Saturday, March 31, 2007

Membongkar “Mitos” dalam FKY


Oleh Kuss Indarto

(Tulisan ini telah dimuat di harian Kedaulatan Rakyat Yogyakarta, Minggu Legi, 25 Maret 2007, dengan banyak editing oleh pihak redaksi hingga tinggal kira-kira 70% dari teks semula. Foto di sebalah adalah lukisan karya Iwan Hartoko)

TAWARAN isu pembubaran FKY (Festival Kesenian Yogyakarta) oleh Bambang JP (KR, 14/01/2007) tampaknya tidak cukup populer karena delapan penanggap sebelum ini, tegas atau tersamar, telah memberi respons yang mengerucut bahwa FKY tidak perlu dibubarkan. Rekomendasinya soal penggantian tajuk Festival Kesenian Yogyakarta menjadi Festival Kebudayaan Yogyakarta pun tidak menjadi hal yang solutif karena sebagian besar penanggap berasumsi kuat bahwa perkara substansial dan elementer justru menjadi titik persoalan yang mesti dikuak dan dibongkar untuk pembenahan.

Hal-hal substansial dan elementer itu antara lain tentang pemberdayaan fungsi dan peran Dewan Kebudayaan (DKY) yang lebih serius seperti disarankan Saut Situmorang (21/01/2007). Atau tentang reformatting ala Akhir Luso No (4/02), juga ihwal perlunya mengedepankan keterlibatan komunitas seperti ditawarkan Sigit Sugito (11/02). Sedang Eddy Purjanto mengetengahkan kemungkinan mengadopsi pola penyelenggaraan festival iklan (25/02), hingga problem transparansi manajemen (keuangan) versi Lephen Purwaraharja. Atau pembenahan via spirit Trikon-nya Ki Hajar Dewantara seperti dikemukakan Kuswarsantyo (18/03). Sementara tanggapan Kasidi Hadiprayitno (28/01), terus terang, belum spesifik gagasan serta sikapnya, sedang Bambang Susilo (11/03)masih emosional dan minim gagasan.

Bagi saya sendiri, tawaran isu Bambang JP malah sangat dimungkinkan menyimpan hidden agenda. Misalnya, bisa jadi, sebagai sebuah “pembunuhan karakter” (secara eufemistik) terhadap (panitia) FKY periode sekarang. Atau bisa jadi sebagai upaya pengalihan isu tentang mismanagement yang dilakukan oleh ketua umum FKY periode dua tahun terakhir – yang telah dimundurkan itu. Kalau dugaan ini benar, maka pewacanaan Bambang JP justru memberi legitimasi bahwa dirinya merupakan bagian penting dari kroni sang ketua umum yang dilengserkan tempo hari. Kecurigaan semacam ini jelas tak terelakkan karena “wacana” yang dibangunnya praktis merupakan isu lama (seperti dikatakannya sendiri sembari mengutip pernyataan Sultan HB X) tanpa dibenahi dengan argumentasi yang konseptual. Namun, andai tanpa hidden agenda apapun di balik teks Bambang, justru menguatkan pemahaman bahwa FKY selama ini hanya direcoki oleh “gosip” yang patologis.

Memang, sebagai provokasi, catatan Bambang agak menarik. Dan untunglah para penanggap lebih menarik lagi dengan berusaha konstruktif menguliti persoalan lewat kapasitas dan pengalaman masing-masing. Dalam jalur optimistik inilah saya ingin menambal beberapa hal yang lebih elementer lagi yang perlu dibaca ulang untuk bekal perhelatan FKY di masa sekarang. Ini berangkat dari poin-poin yang telah melekat dan cenderung menjadi “mitos” yang menyertai keberadaan FKY. Pertama, perlu kembali mendudukkan persoalan bahwa FKY bukanlah semata-mata sebagai pestanya para seniman (seperti “dimitoskan” selama ini), melainkan pesta seni dari dan untuk masyarakat secara keseluruhan. Cara pandang tersebut akan menempatkan perhelatan tahunan ini sebagai event yang lebih populis dan inklusif, bukan lagi eksklusif dan berjarak dengan masyarakatnya. Mereka yang tidak dilegitimasi sebagai seniman, baik secara akademis atau sosial, bisa terlibat aktif di dalamnya. Bukan sekadar jadi penonton. Peluang semacam inilah yang perlu diciptakan. Misalnya mengakomodasi club-culture yang lebih spesifik ketimbang sub-culture seperti komunitas scooter-mania, si pitung, kelompok sepeda lawasan, para blogger, dan para pehobi lain yang mewarnai kota dan jaman sekarang.

