Tuesday, November 21, 2006

Pameran di Purwokerto

Lebaran lalu, saat mudik di Banyumas, aku didatangi oleh beberapa seniman Purwokerto. Intinya, aku diajak untuk membantu menulis kata pengantar pada katalogus pameran 3 pelukis: Pak Hadi Wijaya, mas Medi dan Mas Fathur. Tak pelak, seharian itu, aku muter2 di rumah mereka, hingga malam hari. Ibuku yang masih kangen di rumah kutinggal bersama istriku, 2 keponakanku, dan adiku. Hehehe. Aku juga sekalian mampir di rumah pak novelis Ahmad Tohari yang masih satu kecamatan dengan rumah ibuku.

Jadinya ya tulisan di bawah ini. Singkat banget karena dibatasi gak boleh panjang2, tapi gak jelas standarnya berapa karakter, berapa kata, atau gimana gitu. Ya, udah, jadinya ya tulisan yang kira2 kusesuaikan dengan audiens di Purwokerto. Mungkin aku sedikit underestimate. Tapi ya, kekhawatiran itu akan kubalas pada sesi acara diskusi malam Minggu besok itu. Aku udah siapin banyak materi visual, siapa tahu banyak membantu memberi pembayangan atas progres seni rupa dewasa ini. Aku sangat tertarik untuk masuk di kerumunan mereka untuk mengaduk2 mitos2 tentang (pemikiran) seni rupa yang barangkali telah uzur di kerangka kepala teman2 seniman di sana. Bukan sok pinter, tapi saling membongkar atas sesuatu yang telah baku kadang mengasyikan. Hehehe.

Oya, tulisanku di bawah ini ternyata tidak dimuat utuh di leaflet pameran karena ada penyuntingan pada bagian yang kukira cukup sinis bagi mereka hehehe. Risiko ya! So, bacalah!

Melihat Teks, Meraba Konteks

Oleh Kuss Indarto

(Teks ini telah dimuat di leaflet pameran lukisan tiga pelukis Purwokerto: Fathur, Hadi Wijaya, dan Medi, bertajuk Transisi 2006 yang berlangsung 25-30 November 2006 di Gedung Kesenian Soetedja Purwokerto)

Dewasa ini telah banyak cara pandang seniman dalam mendasari praktik berkeseniannya, terkhusus di ranah seni rupa. Ada seniman yang memberlakukan karya-karyanya sebagai hasil ekspresi pribadi yang cenderung mengedepankan aspek personalitas diri. Bahkan terkadang begitu kuat menekankan semangat narsisisme, dimana citra diri (self) menjadi pusat pemaknaan. Pun masih banyak seniman yang memiliki modus kreatif dalam melakukan praktik berkarya sebagai proses mimesis atau meniru (alam) seperti pernah diteorikan oleh filsuf Plato berabad-abad lalu.

Pada perkembangannya, praktik berkesenian telah begitu beragam sesuai dengan tuntutan dan sistem nilai yang berlaku pada kurun waktu tertentu yang terus bergerak. Dengan demikian, semangat jaman (zeitgeist) tidak sekadar memberi warna pada hasil karya seni rupa saja, melainkan juga terhadap konsep atas proses kreatif itu sendiri. Sebagai contoh kecil terjadi pada kerja kreatif perupa Mulyono di beberapa pedesaan di kawasan Tulungagung, Jawa Timur yang menjadikan anak-anak setempat sebagai subyek (bukan obyek) kreatif. Perupa lulusan ISI Yogyakarta ini memberi pelajaran menggambar dan kriya dengan metodologi partisipatoris ala pedagog Brasil Paulo Freire yang sangat berbeda dengan pola pembelajaran yang terjadi di TK, SD, atau sanggar lukis pada umumnya di Indonesia. Dari sanalah kemudian dapat dibaca bahwa proses penciptaan karya ditempatkan sebagai sebuah upaya penyadaran sosial (social consciousnes) bagi masyarakat pedesaan. Mulyono sendiri mengidentifikasi proses dan proyek kreatif seninya itu sebagai “seni rupa penyadaran”.

