Monday, September 15, 2008

Momentum Anak Gunung


(Teks ini menyertai pameran komunitas seni Air Gunung, Wonosobo, 18-28 September 2008, di Mon Decor Gallery, Jakarta)

Oleh Kuss Indarto

Siapa sebenarnya para seniman komunitas seni Air Gunung, Wonosobo, Jawa Tengah ini? Bagaimana positioning serta peluang mereka kini dan ke depan dalam kecamuk konstelasi seni rupa di Indonesia?

Ini merupakan deret pertanyaan elementer yang pantas untuk dikemukakan di tengah fakta adanya kecenderungan yang menunggal tatkala kita menelisik “anatomi” pelaku atau praktisi dalam dinamika seni rupa di Indonesia kini. Dalam pemetaan atas “anatomi” itu—seperti kita tahu bersama—mayoritas adalah para seniman yang (pernah) terdidik dalam lingkungan lembaga pendidikan khusus seni rupa. Untuk konteks seni rupa di Indonesia, “anatomi” semacam ini tampak lebih mengerucut dengan begitu dominannya para seniman lulusan (atau pernah studi) di Fakultas Seni Rupa, Institut Seni Indonesia (FSR ISI) Yogyakarta dan Fakultas Seni Rupa dan Desain, Institut Teknologi Bandung (FSRD ITB). Tak berlebihan kalau dikatakan bahwa mereka nyaris “menguasai” hampir semua pelataran penting pergerakan, dinamika, pewacanaan, jatuh-bangun, dan silang-sengkarut persoalan yang teralami dalam seni rupa di Indonesia selama beberapa dekade hingga sekarang. Realitas ini tak bisa dipungkiri kalau menyimak dari aspek historis karena dua kampus produsen para “jagoan” seni rupa tersebut merupakan dua kampus seni rupa tertua di Indonesia. Setidaknya mereka telah lahir lebih dari setengah abad lalu. Cikal bakal FSRD ITB lahir tahun 1947 dengan nama Balai Pendidikan Universiter Guru Gambar, Fakultas Ilmu Pengetahuan Teknik, Universitas Indonesia yang berkedudukan di Bandung. Sedang FSR ISI Yogyakarta dirintis dengan berdirinya Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI) yang dibuka oleh Presiden Soekarno tahun 1950.

Di luar dominasi dua kampus tersebut, barulah terpetakan bahwa kekuatan lain dibentuk oleh keberadaan para seniman yang berasal dari kampus seni rupa atau non-seni rupa di luar ISI dan ITB, dan/atau di luar kota Yogyakarta dan Bandung. (Kita sadar bahwa relasi antara seniman dan kampus seni merupakan bangunan kausalitas yang saling melekat). Mereka itu berserak di beberapa kota penting yang memiliki kampus kependidikan seni rupa (di bawah Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan) seperti Jakarta, Bali, Padang, Semarang, Solo, Surabaya, Medan, Malang, Makasar, Menado, dan kota lainnya. Dan kemudian, kekuatan penyangga lain adalah keberadaan komunitas seni, sanggar dan sejenis art group lain yang banyak terdapat di berbagai kota, mulai dari Banda Aceh, Pekanbaru, Bukittinggi, Bengkulu, Banten, Cirebon, Purwokerto, Wonosobo, Mojokerto, Balikpapan, Palangkaraya, Gianyar, Palu, dan banyak kota lain.

