Saturday, October 29, 2016

Gatot Indrajati Juarai Kompetisi Seni Lukis UOB 2016

Lukisan "Right or Wrong My Home" karya Gatot Indrajati (Yogyakarta) yang memenangi Kompetisi Seni Lukis UOB 2016 itu.
 
Di salah satu ruang di lantai 12 gedung Ciputra Artpreneur Gallery, Kuningan, Jakarta, sore itu cukup meriah, juga menegangkan. Senin, 24 Oktober 2016, kompetisi seni lukis berlevel nasional, “2016 UOB Painting of The Year” memasuki babak akhir. Para pemenang pun segera diumumkan. Lebih dari 200-an orang berkerumun di ruangan tersebut. Ada panggung putih berbentuk lingkaran, ada giant screen di belakang panggung, yang menjadi pusat perhatian semua tetamu.

Tuan rumah perhelatan ini, Kevin Lam, Preseident Director PT Bank UOB Indonesia duduk di deretan depan dari jajaran kursi yang ada. Juga beberapa punggawanya seperti Maya Makagiansar, dan lainnya. Nyonya rumah sekaligus President Director Ciputra Artpreneur Galery, Rina Ciputra Sastrawinata, berada di sana dengan blazer warna putih. Salah satu petinggi Bekraf (Badan Ekonomi Kreatif) yang mewakili big boss-nya, Triawan Munaf, tampak juga, duduk berjajar dengan tiga juri kompetisi ini, yakni Agung Hujatnikajenong, Heri Dono, dan Kuss Indarto.

Seremonial puncak dari perhelatan ini tampaknya begitu ditunggu dengan antusias oleh banyak kalangan. Sebagian finalis yang terdiri dari 47 seniman mengabsenkan diri. Para supporter dari finalis tersebut juga tak kalah riuh menghadiri acara ini. Tentu bisa dimaklumi. Tahun 2016 ini atau tahun keenam dari “UOB Painting of The Year” makin memantapkan posisi bahwa perhelatan ini telah rutin menyambangi kalangan seniman seni rupa di tanah air. Tahun ini, tercatat ada sekitar 700 seniman yang mengajukan sekitar 1.200 karya untuk dikompetisikan. Jumlah ini meningkat kurang lebih 15% dari perhelatan tahun 2015.

Seniman di Indonesia pun makin tertarik karena perhelatan ini berjenjang. Tidak sekadar selesai di level nasiona, namun juga berlanjut di level regional atau persisnya Asia tenggara—tentu dengan kepesertaan sesuai dengan keberadaan bank UOB yang ada di Negara-negara Asia Tenggara, yakni Indonesia, Singapura, Thailand, Malaysia, dan Filipina.

Lebih dari itu, para pemuncak atau juara di level Asia Tenggara mendapatkan bonus menarik, yakni mengikuti program residensi seni dengan tinggal dan berkarya selama satu bulan di Negeri Sakura. Program ini memang belum lama, baru berlangsung selama 2 tahun terakhir. Tahun 2015 lalu, sang jawara puncak Angara Presetyo dari Indonesia berpeluang besar mendapatkan kesempatan tersebut. Namun karena berbagai alas an, dia melimpahkan kesempatan tersebut kepada seniman Thailand yang meraih posisi runner up di level Asia Tenggara.

Setelah melewati drama di panggung, dan tentu saja dengan beberapa tahap penjurian selama sebulan terakhir, akhirnya gelar “2016 UOB Painting of The Year” jatuh ke tangan Gatot Indrajati, seniman dari Yogyakarta. Karyanya yang bertajuk Right or Wrong My Home mampu menyedot perhatian tim juri, dan menyingkirkan sekian banyak karya lain. Uniknya, nama Gatot Indrajati pernah memenangi (sebagai juara pertama) di kompetisi yang sama tahun 2011—ketika kompetisi UOB ini baru pertama kali digelar. Namun pilihan tim juri tidak berubah karena pencapaian artistic dari karya Gatot memang layak untuk dipertahankan sebagai juara.

Dengan memakai medium kayu yang dipotong-potong sesuai pola dan bentuknya, Gatot mencoba mengeksplorasi karakter medium yang tengah dijelajahinya tersebut. Kayu yang sudah dipotong itu dilem dan ditempatkan saling tumpuk satu sama lain, dan kemudian diwarnai. Dalam kerangka sebagai kompetisi konvensional, karya Gatot ini masih masuk dalam kerangka penilaian karena seniman ini masih tetap menggoreskan warna dengan kuas seperti layaknya lukisan konvensional. Jadi karya ini bukan relief kayu yang selesai tanpa ada pewarnaan. Inilah nilai lebih karya Gatot. Apalagi ditambah dengan tema yang unik dan cenderung lucu. Seniman ini mencoba membincangkan tema tentang Indonesia sebagai sebuah rumah yang penuh teror, laju konsumtivisme yang pesat, gempuran dan pertarungan peradaban serta berbagai konflik beraam persoalan, namun mampu disikapi oleh masyarakat Indonesia dengan santai, bahkan penuh nuansa humor. Ada banyak kelemahan, namun menutupi kekurangan dalam lingkungan sekitar itu lewat sikap yang ringan meski tetap optimistik.

Gatot dan beberapa seniman peraih penghargaan juga finalis dalam kompetisi ini, sore dan petang itu, langsung menerima hujan ucapan selamat dari tetamu dan rekan seniman, juga wartawan. Mereka, di antaranya, juga mulai “diperhatikan” oleh para kolektor dan gallerists. Kompetisi ini memang memungkinkan banyak hal bagi langkah ke depan para seniman finalis. Maklumlah.

2016 UOB Painting of The Year:
Gatot Indrajati – Yogyakarta – Right or Wrong My Home

Silver Award:
Catur Bina Presetya – Bantul – Monument #2: Membangun Negeri Kuat

Gold Award:
Hono “Sun” Sugeng Nugroho – Bantul – Pribumi dan Keseimbangan

Bronze Award:
Hudi Alfachuri – Bekasi – Identifikasi

Finalis Kategori Professional Artist:
(Nama – Alamat – Judul Karya)