Pendeknya, praktik berkesenian, pada awalnya, dapat ditempatkan dalam fungsi pribadi. Kemudian berkembang dengan mengemban fungsi sosial, fungsi politik, bahkan juga fungsi ideologis. Beragamnya fungsi itu, pada praktiknya terkadang relatif cukup sulit untuk mengidentifikasi satu sama lain. Namun titik penting yang bisa dimaknai di sini adalah bahwa karya seni telah menempatkan diri sebagai produk kultural. Pemunculan atas fungsi-fungsi pada praktik berkesenian itu, dalam teks singkat ini, tidak saya tendensikan secara ketat sebagai upaya mengonstruksi hierarkhi atas fungsi-fungsi tersebut. Karena pada masing-masing fungsi itu tentu memiliki masyarakat dan komunitas seni penyangga yang khas, sesuai kondisi dan kebutuhan masing-masing. Tetapi, sejujurnya, hal urgen yang perlu digarisbawahi adalah bahwa beragamnya fungsi-fungsi tersebut relatif menunjukkan tingkat progresivitas dan kompleksitas permasalahan yang dialami oleh sebuah komunitas seni tertentu.

Demikian juga tatkala saya menyaksikan puluhan karya seni lukis dari tiga seniman Purwokerto ini, yakni Fathur, Hadi Wijaya, dan Medi. Dengan serta-merta dapat saya cermati (secara subyektif) bahwa tampaknya kompleksitas persoalan belum cukup kuat menjadi agenda perbincangan dalam substansi karya trio pelukis ini. Atau dengan lain perkataan, dua hal yang lazimnya terintegrasi dalam sebuah karya seni rupa, yakni ihwal teks dan konteks, belum cukup kuat mengemuka sebagai satu kesatuan.

Teks di sini merupakan visualitas yang mengisyaratkan pengalaman teknis seniman tentang kondisi obyektif visual/lukisan yang secara kasat mata dapat dicerna oleh indera penglihat. Semuanya adalah hasil ekspresi atau sekaligus refleksi perupa/pelukis atas realitas yang diimajinasikan, atau sebaliknya, imajinasi yang direalisasikan. Sementara konteks merupakan problem substansi atas teks yang menjadi “ruh” karya berisi gagasan yang mencerminkan kadar pemahaman perupa terhadap realitas obyek benda. Substansi ini merupakan narasi atas dunia visual. Dengan demikian, gambar adalah “kendaraan” bagi substansi/narasi, sementara narasi merupakan sistem nilai-nilai yang diterjemahkan oleh gambar. Kecenderungan untuk saling mempertautkan teks dan konteks ini kemudian dijadikan sebagai salah satu perangkat untuk mengapresiasi sebuah karya seni rupa, seperti yang diintroduksikan oleh kritikus Karsten Harries (1968), yang tidak sekadar mempersoalkan ihwal beautiful (“indah” atau “tidak indah” yang mengacu pada aspek visual), melainkan juga menyoal ihwal interesting (“menarik” atau “tidak menarik” yang bertumpu pada aspek substansi).

Pada kebanyakan karya Medi, saya melihat intensi yang begitu berlebih terkumpul untuk menyuntuki persoalan teknis perupaan. Ada upaya untuk melakukan eksplorasi visual yang terus-menerus namun lupa untuk mengendapkan substansi persoalan yang dijadikan sebagai ruh karya. Namun kalau soal visual menjadi konteks itu sendiri, tampaknya upaya penguasaan bentuk pun mesti didalami, meski akhirnya kelak akan dideformasi dan sebagainya. Demikian pula untuk Fathur yang mencoba bereksperimen secara visual. Upaya penggabungan kaligrafi Islam dan lanskap memang bukan hal baru. Namun tak menutup kemungkinan baginya untuk menguasai aspek pemaknaan atas teks-teks Alqur’an itu kemudian dinarasikan dengan lebih jelas atau pun simbolik lewat lanskap pendukung itu. Sedangkan karya-karya Hadi Wijaya yang relatif lebih sedimentatif dengan penggalian nilai-nilai falsafah Jawa, saya kira, perlu lebih menekankan pemfokusan tema pada tiap pameran yang melibatkan banyak karyanya. Bukan dengan “lari kemana-mana” yang justru akan menjauhkan “identifikasi estetik” yang akan diraihnya.

Singkatnya, teks dan konteks memang perlu dibaca ulang untuk mengurai niat dan tujuan dalam berkreasi seni. Dari sanalah, antara lain, muasal peta kreatif dan sistem makna akan dikonstruksi. Selamat “menjajakan” nilai dan makna!

