Monday, January 31, 2011

Antara Kolektor dan Kolekdol


Koran Jakarta, Minggu, 16 Januari 2011

Foto: Dian Muljadi (tengah) salah satu kolektor karya seni rupa Indonesia.

Sebuah karya yang sebenarnya hanya berharga 15 juta rupiah, tiba-tiba bisa bertengger di harga ratusan juta.

Pada akhir 1980-an, lukisan karya pelukis asal Bandung, Jeihan, dibeli oleh Bank Central Asia (BCA) sekitar 100 juta rupiah. Peristiwa itu kemudian menandai munculnya boom pasar seni rupa Indonesia, sekaligus para pemain baru di pasar seni rupa Indonesia yang disebut sebagai Kolekdol.

“Kolekdol, mengkolek lalu ngedol atau menjual, orang yang membeli lukisan untuk dijual kembali dalam waktu cepat. Mereka hanya cari untung cepat dari bisnis lukisan ini,” terang Kuss Indarto, kurator lukisan di Galeri Nasional. Terjualnya lukisan Jeihan dengan harga seratusan juta ketika itu membuat para pemilik dana yang sama sekali tidak punya dasar pengetahuan seni lukis, tertarik untuk menjadi spekulan yang menjadikan lukisan tak ubahnya lembaran saham.

Ramainya jual beli lukisan, menciptakan peluang bagi beberapa kelompok kuat untuk melakukan apa yang umum disebut di lantai bursa sebagai “goreng menggoreng” saham. Maka, sebuah karya yang sebenarnya hanya berharga 15 juta misalnya, tiba-tiba bisa bertengger di harga ratusan juta. Tentu saja, proses “goreng menggoreng” ini melibatkan banyak pihak. Dari pelukis, penyandang dana, kurator, para ahli lukisan, galeri, hingga balai lelang.

Seperti halnya satu lembar saham, karya seniman yang susah dijual, bisa saja diatur menjadi sebuah dagangan yang laku keras di pasar. Caranya, diboronglah lukisan si seniman tersebut dengan harga yang ditentukan oleh kelompok penggoreng dengan kesepakatan, si pelukis tak menjual karya lagi setelah itu tanpa konfi rmasi dengannya. Sekali dua, karya si pelukis tak laku itu, dilempar ke lantai bursa lukisan yakni balai lelang, dengan harga yang sama sekali baru.

Di sana, sudah ada bagian dari kelompok ini yang menaikkan tawaran. Begitu seterusnya hingga pasar menganggap bahwa karya si seniman pantas untuk diburu. “Akhirnya kembali ke logika pasar. Permintaan dan penawaran. Si komplotan berkuasa atas penawaran karena mereka menguasai senimannya maka mereka berkuasa atas barang yang diperjual belikan ini,” terang Kuss.

Dari harga lukisannya yang terdongkrak, dalam jangka pendek, si seniman tentu ikut menangguk untung dari aksi ambil untung para spekulan ini. Namun, ternyata, pasar yang sama sekali buta acuan khazanah seni rupa ini, tak akan sanggup menopang harga lukisan “gorengan” dalam jangka waktu lama. Akibatnya, dalam jangka waktu paling banter dua tahun, lukisan yang sama, bisa jadi tak akan laku dijual bahkan di harga sebelum aksi “goreng menggoreng” dimulai.

Para “penggoreng”-lah yang menangguk untung besar. Sedang beberapa spekulan atau kolekdol tuna acuan, bisa rugi atau untung, tergantung apakah mereka melepas lukisan gorengan tersebut di saat harganya baik. “Sedangkan senimannya, menurut saya, dalam jangka panjang, rugi besar. Karena ia kan harus tetap survive sebagai seniman, padahal pasar yang ia miliki ternyata pasar “gorengan”. Banyak pelukis yang semula bisa menjual karyanya ratusan juta, kini menjual dengan harga 15-an juta pun, harga normal dia sebenarnya, juga nggak laku,” papar Kuss.