1. Anton Budi Setyawan - Bantul - Lukisan Potret Diri yang Belum Selesai #5
2. Andy Wahono - Bantul - The Puppets Always Silent
3. Andy Firmanto - Yogyakarta - Hutan di Dalam Rumah
4. Arkiv Vilmansa - Bandung - Allah Pemberi Cahaya (kepada) Langit dan Bumi…
5. Bambang BP - Batu - Green Hoping
6. Danang Catur - Bantul - Heroik Ironik
7. Dedy Sufriadi - Bantul - Borderless Series, Peace for Us and Universe
8. Dewa Ngakan Made Ardana - Sleman - 80.000?
9. Didik Widiyanto - Sleman - Safari Batin
10. Eddy Susanto - Sleman - Centhini of Durer
11. Gogor Purwoko - Jakarta Timur - Hi Strory
12. Guntur Timur - Bandung - Talking to the Birds
13. Hidayat Purnomo - Bantul - Mahalnya Aku
14. Indarto Agung Sukmono - Kudus - Balada Si Pohon
15. Irfan Hendrian - Bandung - Image Not Found #1
16. Januri - Bantul - Peace
17. Natisa Velda Anandistya Jones - Denpasar - Sometimes Small But Brave
18. Paul Hendro - Bekasi - Children’s Fantasy
19. Puspa Sakti Pertiwi - Bogor - Bumi Tampak Muka
20. Rocka Radipa - Bantul - Passion Pit (Nascisus)
21. Sujianto - Sleman - Humans Need Green
22. Suitbertus Sarwoko - Magelang - The Hot Nuance
23. Tri Pamuji Wikanto - Bantul - Man Power
24. Ugy Sugiarto - Bantul - Anatura
25. Wayan Kun adnyana - Denpasar - Star War
26. Zusfa Roihan - Bandung - Untitled #11

Most Promising Artist of The Year:
Ignasius Dicky Takndare - Jayapura - Khanikla Mey Moyo Yarate Ate

Gold Award:
Henryette Louise YT -  Bandung - Tulang Warisan

Silver Award:
Agustan - Bone - Syndrome Nomophobia

Bronze Award:
Diana Puspita Putri - Cimahi - Terpaku Berlandas Alasan

Finalis Kategori Emerging Artist:
(Nama – Alamat – Judul Karya)
1. Anis Kurniasih - Surakarta - Utopia
2. Cahyo Nugroho  - Salatiga - Adaberada
3. Chrisna Bayu Septrianto - Bantul - Breakfast
4. Danni Febriana - Cilacap - Hening Diantara
5. Davied “Kha” Kurnianto - Banyuwangi - Modern Teacher
6. Dyan Condro - Tuban - Memugari
7. I Putu Adi Suanjaya  - Bantul - Kaki Tangan
8. Loyong Budi Harjo - Gresik - A Never Ending Chaos
9. Nofrizaldi - Bantul - Pusaran
10. Rangga Jalu Pamungkas - Bantul - Welcome to the Neo Mooi Indie
11. R. Angga Bagus Kusnanto  - Yogyakarta - Surat Kuasa Untuk Tuhan
12. Reza Prastica Hasibuan - Bantul - Aku
13. Suvi Wahyudianto - Bangkalan - Sisa-sisa

Thursday, October 27, 2016

Djoko Pekik: “Saya Tipe Pelukis Kuda Balap, Bukan Kuda Andong!”

Oleh Kuss Indarto
 
(Catatan ini dimuat dalam majalah Tong Tjie Lifestyle, edisi IV - 2016, halaman 16-26)
 
TAHUN 1998, nama seniman Djoko Pekik mengguncang jagad seni rupa Indonesia. Pasalnya, pada 16-17 Agustus tahun itu dia memamerkan hanya satu buah lukisan dan dalam durasi 24 jam atau sehari semalam saja di gedung Bentara Budaya Yogyakarta. Hal yang lebih menghebohkan lagi, karya tersebut, yang bertajuk “Berburu Celeng”, berpindah ke tangan seorang kolektor dengan harga transaksi sebesar Rp 1 miliar! Itulah harga tertinggi sebuah karya seni lukis di Indonesia pada waktu itu. Pencapaian tersebut mengalahkan harga karya para seniman maestro, yang lebih senior, dan telah mengisi jejak penting sejarah seni rupa Indonesia seperti Affandi Kusuma, Hendra Gunawan, S. Sudjojono, Basoeki Abdoellah, dan lainnya. Pada tahun-tahun itu harga karya para maestro itu baru sampai angka ratusan juta rupiah.
 
Peristiwa itu begitu fenomenal karena kemudian berimbas pada dimensi lain dalam dinamika seni rupa di Indonesia. Misalnya pada aspek pasar atau art market. Gelombang kenaikan harga karya seni rupa pelan tapi pasti bergerak dimana-mana. Apalagi dalam rentang waktu yang hampir bersamaan muncullah booming seni rupa. Booming ini berupa lonjakan permintaan pasar atas karya seni rupa yang berakibat pada naik dan mahalnya harga karya. Untuk kasus di Indonesia kala itu, faktor penyulutnya antara lain karena krismon atau krisis ekonomi mulai tahun 1997 yang disebabkan oleh merosotnya nilai tukar rupiah terhadap dolar, dari $1 US = Rp 2.000,- menukik secara tajam hingga Rp 17.000,-. Itulah yang membuat para pemilik uang melarikan sebagian dananya untuk berinvestasi, antara lain ke karya-karya seni rupa. Maka, booming pun meledak. 
 
Patokan harga karya Djoko Pekik yang hingga mencapai Rp 1 miliar begitu mengesankan pasar. Artinya, karya seni bukanlah barang murahan yang tidak bernilai investatif. Itu pandangan yang terbelokkan ketika menyimak harga karya Djoko Pekik. Maka, kemudian, dalam berbagai sesi lelang di lembaga auction di Indonesia atau di Singapura, Hongkong dan lainnya, harga karya para seniman Indonesia terkatrol tinggi oleh fenomena “Berburu Celeng”. Banderol harga atau estimasi awal dengan bilangan miliaran rupiah mulai menghinggapi karya-karya seniman Indonesia lainnya, terutama yang sudah berlevel maestro dan kebetulan sudah wafat.

***

Begitulah. Momen pameran tunggal 16-17 Agustus 1998 itu mengukuhkan seorang Djoko Pekik sebagai salah bintang seni rupa yang pantas diapresiasi. Itu terjadi ketika usia Djoko Pekik sudah tidak muda lagi: 59,5 tahun. Menilik usianya yang sudah sepuh dengan karakter karya yang masih galak menyuarakan tentang ketidakadilan, politik Orde Baru yang hegemonik, ketimpangan sosial, serta cara bersiasat mengetengahkan karya yang berbeda, telah memberi gambaran pada publik bahwa seniman ini bukan tipe seniman yang lembek menghadapi tantangan hidup, jaman, dan keadaan.

Secara eksistensial, namanya pun baru terbilang berkibar pada tahun 1990-1991 ketika ada kontroversi rekruitmen seniman peserta pameran KIAS (Kebudayaan Indonesia di Amerika Serikat). Waktu itu, kurator pameran seni rupanya adalah Joseph Fischer, seorang akademisi yang tegas dan rigid dengan standar keilmuannya. Dari hasil seleksi oleh panitia local di Indonesia atas para seniman yang lolos, banyak nama yang relative seragam ideology kreatifnya. Di situ banyak seniman yang sepaham dengan Orde Baru selaras ideologinya dengan Soeharto sajalah yang diloloskan. Joseph Fischer menolak. Alasan dan acuannya antara lain adalah dari hasil riset lapangan yang dilakukan oleh senionya, Claire Holt yang kemudian melahirkan buku penting, yakni “Art in Indonesia”. Dalam buku tersebut banyak nama seniman seni rupa yang karyanya bagus, ideologis, dan memberi warna yang khas bagi perjalanan seni rupa di Indonesia. Antara lain ada nama Djoko Pekik dalam daftar Holt.

