Saturday, May 31, 2014

LANYAH

ORANG Jawa punya istilah “lanyah” yang kurang lebih berarti terbiasa, “fasih”, atau “luwes” dalam melakukan sebuah aktivitas. Istilah tersebut mengindikasikan pelakunya telah mempraktikkannya dengan rutin, lama, dan terus-menerus. Misalnya, “Bayine wis lanyah le mlaku” (Si bayi sudah lancar berjalan), “Mbak Ponirah lanyah tangane olehe mbathik” (Mbak Ponirah sudah terampil tangannya dalam membuat batik), dan seterusnya. Dua kalimat contoh itu mengindikasikan bahwa si bayi telah lebih dulu jatuh bangun berlatih berjalan dan diduga baru di bulan kesebelas lancar berjalan. Demikian pula, Mbak Ponirah mungkin telah berlatih membatik sejak usia dini dan baru dikatakan fasih atau terampil setelah masuk di tahun ketiga, bahkan lebih.

Pendeknya, semua aktivitas butuh upaya, latihan, mempraktikkan langsung secara kontinyu, berkesinambungan, dan terus-menerus sehingga bisa mengalami trial and error untuk kemudian mencoba menghindari atau meminimalisasi titik error-nya agar pekerjaan lebih optimal. Seorang pelukis bila tidak terus melukis secara istiqomah, terlalu banyak jeda, maka akan kehilangan kefasihannya dalam mengguratkan garis atau sekadar mencampurkan warna yang tepat. Seorang montir yang libur berpraktik hingga setahun, niscaya akan terkurangi kecekatannya tatkala kemudian menghadapi sebuah mesin yang lama tidak ditanganinya. Belum lagi kebaruan sistem dalam mesin yang menjadi tantangan baru mesti harus dipelajari rentang waktu yang relatif lama.

Apakah (calon) pemimpin juga membutuhkan ke-lanyah-an untuk memimpin rakyatnya? Pasti. Pemimpin juga perlu magang dalam situasi yang kurang lebih sepadan, meski bobot, gradasi, level, dan kompleksitas permasalahannya berbeda. Karakter lembaga yang dipimpinnya pun niscaya akan berbeda, dan ini berpotensi membentuk karakter pemimpinnya. Lembaga militer, lembaga bisnis, lembaga sosial, pun lembaga negara atau lembaga pemerintahan, sudah pasti memiliki titik diferensiasi yang variatif satu sama lain.

Mereka yang biasa menjadi pimpinan di lembaga militer level bawah tentu tak akan butuh banyak waktu ketika berpindah di level yang lebih tinggi di jalur militer. Demikian pula, orang yang telah bertahun-tahun sukses menjadi pimpinan lembaga pemerintahan di level menengah, tentu memerlukan proses adaptasi yang bisa relatif lama ketika harus berpindah memimpin lembaga bisnis yang levelnya setara. Akhirnya, sekarang, Anda pun bisa bernalar ketika melihat fakta seperti ini: seorang jenderal militer yang pernah membawahi puluhan ribu tentara dan telah libur memimpin selama 16 tahun, sudah mencoba berbisnis dengan banyak persoalan, kini, tiba-tiba berkehendak menjadi pemimpin bagi ratusan juta warga sipil. Butuh berapa tahun dari 5 tahun masa jabatannya itu untuk beradaptasi dengan rakyat dan sistem kenegaraan yang telah terbangun puluhan tahun? Eksperimentasi fatalistik seperti apa yang mungkin terjadi dengan pemimpin yang selama ini hanya meneriakkan gagasan namun belum pernah membenamkannya dalam proyek miniatur apapun dalam skala apapun? Maaf, saya tidak ngeri dengan tentara. Saya hanya ngeri dengan pemimpi (tanpa “n”) kosong yang diberi kesempatan. Saya ingin pemimpin yang “lanyah”!

Wirobrajan, Yogyakarta, ujung Mei 2014.

Saturday, May 24, 2014

Menelusuri Jalur Ngalor Ngetan

Oleh Kuss indarto

[1/satu]:

Dua seniman dengan karakter, corak dan pola visual yang relatif berbeda bergabung dalam pameran “Ngalor-Ngetan”. Rb. Ali dan Khoiri, duo perupa tersebut, menandai pameran ini dengan tajuk yang diambil dari terminologi bahasa Jawa yang artinya harfiahnya “menuju ke utara dan ke timur”, dan diandaikan mengendapkan makna “berjalan beriringan lalu merunuti arah dan keyakinan masing-masing”. Makna ini tentu tak terlalu tepat benar karena pada dasarnya tajuk pameran ini juga merupakan “pelesetan” dari ungkapan “yang lebih asli”, yakni “ngalor-ngidul”. Ngalor-ngidul sejatinya merujuk pada aktivitas perbincangan antara dua orang atau lebih tanpa tema yang fokus dan terarah—sehingga bisa berkisah mulai dari tema politik, perkembangan teknologi gadget, olah raga, klenik, metafisika, hingga seks, atau pun progres pasar seni rupa kontemporer, dan lainnya. Semua bisa masuk dalam “agenda” perbincangan “ngalor-ngidul”—dari utara hingga selatan ini. Prinsip mendasar dari terjadinya tindakan berbincang ngalor-ngidul ini, saya kira, adanya persenyawaan batin dan kehendak untuk membangun komunikasi yang lebih kuat, serta hasrat untuk berbagi pengetahuan dan informasi antar-orang yang terlibat di dalamnya. Berbincang ngalor-ngidul kiranya bisa juga ditengarai sebagai aksi yang filosofis karena antar-orang yang terlibat di dalamnya berkehendak secara bersama untuk mengakomodasi dan mengikuti semua arah perbincangan yang hendak “digelar”. Dalam masyarakat Jawa, perilaku semacam ini relatif lazim diterima sepanjang semua berminat untuk melakukannya, bukan menyetopnya dengan dalih hal itu akan membuang-buang waktu.

Dalam konteks yang agak meluas, dan mungkin sedikit bias dengan tema pameran ini, kita bisa menggali problem ngalor-ngidul ini dari upacara tradional Karo yang sudah berlangsung berabad-abad terjadi di kawasan Tengger, seputaran gunung Bromo, Jawa Timur. Upacara Karo di Tengger tersebut berakar dari kisah legenda tewasnya pengikut Ajisaka bernama Hana dan Alif (abdi Kanjeng Nabi Muhammad SAW) yang masih bersemayam dalam tradisi masyarakat Tengger. Kematian dua orang itu telah menjadi pelajaran berharga yang tidak boleh lagi terulang bagi pewaris aktif tradisi Tengger. Pada saat tewas, Alif tergeletak dengan kepala di utara (rubuh ngalor), dan Hana tergeletak dengan kepala di selatan (rubuh ngidul).

Dua hal yang berseberangan antara rubuh ngalor dan rubuh ngidul tersebut menunjukkan sikap beragama dari para pengikut Ajisaka yang menganut ajaran Hindu serta pengikut Kanjeng Nabi yang Islam: agamaku (adalah) agamaku, agamamu (adalah) agamamu. Pengikut Ajisaka yang tewas harus dikuburkan dengan posisi kepala berada di selatan, atau menghadap ke gunung Bromo, sedangkan pengikut Kanjeng Nabi harus dikuburkan dengan posisi kepala di utara. Rubuh ngalor dan rubuh ngidul juga mengacu kepada pengertian menjadi Islam, dan menjadi Buddha/Hindu.

Untuk menghindari terjadinya korban seperti yang terjadi pada diri Hana dan Alif, maka diperlukan selamatan atau upacara. Selamatan itu disebut selamatan Karo atau upacara Karo bagi pengikut Ajisaka yang memeluk Hindu, dan, di sisi lain, selamatan Lebaran bagi pengikut Kanjeng Nabi. Nama kedua sosok itu, yakni Hana dan Alif, juga mencerminkan latar belakang budaya dari pengikut tokoh tersebut. Alif adalah huruf pertama dalam sistem alphabetical Hijaiyyah/Arab, sedangkan Hana merupakan penggabungan dari dua huruf pertama dalam sistem alphabetical Jawa. Tanah Jawa sekarang bukan hanya dihuni oleh pengikut Ajisaka yang memiliki tradisi keberaksaraan ha, na, ca, ra, ka, tetapi juga dihuni oleh pengikut Kanjeng Nabi yang memiliki tradisi keberaksaraan alif, ba, ta, tsa, dan seterusnya. Kedua kelompok itu hidup berdampingan dalam kedamaian dan saling pengertian.

Contoh upacara Karo tersebut memberi kilasan contoh yang berangkat dari tinjauan tradisi—meski tidak tepat benar—tentang pilihan hidup, pilihan falsafah hidup, hingga pilihan ideologi kreatif yang tak selalu sejalan seiring namun bisa dipertemukan dalam satu ruang dan waktu dalam kerangka persoalan yang harmonis.

Rb. Ali dan Khoiri mungkin tidak cukup karib dengan kisah legenda Hana dan Alif, bahkan mungkin abai tentang itu, namun saya kira ini bisa diketengahkan sebagai salah satu contoh soal tentang bangunan perbedaan dan kekontrasan yang sangat mungkin dipersatukan. Konsep ngalor-ngetan yang menjadi tajuk pameran ini bisa dikerangkai sebagai tanda yang filosofis tentang keselarasan dalam “pertentangan”.