Friday, November 17, 2006

Tulisan Jadul

Aku terkesiap saat Janu, teman yang usianya sekitar 14-an tahun di bawahku, dan masih kuliah, datang beberapa hari lalu dan bawa majalah kampus, Sani. Wuih! Itu majalah yang aku dan beberapa teman buat saat kuliah di ISI Yogya masuk semester 4, kira-kira nyaris 15 tahun lalu. Saat aku masih lugu, "latihan" berambut gondrong, pakaian dikumal-kumalkan, gaya dicuek2kan. Njijiki banget kae kalo inget. Tapi masih imut abis, paling enggak waktu udah bisa gonta-ganti cewek. Sok playboy bin Don Juan norak kae. Njijiki pooollll! Hahahaha, lucu banget deh. Ini nih tulisan anak yang baru latihan nulis di tengah lingkungan kampusku yang jauh dari atmosfir intelektual(itas). Isinya cuman adu nyentrik, adu norak etcetera hahaha. Aku inget, itu kutulis beberapa bulan sebelum aku masuk kerja jadi karikaturis/ilustrator di harian Bernas yang membuat kuliahku jadi molor sepuluh tahun hahahaha! Bayangin, karena tiap semester ganti kartu mahasiswa baru, so aku punya 20 kartu mahasiswa! Njijiki meneh to?

Harlah ASRI: Kampusku

Oleh Kuss Indarto

(Tulisan ini telah dimuat di Majalah Sani No. 1 Th. I Maret 1991 hal 16-18,
yang diterbitkan oleh Lembaga Penerbitan Mahasiswa
Fakultas Seni Rupa dan Disain ISI Yogyakarta)



SEJARAH telah mencatat perjalanan panjang lembaga pendidikan seni rupa ASRI (Akademi Seni Rupa Indonesia) mulai dari awal kemerdekaan sampai jaman penuh dengan tantangan yang kompleks seperti sekarang ini. Mulai dari jaman awal pertumbuhan dunia seni rupa modern sampai kepada masa-masa “panen raya”, mulai dari era sanggar sampai era “booming” yang hingar-bingar. Barangkali kita perlu sejenak menengok ke belakang untuk mengilas-balik keberadaan kampus Gampingan dan perjuangannya di tengah-tengah iklim yang begitu kurang peduli terhadap dunia pendidikan seni rupa khususnya dan dunia seni rupa pada umumnya.

Catatan sejarah berdirinya ASRI ditengarai dengan peresmian pembukaannya pada tanggal 15 Januari 1950 di Bangsal Kepatihan, Malioboro, oleh Menteri Pendidikn, Pengajaran dan Kebudayaan pada waktu irtu, Ki Mangunsarkoro. Namun pemikiran-pemikitan dan hasrat untuk mendirikan sebuah lembaga pendidikan/akademi seni rupa sudah jauh-jauh hari diawali. Perencanaan pendirian ASRI sudah dimulai ketika bangsa Indonesia tengah mengalami situasi bergolaknya perjuangan fisik. Ini jelas kurang menguntungkan. Dan wajarlah bila proses pendiriannya memakan waktu yang sangat panjang.

Ketika bangsa Indonesia memperoleh kemerdekaannya pada 17 Agustus 1945, keinginan para seniman untuk mendirikan ASRI semakin bergelora. Mr. Soewandi (ingat ejaan Soewandi) yang menjabat sebagai Menteri PP dan K pertama waktu itu pun memberikan angin akan gagasan tersebut, juga pemerintah daerah Yogyakarta yang merupakan kota dimana para pencetus gagasan bertempat tinggal sekaligus kota dimana gagasan itu pertama kali muncul. Namun situasi awal kemerdekaan yang masih belum stabil jugalah yang menyebabkan segala keinginan tersebut tidak segera terlaksana.

Pada tahun 1948, gagasan yang telah lama terpendam muncul kembali ke permukaan dan dibicarakan dalam Kongres Kebudayaan Nasional yang berlangsung di Magelang. Pada kesimpulannya, kongres tersebut menyetujui bahwa bangsa Indonesia memandang sangat perlu didirikannya sebuah akademi seni rupa. Paling tidak, inilah motivator dan pendorong semangat bagi para penggagasnya. Namun sekali lagi pil pahit kembali ditelan. Perang Kemerdekaan atau Clash II terjadi, dan segala kegiatan otomatis terhenti.

Walaupun demikian, usaha-usaha untuk itu masih tetap dilakukan, meski lambat sekali. Pada akhir tahun 1949 usaha-usaha untuk mewujudkan ASRI hangat kembali. Tanggal 14 November, Menteri PP dan K lewat suratnya mengundang segenap tokoh budayawan dan seniman di Yogyakarta untuk merencanakan segala ihwal yang berhubungan dengan pendirian akademi ini. Surat tersebut segera disusul dengan keluarnya Keputusan Menteri Nomor 26/Keb. yang bertanggal 17 November 1949 yang (sekaligus) mengangkat R.J. Katamsi sebagai ketua, Djajengasmoro sebagai wakil ketua, Sarwana sebagai sekretaris dan beberapa peluksi dan guru sebagai anggotanya, antara lain: Hendra, Kusnadi, Sindoesisworo, Soerjosoegondo, Prawito danlain-lain.