Di sisi lain, panitia dan tim seleksi di Indonesia memilih seniman antara lain dengan landasan bahwa merekalah yang sejalan dengan garis politik dan ideologi Orde Baru-lah yang akan dipilih. Itulah pangkal soalnya. Situasi tegang. Polemik antarseniman yang sudah mulai uzur itu sempat seru terjadi di media massa di Indonesia, termasuk Yogyakarta. Pekik yang dulu aktif di Sanggar Bumi Tarung yang kekiri-kirian menjadi salah satu orang yang diserang oleh kelompok seniman kanan seperti Handrio, Bagong Kussudiardjo, dan lainnya.

Menteri Luar Negeri Mochtar Kusumaatmadja akhirnya mampu menengahi perkara itu setelah Fischer tetap tak mau mengalah. Djoko Pekik akhirnya lolos seleksi sehingga salah satu karyanya dipamerkan di Amerika Serikat. Reputasinya kemudian melambung sebagai salah satu seniman yang mencuat karena kontroversi. Namun lebih dari itu, kualitas karyanya mampu mencuri perhatian publik, kurator dan pengamat seni sehingga mendapat apresiasi yang meluas. Tema-tema karyanya yang berbicara tentang realitas sosial politik dari sudut pandang orang kecil atau wong cilik, mampu menyedot simpati banyak penontonnya. Karakter karyanya yang oleh beberapa pengamat seni disebut sebagai karya seni “realisme sosial” itu menjadi alternatif yang berbeda di tengah karya-karya yang eksotik, manis, saleable, pada kurun waktu itu. Sementara karya Djoko Pekik menampilkan sisi getir, pahit, hitam, kumal, dari keseluruhan pemandangan tentang manusia-manusia Indonesia. Mereka antara lain adalah sosok penari ronggeng yang berbedak di tengah peluh yang membanjir, tentang tukang becak yag kesepian tanpa penumpang dan uang, dan sebagainya.

Setelah keterlibatannya dalam pameran KIAS itu, nasib baik berpihak merubung Pekik. Undangan pameran, baik secara tunggal atau pun kolektif, datang bertubi-tubi. Salah satu pameran tunggalnya yang berlangsung tahun 1992 di rumah seniman Sardono W. Kusumo yang disulap menjadi galeri seni, meraup sukses cukup besar, baik dari sisi pewacanaan dan isu, serta dari aspek pasar. Banyak karya Pekik dikoleksi dengan harga yang relatif tinggi untuk ukuran seniman sekelasnya waktu itu.

***

Apakah perjalanan hidup dan kreativitas seorang Djoko Pekik begitu mulusnya seperti tersirat di atas? Ternyata tidak. Lelaki kelahiran Grobogan, Purwodadi, Jawa Tengah, 2 Januari 1937 ini melewati alur hidup puluhan tahun dalam dinamika pasang naik dan pasang surut yang menyesakkan. Di antara gebyar kebintangan berikut pencapaian materialnya kini, dulu, Pekik melewatinya dengan nasib yang seperti menyungkurkannya dalam lembah keterbatasan.

Tahun 1957, ketika berusia 20 tahun, Djoko Pekik muda nekat pergi ke kota Yogyakarta untuk mengadu nasib. Keinginannya sangat kuat ketika akan pergi ke Kota Gudheg itu: masuk sekolah seni dan menjadi seniman. Dia memilih ke Yogya setelah membaca pengumuman tentang penerimaan mahasiswa baru ASRI (Akademi Seni Rupa Indonesia) di majalah berbahasa Jawa terbitan Surabaya, Panjebar Semangat. Orang tuanya berkorban demi cita-cita sang anak dengan menjual seekor sapi. Pekik sendiri mendasarkan pilihannya tersebut pada kegemarannya menggambar sejak kecil. “Aku itu sering menang lomba menggambar waktu sekolah,” tutur pak Pekik siang itu. Pencapaian itu, bagi Pekik, bisa memberi secuil gambaran betapa minatnya pada dunia seni rupa begitu besar sejak usia dini. Dan masuk ke perguruan tinggi seni menjadi kanalisasi yang tepat untuk menjadi seniman.

Akhirnya Djoko Pekik muda diterima masuk kuliah di ASRI. Awalnya dia cukup terkaget-kaget ketika menyaksikan banyak karya yang terpampang di kampus milik kakak kelasnya, atau karya seniman lain, yang tidak masuk dalam logikanya sebagai anak kecil yang awam. “Banyak saya lihat lukisan mereka itu pating plethot. Melukis anatomi manusia saja tidak bisa. Tapi lama-lama saya paham, ooo… ternyata seni rupa itu ya tidak hanya mencontek obyek benda yang ada di alam apa adanya. Itulah seni, hehehe…” katanya sambil terkekeh. Pelan-pelan, dia menyadari juga bahwa dalam dunia seni rupa itu demokratis. Semua orang bisa menggambar atau melukis apa saja dengan cara apapun juga, asal selaras dengan kemauan dari dalam diri.

Aktivitasnya sebagai mahasiswa semakin berkembang dan padat ketika dia masuk dalam kegiatan di luar kampus. Djoko Pekik memilih aktif dalam Sanggar Bumi Tarung yang didirikan oleh pentolannya yakni Amrus Natalsja, kakak kelasnya. Bumi Tarung sebetulnya singkatan dari keberpihakan sanggar itu pada buruh (yang tersirat pada kata bumi) dan tani (tersirat pada kata tarung). Sanggar ini memilih berhaluan kiri. Dan kecenderungan karya seni yang disebut sebagai realisme sosial tumbuh di sini. Djoko Pekik sendiri berkuliah di ASRI antara tahun 1957 hingga 1962. Selepas kulaih masih aktif di Sanggar Bumi Tarung. Hal positif yang didapatkan dalam sanggar ini, bagi Pekik, adalah atmosfir intelektualitas yang terbangun antar-anggotanya. Mereka sering punya agenda untuk berdiskusi tentang apa saja yang dikaitkan dengan dunia seni.