[2/dua]:

Menyimak karya-karya lukisan Rb. Ali dan Khoiri dalam pameran kali ini, serasa menyimak wajah dan tampilan karakter diri masing-masing seniman yang terepresentasi dalam puluhan bentangan kanvas. Keduanya tentu berbeda meski secara visual ada satu hal yang bisa menjadi titik hubung antar-keduanya: abstrak. Kata abstrak ini sendiri, kalau dimasukkan dalam konteks gejala seni rupa, setidaknya terpilah dalam dua hal yang cukup berseberangan, yakni abstrakisme dan abstraksionisme. Hal pertama, abstrakisme—pengertian sederhananya—adalah gaya dalam lukisan yang meniadakan ilusi-ilusi bentuk dalam kanvas, sementara abstraksionisme lebih mengacu pada karya seni abstrak yang masih menyisakan citra obyek yang menjadi titik berangkat karya lukisan.

Karya-karya Rb. Ali lebih mendekati pada abstraksionisme, sementara semua karya Khoiri cenderung sebagai abstrakisme. Pilihan kecenderungan kedua seniman ini tampaknya cukup dikukuhi, setidaknya dalam pameran berdua ini, sehingga keduanya dengan tegas memberi batas-batas identitas visual yang kentara sekaligus berbeda satu sama lain. Tampaknya, ini bisa dikatakan sebagai pameran tunggal berdua, bukan pameran berdua, karena baik antara Rb. Ali dan Khoiri masing-masing tampak fokus dalam berkutat dengan gayanya sendiri.

Uniknya, pilihan kreatif abstrakisme atau abstraksionisme yang mereka bawa ini, setidaknya dalam satu dasawarsa terakhir tidak lagi cukup populer dalam hiruk-pikuk gelanggang seni rupa (kontemporer) di Indonesia. Saya tidak hendak mengatakan bahwa pilihan Rb. Ali dan Khoiri ini adalah pilihan kreatif yang ketinggalan zaman, “tidak kontemporer”, atau bahkan kurang strategis dalam meraup pangsa pasar seni rupa dewasa ini. Namun, saya ingin menegaskan bahwa gejala visual yang duo seniman pampangkan di ruang pameran ini kembali mencuatkan kekayaan kosa rupa yang akhir-akhir ini terkadang terasa menunggal, monoton, dan masuk dalam kebuntuan kreatif.

Memang, setelah sepanjang dasawarsa 1990-an kanvas seni lukis (= rupa) Indonesia digempur oleh booming seni lukis abstrak, di ujung dasawarsa itu hingga nyaris satu dasawarsa berikutnya kecenderungan visual dalam kanvas seni rupa Indonesia dibombardir oleh gejala “impor” yang datang dari belahan jagat utara, yakni gejala pemiripan dengan “seni rupa kntemporer China”. Gejala ini banyak mengetengahkan karya-karya dengan pendekatan visual realisme atau hiper-realisme yang bermuatan sinical themes (tema-tema sinisme politis). Berikutnya, yang hingga kini masih cukup banyak menyeruak dalam kanvas adalah karya-karya lukis “Juxtapoze-ian”. Saya sebut demikian karena subject matter karya-karya ber-genre ini banyak mengacu pada kecenderungan visual yang muncul secara dominan dalam majalah seni rupa (kontemporer) Amerika Serikat: Juxtapoze. Di situ sedikit banyak dapat terlacak gejala visual yang ilustratif dengan pendekatan pada karya seni komik dan Neo Pop Art. Diseminasi atau persebaran bentuk-bentuk kreatif itu begitu cepat bergerilya ke segala penjuru angin karena didukung secara kuat oleh teknologi informasi dan internet, sehingga dengan lekas bisa mendunia. (Website majalah Juxtapoze menjadi salah satu website majalah seni rupa yang paling banyak dikunjungi oleh para perupa muda sedunia). Maka, sekarang ini, kadang sangat sulit untuk membedakan mana karya Wedhar Riyadi, Iwan Efendi, atau Hendra Hehe yang berproses kreatif di Yogyakarta, dengan karya-karya dari seniman dari Meksiko, Ukraina, atau Aljazair yang memiliki kecenderungan visual serupa. Inilah sisi lain risiko dari kuatnya pengaruh teknologi internet.