Sidang-sidang panitia pendirian ASRI segera dilakukan. Sidang ini dihadiri tokoh-tokoh Jawatan Kebudayaan dan kalangan seniman Yogyakarta. Rencana-rencana tentang pendirian ASRI sebenarnya sudah dimasukkan sebagai agenda Kementerian PP dan K sejak tahun 1947 yang disusun oleh R.J. Katamsi. Dengan adanya kesempatan tersebut rencana-rencana yang telah disusun segera dibentangkan.

Setelah mengadakan serangkaian pertemuan sebanyak 4 kali pada bulan November 1949 yang bertempat di kantor Djawatan Kebudayaan (di jalan Batanawarsa 34) dan di Kementerian PP dan K (di jalan Mahameru, Yogyakarta yang ketika itu menjadi ibukota RI), dengan menambah beberapa perubahan pada konsep yang diajukan oleh R.J. Katamsi tersebut, berhasillah disusun suatu “Rencana Akademi Seni Rupa Indonesia”.

Surat Keputusan Menteri PP dan K yang tertanggal 15 Desember 1949 memutuskan bahwa pendirian ASRI bertempat di Yogyakarta. Dan peresmian pembukaan harus dilakukan pada tanggal 15 Januari 1950.

Melewati proses pengesahan secara yuridis oleh Menteri PP dan K selesai, muncul masalah baru. Wadah pendidikan seni rupa sudah terbentuk tetapi pengadaan tenaga pengajar mengalami hambatan dan kesulitan. Memang Yogyakarta dikenal sebagai kota budaya yang di dalamnya banyak sekali tokoh-tokoh seni rupa yang sangat tangguh. Namun sejak pecah Perang Kemerdekaan banyak seniman yang tidak diketahui rimbanya, seperti pelukis Rusli misalnya. Rusli tidak pernah muncul dalam keempat rapat persiapan (November 1949) walaupun namanya tercantum dalam daftar undangan yang diharapkan hadir. Sebetulnya Rusli, yang sampai saat itu merupakan satu-satunya seniman yang pernah mengenyam pendidikan formal seni rupa di Santiniketan, India, diharapkan sekali kehadirannya selain R.J. Katamsi yang pernah belajar di Belanda. Juga tidak muncul pada saaat itu pelukis Affandi yang tengah mendapat beasiswa untuk belajar di Santiniketan. Adapun nama-nama yang diusulkan untuk menjadi guru pada waktu itu antara lain: Ir. Purbodiningrat, Pangeran Hadinegoro CBI, R.J. Katamsi, Hendra, Kusnadi, Mardio, Djajengasmoro, Sri Martono, dan masih banyak lagi.

Dan akhirnya, hari Minggu kedua bulan Januari 1950 impian para seniman Indonesia atau Yogyakarta pada khusunya, terkabul. Upacara peresmian pembukaan ASRI yang dihadiri oleh banyak kalangan seni rupa Indonesia. Pejabat direktur ASRI yang pertama adalah R.J. Katamsi dengan pembagian jurusan waktu itu: seni lukis, seni patung, dan pahat, seni pertukangan, seni rekalame, dekorasi, ilustrasi dan grafik, guru gambar ijasah A dan B, dan jurusan seni bangunan.

Para pendaftar untuk angkatan pertama ketika itu sebanyak 160 orang. Setelah diadakan ujian penyaringan, yang dapat diterima hanya seperempatnya atau kurang lebih 40 orang. Dan di antara itulah tokoh-tokoh yang kelak kemudian tercatat sebagai staf pengajar Fakultas Seni Rupa dan Disain (FSRD) ISI Yogyakarta atau seniman berlevel nasional seperti Abdul Kadir MA, HM Bakir, Saptoto, Edhi Soenarso, Abas Alibasyah, Widayat, dan lainnya. Sedang gedung-gedung yang dipakai untuk ruang kuliah masih sangat sederhana dan memprihatinkan, yang terpencar pada beberapa tempat seperti di Gondolayu, Bintaran, dan Ngabean.

Tahun 1963, penataan struktural di ASRI diperjelas di mana dipisah-pisahkan antara kelas-kelas tingkatan SMTA dan tingkat fakultas. Status perguruan tinggi penuh diberikan oleh Departeman Pendidikan dan Kebudayaan (P dan K), dan mulai menerima calon-calon mahasiswa lulusan SMTA dengan masa pendidikan tiga tahun. Siswa-siswa setingkat SMTA dipisahkan dari ASRI dan membentuk wadah baru, SSRI (Sekolah Seni Rupa Indonesia, kemudian berubah menjadi SMSR dan kini bernama SMKN 2 Kasihan, Bantul). Tahun 1964 sudah menghasilkan sarjana-sarjana mudanya yang pertama.

