Saturday, November 13, 2010

Meta-Body





Oleh Kuss Indarto

(Catatan ini dimuat dalam katalog pameran tungal Anis Ekowindu dalam pameran tunggal "Meta-Body" di Valentine Willy Gallery, Kuala Lumpur, Malaysia, November 2010)
PERUPA Anis Ekowindu, lewat 12 (duabelas) karya lukisnya dalam pameran tunggal kali ini seolah ingin mengurai persoalan bahwa tubuh bisa menjadi etalase (showcase) atas persoalan yang mengitari di luar diri dan tubuhnya. Dalam lukisan-lukisan itu ada wajah-wajah yang bukanlah dirinya, tapi mengemukakan tentang diri dan gagasan-gagasannya. Wajah-wajah, tubuh-tubuh berikut gestur, teks dan benda-benda pendukung lainnya, dijadikan perangkat penting untuk memberangkatkan opininya tentang berbagai persoalan. Semua elemen visual itu berintegrasi satu sama lain untuk mengonstruksi makna baru. Tubuh yang secara kasat mata telah dimunculkan, tidak lagi utuh bermakna sebagaimana adanya, namun telah bersiasat membentuk “politik makna” yang berbeda dan meluas. Tubuh-tubuh dalam sistem makna baru itu telah melampaui tubuh fisikal yang telah digambarkan. Tubuh-fisik itu telah menjadi tubuh-sosial. Tubuh-personal itu telah meluas menjadi tubuh-komunal.

Ini bukanlah pameran tunggal pertama Anis yang mencoba untuk memfokuskan dunia bentuk dan dunia gagasannya yang bersemayam pada tiap karyanya. Sebelumnya, dalam pameran “Theatre of Fray”, seniman asal Kulon Progo, Yogyakarta ini juga memunculkan tubuh-tubuh (lewat modelnya) untuk membincangkan problem sosial kemasyarakatan. Anis ingin melongok ke dalam lingkar persoalan itu dan memberi komentar dalam bahasa visual. Kali ini pun demikian. Tiap bentang kanvasnya seperti menawarkan narasi yang bernas dengan tanda-tanda yang ingin didedahkan pada apresian. Ada subyek utama yang diperankan oleh model, yang kebetulan adalah adik kandungnya, Arya Ma’ruf, yang tampaknya telah cukup fasih untuk memainkan gestur tubuh (sebagai dunia bentuk) yang sesuai dengan narasi (sebagai dunia gagasan) yang dirancang Anis.

Pada hampir semua karya seniman lulusan Fakultas Seni Rupa, Institut Seni Indonesia (FSR ISI) Yogyakarta ini, ada beberapa hal yang perlu digarisbawahi. Pertama, karya-karya Anis berupaya mengetengahkan dinamika dalam lukisan yang cenderung monokromatis dengan menyisakan banyak ruang-ruang kosong sebagai latar belakang. Warna monokromatis pada sebagian karya Anis bisa diduga untuk memberi penekanan khusus pada aspek visual utama, yakni tubuh dengan gesturnya yang beragam, dan kelengkapan visual lain seperti drapery pada pakaian. Dengan monokromatis, tubuh, ekspresi wajah, menjadi cukup kuat namun tidak mengalahkan satu sama lain. Demikian pula lipatan-lipatan kaos, celana, rambut dan subyek benda lain, cukup kuat tampilannya ketika dieksekusi dengan monokromatis. Dinamika pun tetap terjaga. Banyaknya ruang kosong juga memberi tekanan yang memadai sehingga model sebagai subyek tampil menonjol dan impresif.

Pilihan Anis untuk mengetengahkan warna monokromatis juga berkait dengan ihwal kedua, bahwa secara substansial, Anis secara sengaja ingin memunculkan dualisme yang cukup kontras. Poin ini sangat menarik karena ada banyak perkara esensial yang termuat di dalamnya. Pada banyak karnyanya, di tengah balutan warna model yang cenderung monokromatis, Anis menyisakan dua warna yang berseberangan dan keduanya, terkadang, secara “ideologis” berhadapan secara diametral. Warna itu: merah dan putih. Kedua warna itu bisa berserak di mana saja: pada dada, pipi, seluruh wajah, dasi, atau segerombol ayam.

Warna putih mengindikasikan pada sesuatu yang suci, kebenaran, malaikat, positif(isme), dan hal-ihwal yang berkait dengan semesta kebaikan. Sementara warna merah menjadi simbolisasi atas antithesis atas warna putih: kekotoran, kesalahan, setan, negatif(isme), nafsu, keangkaramurkaan, serta semua hal yang telah melekat dengan “jagat kelam”. Pemunculan dualisme yang saling berhadap-hadapan secara “keras” ini tentu menarik karena Anis seperti mencoba untuk memberi sugesti penyikapan yang tegas atas setiap kasus persoalan. Tak ada ruang abu-abu (grey area) di sini. Dan seolah ada semacam pengingkaran pada falsafah Jawa yang menjadi induk atas cara berpikirnya secara keseluruhan dimana di dalamnya memberi ruang yang cukup lapang terhadap grey area ini.