Dengan demikian, ketika gejala “Juxtapoze-ian” dalam seni rupa itu menggejala begitu dahsyat, atau “badai” kecenderungan pemiripan karya “seni rupa kontemporer China”, maka kelugasan kehadiran kembali karya-karya yang diketengahkan oleh Rb. Ali dan Khoiri bisa memberi keseimbangan kosa visual dalam belantara seni rupa Indonesia. Memang, duo ini belum banyak memberi asupan yang menonjol, penting dan berpengaruh, namun setidaknya bisa memberi jeda (interlude) yang menarik. Publik seni rupa tentu juga tak menutup mata pada kehadiran karya-karya Hanafi (tinggal di Depok, Jawa Barat) yang masih bersetia pada karya-karya abstrak, atau bahkan ada “segerombolan” seniman yang spesialis melukis lukisan abstrak dan membuat komunitas (dimotori oleh Sulebar Soekarman dan istrinya Nunung WS., Rusnoto, Dedy Sufriadi, dan beberapa seniman lain) dan sesekali berpameran antarkota.

Terlebih lagi dengan posisi Rb. Ali dan Khoiri yang banyak berproses di Banten yang bukan kawasan penting dalam percaturan seni rupa di Indonesia, maka kegigihannya untuk tekun dalam kreativitas seni rupa terkhusus pada pilihannya bergelut dengan “seni rupa abstrak” layak untuk dicermati.

[3/tiga]:

Pada Rb. Ali, saya lihat ada upaya untuk menggabungkan antara abstraksionisme dan sedikit gejala-gejala visual kubistik. Cara ungkapnya terlihat tidak sederhana. Rb. Ali tampak berusaha keras memberi pertimbangan dan perhitungan komposisi, penempatan tata warna, imaji-imaji perempuan atau manusia dalam tiap karyanya. Itu terjadi karena Ali tidak akan dengan segera mengeksekusi karya dengan sangat ekspresif. Ada sekian banyak garis, bidang, tumpukan dan pertemuan lengkung, dan beberapa kemungkinan lain yang mesti ditimbang sebelum diguratkan sebagai garis atau bidang. Kebanyakan garis-garis itu adalah garis “semu” karena merupakan pertemuan antara dua (atau lebih) warna yang berbeda/kontras sehingga membentuk bidang-bidang tertentu, terutama sosk-sosok perempuan. Sosok-sosok tersebut dibentuk dan diisi oleh bidang-bidang warna yang bertumbuk dan tersusun satu sama lain.

Tema perempuan, bagi Ali, menjadi problem eksotisme visual. Dia belum cukup berminat untuk mengetengahkan tubuh-tubuh fisik itu, misalnya, sebagai tubuh sosial, tubuh politis, dan sebagainya. Toh tema-tema itu bukanlah tema yang mutlak untuk disampaikan dalam karya seni rupa. Maka, hal yang dominan mengemuka dalam kerangka berpikir Ali adalah kilasan gambaran-gambaran perihal komposisi tubuh (perempuan) dalam balutan warna-warni yang indah dan eksotis.

Ada satu dua karya yang secara visual tampak begitu enigmatic, atau menggenggam teka-teki. Ambillah amsal pada karya bertajuk “Sebuah Keseimbangan” (165 x 165 cm) yang dibuat antara rentang waktu 2011-2013. Karya ini seperti sebuah etalase beragam warna yang menempatkan citra dua figur berada di pusat bidang kanvas. Figur-figur itu seperti layaknya embrio yang bersemayam dalam lingkaran kandungan penuh warna. Apakah Rb. Ali tengah membincangkan perihal keseimbangan antara manusia dan alam semesta (bahkan) dimulai ketika manusia masih sebagai bakal manusia dalam kandungan? Ini menjadi salah satu yang menarik di antara sekian karya yang dipresentasikan oleh Ali.

Pertanyaan kecil yang perlu dipasok untuknya adalah: kenapa nyaris semua figur atau subjek sentral karya-karyanya persis berada di tengah bentang kanvasnya? Apakah ini secara konseptual serupa pas foto yang diterapkan pada dokumen resmi seperti KTP, paspor, dan lainnya? Kenapa pula tidak sedikit karyanya yang tampil dalam “ketertiban” simetris bilateral yang posisi bidang dan bentuk visual lain seimbang-setara antara bagian kiri dan kanan? Pertanyaan ini, sungguh, berangkat dari hasrat untuk menyimak karya Ali yang lebih beragam dan kaya secara komposisi visual, dan sebagainya.