Status ASRI berubah pada tahun 1968 dengan adanya Surat Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan nomor 0100/1968 yang mengubah status ASRI menjadi STSRI (Sekolah Tinggi Seni Rupa Idonesia). Dengan status yang baru ini, maka sejak itu lembaga pendidikan seni rupa ini berhak menyelenggarakan pendidikan tingkat sarjana penuh dengan masa pendidikan 4,5 tahun.

Pemegang tampuk kepemimpinan dari jaman ASRI sampai STSRI sudah mengalami 4 kali pergantian. Yang pertama R.J. Katamsi yang lalu digantikan oleh direktur kedua, I Djunaedi M.Ed. Kemudian Abas Alibasyah menjadi direktur ketiga yang untuk selanjutnya berturut-turut digantikan oleh Abdul Kadir MA, dan terakhir Drs. Saptoto.

Setelah kurang lebih 16 tahun nama SRSRI “Asri” berkibar, akhirnya status dan nama itu hilang dan digantikan dengan Fakultas Seni Rupa dan Disain (FSRD) di bawah naungan Insitut Seni Indonesia yang merupakan perguruan tinggi negeri ke 44 di Indonesia. ISI diresmikan oleh Mentyeri Pendidikan dan Kebudayaan Prof. DR. Nugroho Notosusanto pada tanggal 23 Juli 1984.

ISI yang dibentuk berdasarkan Keputusan Presiden RI No. 39/1984 tanggal 30 Mei 1984, merupakan gabungan dari 3 lembaga pendidikan seni yang sudah ada dan bertumbuh lama di Yogyakarta: Akademi Musik Indonesia (AMI) yang berdiri tahun 1952, Akademi Seni Tari Indonesia (ASTI) yang berdiri tahun 1961 dan ASRI (1950). Penyatuan ketiga akademi seni tersebut sudah direncanakan sejak tahun 1973 dengan suatu keinginan dan kesepakatan untuk membentuk lembaga pendidikan tinggi kesenian yang lebih luas cakupannya dan lebih besar kewenangannya baik di bidang seni maupun dari segi ketentuan-ketentuan pendidikan tinggi.

Meleburnya STSRI “ASRI” menjadi FSRD ISI pada prinsipnya tidak mengalami banyak perubahan status apalagi fasilitasnya, bila dibandingkan dengan AMI dan ASTI. Ini bukan berarti menutup mata akan kemajuan-kemajuan pada beberapa sisi sepanjang usia ISI yang sudah 6,5 tahun telah mewarnai keberadaannya.

Lepas dari masalah di atas, diakui atau tidak, nama ASRI sudah melegenda bagi masyararakat Yogyakarta maupun warga seni rupa Indonesia. Perjalanan panjang sejarahnya yang masih tetap ‘asri’, sampai kini terus mewarnai dan mewarisi generasi penerusnya. Ada dua sisi yang kontradiktif dari warisan ASRI kepada FSRD: kebanggaan dan/atau beban akan sosok sejarah yang telah mumpuni.

Mana yang melekat dalam batin?

Tuesday, November 14, 2006

Obat Stress

Coba, ah, ngeliatin gambar ini barang 30 atau 45 detik. ali2 aja ada efek optisnya. Ya, sugesti aja. Kalau gak salah gambar ini "pengembangan" dari karya Optical Art-nya Victor Vassarelly yang emang efeknya mengelabuhi mata. Atau malah ngrusak mata hehehe

Aku Datang, Aku Senang2, Aku Girang

Yayasan Yogyakarta Seni Nusantara bekerjasama dengan para seniman alumni Fakultas Seni Rupa ISI Yogyakarta akan mengadakan perhelatan Melukis Lagi di Gampingan, Minggu 19 November 2006 mendatang. Acara akan berlangsung sehari penuh, mulai pukul 08.00 pagi hingga 18.00 WIB bertempat di bekas kampus STSRI Asri atau Fakultas Seni Rupa ISI Yogyakarta, di bilangan Gampingan, Wirobrajan, Yogyakarta (belakang pasar Serangan, Wirobrajan). Perhelatan ini dihasratkan sebagai forum komunikasi antar seniman seni rupa di Indonesia, khususnya di Yogyakarta, sekaligus sebagai upaya sosialisasi atas rencana pembangunan Jogja National Museum.

