Thursday, May 27, 2010

Joko “Gundul” Sulistiono: Menyangkal dari Stereotyping Robot


Joko "Gundul" (kanan) bersama Priyaris Munandar saling melukis tubuh mereka untuk persiapan pameran Hip! Hip! Hero!, 6 Juni 2010 di Galeri Apik, Jakarta.

MANUSIA BARU (140 x 190 cm, mixed media, 2000). Itulah karya yang menjadi tonggak penting bagi perjalanan kreatif Joko “Gundul” Sulistiono. Lewat lukisan tersebut, seniman berperawakan mungil ini bagai memuntahkan magma kreatif yang seolah bertahun-tahun terpendam di balik tubuh dan lupa. Ya, bahkan Joko sendiri juga sahabat-sahabat dekatnya barangkali lupa bahwa dirinya memiliki potensi besar untuk melahirkan karya penting. Setidaknya penting bagi perjalanan kreatif dirinya.

Lukisan kolase (collage) itu menemukan momentum yang tepat pada perhelatan Indonesia Art Award (IAA) 2000 yang waktu itu masih disponsori oleh Philip Morris Group. Manusia Baru tidak sekadar masuk menjadi finalis (70 Besar), namun bahkan terpilih menjadi 10 Besar Karya Terbaik. Waktu itu, Tim Juri (yang terdiri dari M. Dwi Marianto, Sulebar Soekarman, Nyoman Erawan, Asmudjo J. Irianto, Mudji Sutrisno, Rita Widagdo, dan Didier Hamel) memilih 10 Besar Karya Terbaik yang masing-masing adalah karya Joko “Gundul” Sulistiono sendiri, lalu karya Budi “Ubrux” Haryono, Hayatuddin, “Cubung” Wasono Putro, Catur Bina Prasetyo, Yusron Mudhakir, Agapetus A. Kristiandana, Sumardi, Yayat Surya, dan A. Putu Wirantawan.

Pada tahap berikutnya dari kompetisi IAA 2000 itu, karya Manusia Baru juga menggapai pencapaian dengan masuk sebagai 5 Besar Karya Terbaik. Ini menjadi tiket utama untuk menerbangkan Joko dan 4 seniman lain menuju Negeri Singa, Singapura, sebagai peserta event serupa di level ASEAN, yakni ASEAN Art Award. (Perhelatan IAA tahun 1994-2000 memang menjadi event yang berjenjang hingga ke tingkat Asia Tenggara. 5 Besar di tiap negara “diadu” di tingkat ASEAN. Namun mulai tahun 2001 Philip Morris tak lagi mensponsori IAA, meski di beberapa negara ASEAN lain masih). Apapun pendapat banyak pihak tentang pro-kontra sebuah kompetisi seni rupa, faktanya, perhelatan ini juga bisa menjadi salah satu alat ukur bagi seorang seniman dalam membaca perkembangan kreatifnya. Apalagi, kala itu, kompetisi IAA 2000 diikuti oleh 1.227 seniman dari seluruh Indonesia. Tak berlebihan bila ajang kompetitif ini juga menjadi perangkat penting untuk menanamkan reputasi seorang seniman, termasuk Joko Sulistiono.

Dari pencapaiannya itu memang kemudian respons muncul cukup terasa, langsung ataupun tidak langsung. Meski tidak sangat deras, namun undangan untuk berpameran pun mulai datang dari sana-sini. Pada kurun waktu tersebut seniman yang masuk kuliah di Fakultas Seni Rupa Institut Seni Indonesia (FSR ISI) Yogyakarta tahun 1990 ini mulai banyak bersentuhan dengan pihak lain yang berkait dengan profesi kesenimanannya. Atas persentuhannya dengan pihak lain itu, sudah barang pasti, ada plus-minus yang menyertainya. Joko hanya berusaha keras untuk menggali nilai positif atas hubungan dengan pihak lain itu. Positive thinking diyakininya akan menjadi energi kuat bagi proses kreatifnya ke depan. Setidaknya, pada dimensi yang lain, Joko merasa telah sekian lama berjalan cukup lambat pada rel kesenimanannya. Dia ingin ngebut. Dia tak ingin terpaut sangat jauh dengan rekan-rekan seangkatannya di FSR ISI Yogyakarta—semisal Putu Sutawijaya, I Nyoman Sukari (almarhum), Samuel Indratma, Zulkarnaini, Budi Kustarto, dan lainnya—terutama dalam aspek pencarian dan penggalian kemampuan kreativitas. (Kalau soal rezeki sih, pasti sudah ada yang mengatur).

