (23 May 1861-25 November 1927). József adalah seniman besar Hungaria di abad 19 yang asli kelahiran Kaposvar. Rumah dan studionya yang asri di pinggiran kota Kaposvar bahkan masih ada, dirawat, dan kini dijadikan museum. Sedang sebagian besar karya-karya seni József disimpan di Galeri Nasional Hungaria di Budapest, selain juga di museum lain di beberapa kota di Eropa.
Menarik sekali bahwa karya patung di luar ruang ini tidak hadir secara ahistoris, namun ada kaitan yang erat dengan narasi sejarah lingkungannya. Ada konsep mendalam yang dipertimbangkan ketika membuatnya, termasuk karakter cikar atau gerobak yang khas Hungaria. Ini, saya kira, memperkuat watak kota Kaposvar yang menjadi berbeda dibanding kota lain di sekitarnya, seperti Nagykanisza, Siofok, Szeged, dan lainnya. Kukira, hai Seniman, Anda bisa meniru sesuatu yang baik seperti ini. Hepi wiken!
I am standing there with my Oman's friend, Moosa Omar

Thursday, April 14, 2016

Kedaton Ambarrukmo


Bangunan ini kupotret di hari Minggu, 27 Maret 2016 lalu. Tempat asri ini, dulu, dimanfaatkan untuk beristirahat dan menyepi bagi para raja Mataram Islam. Yang tampak dalam foto adalah satu dari beberapa bangunan lain berupa pendapa dan gandhok tengen (bangunan sekunder berupa kamar-kaman di sebelah tengen atau kanan pendapa).
Awalnya, Sultan Hamengkubuwono (Sultan HB) II menjadikan kawasan Jenu menjadi kebon raja mulai tahun 1792. Nama Jenu kelak diganti menjadi Ambarrukmo oleh Sultan Hamengkubuwono VII. Mulai 17 Januari 1828 Sultan HB V memerintah Mataram. Pada masa pemerintahan sultan inilah Jenu kembali dibangun, antara lain dengan membangun pendapa kecil.
Tahun 1867-1869 Sultan HB VI memperluas pendapa dan kebun raja karena difungsikan untuk menyambut para tamu kerajaan. Lalu diberi nama menjadi Pesanggrahan Harja Purna. Tahun 1867 sendiri terjadi gempa bumi besar di Yogyakarta yang mengakibatkan beberapa bangunan kraton runtuh. Tugu Golong Gilig yang ada di ujung utara Jalan Margo Utama (dulu Jalan Mangkubumi) ambruk, dan beberapa tahun kemudian diganti dengan tugu yang berbeda wujudnya dan bertahan hingga sekarang.
1895-1897 Sultan HB VII atau yang dikenal sebagai Sultan Sugih (Sultan Kaya) melakukan renovasi dan perluasan pesanggrahan itu secara besar-besaran. Kondisi perekonomian dan manajemennya yang bagus memungkinkan untuk melakukan itu. Kala itu Sultan mampu mendirikan pabrik gula hingga 20 buah. Maka, di kompleks pesanggrahan itu kemudian dibangun alun-alun, kesatriyan, keputren dan lainnya. Nama pesanggarahan Harja Purna pun diubahnya menjadi Kedhaton Ambarrukmo. Sejak itulah nama kawasan Jenu melenyap, dan popular menjadi Ambarrukmo—bahkan hingga sekarang.
Perbaikan dan perluasan kawasn Ambarrukmo itu, tampaknya, seperti dipersiapkan untuk istana hari tua Sultan HB VII. Tanggal 29 Januari 1921 beliau secara resmi berpindah dari kraton di pusat kota Yogyakarta untuk menetap di Ambarrukmo setelah secara mengejutkan mengundurkan diri sebagai raja. Ini kali pertama seorang Sultan Ngayogyakarta mundur. Diduga karena pemerintah Hindia Belanda terlalu banyak menekan dan mendikte. Akhirnya, sebelas bulan kemudian, 30 Desember 1921, Sultan HB VII wafat dan dimakamkan di pemakaman para raja Mataram di Imogiri. Setelah turun tahta, Sultan Sugih pernah berujar bahwa “Setelah saya, tidak pernah ada Sultan yang meninggal dalam istana.” Entah apa makna kalimat tersebut. Namun, faktanya, Sultan HB VIII meninggal di Rumah Sakit Panti Rapih (tapi ada sumber lain menyebut beliau meninggal dalam perjalanan keluar kota), dan Sultan HB IX mengembuskan nafas terakhir di Washington, Amerika Serikat.
Bagi Sultan Sugih meninggal dalam keadaan sebagai rakyat dan tidak dalam kepungan kemegahan istana, mungkin, lebih terhormat. Tak tahulah. Tapi siang itu saya merasakan atmosfir yang tenang dan teduh di sekitar bangunan pendapa, gandhok tengen, dan pesanggrahan. Meski ketika keluar kompleks itu puluhan meter kemudian, aaah, aura panas langsung menyerbu. Amplas atau Ambarrukmo Plaza yang mengimpit gandhok tengen terasa berdiri angkuh, seperti mengganggu ketenangan para Sultan yang tengah tetirah di situ.

