Monday, May 23, 2011

Siklus dan Sirkus Klowor



Foto: Matador I, 200cmX200cm,Acrylic on Canvas,2009, dan Matador II, 200cmX200cm,Acrylic on Canvas,2009

Oleh Kuss Indarto

[satu]: Identitas Kucing

KUCING hitam-putih adalah Klowor. Klowor adalah “pemilik” kucing di atas kanvas yang meliuk plastis dalam gubahan monochrome hitam putih. Klowor adalah “pelukis kucing”. Inilah identitas, (yang kadang menjelma jadi semacam kerangkeng atau perangkap), yang sebelum pameran tunggal kali ini melekat begitu integral dengan sosok perupa Klowor Waldiyono. Identifikasi ini hadir dari dua lini yang ulang-alik sifatnya: aksi dari sang seniman sendiri yang mendedahkan karya-karya lukis dengan citra kucing lewat gubahan visualnya yang khas, dan sebaliknya, reaksi dari publik yang merespons dengan memberi titik ingatan atas hal yang telah ditampilkan oleh seniman untuk kemudian mengonstruksinya lewat pelabelan atau identifikasi. Ada gerak kausalitas di sini.

Aksi identifikasi-diri Klowor terjadi lima belas setengah tahun silam, persisnya 11 hingga 18 Desember 1995, tatkala seniman muda bertubuh mungil dengan hasrat besar ini menghelat pameran tunggalnya yang pertama bertajuk “Putih-Hitam” di Bentara Budaya Yogyakarta (BBY). Kala itu dia berusia 27 tahun. Ada puluhan karya lukisnya yang presentasikan ke hadapan publik waktu itu. Sebagian kecil di antaranya adalah karya-karya yang diajukannya untuk kepentingan akademis, yakni sebagai karya TA (Tugas Akhir) untuk menuntaskan studinya di Fakultas Seni Rupa, Institut Seni Indonesia (FRS ISI) Yogyakarta yang selesai pertengahan tahun 1995 itu. Selebihnya, sebagian karyanya dibuat khusus untuk pameran tunggal tersebut dan dikreasi dalam tarikh yang sama, 1995. Ini mengindikasikan aspek produktivitasnya yang teramat tinggi.

Namun demikian ada upaya Klowor untuk “menahan” produktivitasnya itu dengan kendali yang terjaga. Setidaknya ini terbaca dari pengantar dalam katalogus pameran itu yang ditulis oleh salah seorang dosen seniornya, (almarhum) Soedarso Sp. MA, yang menyuratkan bahwa, “…malahan konon di samping karya-karya hitam putih yang sekarang sedang dipamerkan, ia juga sudah siap dengan seperangkat karya-karya berwarna yang jumlahnya juga sudah hampir layak untuk dipamerkan. Artinya, pelukis Klowor Waldiyono produktif dan sejauh ini keproduktifan yang tentunya didukung oleh virtuositasnya dalam berkarya ini belum dihinggapi oleh semangat menggebu tanpa pandang bulu karena inginnya cepat laku yang umumnya mendorong seseorang untuk tidak terlalu keras memperjuangkan pemunculan tema-tema lukisannya di atas kanvas…”

Kalimat Soedarso Sp. MA itu seperti menggarisbawahi upaya Klowor untuk bersikukuh pada satu tema yang fokus dan berkarakter, baik secara visual maupun substansial, sehingga gugus wacana yang ditawarkan lewat pameran tunggalnya itu bisa melekat dan menunggalkan pemahaman publik atas garis estetik Klowor. Ada positioning yang ingin disampaikan secara tegas waktu itu dengan hanya menghadirkan karya-karya lukis yang menggambarkan kucing dalam citra hitam-putih. Lukisan-lukisan berwarna “ditahan” untuk tidak dipamerkan demi kekuatan pameran agar berkarakter, dan tak ingin (pinjam kalimat Soedarso Sp. MA) “menggebu tanpa pandang bulu karena ingin cepat laku”.