Meski demikian, kita juga sadar sepenuhnya bahwa pencapaian artistik, estetik dan kreatif bagi seorang perupa terkadang tidak bisa berjalan seiring dengan hal yang lain, misalnya respons pasar. Pasar bisa dengan bebas dikonstruksi sedemikian rupa sehingga garis pencapaian kreatif seorang seniman yang sangat progresif sangat mungkin bisa “dihambat” reputasinya hanya karena dianggap kurang bagus pada sisi respons pasarnya. Joko memang tidak dalam posisi yang ekstrem seperti itu. Namun ada kondisi yang berkait dengan kerja kreativitasnya yang sempat sedikit “disalahtafsirkan”.

Karya Manusia Baru-nya di IAA 2000 banyak dianggap sebagai implementasi pikiran-pikiran seniman kelahiran kabupaten Grobogan, Jawa Tengah ini, atas perkembangan teknologi yang menjadikan sebagian dari perikehidupan manusia menjadi masinal. Semua selalu berkait dengan mesin. Manusia mengalami masinalisasi atau “pemesinan” sehingga serupa robot. Anggapan sebagian publik itu tentu sah untuk memberi penanda atas kecenderungan karya Joko. Namun banyak hal yang dihasratkan olehnya, lewat karya Manusia Baru itu, yakni tentang kultur hedonisme dan konsumtivisme, menjadi pudar dalam perbincangan. Dan sayangnya, asumsi itu cukup menguat dalam kesempatan pameran yang diikutinya kemudian. Ketika karya-karyanya diikutkan dalam pameran, tidak jarang pertanyaan yang stereotipe mampir ke telinga Joko: “Lho, mana robotnya? Kok robotnya mulai nggak ada nih? Kenapa robotnya jadi genit?” Inilah beban atas stereotyping yang terjadi justru setelah muncul pencapaiannya yang kuat di perhelatan IAA 2000. Seolah Joko Sulistiono harus identik dengan sosok-sosok robot dalam karya lukisannya. Inilah yang kemudian coba “disangkalnya”.

Pameran tunggalnya di Koong Gallery tahun 2003 memperlihatkan gejala penyangkalan yang cukup kuat atas stereotyping itu. Tema-tema tentang hedonisme mencuat kian eksploratif pada kesempatan itu. Dan kemudian, pada waktu-waktu berikutnya, terjadi pergeseran atas tema sentral dan pokok soal (subject matter) karya-karyanya. Hedonisme dan konsumtivisme tak lagi menjadi pilihan tema yang disuarakannya, namun mengarah pada tema-tema satwa kuda (Equus caballus atau Equus ferus caballus).

Pilihan ini juga berkait erat dengan kedekatannya bersama pihak lain seperti yang disinggung pada bagian atas tulisan ini. Kuda-kuda yang terpapar pada banyak kanvas Joko memang lebih banyak mengeksplorasi pada aspek kebentukan. Namun juga sesekali dia mencoba mengaitkannya dengan perbincangan secara cukup kritis terhadap aspek sosial kemasyarakatan seperti halnya karya-karya di kurun sebelumnya.

Hal penting yang bertalian antara karya-karya Joko yang terdahulu dengan yang sekarang adalah penggunaan teknik kolase. Ada kolase yang memanfaatkan guntingan kertas dari majalah yang butuh tantangan dalam pengawetan karya seacara keseluruhan. Ada pula kolase dengan memanfaatkan teknologi yang membutuhkan kejelian dalam menempelkan di atas kanvas. Dari pengalaman meniti garis kesenimanannya yang telah masuk pada tahun keduapuluh (kalau dihitung sejak masuk kuliah di ISI Yogyakarta tahun 1990), Joko seperti telah menemukan salah satu perca pemikiran yang bisa mendasari keyakinannya dalam berkarya, yakni: “tema karya tidak selalu penting, namun cara kerja kreatif, itulah yang lebih penting”. Dari sini kita bisa menduga ke arah manakah alur kreativitasnya akan mengalir. Silakan menebak. ***