Acara melukis bersama ini tidak sekadar merawat semangat romantisme atas keberadaan (bekas) kampus seni rupa tertua di Indonesia itu, tetapi juga dimaksudkan sebagai "pintu masukâ" bagi upaya mewacanakan lebih lanjut gagasan berdirinya Jogja National Museum. Oleh karenanya, acara ini tidak ditendensikan sebagai perhelatan yang bersifat internal, tetapi terbuka seluas-luasnya bagi publik seni rupa di Yogyakarta, bahkan Indonesia, untuk terlibat di dalamnya. Mereka yang berminat untuk terlibat sebagai peserta tidak harus alumni STSRI Asri atau FSR ISI Yogyakarta, atau seniman di Yogyakarta saja. Melainkan terbuka juga kemungkinannnya bagi para seniman di kota lain atau anak-anak untuk menjadi peserta, sejauh telah memiliki pengalaman dan ketertarikan terhadap seni rupa.

Kalimat "Melukis Lagi di Gampingan" sebenarnya berposisi sebagai tag-line semata, karena dalam praktiknya nanti panitia tidak menutup kemungkinan untuk menerima peserta yang akan menampilkan bentuk kreasi beragam. Misalnya performance art, bikin video art, baca puisi, mengeksposisikan happening art, memajang seni instalasi, environmental art, dan sebagainya.

Panitia memperkirakan acara ini akan melibatkan sedikitnya 300 peserta. Sejauh ini, panitia telah mendapatkan dukungan dari banyak seniman profesional untuk terlibat dalam acara melukis bersama ini. Di antaranya adalah pelukis Djoko Pekik, Nasirun, Pupuk Daru Purnomo, Bambang "Benk" Pramudyanto yang telah membangun reputasi di Yogyakarta. Juga beberapa seniman dari luar Yogyakarta yang telah memiliki reputasi bersedia untuk terlibat, seperti Hanafi, Hardi (Jakarta), Bonyong Munni Ardhi (Solo), Nyoman Gunarsa dan Made Wianta (Bali), Ivan Hariyanto (Surabaya), Tisna Sanjaya dan Arahmaiani (Bandung), dan masih banyak lagi.

Sebagai kelanjutan acara melukis bersama, direncanakan hasil karya lukis tersebut akan dipamerkan secara kolektif di bekas kampus Gampingan. Pameran itu ditendensikan sebagai bentuk fund raising atau penggalangan dana, sehingga diharapkan kepada seniman peserta untuk mendonasikan sebagian hasil penjualan karya sesuai kesepakan dengan panitia.

Untuk rencana perhelatan ini, panitia mengundang para seniman untuk bergabung menjadi peserta acara tersebut dan para pecinta seni dapat ikut mengunjunginya. Untuk keterangan lebih lanjut bisa kontak via telepon atau faksimili ke Arini (0274-419370/ 0811267736), Tere (08562870229), dan Janu (08157974359). Atau bisa lewat email rj_katamsi@yahoo. com, ndalemwironegaran@ yahoo.com. Bisa bisa dilihat detilnya di www.gampingan- site.blogspot. com atau www.gampingansite. multiply. com

Penanggungjawab: KPH Wironegoro a.k.a. Mas Nico
Ketua Umum: Yuswantoro Adi
Koordinator Pelaksana: Kuss Indarto
Divisi Acara: Iwan Wijono
Divisi Properti: Satya Bramantyo
Divisi Media: Janu Satmoko
Divisi Humas: Tere

Friday, November 10, 2006

"The man of knowledge must be able not only to love his enemies but also to hate his friends."Friedrich Nietzsche

Wednesday, November 08, 2006

Art Child 1

Art Child 2

Aku senang dapat kesempatan dan dipercaya oleh Mas Totok dari PPPG Kesenian untuk ikut nulis kata pengantar di katalog pameran lukisan anak-anak, Art Child. Sedianya pameran itu dibuka Sabtu, 11 November 2006 besok di Taman Budaya Yogyakarta. Itu tuh sebelah barat Toko Progo, Gondomanan. Sebaiknya Anda nonton deh. Ajak anak atau keponakan Anda. Bagus2 kok. Bayangin, anak2 nglukis segede 4 meter dan bagus2. Itu tuh di atas, salah satu contohnya, karya anak Perancis. (Sayang gak jelas anak usia berapa tahun. Tapi kalau nurut teorinya Viktor Lowenfeld sih, anak2 ya 0-14 tahun).

Ada dua pameran sebenarnya, tapi di jadiin satu, yaitu yang internasional, dan nasional. Aku kebagian nulis pameran yang nasional bareng pak DR. Agung Suryahadi dari PPPG Kesenian. Sedang untuk yang internasional, ada tulisan pak DR. Agung S juga, bareng pak DR. Dwi Marianto.