Dalam kultur Jawa ada, misalnya, terminologi “lumayan” (cukup, enough) untuk menyebut sekaligus menentukan suatu sikap tertentu yang mengandung substansi “netral” namun “mengambang”. Konkretnya, sebagai contoh, atas kalimat pertanyaan: “bagaimana rasanya kue hasil masakanku?” maka akan dijawab dengan santun oleh tidak sedikit orang Jawa dengan kalimat: “lumayan”. Jawaban itu “netral” dan “berada di tengah” karena kurang lugas opininya. “Lumayan” dalam jawaban itu sangat berpotensi memiliki arti “tidak enak” (tapi tidak secara jujur diungkapkan oleh penjawab). Kata “lumayan” merupakan satu bentuk eufemisme untuk menyembunyikan ketegasan sebuah sikap. Dalam konteks pembicaraan ini, sekali lagi, Anis melepaskan diri dari kungkungan kultur “peragu” semacam itu. Grey area dipersempit untuk memperjelas garis ketegasannya. Karya-karya lukisnya memberi tengara secara visual bahwa bentuk penyikapan penuh ketegasan menjadi pilihannya. Barangkali ini sebuah otokritik kultural versi Anis.

Meski pun pada satu aspek Anis seperti mengingkari elemen kultur ke-Jawa-annya, namun pada kesempatan yang sama seniman ini mengorek dan menimba kembali nilai-nilai leluhurnya. Ini menjadi poin ketiga, bahwa salah satu aspek lokalitas ke-Jawa-annya, yakni wayang kulit purwa, dimunculkan sebagai spirit dalam banyak karya. Sebagai warisan kolektif dalam masyarakat Jawa, wayang kulit purwa seperti telah menjadi keseharian dalam diri, termasuk Anis. Nilai-nilai dan spiritnya telah menembus alam bawah sadarnya yang bisa dengan seketika dikuaknya untuk menjadi kesadaran kreatif. Kali ini, konteksnya adalah modus gerak dan ekspresi tokoh-tokoh dalam karya lukisnya yang menyerupai gerak seorang dalang (puppet master).

Dalang itu berarti pemegang posisi sentral. Dialah yang memainkan peran untuk menjadi dirijen bagi seluruh orkestrasi musik gamelan yang mengiringi tiap adegan. Dan dalang pula yang mengendalikan seluruh penokohan dan gerak-geriknya. Lewat metafora inilah Anis seperti berhasrat untuk mengaplikasikannya dalam lukisan. Sosok-sosok dalam karya lukis serial “Puppet and Director Series” adalah permainan antara figur wayang (yang dikendalikan) dan dalang (yang mengendalikan) yang berwajah serupa. Dalam keserupaan itu ada titik bedanya, yakni si wajah merah dan si wajah putih. Di antara keduanya yang saling bertarung berebut pengaruh, maka sang dalanglah, yang berada di tengah-tengah itu, yang punya peran besar untuk menentukan kemenangan di antara kedua petarung tadi. Si dalang, mungkin itu adalah sosok pribadi Anis, sosok yang akhirnya akan menentukan pilihan dan terus memegang kendali atas dirinya.

Di sela tiga poin besar yang saya tengarai di atas, sebetulnya ada hal lain yang masih saja mengendap pada beberapa karya Anis, yakni semangat plesetan. Tapi pada pameran kali ini intensitasnya berkurang. Plesetan kata-kata ini biasanya muncul pada judul dan teks dalam kanvas. Misalnya “A Piece of Peace”. Pertukaran kata dengan memain-mainkan nada bunyi ini menarik, meski tentu akan berisiko pada kekeliruan dan keganjilan semantik apabila masuk dalam ranah bahasa yang kurang dikuasai. Untuk konteks Yogyakarta tempat Anis Ekowindu menetap, budaya plesetan seperti ini telah mengakar dan menyejarah. Tendensi dasar dalam berplesetan bagi orang Yogyakarta adalah semangat untuk berhumor.

Secara umum, tentu, karya-karya Anis jauh lebih kaya ketimbang pemahaman saya yang hanya mengkerangkai dalam tiga poin besar ini. Ada persoalan mendasar yang tak luput dari keberadaan karya-karya Anis, misalnya pola stereotyping yang mulai melekat dalam konteks perbincangan seni rupa “kontemporer” di Indonesia dewasa ini. Pola stereotyping tersebut antara lain bahwa lukisan yang kontemporer seolah dibatasi oleh kanvas yang berukuran luas atau besar, dan berlatar belakang polos. Saya kira, Anis dan sekian banyak nama perupa lain di Yogyakarta dan di Indonesia tengah bertarung dengan asumsi stereotyping tersebut. Bahwa Anis tidak sekadar masuk dalam perangkap stereotyping atau fashion itu, namun terus-menerus membangun citra diri yang mandiri dengan “orisinalitas-personal”-nya yang akan menampakkan perbedaan. Akankah Anis menuju ke kemandirian seperti itu? Mungkin, Andalah saksinya! ***

Kuss Indarto, penulis seni dan pengelola situs www.indonesiaartnews.or.id