Kucing sebagai subject matter bagi Klowor pada hampir semua karyanya waktu itu, merupakan pilihan konseptual yang dihadirkan tidak sekadar sebagai binatang yang lengkap dalam keutuhannya secara fisik, namun lebih dari itu, muncul sebagai imajinasi yang dengan bebas direka ulang dalam berbagai praktik visualnya. Kala itu, seperti tersurat dalam konsep penciptaan di katalog pameran, Klowor berujar bahwa “kucing dalam kehidupan sehari-harinya merupakan rangkaian gerak-gerik sepanjang pergulatannya dengan hidup, maka pada binatang kucing saya temukan sesuatu gerak-gerik yang sangat memukau dan misterius serta unik. Berangkat dari itu saya mencoba untuk merespons atau menanggapi gerak-gerik atau tingkah laku kucing.”

Konsep singkat dan lugas itu sudah cukup untuk memberi tengara bahwa seniman yang masuk kuliah di ISI Yogyakarta tahun 1989 ini tidak sekadar memindahkan kucing dalam dunia eksotisme kebentukannya yang realistik, namun mencoba memberi perluasan imajinasi dalam cakupan dinamika gerak atas karnivora yang bernama Latin Felis silvestris catus itu. Pada titik inilah karakter personalnya dalam “menguliti” kucing digali. Kucing diwujudkan dalam citra yang esensial: misai (kumis) yang menjuntai atau memburai bebas, dua telinga yang meruncing, ekor yang bergerak kemana-mana, kaki yang berposisi bebas, dan tubuh yang elastis bentuknya. Semuanya digerakkan oleh imajinasi Klowor tentang kucing yang didukung oleh kekuatan garis. Ada garis utuh yang bergerak utuh dan liar, ada pula garis patah-patah yang menjelujur dalam pola yang terstruktur dan disiplin untuk membentuk citra tertentu, ada pula garis tebal-tipis yang tersusun dari tekanan (pressing) yang berbeda sehingga memunculkan karakter bentuk yang artistik.

Maka mengemukalah kucing ala Klowor. Tentu, jelas beda begitu ekstrem dengan kucingnya Popo Iskandar (Bandung) yang jauh lebih senior dan telah mapan secara eksistensial dengan citra kucing-kucing pada kanvasnya nan legam, masif serta esensial. Atau, untuk konteks seni rupa Yogyakarta waktu itu, ada pegrafis Edi Sukarno yang juga banyak menggumuli tema-tema kucing dengan rangkaian garis putus-putus yang khas terbentuk dari efek cukilan hardboard (hardboard cut). Atau ada pula Faisal yang sesekali menempatkan sosok kucing yang colourfull di antara karya-karyanya.

Upaya penguatan karakter karya ini sesungguhnya juga tak lepas dari dorongan bawah sadarnya untuk berkompetisi dengan berbagai komunitas yang melingkunginya, termasuk lingkup teman-teman seangkatannya di Program Studi Seni Lukis angkatan (masuk) 1989. Pada kurun waktu itu beberapa rekannya masing-masing telah berupa menancapkan eksistensi personalnya dalam peta seni rupa, terutama pada ranah yang lebih meluas: “menasionalkan diri”. Ada Erica Hestu Wahyuni, Katirin, (almarhum) Nurkholis, SP (Sugeng Pramuji) Hidayat, Eri Sidharma, Wara Anindyah (hanya setahun kuliah, lalu keluar), Suitbertus Sarwoko, Tarman, dan beberapa lainnya yang timbul tenggelam mengikuti pasang-surutnya dinamika kreatif masing-masing seniman.

Mereka juga berkompetisi dan berebut posisi dengan kakak-kakak kelasnya, angkatan (masuk) 1988, seperti Ugo Untoro, Mochamad Operasi Rachman, dan lainnya. Juga bersaing bersama Nasirun, Entang Wiharso, Pupuk Daru Purnomo, Hadi Soesanto, dan sekian banyak nama lain di angkatan 1987 yang tengah “membintangkan diri” lewat karya-karya kreatifnya.