(Dituliskan kembali oleh Kuss Indarto)

Sunday, May 02, 2010

Finalis Indonesia Art Award 2010: Perupa Yogyakarta Masih Dominan



UNTUK kesekian kalinya, para seniman Yogyakarta masih tetap mendominasi Kompetisi Indonesia Art Award (IAA). Kali ini, dalam perhelatan IAA 2010, ada sejumlah 46 seniman seni rupa (perupa) yang masuk sebagai finalis atau nominees. Jumlah ini hampir menguasai separuh dari keseluruhan finalis yang jumlahnya ada 95 seniman. Sementara kawasan lain yang juga banyak masuk sebagai finalis, seperti sudah bisa diduga, berasal dari Bandung, yakni sebanyak 18 orang.

Itulah salah satu sisi yang bisa disimak dari hasil penjurain tahap pertama Kompetisi IAA 2010 yang berlangsung hari Senin, 26 April 2010, yang berlangsung di gedung Galeri Nasional Indonesia (GNI), Jalan Medan Merdeka Timur 14, Jakarta. Penjurian berlangsung hingga mencapai 11 jam dengan dipimpin oleh Ketua Tim Juri, Jim Supangkat beserta para anggota tim juri lainnya, yakni Asmudjo Jono Irianto, Rizki A. Zaelani, Suwarno Wisetrotomo, dan Kuss Indarto. Penjurian yang berlangsung seru dan ketat ini untuk menyeleksi proposal dari seniman yang berjumlah 1.196 buah proposal. Pada tahap pertama ini para seniman mengajukan foto karya berikut data fisik karya yang diproposalkan untuk dikompetisikan. Sementara pada penjurian tahap berikutnya Tim Juri akan menghadapi secara langsung fisik karya yang telah masuk final atau 95 Besar tersebut. Rencananya, penjurian tahap kedua ini akan berlangsung akhir Mei setelah semua karya nominees masuk ke panitia.

Ketua Tim Juri, Jim Supangkat mengakui bahwa pada perhelatan kali ini memang belum ada karya yang sangat istimewa ataupun sangat mengejutkan dari aspek pencapaian artistik atau estetik. Hal serupa diamini juga oleh semua Tim Juri. Relatif bagus, namun belum memperlihatkan adanya kekuatan baru yang bisa menjadi “gejala kreatif” di kurun ke depan. Fakta ini tak bisa dielakkan dari realitas sosial dalam dunia seni rupa di Indonesia yang tengah hingar-bingar, terutama pada aspek pasar. Ini kemudian berimbas pada pemikiran dan orientasi banyak seniman dalam menyikapi adanya kompetisi. Tentu ini berbeda jauh ketimbang keadaan 10 hingga 15 tahun lalu ketika kompetisi diselenggarakan panitia kebanjiran oleh banyaknya proposal karya yang diajukan. Tahun ini memang relatif masih banyak yang mengajukan diri sebagai peserta kompetisi, namun rekor jumlah peserta belum sebanyak 10-an tahun lalu yang hingga mencapai dua ribu bahkan 3 ribu karya.

Sementara dalam aspek keragaman karya, Tim Juri IAA 2010 banyak meloloskan beragam karya yang sangat variatif. Berbeda dengan perhelatan sebelumnya yang nyaris tidak memasukkan karya lukis dalam jajaran karya finalis/nominees, kali ini Tim Juri menempatkan lukisan sebagai bagian dari keragaman karya kompetisi. Di samping tentu saja banyak mengakomodasi perupa yang menyodorkan karya seni instalasi, video art, object art, fotografi, patung, dan lainnya, sebagai pilihan kreatif yang diajukannya.