“Anatomi” yang demikian ini merupakan hasil pergeseran yang evolutif dari keadaan jauh sebelumnya, sekitar puluhan tahun lalu—terutama dasawarsa 1950an dan 1960an—di mana posisi dan eksistensi seniman yang bergerak di sanggar-sanggar seni begitu dominan dan sangat menentukan “merah-hitam”-nya seni rupa waktu itu. Kita bisa mengingat kebesaran nama Sanggar Bumi Tarung, Sanggar Pelukis Rakyat, Sanggar Bambu, dan lainnya. Maka, kalau sekarang ini posisi tersebut bergeser dengan “dikuasai” oleh para seniman yang berasal dari bangku akademis, praduga yang bisa dimunculkan adalah bahwa laju “rasionalisme” begitu kuat sehingga keberadaan lembaga pendidikan seni menjadi penting dalam konteks progresivitas jaman. Artinya, dewasa ini praktik penciptaan karya seni tidak lagi dipandang sekadar serangkaian ketrampilan tangan, talenta yang bersifat terberi (given) dan dalam kerangka naluriah (instingtif), melainkan juga dimaknai sebagai praktik kerja rasional yang berarti mengedepankan aspek berlogika untuk menggali kemampuan intelektualitas. Praktik seni adalah kemampuan teknis (yang diimplementasikan lewat tangan), sensibilitas (yang berkait dengan rasa artistik dan estetik), juga praktik berpikir (untuk menggali dan mengelola gagasan). Seni telah mampu diilmukan, meski tentu tidak akan seketat aplikasinya seperti dalam ilmu eksakta.

Air Gunung, Siapa Mereka?

Kalau mendasarkan pada fakta yang terpapar di atas, sepertinya ada gejala penggiringan pada pesismisme ketika menatap komunitas seni Air Gunung. Karena mereka “hanya” terdiri dari sekelompok seniman yang berangkat dari antusiasme berpraktik kesenian, seolah “sekadar” mengandalkan bakat alam, dan bukan berasal dari kalangan yang terdidik secara formal dalam lembaga pendidikan seni rupa. Bukan pula berasal dari kota penting seni rupa yang acap diperhitungkan. Benarkah demikian?

Inilah titik soalnya. Karena dalam praktik dan kehidupan seni (rupa) yang begitu berjarak pada formula, kalkulasi, dan hukum tetapan yang eksakta, ada potensi atas munculnya anomali, mengatasi kebiasaan. Komunitas seni Air Gunung memiliki kemungkinan untuk memotong konvensi—semacam hukum tak tertulis—guna menembus dominasi dan kekuatan “pelukis sekolahan”, “seniman kampus” atau “perupa akademis” yang selama ini jelas telah kuat memegang kendali dalam pelataran peta seni rupa. Mereka merupakan komunitas yang secara kolektif mulai menguat praktik kreatif dan keberadaannya karena disokong oleh beberapa personalnya yang memiliki peluang untuk menjadi rising star(s). Siap untuk menjadi anomali. Dan tentu saja ini didukung oleh ikatan komunalitas yang melekat yang menjadikan komunitas itu kukuh merangsek masuk ke dalam dominasi di sekitarnya.

Air Gunung sendiri dibentuk tahun 2005 dalam situasi yang “mendadak” ketika kordinatornya, Agus Wuryanto, dihimpit oleh desakan oleh sebuah galeri di Semarang untuk menghimpun seniman di kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah. Rencana pameran itu sendiri akhirnya batal, dan baru terwujud dengan cukup susah-payah pada pertengahan tahun 2007 di Bentara Budaya Yogyakarta. Pameran pertama di luar kandang itu menjemput impact yang cukup penting bagi gerak lanjut aktivitas mereka, baik secara kolektif atau untuk beberapa personal di dalamnya. Baik yang berkait dengan ihwal eksistensi, juga ekonomi.

Nama “Air Gunung” mengindikasikan sebuah tengara yang mencoba mengidentifikasi ciri khas alam yang ada di kawasan Wonosobo. Kabupaten yang dapat ditempuh sekitar 2,5 jam perjalanan darat dari kota Yogyakarta ini memang kawasan pegunungan yang berhawa sejuk dan berlimpah air. Pada bagian timur—yang berbatasan dengan kabupaten Temanggung—terdapat dua gunung berapi, Sindoro (berketinggian 3.136 meter) dan Sumbing (3.371 meter). Sementara di daerah utara terhampar kawasan terkenal, Dataran Tinggi Dieng (Dieng Plateau) dengan puncaknya gunung Prahu (2.565 meter). Kondisi geografis kabupaten seluas 984,68 kilometer persegi inilah yang bisa jadi menginsiprasi nama Air Gunung yang diasumsikan sebagai komunitas yang berisi person-person dengan kemampuan menggali kecakapan kreatif terus-menerus bagai mata air gunung yang nyaris tak kenal kerontang? Bisa jadi, karena saya kira, nama ini menjadi sebuah ekspektasi.