Kedua, mereduksi “mitos” bahwa FKY tidak selalu berarti festival bagi seni(man) yang ada di Yogyakarta, tetapi sebagai event seni budaya yang diselenggarakan di Yogyakarta. Pemahaman ini mengekspektasikan kemungkinan FKY sebagai perhelatan dan ruang terbuka bagi banyak seni(man), termasuk dari luar Yogyakarta. Dengan kepesertaan yang meluas, maka target goal dari poin ini adalah rasa kepemilikan yang lebih luas melampaui batas geografis Yogyakarta. FKY tidak hanya dinanti kehadirannya oleh warga Yogyakarta, tapi juga warga di luar Yogyakarta.

Ketiga, sebagai gerak lanjut yang linier dari poin pertama dan kedua, FKY perlu menyeimbangkan diri sebagai event yang kepesertaannya partisipatif dan kompetitif. Ini dua hal yang bisa jadi kontradiktif, tetapi bisa dikelola dengan baik. Aspek partisipatif memungkinkan sebuah perhelatan yang inklusif dan populis, sementara aspek kompetitif memungkinkan panitia atau apresian memiliki alat ukur estetik ketika melihat suguhan acara di FKY. Pada kurun tertentu, banyak item acara FKY lebih mengedepankan senioritas dalam kepesertaan dengan mengabaikan pencapaian kreatif-estetik. Modus seperti ini merupakan bentuk penghormatan semu terhadap senioritas yang justru patologis bagi FKY. “Mitos” bahwa yang senior pasti selalu lebih hebat harus diurai ulang, antara lain, dengan mengedepankan FKY sebagai ruang persemaian kreatif-kompetitif bagi yang yunior.

Dengan memberangkatkan diri dari fakta yang tak terelakkan tersebut, maka berikutnya, poin keempat, lebih menekankan pada penguatan atas metodologi kuratorial dan penentuan tematik. Ini problem mendasar yang selama belasan tahun keberadaan FKY sekadar menjadi sampiran, bukan sebagai titik pijak bagi rencana program perhelatan. Seandainya ada survei atau riset memadai yang mendahului perhelatan, maka penyusunan kuratorial dan penentuan tema menjadi titik penting untuk menempatkan FKY tidak sekadar sebagai pergelaran kesenian, melainkan juga sebagai sebentuk siasat dan strategi politik kebudayaan yang memberi impact dan implikasi lebih jauh terhadap masyarakat dan penentu kebijakan publik. Oleh karenanya, tak perlulah mengubah tajuk “festival kesenian” menjadi “festival kebudayaan”, karena kesenian dalam konteks ini diposisikan sebagai nucleus penting atas kebudayaan. Ini problem strategi, bukan soal gonta-ganti nama tapi konsep dan subtansinya masih kosong.

Kelima, meminggirkan “mitos” struktur kepanitiaan yang dianggap konvensional yang tak mampu mengakomodasi perkembangan sebuah festival masa sekarang. Ini merupakan aplikasi atas gagasan tentang pembaruan manajemen festival. Maka perlu adanya posisi seperti Direktur Festival, Kurator, Tim Riset, dan lainnya yang lebih relavan untuk menjawab kompleksitas persoalan masa kini. Ini bukan masalah nama, tapi lebih pada spesifikasi bidang kerja yang lebih jelas dan efektif. Bukan menumpuk sekian banyak nama dengan model kepanitiaan yang kuno seperti “mitos” FKY selama ini. Lihat misalnya, untuk konteks yang sedikit bergeser, pada Venice Bienalle 2007 di Italia ada Francesco Bonami sebagai curator in chief, atau ada Hou Hanru sebagai curator in chief di Istanbul Biennale 2007 di Turki.

Keenam, membalikkan “mitos” bahwa FKY seolah “pengemis” yang selalu menengadahkan tangan kepada negara. Ini merupakan “mitos” keblinger karena sebenarnya negaralah yang secara historis menghendaki adanya FKY untuk menunjang kepariwisataan di Yogyakarta sebagai Kota Budaya dan kemudian menderivasikan hal tersebut kepada masyarakat seni. Maka, tuntutan terhadap negara untuk tetap mendanai FKY, pertama-tama, lebih sebagai tuntutan terhadap komitmen kultural negara (termasuk Sultan HB X sebagai gubernur sekaligus pemimpin kultural Jawa). PSIM atau PSS bisa mendapatkan dana hingga lebih dari 8 miliar per tahun, kenapa FKY hanya dikucuri Rp 300 juta saja?

Maka, berhasil atau gagalnya perhelatan Festival Kesenian Yogyakarta tidak bisa ditimpakan hanya terhadap panitia FKY itu sendiri, melainkan juga merupakan cermin penting untuk mengukur komitmen dan kebijakan kultural dari Sri Sultan HB X, DPRD Yogyakarta, juga Dewan Kebudayaan Yogyakarta. Silakan bercermin!