Proses “pembintangan diri” ini (dalam pengertian positif) dilakukan dengan melakukan pencarian identitas. Tidak mudah memang. Apalagi, seperti biasa, pada setiap kurun selalu menempatkan seniman bintang yang begitu berpengaruh dan sulit untuk dielakkan. Ketika Klowor berproses dan menanam reputasi, termasuk tatkala berpameran tunggal di Bentara Budaya Yogyakarta, para bintang (yang relatif) muda masih bertengger dan memberi bias pengaruh secara kreatif begitu kuat. Misalnya sosok Eddie Hara dan Heri Dono. Imbas kreatif mereka masih begitu kuat terjejak pada kanvas dan karya kreatif para adik kelasnya hingga tak jarang terdengar celetukan bahwa karya si A “Ngeddie-Hara banget” atau si B “Ngeheri-Dono sekali”, dan sebagainya. Namun, di tengah celetukan itu, ada sosok seperti Erica Hestu Wahyuni atau Faisal yang dengan terbuka dan berterus terang membilang diri bahwa mereka banyak terpengaruh dan mengacu secara artistik terhadap kecenderungan karya-karya para seniornya tersebut. Dan sang waktu memberi jalan untuk menemu identitas-diri setelah banyak terinspirasi.

Klowor Waldiyono dengan imajinasi kucingnya yang khas, kiranya, adalah sesosok seniman yang berupaya melakukan jelajah kreatif untuk menjumput hal yang tidak baru namun dengan pendalaman yang intensif. Hasil kerja kreatifnya telah membebaskan diri dari citra-citra yang dominatif di/dari luar dirinya.

[dua]: Dari Bentuk Menuju Narasi

Pameran tunggal “Putih-Hitam” tahun 1995 itu menjadi “deklarasi estetik” bagi Klowor. Penting maknanya bagi bangunan reputasi kesenimanannya. Citra kucing begitu integral dalam dirinya, seperti telah baku dan “membatu” sebagai identitas estetik. Dalam beberapa kesempatan pameran kolektif setelah pameran tunggal itu citra kucing hitam-putih banyak bertebar. Tak sedikit pameran diikutinya, seperti di antaranya keterlibatannya sebagai finalis dalam pameran (hasil kompetisi) Philip Morris - Indonesia Art Award tahun 1998 dan 2000, Indofood Art Award 2003, dan beberapa lainnya.

Lambat-laun, identitas ini terasa menjadi sangkar yang menyesakkan bagi seseorang yang terus berhasrat menggayutkan kembara artistik dan estetiknya sebagai seniman. Sepertinya, repetisi telah sering terjadi. Inilah titik penting ketika seorang perupa menemu satu persoalan “klasik”: tetap bersikukuh pada pilihan untuk bergulat dengan tema dan konsep lama (estetika citra kucing dalam balutan hitam-putih) yang berarti masuk dalam perangkat stagnasi atau kemandegan; ataukah menggeser dengan cukup tajam atas kecenderungan karya-karya yang selama ini telah menjadi ingatan publik ketika melihat karya Klowor. Bersikukuh dengan konsep lama mendorong Klowor hanya untuk menjalani proses involusi, bergerak berputar-putar di tempat dalam pencapaian yang tiada beda. Sementara keberanian untuk lepas dari identitas yang telah melekat memungkinkan dia mempraktikkan penjelajahan serta eksperimentasi visual dan konseptual. Ini tidak saja penting bagi perjalanan sejarah kreatif dirinya, namun juga bagi publik seni rupa secara umum yang membutuhkan berbagai penyegaran estetik.

Dan inilah, setelah limabelas setengah tahun berlalu, “deklarasi estetik” kembali dilakukan oleh Klowor Waldiyono lewat pameran tunggalnya sekarang, “Siklus dan Sirkus Klowor”. Di dalamnya, berbagai risiko pun siap dipertaruhkan.