Dan ekspektasi ini memang bagai dipindahkan ke dalam situasi psikologis para seniman yang tergabung dalam komunitas Air Gunung. Ini penting untuk membangun spirit antarpersonal karena—seperti saya katakan di depan—mereka bukanlah para seniman yang mengawali laju kesenimanannya dari bangku akademis. Dalam pameran kali ini, seniman yang terpilih di antara sekian banyak anggota lainnya, mayoritas adalah seniman yang tumbuh karena kemauan mereka untuk mengasah talenta secara simultan. Hanya ada satu seniman, Arianto, yang (tengah) mengenyam pendidikan formal seni rupa di ISI Surakarta. Juga ada Darus yang telah lulus dari Sekolah Menengah Seni Rupa (SMSR) Yogyakarta. Lainnya, nyaris “hanya” berbekal pendidikan tingkat menengah pertama dan menengah atas. Sementara Agus Wuryanto, yang mengoordinasi Air Gunung, merupakan sarjana program studi Seni grafis ISI Yogyakarta angkatan 1987, seangkatan dengan para seniman yang kini menancapkan diri dengan kuat di pelataran seni rupa Indonesia seperti Pupuk D.P., Nasirun, Entang Wiharso, dan lainnya.

Di tengah-tengah mereka ini ada nama-nama yang berpotensi mengonstruksi nama besar karena kecakapan teknis yang menyamai bahkan melampaui para “seniman sekolahan” berikut perkembangan dunia gagasan mereka yang di-update secara sadar dan kontinyu. Saya meyakini bahwa mereka adalah para rising star(s) atau emerging artist(s) dalam jagad seni lukis di Indonesia yang tak bisa diabaikan kemunculannya. Sangat menjanjikan. Sebut saja Ugy Sugiarto, Irawan Banuadji, Nurkhamim, Awi Ibanezta dan Arianto. Nama-nama lain tentu saja akan lebih banyak muncul dengan terlebih dulu menunjukkan kemilau kreativitasnya lewat karya dan pameran berikutnya sebagai perangkat test case.

Melihat dan Membaca Isu

Test case yang bisa disimak hasilnya tentu saja lewat pameran kali ini. Tema kuratorial yang disodorkan, Tanda-tanda Zaman, menjadi wadah awal untuk menampung kerangka berpikir masing-masing seniman dalam merespons secara visual perkembangan sosial kemasyarakatan. Ya, ini tema yang tak terlalu ketat. Cukup cair karena tradisi berpameran dengan terlebih dahulu dikerangkai lewat tema kuratorial belum menjadi bagian penting dari kesadaran kreatif para seniman ini, maka pembacaan awal kurator atas out put (karya) mereka dijadikan landasan untuk melakukan pematangan dan pengerucutan tema atas karya-karya yang lahir berikutnya.

Visualisasi yang kemudian mengemukakan adalah berupa beragam subyek sebagai sistem tanda yang menengarai tema-tema tertentu. Tanda-tanda Zaman seperti menjadi etalase pemikiran sekaligus pembayangan masing-masing seniman dalam membaca pergeseran budaya yang berderet di di depan mata mereka. Kalau pengamat pop culture Raymond Williams (dalam Culture, 1981) memberi batasan bahwa budaya merupakan sistem penandaan yang melalui sistem tersebut tatanan sosial dikomunikasikan, direproduksi, dialami dan dieksplorasi, maka dalam lingkup yang terbatas anak-anak Air Gunung mencoba mengimplementasikan gagasan Williams di atas kanvas mereka.

Mereka, misalnya, tidak masuk dalam proses “mengalami” kasus-kasus tertentu dalam peristiwa budaya populer di luar lingkungannya, namun berupaya melakukan reimajinasi dengan kerangka pembayangan yang mereka mampu beserta latar kultur yang berbeda. Maka lahirlah, sebagai contoh, karya-karya Awi Ibanezta atau Arianto yang mengusung secara frontal sosok Marylin Monroe (MM) yang jelas sangat berjarak dengan dunia mereka, baik dalam konteks zaman, geografis, kondisi sosial politik dan kulturalnya. Ini menjadi menarik karena ikon bomb-sex dasawarsa 1960an tersebut dihadirkan secara frontal pula dengan mengaduknya bersama ikon visual yang lokalitasnya begitu kuat. Awi mengurung dengan batik motif pesisiran/Pekalongan, sementara Arianto menyandingkannya dengan ikon sayur terong yang serupa phalus. Saya kira, ini menjadi karya yang—seturut teori Williams di atas—mencoba mereproduksi isu sensualitas perempuan dalam kerangka etnisitas Timur dan humor yang lugas.