Di samping itu, ada upaya untuk menyosialisasikan diri dengan masyarakat. Komunitas itu seperti punya hasrat untuk menjadikan para anggotanya kelak menjadi seniman yang dekat dengan masyarakat berikut segenap lekuk-liku persoalannya. Contoh konkretnya adalah dengan praktik melukis dalam masyarakat. “Misalnya, yang paling saya kenang adalah turba (turun ke bawah) di daerah Trisik, di dekat pantai, di kabupaten Kulon Progo. Saya tinggal dan berkarya di sana rencananya selama dua minggu,” kisah Pekik. Dia bersama teman-temannya tinggal di rumah kepala dukuh setempat.

Menariknya, dia justru mendapatkan banyak cerita, curhat dan aduan dari masyarakat setempat yang sebagian besar hanya menjadi petani gurem atau petani tanpa kepemilikan lahan pertanian. Mereka mengisahkan bahwa wilayah Trisik itu secara ekonomi dikuasai oleh seorang tuan tanah yang sangat kaya dan dianggap eksploitatif. Namanya pak Haji Dawam Roji. Pekik dan kawan-kawannya hanya bisa menyerap dan menampung suara hati penduduk yang curhat itu, karena bukan fasilitator yang akan bisa memberi solusi bagi masalah penduduk setempat. Namun tampaknya gerak-gerik Pekik dan kelompoknya dicurigai. Mereka dianggap sebagai pihak yang mencoba menggosok masyarakat untuk melakukan perlawanan kepada sang tuan tanah setempat. Maka, tak heran, banyak centeng, preman beserta antek-antek lain yang memata-matai tiap gerak para seniman tersebut. Karena tak nyaman, maka pada hari kesembilan (dari 14 hari yang direncanakan), rombongan seniman itu terpaksa keluar dari wilayah Trisik. Pekik mengabadikan pengalaman tinggal di situ dengan melukis seorang kakek tua yang tergolek di atas ranjang dan ditunggui seorang perempuan muda. Karya itu diberi tajuk “Tuan Tanah Mati Muda” karena kisah tersebut mirip dengan yang terjadi senyatanya. Karya itu mengesankannya sehingga sampai sekarang masih terpajang di atas tembok rumahnya. Dia tidak berniat untuk menjualnya.

***

Ternyata, aksi curiga-mencurigai seperti saat di Trisik itu berlangsung terus. Puncaknya ketika Presiden Soekarno jatuh dari pemerintahannya pada tahun 1965, dan diganti oleh pemerintahan Orde Baru di bawah Presiden Soeharto. Perubahan politik berlangsung drastis dan ekstrim. Mereka yang selama ini dianggap aktif—langsung atau tidak langsung—dalam organisasi yang berbau kekiri-kirian ditangkap dan dipenjarakan tanpa proses peradilan. Djoko Pekik juga terkena imbasnya. Pada tanggal 8 November 1965, dirinya bersama sekian banyak seniman yang aktif di Sanggar Bumi Tarung, Sangar Pelukis Rakyat, dan lainnya dijebloskan ke penjara Wirogunan, Yogyakarta. Tidak lama kemudian, karena makin banyaknya tahanan berada di situ, lalu sebagian—termasuk Djoko Pekik—dipindahkan ke Benteng Vredeburg di ujung selatan Jalan Malioboro, Yogyakarta. Waktu itu lokasi Vredeburg masih menyeramkan karena sudah puluhan tahun tidak pernah dirawat dan dipugar, hanya sebagai markas tambahan bagi tentara.

Gelombang penahanan bagi orang-orang yang dianggap terlibat dalam G30S terus berlangsung hingga tahun 1966, bahkan tahun-tahun berikutnya. Mereka banyak juga yang dibuang ke pulau Buru di Maluku. Para seniman dari kota-kota lain banyak yang mengalami hal serupa, termasuk sastrawan terkemuka Indonesia waktu itu, Pramudya Ananta Toer. Sebenarnya, para seniman di Yogyakarta juga berpotensi untuk dibuang ke pulau Buru. Namun nasib berkata lain. Di awal-awal tahun 1966—pada sisa waktu terakhir Bung Karno memerintah sebelum diganti oleh Soeharto—The Founding Father itu bertandang ke AMN (Akademi Militer Nasional, sekarang AKABRI) untuk mewisuda lulusan akademi militer tersebut. Pada kesempatan itu, Si Bung sengaja mengundang dan mengajak berbicara Komandan Korem Pamungkas Yogyakarta, Letkol (CPM) Mus Subagyo. Kepada sang komandan, Soekarno kurang lebih berpesan dengan penuh harapan; “Tolong amankan para seniman yang ditahan di wilayahmu. Jangan dibuang jauh, jangan dibunuh, karena menciptakan seorang seniman itu jauh lebih sulit dibanding menciptakan seratus insinyur!”

Pesan presiden Soekarno yang juga seorang insinyur lulusan ITB itu dipegang teguh oleh Letkol Mus Subagyo. Dan pesan itulah, tampaknya, yang ikut menyelamatkan nasib dan kehidupan Djoko Pekik dan sekian banyak seniman Yogyakarta yang dianggap beraliran kiri. Pekik mendekam dalam penjara selama sekitar 7 tahun, mulai akhir 1965 hingga pertengahan 1972. Banyak kisah sedih, mengenaskan dan menyesakkan ketika melakoni hidup sebagai seorang pesakitan. “Saya sering tidak makan. Kalau toh makan ya seadanya,” cerita ayah dari 8 anak putera-puteri ini. Hukuman tanpa sebab, atau karena persoalan kecil yang tak masuk akal sering dialaminya. Hukumannya macam-macam dan mengerikan. Misalnya, dia dipaksa untuk mengakui sebuah perbuatan yang sama sekali tidak dilakukannya. Dia diinterogasi dengan keras bahkan kasar. Lalu, alas kaki diminta untuk dilepas. Dua kaki kursi kaki diletakkan di atas jemari kakinya yang tirus dan kurus. Ketika Pekik tetap tidak mengakui hal yang tak dilakukan, seorang interogator berbadan gendut naik di atas kursi lalu melompat-lompat di atasnya. Pekik hanya bisa menahan teriak dan perih merasakan kakinya yang tanpa alas ditimpa beban tersebut. Tentu, masih banyak sekali penderitaan fisik dan mental yang dialaminya selama tujuh tahun itu.

Pada masa getir dalam penjara ini dia melangsungkan pernikahan dengan gadis pujaannya asal Yogyakarta, C.H. Tini Suwartiningsih, pada tahun 1969. Tentu dengan proses yang sangat sederhana. Bahkan kemudian, setahun berikutnya, tahun 1970, anak pertama pasangan itu lahir. Pekik-Tini memberinya nama Gogor Bangsa.

***

Tahun 1972, kebebasan diterimanya. Penjara yang mengekangnya bertahun-tahun telah lepas. Lalu, apakah dia betul-betul bebas selepas-lepasnya. Tidak ternyata! Djoko Pekik telah lepas dari penjara fisik, tapi masuk dalam penjara sosial. Pemerintah Orde Baru memfasilitasi upaya penghukuman itu dengan memberi cap di KTP-nya: Eks Tapol. Bekas tahanan politik. Itu belenggu yang besar, kuat, tak kelihatan nyata secara fisik namun terasakan betul dalam relung batinnya.