Paul Hadiwinata seorang kolektor lukisan yang juga pemilik sebuah galeri di Jakarta mengakui, semula lukisan hanya dipandang sebagai suatu karya seni yang dapat dinikmati keindahannya yang kemudian dikoleksi sebagai suatu hobi. Namun, benda seni itu telah berubah menjadi suatu investasi yang memiliki harga jual tinggi. “Karena suatu saat harganya akan meningkat,” ujarnya. Akan tetapi, kata pemilik Hanna Art Space ini, lukisan di Indonesia belum lazim sebagai investasi lantaran kebanyakan orang masih bermain di bursa efek, properti, atau emas.

Berbeda di Eropa dan Amerika, lukisan telah dijadikan salah satu portofolio investasi oleh sejumlah bank. “Karena untuk karya-karya bagus harga lukisan tidak pernah turun, kecuali karya-karya yang digoreng seperti karya Piccaso dan Renald yang jutaan dollar AS sampai puluhan juta dollar AS,” tuturnya. Paul mengatakan di Indonesia memang ada istilah “goreng-mengoreng.” Namun, dia mengaku tidak tahu banyak hal tersebut.

“Banyak orang yang beli lukisan akhirnya bukan karena senang dan melihat lukisan, tapi karena dia mendengar lukisan ini trennya sedang naik,” jelasnya. Menurut Hauw Ming, seorang konservator seni rupa, istilah goreng menggoreng lukisan sah-sah saja. “Saya kasih contoh seperti ini, saya beli lukisan murah misalnya 10 juta lalu ada orang iseng nawar 50 juta. Tadinya saya gak jual, tapi saya berubah pikiran. Besok-besok, saya kalau ada yang tawar 60 juta saya lepas lagi. Apa saya disebut “menggoreng”? Gak juga kan. Itu kan apresiasi orang,” ujar Hauw Ming.

Infrastuktur Lemah

Boom pasar seni rupa Tanah Air yang naik turun dalam dua puluhan tahun terakhir itu ternyata tak dibarengi dengan pembangunan infrastruktur seni rupa yang kuat. Menurut Kuss, Indonesia memang tak memiliki sebuah lembaga seni yang memimpin wacana seni rupa. Sehingga, yang terjadi, yang dikenal oleh publik hanyalah pasar seni rupa tuna acuan yang semata-mata hanya mengurusi soal nilai uang dari sebuah lukisan.

Museum seni rupa nasional misalnya, yang bertugas menjadi penjaga gawang bagi sejarah pencapaian seniman seni rupa, negara besar ini pun tak memilikinya. Sementara, Galeri Nasional, yang telah dimiliki oleh negeri ini, yang semestinya mengemban fungsi sebagai semacam katagous pencapaian seniman terkemuka negeri ini, ternyata masih sebatas berfungsi sebagai ruang pamer sewaan yang bisa memajang karya seniman siapapun tanpa kategori yang jelas. “Saya sebagai kurator di sana, masih banyak yang direcoki hal-hal yang sama sekali tak terkait dengan wacana seni rupa.

Misalnya, seorang pejabat ingin seniman tetangganya atau seniman temannya pameran di situ, padahal kan semestinya kurator yang bisa mutuskan bisa dipamerkan atau tidak. Tapi, direkturnya tetap nggak berani nolak, karena yang minta pejabat,” papar Kuss. Akibatnya, pasar berjalan dengan tanpa acuan. Beberapa pribadi ternama, manajemen artis, dan aktivitas balai lelang memegang peran penting dalam penentuan harga sebuah luksian tanpa peduli dengan struktur pengetahuan kuat yang menopangnya.

Seorang seniman bisa saja berada dalam manajemen artis yang berpengalaman dalam mengatrol harga lukisan tanpa si seniman sendiri tahu bagaimana lukisannya bisa mencapai harga tertentu atau sebaliknya. “Tapi kadang, seorang pelukis bisa juga seenaknya sendiri nempel harga di lukisannya kalau dia mencium gelagat pasar yang menunggu karya-karyanya. Untung kalau laku, kalau tidak ya buntung, gitu saja,” kata Kuss.

eko s putro/frans ekodhanto/ dini daniswari/mochamad ade maulidin/nala dipa

catatan ini bisa dilacak di http://www.koran-jakarta.com/berita-detail.php?id=72872

Mafia di Pasar Seni Rupa



Koran Jakarta, Minggu, 16 Januari 2011

Pertengahan November lalu, Sri Edi Swasono berkunjung ke rumah mertuanya Mohammad Hatta. Edi yang menikah dengan putri almarhum mantan Wakil Presiden RI, Meutia Hatta, memang sesekali berkunjung ke rumah di Jalan Diponegoro nomor 57, Jakarta Pusat tersebut. Edi sedikit curiga mendapati lukisan koleksi Bung Hatta yang terdapat di ruang tamu rumah tersebut.