Saya tak hendak menunjukkan dan menjelaskan satu persatu karya yang terpampang dalam pameran ini. Namun titik penting yang bisa dikerangkai secara umum atas karya-karya tersebut adalah memberi penguatan atas pemahaman definitif Raymond Williams tentang arti budaya, yakni bahwa budaya lebih mengacu pada pemikiran yang berkembang pada manusia atau masyarakat tertentu, sekaligus juga mengacu pada sarana dari proses-proses yang dalam artian ini, orang menunjuk pada karya seni dan karya intelektual. Artinya, karya-karya anak-anak Air Gunung ini menjadi artefak kreatif dan intelektualitas (sesuai kapasitas) mereka.

Agenda

Akhirnya, masih ada agenda penting bagi para “anak gunung” ini ke depan untuk memperteguh posisi mereka di tengah belantara seni rupa di Indonesia yang kian rumit dan penuh kompetisi. Pertama, membangun networking yang lebih banyak dan luas untuk memungkinkan mereka masuk dalam ruang-ruang penting seni rupa yang lebih kompetitif. Kedua, dalam aspek kreatif, perlu menghindari pola stereotipe bahwa melukis yang baik dan indah adalah melukis dengan corak realisme. Ini mencoba menerabas garis mainstream yang seolah menjadi kebenaran tunggal bahwa yang realisme adalah puncak pencapaian dalam seni rupa. Ketiga, perlu lebih dalam mengeksplorasi gagasan yang berawal tumbuh dari soal lokalitas.

Dengan syarat minimal ini, saya kira, Air Gunung tak akan beda—bahkan lebih kompetitif—ketika bersanding dan bertanding dengan “seniman sekolahan”. Cepat-cepatlah mencari dan mencuri momentum! Semoga!

Thursday, September 11, 2008

Filsafat Soto dalam Kanvas




"Gunjingan" tentang (ke)seniman(an) Widodo yang pameran tunggal di Studio 83, di Kim Yam Road, Singapura, 3-17 Oktober 2008

Oleh Kuss Indarto

Sosok seniman Widodo, sesungguhnya, melakukan ritus berkesenian tidak sekadar di atas kanvas seperti yang terpapar pada pameran tunggalnya kali ini. Namun juga dalam kehidupan sehari-harinya. Di hadapan sang istri yang dinikahinya belasan tahun lalu, di depan anak-anaknya yang kini beranjak dewasa, dalam pandangan beberapa karyawatinya yang bekerja di warung soto Jawa Timuran-nya, juga dalam perspektif teman-teman sesama seniman, Widodo tak jarang membopong atmosfer kesenimanan dan bentuk kesenian yang lebih luas.

Tak berlebihan andai dikatakan bahwa kesenian adalah jalan hidupnya. Dan kehidupannya penuh jalan kesenian. Kita bisa melihat petilan fragmen kesenimanannya di rumah tinggalnya di pinggiran barat kota Yogyakarta, yang di bagian depan dijadikan sebagai warung soto “Jiancuk”. Ya, mulai dari nama warungnyapun merupakan kata umpatan khas Jawa Timuran yang—saya kira—menjadi penanda penting baginya untuk menyodorkan pola komunikasi yang karib terhadap pengunjung di sana. “Jiancuk” menjadi lontaran kata penuh keakraban, bukan sebuah hardikan. Orang yang datang tidak disuguhi dengan nama atau penanda yang eksotik seperti halnya kebanyakan “warung padang” yang menyajikan makanan khas Minangkabau.