Juga hal yang menarik, yang berseberangan dengan keterangan di atas (bahwa banyak seniman yang orientasinya beda dalam merespons sebuah kompetisi), ternyata tak sedikit perupa yang tergolong “senior” atau yang sudah bereputasi tinggi masih antusias mengikuti kompetisi ini. Mereka yang kemudian lolos sebagai finalis antara lain Entang Wiharso, Hedy Hadiyanto, Melodia, Tatang Ramadhan Bouqie, Katirin, Nurdian Ichsan, dan beberapa lainnya. Nama-nama tersebut bersanding dengan nama-nama perupa junior yang mulai atau kemungkinan kelak akan mencuat sebagai nama-nama penting di fase waktu di depan, semisal Monika Ary Kartika, Agus Triyanto Br., Hojatul Islam, Andi Dewantoro, dan sederet nama lainnya. Pada titik inilah, publik yang akan menyimak, menimbang dan kemudian menilai.

Di bawah ini keterangan lengkap hasil penjurian tahap pertama Kompetisi Indonesia Art Award 2010:

I. DAFTAR NAMA NOMINEE/FINALIS
INDONESIA ART AWARD 2010 “CONTEMPORANEITY”
1. A. Priyanto “Omplong” (Yogyakarta)
2. Abdul Fatah (Yogyakarta)
3. Adytama Pranada Charda (Bandung)
4. Afdal (Yogyakarta)
5. Agung ”Tato” Suryanto (Surabaya)
6. Agus Putu Suyadnya (Yogyakarta)
7. Agus Triyanto BR (Yogyakarta)
8. Ahmed Zafli (Yogyakarta)
9. Ali Antoni (Yogyakarta)
10. Ali Rubin (Bandung)
11. Amrizal Sulaiman (Yogyakarta)
12. Andi Dewantoro (Bandung)
13. Andy Dwi Tjahyono (Bandung)
14. Angga Sukma Permana (Yogyakarta)
15. Arifin Yasonas (Depok)
16. Arisman Adhitama (Yogyakarta)
17. Ariyadi / Cadio Tarompo (Balikpapan)
18. Bagasworo Aryaningtyas (Jakarta)
19. Bagus Pandega (Jakarta)
20. Bestrizal Besta (Pekanbaru, Riau)
21. Reza Afisina (Jakarta)
22. Cecep Moch. Taufik (Bandung)
23. Cecep Rusyanto (Jakarta)
24. Cipto Purnomo (Magelang)
25. Dadi Setiyadi (Yogyakarta)
26. Deni Junaedi (Yogyakarta)
27. Dha Noe (Surabaya)
28. Dodo Santo (Bandung)
29. Doni Fitri (Yogyakarta)
30. Edo Pop (Yogyakarta)
31. Edward Bonaparte (Bandung)
32. Edwin Roseno Kurniawan (Yogyakarta)
33. Eko Suparyanto (Grobogan)
34. Entang Wiharso (Yogyakarta)
35. Erwin Windu Pranata (Bandung)
36. Faisal Habibi (Bandung)
37. Hadi Marsono (Yogyakarta)
38. Hafiz (Jakarta)
39. Handy Hermansyah (Bandung)
40. Hasan (Solo)
41. Hedi Hariyanto (Yogyakarta)
42. Herlambang Bayu Aji (Solo)
43. Herman Widianto (Bekasi)
44. Hojatul Islam (Yogyakarta)
45. I Made Parma (Bali)
46. I Nyoman Agus Wijaya (Bali)
47. I Wayan Legianta (Yogyakarta)
48. I Wayan Suja (Bali)
49. Iqro’ Ahmad Ibrahim Laili S (Yogyakarta)
50. Irfan Winoto Dechan (Bandung)
51. Irwanto Lentho (Yogyakarta)
52. Iswanto Hartono (Jakarta)
53. Jenny Lee (Surabaya)
54. Jumartono (Lamongan)
55. Katirin (Yogyakarta)
56. Khusna Hardiyanto (Yogyakarta)
57. Lutse Lambert Daniel Morin (Yogyakarta)
58. Made W. Valasara (Yogyakarta)
59. Melodia (Yogyakarta)
60. MG. Pringgotono (Bekasi)
61. Monika Ary Kartika (Bandung)
62. Muhammad Yusuf Siregar (Yogyakarta)
63. Muji Harjo (Yogyakarta)
64. Mulato Suprayogi (Yogyakarta)
65. Nur Khamim (Wonosobo)
66. Nurdin Ichsan (Bandung)
67. Nurkholis (Yogyakarta)
68. Patriot Mukmin (Bandung)
69. Priyaris Munandar (Yogyakarta)
70. Putut Wahyu Widodo (Semarang)
71. Rinaldi (Yogyakarta)
72. Rocka Radipa (Yogyakarta)
73. Rudi Hendriatno (Yogyakarta)
74. Setyo Priyo Nugroho (Yogyakarta)
75. Sigit Wijaya (Jakarta)
76. Soegiono (Malang)
77. Syaiful A Rachman (Yogyakarta)
78. Syamsul Ma’arif (Yogyakarta)
79. Tandya R. Sampurna “Ije” (Cimahi)
80. Tatang Ramadhan Bouqie (Jakarta)
81. Taufan ST (Cianjur)
82. Taufik (Yogyakarta)
83. Taufiq Panji Wisesa (Bandung)
84. Teguh Wiyatno (Yogyakarta)
85. Tommy Tanggara (Yogyakarta)
86. Tommy Aditama Putra (Bandung)
87. Toni Antonius (Bandung)
88. Uday Mashudi (Tanggerang)
89. Wahyu Srikaryadi (Bandung)
90. Widi S Martodihardjo (Jakarta)
91. Wilman Syahnur (Yogyakarta)
92. Yon Indra (Yogyakarta)
93. Yuli Kodo (Yogyakarta)
94. Yurnalis (Yogyakarta)
95. Yuniarto (Yogyakarta)