Pasalnya, lukisan karya almarhum Basoeki Abdullah yang berjudul Cah Angon dan Kebo (berupa gambar anak-anak dan seekor kerbau) itu, warnanya agak cerah. Padahal sebelumnya terlihat lebih gelap dan berwarna hitam abu-abu, karena dibuat tahun 1950-an. Edi curiga lukisan itu telah ditukar. Apalagi dia juga menemukan keanehan lain pada gambar lekukan bunga dan ekor dari tiga kerbau. Gambar tanduk kerbau yang dinaiki penggembala, juga kerbau kedua dan ketiga di lukisan “palsu” juga terlihat beda dengan lukisan asli.

Tapi, untuk memastikan lukisan itu palsu atau asli, pihak keluarga Bung Hatta menghubungi dua tokoh yaitu Haryono Haryoguritno sebagai seorang budayawan dan I Wayan seorang ahli keris dan ahli lukisan yang masih merupakan kerabat Bung Hatta. Selain itu, mereka juga meminta pendapat Agus Darmawan seorang kurator dan pengamat lukisan.

“Mereka bilang memang palsu,’’ kata Edi, yang ditemui di rumahnya di Rawamangun, Jumat (14/1). Menurut Agus Darmawan, bentuk tanduk kerbau lukisan palsu itu lebih melengkung dibanding lukisan asli. Apalagi setelah dibandingkan dengaan foto-foto lukisan itu yang memang masih disimpan keluarga Hatta. “Jadi lukisan itu 100 persen memang palsu,’’ ujar Agus.

Lantas ke mana aslinya? Yang jelas dicuri. Dan pihak keluarga telah melaporkan peristiwa ini ke Polsek Menteng, pada 27 Desember 2010. Agus menduga ada keterlibatan orang dalam. Sebab, katanya, untuk mencuri lukisan dan menggantinya dengan yang palsu, butuh waktu yang cukup lama. Menurut Edi, adik Piparnya Halida Hatta yang mendiami rumah tersebut memang pernah keluar kota. Mungkin pada saat itulah para pencoleng itu beraksi.

“Kami belum bisa mengumumkan perkembangan kasusnya, yang pasti beberapa orang telah dimintai keterangan termasuk pembantu rumah tangga di rumah itu,” ujar Kanit Reskrim Polsek Metro Menteng, AKP. Janus Slamet Silaen, Kamis (13/1). Amir Sidharta, seorang kolektor lukisan dan juga pemilik balai lelang, kasus pencurian dan pemalsuan lukisan di rumah Bung Hatta itu bisa dipastikan ada aktor intelektualnya.

Setidaknya, dia tahu mengenai seluk beluk lukisan. “Tapi, melibatkan orang dalam iya, karena tidak mungkin bisa secepat itu memalsu lukisan,” ujarnya. Kasus pencurian ini mengingkatkan peristiwa raibnya sejumlah lukisan karya para maestro seperti Basoeki Abdullah, Aff andi, dan Raden Saleh di Galeri Nasional beberapa tahun silam. Ketika itu, Amir bahkan menjadi salah satu yang pertama kali menguak kasus tersebut.

Ceritanya pada suatu hari Minggu pada 1996, Amir berkunjung ke Ga leri Nasional, Jakarta. Sebagai pecinta lukisan dia memang kerap datang ke sana. Waktu itu, kata Amir, dia iseng minta beberapa katalog pameran yang pernah digelar di galeri itu yang sudah tidak terpakai kepada penjaga museum. Dari salah satu katalog yang dia peroleh ada satu lembar yang telah disobek.