Mengakrabi Kematian


Oleh Kuss Indarto

(Tulisan ini telah dimuat di harian Suara Merdeka, Minggu 18 Maret 2007)

Di manakah pemahaman tentang kematian itu disandarkan? Pun bagaimana “menggauli” kematian? Dalam pemikiran orang Jawa, setidaknya yang terlacak dalam Serat Centhini II pupuh 64, bait 233-234, dengan bernas didaraskan ajaran Syeh Amongraga tentang hakikat dan keberadaan kematian itu:

Allah senet neng sajro ning pati
Rasul Muhammad senet jro ning gesang
Urip kang kahanan kie
Urip iki kawibuh
Pan kawengku ing dalem pati
Pati pan amisesa
Ing urip sawegung
Kabeh ginantungan rusak
Utama ning urip kang prasanak pati
Matia mumpung gesang
Sing sapa kang ngeling-eling pati
ingkang bisa mati jro ning gesang
tinetah supaya teteh
titah ing Hyang Mahagung
kudu eling ing dalem pati
petitis ing kasidan
uripe linuhung
sebab uripe prasanak pati
lawan pati urip tan kenaning pati
yeku dat ing Hyang Suksma

Allah tersembunyi dalam kematian Sang Rasul dan Muhammad tersebunyi dalam hidup Keberadaan di sini adalah hidup Tetapi hidup diresapi dan diliputi oleh kematian Kematian menguiasai seluruh kehidupan Segala sesuatu tunduk kepada kehancuran Hidup ini utama kalau bersahabat dengan kematian Usahakan supaya mati sambil masih hidup
Barangsiapa ingat akan kematian Barangsiapa dapat mati sambil masih hidup Barangsiapa menerima bimbingan agar menjadi jelas baginya Segala peraturan Yang Maha Agung Barangsiapa dengan jelas melihat kesempurnaan Hidup orang itulah luhur Karena hidupnya berkaitan dengan kematian Yang sekaligus tunduk kepada kematian Artinya hakikat Hyang Suksma

(Zoetmoelder, Manunggaling Kawula Gusti, 1991: 200-202)

Dua bait wewarah (ajaran) yang diformat dalam tembang Dandang Gula tersebut secara tegas menjelaskan bahwa problem kematian bukanlah persoalan yang terentang jauh dari kehidupan. Kematian dipahami sebagai bagian penting dan melekat dari kehidupan karena ia menjadi bagian yang integral, yang manunggal, dengan kehidupan itu sendiri. Falsafah tentang urip sajroning mati dan mati sajroning urip (hidup ada dalam mati, mati ada dalam hidup) menjadi alur penting bagi “peta kehidupan” (setidaknya bagi orang Jawa) bahwa kematian bukanlah sekadar peristiwa bio-organik semata yang kemudian memutus relasi sosial karena kebinasaan eksistensial, melainkan lebih sebagai transisi esensial menuju jagat keabadian. Maka kematian diakrabkan dengan kehidupan, dan bukan menjadi momok yang mesti ditakuti kehadirannya. Pun (diekspektasikan) tak mesti selalu “dirayakan” dengan genangan dan kenduri air mata.

Ingatan atas dekatnya garis ulang-alik antara kematian dan kehidupan inilah yang dikuak kembali dalam kesadaran keseharian. Bahkan dihasratkan dengan pendekatan keindahan. Ini sebuah tema kuratorial gagasan Romo Sindhunata S.J. yang sebenarnya menantang karena menawarkan spirit eksploratif. Lewat pameran seni rupa bertajuk A Beautiful Death yang berlangsung di Bentara Budaya Yogyakarta, seniman mendedahkan kembali persepsi, imajinasi ataupun pembongkaran makna perihal kematian lewat kepekaan dan kreativitas visual.
Pameran yang telah berlangsung 13-22 Februari lalu tersebut akan dikelilingkan di tiga kota lain, yakni Orasis Gallery Surabaya pada 2-14 Maret, Darga Gallery Sanur, Denpasar (7-21 April), dan di Gedung Perpustakaan Umum dan Arsip Malang (28-5 Mei).