Di seberang itu, dalam ruang dan waktu yang sama, publik dapat menyaksikan karya-karya Khoiri sebagai rekan tandem pameran bagi Ali. Berbeda dengan mitranya yang masuk dalam pilahan abstraksionisme dengan cara ungkap yang penuh kerapian dan meminimalkan spontanitas, pada karya-karya Khoiri relatif berlawanan. Lukisan-lukisannya menjadi artifak dari gerak ekspresif dan spontanitas. Ini setara dengan pengakuannya yang nyaris tak pernah menyelesaikannya karyanya dalam waktu yang lama. Karakter karyanya memang memungkinkan untuk mengguratkan gairah artistik Khoiri yang sederhana dan diungkapkan dalam rentang waktu yang singkat namun efektif. Mungkin seniman lulusan SMSR Yogyakarta ini telah cukup menghayati kalimat “sakti” Leonardo da Vinci: “Simplicity is the ultimate form of sophistication”.

Serial karya Khoiri kali ini mengemukakan tentang ritme dalam gubahan ekspresifnya. Kanvas-kanvasnya bertabur torehan dan lelehan akrilik tipis dengan pilihan warna terbatas: hitam dan kuning lethek (kumal), atau hitam yang dihimpitkan dengan coklat kusam. Torehan dan usapan kuasnya seperti lembut tertata dalam tarikan bidang-bidang besar dan lurus (entah vertical maupun horizontal), hingga kemudian dilekatkan dengan penempatan bidang-bidang kecil yang seperti muncul dan tertata pada bagian-bagian tertentu. Pemunculan sekaligus penempatan bidang-bidang kecil itu, saya kira, tidak sekadar memberi aksen visual yang memutus monotonitas ruang dan bidang, namun juga memberi irama visual yang apik. Bidang-bidang kecil dan tertata itu kadang muncul seperti bayangan balok, serupa bayangan payung paku yang telah melekat di kayu, dan semacamnya.

Simak misalnya pada karya berjudul “Ignoring the Gravity” (140 x 150 cm) atau “Action Desire” (140 x 140 cm) sama-sama nyaris monokromatik. Ada kemungkinan gelagat monotonitas yang terlihat dalam karya tersebut, dan Khoiri “menyelamatkannya” dengan memberi aksen bidang-bidang kotak atau bulatan yang membayang pada bagian tertentu. Bayangan itu tentu beda jauh dengan bayangan-bayangan yang menggejala pada lukisan-lukisan batik dan cat minyak karya seniman Tulus Warsito di dasawarsa 1980-an dan 1990-an lalu. Tapi, justru berkaca dari imaji visual yang dibawa Tulus, taka da salahnya andaikan Khoiri memberi porsi yang sedikit lebih besar pada efek-efek bayangan yang mengemukakan objek-objek tertentu dalam lukisannya.

Karya-karya seniman yang juga disainer ini juga relatif berpotensi menjenuhkan ketika berjajar tertata banyak dalam satu ruang. Maka, kemungkinan solusinya, Khoiri perlu memberi pengayaan pada kekayaan ragam warna dan objek tertentu dalam tiap bentang kanvasnya.

[4/empat]:

Di celah kecamuk perkembangan seni rupa (kontemporer) Indonesia dan dunia yang terus berlari tanpa henti, berbagai teori (seni) berupaya mendekati untuk membaca dan mengakomodasi geliatnya dan dikomunikasikan bagi publiknya. Namun ketika menyimak kembali karya-karya duo seniman Rb. Ali dan Khoiri ini, tak ada salahnya saya mengajak kembali untuk berpaling pada teori klasik tentang penciptaan seni yang pernah diintroduksikan oleh Johann Herder yang membilang bahwa gejala aktivitas seni berikut artifaknya yang tampak dapat dipandang sebagai “a natural and non-practical impulse” (dorongan murni dan alamiah). Inilah salah satu yang mendasari dari kemunculan theory of play yang memberi penekanan bahwa seni itu lahir demi untuk memuaskan kebutuhan spirit estetik dan memberi makna pada kekosongan waktu. Pada titik inilah perlu disertakan pembacaan pada faktor-faktor psikologis yang melingkunginya untuk mempertajam analisis pada proses kreatif seniman. Ini perlu ditekankan karena pada akhirnya penglihatan dari perspektif apresian atau penonton (proses reseptik) akan muncul berbagai interpretasi yang kompleks, sementara di seberang itu, maksud dan ide seniman dalam karya (proses ekspresif) terkadang/sering berlainan.

Memang, teori klasik di atas kini juga akan bertumbuk keras dengan gagasan Roland Barthes yang menyatakan bahwa “the author is dead”, pengarang atau kreator telah mati. Maka penonton pun berhak melakukan proses tafsir sebagai bagian dari upaya re-kreasi atas karya sehingga karya seni tersebut dimungkinkan akan dikayakan oleh proses semiologis. Kedua hal ini bisa sebagai sebuah rute yang runtut, atau malah sebagai pilihan untuk memilih salah satunya.