II. Data Statistik Nominee Indonesia Art Award 2010

1. Bali 3 orang nominee
2. Balikpapan 1 orang nominee
3. Bandung 18 orang nominee
4. Bekasi 2 orang nominee
5. Cianjur 1 orang nominee
6. Cimahi 1 orang nominee
7. Depok Bogor 1 orang nominee
8. Grobogan 1 orang nominee
9. Jakarta 9 orang nominee
10. Lamongan 1 orang nominee
11. Magelang 1 orang nominee
12. Malang 1 orang nominee
13. Pekanbaru 1 orang nominee
14. Semarang 1 orang nominee
15. Solo 2 orang nominee
16. Surabaya 3 orang nominee
17. Tangerang 1 orang nominee
18. Wonosobo 1 orang nominee
19. Yogyakarta 46 orang nominee

III. Jumlah Nominee/finalis Indonesia Art Award 2010 adalah 95 karya/seniman yang berasal dari 18 kota di Indonesia.


IV. Jumlah Karya/seniman yang masuk ke panitia Indonesia Art Award 2010 sebanyak 1296 karya/seniman yang berasal dari SUMATRA (Aceh, Padang, Palembang, Bengkulu, Medan, Jambi, Riau, Lampung), JAWA BARAT (Cirebon, Garut, Bandung, Cimahi, Tasikmalaya, Garut), JAKARTA dan JABODETABEK (Jakarta, Bogor, Depok, Bekasi, Tangerang), JAWA TENGAH (Tegal, Demak, Banyumas, Solo, Semarang, Magelang, Purwokerto, Purworejo, Wonosobo), YOGYAKARTA, JAWA TIMUR (Surabaya, Malang, Gresik, Lamongan, Kediri, Madiun, Banyuwangi, Jember, Jombang, Sidoarjo, Mojokerto), BALI (Denpasar, Singaraja), KALIMANTAN (Balikpapan, Banjarmasin), SULAWESI (Makasar, Manado, Gorontalo).

Catatan:

• Para nominee/finalis yang terpilih pada penjuriaan/penilaian taahap I (pertama) diharapkan untuk mengirimkan karya asli ke panitia IAA 2010 Yayasan Seni Rupa Indonesia paling lambat tanggal 14 Mei 2010.

• Karya asli yang akan dikirimkan dimohon untuk dipacking secara baik dan aman, serta melampirkan bagan/tata cara pemasangan jika diperlukan.

• Karya asli akan dinilai kembali pada tahap penjurian II (kedua) untuk menentukan karya yang akan menerima penghargaan.

• Karya nominee IAA 2010 akan dipamerkan di galeri nasional Indonesia pada tgl 17 – 27 Juni 2010.