“Isinya tentang riwayat Raden Saleh, sementara gambar lukisannya masih utuh,’’ ujar Amir. Selang dua hari kemudian, teman Amir dari Jepang datang berkunjung ke rumahnya. Kebetulan dia juga membawa katalog lelang yang bakal diadakan di Balai Lelang Christie’s, Singapura, beberapa pekan kemudian. Amir kaget karena di katalog yang dibawa temannya itu terdapat lukisan milik Raden Saleh yang persis tertera pada katalog yang didapatnya dari Galeri Nasional.

Setahu Amir, lukisan Raden Saleh itu memang disimpan di galeri tersebut. Karena curiga, keesokan harinya Amir kembali ke Galeri Nasional untuk melaporkan temuannya kepada kepala Museum Sejarah Jakarta. “Ternyata di sana juga sudah ada keluarga pelukis Basoeki Abdullah yang melaporkan temuan serupa,’’ tutur Amir. Setelah dicek di tempat penyimpanan memang lukisan tersebut sudah tidak ada di Galeri Nasional.

Bahkan, kata Amir, tak cuma lukisan Raden Saleh dan Basoeki Abdullah itu yang lenyap tapi puluhan lukisan lainnya juga raib. Beruntung berkat capur tangan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan kala itu, Wardiman Djojonegoro, melakukan negosiasi, “harta karun” yang ditaksir bernilai miliaran itu akhirnya kembali ke Tanah Air.

Mengapa lukisan para maestro tersebut bisa berada di balai lelang Singapura? “Yang jelas dicuri,’’ kata Amir yang kini membuka balai lelang di Darmawangsa Square, Jakarta Selatan. Siapa pencurinya? Nah, ini yang sampai sekarang tidak jelas. Yang pasti ketika itu yang jadi “korban” petugas di Galeri Nasional. Sedangkan otak intelektual di balik pencurian tersebut tidak terungkap. Padahal, menurut Amir, orang yang mencuri itu dipastikan paham seluk-beluk lukisan, termasuk nilainya.

Menurut pengamat lukisan yang juga kurator Galeri Nasional Kuss Indarto, pencurian lukisan tentu saja melibatkan profesional yang terhubung benar dengan pasar seni rupa. Tapi pemalsuan lukisan, adalah lapisan lain kejahatan di pasar seni rupa. Hal ini pastinya dipicu supply and demand karena harga lukisan di Indonesia sedang booming dalam beberapa tahun terakhir. Bahkan, lukisan karya perupa Indonesia Lee Man Fong pernah laku 30 miliar rupiah di Balai Lelang Sotherby’s Hong Kong.

Kini di Tanah Air pun banyak bermunculan kolektor lukisan sehingga membuat harga lukisan melonjak. Menurut Kuss, kasus pencurian atau pemalsuan lukisan bukan perkara sederhana. Sebab, kawanan pelaku selain didukung modal kuat, juga adalah mereka yang paham lukisan. “Ini adalah jaringan mafi a lukisan yang melibatkan orang-orang yang selama ini leluasa keluar masuk balai lelang, karena pengetahuannya mengenai lukisan, kepakarannya, ataupun karena modalnya yang sangat kuat,” ujar Kuss saat diwawancarai di Yogyakarta, Rabu (12/1).

Dua Modus Pemalsuan

Selama ini, menurut Kuss, di Indonesia, telah sangat berkembang dua modus praktik pemalsuan lukisan yang melibatkan seniman dengan teknik luar biasa profesional. Modus pertama adalah dengan cara mereproduksi persis sama dengan lukisan seniman ternama ataupun seniman muda yang sedang naik daun. “Ini yang dengan gampang bisa kita sebut sebagai pemalsuan lukisan.

Palsu karena ada lukisannya yang asli,” kata Kuss. Tapi, di modus kedua, tidak mudah untuk begitu saja disebut sebagai pemalsuan lukisan. Karena, bukannya melukis ulang atau mereproduksi karya jadi seniman tertentu, namun, mereka hanya menggunakan pola visual seniman tersebut untuk lukisan yang belum pernah dibuat oleh sang seniman asli.