Karya-karya Rb. Ali dan Khoiri memang artifak dari proses kreatif yang layak untuk dikayakan dengan tafsir. Hanya, ke depan, perlu lebih memberi pendalaman pada aspek tematik. Inilah agenda persoalan yang mesti dipikirkan duo seniman ini. Selamat merenung untuk karya selanjutnya. Dan, tentu, selamat berpameran! ***

Kuss Indarto, penulis seni rupa, dan editor in chief situs www.indonesiaartnews.or.id

(Tulisan ini dimuat dalam katalog pameran "Ngalor Ngetan" Rb. Ali dan Khoiri yang berlangsung di Bentara Budaya Jakarta, 23 Mei s/d 1 Juni 2014)

Friday, May 09, 2014

Okomama, Upaya Menawarkan Nilai-nilai

Oleh Kuss Indarto
 
PAMERAN itu usai sudah. Setelah dibuka resmi oleh Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Nusa Tenggara Timur, Drs. Sinun Petrus Manu pada Senin, 28 April siang, pameran seni rupa OKOMAMA: Bianglala Rupa Flobamorata berlangsung hingga 3 Mei 2014. Seribuan lebih pengunjung menyaksikan 40-an karya seni rupa dalam kurun waktu tersebut. Bagi kalangan seniman di Nusa Tenggara Timur, khususnya di kota Kupang, perhelatan itu dikatakan sebagai pameran seni rupa terbesar dan paling serius yang pernah terjadi di kawasan itu. Serius karena persiapan yang dilakukan—meski mepet waktu dan banyak keterbatasan—telah memberi perspektif yang berbeda ketimbang persiapan pameran-pameran yang terjadi sebelumnya. Dan disebut terbesar karena ajang ini telah mengumpulkan sekitar 15 seniman NTT dengan 20-an karya rupa yang disandingkan dalam satu ruang dan waktu bersama 20 karya pilihan koleksi Galeri Nasional Indonesia—yang sebagian besar berupa karya asli, serta 4 di antaranya karya reproduksi.

Pameran itu—dengan segala kelebihan dan kekurangannya—mungkin masih cukup membekas dalam benak banyak seniman dan publik seni di Kupang atau NTT. Tapi secara fisik, bekas-bekas itu masih tersisa jelas di salah satu gedung di kompleks Taman Budaya Nusa Tenggara Timur di jalan Kejora 1, Kupang. Ya, gedung yang kira-kira seluas 15 x 35 meter dan berbentuk (agak) oval itu masih tertata seperti saat pameran OKOMAMA: Bianglala Rupa Flobamorata berlangsung: panel-panel baru yang dibangun oleh pihak Galeri Nasional Indonesia masih menempel rapi, bersih, dan tertata di sekujur ruang. Itu telah menutup semua jendela da kisi-kisi yang ada di gedung itu sehingga ruang itu telah layak sebagai ruang pameran seni rupa. Demikian juga panel-panel yang ada di tengah ruangan, rel-rel lampu spot di langit-langit, beberapa buah lampu spot, plus karpet merah di bagian panggung yang ada di ujung ruangan, serta 3 AC baru yang dipasang demi “menyambut” pameran besar itu. Semuanya masih utuh, “membekas”, bahkan “diawetkan” untuk waktu-waktu yang lama. Dalam sambutan resmi saat pembukaan, Drs. Sinun Petrus Manu menyatakan tegas bahwa “tinggalan” Galeri Nasional Indonesia berupa setting ruang baru dengan panel-panel yang ada di dalamnya jangan dibongkar karena akan bisa digunakan untuk pameran atau acara lain ke depan.

Sinun sendiri, malam-malam sekitar 12-an jam menjelang pameran dibuka, melakukan sidak (inspeksi mendadak) ke ruang pameran. Dia kaget karena ruangan menjadi sangat berbeda dari biasanya, dan lebih bagus. Ketika mendapati karpet biru tua milik Taman Budaya NTT yang tergelar di bagian panggung—sebagai alas untuk berdiskusi—dia langsung menunjukkan ekspresi ketidaksukaannya dengan memerintah untuk mengganti dengan yang baru malam itu juga.

Akhirnya, ketika membuka pameran, Sinun menyatakan dengan antusias bahwa pihaknya bangga menjadi tempat perhelatan pameran beberapa karya old master seni rupa Indonesia koleksi Galeri Nasional Indonesia. Dan berpesan agar setting baru ruang di gedung tersebut tidak dibongkar demi kepentingan perhelatan lain berikutnya. Gubernur NTT sendiri, yang awalnya telah bersedia untuk membuka pameran, terpaksa batal karena dalam beberapa hari itu tengah melakukan kunjungan di pulau Flores dan kemudian menemui gubernur DKI Joko Widodo yang melakukan kerjasama peternakan NTT-DKI.