Sunday, April 10, 2016

Mahalnya Mahar


PETANG itu, Sabtu, 19 April 2014, mas George Eman—perupa senior di kota Kupang—bergegas mengajakku meninggalkan kompleks gedung Taman Budaya NTT menuju kediaman Prof. Dr. Alo Liliweri. Dia tak ingin kami terlambat mengikuti semua urutan prosesi acara lamaran anak putri sang professor, yang juga adik kandung teman kami, Yopie Liliweri.

Benar, sekitar 200 meter menjelang tempat acara, kami terjebak oleh sedikit kemacetan. Ada puluhan kendaraan roda empat mengantri untuk mencari tempat parkir yang tak luas. Apalagi jalan sekitar itu relatif sempit, maka perlu waktu untuk bersabar.

Beruntunglah acara baru mulai persis beberapa menit setelah kami duduk di celah kerumunan ratusan tetamu lain. Seperti biasa, mereka terdiri dari tiga pilahan: orang-orang yang masih bertalian darah dengan pihak perempuan, sebagian adalah mereka yang menjadi keluarga dari pihak laki-laki, dan para tamu undangan termasuk saya (uuups, tamu liar aku!).

Prosesi acara dimulai ketika serombongan keluarga dari pihak laki-laki yang akan melamar (sebagai tamu) serentak berdiri dan berbaris memanjang hingga puluhan meter. Semua memakai pakaian adat. Di ujung depan barisan itu berdiri pemuda calon mempelai yang didampingi orang tua dan (semacam) juru bicara.

Dalam perhelatan petang dan malam itu, kulihat sang juru bicara ini mengambil peran penting dalam jalannya acara. Dia bahkan melampaui peran MC atau pembawa acara karena mampu menghidupkan detik-detik penting prosesi acara. Dia, kalau tak salah, berbicara dalam bahasa salah satu suku di kabupaten Lembata yang harus diterjemahkan dalam bahasa Indonesia karena sebagian besar tetamu tak paham dengan bahasa tersebut. Ini menarik karena sesama warga satu propinsi saja (sebagian besar) tak mengerti dan paham bahasa suku lainnya. Realitas ini memberi gambaran tambahan bahwa propinsi Nusa Tenggara Timur merupakan salah satu penyumbang banyaknya keragaman suku dan bahasa di tanah air. Ada sekian puluh suku dan sub-suku berikut bahasanya masing-masing yang khas dan berbeda satu sama lain di sana. Sedangkan salah satu suku besar adalah suku Lamaholot.

Maka tak heran kalau prosesi acara relatif cukup lama karena ada proses penerjemahan tiap kalimat yang diutarakan oleh juru bicara. Memang atmosfir lokal sengaja dijaga dengan tetap memakai bahasa daerah (yang kemudian diterjemahkan dalam bahasa Indonesia). Ketika tuan rumah menerima dan menyambut kedatangan tamunya pun, mereka juga terlebih menggunakan bahasa daerah yang (“celakanya”) tidak banyak dipahami oleh mayoritas tetamunya dari pihak keluarga laki-laki. Maklum, beda pulau.

Uniknya, ketika juru bicara mengungkapkan maksud dan tujuan kedatangannya, antara lain disampaikan dengan pantun. Lebi menarik lagi, ketika diterjemahkan, ungkapan-ungkapan dari sang juru bicara ternyata sangat puitis dan terkadang jenaka. “Duhai bapa dan ibu, serta ananda putri … kami datang dengan cinta, maka sambutlah kami dengan segenap cinta. Kami tak ingin pulang dengan nestapa lantaran cinta yang tidak diterima…” Kurang lebih kalimat seperti itu yang terlontar hingga menerbitkan senyum simpul bagi sekian banyak tetamu.

Sementara pada baris kedua persis di belakang calon mempelai laki-laki dan juru bicara, ada seorang pria yang membawa nampan cukup besar. Isinya, wow, gading gajah! Ya, benda itulah yang menjadi mas kawin atau mahar yang hendak disampaikan oleh pihak laki-laki kepada pihak (calon mempelai) perempuan. Dalam bahasa lokal, persisnya bahasa suku Lamaholot, itu disebut sebagai belis. Jika seorang perempuan asal Lamaholot dinikahi oleh orang di luar Lamaholot dan berlangsung di luar kawasan itu, maka belis atau maharnya bisa digantikan dengan uang. Namun bila perkawinan berlangsung di “tanah air”, maka sebisa mungkin belis-nya dalam bentuk gading gajah.

Jurnalis harian Kompas, Kornelis Kewa Ama pernah mencatat bahwa gading gajah dalam bahasa lokal disebut bala. Ada tujuh jenis bala, dan tiga di antaranya masing-masing yakni: bala huut (gading yang panjangnya sesuai rentangan tangan orang dewasa, dari ujung jari kanan hingga ke ujung jari kiri), lalu bala lima one atau gading sepanjang ujung jari tangan kanan sampai telapak tangan kiri orang dewasa, dan bala lega korok atau gading sepanjang ujung jari tangan sampai belahan dada (lihat buku “Ekspedisi Jejak Peradaban NTT, Laporan Jurnalistik Kompas”, 2011). Ya, alat ukur untuk mengidentifikasi panjang sebuah gading di daerah itu dengan ukuran depa atau rentangan tangan orang dewasa, bukan dengan ukuran sentimeter atau alat ukur yang dianggap modern lainnya.