Aku nggak spesifik nulis tentang materi pameran itu karena males kejebak untuk bahas karya yang "baik" dan "buruk". Tapi lebih masuk ke soal pewacanaan atas fenomena lomba lukis anak2 yang kurasa mulai sedikit patologis. Aku agak emosional juga hehehehe. Ini nih petikan 3 alinea terakhir tulisanku:

...Perkara-perkara teknis yang remeh tersebut, saya kira, pantas dikemukakan kembali tatkala di tengah-tengah kita sekarang ini dunia anak sudah begitu lekat dengan hal yang industrial. Termasuk lomba lukis anak yang hadir bagai agen mesin industri sehingga melupakan hakikat bermain ataupun pleasure yang begitu penting bagi perkembangan kejiwaan anak-anak. Mereka acap profesional dalam teknis penyelenggaraan, namun bukan pada pendekatan psikologi(s) anaknya. Tidak sedikit ditemui juri yang tidak kapabel dan tidak uptodate pemahaman seni rupanya namun punya jaring “mafia” perlombaan. Atau orang tua yang mengejar prestise dan piala lewat tangan mungil anak-anaknya. Alhasil, yang sering ditemui adalah karya-karya seni rupa anak yang mulai cenderung stereotip, repetitif, seragam, dan maraknya praktik epigonisme.

Inilah silang sengkarut yang mesti dihentikan. Hal terpenting tentu saja adalah selalu membebaskan sama sekali si anak untuk melakukan aktivitas mencorat-coret atau menggambar untuk tetap menjaga sifat kekanak-kanakan si anak, seperti kata filsuf Perancis Rousseau, “Let childrenhood ripen in children!” Biarkan masa kanak-kanak matang pada diri anak-anak. Bukan menjadikan mereka sebagai kuda pacu bagi sistem nilai orang tua yang dengan paksa dibenamkan, seperti sering ditemui dalam lomba lukis anak yang kian menjadi komoditas nan kapitalistik itu.

Begitulah. Kita memang menginginkan anak tumbuh secara alamiah pada usia atau jamannya, bukan malah – misalnya – menjadi kanak-kanak justru tatkala seseorang telah tua menjadi pejabat…

Risiko...

Wah, sekarang aku garus banyak kalkulasi untuk setipa butir waktu yang akan kulalui. Bajigur. Ya udah. Itu risiko yang harus kupeluk, juga tanggung jawab yang mesti dekap. Tak masalah. Banyak hal juga keajaiban yang aku lewati setelah hidup bersama istriku, Narina... hihihi!

Mas Jaduk-Mbak Petra di Mantenanku

Monday, November 06, 2006

Adios, Omi Intan Naomi

Omi Berpulang

Omi berpulang. Hah, Naomi Intan Naomi yang anaknya pak Darmanto Jatman itu tutup umur? Aku kaget ketika Agung “Leak” Kurniawan kasih info tentang itu. Kala itu, sekitar jam 21.10 WIB hari Minggu 5 November, aku dan istriku naik motor untuk pulang setelah berakhir pekan di rumah mertua. Beberapa menit kemudian Neni, istri Leak kirim sms duka itu. Pun Senin paginya, mbak Anggi Minarni sms serupa.

Bayangan tentang Omi segera berkelebat di batok kepalaku. Beberapa hari lalu aku baru berencana menyapa dia, meski lewat e-mail atau sms, setelah kubaca tulisan dia di harian Suara Merdeka (Semarang) edisi Minggu 29 Okteber 2006. Tulisannya yang bertajuk “Medioker” itu sebetulnya tak cukup menarik. Ngalor-ngidul kemana-mana. Tapi karena dia dengan langsung menyebut-nyebut namaku, dengan segala kenyinyirannya, aku seperti diingatkan bahwa barangkali itulah cara paling santun bagi dia untuk menyapaku. Hahaha. Ya, kami sudah amat lama tak saling sua. Entahlah, mungkin sudah 5-6 tahun meski tempat tinggalku mungkin hanya 2 km dari tempatnya menetap. Dekatlah, mung sak plinthengan. Tapi belum ada dalih kuat untuk saling ketemu.

Kami sendiri saling kenal sekitar tahun 1996-1997. Aku lupa persisnya. Tapi meski belum lama kenal dan tak intens bergaul, kalau ketemu kami begitu hangat dan sama-sama ngawurnya. Mungkin karena aku sering baca tulisan-tulisan dia termasuk di koran Bernas saat aku masih jadi “tukang gambar” di koran itu. Omong saling serang, saling ngeledek. Umpamanya aku nyinggung namanya yang mirip dengan nama salah satu anak WS Rendra. “Emang bapakmu janjian ya bikin nama anak kok bisa mirip? Gak kreatif,” tanyaku. “Ah, enggak. Rendra aja yang niru-niru,” sergah Omi. Anak Rendra yang kumaksud tentunya ya Naomi Srikandi yang aktif di Teater Garasi. Agak2 nyablak juga dia kalo ngomong.