Ada sekitar 60 perupa Yogyakarta, Semarang, Malang, Surabaya, dan Bali terlibat dalam pameran ini. Hanya sayangnya penunjukan terhadap para perupa tersebut masih dibarengi dengan spirit “mata terpejam” tanpa melihat sejarah dan basis kreatif masing-masing seniman, sehingga dugaan adanya praktik koncoismepun – sesuatu yang kuno tapi selalu menggerahkan – tak terelakkan. Memang hanya beberapa gelintir kasus, tapi ketimpangan pada pencapaian karya kreatif mereka, tak pelak, nampak membelalak di depan publik. Juga hal yang cukup signifikan mengemuka adalah miskinnya keragaman medium dan material karya sehingga menyempitkan kemungkinan bagi seniman untuk mengakomodasi serakan gagasan dan imajinasi yang mengepung kepala mereka.

Tapi tentu saja pameran ini masih sangat layak untuk dibaca ulang sebagai sebuah celah kecil atas pemahaman seniman (= manusia) kini dalam memaknai kematian. Secara arbitrair, rentetan karya tersebut dapat saya kerangkakan setidaknya dalam empat “kotak”. Pertama, karya inversif, yang masih berkutat untuk menampilkan secara visual rangkaian ritus stereotip dan konvensional tentang kematian. Sebut misalnya karya Slamet Henkus, Poleng Rediasa, Agus Burhan, Zhirenk, Laksmi Shitaresmi, Agus Dwi DW, I Made Bakti Wiyasa, Joni Ramlan dan beberapa lainnya. Mereka pada umumnya mengartikulasikan makna kematian sebagai keberangkatan menuju ritus “tidur abadi”, atau ritus pemakaman yang selalu penuh ketakziman. Kedua, karya-karya yang ekstra-mortalitas, yakni karya yang berupaya untuk menjejakkan kaki persoalannya pada ihwal kematian sebagai “alat bantu” demi masuk pada perbincangan yang melampaui kematian itu sendiri. Ini terlihat cukup kuat pada karya Bunga Jeruk Permatasari, atau Dyan Anggraini, lewat karya The Last Memory, yang menarasikan secara sinical tentang manusia bertopeng yang membopong “kematian” sebuah korp, Korpri.

Ketiga, karya yang berkemungkinan melakukan subversi atas tema kematian sebagai sebuah cara untuk memberi makna lebih dalam tentang kematian. Ini nampak pada karya-karya simbolik yang cukup reflektif hingga karya bertendensi guyonan, untuk mempersuasi apresian dalam memproduksi nilai, pemahaman, dan makna baru tentang kematian. Pada karya dalam “kotak” ini muncul kreasi dari para seniman yang sudah begitu terbiasa ditantang untuk menerjemahkan tema kuratorial, dan didukung oleh gagasan dan cara pengartikulasiannya yang memadai. Ada Agus Suwage, Djoko Pekik, Susilo Budi Purwanto, Totok Buchori, dan sedikit lainnya. Kali ini, karya Djoko Pekik, yang biasanya menggali tema-tema sosial politik, nampak berupaya memberi pengkristalan yang substantif tentang keberadaan ruh manusia. Lewat karya Pamoring Suksma, perupa asal Grobogan, Jawa Tengah ini bagai ingin mengabarkan bahwa eksistensi ruh manusia tetap akan sumunar, cerlang, melampaui persoalan fisikalitas dan keduniawian.

Dan berikutnya, keempat, karya-karya “fleksibel”, yakni karya yang bisa (di)lentur(-lenturkan) untuk masuk dalam banyak pameran dengan beragam tema kuratorial apapun, namun berpotensi menjadi “flek” (fleck) yang mengganggu ritme estetik secara keseluruhan ketika dijajarkan dengan karya lainnya. Ini cukup nampak pada karya Ridi Winarno, Edi Arinto, Tarman, Supar Pakis, A. Rokhim, ataupun FX Ary Sujatmiko. Ini, saya kira, berkait dengan problem habitus, manajemen, kecerdasan, dan strategi seniman bersangkutan yang masih minimal dalam menyelaraskan dengan perkembangan jaman.

Dengan demikian, kalau menyimak bentangan karya rupa ini, terutama yang saya pilah dalam “kotak” kedua atau ketiga, apresian akan memperoleh kemungkinan-kemungkinan yang mengayakan tentang gambaran kematian. Dia, kematian itu, adalah sahabat yang senantiasa mengikuti (= mengintai) kemanapun sang manusia pergi dan berada. Tapi memang, akhirnya, nilai falsafi tentang kematian yang menyejukkan akan selalu bertumbuk dengan realitas kedatangan kematian yang acap didisain penuh kesantunan dan eksotisme. Dia bisa saja hadir di puncak orgasme yang menyurga dengan sekaligus merontokkan jantung. Dia bisa mengetuk pintu sukma lewat bumi horeg 5,9 Skala Richter. Pun dia mampu menyapa ketika timah putih panas bersarang di bilik jantung. Dor!

Betapa indahnya kematian. (Eit, tapi hidup itu juga permai, ya!)