Materi Pameran

Bagi GNI, pameran OKOMAMA: Bianglala Rupa Flobamorata di Kupang ini merupakan pameran keliling koleksi pilihan GNI yang ke-10. Menurut Kepala Galeri Nasional Indonesia, Drs. Tubagus “Andre” Sukmana, M.Ikom, pameran pertama kali dilakukan tahun di 2006 di kota Medan (Sumatera Utara), program tersebut berlanjut ke kota/propinsi lain, yakni Manado (2007), Balikpapan (2008), Ambon (2009), Palembang (2010), Banjarmasin (2011), Makassar (2012), Pontianak (2013), dan Pekanbaru (2013). Selain di Kupang, rencananya pameran keliling tahun 2014 ini berlangsung di Banten.

Berbeda dengan pamaren keliling sebelumnya, saat perhelatan di propinsi paling tenggara dan paling selatan di tanah air ini, untuk pertama kalinya, menyertakan karya-karya koleksi dari para seniman mancanegara. Itu adalah karya-karya printmaking atau seni grafis ciptaan Anna-Eva Bergman (1909-1987), Hans Arp (1886-1966), Hans Hartung (1904-1989), dan karya Sonia Delauney. Belakangan, karya-karya tersebut akhirnya hanya dipamerkan reproduksinya, bukan karya aslinya, karena berbagai pertimbangan. Tapi upaya pameran dengan menyertakan karya (repro) para seniman dunia ini diharapkan memberi perspektif yang meluas bagi public seni di Kupang tentang karya seni rupa. Apalagi semua karya seniman dunia itu menampilkan citra visual abstrak yang terkadang membawa persoalan tersendiri dalam proses meresepsi.

Sementara karya-karya koleksi GNI lainnya dari para seniman Indonesia juga cukup berbeda. Kali ini, untuk pertama kalinya juga, membawa koleksi karya lukis anak, yakni karya Labiqoh Azzahroh yang terdiri dari 4 panel dengan ukuran total hamper 200 x 200 cm. Karya berjudul “Topeng-topeng” itu dikoleksi pada tahun 2010 saat berlangsung Pameran Seni Rupa Anak 2010, dan sang seniman baru berusia 9 tahun saat itu. Upaya pemajangan karya lukis anak ini kiranya bisa menjadi salah satu pembanding bagi anak-anak di Kupang atau NTT yang juga tak kalah giat kegiatan seni rupanya.

Sudah barang pasti, pameran ini menampilkan para old master, para seniman senior yang telah teruji aspek kesejarahannya dalam perkembangan dan peta seni rupa Indonesia. Memang tak bisa menampilkan secara utuh penampang seni rupa Indonesia karena keterbatasan ruang pamer, keterbatasan koleksi GNI yang layak standar fisik materi karyanya, serta ada kendala lain, semisal besaran ukuran karya yang tak memungkinkan masuk dalam kargo pesawat kalau lebh dari 125 cm panjang salah satu sisinya. Namun, setidaknya, para seniman dan public seni rupa di NTT bisa secara langsung menyaksikan karya-karya asli Affandi Kusuma, Agus Djaja, S. Sudjojono, Kartono Yudhokusumo, Dullah, Popo Iskandar, Lian Sahar, Bagong Kussudiardo, G. Sidharta Sugijo, Sunarto PR., juga para seniman dari generasi berikutnya seperti Made Wianta, Ida Hajar, Agus Kamal, Tisna Sanjaya serta almarhum Satyagraha.

Tak heran bila para seniman NTT merasa bangga ketika punya kesempatan berpameran dalam satu ruang dan waktu bersama karya-karya para seniman old master Indonesia. Para seniman Kupang/NTT tersebut sebagian besar tergabung dalam komunitas seni Kapur Sirih. Ini merupakan satu-satunya komunitas seni yang ada di kota itu, bahkan di NTT, yang dimotori oleh Jacky Lau, George Eman, Ferry Wabang, Yopie Liliweri, Fecky Messakh, dan sekian nama lainnya. Dunia seni rupa relatif masih asing sehingga belum banyak seniman di tanah itu. Apalagi kolektor seni rupa seperti yang ada di Jawa.