Kalau dikatakan bahwa ritus pameran ini semacam siklus kiranya tidaklah berlebihan. Ada putaran waktu dan kesempatan bagus yang datang berpihak kepada anak keenam dari pasangan almarhum Gatot Tjokrowihardjo dan almarhumah Painten ini. Dalam situasi pasar seni rupa yang lesu pada rentang waktu dua tahun terakhir, menghelat sebuah pameran tunggal dengan mengeksposisikan banyak karya lukis berukuran besar tentu sebuah kemewahan tersendiri. Tidak sedikit seniman yang mengundurkan atau membatalkan sama sekali pameran yang telah dipersiapkan jauh-jauh hari hanya karena situasi pasar yang tidak lagi kondusif. Beda dengan situasi saat booming seni rupa pada kisaran sekitar 2007 hingga 2009 lalu. Kini, Klowor justru mendapat kesempatan bagus untuk menjalani siklus ini. Yayasan Seni Budaya, Jakarta, dalam dua tahun terakhir memberi peluang dan dukungan hingga seniman ini berpameran tunggal.

Andai siklus dipahami sebagai “putaran waktu yang di dalamnya terdapat rangkaian kejadian yang berulang-ulang secara tetap dan teratur”, maka perhelatan pameran ini, pada satu titik soal, menemukan kebenarannya. Klowor mengulang ritus pameran tunggalnya setelah terjadi belasan tahun lalu, tetapi berusaha untuk berjarak dengan pencapaian estetik yang telah dilakukannya dulu.

Pada kerangka estetik dan artistik, bagaimana gubahan visual karya-karya Klowor sekarang terimplementasi di atas kanvas?

Pertama, jelas, pameran kali ini menempatkan karya-karya suami Christin Ariyani ini menjadi penuh warna, colourful. Warna dalam pengertian denotatif. Bukan lukisan-lukisan hitam-putih (monochrome) seperti saat pameran tunggal yang pertama 15,5 tahun lalu. Secara teknis, lapis-lapis warna yang tertoreh diandaikan menguatkan kemungkinan imajinasi bagi apresiannya. Citra sesosok manusia, misalnya, dibuat dari lapis-lapis warna yang bertumpuk dengan bayangan gesture yang berbeda. Perbedaan gesture pada bayangan dan subyek di depannya itulah yang dimungkinkan membangun lapis imajinasi.

Kedua, citra kucing relatif masih bertebaran pada kanvas Klowor, namun telah “melompat” dalam asosiasi dan konotasi yang berbeda. Kalau dulu seniman yang pernah studi di Sekolah Menengah Seni Rupa (SMSR) Yogyakarta (sekarang SMK 4 Bantul) ini banyak menangkap dinamika gerak kucing dengan segala improvisasi visualnya, maka kini karya-karya Klowor mencoba mempersonifikasi kucing dalam banyak ragam persoalan. Para “manusia kucing” banyak bergerak masuk dalam berbagai tema: sebagai subyek pelaku, sebagai komentator kasus, sebagai penonton yang cerewet dan tetap berjaga jarak dengan persoalan, dan sebagainya. Karya Klowor serupa dongeng fabel yang menempatkan kucing sebagai pelakon utama.

Ketiga, karya-karya Klowor bergeser dari mengeksplorasi aspek improvisasi kebentukan atas satwa kucing menjadi penggalian aspek penceritaan dengan tetap menyandarkan kucing sebagai subyek. Kini karya-karya Klowor digiring untuk memberikan narasi lebih luas. Citra “manusia kucing” atau hal yang berkait tentang kucing yang dikemukakannya sekarang telah melampaui “nilai-nilai” tentang kucing itu sendiri. Kucing telah “dimanusiakan” sebagai pencerita. Ini berbeda dengan dulu ketika berkutat untuk mengeksplorasi kucing secara fisik dan gerak dengan berbagai dinamikanya.