Dia tak bisa seluas dan seleluasa mungkin bergaul dengan rekan-rekan seniman. Apalagi kalau menghadapi seniman yang dulu, sebelum tahun 1965, jelas-jelas berbeda haluan politik. Pasti ada tabir yang memberi jarak dalam relasi social keseharian. Sekadar berbincang sebagai manusia pun terasa gamang. Djoko Pekik tak bisa sepenuhnya menyalahkan mereka. “Mereka kan teman saya sendiri. Mereka juga takut kalau asap dapurnya ikut tidak bisa mengepul gara-gara bergaul dengan saya, bekas tahanan politik,” tuturnya.

Selepas dari penjara, pilihan hidup dan profesinya sebagai seniman terpaksa mulai mengendur. Sebetulnya ini bertolak belakang dibanding dengan gejolak isi hatinya yang begitu semangat kembali menjadi seniman 100%. Tapi apa daya, realitas sosial politik yang berubah tidak memungkinkannya untuk itu. Dia simpan hasrat yang kuat itu sebagai tabungan energi dan ide ke depan. Djoko Pekik menapaki kehidupan barunya dengan membuka usaha penjahitan. Awalnya dia buka usaha di pinggir jalan. Betul-betul menjahit di pinggir jalan. Ini usaha kecil-kecilan yang dirintisnya dari awal. Dari sinilah dia menghidupi keluarganya. Dia bahkan terlibat sebagai penjahit setelah sebelumnya belajar sedikit demi sedikit dari para tukangnya sendiri. Pelan-pelan usahanya lancar, lalu membuka kios di salah satu bagian rumah mertuanya di sebelah timur perempatan Wirobrajan. Kios penjahitan itu kemudian diberinya nama “Rama Taylor”. Seiring waktu, usaha itu bergeser setelah Pekik sesekali blusukan ke kampong-kampung di selatan kota Klaten dan mengenal kain gendhong. Inilah yang kemudian dikembangkannya. Nama tempat usahanya pun berganti nama menjadi “Logro”.

Sebenarnya, kalau mau, Pekik masih bisa menerima order melukis. Misalnya melukis potret, bunga, pemandangan yang molek dan sebangsanya. Uang pun bisa dengan relative mudah didapatkan dari situ. Namun, baginya, itu mengganggu idealismenya yang sudah lama tertanam dalam proses berkarya. “Saya itu pelukis kuda balap, bukan pelukis kuda andong!” tegas Djoko Pekik. Seniman yang telah memiliki 18 cucu ini ingin menegaskan bahwa kalau seniman yang bertipe pelukis kuda balap itu ya seniman “yang larinya kencang, pencapaiannya besar”, sementara seniman tipe kuda andong “lebih banyak mengangguk mengikuti juragannya, dan perolehannya kecil.” Ini seperti pesan filosofis bahwa Pekik lebih memilih menjaga idealisme sebagai seniman daripada hanyut dalam alunan riak-riak kecil gerak kesenian yang mungil pencapaiannya.

Itulah yang mendasari langkah-langkah “rahasia” yang dilakukan seniman ini. Di tengah kesibukannya sebagai penjahit kain lurik, dia berusaha keras untuk mencuri waktu dan kesempatan melukis. Repotnya, material untuk melukis itu tidak semuanya murah. Dan Pekik pun tak ingin yang murahan. Maka, sesekali dia nekat untuk mendekati seniman besar, maestro Affandi, untuk mendapatkan material mahal itu. Sesekali dia berkunjung ke rumah sekaligus studio Affandi di tepi sungai Gajahwong, Yogyakarta bagian timur. Di sana dia meminta tube-tube cat bermerk Rembrandt yang sudah tidak dipakai lagi namun masih ada sedikit sisa cat di dalamnya. Begitu juga dengan kuas yang berstandar tinggi dimintanya meski bekas pakai. “Cat Rembrandt itu kan bagus, mahal dan awet. Hanya Affandi dan beberapa seniman kaya saja yang mampu membeli dan memakainya. Makanya saya harus punya standar tinggi seperti itu, hehehe… “ ujarnya sambil terkekeh renyah.

Ulang-alik antara usaha penjahitan dan keinginannya menjadi seniman tipe “kuda balap” dilakukan terus oleh Djoko Pekik, meski dalam proses awalnya usahanya sebagai penjahit sudah lumayan bisa menghidupi keluarganya, satu istri dengan 8 anak. Dia mengenang masa lalunya itu yang kadang mengenaskan ketika mengingat di seberang kios usahanya ada seorang penjual makanan yang enak dan laris. Dia dan anak-anaknya hanya bisa sering menatap orang-orang yang menyantap makanan itu tanpa mampu membelinya karena keterbatasan ekonomi.

Kondisi ekonomi keluarga Pekik makin memburuk pada tahun 1988 ketika jembatan besar di sebelah timur rumahnya ditutup untuk direnovasi total. Itu berpengaruh pada usahanya karena para pelanggan tidak bisa datang ke tempatnya lagi. Pelanggan baru pun tak mungkin karena tempat usahanya jadi tersembunyi karena tak ada akses jalan.

Tapi tampaknya nasib mulai bergerak. Ketika umatNya mulai angkat tangan, Tuhan justru turun tangan. Tahun itu juga Djoko Pekik mendapatkan undangan untuk berpameran dalam Festival Kesenian Yogyakarta (FKY) yang mulai berlangsung untuk pertama kalinya. Juga ada Biennale Jogja, sebuah perhelatan seni rupa yang juga pertama kali digelar di kota Yogyakarta. Dari situlah semangatnya untuk berkarya dan menjadi seniman “kuda balap” kian besar. Apalagi, pelan-pelan pencapaian ekonomi dari karya-karyanya mendapat apresiasi yang memadai.

***

Keteguhan seorang Djoko Pekik pada pilihan hidup dan pilihan profesinya, kekuatannya untuk bersabar menghadapi sekian banyak onak kehidupan, keterhimpitannya menghadapi hukuman social yang menyesakkan, tidaklah gampang untuk dilupakan. Juga kekuatan batin sang istri, Tini Suwartiningsih yang tegar menghadapi masa awal-awal perkawinan tanpa kebersamaan yang total dengan suami karena Djoko Pekik berada dalam penjara di benteng Vredeburg.