Nama-nama “Baru”

Selain nama-nama di atas, nama para perupa NTT lain yang ikut adalah Luiz Wilson, Randy Sakuain, Adi Manu (Apri Adiari Manu), Aris Umbu (Reinhard Aris Umbu Ala), Danny Stamp, Ever Eliezer Lomi Rihi, Geradus Louis Fori, Tinik RoyaniwatiUbed Mashonef, dan Hamid. Nama-nama ini relatif cukup merepresentasikan kekuatan seni rupa di NTT, meski tentu saja masih berkemungkinan banyak nama yang tercecer tak bisa terlibat dalam perhelatan itu. Entah karena keterbatasan waktu yang sempit, entah disebabkan oleh kondisi geografis NTT yang terdiri dari 42 pulau berpenghuni (dari sekitar 1.192 pulau yang dimiliki, yang 473 di antaranya bernama) yang tak mungkin bisa disurvei dengan segera, juga oleh himpitan persoalan lain, semisal dunia seni yang belum menjadi bagian penting dari kesadaran keseharian masyarakat di NTT.

Namun, demi melihat nama-nama perupa peserta dari NTT, tak kurang dari Mohadi—salah satu petinggi di Taman Budaya NTT—justru sangat apresiatif. “Ini malah ada nama-nama baru yang selama ini saya belum mengenalnya,” tuturnya jujur sembari merujuk nama Geradus Louis Fori dan Randy Sakuain sebagai contoh. Tak pelak, pameran OKOMAMA: Bianglala Rupa Flobamorata ini malah bisa memunculkan nama “baru” yang menjadi bahan pemetaan baru bagi Taman Budaya NTT dalam membuat program bagi dunia seni rupa di kawasannya. Dengan demikian, filosofi okomama (bahasa Timor/NTT: tempat pinang, sirih, gambir) relatif tepat untuk konteks ini: pameran seni rupa ini bisa serupa okomama yang menghimpun keragaman eksponen dan potensi yang bisa menguatkan seni rupa di NTT, atau setidaknya di kawasan Flobamorata (Flores, Sumba, Timor, Rote, dan Lembata).

Hari-hari ini, saat pameran berlangsung, situasi lingkungan Taman Budaya NTT nyaris selalu riuh. Ada seratusan anak-anak seusia SMP dan SMA yang berlatih menyanyi dan menari di gedung konser. Mereka berlatih sore hari, yang pementasannya dirancang berlangsung pada saat Hardiknas, 2 Mei, di halaman kantor Dinas Pendidikan dan Kebudayaan NTT, Kupang. Lalu, pada saat bersamaan, mulai 28 April 2014 hingga tiga hari berikutnya, berlangsung workshop seni rupa, teater, dan tari yang dihelat oleh Taman Budaya dengan perwakilan peserta dari tiap kabupaten/kota yang ada di NTT. Para pengisi workshop itu adalah Drs. Andang Suprihadi M.Sn (seni rupa), dan Agus “Leyloor” Prasetyo (teater), yang keduanya dosen ISI Yogyakarta. Kepala Taman Budaya NTT, Eldisius Anggi, mengaku memang sengaja menggabungkan acara-acara tersebut agar tempatnya bisa menjadi situs kegiatan alternatif bagi anak-anak muda dan masyarakat secara umum di Kupang.

Hasrat Eldisius Anggi dan Taman Budaya NTT untuk menarik sebanyak mungkin masyarakat ke situsnya memang cukup sukses, dan terbantu oleh pihak lain. Apalagi beberapa seniman peserta adalah juga seorang dosen, guru, juga pegawai negeri sipil, bahkan pebisnis, yang bisa mendatangkan “massa” sebanyak mungkin ke ruang pameran untuk mengapresiasi. Sebut misalnya Yopie Liliweri yang mengajak puluhan mahasiswanya di Jurusan Komunikasi, Universitas Cendana (Undana) sekaligus diberi tugas melakaukan pembacaan karya untuk memenuhi tugas mata kuliah Semiologi. Juga Tinik Royaniwati yang mengajar di SMIK (Sekolah Menenga Industri Kerajinan) Kupang yang bahkan mengajak anak didiknya saat acara pembukaan pameran berlangsung.

Perhelatan seni dan jagat seni rupa memang layak untuk terus dihidupkan. Dan seniman sebagai pemilik utama jagat ini bisa diandaikan menjadi juru bicara, mediator sekaligus (tentu) “penentu arah” seni rupa di lingkungan terdekatnya. Seni perlu terus dihadirkan karena berpotensi sebagai simpul alternatif untuk memberi inspirasi bagi nilai hidup masyarakat di sekitarnya. Kiranya ini tak berlebihan, apalagi ketika ruang-ruang publik dan medan sosial sudah dipenuhi oleh kesumpekan politik praktis dan pendewaan pada materialism yang menyempitkan nilai-nilai humanisme. Bukankah nilai-nilai kemanusiaan tidak hanya diukur oleh persoalan materi(al) semata? Seni rupa, masuklah memberi pengayaan humanism di situ… ***

Catatan ini bisa juga diunduh di http://indonesiaartnews.or.id/newsdetil.php?id=427