Ini bisa ditengarai, misalnya, dari segi penjudulan karya. Sederhana memang, namun ini memberi kekuatan tanda kuat atas keberbedaan antara yang dulu dan yang kini. Karya-karya dalam pameran tunggal “Putih-Hitam” antara lain bertajuk: Kucing-kucing Liar, Kucing Tengah Malam, Kucing Hitam Berkaki Delapan, Kotak-kotak Kucingku, Nuansa Garis dan Kucing, Fantasi Garis dan Kucing Hitam, Kucing Putih Terbang, dan semacamnya. Dari aspek pem-bahasa-an dan pem-bahasan-nya relatif masih terkurung, fokus dan berpijak kuat dari subyek satwa kucing. Sementara kini, judul telah bergerak terbuka melampaui aspek “peri-kekucingan”. Misalnya: Adam dan Eva, Anak Perkasa, Anugerah, Serial Angel, Badut Sirkus, Barongsai dan Kelenteng, Berebut Air Susu Ibu, Bertahan Hidup, Bertinju, Seri Merapi, dan lainnya.

Perluasan cakupan dari cara pandang Klowor atas “kucing sebagai dunia kebentukan” menjadi “kucing sebagai perangkat narasi” bisa diduga sebagai perkembangan sistem pengetahuan seniman ini dalam memandang persoalan di lingkungan sekitarnya. Mungkin tidak (semuanya) menghadirkan sebentuk kritisisme, namun inilah kesaksian visual dan komentar dalam merespons dunia di luar dirinya. Dan hal ini memberlakukan seni tidak sekadar ekspresi personal namun juga meluaskannya sebagai penanda zaman sekaligus secuil simbol kepekaan sosial seorang seniman.

Siklus kreatif Klowor, dengan demikian, bisa ditandai dengan berkembangnya sandaran nilai artistiknya yang dulu “sekadar” mengelola dunia bentuk, lalu meluas menjadi dunia gagasan, sekecil apapun dunia gagasan tersebut termunculkan dalam karya-karyanya kali ini. Memang belum sangat tajam titik beda secara visual antara sekarang dengan 15, tahun sebelumnya, terutama dalam pemunculan ikon visualnya. Tapi inilah nilai penting sebuah konsistensi, yang kemudian dirawat hanya dengan menggeser beberapa unsur-unsur penting di dalamnya secara evolutif, bukan mengubah secara revolutif atas hal yang ada sebelumnya, yang terkadang dicurigai tanpa landasan dan akar estetik di dalamnya.

Sementara terminologi “siklus” dalam konteks ini, di antaranya, lebih mengacu pada rentang waktu antara dua pameran tunggal seniman kelahiran 31 Januari 1968 ini, 1995 dan 2011. Bagi seniman yang bergerak dalam dunia kreatif dengan segala output-nya, tentu, siklus ini terlalu panjang dan diekspektasikan bisa jauh diperpendek. Karena sebenarnya blank yang terjadi di antara waktu 15,5 tahun itu bukan berarti Klowor tidak bergerak sama sekali, meski dengan orientasi dan pencapaian yang berbeda. Di dalamnya, ada “sirkus” tersendiri dalam menyiasati hidup dan dunia kreatifnya. Dan ini juga banyak dialami oleh banyak seniman di Indonesia. ***

Kuss Indarto, kurator seni rupa, dan editor in chief situs www.indonesiaartnews.or.id

Wednesday, May 11, 2011

Tembok Besar Sensasi?




Oleh Kuss Indarto,
www.indonesiaartnews.or.id

BRIGHTON Fringe Festival 2011 menuai secuil kontroversi. Festival seni yang digelar secara rutin tiap tahun sejak 1967 di kota Brighton, Inggris itu, pada perhelatan kali ini, antara lain, menggelar karya seniman Jamie McCartney bertajuk The Great Wall of Vagina. Karya tersebut dipertontonkan kepada publik antara tanggal 6 hingga 31 Mei 2011 di Jamie McCartney Patung Studios, 7 Kapal Street Gardens, Brighton, sebagai bagian dari Brighton Fringe Festival.

Secara visual, karya McCartney mengeksposisikan rangkaian body cast (cetakan tubuh yang dibuat karya tiga dimensi), khususnya pada bagian, maaf, alat kelamin perempuan alias vagina. “Potongan” permukaan vagina itu dicetak dengan gips sesuai bentuk aslinya karena dilakukan lewat teknik pematungan body cast. Namun vagina itu diberi warna putih, bukan sesuai dengan warna kulit aslinya, untuk memberi penyeragaman yang dirasanya lebih artistik. Titik menariknya, seniman lulusan Westminster School, London ini mencetak 400 vagina dari 400 perempuan dengan rentang kelompok usia remaja 18 tahun hingga kelompok usia senja 76 tahun.