Kita juga tak habis pikir dengan keputusannya untuk membeli sebuah minibus bekas pakai yang sekarang nongkrong di depan rumahnya. Dia tak berkehendak untuk banting stir dengan menjadi supir angkutan tentu saja. Juga tak berhasrat menambah pundi-pundi hariannya dengan menyewakan minibus tersebut kepada supir penyewa. Kendaraan tersebut jelas tidak mungkin diperuntukkan sebagai kendaraan keluarga karena di samping sudah memiliki kendaran keluarga yang cukup ideal, minibus tersebut tak layak kondisi dan ukurannya. Harus dibenahi pada banyak bagian karena memang bekas pakai, dan ukurannya terlalu besar untuk keluarga kecil yang dimilikinya.

Dia mengambil keputusan membeli minibus itu untuk menjadikannya sebagai kendaraan sekaligus ruang atau studio melukis di luar rumah. Ya, menjadi “bohemian” kecil-kecilan nampaknya menjadi obsesinya. Widodo sudah menggunakan minibus itu secara atraktif, yakni ketika dia melakukan demonstrasi melukis (di atas minibus) di tengah-tengah acara diskusi seni pada Sabtu malam, 9 Agustus 2008 lalu. Penampilannya begitu mencuri perhatian di tengah keriuhan orang memperhatikan diskusi yang kala itu dokter Oei Hong Djien menjadi salah satu narasumbernya. Saya kira, ini sebuah aksi kesenian yang menarik ditinjau dari prosesnya, yang tak menutup kemungkinan diagendakan dengan lebih serius dan dikerangkai lebih lanjut sebagai sebuah art project yang lebih serius dan terarah program dan targetnya. Bukan berhenti sekadar sebagai have fun.

Entahlah, apakah usulan sebuah art project ini bisa diterima karena pada dasarnya sosok Widodo ini memiliki tabiat dan perilaku berkesenian yang cukup eksentrik, dan tak cukup betah berlama-lama dengan cara berkesenian yang memapankan identifikasi atas dirinya. Makanya, sulit diduga untuk mengurutkan praktek keseniannya ini dalam tata urutan yang sistematis seperti yang kita harapkan. Coba simak sebutan yang sempat melekat dengan dirinya sekitar lebih dari sepuluh tahun lalu, yakni sebagai “pelukis buta”. Yakni melakukan praktik melukis di atas kanvas dengan mata tertutup kain. Sepertinya dia ingin serius membuat satir bahwa karya lukis adalah “jiwa yang ketok” (ketok = nampak) seperti yang didogmakan oleh tokoh pelukis modern Indonesia, S. Soedjojono. Makanya, Widodo mencoba memperlihatkan “jiwa yang ketok” itu dengan melukis lewat caranya sendiri. Karena bukanlah hasil karya yang menjadi titik pusat dari ritus berkesenian, namun proses berkarya itulah yang dikedepankannya. Begitulah kira-kira praduga yang bisa saya pahami dari “perilaku” kreatif Widodo.

Sebutan yang mulai melekatnya itu kemudian coba ditepisnya dengan melupakan seluruh proses dan modus kreatif sebagai “pelukis buta”. Semua itu seperti dia gulung dari ingatan publik dan dirinya dengan kembali ke kanvas.

Menghindari Mainstream

Kalau kemudian bentangan-bentangan kanvas itu memberi daya tarik bagi Widodo untuk meneguhkan kesenimanannya, sedikit pasang-surut pun telah dialaminya. Pada potongan kurun tertentu, ada beberapa bentang karyanya yang “tiba-tiba” memiliki kecenderungan realisme yang cukup kental. Ini terlihat dalam pameran “Buzer” yang berlangsung di Taman Budaya Yogyakarta, sekitar September 2007. Saya katakan tiba-tiba karena tampaknya jalur corak realisme kurang mendapat perhatian yang serius dalam sejarah kreatif Widodo. Saya duga, ini memiliki relevansi yang kuat dengan kecenderungan yang tengah terjadi di medan seni rupa di Indonesia, dimana gelombang (hiper)realisme China kontemporer tengah menerpa. Banyak perupa di Indonesia yang seolah berbondong-bondong kembali atau berbalik menekuni realisme yang pada waktu tertentu kurang cukup menjadi trend, ditelan oleh hiruk-pikuk corak dan gaya seni lukis yang lain. Booming pasar seni rupa yang penuh hingar-bingar—setidaknya mulai tahun 2005 akhir—banyak mendasari beralihnya para seniman ini kepada corak realisme.