Delapan anak pasangan ini lahir dalam masa-masa sulit secara ekonomi dan sosial karena cap yang negatif atas sang ayah. Pada merekalah, tampaknya, Djoko Pekik memonumenkan semangat hidupnya lewat nama-nama yang unik, aneh, namun artistik, dengan menekankan aspek lokalitasnya. Nama-nama anaknya itu: Gogor Bangsa (gogor: anak macan), Loko Nusa (loko, dari kata lokomotif, bukan hanya jadi gerbong), Lugut Lateng (bulu halus pada bayam yang panas kalau dipegang), Nihil Pakuril (seperti resistensi pada kata/nama Pakubuwono, Paku Alam, dll.), Ri Kemarung (duri pada umbi gembili yang keras dan beracun), Sengat Canthang (canthang, semut hitam yang ganas), Layung Sore (cahaya jingga yang terang saat senja), dan Parang Wungu (seperti ombak pantai Parangtritis). Nama-nama itu seperti dikreasi oleh Pekik dengan kesadaran penuh menggugah dirinya, juga mengingatkan kepada anak-anaknya bahwa hidup itu pasti ada pasang-surutnya, ada naik-turunnya.

Kalau sekarang seorang Djoko Pekik telah nyaman tinggal di rumahnya di tengah-tengah tanah miliknya yang seluas 3 hektar di Bantul itu, semuanya hanya titik happy ending yang awalnya tidak terpikirkan bahkan oleh diri Pekik sendiri. Kalau seorang Djoko Pekik bercita-cita untuk menghijaukan seteduh-teduhnya areal tanah miliknya hingga serupa hutan itu, segalanya seperti dipulangkan pada ingatan masa kecilnya yang ingin memandang negeri ini penuh sumber daya yang bisa memberdayakan diri sendiri. Tidak sangat bergantung pada pihak lain. ***

Kuss Indarto, penulis, tinggal di Yogyakarta.

Saturday, October 22, 2016

Reinterpretasi Budaya


Oleh Kuss Indarto

(Catatan ini dimuat dalam katalog pameran seni rupa "Legenda Nusantara", di Galeri Koi, Jakarta, Oktober 2016)

SETIAP kali menghadapi artifak budaya seperti karya seni rupa, khususnya lukisan, kadang kita ingin mengempaskan kembali ingatan kepada pengertian mendasar tentang kebudayaan. Kita mengingat kata “culture” (budaya) yang secara etimologis (asal-usul kata) berasal dari kata dalam bahasa Latin, “colere” yang berarti merawat, menjaga, memelihara dan mengolah. Kalau dugaan ini diyakini, maka kata “budaya” dapat didefinisikan sebagai cara hidup bersama sebagai strategi manusia dalam menjaga dan memelihara tradisinya.

Dalam konteks bahasa Indonesia kita juga memahami bersama bahwa kata “budaya” secara etimologis berasal dari kata dalam bahasa Sanskerta, “buddhayah” (bentuk jamak dari kata “buddhi”) yang berarti daya dari akal budi berupa cipta, karsa, dan rasa. Kedengarannya ini kuno dan terlalu mainstream. Tapi begitulah, dari titik ini kita bisa memberangkatkan pemahaman yang meluas bahwa kebudayaan itu adalah suatu keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial yang digunakan untuk memahami dan menginterpretasikan lingkungan dan pengalamannya, serta sebagai pedoman bagi tingkah lakunya.

Setiap kebudayaan terdiri dari unsur universal yaitu struktur sosial, politik, ekonomi, teknologi, agama, bahasa, komunikasi, dan sebagainya. Kebudayaan menjadi titik strategi untuk keberadaan diri (eksistensi) manusia. Wujud kebudayaan itu, menurut Koentjaraningrat (1990) terdiri dalam tiga pilahan, yakni (1) sebagai sesuatu yang kompleks dari ide, nilai, norma, peraturan, konvensi, dan sebagainya, (2) sebagai suatu aktivitas serta tindakan terpola dari manusia dalam masyarakat, dan (3) sebagai benda-benda fisik hasil karya manusia.

Merujuk pada pendapat Koentjaraningrat di atas, kita bisa kembalikan konteks perbincangan tentang karya-karya seni rupa, khususnya dalam pameran ini. Betulkah karya yang terpampang ini adalah karya budaya? Kalau ditilik dari pemahaman Koentjaraningrat di poin ketiga, pastilah artifak atau benda-benda seni ini masuk dalam kerangka klasifikasi artifak budaya. Lalu, aktivitas dan praktik membuat karya seni dengan segala ritusnya yang bisa berlainan satu sama lain di antara pelukis atau perupa, itu juga merupakan praktik berkebudayaan—tidak sekadar sebagai praktik berkesenian semata. Dan kemudian, pada masalah nilai dan ide, apakah karya-karya ini membopong aspek budaya berupa nilai atau gagasan di dalamnya?

Saya meyakini bahwa tiap praktik berkesenian oleh seniman, mulai di tingkat gagasan hingga di level praksis tentulah semuanya dapat dikerangkai sebagai sebuah budaya. Hanya masalahnya, ketika mencoba merunuti dan menggali pada aspek gagasan, kita “menggoda” untuk melontarkan pertanyaan-pertanyaan yang bisa menjadi bahan diskusi lebih lanjut. Misalnya, apakah ada gagasan baru atau berbeda dari kecenderungan umum dalam dunia ide dalam karya yang dikreasi dan dieksposisikan saat ini? Atau, sebaliknya, apakah dunia gagasan dalam karya seni kali ini sekadar melakukan praktik repetisi atau pengulangan atas praktik berkesenian (sekaligus praktik berkebudayaan) seperti sebelumnya? Maka, apakah ada upaya menggagas dan melakukan praktik seni “di luar kotak” (out of the box) sehingga melahirkan karya yang segar di dunia gagasan bahkan pada pencapaian artistiknya? Tentu, ini hanya rentetan pertanyaan yang bisa diabaikan sama sekali, atau sebaliknya bisa digeluti kembali dengan penuh perhatian.

Tema spesifik pameran ini, “Legenda Nusantara”, telah memancing kesadaran kita tentang narasi-narasi yang berkembang luas dan karib dalam masyarakat. Kita tahu, secara leksikal, legenda merupakan cerita rakyat zaman lampau yang berkaitan dengan peristiwa dan asal usul terjadinya suatu tempat. Misalnya legenda tentang Candi Sewu, Sangkuriang, Dayang Sumbi, Malin Kundang, dan sekian banyak legenda lain yang lahir dan hidup di Nusantara. Legenda (dari bahasa Latin: legere) adalah cerita prosa rakyat yang dianggap oleh komunitas pemilik cerita sebagai sesuatu yang benar-benar terjadi. Oleh karena itu, legenda sering kali dianggap sebagai "sejarah" kolektif (folk history). Walaupun demikian, karena tidak tertulis, maka kisah tersebut telah mengalami distorsi atau pergeseran, sehingga sering kali jauh berbeda dari waktu ke waktu. Demikian pula berbeda mulut pencerita bisa bergeser pula narasinya. Konteks “asli” dalam perbincangan ini kadang jadi sulit dipertanggungjawabkan, untuk kemudian diabaikan atau dikompromikan. Maka, ketika sebuah legenda dihasratkan sebagai bahan untuk merekonstruksi sejarah tertentu, maka legenda harus dibersihkan terlebih dahulu bagian-bagiannya dari yang mengandung sifat-sifat folklor—pun dari kepentingan-kepentingan tertentu.