Ini jelas bukan pekerjaan instan karena seniman kelahiran tahun 1971 ini membutuhkan waktu hingga 5 tahun “memburu” para “relawan” tersebut hingga kemudian bagian dari genital sang relawan direlakan untuk “di-copy” menjadi karya. Tentu, ini sebuah kerja besar, serius, dan perlu ketelitian serta membutuhkan kesabaran tertentu. Kalau merunut jumlah copy vagina yang diselesaikan dalam 5 tahun, maka bisa perkirakan bahwa dalam setahun McCartney menyelesaikan 80 buah copy vagina, atau rata-rata dalam seminggu dituntaskan 1,5 buah hasil cetakan copy vagina. Bisa dibayangkan bahwa tiap pekan selama 5 tahun seniman ini harus berpikir untuk mencari perempuan lagi yang akan dijadikan partner kerja demi menyelesaikan proyek seninya yang tidak main-main ini. Dalam beberapa sumber yang jadi rujukan berita ini, sayang, tidak ada yang memberitakan perihal strategi dan siasat McCartney dalam “mendapatkan” para modelnya: apakah mereka sukarela bekerjasama dengan sang seniman untuk proyek ini, atau ada nilai transaksi finansial di dalamnya (dan berapa kisaran angka transaksi itu, tak ada data yang tersurat).

Proyek tersebut, awalnya, hanya mengumpulkan 40 copy vagina yang disatukan dalam sebuah panel besar sepanjang 6 kaki atau sekitar 7,8 meter. Penataannya adalah dengan dijejer rapat satu sama lain, 4 baris disusun vertikal dan 10 baris ditata horizontal. Saat satu panel dengan 40 copy vagina itu tuntas pada musim panas tahun 2008, McCartney merasa kurang puas. Seniman yang pernah mendapatkan perhargaan seni dari art college tertua di Amerika Serikat, Hartford Art School ini menyadari bahwa karya semacam itu perlu diperbesar kapasitasnya, kolosalitasnya, agar memiliki dampak artistik yang lebih besar. Maka, dari titik soal itulah seniman ini mengonsentrasikan gagasan dan kerjanya untuk mengumpulkan lebih banyak lagi copy vagina hingga menghabiskan waktu lebih dari 2,5 tahun kemudian.

Pekerjaan semacam ini bagi McCartney tidak cukup sulit karena telah sekian lama bergelut sebagai lifecaster yang acap kali mencap tubuh manusia untuk dijadikan patung sehingga akurasi patung tersebut tepat secara anatomis. Dia juga sudah beberapa kali menjadi pembuat properti film untuk kepentingan efek-efek khusus (special effect prop-maker) yang mendekatkan dengan gagasan sutradara. Film-film Hollywood yang mendapat sentuhan tangannya antara lain Casino Royale, Black Hawk Down, V for Vendetta, Charlotte Gray, Around the World in 80 Days, dan The Hitchikers Guide to the Galaxy, dan lainnya.

Karya McCartney ini banyak mendapatkan respons yang beragam. Seperti biasa, dua hal yang berseberangan mengemuka: antara pihak yang menganggap ini sebagai bagian dari kebebasan berkarya seni di satu sisi, dan pada sisi lain, banyak cibiran sinis bahwa ini sekadar sensasi murahan (cheap sensationalism). Terhadap semua respons tersebut, McCartney telah sejak awal ingin mendasari alasan kelahiran karyanya sebagai bentuk eksplorasi atas relasi perempuan dengan alat kelamin mereka. Operasi plastik ataupun penciptaan kategori-kategori tentang canti dan seksi terkadang telah menciptakan (sebuah) cara untuk membuat perempuan merasa buruk tentang dirinya sendiri.

Wah, kalau karya tersebut dikreasi dan/atau dipamerkan di Indonesia, apa yang terjadi ya?***