Lalu, berapa jumlah gading yang mesti dijadikan mahar. Pihak keluarga perempuanlah yang lazimnya menentukan jumlah gading sebagai belis itu. Konon jumlahnya antara 3-7 buah. Bagi kalangan bangsawan, 7 gading adalah jumlah yang galib diprasyaratkan. Sementara bagi masyarakat kebanyakan bisa kurang dari itu. Saya tak tahu persis apakah angka-angka itu masih banyak diberlakukan atau sekadar adat yang telah lampau yang kini jarang terjadi. Dalam acara yang saya datangi malam itu, sependek ingatan saya, hanya ada satu bentang gading gajah. Ukurannya sulit kukira karena hanya sekilas kumelihat.

Saya membayangkan betapa sulitnya pihak laki-laki bila harus memenuhi dan “membela” adat itu karena langkanya gading gajah. Masih dalam buku yang sama, Kornelis Kewa Ama mencatat bahwa harga sebuah gading gajah itu berada dalam kisaran antara Rp 13 juta hingga Rp 100 juta. Ya, hampir seharga sebuah mobil yang relatif baru. Betapa tidak murahnya sebuah perkawinan.

Saya belum tahu (dan membaca) kapan persisnya belis dalam sebuah perkawinan itu berbentuk bala (gading). Saya menduga hal itu bertalian erat dengan kawasan Nusa Tenggara (Timur) sebagai tujuan berlabuhnya para pelaut dan pedagang dari mancanegara berabad-abad lalu, selain mereka menuju kawasan lain seperti Makassar, Ternate, Tidore, dan lainnya. Kawasan Nusa Tenggara Timur banyak dihampiri karena menjadi kawasan penghasil barang langka yang hanya ada di tempat itu, yakni (terutama) kayu cendana. Inilah material yang banyak dipertukarkan atau dibarter dengan material lain, termasuk gading.

Dua periset sejarah, yakni Didik Pradjoko dan Friska Indah Kartika dalam buku “Pelayaran dan Perdagangan Kawasan Laut Sawu Abad Ke-18 hingga Awal Abad Ke-20” (2014) mencatat banyak data menarik tentang dinamika perdagangan yang terajadi di kawasan tersebut 200-an tahun lalu. Antara data bahwa pada bulan Maret 1877 di pelabuhan Kupang ada aktivitas mengekspor kayu cendana senilai 600 gulden, lilin hingga 11.440 gulden, dan uang perak senilai 700 gulden. Sebaliknya, pada kurun yang sama, di pelabuhan Kupang telah diimpor tembikar dan eramik senilai 1.400 gulden, mentega 650 gulden, gading gajah 30 gulden, arak yang disuling 3.500 gulden, dan masih banyak barang lainnya.

Jauh sebelum itu, J.C. van Leur dalam “Indonesian Trade and Society” (1954) juga mencatat bahwa sekitar awal abad Masehi para pelaut dari India dan kawasan Asia lainnya telah sampai ke kepulauan di Nusa Tenggara. Mereka membawa cula badak, gading gajah, sutera, manik-manik, keramik dan lainnya, yang kemudian dipertukarkan dengan barang-barang lokal seperti kayu cendana, teripang, hingga kuda sandelwood.

Ilustrasi ini memberi potongan realitas penegas bahwa gading gajah yang hingga kini beredar di kawasan Nusa Tenggara Timur (dan Barat) dan dijadikan sebagai belis atau mahar itu sejatinya bukan berasal dari barang setempat, dan bisa jadi juga awalnya merupakan imitasi dari tradisi dari kebudayaan yang lain. Secara geografis bisa terpapar dengan cukup jelas bahwa kawasan itu bukanlah kawasan bertumbuh dan berkembangnya binatang gajah. Nusa Tenggara (Timur) kemungkinan besar bukan habitat bagi gajah. Gading-gading gajah yang masih ada di sana sebagai perangkat mahar itu kemungkinan berasal dari Sumatera, India, atau dari kawasan Asia lainnya.

Maka, betapa mahalnya mahar bagi calon pengantin di kawasan Nusa Tenggara karena mereka meneruskan tradisi yang bahan bakunya berasal dari hasil impor ratusan tahun lalu. Tapi, apapun, malam itu saya memperoleh banyak pengalaman tentang beragam dan kayanya kebudayaan Nusantara yang sama sekali tak terbayangkan sebelumnya. Di Jawa, khususnya Yogyakarta, pesta perkawinan juga memiliki kompleksitas dan kekayaannya sendiri. Demikian juga dalam tradisi di Minangkabau, hingga di Lamaholot. Ini meneguhkan keyakinan bahwa negeri ini pantas untuk dibela keutuhannya. Ah, kok sok nasionalis ya? Hehe… ***