Pada titik inilah, saya kira, para seniman yang berpartisipasi dalam pameran ini sangat berpeluang untuk melakukan praktik pembacaan ulang (re-reading), menafsir ulang (reinterpretation), merekonstruksi atau mere-kreasi atas teks-teks legenda yang telah ada dan menjadi kisah mainstream dalam masyarakat. Legenda-legenda yang ditampilkan sebagai sumber ide karya bisa saja digambarkan kembali apa adanya secara visual selaras dengan narasi lama yang telah berkembang dalam masyarakat selama berabad-abad. Namun karena sifatnya yang relatif tidak sangat rigid dan kurang masif bangunan narasinya, maka bukan tidak mungkin seniman bisa melakukan praktik menafsir secara subyektif atas teks legenda itu. Dengan demikian para seniman telah turut melakukan “kerja budaya” kembali dengan memberi nilai yang kaya atas teks legenda yang telah ada. Bukan terpenjara pada gambaran lama legenda yang, bisa jadi, miskin konteks. Ya, rekontekstualisasi legenda yang berkembang dalam sistem ingatan masyarakat perlu diagendakan, bukan untuk mengaburkan “orisinalitas” (gagasan legenda yang telah ada, namun justru terus memasukkan legenda tersebut ke tengah-tengah masyarakat dalam baju tafsir yang berbeda. Kurun zaman dulu dan zaman yang telah beringsut ratusan tahun berikutnya tentu telah bergeser pula spiritnya. Dan inilah yang bisa ditandai oleh peran kreatif seniman.

Kita bisa menyimak karya Syis Paindow yang ingin “menggoda” persepsi apresian tentang tokoh Ratu Boko yang dilegendakan pernah hidup di sebuah bukit kering di belahan timur kota Yogyakarta. Pada karya “The Royal Majestica”, Syis menggambarkan sesosok perempuan cantik berbaju merah yang bercitra modern, dengan latar belakang pintu gerbang candi Boko yang kini sangat populer, juga citra topeng kayu khas Yogyakarta yang biasa dipakai oleh penari wayang orang. Apakah Ratu Boko itu juga sesosok selebritas yang fashionable dan mempengaruhi ritme hidup orang di sekitarnya?

Pun dengan citra Roro Jonggrang dalam lukisan “Roro Jonggrang in Reflection” karya Akbar Linggaprana. Apakah gambaran figur yang berkebalikan (berlawanan) antara yang atas dan bawah itu juga gambaran sikap sang Roro yang kontradiktif antara yang dicitrakan selama ini dengan yang sesungguhnya terjadi dalam dasar batinnya? Apakah benar bahwa Roro Jonggrang terlalu banyak menuntut dengan meminta 1.000 buah candi yang harus diselesaikan oleh Bandung Bondowoso dalam semalam, atau sebetulnya berkebalikan dengan itu, yakni bahwa dia sudah cukup hanya dibuatkan satu buah candi saja?

Dugaan sekaligus tafsir lain juga bisa dilayangkan pada karya A. Muhsoni, “Memadu Kasih: Lutung Kasarung”. Apakah sosok Purbasari sebenarnya adalah perempuan mandiri yang dominan terhadap laki-laki (yang direpresentasikan oleh sosok lutung atau kera yang tampak tunduk padanya)? Meski dia terbuang dari kerajaan karena intrik dan ulah kakaknya, Purbararang, apakah itu makin menandaskan potensi dominasi Purbasari atas kakak perempuannya dan laki-laki pendampingnya?

Arya Posa dengan karyanya, “Ken Dedes”, tampaknya juga ingin bermain-main dengan tafsir barunya. Sosok Ken Dedes yang jelita dikepung oleh 6 bidadari seksi dan jelita yang semuanya berpostur ideal ala komik Marvel Amerika. Sebetulnya ini juga bentuk reimajinasi yang lebih lanjut dari Ken Dedes sendiri. Dalam tinjauan sejarah kita tahu bahwa sosok dan nama Ken Dedes tidak disebutkan sama sekali di kitab Negarakretagama. Jauh setelah itu, dalam kitab Pararaton, barulah sosok Ken Dedes ini muncul dengan cecitraan yang penuh pesona yakni cantik dan berpaha penuh cahaya yang mencirikan sebagai perempuan calon penurun para raja. Menarik bahwa Ken Dedes diduga hasil pembacaan dan tafsir baru atas kitab Negarakretagama yang konstruksi dalam kitab Pararaton. Bagaimana Ken Dedes versi Arya Posa? Anda, sidang penonton, bisalah memberi tafsir yang lebih kaya atas teks visual tersebut.

Kita juga bisa lebih jauh dan eksploratif menafsir karya-karya I Made Kenak Adnyana tentang Gunung Agung atau gunung pada umumnya bagi kebanyakan masyarakat Bali yang mayoritas beragama Hindhu. Kedekatan alam, termasuk terhadap gunung menjadikan manusia Bali memiliki kekayaan kultural yang relatif berbeda dengan kawasan lain. Michelle Wong dengan “Power of Love”-nya dan Tommy Faisal Alim dengan “Kukkuk” dan “Love in Blue”-nya, dugaan saya, juga tengah berupaya mencari perluasan tafsir atas narasi-narasi tentang cinta yang telah melegenda dalam kebudayaan dan keseharian kita.

Pameran ini saya kira tidak sedang atau tidak perlu berambisi sebagai upaya untuk “melestarikan kebudayaan lokal” karena memunculkan dan mengingatkan penonton akan legenda-legenda Nusantara yang telah hidup dalam kolektivitas memori manusia Indonesia selama berabad-abad. Dengan praktik membaca kembali dan mereinterpreasi atau menafsir ulang secara visual dan didasari oleh kekuatan gagasan, sebenarnya nilai-nilai budaya tentang Jawa, tentang Bali, tentang kenusantaraan—yang dibawa dalam karya ini—tengah bergerak. Secara pelahan, roda budaya dengan itu sedang mencoba mendinamisasikan diri, sekecil apapun gerak itu terjadi. Selamat bergerak! *** 

Kuss Indarto, penulis seni rupa, tinggal di Yogyakarta.