Demam ini tak lama menimpa kanvas Widodo. Dia berhenti setelah melukis bercorak realisme hingga 6 bentang kanvas, dan kembali ke gaya asalinya. Sekarang, seperti yang terpapar dalam pameran tunggalnya kali ini, rangkaian karya dengan kecenderungan abstrak figuratif seperti menjadi pilihan kreatif seniman Jawa Timur tersebut. Seniman berambut gondrong ini terasa menikmati pilihannya untuk melukis dengan corak dan kecenderungan yang kini dianggap kurang boom. Tapi justru di sinilah, saya kira, letak keteguhan seniman Widodo dalam menentukan pilihannya yang berupaya menghindari kecenderungan mainstream. Realisme tak menjadi ketertarikannya, juga apalagi gaya grafitti, street art yang dewasa ini mulai terangkat dengan meluap di banyak kanvas seniman muda di Yogyakarta atau bahkan Indonesia.

Pilihan pada corak kreatif ini melepaskan diri dari kecenderungan serupa yang dialami oleh lingkungannya. Widodo mencoba mandiri dengan pilihannya. Bahkan kecenderungan abstrak figuratif pada karyanyapun tak dikaitkannya dengan hal serupa yang telah menjadi teori dan praktek di belahan Barat dunia. Artinya, dia tak menjadi epigon atau pengekor gaya (seniman) tertentu dalam khasanah seni rupa Barat atau dunia. Semuanya mengalir dengan otomatisme. Karya seni abstraknya, meminjam kalimat Winston Richardson (Art: The Way is it, 1973) menjadi seni yang bebas dalam menyatakan ide-ide artistik yang bertitik tolak dari kebebasan membentuk dan memberi warna dari subject matter (pokok soal).

Dan kebebasan yang dianut Widodo ini yang kemudian memberi sedikit banyak titik diferensiasi dengan karya seniman lain yang telah berkelebat sebagai subyek referensi visualnya—yang sekaligus (kemudian) diabaikannya. Mulai dari yang “lokal” (karena kedekatannya secara geografis atau mereka bagian dari proses pembelajarannya di kampus dulu) semacam Fadjar Sidik, Aming Prayitno, Nunung WS, Edi Sunaryo, Mochtar Apin, hingga yang internasional, yakni tokoh-tokoh dunia seperti Malevich, Piet Mondrian, Wasilly Kandinsky, Emil Nolde, Jackson Pollock, dan sederet nama lainnya.

Namun demikian titik diferensiasi pada kanvas Widodo tersebut juga tidak secara otomatis menghasilkan hasil karya yang jauh lebih artistik dibanding mereka. Tidak! Atau belum. Karena dalam konteks ini saya tidak sedang memberi pembanding dan kemudian membuat justifikasi yang sembrono untuk menentukan hierarkhi sebuah karya. Diferensiasi yang dikreasi oleh seniman alumnus Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta ini menghasilkan karya yang khas dan berpotensi besar untuk mandiri karena “kesewang-wenangannya” terhadap kaidah mendasar melukis seperti aspek komposisi yang “ideal”, teknis pewarnaan dan sebagainya. Semuanya nyaris ditabrak sesukanya. Risikonya—dalam pandangan saya pribadi sebagai apresian—tidak semua karyanya menampilkan tata artistik yang memadai, namun justru pada titik itulah karya Widodo ini tengah bergerak. Dia sedang melakukan “otoritarianisme”, “kesewenang-wenangan” yang cukup “akut” dalam memperlakukan bentangan-bentangan kanvasnya. Dia tidak cukup peduli dengan terminologi seni yang indah dan tidak indah, artistik atau tidak artistik. Pola kerja kreatif seperti ini sebenarnya berpotensi menelurkan bentuk-bentuk kreasi seni penuh kebaruan.