“Nah, ini kan agak repot kalau disebut sebagai pemalsuan. Karena memang yang asli tidak ada, pelukis yang asli tidak pernah melukis itu. Hanya tanda tangan si pelukis asli saja yang dipalsukan,” papar Kuss. Dadang Kristano, seniman Indonesia yang kini bermukim di Brisbane, Australia, pernah mengalami pemalsuan modus kedua tersebut.

Yakni, karya atas nama dirinya, dan memang dilukis sebagaimana Dadang melukis karya-karyanya, namun itu sebenar-benarnya bukan lukisannya, tapi masuk dalam buku katalog lelang di sebuah balai lelang dalam negeri. Pelukis perempuan Erika Hestu Wahyuni, juga mengalami hal yang mirip. Sedangkan Putu Sutawijaya, pelukis yang bermukim di Jogja ini, mengetahui ada lukisan yang bukan lukisannya namun ditandatangani atas nama dirinya, justru dari sebuah peristiwa yang sangat kebetulan.

Fadli Zon, penulis sekaligus politisi terkenal negeri ini, suatu hari diwawancarai oleh Majalah Visual Art, sebuah majalah yang mengkhususkan bahasannya pada dunia seni rupa. Pada Oktober 2010 lalu, liputan Fadli Zon tersebut terbit di halaman 56 bertajuk “Fadli Zon: Mengoleksi Sebagai Usaha Merajut Sejarah”. Dalam artikel yang mengulas tentang profi l politisi dan kolektor Fadli Zon itu terdapat sebuah foto bergambar sosok sang kolektor dengan latar belakang lukisan.

Di bawah foto itu terdapat caption yang membuat Sutawijaya geram alang kepalang saat di suatu hari membaca majalah tersebut. Caption itu berbunyi: “Fadli Zon dengan latar belakang lukisan Putu Sutawijaya”. “Padahal itu bukan lukisan saya. Setelah saya diundang ke rumah Fadli Zon, total ada tiga lukisan bertanda tangan saya tapi bukan lukisan saya,” kata Putu saat ditemui di galeri Sangkring Art Space, kampung Nitiprayan Bantul, Yogyakarta.

Menurut Sutawijaya, dari hasil pertemuannya dengan Fadli Zon, dia mendapat keterangan bahwa Fadli Zon memperoleh karya-karyanya dari pialang seni yang sebenarnya merupakan sosok yang sangat kredibel dalam jagad seni rupa. Tapi sayang Fadli yang dikonfi rmasi tak mau menyebutkan sosok yang dimaksud juga dimana dia membeli lukisan tersebut berikut harganya.”Nggak usahlah, nggak etis. Peristiwanya juga sudah dua tahun silam,’’ katanya.

Yang pasti, karya Putu selama ini dihargai di kisaran 200 juta rupiah untuk satu lukisan. Baik Kuss maupun Fadli berpendapat bahwa para pencoleng lukisan ini merupakan sindikat. Karena mereka tentunya punya jaringan dan paham cara memalsu atau menjual lukisan hasil curian tersebut. Hauw Ming seorang kolektor yang juga Ketua Asosiasi Pecinta Seni (ASPI) telah menyebarkan email ke seluruh kolektor, balai lelang, maupun pemilik galeri, agar melaporkan ke pihak berwenang jika mendapati lukisan milik keluarga Bung Hatta tersebut.

“Tapi kalau sudah dibawa lari keluar negeri ya sulit,’’ ujarnya, Rabu, pekan silam. Lantas, akankah Cah Angon dan Kebo itu suatu saat akan muncul di balai lelang Christie’s Singapura atau Sotheby’s Hong Kong atau mungkin di New York? “Bisa jadi,’’ tegas Kuss Hauw Ming menyarankan, dari kasus ini para kolektor maupun perupa hendaknya mencatat lukisan- lukisan milik mereka. Misalnya dengan memberi nomor seri. Selain itu, kwitansi maupun akte jual beli lukisan hendaknya disimpan dengan rapi.

adiyanto/dini daniswari/ faisal chaniago/frans ekodhanto/ mochamad ade maulidin/nala dipa

Bisa dilacak di http://www.koran-jakarta.com/berita-detail.php?id=72874