Monday, October 17, 2016

Bhumibol Mangkat



SIANG itu, tujuh tahun silam, persisnya awal Desember 2009 saya berdua dengan pak Tubagus Andre (kepala Galeri Nasional Indonesia) naik tuk-tuk—salah satu moda transportasi lokal—menuju BCC (Bangkok Culture Center) di pusat kota Bangkok. Kami bertolak dari hotel mungil di Jalan Rambuttri yang banyak turis back packer-an, tak jauh dari Jalan Khaosan yang jauh lebih riuh dengan turis back packer-an dari seluruh dunia.

Perjalanan cukup meriah karena deru mesin tuktuk yang keras, bahkan cukup memekakkan telinga. Maka, dialog kami dengan sopir tuk-tuk yang ramah itu harus diungkapkan dengan setengah berteriak biar suara masuk ke telinga. Bahasa Inggris kami bertiga juga tidak fasih-fasih amat, sehingga itulah yang membuat komunikasi jadi seru karena gesture tubuh, terutama tangan, melengkapi baku dialog.

Pada suatu kelokan jalan yang lebar dan cukup sepi, tiba-tiba sang sopir berteriak sambil menoleh ke arah kami: “Down your hat! Down your hat! Down your hat!” Bajigur! Opo to iki?! Saya dan pak Andre celingukan karena tak paham betul apa yang sopir maksudkan. Ya, kami tahu kalau dia (kurang lebih) bilang bahwa kami diminta melepaskan topi dari kepala. Apalagi saya yang tidak mengenakan topi, bingung apa maunya.

“Apa maksudmu kami harus melepaskan topi, bung?” teriakku merespon.

Sopir itu memperlambat laju tuk-tuknya, dan menjelaskan: “Kita akan melewati jalan sekitar rumah sakit kerajaan. Dalam rumah sakit itu sekarang ada raja kami, Bhumibol Adulyadej. Beliau sedang sakit dan dirawat di situ. Tolonglah hormati raja kami dengan cara melepaskan topi dari kepalamu. It’s impolite. Itu tidak sopan.” Owalaahhh…

Saya tak tahu kalau jalur yang tengah kami lewati itu ada bangunan rumah sakit karena tuk-tuk sama sekali tidak berjalan melewati bagian depan, tapi samping dan belakang rumah sakit. Bangunan itu tidak mencolok sebagai sebuah rumah sakit.

Tapi dari situ saya salut terhadap sang sopir tuk-tuk itu. Betapa kesetiaan dan penghormataannya sebagai rakyat terhadap sang raja Thailand begitu dalam, hingga meminta pelancong seperti kami juga ikut menghormati junjungannya. Betapa imajinasi tentang pemimpin yang dijadikan panutan baginya tetap hadir meski tidak dalam penampakan fisiknya. Saya tak tahu apakah ini juga bagian dari perluasan praktik kuasa panoptikon yang pernah diperkenalkan oleh Michel Foucault, namun saya tersadarkan betapa keberadaan raja (secara non-fisik atau kasat mata) itu telah berpendar dalam pemaknaan yang dalam bagi seorang sopir tuk-tuk hingga menciptakan etika tersendiri. Kami dianggap tidak memenuhi etika sosial di situ, tidak menghormati raja kalau tetap mengenakan topi (di kepala) tak jauh dari keberadaan raja—meski beliau sama sekali “tidak kasat mata”.

Kejadian serupa juga saya alami ketika menaiki boat di klang-klang atau ranting sungai Chao Phraya di pinggiran kota Bangkok. Di sepanjang klang yang saya lalui, ada sekian banyak rumah tinggal dan rumah peribadatan yang memajang foto raja Bhumibol di halaman di pinggir klang tersebut. Dan orang-orang lokal yang satu boat dengan saya, selalu mengatupkan kedua tangan sembari menunduk takzim di hadapan foto sang raja. Anda bisa bayangkan ketika pada satu kawasan foto-foto raja itu berjarak pendek satu sama lain, dan pada jarak-jarak yang tak panjang itulah mereka memberi penghormatan (pada foto) tanpa satu pun terlewatkan. Luar biasa!

Kemangkatan raja Bhumibol Adulyadej atau Raja Rama IX pada hari Kamis, 13 Oktober 2016 kemarin, pasti memedihkan perasaan banyak warga Thailand. Junjungan mereka, simbol pemersatu mereka—dengan segala kelebihan dan kekurangannya—sedikit-banyak telah meruntuhkan harapan-harapan Thailand ke depan.

Harapan-harapan itu tampaknya telah memudar ketika menyadari bahwa putra mahkota, Pangeran Makhota Maha Vajiralongkorn, calon Raja Rama X adalah pangeran yang banyak membuat masalah: sering mabuk-mabukan di ruang publik, doyan main perempuan, dan cecitraan negatif lainnya, yang jauh dari reputasi positif ayahandanya. Sebetulnya, dalam banyak pikiran warga Thailand, mereka berharap pada Putri Maha Chakri Sirindhorn sebagai ratu—pemimpin pengganti Bhumibol. Sebagai kerajaan penganut garis patrilineal, tentu sulit peluang Putri Sirindorn sebagai pemimpin.

Saya hanya secuil kecil menyimak gerak aktivitas putri ini lewat celah berbeda, yakni pameran fotografi karya Putri Sirindorn. Ya, dia menuruni minat dan bakat ayahandanya yang juga menggemari jagat fotografi. Februari 2014, saya menyaksikan ratusan karya fotografi hasil jepretan Sirindorn yang memenuhi 2 lantai gedung BCC (Bangkok Culture Centre). Tema pameran itu: “Traveling Photos, Photos Traveling”, yang kalau tak salah terbagi dua bagian utama, yakni perjalanan sang putri membelah sekian banyak negeri di mancanegara, dan kunjungannya ke berbagai pelosok negeri Thailand. Kualitas artistik fotografinya saya kira sangat memadai, bahkan bagus. Setidaknya sedikit lebih bagus ketimbang ibu Ani Yudhoyono, hehehe… (Maaf lho, bu!).

Tapi poin pentingnya, saya kira, pameran itu seperti ingin memperlihatkan gerak aktivitas penting seorang yang layak memimpin sebuah kawasan, sebuah negeri. Potret tentang keluarga miskin, tentang bukit yang gersang, atau sebaliknya foto-foto eksotik perihal bumi Thailand yang bertebar keindahan, tentang sawah yang permai, tentang gerbang-gerbang desa yang ornamentik, semua ada dalam pameran tersebut. Setidaknya, dia seperti ingin memperlihatkan bahwa: “aku sudah mengunjungi dan tahu seluruh pori-pori negeri, dan paham hendak kemana sebaiknya negeriku ini akan dibawa…”

Thailand, kata beberapa pengamat, siap menghadapi banyak persoalan sepeninggal Raja Rama IX. Angka IX atau 9 atau sembilan memang seolah memiliki energi dan “tuah” yang kuat. Setelah itu, masih teka-teki. Tapi itu di Thailand, bukan yang lain…

Selamat jalan, Raja Bhumibol! ***