Tapi pada dasarnya Omi(nya Darmanto Jatman) adalah sosok yang cukup cantik, sangat cerdas, hangat sebagai sahabat, jujur, dan baik. Hanya lama-kelamaan cenderung tertutup dan “introvert”. Mungkin ada jagat lain yang sangat dia nikmati dan lalu menggiringnya agak asosial. Dunia mayalah yang kuduga menggeser modus budaya komunikasinya dengan teman-teman “real”-nya. Dia ngaku dalam tulisan ”Medioker” punya piaran dua blog yang dipeliharanya bertahun-tahun. Dan seperti sangat dinikmatinya.

Ah, sayang ya, cewek secerdas dia cepet pergi. Sayang juga dia tak lagi produktif berkarya pada tahun-tahun terakhir. Ups, gak tau ya, barangkali justru di situs atau blog-nya dia menyimpan banyak harta dan karya sastranya yang tak banyak diketahui oleh publik seni di sini. Apalagi karyanya itu berbahasa Ingris semua. Aku yakin pasti menarik kalau dikuak. Setidaknya kalau mengacu pada karya skripsinya yang setebal 330-an halaman, Analisis Kebebasan Pers Dalam Rubrik Pojok Surat Kabar Kompas dan Suara Karya, yang diselesaikannya tahun 1995, yang lalu dibukukan oleh penerbit Garba Budaya-nya Sitok Srengenge dengan tajuk Anjing Penjaga. Isinya bagus, bahasanya pun sangat liat dan inspiratif, menunjukkan kalau bacaaan Omi sangat luas. Aku beruntung masih menyimpan skripsi asli karyanya yang diberikan ke aku ketika akan kupinjam untuk ngebut bikin skripsi tahun 1998. Aku tak percaya waktu itu. “Ah, yang bener, Om?”

“Ambil aja. Aku tak butuh lagi,” katanya. Sampai sekarang skripsi dengan cover legam itu masih di almari bukuku. Sayang sekali aku tak mungkin lagi bisa ngobrol dengan sang empunya.

Selamat bobo’ setenang2 yang kau inginkan, Omi! Aku yakin kau tak butuh air mata teman2 untuk melepaskanmu. Tapi Tuhan harus kuseret via doaku agar Dia tulus mendekat di sisimu. Saling dekaplah kau dan Dia, Omi! Mungkin surga segera melingkungimu. Amien.

Saturday, November 04, 2006

Lebaran kemaren, waktu aku ngumpul lengkap di rumah ibu, dua keponakan masih tetap jadi pusat perhatianku. Aku seneng banget mengingat2 mereka. Adel (2 tahun), anaknya Yana-Ida, semakin cerewet dan imut. Bulu matanya, idepnya masih panjang dan lucu banget. Suaranya cempreng bikin kangen banget.

Sedang Ivan, anaknya Ning-Tri, udah mulai dewasa meski baru 6 taun. Dia bisa ngemong Adel. Nggak nakal banget kayak 2 tahun lalu. Bisa ngajak berlogika dengan Adel, tentu khas seusianya. Yang aku senang, Ivan makin senang menggambar. Kata ibunya, Ning, Ivan kemaren juara 2 lomba mewarnai. Lumayan deh, paling enggak agak2 nurun aku, pakdenya. Tapi Adel malah berkurang minatnya. Gak tau, padahal setahun lalu keliatan lebih antusias ketimbang Ivan. Kukira mood pun bisa fluktuatif, naik-turun frekuensi ngikuti lingkungannya. Mungkin ngikuti mood ibunya, Ida (adik iparku), yang mulai sebulan lalu memutuskan keluar dari pekerjaannya sebagai guru di SMKK dan serius dengan usaha bridal-nya yang mulai berkembang. Sehingga meski banyak waktu di rumah, tapi Ida sering sibuk dan serius. Dan ini nular ke Adel yang jadi ikutan serius, termasuk gak suka nggambar. Adel jadi sok serius, gampang emosional kalo disentuh orang lain.

Dasar anak2. Ah, taun depan, kalau tak meleset dan baik2 aja, anakku akan lahir. Kata dokter, kira2 25 Maret. Wuih, kalau tepat asik dunk, ulang taunnya kelak berurutan dengan ultahku, 26 Maret. Ah, yang penting sehat semua dan lancar.

Wednesday, November 01, 2006