Kebersahajaan Tema

Kemudian dari aspek substansi karya. Tema-tema yang digeluti Widodo juga tidak semua mengetengahkan narasi-narasi besar yang untuk beberapa seniman mengakibatkan tergelincir pada kegenitan. Widodo malah memberi gambaran pada apresian bahwa sesuatu yang bersahaja yang berkelindan didalam ruang lingkup sendiri, layak untuk diapresiasi sebagai pokok soal (subject matter) dalam karya. Dugaan saya, cara pandang ini ditempuhnya sebagai bagian dari problem psikologisnya sebagai seniman yang cukup senior yang telah sebelumnya banyak digumuli oleh banyak problem sosial politik. Maka, seni rupa sebagai katarsis menjadi pilihan penting (terutama) dalam pameran ini.

Kita bisa melihat beberapa sampel karya yang bisa dikuliti. Misalnya karya bertajuk “Soto is My Life” yang berukuran 150x150 cm. Seniman ini membuat citra sebuah mangkuk merah lengkap dengan sendok besar bergagang semburat putih dengan dominan warna biru di ujungnya. Latar belakang penuh warna hijau kusam yang jauh dari kesan manis seperti halnya lukisan-lukisan perupa lain dewasa ini. Sebagai teks visual, karya itu selesai. Namun Widodo banyak membubuhi aneka teks verbal yang kemudian bisa dibaca sebagai “teks visual” untuk melengkapi citra ihwal narasi tentang “semangkuk soto” secara keseluruhan. Ada teks “bumbu merica, rempah2”, “daging sapi segar”, “sendok bebek”, “toge mentah”, dan beragam teks lain yang tak semua bisa dibaca dengan cermat. Dari fakta visual seperti ini saya seperti dituntun untuk memberi pembayangan atas karya tersebut sebagai sebuah “lelakon”, laku kehidupan dalam pembacaan yang cukup filosofis. Semangkuk soto, bagi Widodo, bagai semangkuk kehidupan yang di dalamnya banyak menampung berbagai problem yang mesti dirasakan, dikunyah, dan lalu ditelan sebagai sebuah keniscayaan. Semuanya adalah bumbu kehidupan yang menikmatkan seperti halnya tatkala kita menikmati panas dan nikmatnya soto. Sebagai seorang penjual soto Jawa Timuran (dalam arti yang sesungguh-sungguhnya), Widodo sepertinya tahu persis “filsafat soto” yang kemudian diintroduksikan dalam kanvas.

Sementara pada karya “Made in China”, ada potongan citra sepeda warna biru yang “dipersoalkan” Widodo. Citra sepeda yang diguratkannya (begitu sekenanya) dengan warna biru tua itu seperti dipreteli dengan rangkaian teks yang menyertai nyaris seluruh bodi sepeda. Teks itu menyebutkan petilan anatomi sepeda seperti seperti slebor, ban, jeruji, katengkas, KNI, penthal, gir, pedhal, rem, porok, dan lainnya.

Karya ini seolah menjadi titik berangkat bagi opini Widodo untuk menyoal problem yang lebih besar dibanding karya “Soto is My Life” di atas. Problem sepeda seperti yang dipunyai dan teronggok di sudut rumah, dimaknai kembali untuk membincangkan ihwal ketergantungan bangsa ini pada bangsa yang lain dalam urusan yang dianggapnya sepele/kecil. Sepeda yang menjadi moda angkutan sederhana itu ternyata menyimpan sebuah narasi tentang kegagalan bangsa ini yang tak mampu mengatasi problem kecil: membuat sepeda sebagai alat angkut yang sederhana.

Beberapa karya lain, saya kira bisa menjadi medium bantu untuk melacak garis pemikiran dan artistik Widodo yang tampak sederhana dan lugas dalam melakoni kesenimanannya. Sampai saat ini, dia tak banyak dicatat dengan tebal-tebal dan dengan tinta emas dalam pelataran seni rupa di Yogyakarta atau bahkan di Indonesia. Namun itu tak merisaukannya. Tak menyurutkannya untuk terus merunuti garis kreatif yang diyakininya. Slow wae, santai saja, tampaknya seperti itulah garis filsafat kesenian yang terus dilakoninya. Toh waktu yang akan membuktikan. Dan buku sejarah tak harus berisi sekumpulan hero yang nampak cerlang-cemerlang kan?